Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 14 No. 1 Tahun 1999 >  PASCAMODERNISME DAN KEYAKINAN INJILI > 
III. SEBUAH USULAN METODOLOGIS UNTUK MENGHADAPI TANTANGAN PASCAMODERNISME 
sembunyikan teks

Ada tiga wilayah yang perlu dipikirkan oleh kaum Injili secara metodologis pada era pascamodernisme ini, yaitu epistemologi, penyataan dan Alkitab, hermeneutika.

1. Epistemologi

Tantangan pertama yang ditimbulkan oleh pemikiran pascamodernisme adalah di bidang epistemologi. Bagaimana kita bisa berbicara mengenai kebenaran terhadap generasi ini? Kelvin Jones di dalam artikelnya "Formal Foundation: Toward an Evangelical Epistemology in the Postmodern Era" mengemukakan proposal yang menarik. Jones menekankan fondasi formal atau prinsip-prinsip formal dari mental manusia. Berdasarkan prinsip-prinsip formal ini mental manusia sanggup untuk mengadaptasi realitas dalam dunia ini. Ada 7 prinsip atau kemampuan formal dari mental manusia:7)

1. prinsip keberadaan (being); menyadari eksistensi seseorang dan ide tentang berada atau tidak berada.

2. prinsip identitas (identity); mengidentifikasikan suatu obyek tertentu, karakteristiknya, dan ini menjadi dasar untuk pengindividuan.

3. prinsip abstraksi (abstraction); kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menarik kesimpulan, dan berpikir secara logis.

4. prinsip sebab akibat (causation); kemampuan untuk menghubungkan sebab suatu peristiwa dan mengkaitkannya di dalam relasi sebab akibat.

5. prinsip ruang (spatiality); ini merupakan dasar geometri dan kemampuan untuk menangkap 3 dimensi dari ruang.

6. prinsip urutan waktu (temporality); kemampuan untuk mengikuti dan berpikir sesuai dengan suatu urutan yang terdahulu dan terbelakang.

7. prinsip moralitas (morality); dasar dari pola berpikir untuk membedakan yang benar dan salah.

Berdasarkan hal-hal di atas, Jones berkeyakinan bahwa setiap manusia normal mempunyai kapasitas ini sebagai dasar untuk menangkap suatu kebenaran yang obyektif. Yang diserang oleh para pemikir pascamodern sesungguhnya adalah proposisi material dari suatu ide. Dengan pengertian ini, kita tahu bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk berpikir secara obyektif dan sekaligus kita bisa berhati-hati di dalam memutlakkan suatu proposisi material.

Model epistemologi ini sangat membantu di dalam mengerti kebenaran dan obyektivitas. Pascamodernisme cenderung melihat realitas itu sebagai sesuatu yang dinamis bukannya statis, terutama di dalam hal kebenaran yang berhubungan dengan agama yang biasanya diungkapkan dengan bahasa simbolis atau analogis. Memang benar bahwa bahasa agamawi itu bersifat analogis, tetapi ada keselarasan ide dari analogi-analogi tersebut. Misalnya pernyataan bahwa "Allah adalah Bapa surgawi kita" mengandung kebenaran analogis bahwa Allah itu bersifat melindungi, memperhatikan dan sebagainya. Sifat-sifat yang bertentangan dengan karakteristik tersebut dapat dikatakan tidak benar atau salah. Selain itu, Alkitab juga menyatakan bahwa Yesus adalah "jalan dan kebenaran dan hidup" (Yoh. 14:6). Dia juga mengklaim bahwa pengajaran-Nya adalah kebenaran dan kita akan dibimbing mengenal kebenaran (Yoh. 16:4-15). Namun di lain segi, Alkitab juga mengingatkan bahwa kita masih dalam proses, apa yang kita lihat sekarang tidak lebih adalah gambaran yang samar-samar di dalam cermin (1Kor. 13:12).

Ini merupakan suatu keseimbangan yang baik, di satu sisi manusia mempunyai kemampuan untuk mengenal kebenaran, di lain sisi manusia perlu berhati-hati agar tidak mudah memutlakkan pandangan pribadi tertentu. Hal ini berhubungan erat dengan persoalan obyektivitas. Apa yang dimaksud dengan obyektif? Kalau yang dimaksud dengan obyektif adalah keterlepasan sama sekali antara subyek dengan obyeknya, maka manusia tidak mempunyai obyektivitas yang demikian karena suatu pengetahuan itu selalu merupakan hasil interaksi antara subyek dengan obyek. Dalam hal ini pascamodernisme benar bahwa manusia selalu dipengaruhi oleh kebudayaannya, bahwa pemikiran seseorang itu selalu diwarnai oleh latar belakang, pendidikan, minat pribadi seseorang dan sebagainya. Sekalipun demikian, bukannya tidak akan ada obyektivitas sama sekali. John Feinberg di dalam kritiknya terhadap buku van Huysteen yang berjudul Theology and the Justification of Faith, mengatakan bahwa di dalam skema pengelompokkan secara kategoris, dimungkinkan untuk menyimpulkan suatu ketetapan umum di luar pengalaman seseorang. Misalnya ide tentang seekor anjing, seseorang dapat mengidentifikasikan seekor anjing karena adanya kesepakatan umum mengenai karakteristik seekor anjing. Seseorang tidak dapat, karena minat pribadinya, menyebut anjing sebagai kucing. Jadi pengesahan publik dari data yang dikemukakan memungkinkan seseorang mengidentifikasikan suatu obyek tertentu sebagai anjing, dalam pengertian ini sesuatu bisa dikatakan obyektif. Di dalam teologi Kristen, pengesahan dari komunitas Kristen sangat penting untuk mencapai obyektivitas. Alister McGrath di dalam bukunya The Genesis of Doctrine mengemukakan yang disebut "hermeneutika komunitas."8 Jadi tradisi yang diteruskan turun-temurun memainkan peran yang vital dalam teologi Kristen. Orang Kristen dapat mendeteksi suatu pengajaran dan konsep nilai tertentu dengan membandingkannya dengan tradisi.

Sebagai kesimpulannya, komunitas Kristen yang berpegang pada nilai gereja yang bersejarah pada umumnya setuju pada kerangka dasar dari pengajaran Kristen dan doktrin-doktrin utamanya. Namun ada isu-isu sekunder di dalam berteologi di mana dalam Kristen perlu terbuka untuk berdiskusi dan mengevaluasi ulang di dalam terang pengalaman dan bukti-bukti baru yang senantiasa berkembang.

2. Penyataan dan Alkitab

Di dalam alam pemikiran pascamodernisme ini obsesi dari teologi tradisional mengenai penyataan yang proposisional perlu dievaluasi. Ada banyak macam penyataan yang telah dikemukakan untuk mengakomodasi pengalaman manusia sekarang. Avery Dulles di dalam bukunya Models of Revelation membahas 5 macam model penyataan.9 Di dalam konteks kita, saya hanya akan menyoroti beberapa model. Salah satunya yaitu yang disebut "penyataan sebagai sejarah." Salah satu tokoh yang mengemukakan pandangan ini ialah G. E. Wright. Baginya, yang dimaksud dengan penyataan ialah tindakan atau perbuatan Allah di dalam sejarah, seperti pemanggilan Abraham, eksodus, dan klimaksnya yaitu karya Allah melalui inkarnasi. Dalam pengertian ini, Alkitab ialah catatan mengenai karya Allah di dalam sejarah. Yang disebut dengan sifat-sifat Allah ialah kesimpulan yang ditarik melalui perbuatan-perbuatan Allah tersebut. Sebetulnya konsep penyataan dari Neo-ortodoks termasuk di dalam kategori ini. Namun tekanan yang diberikan biasanya pada aspek "pertemuan" (encounter) di mana Allah yang transenden menerobos masuk ke dalam sejarah umat manusia. Hakekat dasar model ini ialah penyataan itu sesuatu yang dinamis bukan statis. Penyataan itu sesuatu yang "terjadi" bukannya sesuatu yang "adalah" (something that happens not something that is). Pada waktu mereka berbicara mengenai penyataan yang dimaksudkan adalah lebih kepada proses dari penyataan itu bukannya produk dari penyataan itu.

Model yang lain ialah penyataan sebagai "pengalaman di dalam" (inner experience). Yang dimaksud ialah penyataan diartikan sebagai pengalaman di dalam diri seseorang di mana ia merusakkan kedalaman atau keajaiban Allah. Jadi Alkitab dan doktrin Kristiani adalah ungkapan atau refleksi dari pengalaman ini. Model ini sangat populer di kalangan penganut pluralisme agama, karena berdasarkan pendekatan ini doktrin menjadi kurang penting, yang utama ialah pengalaman di dalam diri seseorang terhadap "Yang Mutlak." John Hick misalnya, lebih senang menyebut Allah sebagai "Kenyataan Akhir" (the ultimate reality) karena istilah ini lebih bisa mengakomodasi berbagai macam "allah" dari agama lain. Seorang pluralis dari India yang bernama Stanley Samartha mengemukakan "Sang Misteri" sebagai pusat dari semua pengalaman agama. Konsep penyataan yang demikian ini sulit untuk bisa diterima oleh kalangan Injili. McGrath menunjukkan dengan tepat bahwa pengalaman agamawi seseorang adalah explicandum bukan explicans adalah sesuatu yang perlu ditafsirkan bukannya penafsir.10 Namun saya ingin menyarankan bahwa kaum Injili bisa memanfaatkan sumbangsih dari Wright dan Barth di dalam doktrin penyataannya. Penyataan adalah apa yang Allah lakukan dalam sejarah, tetapi juga ada unsur proposisional. Karena suatu peristiwa tanpa ada penjelasannya bisa membawa kepada berbagai macam penafsiran. Penyataan juga personal, namun "pertemuan" (encounter) tanpa mengetahui obyeknya adalah suatu pengalaman yang kosong. Jadi doktrin penyataan yang biasa dianut oleh kaum Injili bisa diperkaya oleh sumbangsih-sumbangsih ini.

Karena penyataan juga bersifat proposisional, maka sewajarnya bahwa Alkitab adalah catatan dari penyataan Allah. Berdasarkan keyakinan orang percaya bahwa catatan tersebut dapat disandari dan benar adanya, maka Alkitab adalah firman Allah. Di dalam era pascamodern ini lebih baik aspek Alkitab yang perlu ditonjolkan adalah dapat dipercayainya Firman Tuhan tersebut (truthfulness) dari pada ketidakbersalahannya (inerrancy) yang memberikan konotasi Alkitab sebagai sesuatu yang statis, harafiah dan tepat sampai ke setiap detailnya (precision isnt). Hal lain yang perlu dikembangkan adalah doktrin iluminasi. Jadi peran Roh Kudus di dalam memberikan penafsiran yang dapat memenuhi tantangan pengalaman manusia saat kini perlu lebih ditekankan. Terkadang prinsip Sola Scriptura sering diartikan dengan kurang tepat, seolah-olah berteologi cukup dengan didasari Alkitab, melakukan eksegese dan menarik kesimpulan yang diperoleh secara "Alkitabiah" untuk menjawab setiap persoalan manusia segala zaman. Saya percaya bahwa berteologi di alam pascamodern ini membutuhkan interaksi terbuka yang terus-menerus antara Alkitab dengan faktor-faktor lain seperti tradisi, pengalaman dan akal manusia. Jadi Alkitab jangan diartikan sebagai satu-satunya sumber otoritas orang percaya tetapi sebagai sumber utama yang berotoritas di dalam kehidupan iman pengikut Kristus.

3. Hermeneutika

Pascamodernisme juga membawa tantangan yang berat di dalam bidang hermeneutika. Para ahli penafsir Alkitab generasi terdahulu selalu berpegang pada pedoman penafsiran yang berpusatkan pada sang penulis (author-centered) atau pada teksnya (text-centered). Dengan kata lain mereka percaya bahwa maksud penulisan itu bila diketahui secara obyektif dari teks yang ada atau paling tidak makna teks itu sendiri secara obyektif dapat diketahui. Tetapi para pemikir pascamodernisme seperti Deridda menganggap bahwa mustahil bisa mengetahui maksud yang sebenarnya dari penulis Alkitab. Yang ada hanyalah pandangan relatif yang bercampur dengan minat pribadi dari sang penafsir.11 Pandangan ini tentunya merupakan tantangan berat bagi kaum Injili yang selalu percaya bahwa menafsir itu adalah mencoba mengerti maksud yang sebenarnya dari pengarang tersebut. Ini juga didasarkan pada asumsi tentang pengajaran inspirasi dan iluminasi. Paulus mengatakan bahwa Allah memberikan penyataan kepada kita (1Kor. 2:10), dan pemikiran manusia yang telah diperbarui sanggup untuk menangkap kebenaran Allah di dalam kehidupan kita (Kol. 3:10). Yesus juga mengatakan bahwa Roh Kudus akan memimpin kita untuk mengerti pengajaran Yesus (Yoh. 14:15-27). Namun sekali lagi, hal ini perlu diimbangi dengan peringatan Alkitab yang lain bahwa perspektif kita terbatas untuk mengerti kebenaran itu sepenuhnya (1Kor. 13:12; Ul. 29:29). Kesimpulannya, kita adalah manusia yang diciptakan menurut gambar Allah dan dapat menyelami kehendak-Nya sampai tahap tertentu; namun manusia juga telah berdosa dan merupakan ciptaan terbatas yang mencoba mengerti yang tidak terbatas itu. Beberapa saran yang dikemukakan para teolog untuk mengatasi kebuntuan ini:

- D. A. Carson di dalam bukunya The Gagging of God mengakui beban budaya yang ada di dalam setiap pengungkapan manusia, bahkan ungkapan yang sederhana seperti "Yesus adalah Tuhan" bisa mempunyai pengertian yang berbeda-beda bagi telinga yang mendengarnya. Tetapi ia percaya bahwa idenya masih bisa dikomunikasikan walaupun secara lintas budaya. Contoh yang diberikannya diambil dari matematika yang disebut dengan Asymptote. Suatu garis melengkung bisa didekatkan kepada garis lurus sedemikian rupa sehingga hampir menyatu, tetapi tidak bisa melebur total.12 Dengan kata lain sang penafsir itu bisa mendapatkan pengertian yang cukup akurat (walaupun tidak sempurna) dari maksud pengarang melalui pemahaman yang terus menerus dari budaya, latar belakang dan pola berpikir penulis Alkitab.

- Gadamer mengajukan suatu proses yang disebut "menjaga jarak" (distanciation) dan "peleburan horizon" (fusion of horizon) untuk mengetahui maksud dari pengarang. Jadi melalui proses yang terus menerus dengan menjaga jarak melebur ke dalam horizon pengarang diharapkan terciptanya suatu pemahaman yang cukup tepat dari makna penulis Alkitab.13

- Grant Osborne di dalam bukunya Hermeneutical Spiral memberikan usulan lain yang disebut sebagai "proses seperti spiral." Dengan terus menerus mengajukan pertanyaan yang tepat dan mencari jawaban yang memadai maka selangkah demi selangkah penafsir bisa masuk ke dalam perspektif dari pengarang.14

Sebagai kesimpulan, pascamodernisme memunculkan tantangan tetapi sekaligus kesempatan bagi kaum Injili. Kita perlu secara seimbang menerima aspek positif dan menolak aspek negatif dari arus ini. Tujuan akhirnya ialah melayani generasi ini dengan lebih baik namun dengan tetap setia terhadap penyataan di dalam Tuhan Yesus Kristus.



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA