Daftar Isi
BROWNING: ETIKA

ETIKA

ETIKA [browning]

Prinsip-prinsip perbuatan yang benar dan salah. Dasar untuk melakukan apa yang benar, dan ketajaman untuk melihat apa yang benar, merupakan hal-hal mendasar dalam seluruh *Alkitab. Memang, banyak pembaca Alkitab akan menemukan kesulitan untuk memisahkan agama dengan moralitas; perbuatan-perbuatan tertentu (seperti pembunuhan) dilarang oleh Allah, sebab pada dirinya sendiri memang salah. *Nabi-nabi PL berkali-kali; mengharapkan adanya masyarakat yang adil, yang di dalamnya orang-orang miskin tidak ditindas dan penyuapan dilarang prinsip-prinsip perilaku yang mendasar dan lebih penting daripada persembahan dan *korban-korban bakaran (Hos. 6:6). Namun, ada juga beberapa perintah (seperti perintah keempat dalam *Dasa Titah untuk menguduskan hari *Sabat) yang sepenuhnya religius dan bukan bagian dari hukum moral universal (yang kadang-kadang dianggap sebagai 'hukum alam').

Dewasa ini secara luas dipercaya bahwa agama dan etika merupakan dua wilayah kesadaran manusia yang terpisah, dan masing-masing memiliki otonominya. Seseorang yang tidak religius sangat mungkin memiliki prinsip-prinsip etis yang tinggi, dan orang beriman yang religius mungkin mengambil standar tingkah laku yang asing bagi kesadaran moral yang lazim. Dalam PL terdapat contoh-contoh tindakan barbar yang memuakkan dilakukan atas nama Allah, seperti ketika *Samuel mencincang *Agag di depan Tuhan (1Sam. 15:33), atau ketika seorang Lewi memotong-motong tubuh *gundiknya (Hak. 19:29). Pada pihak lain, ada pula wawasan religius yang melarang pengorbanan manusia, seperti ketika tangan *Abraham dicegah agar tidak membunuh *Ishak, anaknya (Kej. 22:12). Namun, tindakan menyelamatkan kehidupan orang-orang Aram ketika terperangkap di Samaria (2Raj. 6:22), lebih merupakan tuntutan aturan perang yang beradab ketimbang suara Allah.

Sekalipun agama dan etika, bahkan dalam Alkitab, dianggap sebagai hal yang berbeda, jelas bahwa ada hubungan erat dan banyak terjadi tumpang-tindih di antara keduanya. Mungkin dapat ditegaskan bahwa perjuangan moral mendapatkan dasar pengharapannya dari iman kepada Allah yang menjadi pendorongnya. Dalam PL keadaan penuh harapan ini timbul dari *perjanjian Allah yang telah diikat dengan Israel. Hal ini merupakan bagian dari visi mengenai cara hidup. Namun, bagi umat Kristen atau orang lain dewasa ini, visi tersebut sering memuakkan.

Sementara sarjana konservatif, atau *fundamentalis modern memaafkan standar moral PL, yang oleh orang-orang Kristen liberal dan orang-orang yang tak beriman sama sekali tidak dapat diterima. Misalnya, perintah PL untuk melakukan *perang suci: penduduk Kanaan harus dimusnahkan oleh serbuan umat Israel. Diperlihatkan bahwa pemusnahan bangsa itu dapat dibenarkan, karena dengan demikian Israel dan bangsa-bangsa lain di dunia ini akan terlindung dari perbuatan-perbuatan jahat bangsa Kanaan yang merusak itu. Demikian halnya para penulis fundamentalis menyetujui hukuman mati bagi perbuatan homoseksual (Im. 20:13), meskipun mereka pura-pura malu terhadap tuntutan hukuman atas pelanggaran aturan hari Sabat atau larangan tentang *riba, yang kepadanya ekonomi pasar bebas bergantung.

Namun, kebanyakan pembaca PL dewasa ini sulit untuk menganggap PL sebagai suatu sumber etis, dan mereka memilih konsensus moral masyarakat demokratis modern yang dipengaruhi oleh PB. Perintah untuk 'beranak cuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi' (Kej. 1:28), bagi mereka tidak memiliki kesahihan dalam dunia yang telah kelebihan penduduk ini. Mereka menolak sikap PL, baik perendahan wanita, maupun sistem perbudakannya. Namun, dapat ditunjukkan bahwa kemajuan moral yang terjadi dalam sejarah Israel sebagai suku-suku primitif dan barbar diajarkan oleh para nabi dan dipengaruhi oleh bangsa-bangsa lain di Timur Dekat kuno. Seberapa jauh kemajuan prinsip-prinsip moral umat Israel dapat dilihat, misalnya dari tanggapan terhadap kejahatan pencurian. Pelaku kejahatan pencurian tidak dihukum secara fisik, tetapi dengan memberikan ganti rugi kepada korbannya (Kel. 22:1), karena bagi orang Ibrani, serangan terhadap pribadi lebih serius daripada kejahatan terhadap harta milik.

Keyakinan akan kedudukan mereka sebagai umat Allah telah memberi ilham kepada Israel mengenai perilaku personal dan sosial. Hal ini telah menjadi model kehidupan yang bertanggung jawab dalam hubungan keluarga, usaha, dan dalam pemerintahan. Dalam PB, untuk menerima Kerajaan Allah dibutuhkan perilaku tertentu (Mrk. 10:24-25), yang secara ringkas didefinisikan sebagai kasih dwi arah, yaitu kepada Allah dan sesama (Mrk. 12:29-31). Dikatakan oleh Yesus bahwa murid-murid wanita tidak lebih rendah daripada murid-murid pria (Luk. 8:1-3), perlu adanya kepedulian terhadap orang lain (Luk. 10:37), musuh harus dikasihi (Mat. 5:44), dan penguasa yang sah harus dihormati (Mrk. 12:13-17). Namun, sepanjang *Kerajaan Allah baru akan terwujud di masa depan, beberapa perintah etis tidak dapat dilakukan dalam kehidupan kini. Perintah-perintah itu menggambarkan ideal yang hanya dapat didekati oleh para *murid: tidak melawan *kejahatan (Mat. 5:30) dengan kekerasan, kesempurnaan total (Mat. 5:48), menolak uang (Luk. 16:13-15).

Banyak pengajaran etis dalam surat-surat sesuai dengan pengajaran etis Stoa dan filsuf-filsuf lainnya, serta merupakan bagian dari 'hukum alam'. Paulus memberi motivasi ketika menekankan 'hukum Kristus' (Rm. 13:8-10), yaitu untuk saling mengasihi (Yoh. 13:34). Lihat *Khotbah di Bukit.




TIP #28: Arahkan mouse pada tautan catatan yang terdapat pada teks alkitab untuk melihat catatan ayat tersebut dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.07 detik
dipersembahkan oleh YLSA