KANON PL
KANON PL [ensiklopedia]
I. Nama dan konsepsi
Kata Yunani kanon, berasal dari bh Semit (bnd Ibrani qaneh, Yeh 40:3, dst). Pada mulanya berarti alat pengukur, kemudian dalam arti kiasan berarti 'peraturan'. Kata itu mendapat tempat dalam bahasa gerejawi. Pertama, menunjuk kepada rumusan pengakuan iman, khususnya simbol (pengakuan) baptis, atau ajaran gereja pada umumnya. Kata kanon juga dipakai mengacu kepada peraturan-peraturan gereja yg sifatnya berbeda-beda, tapi hanya dalam arti 'daftar', 'rentetan'. Baru pada pertengahan abad 4 kata itu diterapkan kepada Alkitab. Dalam pemakaian Yunani kata 'kanon' agaknya menunjuk hanya kepada daftar tulisan-tulisan kudus, tapi dalam bh Latin kata ini juga menjadi sebutan bagi Alkitab sendiri, jadi menyatakan bahwa Alkitab menjadi patokan bagi perbuatan yg mempunyai kuasa ilahi. Maksud yg terkandung dalam pemakaian istilah 'Kanon PL' ialah bahwa PL adalah ujud lengkap dan utuh dari kumpulan Kitab-kitab yg tak boleh dikutak-kutik lagi, yaitu Kitab-kitab yg diilhamkan oleh Roh Allah. Dan Kitab-kitab itu mempunyai wibawa normatif serta dipakai sebagai patokan bagi kepercayaan dan kehidupan kita.
II. Sifatnya membuktikan keotentikannya
Kitab-kitab PL sama dengan Kitab-kitab PB, yakni diilhamkan oleh Allah. *ILHAM, PENGILHAMAN. Tapi Roh Kudus bekerja dalam hati umat Allah, sehingga mereka menerima Kitab-kitab itu sebagai Firman Allah, dan menundukkan diri kepada kewibawaan ilahinya. Pemeliharaan Allah secara khusus meliputi baik asal usul masing-masing Kitab maupun pengumpulannya; oleh pemeliharaan Allah secara khusus inilah maka bilangan Kitab-kitab PL seperti yg ada sekarang ini, tidak lebih dan tidak kurang.
Inilah kebenaran asasi mengenai Kanon PL dan asal usulnya. Dan apa yg telah dikatakan di atas mengandung gagasan, bahwa ketika Allah menyediakan Kanon, Ia memakai manusia sebagai alat-Nya; perbuatan-perbuatan dan pemikiran-pemikiran manusia turut berperan dalam seluruh proses ini. Karena itu timbul beberapa persoalan. Apakah yg kita ketahui mengenai perbuatan-perbuatan dan penalaran-penalaran manusia itu? Sejak kapan Kanon ini atau bagian-bagiannya diakui kanonik? Bagaimana cara pengumpulan Kitab-kitab kudus itu? Pengaruh siapa yg paling berperan dan menentukan dalam tahapan-tahapan perkembangannya yg bermacam-macam?
Data-data berikut perlu guna menjawab persoalan-persoalan itu. Tapi baiklah diperhatikan, bahwa data-data itu sedikit sekali, justru tidak dapat menarik kesimpulan yg pasti berdasarkan data itu. Penelitian historis hanya menunjukkan sedikit peranan sinode-sinode atau lembaga-lembaga berwenang mengenai rumusan Kanon PL. Hal ini dapat dimaklumi, sebab tidak diperlukan badan atau lembaga berwibawa seperti itu, yg harus mendapat peranan besar dalam perumusannya. Alkitab memiliki wibawanya bukan dari pernyataan-pernyataan gerejawi, juga bukan dari wibawa manusia apa pun.
Alkitab bersifat autopistos, 'membuktikan sendiri keotentikannya' dengan menyinarkan sendiri wibawa ilahinya. Karena kesaksian Roh Kudus maka orang dimampukan menjadi cakap menangkap terang ini. Seperti dikatakan oleh Confessio Belgica (Pengakuan Iman Gereja-gereja di Nederland), art 5, 'Kita percaya tanpa sedikit meragukan segala sesuatu yg tercakup di dalamnya; bukan karena gereja menerimanya dan menganggapnya demikian, tapi khususnya karena Roh Kudus memberi kesaksian di dalam hati kita, bahwa kitab-kitab itu datangnya dari Allah' (bnd Westminster Confession, I, 4, 5). Konsili-konsili gereja dan badan-badan yg berwibawa lainnya telah mengambil kesimpulan mengenai Kanon itu, dan pertimbangan-pertimbangan ini memang mempunyai fungsi penting dalam menjadikan Icanon itu diakui. Tapi bukan suatu konsili gereja, juga bukan wibawa manusia apa pun yg lain, yg membuat Kitab-kitab dari Alkitab itu menjadi Kanon atau yg memberikan wibawa ilahi kepadanya. Kitab-kitab itu pada dirinya memiliki sendiri dan menggunakan sendiri wibawa ilahinya sebelum badan-badan seperti itu membuat pernyataan mereka; wibawa Kitab-kitab itu diakui di kelompok besar maupun kecil. Konsili-konsili gerejawi tidak memberikan wibawa ilahi kepada Kitab-kitab itu, tapi mereka justru beroleh dan mengakui bahwa Kitab-kitab itu memiliki wibawa dan menggunakannya.
III. Pengakuan terhadap masing-masing Kitab
Kita akan membicarakan data-data yg disajikan sendiri oleh PL, berkaitan dengan pengumpulan dan pengakuan terhadap Kitab-kitab itu. Dalam rangka ini kita akan mengikuti urutan Kitab-kitab itu sesuai Alkitab Ibrani. Sambil lalu baiklah mengamati bahwa kehadiran beberapa dari kitab itu secara tersendiri, berkaitan dengan pekerjaan pengumpulan yg mendahuluinya. Hal ini menjadi amat jelas, antara lain, dengan Mzm (lih ump Mzm 72:20) dan Ams (lih ump Ams 25:1).
a. Taurat
Sedini zaman Musa, pengumpulan hukum Taurat disertai pelestariannya dalam bentuk tertulis. Seperti nampak dari Kel 24:4-7, Musa membuat 'kitab perjanjian' dan orang-orang mengakui wibawa ilahinya. Ul 31:9-13 (lih juga ay 24 dab) memberitakan bahwa Musa menulis 'hukum Taurat itu', yakni inti Ul, dan mengambil langkah-langkah untuk memastikan, bahwa wibawa ilahinya akan diakui sampai jauh di masa depan. Perlu diperhatikan, di sini telah dinubuatkan bahwa umat itu akan sering gagal untuk mengakui wibawa ilahi itu. Banyak kesaksian menunjukkan bahwa sepanjang sejarah Israel, Taurat Musa dipandang sebagai tolok ukur ilahi bagi iman dan hidup (ump Yos 1:7, 8; 1 Raj 2:3; 2 Raj 14:6, dab). Kita tidak tahu pasti bilamana Pentateukh (Kitab Lima Jilid) lengkap seutuhnya, tapi boleh dianggap, bahwa sejak awal telah dihormati berwibawa tinggi. Pentateukh berisi hukum Taurat yg diberikan Allah kepada Israel dengan perantaraan Musa, dan sebagai tambahan, laporan tentang awal sejarah Israel, yakni perlakuan Allah terhadap umat pilihan-Nya. Dua catatan dapat ditambahkan.
1. Pada zaman dahulu orang tidak memperlakukan Kitab-kitab yg dianggap kudus sebagaimana kita memperlakukannya sekarang. Dalam beberapa Kitab ada bagian-bagian -- kecil atau besar -- yg dianggap tambahan dari zaman yg lebih kemudian. Satu hukum dapat diganti dengan hukum lain, karena keadaan-keadaan yg berubah mengharuskan kebijaksanaan itu (bnd Bil 26:52-56 dgn 27:1-11; 36; dan bnd Bil 15:22 dab dgn Im 4). Sekalipun demikian, jelas orang Israel sangat berhati-hati dalam memperlakukan naskah-naskah tertulis yg berisi sejarah Israel atau hukum-hukum mereka. Penambahan atau perubahan agaknya terbatas dan hanya dilakukan oleh orang-orang yg berwenang berbuat demikian karena jabatan mereka. Sekedar catatan bernada lebih umum dapat diberikan: kenyataan bahwa orang Israel sangat hati-hati memperlakukan tulisan-tulisan kudusnya nampak dari cara para penulis PL memakai sumber-sumber mereka. Mereka tidak memperlakukannya seperti para penulis modem, tapi menyalin bagian-bagian yg perlu seharfiah mungkin.
2. PL mencatat bahwa pada dua kesempatan, orang Israel dengan tulus berjanji untuk menaati kitab Taurat yg diberikan Allah dengan perantaraan Musa, yakni pada pemerintahan Yosia (2 Raj 22, 23; 2 Taw 34, 35; 'kitab Taurat' mungkin berarti Kitab UI) dan pada zaman Ezra dan Nehemia (Ezr 7:6, 14; Neh 8-10; 'kitab Taurat' di sini mungkin berarti seluruh Pentateukh).
b. Nabi-nabi
Tiga faktor khusus memberi sumbangan kepada pengakuan terhadap 'nabi-nabi terdahulu' (Yos, Hak, Sam, Raj) sebagai Kitab-kitab yg berwibawa. Pertama, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap umat-Nya yg telah dipilih-Nya. Kedua, Kitab-kitab ini menguraikan perlakuan Allah terhadap pilihan-Nya itu dalam jiwa hukum Taurat dan Nabi-nabi. Ketiga, para penulis Kitab itu tentu adalah penjabat khusus, dalam arti setidak-tidaknya demikian. Menarik sekali membaca Yos 24:26, bahwa beberapa tambahan kemudian diberikan kepada 'kitab perjanjian Allah', yg agaknya ialah kitab hukum Taurat yg disebutkan dalam Ul 31:24, dab.
Karena sifatnya khas maka tulisan 'nabi-nabi yg kemudian' (Yes, Yer, Yeh dan ke-12 'Nabi-nabi Kecil') dihormati berwibawa sejak semula oleh kelompok kecil atau besar. Bahwa nubuat-nubuat mereka mengenai bencana digenapi dalam Pembuangan, secara pasti mendampakkan peluasan wibawa mereka. Fakta bahwa seorang nabi kadang-kadang mengutip nabi lain, jelas menyatakan bahwa mereka mengakui wibawa nabi terdahulu itu. Justru lebih dari sekali seorang nabi memarahi Israel karena mereka tidak mendengarkan para nabi yg mendahuluinya (bnd Za 1:4 dab; Hos 6:5, dst). Yes 34:16 agaknya menyebut gulungan yg di dalamnya dituliskan nubuat-nubuat Yesaya dan disebut sebagai 'kitab TUHAN'. Dan 9:2 menyebut 'kumpulan Kitab' yg dengannya jelas dimaksudkan kumpulan tulisan nabi-nabi, di antaranya termasuk nubuat-nubuat Yeremia. Dari hubungannya jelas bahwa tulisan para nabi ini dihormati sebagai memiliki wibawa ilahi.
c. Tulisan-tulisan
Bagian ketiga dari Kanon Ibrani berisi Kitab-kitab yg sifatnya berbeda-beda, sehingga beberapa dari antara kitab itu dihormati sebagai tulisan kudus. Mengenai Kid sering dikemukakan, bahwa tempatnya di dalam Kanon adalah disebabkan oleh penafsiran alegoris yg dikenakan kepadanya. Tapi keterangan ini tak dapat dibuktikan. Pertama, penempatan demikian bermula pada suatu konsepsi yg keliru tentang 'kanonisasi' (lih butir II di atas). Kedua, sekalipun seandainya Kid belum lengkap seutuhnya sebelum Zaman Pembuangan, namun kitab itu masih memuat bahan-bahan kuno (ump Kid 6:4). Tiada alasan untuk menyangkal kemungkinan, bahwa pada zaman kuno kidung-kidung cinta ini, yg di dalamnya Salomo menjadi salah seorang tokoh utama, pada dasarnya dipandang tulisan kudus. Akhirnya, seruan bagi pengakuan-pengakuan formal dalam kepustakaan Yahudi (ump di Abothde-Rabbi Nathan, I) adalah lemah, karena pengakuan-pengakuan formal itu tidak berasal dari zaman kuno.
Tak perlu mempersoalkan mengapa Mzm dihormati sebagai tulisan kudus. Banyak dari mazmur mungkin berfungsi sebagai rumusan-rumusan bagi tempat kudus; Daud memberi sumbangan penting dalam penulisan mazmur; beberapa mazmur bernada nubuat (ump Mzm 50; 81; 110), Mengenai Kitab-kitab Hikmat, di antaranya Ams dan Pkh dan, sampai taraf tertentu, Ayb, baiklah diingat, bahwa hikmat dan khususnya kuasa untuk berbuat sebagai guru hikmat, dipandang sebagai kekecualian anugerah Allah (bnd 1 Raj 3:28; 4:29; Ayb 38, dab; Mzm 49:1-4; Ams 8; Pkh 12:11, dst).
Kenyataan bahwa banyak amsal berasal dari Salomo tentu telah memberi sumbangan bagi pengakuan Ams. Pengamatan-pengamatan yg sama seperti dilakukan butir (b) di atas, dapat diterapkan atas Kitab-kitab historis dan nabiah: Ezr, Neh, Rut, Est dan Rat. Halnya sama dengan kedua Kitab Taw, yg sekalipun dengan cara yg berbeda dengan Kitab Raj, namun ditulis dalam jiwa hukum Taurat dan Nabi-nabi.
Sajian di atas tentu sama sekali tidak menjawab segala persoalan yg mungkin timbul. Marilah kita bahas salah satu dari persoalan itu. Mengapa sumber-sumber yg dipakai bagi penulisan Taw tidak dimasukkan ke dalam Kanon? Benar, bahwa beberapa kitab yg ada selama waktu penulisan Kitab-kitab PL telah hilang, ump 'Kitab Orang Jujur' (Yos 10:13; 2 Sam 1:18). Tapi bertalian dengan sumber-sumber Taw persoalan lebih gawat dan hangat, karena Kitab-kitab sumber data itu ada selama waktu penyusunan Taw, dan karena Kitab-kitab sumber itu ditulis, paling sedikit sebagian, oleh nabi-nabi (ump 1 Taw 29:29; 2 Taw 9:29; 32:32). Kita harus menganggap bahwa kitab-kitab itu -- atau apakah itu satu kitab? -- diungguli dan diganti oleh Taw.
IV. Kanon pada zaman Ezra dan Nehemia
Lama sekali dianggap bahwa pada masa hidup Ezra kanon PL tuntas dihimpun seutuhnya, dan bahwa Ezra adalah tokoh utama dalam penyempurnaan ini. Disamping data-data yg telah disebut, yg diberikan dalam Ezr 7 dan Neh 8-10, pendapat ini didasarkan atas kesaksian-kesaksian kuno. Kita dapat mencatat khususnya hal-hal berikut.
Flavius Yosefus melaporkan pada thn 95 M (Contra Apionem. 1, 8), bahwa dalam tulisan-tulisan kudus Yahudi sejarah asal mula dunia sampai pemerintahan Artahsasta I (465-425 sM) telah diuraikan. Lalu ia melanjutkan, 'Segala sesuatu yg telah terjadi sejak Artahsasta hingga kini juga telah diuraikan, tapi buku-buku itu tidak layak dipercaya seperti Kitab-kitab terdahulu, sebab urutan para nabi tidak ditetapkan dengan teliti'. Dengan pernyataan ini agaknya Yosefus bermaksud menunjukkan, bahwa pada masa hidup Ezra (pertengahan abad 5 sM) paling sedikit Kitab-kitab historis dari PL telah lengkap.
Kitab Talmud, yg dilengkapkan pada kr 500 M, tapi yg berisi banyak tradisi Yahudi yg telah berabad-abad umurnya, memberi penjumlahan para penulis Kitab-kitab PL (Baba Bathra, 14b, 15a). Kitab itu menyimpulkan bahwa, 'Hizkia dan orang-orangnya menulis Yes, Ams, Kid dan Pkh; dan orang-orang dari kumpulan bagian terbesar menulis Yeh, Keduabelas (nabi kecil), Dan, Est; Ezra menulis kitabnya dan silsilah Kitab-kitab Taw, kecuali silsilahnya sendiri; Nehemia melengkapkannya' (yakni Ezr).
Harus dicatat bahwa arti ungkapan 'orang-orang dari pengumpulan bagian terbesar' tidaklah pasti, dan bahwa pendapat-pendapat tentang itu amat berbeda-beda. Kini beberapa ahli berpendapat, ungkapan itu menunjuk kepada orang-orang yg telah kembali dari pembuangan selama zaman Zerubabel dan Ezra. Jika demikian, ungkapan itu sesuai dengan pernyataan-pernyataan dalam Yeh 39:27, 28, dst (lih ump E Bickerman, 'Viri magnae congregationis', RB, 15, 1948, hlm 397-402).
2 Esdras, sebuah kitab apokaliptik Yahudi, yg ditulis kr 100 M, menceritakan bahwa pada thn ke-13 setelah keruntuhan Yerusalem, yakni thn 557 sM, Ezra berada di Babel. Atas keluhannya bahwa hukum Taurat Tuhan telah dibakar, ia menerima Roh Kudus, lalu selama 40 hari ia mengimlakan 94 kitab kepada 5 penulis. Kemudian ia menerima perintah untuk memberitahukan 24 kitab 'sehingga orang yg layak dan yg tidak layak membacanya', tapi sisa 70 kitab itu harus dirahasiakan 'untuk diserahkan kepada yg bijak di antara umatmu' (14:18, dab). Kita harus menerima bahwa ke-24 kitab yg disebut oleh penulis itu sama dengan 39 kitab, yg menurut penjumlahan kita, membentuk PL (lih butir IX di bawah). Ke-70 kitab tersebut harus kita artikan sebagai Kitab-kitab Apokrifa dan kepustakaan yg semacam itu; suatu definisi dan penghitungan yg tepat tidaklah mungkin.
Dalam hubungan ini kita juga boleh menunjuk kepada informasi yg diberikan dalam 2 Makabe. Dalam satu surat yg mengaku ditulis oleh penduduk Yerusalem dan Yudea untuk orang Yahudi di Mesir tertulis, 'Di dalam sejarah-sejarah dan riwayat-riwayat mengenai Nehemia, diceritakan hal-hal yg sama, dan bagaimana ia, guna mendirikan suatu perpustakaan, telah mengumpulkan kitab tentang raja-raja dan (kitab-kitab) dari para nabi dan (tulisan-tulisan) Daud, dan surat-surat dari raja-raja mengenai persembahan-persembahan nazar (atau korban-korban). Demikian juga Yudas mengumpulkan segala hal yg telah diceraiberaikan oleh perang yg menimpa kita, dan kita memiliki pengumpulan itu; jadi kalau kalian memerlukannya, kirimlah orang untuk menjemputnya' (2 Makabe 2:13-15).
Kalau surat itu asli, ia ditulis pada thn 165 sM; tapi banyak orang menyangkal keasliannya dan mentarikhkannya pada abad pertama sM. Mengenai kitab-kitab yg pengumpulannya dikatakan oleh Nehemia, agaknya kita harus memandangnya sebagai bagian yg besar dari PL. Dengan ungkapan 'Kitab-kitab mengenai raja-raja' agaknya maksudnya adalah 'Nabi-nabi terdahulu' (lih butir IX). 'Tulisan-tulisan Daud' tentu adalah Mzm dan 'surat-surat yg datang dari raja-raja mengenai persembahan nazar' mungkin adalah tulisan-tulisan dari raja-raja Persia seperti dicatat oleh Ezr 6:3-12; 7:12-26. Kenyataan, bahwa hukum Taurat tidak disebut janganlah dipersoalkan, karena kitab itu baru direhabilitasi oleh Ezra. Mengenai sisanya, jelaslah bahwa Nehemia tidak dianggap mengumpulkan seluruh Kitab PL. Ukuran besarnya pengumpulan kitab oleh Yudas tidak dapat diperkirakan lagi, mungkin meliputi, seluruh Kitab PL dan juga Kitab-kitab yg lain.
Apa yg dapat disimpulkan dari semuanya ini? Pertama, kita harus menerobos lebih jauh ke dalam data-data yg disajikan dalam Ezr 7 dan Neh 8-10. Di situ memang tidak diberi tahu bahwa pada suatu saat Ezra dan orang-orangnya mengumumkan, bahwa sejak itu dan seterusnya 'kitab Taurat' harus dipandang sebagai kitab suci yg dikukuhkan dengan wibawa ilahi. Kitab Taurat telah lama dipandang memiliki wibawa ilahi. Kitab itu ialah 'Kitab Taurat Musa yg telah diberikan TUHAN kepada Israel' (Neh 8:2). Memang benar lama sekali orang tidak memperhatikan Taurat ini; di Kanaan bahkan pengetahuan tentangnya telah lenyap sampan taraf tertentu (lih ump Neh 8:14), persis sama seperti ketika zaman pemerintahan Manasye dan Amon (bnd 2 Raj 21). Tapi orang mengakui perbuatan itu sebagai kesalahan mereka sendiri. Mereka menerima Kitab Taurat sebagai kitab suci, bukan demi pengumuman Ezra dan pembantu-pembantunya, tapi karena isinya telah menawan hati mereka.
Karena pada zaman Ezra belum semua Kitab PL telah terlestarikan dalam bentuk tulisan, maka tidak mungkin Kanon pada waktu itu telah lengkap, dan kutipan-kutipan dari Talmud dan dari Yosefus tidak jelas menyatakan hal ini. Kedua tempat yg dikutip itu tidak memberikan kepada Ezra tugas khusus untuk membentuk dan melengkapkan Kanon PL. Menurut E Bickerman, hlm 398, 'Ezra bahkan tidak disebut dalam tulisan Yahudi apa pun sebelum penghancuran Bait Allah yg kedua, terkecuali, tentu, dalam cerita Alkitab dan parafrase tentangnya' dalam bh Yunani (1 Esdras)'. Mungkin Baba Bathra, 14b, 15a bermaksud mengatakan bahwa Ezra dan Nehemia adalah dua penulis terakhir Kitab-kitab PL. Tradisi ini mungkin telah timbul dari kenyataan, bahwa PL menceritakan sejarah Israel sampai zaman Ezra dan Nehemia.
Cerita 2 Esdras 14 mewujudkan tempat pertama di mana dinyatakan, bahwa Ezra-lah pencipta Kanon PL. Kita tidak dapat mempercayai begitu saja cerita ini. Kita harus menyetujui bahwa penulisnya sadar akan masalah yg menimpa Kitab-kitab PL selama terjadinya penghancuran atas Yerusalem, Kitab-kitab mana pada waktu itu telah ada, dan bagaimana bangsa Israel setelah Zaman Pembuangan mendapatkan kembali Kitab-kitab itu; tapi pemecahan yg ia usulkan bagi persoalan tersebut tidak dapat diterima.
Sekalipun demikian, mungkin sekali ada suatu tradisi yg benar berdasarkan cerita 2 Esdras 14, yakni bahwa Ezra, atau kalau tidak, orang-orang tertentu selama hidup Ezra, prihatin dan mengumpulkan Kitab-kitab PL. Dari Ezr 7 dan Neh 8-10 nampaknya Ezra melakukan aktivitas khusus dalam hal Taurat, sekalipun kita tidak tahu dengan tepat apa aktivitas itu; mengenai hal ini segala macam pertanyaan dapat diajukan, ump 'Apakah Taurat mencapai kelengkapan yg seutuhnya oleh perbuatan Ezra'? Sebagai tambahan, kita tidak dapat menghindari kemungkinan bahwa suatu tradisi, yg secara historis dapat dipercaya dan yg didasarkan akar pemberitahuan yg diberikan dalam 2 Makabe 2:13.
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa bagian terbesar Kanon PL dikumpulkan oleh Ezra dan Nehemia.
V. Kanon sejak Ezra hingga permulaan zaman kita
Mengenai sejarah bangsa Yahudi selama abad-abad setelah Ezra dan Nehemia sedikit sekali yg kita ketahui. Karena itu tidak mengherankan bahwa dari zaman itu juga tiada berita tentang Kanon yg sampan kepada kita.
Pendahuluan Kitab Eklesiastikus, yg ditulis oleh orang yg menerjemahkan kitab itu dari bh Ibrani ke bh Yunani, mulai demikian, 'Karena banyak perkara besar telah diberikan kepada kita melalui Taurat dan Nabi-nabi dan melalui orang-orang lain yg menggantikan mereka, maka selayaknyalah untuk memuji Israel karena pengajaran-pengajaran dan hikmat mereka ....' Kemudian penulis itu berbicara tentang 'Taurat dan Nabi-nabi serta sisa kitab-kitab', dan ia menceritakan bahwa Yesus Ben-Sira pappos-nya (barangkali 'nenek', barangkali 'nenek moyang') bertekun membaca 'Taurat dan Nabi-nabi serta kitab-kitab lain dari bapak-bapak kita'.
Dari pendahuluan itu sangat jelas bahwa keduanya, yaitu penulisnya dan Ben-Sira sendiri kenal akan ketiga bagian (lih butir IX) Kanon PL dan menganggapnya berwibawa sekali. Tapi tidaklah mungkin untuk menyimpulkan dengan pasti berdasarkan pendahuluan tadi, bahwa bagian ketiga'Ketubim' atau Tulisan-tulisan telah lengkap. Dari Kitab Eklesiastikus tadi nampaknya di lain pihak, bahwa Ben-Sira kenal bermacam-macam kitab 'Ketubim', dan nampaknya Ben-Sira berdiam di Palestina. Biasanya diterima, bahwa kitabnya ditulis pada pertengahan pertama abad 2 sM, dan bahwa penulis pendahuluan Eklesiastikus itu bekerja selama pertengahan kedua dari abad itu (sekalipun ada yg mentarikhkan Ben-Sira kr 300 sM dan penulis pendahuluan Eklesiastikus kr 250-200 sM).
Dalam cerita-cerita mengenai kaum Makabe, Kitab-kitab kudus itu berulangkali disebut, ump 1 Makabe 1:56,57 ('Kitab-kitab Taurat yg diketemukan disobek-sobek dan dibakar habis. Jika pada seseorang terdapat Kitab Perjanjian, atau jika seseorang berpaut pada hukum Taurat, maka ia dihukum mati sesuai perintah raja', yakni Antiokhus Epifanes); 4:30 (menunjuk kepada cerita 1 Sam 14 dan 17); 7:41 (menunjuk kepada 2 Raj 19:35); 12:9 (dlm sepucuk surat kepada Sparta, Yonatan menulis, 'Sebenarnya kami tidak membutuhkannya, karena kami mempunyai penghiburan dari Kitab Suci yg ada pada kami'); 2 Makabe 2:13-15 (lih butir IV); 8:23 (sebelum pertempuran Yudas membaca Kitab Suci dan memberikan semboyan untuk diteriakkan, 'Dengan pertolongan Allah'; barangkali Kitab itu dibuka pada halaman tertentu semaunya sendiri, sehingga dengan cara itulah semboyan ditemukan; bnd juga 1 Makabe 3:48); 15:9 (Yudas memacu semangat orang-orangnya 'dari dlm hukum Taurat dan Nabi-nabi'). Jelaslah bahwa pada zaman itu orang Yahudi memiliki Kitab-kitab kudus yg diakui mempunyai wibawa ilahi. Tidak dapat dibuktikan bahwa pada waktu itu telah ada sebuah Kanon yg lengkap, sekalipun ungkapan 'Kitab-kitab Suci' (1 Makabe 12:9) dapat menunjuk ke situ.
VI. Kanon PL dalam PB
Berdasarkan wibawa PB dapat diterima, bahwa selama pelayanan Tuhan Yesus dan ketika Kitab-kitab PB bermunculan, PL telah ada sebagai karya pengumpulan lengkap, yg diakui memiliki wibawa ilahi. Berulangkali PL dikutip sebagai 'Kitab Suci' (Mat 26:54; Yoh 5:39; Kis 17:2, dst), yg menunjukkan bahwa PL mewujudkan suatu pengumpulan tulisan-tulisan yg telah dikenal baik menjadi satu kesatuan. Dengan cara yg sama pengertian ini dapat diterapkan terhadap ungkapan he graphe, yg kadang-kadang hanya menunjuk kepada suatu ay tertentu (Luk 4:21; Yoh 13:18; dst), tapi yg lebih dari sekali menunjuk kepada PL sebagai satu keseluruhan (Yoh 2:22; Kis 8:32, dst). Hampir-hampir tidak perlu untuk membuktikan, bahwa wibawa ilahi diberikan kepada'Seluruh Alkitab' atau kepada sebagian saja (lih Mat 1:22; 5:18; Yoh 10:35; Kis 1:16, dst).
Derajat yg dengannya Kitab-kitab PL dipandang sebagai satu kesatuan, ditunjukkan oleh kenyataan bahwa pernyataan-pernyataan yg diambil dari Nabi-nabi atau dari Mzm disebut 'Taurat'. Ungkapan 'Taurat' yg sebenarnya menunjuk kepada bagian pertama Kanon PL (lih butir IX), dipakai untuk menunjuk seluruh Kanon PL (ump Yoh 10:34; 1 Kor 14:21).
Dalam hubungan ini kits harus memperhatikan kata-kata Kristus dalam Mat 23:35; Luk 11:51. Pembunuhan Habel diceritakan dalam kitab pertama Kanon Ibrani, yaitu Kej. Pembunuhan Zakharia yg disebut di sini diceritakan dalam kitab terakhir Kanon Ibrani, yaitu Taw (lih butir IX). Ini dapat menunjukkan bahwa sejak zaman itu Kanon diakhiri dengan Taw. Ini tentu menguntungkan pandangan yg mengatakan, bahwa Kanon pada waktu itu telah meliputi Kitab-kitab yg sama seperti sekarang. Urutan kronologis tidak dapat ditunjukkan dengan kata-kata Yesus itu, sebab pembunuhan Uria (Yer 26:23) terjadi setelah pembunuhan Zakharia. Bnd selanjutnya Luk 24:44.
Sebutan 'Perjanjian Lama' sebagai nama bagi pengumpulan Kitab Suci telah muncul dalam PB, lih 2 Kor 3:14 ('membaca perjanjian lama'). *ALKITAB, II.
Kenyataan bahwa beberapa Kitab PL (Est, Pkh, Kid, Ezr, Neh, Ob, Nah, Zef) tidak dikutip dalam PB, tentu tidaklah berarti bahwa Kitab-kitab itu tidak dihitung dalam Kanon.
Sering dikatakan bahwa dalam PB bagian-bagian Kitab Apokrifa dan kitab-kitab pseudo-epigrafa dikutip sebagai berwibawa. Memang benar, bahwa kadang-kadang satu kutipan yg dikatakan diambil dari 'Kitab Suci' tidak mudah dicari dalam PL; tapi juga tidak dapat ditemukan kitab non-kanonik yg mungkin menjadi sumber kutipan itu. Mungkin di sini kita bertemu dengan suatu gabungan (yg barangkali telah menjadi tradisi) dari pernyataan-pernyataan di PL. Demikianlah Yoh 7:38 dapat menunjuk kepada Yes 58:11 dan Yeh 36:25, 26; 1 Kor 2:9 menunjuk kepada Yes 64:4; 52:15; 65:17. Akan halnya Yud 14,15, Yudas mungkin mengutip 1 Henokh 1:9. Hal ini, tidak perlu mengherankan kita, karena PB juga mengutip penulis-penulis non-Yahudi (Kis 17:28; 1 Kor 15:33). Penting bahwa Yudas tidak mengatakan bahwa ia mengutip 'Kitab Suci'. Akhirnya adalah mungkin bahwa baik Yud 14, 15 maupun 1 Henokh 1:9 itu menunjuk kembali kepada suatu tradisi lisan (lih Bruce M Metzger, An Introduction to the Apocrypha, 1957, khususnya bab 16, 'The Apocrypha and the New Testament').
VII. Kanon di tengah-tengah bangsa Yahudi pada abad-abad pertama Masehi
a. Beberapa kali dikemukakan bahwa sinode di Yabneh atau Yamnia, didirikan kr 90 M, telah melengkapkan genap Kanon PL dan telah menetapkan batas-batas Kanon itu. Tapi berbicara tentang 'sinode Yamnia' berarti memancing persoalan (lih ump G. F Moore, Judaism, I, 1950, hlm 83 dst; G Lisowsky, Jadajim, 1956, hlm 9,57). Memang benar bahwa di rumah pengajaran Yamnia kr thn 70-100 M diadakan pembicaraan tertentu, dan diambil keputusan-keputusan tertentu mengenai beberapa Kitab PL, tapi pembicaraan-pembicaraan yg sama diadakan juga, baik sebelum maupun setelah zaman itu.
Salah satu data yg paling penting, yg memberitahukan hal itu ialah traktat Misyna, Yadayim 111.5; lih khususnya tafsiran yg diberikan Lisowsky tentangnya. Pokok pembicaraan-pembicaraan itu mengenai persoalan apakah beberapa kitab dari PL (ump Est, Ams, Pkh, Kid, Yeh) 'mengotori' atau tidak, atau harus 'disembunyikan' atau tidak. Dalam pembicaraan mengenai apakah satu kitab harus 'disembunyikan' atau tidak itu, bagaimanapun kanonisitas tidak akan dipertaruhkan (lih G. F Moore, hlm 246 dst).
Mengenai ungkapan 'mengotori', pendapat yg ada ialah, bahwa hal itu menunjuk kepada kanonisitas kitab yg dipersoalkan (tapi lih Menahem Haran, 'Problems of the Canonization of Scripture', Tarbiz, 25, 1956, hlm 245-271). Kalau kanonisitas Est, Pkh dan Kid benar-benar dipersoalkan, kita harus memperhatikan pandangan berikut: Secara keseluruhan, kitab-kitab ini dipandang kanonik. Tapi pada beberapa orang, barangkali pada beberapa orang rabi khususnya, persoalan timbul apakah benar menerima kanonisitasnya, seperti halnya Luther berabad-abad kemudian menganggap sulit untuk menerima Est sebagai kanonik. Demikianlah pembicaraan tersebut di atas berpangkal dari Kanon yg ada.
Dalam hubungan ini kita harus kembali kepada kesaksian-kesaksian 2 Esdras dan Yosefus (lih butir IV). Seperti telah kita lihat, Kanon, bagaimanapun juga dalam kerangkanya yg luas, mempunyai keluasan yg sama bagi penulis 2 Esdras dan bagi orang Yahudi yg hidup kemudian. Hal yg sama dikenakan kepada Yosefus. Ia menulis, 'Bersama kita, orang tidak mendapatkan banyak kitab yg berbeda yg satu dengan yg lain dan yg saling bertentangan. Hanya ada 22 kitab, yg meliputi seluruh zaman yg telah lampau dan yg mengharuskan orang percaya kepadanya. Walaupun sekarang ini telah begitu banyak waktu yg lewat, namun tidak seorang pun di antara kita pernah berani menjauhkan apa pun daripadanya, atau menambahkan apa pun kepadanya, atau bahkan mengadakan perubahan-perubahan yg paling kecil sekalipun. Sejak kelahirannya telah tertanam dalam diri tiap orang Yahudi untuk memandangnya sebagai tulisan-tulisan yg diberikan oleh Allah, serta melekat kepadanya dan, jika perlu, dengan senang mati baginya'.
Kita boleh mengira, bahwa ke-22 kitab yg disebut Yosefus itu sama dengan ke-39 kitab yg membentuk PL menurut perhitungan kita (lih butir IX -- demi kelengkapannya kita harus memperhatikan, bahwa Yosefus juga memakai Kitab-kitab yg kita anggap Apokrifa, ump 1 Esdras dan tambahan-tambahan Est). Kedua kesaksian ini kuat, karena penulis 2 Esdras dan Yosefus hidup dalam lingkungan yg berbeda.
b. Di sini kita coba untuk sampai kepada suatu kesimpulan. Selama abad-abad pertama M, khususnya setelah keruntuhan Yerusalem pada thn 70 M, orang Yahudi mengadakan pemeriksaan atas milik rohani mereka, khususnya mengenai apa yg telah sampai kepada mereka sebagai 'Kitab Suci'. Tidak mengherankan, bahwa dalam memikirkan kembali itu, beberapa di antara mereka mengemukakan keberatan-keberatan terhadap Kitab-kitab tertentu, yakni terhadap kitab Pkh, Kid, Est. Akibatnya, batasan-batasan kanon ditetapkan dengan agak lebih jelas hingga kini. Tapi Kanon PL, itu bukanlah ciptaan orang Yahudi pada awal abad-abad Masehi. Para rabi tidak menciptakan sesuatu yg baru, juga tidak bermaksud menciptakan sesuatu yg baru. Mereka hanya meneguhkan secara terperinci apa yg pada hakikatnya telah diterima.
c. Salah satu faktor yg mendorong orang Yahudi untuk merumuskan batas-batas Kanon lebih khusus, ialah bahwa di samping tulisan-tulisan kudus telah ada bermacam-macam kitab lainnya yg ditulis. Di sini timbul persoalan, mengapa orang Yahudi tidak memasukkan kitab-kitab seperti Eklesiastikus atau 1 Makabe ke dalam Kanon? Tiap orang yg menerima ke-39 Kitab PL yg kita miliki sebagai Kanon, akan menemukan alasannya yg tertinggi dalam hal bahwa kedua kitab ini tidak diilhamkan.
Bermacam-macam perkiraan dapat dikemukakan mengenai pandangan-pandangan manusiawi yg menjurus kepada peniadaannya, tapi suatu kesimpulan yg pasti hampir tidak mungkin. Satu hal yg mungkin dapat dipakai sebagai alasan, yaitu kapan waktunya satu kitab lahir. Bagaimanapun, tetap mewujudkan suatu gejala yg aneh bahwa, paling sedikit dengan orang Yahudi di Palestina, tiada sesuatu petunjuk pun bahwa mereka pernah dengan sungguh-sungguh mempertimbangkan untuk memasukkan ke dalam Kanon setiap kitab yg kita masukkan ke dalam kelompok Apokrifa atau didaftarkan di antara tulisan-tulisan yg palsu.
Pada taraf sekarang ini sebaiknya kita tidak menarik kesimpulan apa pun mengenai asal Kanon dari penemuan-penemuan Qumram (*GULUNGAN LAUT MATI).
d. Sering diperkirakan, bahwa orang Yahudi dari Aleksandria, atau lebih umum, orang Yahudi di perantauan (diaspora) Yunani, mempunyai Kanon yg lebih luas, atau mempunyai konsepsi yg lebih luas tentang Kanon dibandingkan orang Yahudi di Palestina. Kepastian mengenai hal ini tidak diperoleh, tapi pertimbangan-pertimbangan berikut dapat dikemukakan. Dikatakan, bahwa orang Yahudi di Aleksandria mempunyai suatu konsepsi yg lebih luas mengenai Kanon, karena mereka mempunyai suatu konsepsi yg lebih luas mengenai pengilhaman; tapi lih P Katz, 'The Old Testament Canon in Palestine and Alexandria', ZNW, 47, 1956, hlm 191-271, khususnya hlm 209, dst.
Cara Filo memakai PL nampaknya menunjukkan bahwa ia tidak menyamakan kitab-kitab lain dengan ke-39 Kitab menurut perhitungan kita.
LXX (Septuaginta) memuat lebih dari 39 kitab. Tapi harus berhati-hati mengambil kesimpulan berdasarkan kenyataan itu. Sejarah tentang asal dan pertumbuhan LXX dalam banyak segi tidak diketahui. Naskah LXX yg lengkap dan yg tertua yg kita miliki berasal dari kelompok Kristen abad 4 M. Naskah ini memang benar-benar memiliki kitab lebih dari 39, tapi dari kenyataan ini tidak boleh diambil kesimpulan-kesimpulan mengenai pandangan-pandangan yg dimiliki orang Yahudi-Yunani pada abad-abad pertama Masehi (lih butir VIII). Lagi pula harus diingat bahwa tidak semua naskah LXX memuat kitab-kitab yg sama. Naskah-naskah itu lebih menampakkan suatu perbedaan yg harus diperhatikan. Satu hal lagi yg perlu diperhatikan, bahwa selama hidup penulis pendahuluan Kitab Eklesiastikus, 'Taurat, nabi-nabi dan Kitab-kitab yg lain' itu telah diterjemahkan ke dalam bh Yunani, tapi penulis ini jelas membedakan antara ketiga kategori ini dan tulisan-tulisan Ben-Sira.
Di lain pihak, kalau orang Yahudi-Yunani membedakan Kitab-kitab yg Kanonik dan yg tidak, dengan cara yg sama tajamnya dengan orang Yahudi Palestina selama abad pertama M, apakah orang Kristen mula-mula tidak juga akan menentukan batas-batasnya lebih tepat lagi daripada mereka? Satu kenyataan lagi: dalam terjemahannya mengenai Kitab Dan, Teodotus memasukkan juga tambahan-tambahannya (doa Azaria, dsb). Barangkali terjemahan ini berasal dari kalangan Yahudi abad 2 M.
VIII. Kanon PL dalam gereja Kristen
Dalam artikelnya 'Zur Kanongeschichte des Alten Testaments' (ZAW, 71, 1959, hlm 114-136), A Jepsen menulis, dan bukannya tanpa alasan, 'Sejarah Kanon PL dalam gereja Kristen belum ditulis' (hlm 125). Kita membatasi diri hingga pada catatan-catatan berikut.
Kenyataan yg pokok ialah, bahwa dengan mengikuti Kristus dan para rasul, gereja sejak dini telah menerima sebagai kanonik 39 Kitab dari PL sama seperti yg sekarang ini. Mungkin ada beberapa keraguan terhadap beberapa dari antara kitab itu, tapi hal itu tidak begitu penting. Inilah pokok dasarnya, tapi ada hal yg lebih banyak harus diuraikan. Gereja muda berbahasa Yunani itu berulangkali bukan hanya bersandar kepada Kitab-kitab yg membentuk Kanon Yahudi, tapi juga kepada kitab-kitab lain yg berasal dari Yahudi. Penting dicatat, bahwa orang Kristen yg berbahasa Yunani bukan hanya bersandar pada apa yg kita sebut Kitab-kitab Apokrifa, tapi juga pads kitab-kitab lain, kitab-kitab yg samar-samar, dan juga pada tradisi lisan Yahudi (lih J L. Koole, De overname van het Oude Testament door de Christelijke kerk, 1938, hlm 16-51, 149-151).
Orang Kristen berbahasa Yunani menemukan banyak kitab yg berasal dari Yahudi, maka tidak mengherankan kalau sejak semula mereka tidak menetapkan batas-batas Kanon secara terperinci. Orang Yahudi-Yunani perantauan mungkin juga tidak melakukannya (lih butir VIId). Keputusan-keputusan seperti yg dibuat di Yamnia tidak dikenal oleh banyak orang Kristen.
Sebenarnya Yosefus, yg umumnya dibimbing oleh keputusan-keputusan Yamnia, masih menggunakan kitab-kitab yg tidak diterima di Yamnia (lih butir VIIa).
Selanjutnya tentulah tidak benar bahwa gereja sejak dini mengakui Kanon yg lebih luas. Ketika orang Kristen membuat daftar Kitab-kitab kanonik, mereka membatasi diri pada kitab-kitab inti dari Kanon Yahudi, seperti terlihat dalam daftar Melito dari Sardis (kr 160 M), dan daftar-daftar milik Origenes, Atanasius, Sirilus dari Yerusalem, dan lain-lainnya (bnd artikel-artikel yg dikutip dari Katz dan Jepsen).
Namun, gereja memakai LXX (dan terjemahan-terjemahan yg didasarkan atasnya), yg meliputi lebih banyak kitab daripada Kanon Yahudi. Ketika LXX diterbitkan dalam bentuk kitab, tulisan-tulisan yg mewujudkan 'tambahan LXX' memasukinya, tersebar di antara tulisan-tulisan yg mewujudkan Kanon Yahudi. Ini tidak membuktikan secara menentukan bahwa wibawa yg sama diberikan kepada setiap kitab dari Kitab-kitab tersebut, tapi hal itu memang cenderung menuju ke arah itu. Demikianlah kitab-kitab yg mewujudkan 'tambahan LXX' mendapat wibawa yg tinggi, khususnya di tengah-tengah Gereja Barat, yg sudah barang tentu kurang berhubungan dengan Palestina dibandingkan Gereja Timur.
Di sinode-sinode Gereja Afrika Utara, yg diadakan di Hippo (393 M) dan di Kartago (397 M), sekalipun terdengar suara-suara Rufinus, Yerome, dan lain-lainnya, kitab-kitab 'tambahan LXX' dimasukkan di antara Kitab-kitab Kanonik. Di sinode ini Agustinus berpengaruh sekali. Karena itu tidaklah mengherankan, bahwa ia membuat bermacam-macam pernyataan di dalamnya, dimana ia memberikan cukup banyak wibawa kepada 'tambahan LXX' seperti yg diberikan kepada Kitab-kitab dari Kanon Ibrani. Di lain pihak, ada pernyataan-pernyataannya, beberapa di antaranya dibuat selama thn-thn terakhir hidupnya, dimana ia secara positif membedakan antara wibawa kedua kelompok ini (lih A. D. R Polman, Detheologie van Augustinus, 1, 1955, hlm 198-208). Pada abad-abad berikutnya 'tambahan LXX' biasanya diterima sebagai kanonik di Gereja Barat, sekalipun pendapat yg berlawanan juga sering menampilkan pembela-pembelanya (lih B. M Metzger, hlm 180, bagi bahan-bahan keterangan yg penting mengenai sikap beberapa ahli RK dari abad 16, sebelum Konsili di Trente).
Para reformator kembali ke Kanon Ibrani, atau, untuk mengungkapkannya lebih baik, kembali ke Kanon Kristus dan para rasul. Demikianlah Calvin berulangkali menunjukkan bahwa tiada keputusan tradisi yg diterima dengan suara bulat sejauh bertalian dengan Kitab-kitab Apokrifa, dan bahwa Kitab-kitab Apokrifa itu pasti lebih rendah dibandingkan Kitab-kitab Kanonik (lik ump Antidote to the Council of Trent).
Untuk menentang kedudukan para reformator itu Gereja RK akhirnya pada thn 1546 mengumumkan di Konsili Trente, bahwa Tobit, Yudit, Kebijaksanaan, Yesus Bin Sirakh, Barukh, 1 dan 2 Makabe juga harus diterima sebagai kanonik. Di sini perlu dicatat, bahwa Gereja RK juga menerima sebagai kanonik tambahan-tambahan pada Kitab Ester, Barukh (surat nabi Yeremia) dan Daniel (doa Azaria, 'Nyanyian ketiga Orang Muda', 'Riwayat Susana', 'Bel dan si Naga'). Di dalam edisi resmi dari Vulgata, yg telah diputuskan oleh Konsili Trente, tapi tidak diterbitkan sebelum 1592, 1 dan 2 Esdras dan Doa Manasye juga disisipkan, tapi setelah PB. Kitab-kitab yg dimasukkan ke dalam Vulgata sebagai tambahan kepada Kitab-kitab dari Kanon Ibrani, oleh golongan Protestan biasanya disebut 'Kitab Apokrifa'.
Tentang perkembangan Kanon di Gereja Timur, lih B. M Metzger, hlm 192-195. Disamping Kitab-kitab dari Kanon Ibrani, Konsili Yerusalem pada thn 1672 menerima sebagai kanon Kitab-kitab Kebijaksanaan, Yudit, Tobit, Bel dan si Naga, 1, 2, 3 dan 4 Makabe, serta Yesus Bin Sirakh. Kini nampak tiada suara bulat terhadap soal Kanon di Gereja Ortodoks Yunani.
IX. Pembagian Kanon PL; urutan Kitab-kitab itu
Bermacam-macam pengaturan Kitab-kitab dari Kanon itu telah dikemukakan. Penting dicatat bahwa semua pengaturan itu dapat dijadikan dua kelompok. Satu kelompok didasarkan atas bagian Taurat, Nabi-nabi dan Tulisan-tulisan (Ketubim). Baba Bathra, 14b, pertama-tama menyebut Taurat, kelima kitab Musa, lalu meneruskan, 'Para rabi berpendapat bahwa urutan Kitab Nabi-nabi ialah: Yos, Hak, Sam, Raj, Yer, Yeh, Yes dan ke-12 nabi. Urutan Tulisan-tulisan (Ketubim) ialah: Rut, Mzm, Ayb, Ams, Pkh, Kid, Rat, Dan, Est, Ezr (= Ezra dan Nehemia), Taw'. Kebanyakan dari tradisi Yahudi memberi urutan yg sama, seperti juga Kitab Suci Ibrani yg dicetak. Demikianlah dalam Biblica Hebraica yg diterbitkan Kittel (edisi ke-3 dan edisi-edisi berikutnya) urutannya sebagai berikut: Kej, Kel, Im, Bil, Ul, Yos, Hak, Sam, Raj, Yes, Yer, Yeh, Keduabelas nabi (kecil), Mzm, Ayb, Ams, Rut, Kid, Pkh, Rat, Est, Dan, Ezr, Neh, Taw.
Mengenai hal ini boleh diadakan pengamatan sebagai berikut. Pertama, di dalam kepustakaan Yahudi berulangkali disebutkan tentang 24 kitab. Dari penjumlahan di atas dapat disimpulkan bagaimana mereka dapat sampai pada jumlah ini. Sebutan jumlah ini pertama-tama muncul dalam 4 Ezra (lih butir IV). Kedua, Nabi-nabi biasanya dibagi menjadi 'Nabi-nabi terdahulu' (Yos s/d Raj) dan 'Nabi-nabi kemudian' (Yes s/d Keduabelas nabi). Ketiga, dalam urutan yg baru saja diberikan, kelima 'gulungan', yaitu Rut-Est, telah dikumpulkan.
Dalam kelompok-kelompok yg lain dari pengumpulan-pengumpulan yg sampai kepada kita, yg pertama-tama disebut ialah Kitab-kitab sejarah (Kej s/d Est), lalu menyusul Kitab-kitab puisi dan Kitab-kitab yg berisi pelajaran, yg khususnya menunjuk kepada masa kini (Ayb s/d Kid), dan akhirnya Kitab-kitab kenabian, yg secara khusus membicarakan masa depan (Yes s/d Mal). Segala macam variasi pengaturan ini dijumpai dalam berbagai naskah dari LXX, dan melalui Vulgata telah juga dipakai oleh kita. Kitab-kitab Suci yg diterjemahkan ke bh modern pada umumnya menyajikan pengaturan ini.
Biasanya pengaturan sesuai Baba Bathra pada hakikatnya dianggap pengaturan asali, sedang pengaturan sesuai LXX dianggap sekunder. Tapi pendapat ini bukanlah tidak dapat diperdebatkan. Benar memang, bahwa pembagian Taurat, Nabi-nabi dan Kitab-kitab adalah pembagian tertua (lih V ttg pendahuluan Kitab Eklesiastikus dan bnd Luk 24:44; hunjukan juga dapat diadakan terhadap bermacam-macam pernyataan dlm Talmud). Tapi harus dipertanyakan, 'Kitab-kitab apa yg dimaksud jika pendahuluan Eklesiastikus dan Luk 24:44 berkata tentang nabi-nabi'?
Pertanyaan di atas tidak dapat dijawab dengan pasti. Di sini hunjukan dapat diberikan pada kesaksian Yosefus (Contra Apionem, 1, 8). Ia berbicara tentang 22 kitab dan memberikan penjumlahan sebagai berikut: 5 kitab Musa, 13 kitab dimana nabi-nabi menguraikan sejarah sejak kematian Musa hingga pemerintahan raja Persia Artahsasta, penggantinya Sasta, dan 4 kitab berisi nyanyian puji-pujian kepada Allah dan aturan-aturan bagi hidup umat manusia. Jelas sekali bahwa Yosefus menganggap termasuk pada kitab nabi-nabi beberapa kitab yg biasanya dikelompokkan kepada 'Tulisan-tulisan' atau 'Ketubim'. Apakah ia berbuat demikian karena pengaruh orang Yahudi dari Aleksandria? Tapi ada hal yg bertentangan dengan itu, ialah bahwa ia menyimpang sekali dari urutan LXX.
Selanjutnya Yosefus menyebut 22 kitab. Ini memberi kesan, bahwa Hak dan Rut dihitung sebagai satu kitab, demikian juga halnya dengan Yer dan Rat. Menurut Origenes, Epifanes, dan Yerome, orang Yahudi mempunyai kebiasaan untuk menggabungkan Rut dengan Hak, dan Rat dengan Yer. Dengan menempatkan Rut setelah Hak dan Rat setelah Yer, LXX telah mengawetkan suatu tradisi Yahudi kuno, yg mungkin berasal dari Palestina.
Origenes, yg tetap berhubungan dengan ahli-ahli Yahudi di Palestina, memberikan suatu penjumlahan Kitab-kitab yg dipandang kanonik di antara orang Yahudi (lih Eus, EH 6, 25). Urutan di mana kitab-kitab itu disebut, menunjukkan persesuaian yg sangat dekat dengan urutan LXX. Sekalipun demikian ia tidak dapat dikatakan menyalin urutan LXX, sebab perbedaannya terlalu besar; misalnya, kitab-kitab yg mewujudkan akhir Kanon ialah Ayb dan Est. Apa yg mendorong Origenes memakai urutan ini? Paling sedikit dapat dikatakan, bukti ini melemahkan pendapat, bahwa selama hidup Origenes urutan yg diberikan Baba Bathra mempunyai wibawa mutlak di Palestina. Kesaksian-kesaksian beberapa bapak gereja dapat disebut, daripadanya dapat diambil kesimpulan yg sama (lih artikel Katz dan Jepsen, telah disebut).
Dari apa yg telah dikatakan, tentu tidak boleh disimpulkan bahwa pembagian dan urutan LXX adalah yg pertama, sedangkan pembagian dan urutan Baba Bathra nomer dua. Ada bermacam-macam pernyataan dalam Talmud dan di lain tempat, yg menunjuk ke arah pembagian dan urutan yg diberikan Baba Bathra, bukan yg diberikan oleh LXX. Sekalipun pernyataan-pernyataan ini dicatat kemudian, namun berisi juga tradisi-tradisi kuno. Mat 23:35 mungkin juga membuktikan bahwa urutan sesuai Baba Bathra adalah tua (lih butir VI).
Dapat disimpulkan bahwa pada zaman kuno ada lebih dari satu pembagian dan urutan yg berjalan berdampingan. Pada zaman kuno itu Kitab-kitab PL ditulis pada gulungan-gulungan yg terpisah; selama cara ini dipakai tidak mungkin menghasilkan suatu urutan tetap yg resmi.
Masalah ini kelihatannya remeh, tapi sebenarnya penting. Pandangan berikut sering dikemukakan. Pertama, Taurat diterima sebagai kanonik. Lalu sekitar thn 200 sM, katanya, Kanon Kitab nabi-nabi disimpulkan. Lebih kemudian, selama sinode Yamnia, bagian ketiga 'Tulisan-Tulisan' ('Ketubim') disimpulkan. Tapi pendapat ini menimbulkan kesan yg salah bahwa kr 200 sM, paling sedikit bagi orang Yahudi di Palestina, 'Nabi-nabi' menjadi suatu kesatuan yg telah tetap. Hal ini dapat dijadikan konkrit dengan satu pokok. Mereka yg menarikhkan Kitab Dan pada zaman Makabe, berkata, bahwa kitab ini dimasukkan dalam kelompok 'Ketubim' karena ditulis terlalu kasep untuk mendapat tempat di antara 'Nabi-nabi'. Tapi dari uraian di atas jelas, bahwa alasan ini tidak berlaku. Memang besar kemungkinan bahwa Dan pada mulanya mendapat tempat di antara 'Nabi-nabi', kemudian ditempatkan di antara 'Tulisan-tulisan'. Ini nampaknya cocok dengan kesaksian Yosefus (bnd juga Mat 24:15). Pergantian tempat ini dapat disebabkan oleh pertimbangan bahwa Dan berbeda sekali sifatnya dari kitab-kitab lainnya dari kelompok 'Nabi-nabi'. Tanggal penulisan Dan tak dapat ditentukan dengan alasan tadi.
KEPUSTAKAAN. Z Leiman, The Canonization of Hebrew Scripture, 1976; A. C Sundberg, The OT of the Early Church, 1964; J. P Lewis, Journal of Bible and Religion 32, 1964, hlm 125-132; M. G Kline, The Structure of Biblical Authority, 1972; J. D Purvis, The Samaritan Pentateuch and the Origin of the Samaritan Sect, 1968; BY Westcott, The Bible in the Church, 1864; W. H Green, General Introduction to the OT: the Canon, 1899; H. E Ryle, The Canon of the OT, 1895; M. L Margolis, The Hebrew Scriptures in the Making, 1922; S Zeitlin, A Historical Study of the Canonization of the Hebrew Scriptures, 1933; R. L Harris, Inspiration and Canonicity of the Bible, 1957. NHR/RTB/HH

