: A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
KANON PB | KANON PL | Kapadokia | Kapak | Kapal | KAPAL, DAN PERAHU | Kapernaum | KAPTEN | KAPUR | Kapur, Melabur | KAPUR, MENGAPUR
Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: KAPAL, DAN PERAHU

KAPAL, DAN PERAHU

KAPAL, DAN PERAHU [ensiklopedia]

I. Dalam PL

Orang Ibrani bukanlah pelaut. Sepanjang sejarah, mereka tidak mempunyai banyak pelabuhan. Dan daerah pantaididuduki oleh bangsa pelaut asing (*FENISIA, ORANG FENISIA; *FILISTIN, FILISTEA). Daerah bagian suku Zebulon dan Isakhar berbatasan dengan Laut Tengah (Kej 49:13; Ul 33:19), demikian juga untuk waktu singkat daerah suku Dan dan Asyer (lih Hak 5:17). Bangsa Israel tentu mengetahui ihwal perahu yg mengarungi lautan, dan dalam PL sering terdapat acuan kepada kapal. Satu kapal yg dilanda topan (Mzm 48:8; 107:23-30) dan terombang-ambing (Ams 23:34), bila tiba di pelabuhan dengan selamat (Mzm 107:30) melahirkan pengakuan akan kekuasaan dan penyelamatan Allah. Bahwa kapal mampu mengarungi lautan dianggap mengherankan (Ams 30:19), dan hidup sendiri diumpamakan perahu yg berlayar (Ayb 9:26; Kebijaksanaan Salomo 5:10).

a. Perkembangan perkapalan dan pemakaiannya

Sejak kr thn 3500 sM perahu-perahu yg berlayar dengan layar empat persegi dan cagak bercabang dua (untuk memegang dayung pengemudi), sudah nampak dalam lukisan-lukisan Mesir atau dijadikan model lukisan di kuburan. Sarana pelayaran yg umum dipakai ialah perahu yg dibuat dari gelagah papirus atau kayu, digunakan di S Nil. Mungkin di situlah pertama kalinya pelayaran dikenal secara umum, yg memanfaatkan angin utara yg terus berembus. Menjelang zaman Kerajaan Pertengahan (kr thn 2130-1780 sM) mulailah muncul kapal-kapal besar, kr 60 m panjangnya dan kr 20 m garis tengahnya, dan melayani pelayaran perdagangan ke Biblos di Siria (demikian Ul 28:68; bnd Ams 31:14). Mungkin kapal-kapal itu adalah milik Fenisia, sebab armada kapal pada masa itu berdagang dengan Kitim (Siprus) dan pantai Yunani (Bil 24:24).

Pada zaman Amarna tukang-tukang ahli asal Asia pasti dipekerjakan di galangan kapal angkatan Taut Mesir di Sakara, yaitu pada masa pemerintahan raja Tutmoses III (1490-1437) dan Amenofis III (1390-1353 sM). Kapal-kapal besar dengan tiang layar yg besar dibangun, dan beberapa di antaranya mempunyai luas di tengah. Armada kapal itu digunakan oleh Hatsyepsut menyerang Punt (Tanah Somali). Kapal-kapal besar dibangun pula di Aegea, diperlengkapi dengan layar dan dayung.

Waktu keturunan raja Daud mengadakan persekutuan dagang dengan Hiram, raja Tirus (2 Sam 5:11 dab), orang Fenisia ditugasi mengangkut balok-balok pohon aras ke muara sungai dari pegunungan Libanon dan terus menyusuri pantai ke Yope. Balok-balok kayu yg diikat menjadi rakit (1 Raj 5:9, doberot; 2 Taw 2:16, rafsodot) dipakai untuk mengangkutnya. Cara dan jalur ini digunakan juga mengangkut bahan keperluan untuk pembangunan Bait Suci kedua (Ezr 3:7). Yope dikembangkan pertama kali oleh Simon Makabe (1 Makabe 14:5) menjadi pelabuhan yg sanggup menampung kapal-kapal besar.

Salomo membangun pelabuhan sendiri di Ezion-Geber di Teluk Akaba, dan di sinilah dia bangun kapal-kapalnya (1 Raj 9:26-28). Yosafat melakukan hal yg sama (1 Raj 22:48). Kapal-kapal inilah -- bekerja sama dengan armada Fenisia -- yg membawa emas dan barang-barang langka dari tempat-tempat yg jauh, dan kadang-kadang berlayar meninggalkan negerinya selama 1 sampai 3 thn (*OFIR).

Pada zaman kemudian jalur-jalur pelayaran dikuasai oleh orang Fenisia dengan pimpinan Tirus, yaitu kota yg dibandingkan oleh nabi Yehezkiel dengan kapal (Yeh 27).

b. Jenis-jenis kapal

1. Kata Ibrani paling umum untuk kapal yakni 'oniyya (ump Yun 1:3), terdapat dalam naskah-naskah Amarna sebagai kata Kanaan 'anayi (kata yg mungkin diturunkan dari kata Indo-Eropa naus, navis). Bentuk jamak 'oniyyot dan kata kelompok 'oni, 'armada', sering juga muncul, tapi tidak membedakan jenis kapal yg dipakai. Kapal-kapal ini dikendalikan oleh pelaut-pelaut, 'ansye 'oniyyot (1 Raj 9:27; bnd Yunani nautai, Kis 27:27).

2. 'Kapal Tarsis' ialah kapal samudera, besar dan mengangkut muatan yg banyak sekali (Yeh 27:25). Armada yg terdiri dari kapal-kapal demikian dipakai zaman itu (1 Raj 9:26; 10:22). Dari nama-namanya, kapal-kapal ini diterangkan mengangkut bahan tambang untuk usaha peleburan (W. F Albright, BASOR, 83, Oktober 1941, hlm 21 dst), atau sebagai yg sanggup sampai ke Tartesus di Sardinia (bnd 2 Taw 20:36). Lebih mungkin Tarsis menunjuk ke bandar Tarsus yg terkenal di Kilikia, yg sedikit banyak ada hubungannya dengan kata Yunani tarsos, artinya 'dayung'. Barnett menganggap bahwa 'kapal Tarsis' itu ialah kapal Mukenai, besar dan berlayar di laut luas. Demikian besarnya sehingga dilengkapi dengan 30-60 pasang dayung, yg dapat dipakai jika tidak ada angin. Kapal-kapal ini, dengan haluan yg bulat untuk kapal-kapal dagang, dan haluan yg 'panjang' menganjur ke depan untuk kapal perang, terlihat pada ukir-ukiran patung Sanherib, yg menggambarkan serangannya atas armada Fenisia, yg di komando oleh Luli orang Tirus pada thn 700 sM. Kapal-kapal sejenis dapat dilihat dalam ukuran kecil dan pada mata uang di kemudian hari. Geladak bagian atas yg tegap untuk menentang topan (Yunani katastroma), tabir tempat gantungan perisai dan layar empat persegi di palang tiang gantungannya, juga dilukiskan.

Jenis lain kapal umum Fenisia tidak disebut secara tersendiri dalam PL. Itulah yg dalam bh Yunani disebut hippos, dihiasi patung kepala kuda di ujung haluan kapal.

3. Kapal-tsi. Ini adalah kata pinjaman dari bh Mesir t'ai, jadi mungkin maksudnya ialah perahu yg digunakan di sungai-sungai, yg dibuat dari gelagah (Yes 33:21), atau untuk mengarungi laut ke Etiopia (Yeh 30:9), ke Kitim atau sampai ke pantai Siria (Bil 24:24). Di kapal-kapal sejenis itu, seperti di semua jenis kapal lain, dapat dipasang tiang layar, yg diikat dengan tali temali (Yes 33:21 dab).

4. Kapal sefina, kapal atau perahu besar yg mempunyai geladak. Disebut hanya dalam Yun 1:5, walaupun ini mungkin serupa dengan kapal-kapal lain yg tertutup (seperti tafsiran beberapa ahli mengenai tsiltsal, Yes 18:1). Kapal ini mempunyai 'awak kapal' (mallakhim, Yun 1:5) dan seorang 'nakhoda' (khovel, Yun 1:6; Yeh 27:8; 27-29).

5. Kapal dayung, 'oni syayit (Yes 33:21), bisa kapal kecil atau besar, dengan banyak pendayung (syatim, Yeh 27:8; lih 2 di atas).

6. 'avara (2 Sam 19:18) mungkin mengartikan 'kapal atau perahu feri'. Dasarnya datar dan dipakai untuk menyeberangi sungai seperti S Yordan.

KEPUSTAKAAN. R. D Barnett, 'Early Shipping in the Near East', Antiquity 22, 1958, hlm 220-230; G Bass, A History of Seafaring, 1972; B Lanstrom, The Ship, 1971; L Casson, Ships and Seamanship in the Ancient World, 1971. DJW/MHS

II. Dalam PB

a. Di Danau Galilea

Perahu di Danau Galilea dipakai terutama untuk menangkap ikan (ump Mat 4:21 dab; Mrk 1:19 dab; Yoh 21:3 dab), tapi juga sebagai angkutan umum untuk menyeberangi danau (ump Mat 8:23 dab; 9:1; 14:13 dab; Mrk 8:10 dab). Tuhan Yesus kadang-kadang berkhotbah dari perahu, supaya suara-Nya dapat jelas terdengar kepada orang banyak (Mrk 4:1; Luk 5:2 dab).

Perahu jenis ini tidak besar: satu perahu bisa memuat Yesus bersama murid-murid-Nya (ump Mrk 8:10). Tapi jika tangkapan ikan luar biasa banyaknya, maka tangkapan satu pukat saja dapat lebih untuk memenuhi dua perahu (Luk 5:7). Walaupun perahu-perahu ini pasti mempunyai layar, selalu tersedia dayung di dalamnya, supaya mereka bisa mempercepat laju perahu bila tidak ada angin atau bila angin keras, yg sekali-sekali terjadi di danau itu (Mrk 6:48; Yoh 6:19).

b. Di Laut Tengah

Ciri khas kapal Laut Tengah hanya berubah sedikit selama beberapa abad. Kapai perang ('kapal yg panjang', panjangnya mungkin delapan kali lebarnya) selalu digerakkan dengan dayung dan jarang berlayar jauh dari tepi pantai. Kebanyakan kapal jenis ini bobot isinya 15 sampai 75 ton. Kapal dagang (panjangnya hanya tiga atau empat kali lebarnya) memakai layar, tapi biasanya membawa sampai 20 dayung untuk keadaan darurat. Kapal jenis ini juga umumnya berlayar cukup dekat ke darat, tapi jika keadaan mengizinkan akan mengarungi lautan (*PATARA). Kapal yg beratnya 250 ton sudah dianggap besar. Memang disebut Plinius, kapal yg beratnya kr 1.300 ton.

Barangkali bagian terbesar perjalanan penginjilan Paulus dilakukan dengan perahu kecil. Tapi dalam perjalanannya ke Roma, ia dua kali naik kapal gandum yg besar, yg berlayar teratur dari Mesir ke Italia bolak-balik, dan yg bisa mengangkut tambahan awak kapal dan penumpang (Kis 27:37) sebanyak 276 orang. Kira-kira pada waktu itu juga Yosefus berlayar dengan kapal yg mengangkut 600 orang (Vita 3). Lucian (Navigium 1 dst) memberi keterangan tentang satu kapal gandum besar bertarikh thn 150 sM; dan pada tahun-tahun terakhir ini telah digali oleh para arkeolog dari dasar taut satu kapal dagang dari abad 2 sM, yg tenggelam di luar batas pantai Marseilles dengan muatan anggur dan barang-barang tanah liat. Berdasarkan bukti-bukti ini dan bukti-bukti lain dapat diperoleh gambaran tentang kapal yg dinaiki Paulus yg berlambang 'Dioskuri' (Kis 28:11).

Kapai seperti itu mempunyai tiang utama dengan palang-palang yg panjang, tempat gantungan layar utama yg besar empat persegi, dan mungkin juga layar atas yg kecil, tiang layar depan yg kecil yg menganjur ke depan hampir menyerupai jungur todak, dengan layar depan (Yunani artemon), yg mungkin dipakai saat melaju pelan-pelan, berputar dan untuk mencegah hanyut bila topan mengamuk (lih Kis 27:17 dab).

Haluan kapal dihiasi ukiran atau lukisan, yg memantulkan nama kapal itu (Kis 28:11), dan di buritan, yg (biasanya) ditinggikan, yg umumnya berbentuk leher angsa, terdapat patung dewa pelindung pelabuhan, asal kapal itu. Dua dayung yg besar di buritan merupakan kemudi, atau digerakkan sendiri-sendiri atau diputar bersama dengan tali yg dihubungkan dengan roda kemudi pusat. Tali-tali kemudi ini bisa merentang tegang bila cuaca buruk (Kis 27:40).

Sauh biasanya sebatang kayu dengan dua tanduknya dari timah hitam, dan pelampung-pelampung kecil sebagai pertanda yg diikatkan ke batang itu. Satu contoh yg ditemukan di dekat Kirene, beratnya kr 620 kg. Ada tiga atau lebih sauh dalam satu kapal, dan jika hendak melabuhkan sauh di suatu pantai, satu atau dua sauh dijatuhkan dari haluan kapal, dan tali kabel penambat dari buritan ditambatkan ke pantai. Tapi bila hendak menghindari atau meloloskan diri dari amukan badai, sauh diturunkan dari buritan (Kis 27:29). Unting timah atau batu duga diulurkan untuk memeriksa dalamnya laut jika dekat ke tempat-tempat dangkal (Kis 27:28), dan mungkin unting timah ini diberi lemak supaya membawa contoh-contoh dari dasar laut, yg melekat padanya.

Satu sekoci atau perahu kecil ditarik di belakang kapal waktu cuaca baik, tapi diangkat ke atas kapal jika ada topan (Kis 27:16-17) untuk mencegah penuh air atau dihempaskan. Sekoci dipakai di pelabuhan. Oleh alpanya perahu penolong kecuali sekoci ini, maka bila kapal mulai karam, penumpang hanya bisa mengharapkan keselamatan dengan mengandalkan tiang-tiang yg ada di kapal. Paulus tiga kali mengalami kapal karam sebelum perjalanannya ke Roma (2 Kor 11:25).

Bahaya yg mengancam perjalanan laut memang besar, tapi begitu juga keuntungannya jika berhasil (bnd Why 18:19). Satu kapal biasanya dipimpin oleh pemiliknya sendiri, mungkin dibantu oleh jurumudi profesional. Tapi pemimpin dari kapal yg dikontrak oleh pemerintah Roma bisa seorang perwira tentara (Kis 27:11). Kapal dagang yg besar bisa mempunyai tiga geladak atau dek, dan beberapa kamar mewah berkelimpahan.

Biasanya dari pertengahan November sampai pertengahan Februari kegiatan pelayanan dihentikan untuk menghindari badai musim dingin (Kis 20:3, 6; 28:11; 1 Kor 16:6 dab; 2 Tim 4:21; Tit 3:12). Sebulan sebelum dan sesudah musim ini juga dianggap berbahaya (Kis 27:9). Kesukaran paling utama agaknya ialah jika langit menjadi gelap karena awan badai, sebab hal itu membuat tidak mungkin mengemudikan kapal dengan mempedomani matahari dan bintang-bintang. Menunda pelayaran akibat cuaca buruk adalah biasa. Menurut Yosefus (BJ 2:203) sepucuk surat dari Kaisar Gayus di Roma kepada Petronius di Yudea, pernah memerlukan waktu tiga bulan baru dapat sampai di Yudea.

Arti 'meliliti kapal itu dengan tali' dalam Kis 27:17, masih belum pasti. Pandangan tradisi, yg agaknya mungkin, ialah bahwa tali dililitkan mengikat batang tubuh kapal, supaya papan-papan dan tiang-tiang penahannya tetap kokoh. Tapi artinya bisa juga memasang tali kabel yg mendatar untuk mengokohkan badan kapal (pendapat Smith) atau menambal atau menopang yg pecah (pendapat Cadbury), walaupun yg terakhir ini kurang mungkin atas kapal besar yg mempunyai geladak, dengan maksud untuk memperkokohnya.

c. Arti kiasan

Perumpamaan sehubungan dengan pelayaran jarang dalam PB. Dalam Ibr 6:19 disebut 'sauh ... bagi jiwa kita'; dan Yak 3:4-5 membandingkan lidah dengan kemudi kapal.

KEPUSTAKAAN. J Smith, The Voyage and Shipwreck of St. Paul4, 1880; C Storr, Ancient Ships2, 1895; F. F Bruce, Acts, 1951, hlm 452 dab; BC 4, hlm 326 dab; H. J Cadbury dalam BC 5, hlm 345 dab; K. L McKay, Proceedings of the Classical Association, 1964, hlm 25 dst; L Casson, Ships and Seamanship in the Ancient World, 1971. KLMcK/MHS




TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.15 detik
dipersembahkan oleh YLSA