MIKHA, KITAB
MIKHA, KITAB [browning]
Satu di antara Kitab Nabi-nabi Kecil PL. Mikha datang dari daerah pedalaman ke Yerusalem semasa pemerintahan *Hizkia (Yes. 26:18). Ia adalah orang sebaya *Yesaya. Bagian utama Kitab Mikha berasal dari waktu 720-700 sM, dan merupakan pengutukan perbuatan jahat dalam kehidupan bangsa, khususnya yang dilakukan oleh lapisan penguasa. Mi. 6:8 sering dikutip sebagai ringkasan pengajaran nabi. Ketidakadilan akan mendatangkan hukuman dari Allah dalam bentuk bencana-bencana militer. Mikha bermaksud menyatakan *Asyur. Mungkin ada beberapa penyisipan oleh suatu generasi berikut: Mi. 7:17 mempunyai gaga yang berbeda. Mi. 7:8-10 agaknya mengandaikan pemusnahan hanya oleh *Babel (awal abad ke-6). Dan Mi. 7:11-20 mungkin menunjuk pada kembalinya Israel dari pembuangan dari Babel dan pembangunan kembali tembok-tembok dan Bait Allah. Mi. 5:2 diartikan oleh Mat. 2:6 sebagai ramalan kelahiran Mesias di Betlehem.
MIKHA, KITAB [ensiklopedia]
(mikha, dipendekkan dari mikhayehu, 'siapakah seperti Yahweh?').
I. Isi ringkas
a. Hukuman yg akan menimpa Israel (Mi 1:1-16).
b. Israel akan dihukum, kemudian dipulihkan (Mi 2:1-13).
c. Hukuman pemimpin-pemimpin dan nabi-nabi palsu (Mi 3:1-12).
d. Kejayaan yg akan datang dan damai sejahtera dari Yerusalem (Mi 4:1-13).
e. Sion menderita dan dipulihkan (Mi 4:14; 5:15).
f. Agama yang diajarkan nabi-nabi bertentangan dengan agama umum (Mi 6:1-16).
g. Masyarakat yg bobrok; pernyataan penutup tentang kepercayaan kepada Allah (Mi 7:1-20).
II. Penulis dan tarikhnya
Penulis kitab ini umumnya diterima yakni Mikha orang Moresyet (Mi 1:1). Tempat tinggalnya, yaitu *Moresyet-Gat di Syefela atau daerah bukit Yehuda adalah tempatnya bernubuat pada umumnya (Mi 1:14). Dia lebih muda sedikit dari Yesaya; ia bernubuat pada pemerintahan Yotam (kr 742-735 sM), Ahas (kr 735-715 sM) dan Hizkia dari Yehuda (kr 715-687 sM).
Beberapa ahli modern mempertahankan, bahwa hanya Mi 1:2-2:10 dan bagian-bagian dari ps 4 dan 5-lah tulisan dari nabi Mikha sendiri. Walaupun kedua ps terakhir dari kitab itu mengandung banyak kemiripan dengan tulisan Mikha, para pengecam menekankan, bahwa perbedaan latar belakang dan gaya dari bagian-bagian terdahulu dari nubuat ini, dan kedudukan tak penting yg ditempatinya dalam kitab ini, menuntut dari mereka untuk menempatkan Mi pada suatu waktu yg kemudian dari abad 8 sM. Secara khusus, 7:7-20 dianggap pasti dari zaman sesudah pembuangan.
Ahli-ahli lain menandaskan bahwa gaga yg keras dan menerangkan, yg jelas terdapat dalam tiap ps nubuat ini, dan pernyataan yg mantap tentang hukuman, kasih dan pengharapan ilahi, merupakan alasan yg teguh untuk memegang pendirian, bahwa nubuat ini ditulis oleh satu orang. Kita tahu bahwa alasan-alasan yg didasarkan pada gaya bahasa tak pernah mantap kokoh, karena gaga bahasa dapat dengan mudah berubah mengikuti berubahnya pokok persoalan. Lagi pula sukar dimengerti mengapa 7:7-20 harus dianggap dari zaman sesudah pembuangan, karena sekelumit pun tak ada terdapat dalam isinya yg bertentangan dengan bahasa atau teologi dari nabi-nabi abad 8 sM. Justru dapat dikatakan Mikha-lah penulis seluruh kitab itu. Ay-ay penutup kitab ini tiap tahun dibaca oleh orang Yahudi yg beribadah pada kebaktian sore pada Hari Raya Pendamaian.
III. Latar belakang dan amanatnya
Walaupun hidup di desa, Mikha tahu korupsi merajalela dalam kehidupan kota di Israel dan Yehuda. Tuduhan-tuduhannya terutama diarahkan kepada Yerusalem (4:10). Dan seperti Amos dan Yesaya, ia mengamati bagaimana tuan-tuan tanah yg kaya menindas orang-orang miskin (2:12). Dia mencela korupsi yg merajalela di tengah-tengah pemimpin-pemimpin agama pada zamannya (2:11), dan penyelewengan-penyelewengan hukum yg umum dilakukan oleh orang-orang yg seharusnya menegakkan hukum (3:10). Kenyataan bahwa semuanya ini terjadi dalam suasana keagamaan yg palsu (3:11), sangat menjijikkan nabi Mikha.
Seperti Amos, Hosea dan Yesaya, rekan-rekan sezamannya pada abad 8 sM, Mikha menekankan keadilbenaran dan moral sebagai ciri utama dari watak Allah. Dia juga menunjukkan bahwa ciri-ciri ini serentak mempunyai kaftan etis yg mendesak bagi hidup perseorangan dan masyarakat. Bila umat Israel dan Yehuda akan melakukan kewajiban perjanjiannya dengan sungguh-sungguh, keadilbenaran yg menjadi ciri watak Allah harus dipantulkan di antara sesama umat Allah.
Apabila Amos dan Hosea banyak menyoroti penyembahan berhala dan kefasikan yg merajalela di Israel dan Yehuda, sebagai akibat dari pengaruh agama kafir Kanaan, Mikha mengkhususkan dini menyoroti masalah-masalah yg timbul karena ketidakadilan sosial yg menimpa pemilik-pemilik tanah sempit, peternak-peternak dan petani-petani. Ia memperingatkan orang-orang yg menampas harta milik orang lain, bahwa Allah telah merencanakan hukuman yg keras bagi mereka. Dakwaannya atas penguasa-penguasa Israel (3:1-4) dan nabi-nabi palsu membayangkan kemusnahan seluruh Yerusalem, karena mereka korupsi, dan penyakit itu sudah menjalar sampai ke dasar hidup masyarakat.
Mikha -- senada dengan Amos, Hosea dan Yesaya -- mengatakan bahwa Allah akan memakai bangsa asing untuk menghukum umat-Nya sendiri yg sudah berdosa. Akibatnya seperti sudah jelas ia katakan lebih dulu, ialah Salmaneser V akan menjarah dan merusak kerajaan utara, dan bahwa Samaria yaitu ibukota kerajaan Israel utara (1:6-9) sama sekali akan dihancurkan. Tapi dia tidak melihat keruntuhan kerajaan utara itu dalam anti yg sama luasnya seperti dilihat oleh Yesaya. Bagi Mikha, keruntuhan itu sampai ke pintu-pintu rumah 'kaum ini' (2:3), dan dengan demikian membuat Sanherib, orang Asyur penyerang itu, menjadi pelopor dari hukuman yg lebih besar (5:5 dab).
Ada persamaan mencolok antara nubuat kehancuran Samaria (1:6) dan Yerusalem (3:12). Seabad sesudah kematian Mikha, ucapannya mengenai keruntuhan Sion masih diingat (Yer 26:18-19). Pada saat itu mungkin nabi Yeremia akan terlanjur dibunuh karena menubuatkan keruntuhan Bait Suci dan Kota Suci itu, seandainya beberapa tua-tua tertentu dari bangsa itu tidak memperingatkan, bahwa Mikha dari Moresyet sudah mengatakan hal yg sama 100 thn sebelumnya. Bagi Mikha tidak ada keragu-raguan tentang nasib akhir kaum Yehuda. Karena agama bangsa Kanaan yg busuk sudah sedemikian merasuk dan berpengaruh, dan kebobrokan masyarakat yg diakibatkannya sudah sedemikian luas, maka hanya pelaksanaan hukuman Allah saja atas kerajaan selatan yg manjur demi keselamatan akhir umat Allah. Tapi sebelum sisa Yakub dapat mengalami kasih karunia yg menyelamatkan ini, haruslah lebih dulu semua akan penyembahan berhala dan korupsi sosial dibongkar (5:10-15).
Kaum Yakub harus mengalami lebih dulu siksaan yg dahsyat dan dukacita, dan selama itu suara nubuat akan bungkam (3:6-7), dosa-dosa umat itu akan menjadi kentara (Mi 3:8). Kemudian akan menyusul kemusnahan Yerusalem dan umat Israel akan dibawa tertawan di tengah-tengah bangsa-bangsa lain, hal yg sangat memalukan mereka (Yer 5:7-8). Zaman pemulihan akan ditandai dengan hidup keagamaan yg baru meliputi seluruh dunia, yg berpusat di Yerusalem yg sudah dipulihkan kembali. Di bawah bimbingan Allah pedang akan ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas (4:3), dan umat Allah akan memuliakan Nama Yahweh saja (4:5). Yg menonjol dan agung dalam pikiran Mikha ialah Mesias diharapkan akan lahir di Betlehem (5:1). Oknum ini akan datang dari tengah-tengah rakyat biasa, akan melepaskan mereka dari penindasan dan kelaliman, dan memulihkan sisa kaum Israel ke dalam hidup persekutuan dengan sisa yg ada di Sion.
Mikha bersusah payah menunjukkan, bahwa kasih karunia Allah yg menyelamatkan tak bisa didapati sebagai upah (6:6-8), baik dengan jalan korban-korban persembahan yg megah meriah maupun dengan melaksanakan acara-acara ibadah yg bertele-tele. Kerendahan hati, mengasihi sesama, dan berlaku adil harus menjadi kenyataan dalam hidup harian orang-orang, yg ingin menyenangkan hati Allah.
KEPUSTAKAAN. P Haupt, Amer. Journ. Sem. Lang. Lit., 27, 1910, hlm 1-63; W Nowack dalam HDB, 1900; A. J Tait, The Prophecy of Micah, 1917; J. M. P Smith, ICC, 1911, hlm 5-156; G. A Smith, The Book of the Twelve Prophets, 1, 1928, hlm 381 dst; S Goldman dalam Soncino Commentary 1948; R. K Harrison, JOT, 1969, hlm 919-925; L. C Allen, The Books of Joel, Obadiah, Jonah and Micah, NIC 1976. RKH/MHS/HAO


pada halaman