Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 12 No. 1 Tahun 1997 >  KLONING: WAWANCARA DENGAN ROLF HILLE, J.E. SAHETAPY DAN SINGGIH WIDJAJA > 
I. KLONING MENURUT ALKITAB: SEJAUH MANA MANUSIA BOLEH MELANGKAH? 
sembunyikan teks

Kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam sains dan teknologi telah melahirkan isu-isu bioetis yang baru. Inseminasi buatan, bayi tabung, ibu titipan, transplantasi organ, hewan transgenik serta berbagai bentuk manipulasi genetik yang merupakan produk bioteknologi yang benar-benar telah merupakan realitas medis masa kini. Di antara sekian banyak produk bioteknologi itu, kloning paling hangat diperdebatkan para teolog dan etikawan Kristen, terutama di negara-negara maju di kawasan Eropa Barat dan Amerika Serikat. "Bila di bidang doktrin masalah Kristologi tentang siapa sesungguhnya Yesus menjadi topik yang paling hangat diperdebatkan para teolog, maka masalah kloning dan rekayasa genetika adalah isu yang paling hangat dalam bidang etika," demikian Rolf Hille. Menurutnya, kemungkinan kloning pada manusia bukan hanya berdampak etis moral dan legal, tapi lebih jauh, secara teologis yakni hal yang sangat substansial yaitu bagaimana manusia melihat hubungan antara dirinya sebagai makhluk dengan Allah sebagai Pencipta.

Hille menegaskan bahwa Alkitab jelas mengajarkan bahwa Tuhan menciptakan manusia sebagai citra Allah secara khusus, lain dari proses penciptaan benda dan makhluk lain. Manusia adalah ciptaan yang merupakan ide asli dari Allah. Bertolak dari kebenaran ini, kloning pada manusia bertentangan dengan Alkitab dan merupakan bentuk pelanggaran manusia terhadap lingkup kedaulatan Allah sebagai Pencipta hidup. Bila itu diterapkan sebatas hewan dan tumbuhan demi kepentingan riset dan kemaslahatan manusia, kloning dan pelbagai bentuk produk rekayasa genetika masih bisa diterima, tandas Hille, guru besar teologia sistematika ini. "Bukankah Tuhan memberi amanat dan mandat kepada manusia untuk menguasai dan mengelola alam ciptaan termasuk hewan dan tumbuhan?" Menurutnya, kloning pada manusia tidak dibenarkan Alkitab sekalipun demi alasan riset ilmiah dan kepentingan medis.

Hille mengakui bahwa sebagaimana isu-isu bidang etika yang lain, diperlukan kejelian dan kehati-hatian dalam menanggapi masalah kloning, apalagi tidak semua isu itu dapat ditemukan jawabnya secara eksplisit dalam Alkitab. Namun, Alkitab dengan jelas mengajarkan kebenaran tentang hukum dan kedaulatan Allah atas hidup manusia.

Selain melanggar kewenangan Allah sebagai pencipta, kloning pada manusia merupakan pelanggaran serius terhadap harkat dan martabat manusia yang diciptakan Allah sebagai makhluk termulia dan unik. "Tuhan telah menetapkan manusia untuk berkembang biak secara alami melalui proses perkawinan. Lagi pula manusia diciptakan secara tunggal dan satu-satunya, bukan duplikasi," tandas Hille yang juga menjabat Ketua Komisi Teologi World Evangelical Fellowship itu. "Ketunggalan berarti hubungan antara Allah dengan pribadi adalah tunggal adanya. Allah punya hubungan historis tersendiri dengan setiap orang dan ini tidak boleh diduplikasi secara proses teknis." Hille menegaskan bahwa Tuhan menciptakan manusia agar dapat berkomunikasi dengan-Nya. "Lebih dari itu, Tuhan Yesus mati untuk menebus dosa manusia pribadi demi pribadi."

Hille mengakui bahwa secara teologis, pemberian mandat kepada manusia untuk menjadi pengelola yang berkuasa atas segenap ciptaan (Kej 1:28) dilematis bagi manusia. Di satu sisi, manusia sebagai makhluk termulia dipercayakan Tuhan untuk berkuasa atas segenap ciptaan. Namun di sisi lain, sebagai ciptaan, manusia terikat kepada kedaulatan Sang Pencipta, yang telah menetapkan batas-batas wewenangnya. Sejauh mana manusia bisa melangkah dalam tapal batas kedua wilayah itu, di situlah letak ketegangan pergumulan etis dan moral. Dalam konteks itu, Hille, doktor teologia lulusan Universitas Munich (1989) itu menegaskan bahwa kloning pada manusia jelas berlawanan dengan kebenaran firman karena, "Tuhan menciptakan manusia sebagai gambar dan citraNya, sedangkan dalam kloning, manusia berusaha menciptakan suatu individu yang mirip dengan dirinya sendiri."

Senada dengan Hille, Sahetapy dengan tegas menolak kloning pada manusia. "Secara mutatis mutandis, saya setuju dan mendukung bila hal itu diterapkan pada binatang dengan tujuan mencari bibit unggul. Tapi bila kloning diterapkan pada manusia, secara kategoris itu sudah melanggar kedaulatan dan wewenang Tuhan sebagai Pencipta," tandas Sahetapy yang pernah mendalami bidang apologetika Kristen di Institut Alkitab Tiranus Bandung itu. Oleh karena itu, menurutnya, kepatuhan terhadap hukum Tuhan bersifat mutlak, tanpa tawar-menawar. "Menguasai bumi dengan segala isinya tidak lalu berarti manusia menjadi seperti Allah."

Ternyata keunikan manusia bukan cuma diajarkan Alkitab. Kebenaran ilmiah melalui temuan-temuan dalam bidang bioteknologi dan kedokteran juga membuktikan hal itu, kata Dr Singgih Widjaja. Salah satu contoh fakta bidang genetika medis yang membuktikan keunikan manusia dari binatang adalah dalam hal penyakit genetis. "Lihat contohnya pada anjing. Kalau pun mereka kawin di antara kerabatnya bahkan dalam satu keturunan, itu tidak menimbulkan cacat genetis pada anaknya. Coba pada manusia. Perkawinan sedarah langsung akan menghasilkan keturunan cacat," tandas dokter yang memperdalam medical genetics di Universitas Hawai itu. "Bukankah ini merupakan bukti bahwa manusia adalah lain dan tidak berasal dari binatang seperti kesimpulan teori Evolusi?"



TIP #02: Coba gunakan wildcards "*" atau "?" untuk hasil pencarian yang leb?h bai*. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA