Resource > Jurnal Pelita Zaman > 
Volume 11 No. 1 Tahun 1996 
 EDITORIAL
sembunyikan teks

Dalam volume ke-10 (nomor 1 dan 2) kita telah sejenak "menjelajahi" dunia Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dan, kita dapat memastikan bahwa masih terlalu banyak hal yang sebenarnya dapat di telaah di dalam belantara alkitabiah tersebut. Tentu saja penjelajahan teologis di dalamnya tidak akan berhenti.

Dalam volume ke-11 nomor 1 ini kita beralih dari topik-topik tersebut dan mencoba melihat sisi lain dari penghayatan kristiani dan tanggung jawabnya. Edisi kali ini menyajikan hal-hal praktis tapi tetap teologis, teologia praktika.

Artikel pertama, Stagnasi dalam Pelayanan, menunjukkan hal-hal yang menyebabkan kemandegkan atau malah perlambatan perkembangan pelayanan Kristen. Artikel ini juga mencoba mengusulkan jalan keluarnya. Artikel kedua menyajikan ulasan alkitabiah tentang pelayanan kaum awam, yang mendorong keikutsertaan awam dalam pelayanan kristiani. Masalah dan pelayanan anak dan remaja mendapat perhatian dalam artikel-artikel selanjutnya. Juga, dalam jurnal kali ini diketengahkan katekisasi sebagai wadah pembinaan awal dalam hidup bergereja. Artikel tentang misi, transkrip khotbah dengan eksegesis yang baik, dan tinjauan buku mengakhiri tamasya baca kita dalam perjumpaan kali ini. Selanjutnya, dalam edisi mendatang kita akan membicarakan Injil dan Kebudayaan. Perhatian dan dukungan pembaca tetap kami nantikan. Sampai jumpa dan selamat membaca!

 STAGNASI DALAM PELAYANAN
sembunyikan teks
Penulis: Eddy Paimoen822
 PANDANGAN ALKITAB TENTANG PELAYANAN KAUM AWAM
sembunyikan teks
Penulis: Tan Giok Lie829

Pelayanan kaum awam adalah topik yang populer dalam banyak artikel dan bukti, bahkan tema dalam khotbah-khotbah.823 Lebih dari itu, Strauch824 menyatakan bahwa akhir-akhir ini perihal kaum awam ini telah menjadi pokok bahasan di mana-mana. Namun demikian, terdapat pula kesalahpahaman dalam kaitannya dengan teologia kaum awam. Istilah "awam" sering ditafsirkan salah. Orang-orang awam sering dianggap sama dengan "orang-orang yang tidak profesional", yaitu orang-orang yang dibedakan dari mereka yang terlatih khusus atau ahli. Dalam organisasi keagamaan, orang awam sering dianggap "orang-orang percaya biasa" yang dibedakan dari "para hamba Tuhan."825

Konsep ini menyebabkan terbaginya umat Allah ke dalam dua tingkatan yaitu "tingkatan elit dari para hamba Tuhan yang melaksanakan fungsi sebagai tokoh agama masyarakat dan tingkatan umum yang terdiri dari orang biasa yang tidak bermutu."826 Pembagian ini timbul akibat peniruan pola kepemimpinan Yunani - Romawi, yang sistem administrasi pemerintahannya dibagi dua: "kaum 'kieros' atau para pejabat dan kaum 'laos' atau warga negara yang tidak tahu apa-apa yaitu yang tidak berpendidikan."827 Kalau pola ini diterapkan pada pelayanan Gereja akan menyebabkan pembagian yang mengurangi partisipasi penuh dari semua orang Kristen dalam pelayanan dan juga akan menghambat pertumbuhan rohani atau proses kedewasaan.828

 DASAR-DASAR TEOLOGIS PELAYANAN UNTUK ANAK
sembunyikan teks
Penulis: Andar Ismail881
 REMAJA, PERMASALAHAN DAN PENANGANANNYA
sembunyikan teks
Penulis: Maria Janiwati Jona892
 KATEKISASI
sembunyikan teks
Penulis: Budhiadi Henoch893
 PANDANGAN TEOLOGIA PAULUS TENTANG GLOSSOLALIA
sembunyikan teks
Penulis: Gordon Fee897

Bila kita mengatakan "keselamatan oleh kasih karunia saja" sebagian besar orang akan langsung berpikir "Rasul Paulus", tetapi bila kita katakan "berbahasa lidah" maka sebagian besar orang akan berpikir "Pentakosta" atau "Kharismatik". Ini terjadi sekalipun Paulus sendiri mengatakan bahwa dirinya berbahasa lidah melebihi orang-orang Korintus sendiri. Contoh ini menunjukkan bagaimana sebagian besar dari kita membaca Perjanjian Baru dengan filter (saringan) pengalaman bergereja kita. Lagipula, respon spontan semacam ini ketika kita mendengar kata "glossolalia" mungkin tidak adil baik untuk Paulus maupun mereka yang saat ini mengalami ekspresi kerohanian yang sangat alkitabiah ini.894

Meskipun mungkin ada berbagai alasan mengapa banyak orang Kristen masa kini yang alergi atau malahan menolak langsung fenomena ini (mungkin karena ketakutan terhadap hal yang belum dikenal, kurangnya penghargaan terhadap hal-hal yang di luar rasio, pengalaman yang kurang menyenangkan dengan karismatik, dan lain-lain.), salah satu alasan nampaknya berakar dari kenyataan bahwa kaum Pentakosta punya pengalaman yang banyak dalam hal ini, tetapi kadangkala kurang dalam perenungan teologisnya.895 Selain itu, pendekatan kalangan Pentakosta pada fenomena ini seringkali dengan rasa bangga sehingga membuatnya tidak menarik bagi yang lain. Kebanggaan seperti itu, yang sulit kita hubungkan dengan teologia Paulus, mungkin menyebabkan beberapa orang memandang remeh bentuk doa dan pujian ini (1 Kor 14:15-17) sebagai sesuatu yang pada dasarnya tidak berharga untuk Paulus.

Tujuan dari tulisan ini896 adalah untuk menunjukkan bahwa rasa kebanggaan karena glossolalia bukan merupakan pandangan Paulus sendiri, dan bahwa Paulus juga punya pandangan yang positif tentang karunia ini dalam 1 Korintus 14 karena sebenarnya hal ini sesuai dengan teologianya secara keseluruhan dan juga pengalamannya dengan Roh Kudus. Namun dalam literatur yang ada nampaknya dituliskan secara kebalikannya, seakan-akan Paulus hanya menegur bahasa lidah dengan pujian yang samar saja. Pandangan seperti itu berdasar pada interpretasi yang salah tentang konteks pembicaraan Paulus. Apa yang ditulis Paulus dan ditekankannya adalah pengalaman glossolalia di dalam jemaat ketika tidak ada orang yang menerjemahkannya. Sebaliknya, semua yang dikatakannya tentang karunia itu sendiri, termasuk pengalamannya dengan karunia itu, sangatlah positif. Sayangnya, dictum ini jarang diterima oleh banyak orang yang mengaku pengikutnya: "Aku akan melakukan keduanya; aku akan berdoa dalam Roh (yaitu dalam bahasa lidah) dan aku akan berdoa dengan pemahamanku."

Tesis tulisan ini adalah bahwa pemahaman Paulus tentang glossolalia dapat ditemukan dalam paradoks di 2Kor 12:9, bahwa "Kuasa (Allah) disempurnakan dalam kelemahan (manusia)," dan bahwa berbahasa lidah karena itu merupakan tanda kelemahan bukannya kekuatan. Jadi saya mengajukan: (1) membahas secara singkat tema kekuasaan dan kelemahan di dalam Paulus; (2) meneliti data Paulus tentang glossolalia dari 1 Korintus; (3) mengajukan bahwa data ini sesuai dengan referensi Paulus yang samar tentang berdoa dalam Roh dalam Rm 8:26-27; dan (4) menyimpulkan dengan menunjukkan bagaimana data tentang "berdoa dalam Roh" sesuai dengan tema kekuatan dalam kelemahan.

 TEMA MISI DALAM PERJANJIAN LAMA
sembunyikan teks
Penulis: Brent Armistead916
 KISAH TIGA HAMBA TUHAN
sembunyikan teks
Penulis: Juswantori Ichwan919

Samuel, Hofni, dan Pinehas adalah tiga orang yang mendapatkan peran sakral dari Tuhan. Mereka adalah segelintir orang yang dipilih dari sekian juta umat untuk menjadi pemimpin rohani: orang-orang yang berdiri di hadapan Allah untuk mewakili seluruh umat. Mereka tidak pernah mendaftarkan diri untuk menduduki jabatan itu. Boleh di kata, mereka mendapatkan peran itu secara otomatis. Anak-anak Eli menjadi imam karena mereka keturunan Harun;917 sedang Samuel menjadi pelayan Bait Allah karena nazar ibunya.918 Ini sebuah peran sakral yang luar biasa!

Ketiga hamba Tuhan ini berangkat dari garis start yang sama. Mereka sama-sama pernah dididik dengan kurikulum yang sama. Tempat belajarnya sama: di Bait Allah. Guru merekapun sama: imam Eli. Dari dialah mereka tahu bagaimana caranya menjadi pelayan Tuhan. Dari dialah mereka tahu mana yang benar, mana yang salah.

Tetapi jika kita membaca 1 Sam 2:1-26, kita akan melihat bahwa arah pertumbuhan hidup mereka ternyata begitu berlawanan. Sementara Samuel makin hari makin menghayati peran sakral yang Allah berikan kepadanya, anak-anak Eli semakin tidak pantas menyandang peran sakral itu. Bahkan kisah ini berakhir dengan kontras: Tuhan semakin mengasihi Samuel, di pihak lain, TUHAN hendak mematikan anak-anak Eli. Mengapa demikian?

 TINJAUAN BUKU


TIP #26: Perkuat kehidupan spiritual harian Anda dengan Bacaan Alkitab Harian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA