Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 7 No. 1 Tahun 1992 > 
KEBANGKITAN KRISTUS DAN RELEVANSINYA BAGI GEREJA MASA KINI 
sembunyikan teks
Penulis: Ferdy Suleeman191
 PENDAHULUAN
sembunyikan teks

Bagi iman Kristen, pemberitaan tentang kebangkitan Yesus Kristus memainkan peranan yang amat penting. Dapat dikatakan bahwa tanpa kebangkitan Kristus tidak pernah ada Gereja di dalam dunia ini. Dengan kata lain, iman Kristen lahir dari pemberitaan para murid tentang Kristus yang telah mati dan bangkit. Pemberitaan itu menimbulkan pengharapan dan gairah untuk memberitakan Injil Yesus Kristus. Tetapi sejauh manakah dampak positif dan relevansi berita kebangkitan itu bagi kehidupan gereja masa kini?

Makalah ini diharapkan dapat memberi jawaban untuk pertanyaan tadi. Seperti pepatah mengatakan 'ada banyak jalan ke Roma', maka begitu juga ada banyak cara di dalam membahas dan mengupas suatu masalah. Pembaca mungkin kurang merasa puas di dalam membaca tulisan ini, apabila ia mengharapkan suatu uraian yang lengkap dan menyeluruh. Oleh karena keterbatasan yang dimiliki oleh penulis, khususnya di dalam waktu dan kesempatan, maka makalah ini tidak punya pretensi untuk mengupas habis dan tuntas tentang pokok tadi. Oleh sebab itu pula tulisan ini lebih bersifat reflektif, terutama mengingat pekerjaan dan aktivitas penulis selaku gembala jemaat.

Pada bagian awal kita akan mencoba untuk membaca kesaksian para penulis Injil tentang berita kebangkitan Kristus itu. Kita juga perlu berusaha untuk melihat gereja pada masa kini secara sepintas. Kemudian barulah kita akan berusaha menyimak makna kebangkitan Kristus itu bagi kehidupan gereja masa kini.

 KESAKSIAN PARA PENULIS INJIL
sembunyikan teks

Berita tentang kebangkitan Yesus ditulis oleh keempat Injil yang kita miliki. Seperti kita ketahui, ketiga Injil yang pertama (Matius, Markus dan Lukas) memiliki banyak persamaan baik di dalam struktur penyusunan maupun kalimat-kalimat. Para ahli menyebut ketiganya sebagai "Injil sinoptik", artinya yang dapat dilihat (dibaca) secara serentak. Sedangkan Injil Yohanes mempunyai corak yang amat berbeda dengan ketiga Injil sinoptik tadi. Oleh karena berita tentang kebangkitan Yesus dimuat di dalam keempat Injil, maka kita perlu membaca dan mendengar kesaksian mereka.

Sudah sejak lama orang tertarik untuk memperhatikan hubungan ketiga Injil sinoptik satu dengan yang lain. Penulis tidak bermaksud untuk mengulas persoalan yang amat luas dan menarik tentang hubungan ketiga Injil sinoptik itu. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa Injil Markus dianggap sebagai yang paling tua (dan oleh karena itu paling ringkas). Para ahli membangun suatu teori yang umumnya diterima di kalangan Protestan maupun Katolik, yang disebut "teori dua sumber". Sekali lagi, bukan maksudnya untuk membuat uraian tentang latar belakang PB. Kita hanya ingin mencatat apa yang perlu sehubungan dengan pokok bahasan kita. Kita akan mulai membaca dan mencatat kesaksian para penulis Injil tentang berita kebangkitan itu.

1. Injil Markus

Injil yang paling tua ini juga memberi catatan paling singkat tentang kebangkitan itu. Kita tahu bahwa beberapa orang wanita melihat penyaliban Yesus dari jauh, di antaranya ialah Maria Magdalena, Maria ibu Yakobus dan Yoses dan Salome (Mrk 15:40). Lalu kita membaca juga tentang penguburan yang dilaksanakan oleh Yusuf Arimatea, sementara Maria Magdalena dan Maria ibu Yoses melihat di mana Yesus dibaringkan (Mrk 15:47). Ini terjadi pada hari persiapan Sabat. Pada hari sesudah Sabat (yaitu hari ketiga sesudah Jumat, menurut perhitungan orang Yahudi), ketiga wanita itu membawa rempah-rempah untuk meminyaki Yesus (setelah dikubur). Mereka pergi ke kubur pada pagi hari. Setelah mereka bertanya-tanya siapa yang akan menggulingkan batu pintu kubur, mereka kaget ketika melihat bahwa batunya telah terguling. Mereka dapat masuk ke dalam kubur tanpa kesulitan. Lalu mereka melihat seorang muda yang berpakaian jubah putih dan mereka amat terkejut. Orang muda itu berkata kepada mereka, sambil menenangkan hati mereka: "Kamu mencari Yesus orang Nazaret, yang disalibkan itu. Ia telah bangkit. Ia tidak ada di sini. Lihat! Inilah tempat mereka membaringkan Dia."

Orang muda itu lalu menyuruh supaya para wanita itu menceritakan kepada murid yang lain dan Petrus bahwa Yesus pergi mendahului mereka ke Galilea, dan bahwa mereka akan melihat Dia di sana, seperti yang telah Ia katakan (Mrk 16:7 bdk. Mrk 14:28). Para wanita itu segera lari dari kubur dengan gentar.

Sebenarnya - menurut para ahli - Markus mengakhiri tulisannya sampai di sini (Mrk 16:8). Apa yang terdapat selanjutnya (Mrk 16:9-20) tidak terdapat di dalam semua manuskrip dan dianggap merupakan tambahan kemudian yang adalah suatu harmonisasi dengan Injil-Injil lain. Tambahan berikutnya menceritakan tentang penampakan Yesus yang bangkit itu kepada Maria Magdalena dan para murid yang lain.

Dari kesaksian Markus tadi, kita dapat mengatakan bahwa kubur yang kosong itu dikaitkan dengan berita tentang kebangkitan. Hal ini bukan hanya berkaitan dengan 8 ayat pertama dari ps. 16, tetapi juga dari kenyataan bahwa sejak penyaliban Yesus, semua fakta terfokus pada kubur Yesus melalui hadirnya dua orang wanita yang telah disebut tadi. Berita tentang kebangkitan itu disampaikan oleh orang muda tadi. Apa yang dikatakannya itu telah terjadi (yaitu bangkitnya Yesus) dan baru kemudian ia menunjuk kepada kubur yang kosong.

Perlu dicatat bahwa berita tentang kebangkitan Yesus sebagaimana disampaikan oleh 'orang muda' tadi mengandung implikasi bahwa para wanita itu harus segera memberitahukan kepada yang lain dan bahwa mereka harus menyusul Dia ke Galilea.

2. Injil Matius

Menurut kesaksian Matius, setelah penyaliban ada tiga wanita yang melihat dari jauh. Nama-nama mereka tidak sama benar seperti disebutkan oleh Markus. Ganti Salome, yang disebut oleh Matius ialah ibu anak-anak Zebedeus (Mat 27:56). Pembaringan tubuh Yesus di kubur disaksikan oleh ; Maria Magdalena dan Maria yang lain, seperti di dalam Markus.

Kesaksian Matius berikutnya (Mat 27:62-66) merupakan perluasan dari kesaksian Markus. Setelah hari persiapan Sabat (dan ini berarti pada hari Sabat), imam-imam kepala dan orang-orang Farisi menghadap Pilatus dan mengingatkan bahwa Yesus telah bernubuat tentang diriNya bahwa Ia akan bangkit setelah tiga hari. Mereka minta supaya Pilatus menjaga kuburNya supaya para murid tidak datang dan mencuri tubuh Yesus, lantas mengatakan bahwa Yesus telah bangkit dari antara orang mati. Pilatus mengabulkan permintaan itu dengan memberikan penjaga untuk menjaga kubur Yesus. Mereka juga memeterai kubur itu dan menjaganya. Semuanya ini terjadi pada hari Sabat. Setelah itu (Mat 28:1-8), Matius juga mengambil pola Markus dengan beberapa perubahan. Dua orang wanita pergi ke kubur (Maria Magdalena dan Maria yang lain). Tujuan mereka bukan untuk meminyaki tubuh Yesus (seperti pada Markus), melainkan hanya ingin menengok kubur itu. Jadi di sini tidak diungkapkan tentang membawa rempah-rempah, sebab mereka memang tidak bermaksud untuk masuk ke dalam lubang kubur. Karena itu mereka juga tidak bertanya tentang siapa yang akan menggulingkan batu kubur. Ketika mereka ada di kubur, terjadi gempa yang hebat. Seorang malaikat Tuhan turun dari langit dan menggulingkan batu itu lalu duduk di atasnya. Para penjaga kubur menjadi gentar dan seperti orang mati. Malaikat itu turun kepada kaum wanita itu dengan kalimat yang sama seperti pada Markus:

"Janganlah kamu takut; sebab aku tahu kamu mencari Yesus yang disalibkan itu. Ia tidak ada di sini, sebab Ia telah bangkit, sama seperti yang telah dikatakanNya. Mari, lihatlah tempat Ia berbaring. Dan segeralah pergi dan katakanlah kepada murid-muridNya bahwa Ia telah bangkit dari antara orang mati. Ia mendahului kamu ke Galilea; di sana kamu akan melihat Dia. Sesungguhnya aku telah mengatakannya kepadamu".

Matius tidak mengatakan bahwa wanita itu masuk ke dalam kubur tetapi kita dapat menduga bahwa mereka melihat ke dalamnya. Ceritanya berlanjut dan mengatakan bahwa wanita itu segera lari dari kubur dengan 'takut dan sukacita' untuk memberitahukan berita itu kepada murid-murid Yesus.

Selanjutnya Yesus yang telah bangkit itu menjumpai mereka (Mat 28:9-10). Ia memberi salam dan mereka mendekati, memeluk kakiNya dan menyembahNya. Yesus mengatakan apa yang telah dikatakan malaikat sebelumnya, yaitu menyampaikan berita itu kepada saudara-saudara Yesus, bahwa mereka harus pergi ke Galilea di mana mereka akan melihat Dia.

Cerita tentang para penjaga kubur diakhiri dengan perginya mereka ke kota dan melapor kepada imam-imam kepala tentang apa yang telah mereka alami. Para imam berunding dengan tua-tua, menyogok para penjaga kubur itu untuk menyebarkan berita bahwa murid-murid Yesus telah mengambil mayatNya sementara mereka tidur.

Kita perlu segera melihat kepada bagian akhir dari Injil Matius (Mat 28:16-20). Kesebelas murid pergi ke Galilea, yaitu ke atas bukit yang ditunjuk oleh Yesus. Di sana mereka melihat Dia dan menyembahNya, sekali pun beberapa orang ragu-ragu. Lantas Yesus memberi tugas pengutusan sambil berkata: "KepadaKu telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa muridKu dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman".

Telah menjadi jelas bahwa semua orang harus menjadi murid dari Yesus yang telah bangkit itu. Kemuridan itu ditandai oleh baptisan dan melakukan apa yang telah Ia ajarkan. Apa yang hendak dikatakan oleh Matius juga cukup jelas yaitu apabila seseorang mau menjadi murid Yesus sekarang, maka ini disebabkan karena Yesus telah bangkit dari kubur, meninggalkan kubur yang kosong, menampakkan diri kepada dua orang wanita dan akhirnya kepada kesebelas murid. Esensi menjadi murid di dalam hal ini ialah komitmen seseorang kepada apa yang telah diperintahkan oleh Yesus selama Ia berada di bumi.

3. Injil Lukas

Sekali lagi para wanita disebut di sini sebagai saksi-saksi penyaliban (Luk 23:49), tetapi nama mereka tidak disebut. Para wanita itu tidak sendirian, tetapi bersama dengan semua orang yang "mengenal Yesus dari dekat". Lukas mencatat bahwa para wanita itu telah mengikuti Yesus dari Galilea. Yusuf Arimatea melaksanakan penguburan Yesus dan sementara itu para wanita itu menyaksikannya. Lukas juga mengungkapkan sekali lagi bahwa mereka telah mengikuti Dia dari Galilea (Luk 23:55). Mereka kembali ke kota dan segera menyiapkan rempah-rempah dan minyak mur (bukan pada hari setelah Sabat seperti dicatat oleh Markus). Tetapi mereka beristirahat pada hari Sabat sesuai dengan hukum Taurat (Luk 23:56).

Pada hari pertama minggu itu, para wanita itu pergi ke kubur membawa rempah-rempah. Mereka mendapati batu sudah terguling dari kubur itu. Mereka masuk ke dalamnya tapi tidak melihat mayat Yesus sehingga termangu-mangu. Sementara itu, dua orang berdiri di dekat mereka dengan mengenakan pakaian yang berkilauan. Mereka sangat ketakutan dan menundukkan kepala, tetapi kedua orang itu berkata: "Mengapa kamu mencari Dia yang hidup di antara orang mati? Ia tidak ada di sini, Ia telah bangkit. Ingatlah apa yang dikatakanNya kepada kamu, ketika Ia masih di Galilea, yaitu bahwa Anak Manusia harus diserahkan ke tangan orang-orang berdosa dan disalibkan, dan akan bangkit pada pari yang ketiga". Para wanita itu segera mengingat kata-kata Yesus, lalu mereka pergi dari kubur itu dan menceritakan semuanya kepada kesebelas murid dan semua saudara yang lain tentang apa yang telah terjadi. Di sini Lukas baru menyebutkan nama para wanita yang menyampaikan kabar kepada para murid, Maria dari Magdala, Yohana dan Maria ibu Yakobus, sekalipun masih ada juga yang lain. Para murid tidak segera menerima dan mempercayai berita itu.

Kita dapat melihat beberapa persamaan tetapi juga perbedaan antara kesaksian Lukas dan kedua penginjil yang lain. Yang menarik ialah bahwa baik Markus maupun Matius mencatat perintah Yesus yang bangkit kepada para murid agar mereka pergi ke Galilea, sementara Lukas hanya mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Yesus yang bangkit itu telah dikatakanNya pada waktu di Galilea. Kita dapat melihat bahwa perubahan ini tampak disengaja oleh Lukas yang melihat bahwa misi Yesus berakhir bukan di Galilea tetapi di Yerusalem dan sekitarnya.

Lukas 24:12 mencatat tentang Petrus yang segera lari ke kubur, menjenguk ke dalamnya. Ia hanya menemukan kain kafan, lalu pergi dan bertanya-tanya tentang apa yang telah terjadi. Petrus tidak segera mempercayai berita tentang kebangkitan itu. Kubur yang kosong itu tidak dengan sendirinya telah membuktikan bahwa Yesus telah bangkit. Tetapi bagaimanakah iman akan kebangkitan itu timbul menurut Lukas?

Lukas melanjutkan dengan kisah yang amat menarik yaitu tentang dua orang murid yang berjalan ke Emaus (24:13-35). Para Kari itu juga (yaitu pada hari pertama dari minggu itu), dua orang murid (salah satunya ialah Kleopas) bertemu dengan Yesus pada perjalanan ke Emaus. Mereka bertemu denganNya tetapi tidak mengenaliNya. Ia berjalan bersama mereka, bercakap-cakap dengan mereka dan mereka mengungkapkan kesedihan hati mereka. Mereka menjadi heran karena orang yang berjalan bersama itu tidak tahu apa yang telah terjadi pada hari-hari belakangan. Lalu mereka bercerita tentang Yesus orang Nazaret yang dianggap sebagai nabi yang berkuasa dalam pekerjaan dan perkataan, sehingga mereka berpengharapan bahwa Dialah yang akan membebaskan Israel, tetapi telah disalibkan. Mereka menjadi heran setelah beberapa wanita pergi ke kubur dan tidak menjumpai mayatNya, tetapi melihat malaikat yang mengatakan bahwa Yesus hidup. Beberapa dari teman mereka telah pergi juga ke kubur dan menemukan bahwa apa yang dikatakan para wanita itu adalah benar, tetapi mereka tidak melihat Yesus.

Teman yang asing itu kemudian menjelaskan kepada mereka tentang Mesias yang harus menderita dan masuk ke dalam kemuliaanNya. Mereka tiba di tempat tujuan dan kedua orang itu memintaNya supaya tinggal bersama mereka karena hari telah hampir malam. Lalu Ia masuk, duduk makan bersama mereka, mengambil roti, mengucap berkat, memecahkan roti dan memberikannya kepada mereka. Pada saat itulah mata kedua orang itu terbuka dan mereka mengenali bahwa orang yang telah bersama mereka dari Yerusalem ke Emaus adalah Yesus sendiri. Tetapi pada saat itu pula Ia lenyap dari tengah mereka. Para murid itu segera kembali ke Yerusalem untuk menyampaikan berita itu kepada para murid yang lain yang sedang berada disana secepat mungkin. Tetapi para murid yang dicari di Yerusalem itu telah lebih dahulu mendengar berita itu dan berkata: "Sesungguhnya Tuhan telah bangkit dan telah menampakkan diri kepada Simon."

Dari catatan-catatan Lukas itu, kita dapat melihat bahwa kubu yang kosong tidak cukup untuk membangkitkan kepercayaan para murid bahwa Yesus telah bangkit. Kedua orang yang berjalan ke Emaus itu menceritakan teman mereka yang asing itu bahwa mereka dan teman-teman mereka terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh, para wanita, bahwa sebagian dari mereka pergi ke kubur, tetapi tidak melihat Yesus. Semuanya itu membuat mereka tetap ragu-ragu sekalipun malaikat Tuhan telah mengatakan tentang kebangkitan Yesus. Pada akhir cerita situasi berubah sama sekali. Mereka benar-benar yakin bahwa Yesus hidup. Keyakinan ini timbul sesudah mereka melihat Yesus.

Lukas melanjutkan Injilnya dengan kisah penampakan Yesus. Sementara para murid bercakap-cakap Yesus tiba-tiba menampakkan diri kepada mereka. Mereka terkejut dan takut karena mengira bahwa mereka melihat hantu. Yesus bertanya mengapa mereka begitu terkejut dan ragu-ragu. Lalu Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya dan menyuruh mereka merabaNya, sambil mengatakan bahwa hantu tidak berdaging atau bertulang. Para murid itu bersukacita tetapi juga masih diliputi keheranan, keraguan. Yesus lalu bertanya apakah mereka punya sesuatu untuk dimakan. Mereka memberinya ikan goreng dan Ia memakannya di depan mata mereka. Para murid itu baru mengerti setelah Yesus menjelaskan tentang apa yang tertulis di dalam kitab-kitab dan setelah Ia membuka pikiran mereka. Pengajaran Yesus itu juga berakhir dengan pengutusan para murid supaya memberitakan tentang pertobatan dan pengampunan dosa kepada segala bangsa, dan bahwa para murid adalah saksi dari semuanya itu.

Kesimpulan kita tidak bisa lain yaitu bahwa berita tentang kebangkitan Yesus itu berkaitan erat dengan tugas pengutusan yang harus diemban oleh para murid. Yesus yang bangkit itu mengutus para murid untuk menjadi saksi tentang apa yang telah mereka alami bersama dengan Dia.

4. Injil Yohanes

Sekarang sudah agak luas diterima bahwa Injil ke-4 ini adalah yang paling akhir dituliskan di antara Injil-Injil yang lain (pada dekade terakhir abad pertama). Dilihat dari kerangka maupun isinya, Injil ini amat lain coraknya daripada ketiga Injil sinoptik yang pertama.

Menurut Injil Yohanes, di dekat salib Yesus berdiri ibu Yesus, saudaranya, Maria yang lain (isteri Klopas) dan Maria Magdalena, dan juga murid yang dikasihi (19:25). Beberapa nama yang disebut di sini berbeda daripada yang disebutkan dalam Injil-Injil yang lain. Begitu juga tempat di mana mereka berdiri. Bahkan menurut Yohanes begitu dekat, sehingga Yesus dapat juga berbicara kepada mereka.

Setelah kematian Yesus, kita membaca bahwa lambungNya ditikam dengan tombak (19:34) dan darah dan air mengalir keluar. Hal ini tidak dikatakan oleh ketiga Injil sinoptik. Juga tidak ada para wanita di kubur seperti disaksikan oleh ketiga Injil yang lain. Yang disebut oleh Yohanes ialah Yusuf dari Arimatea dan Nikodemus (yang pernah disebut dalam 3:1). Tubuh Yesus menurut Yohanes dirempah-rempahi sebelum dikuburkan.

Kisah tentang kebangkitan Yesus dimuat dalam ps. 20 dan terjadi pada hari pertama, kecuali kisah tentang Tomas. Maria Magdalena datang ke kubur sendirian (20:1). Maria Magdalena menemukan batu telah terguling dari tempatnya. Maria segera lari dari kubur, mencari Simon Petrus dan murid yang dikasihi Yesus. Ia berkata: "Tuhan telah diambil orang dari kuburNya dan kami tidak tahu di mana Ia diletakkan". Para murid segera bergegas ke kubur untuk melihat apa yang dikatakan Maria (20:3-10). Lalu Maria berdiri dekat kubur itu dan menangis (20:11). Pada waktu itulah Maria menjenguk ke dalam kubur dan melihat dua orang malaikat berpakaian putih dan berbicara kepadanya. Malaikat itu bertanya: "Ibu, mengapa engkau menangis?". Pertanyaan itu dijawab olehnya bahwa Yesus (Tuhannya) telah diambil orang dan ia tidak tahu di mana diletakkanNya (mayatNya). Pada waktu itulah ia bertemu dengan Yesus yang telah bangkit, tetapi belum dikenalinya. Baru setelah Yesus menyebut namanya: Maria, ia tersentak dan mengenali bahwa Dia adalah Yesus. Yesus yang telah dikenali oleh Maria itu berkata: "Janganlah engkau memegang Aku, sebab Aku belum pergi kepada Bapa, tetapi pergilah kepada saudara-saudaraKu dan katakanlah kepada mereka bahwa sekarang Aku akan pergi kepada BapaKu dan Bapamu, kepada AllahKu dan Allahmu."

Kalimat Yesus itu menimbulkan kebingungan bagi kita, sebab bagaimanakah mungkin Maria memegang Yesus kalau Ia telah pergi kepada BapaNya. Kesulitan untuk mengerti kalimat itu berkurang apabila kita membacanya sebagai berikut: "Janganlah engkau memegang Aku, walaupun Aku belum pergi kepada BapaKu. Maksudnya ialah, engkau dapat memegang Aku, tetapi sekarang Aku mau supaya engkau melakukan hal yang lain, yaitu pergi kepada saudara-saudaraKu dan katakan kepada mereka tentang apa yang engkau lihat. Kisah tentang Maria itu dilanjutkan oleh Yohanes dengan penampakan Yesus kepada para murid pada malam hari pertama itu (20:19-23). Para murid Yesus berkumpul di suatu tempat yang terkunci.

Tiba-tiba Yesus berada di tengah mereka (walaupun pintu-pintu terkunci). Ia menyalami mereka dan memperlihatkan tangan dan lambungNya (bukan seperti dalam Lukas 24:39, tangan dan kakiNya). Para murid itu bersukacita (di dalam Lukas 24:37, mereka takut dan menyangka bahwa Yesus hantu). Setelah ucapan salam kedua kali, tugas pengutusan diberikan kepada para murid: "Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu." Lalu Yesus mengembusi mereka dan memberi Roh Kudus. Kita dapat menarik kesimpulan bahwa berita tentang kebangkitan Yesus selalu dikaitkan dengan tugas pengutusan para murid untuk menyampaikan "berita Yesus" kepada yang lain. Berita tentang kebangkitan itu telah mengubah sikap para murid yang ragu-ragu, murung, putus asa menjadi penuh kepastian, gembira dan berpengharapan.

 HISTORISITAS KEBANGKITAN YESUS
sembunyikan teks

Mengapa kita perlu berbicara tentang historisitas kebangkitan Yesus? Kita perlu meninjaunya sejenak oleh karena iman Kristen telah mendapat banyak sekali serangan dari berbagai pihak, khususnya di sekitar kebangkitan Yesus. Maksud bagian ini ialah untuk melihat kelemahan argumentasi pihak-pihak yang meragukan berita Alkitab, khususnya tentang kebangkitan Yesus.

Historisitas kebangkitan itu telah menjadi perdebatan yang cukup tajam di kalangan para pakar teologia, khususnya di dalam abad yang lalu. Beberapa teolog liberal secara apriori telah menyangkal kemungkinan kebangkitan secara fisik dan oleh karena itu menafsirkan kisah dan iman kebangkitan sebagai pemalsuan belaka. Di antara teori-teori yang menyangkal itu ada yang mengatakan bahwa jenazah Yesus dicuri oleh para murid, atau orang Yahudi, atau Yusuf dari Arimatea, atau hilang di dalam lubang yang terjadi akibat gempa bumi. (Pandangan itu telah ada bahkan di dalam Injil Matius sendiri, yang dengan sengaja dikutip oleh Matius untuk menunjukkan kelemahan argumentasi orang Yahudi yang menolak kebangkitan Yesus, yaitu sebagai upaya menyebarkan kabar bohong.) Pandangan yang juga populer di kalangan Islam mengatakan bahwa sebenarnya Yesus tidak mati, karena ada orang lain yang wajahnya diserupakan dengan Dia (Quran, An Nisa 157,158).

Penulis tidak bermaksud untuk memasuki perdebatan teologis abad lalu yang kurang relevan buat kita. Namun demikian, harus diakui bahwa ada persoalan yang serius sekitar berita tentang kebangkitan itu. Pertama, siapakah orang yang melihat sendiri bahwa Yesus bangkit dan keluar dari lubang kubur? Kedua, apakah kebangkitan yang terjadi pada hari ketiga itu mungkin? Apakah tidak terjadi proses pembusukan pada tubuh Yesus?

Berdasarkan kesaksian Alkitab, berita tentang kebangkitan Yesus dikukuhkan oleh dua peristiwa, yaitu kubur yang kosong dan penampakan Yesus kepada para murid. Tetapi kenyataan bahwa kubur Yesus telah kosong tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa telah terjadi kebangkitan Yesus. Paling sedikit, kebangkitan tidak pernah disimpulkan langsung dari kubur yang kosong. Kalau kubur yang kosong tidak dapat dijadikan bukti, maka kisah penampakan Yesus kepada para murid harus lebih kita perhatikan. Di dalam hal ini, juga tidak luput kritik dan kecaman. Ada orang yang menganggap bahwa penampakan hanyalah ilusi atau halusinasi para murid yang begitu mengharapkan Yesus ada di tengah mereka. Penampakan itu adalah pikiran subyektif para murid yang tidak dapat menerima kenyataan bahwa Yesus telah disalibkan dan mati. Angan-angan itu terungkap di dalam bentuk "penampakan Yesus". Demikian antara lain pendapat David F. Strauss (lih. Jacobs & Sumadia, Injil Gereja Purba tentang Yesus Kristus Tuhan Kita, 254). Namun pendapat ini hanya mencoba menjelaskan secara alamiah tentang fakta yang dikisahkan Alkitab, tetapi tidak menjelaskannya secara teologis. Teori ini pun harus kita tolak oleh karena para murid yang telah kehilangan Guru mereka itu sama sekali tidak punya pengharapan. Mereka hidup di dalam keputusasaan.

Yang menarik kita simak yaitu yang dikatakan oleh Pannenberg. Bagi Pannenberg, yang menjadi "sejarah kebangkitan" bukanlah hanya apa yang dilihat oleh para rasul, tetapi juga pengalaman dan penghayatan mereka. Bahkan pengalaman para muridlah yang menjadi obyek penelitian historis. Kalau diselidiki secara historis bahwa penampakan Yesus adalah "halusinasi" para murid, itu sangat tidak masuk akal, mengingat keadaan psikis mereka yang semua kecewa dan putus asa. Tanpa penampakan Yesus, iman akan kebangkitan tidak mempunyai dasar historis yang memuaskan. Dan tanpa kubur yang kosong, iman akan kebangkitan pasti tidak bertahan lama. Seluruh pengalaman para rasul itu harus disebut historis, sekalipun di dalamnya tercampur unsur-unsur rahmat ilahi yang memang tidak dapat ditangkap oleh pancaindera manusia (Jacobs & Sumadia, Injil 256).

Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa yang dialami oleh para murid, yaitu mereka yang percaya kepadaNya. Pada satu pihak Ia mengambil rupa yang sama seperti sebelum mati. Ia makan ikan goreng. Ia memperlihatkan tangan dan kakiNya (Lukas), serta tangan dan lambungNya (Yohanes) kepada para murid. Tetapi pada pihak lain, Ia juga mempunyai "tubuh" yang lain. Ia berada secara tiba-tiba di dalam ruangan yang terkunci, Ia menghilang dari pandangan dua orang murid di Emaus. Para murid baru dapat mengenali Dia setelah Yesus yang bangkit itu "membuka mata" mereka. Kita dapat mengatakan bahwa kebangkitan Yesus bukanlah peristiwa biasa. Itu merupakan campur tangan Allah yang luar biasa. Allah yang telah membuat Yesus hidup dan dialami oleh para muridNya. Yesus yang bangkit adalah Yesus yang telah masuk ke dalam kemuliaan yang dialami oleh para murid.

Dengan demikian yang dimaksud dengan historisitas kebangkitan Yesus bukanlah hanya suatu upaya pembuktian kubur yang telah kosong atau bagaimanakah Yesus yang telah mati dan dikuburkan dua hari kemudian bangkit pada hari ketiga. Kebangkitan Yesus merupakan peristiwa historis yang telah menyebabkan terjadinya suatu perubahan di dalam diri para murid. Mereka yang tadinya murung telah berubah menjadi gembira. Para murid yang takut telah menjadi berani. Orang-orang yang percaya kepada Yesus itu mengalami dan merasakan bahwa Yesus yang telah disalibkan, mati dan dikuburkan itu tidak mati. Ia telah hidup dan memberi mandat misioner kepada mereka.

 KEBANGKITAN YESUS MEMBERI MANDAT MISIONER
sembunyikan teks

Apakah yang akan terjadi seandainya Yesus tidak bangkit? Di dalam surat Korintus, Rasul Paulus berkata: "Tetapi andaikata Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah pemberitaan kami dan sia-sialah juga kepercayaan kamu" (1Kor 15:14). Kita tidak sempat membahas surat-surat Paulus yang berbicara soal kebangkitan. Tetapi dapat dikatakan dengan pasti bahwa bagi Paulus, Yesus yang telah mati itu sungguh bangkit dan hidup. Bahkan Ia pun telah menampakkan diri kepada Paulus (15:8). Para penulis Injil memang mengakhiri tulisan mereka sampai dengan kebangkitan Yesus dan pengutusan para murid. Tetapi di dalam pikiran mereka (penulis Injil), Yesus yang bangkit itu tetap hidup dan berkarya melalui para muridNya. Matius mengatakan bahwa Yesus yang bangkit itu memberi tugas untuk menjadikan semua bangsa muridNya, membaptis dan mengajar mereka. Lukas melanjutkan Injilnya dengan kisah para rasul yang mengisahkan penyebaran Injil Yesus Kristus sampai ke ujung bumi (Roma). Kebangkitan Yesus telah mengubah suasana hati dan kehidupan para murid sehingga mereka terdorong untuk memberitakan Injil Yesus Kristus dan melakukan apa yang telah Ia katakan.

Secara klasik, mandat misioner yang paling vokal dilihat pada ucapan Yesus kepada para murid di dalam akhir Injil Matius. Oleh karena itu, sangat dapat dimengerti kalau orang-orang Kristen - khususnya pada abad ke-19 - telah begitu bergairah untuk memberitakan Injil sampai ke ujung bumi. Kita patut bersyukur dan berterima kasih kepada mereka yang terpanggil untuk memenuhi tugas pengutusan itu, sehingga orang-orang di bagian bumi (Indonesia) ini dapat mengenal Yesus Kristus, dibaptiskan dan diajarkan untuk melakukan apa yang telah Ia perintahkan. Sebagai pengikut Yesus Kristus, kita pun terpanggil untuk ikut serta di dalam mengemban tugas missioner yang telah Ia berikan itu.

Tetapi persoalan yang kita hadapi ialah: bagaimanakah kita harus melaksanakannya? Bukankah zaman dan situasi kita sekarang tidak persis sama seperti situasi pada zaman para rasul dahulu? Jadi persoalan kita sekarang ialah: bagaimanakah kita mengerti dan memahami tugas misioner itu di tengah situasi kita sekarang. Mandat yang telah diberikan oleh Tuhan kita itu tidak pernah berubah. Tetapi tugas itu harus diwujudkan di dalam situasi yang konkret, dalam hal ini situasi Indonesia yang majemuk.

Salah satu hasil dari konsultasi tentang "Mission and Unity" yang diselenggarakan oleh World Alliance of Reformed Churches di Geneva tahun 1988 mengatakan:

Challenges and opportunities to fulfil our missionary calling abound today. God's call is one and the same for the whole Church but the challenges and opportunities to obey that call vary from place to place and the Gospel must beproclaimed in ways appropriate to each different context. To be faithfull to God's calling we need to share both ourhopes and ourperplexities. We need to encourage and challenge one another. We need to rediscoverourunity as a world-wide fellowship.

(World Alliance of Reformed Churches, Mission and Unity 8).

Di dalam percakapan tentang misi masih terdapat perdebatan yang panjang, yaitu apakah "penginjilan" itu sama dengan "misi"; ataukah merupakan "bagian" dari misi. Bukanlah maksud penulis untuk memasuki perdebatan yang berkepanjangan itu. Tetapi bukankah letak persoalan kita ialah di dalam mengerti apakah sebenarnya "Injil" itu? Apabila kita mengerti "Injil" hanya secara verbal, maka kita memang mempersempit serentak mempertajam maksudnya, yaitu menjadikan "semua bangsa muridKu". Di dalam pengertian ini, penginjilan tidak bisa lain kecuali menyebarkan kabar tentang Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia dan mengajak orang lain yang belum mengenalNya untuk menerima dan percaya kepadaNya.

Namun apabila kita memahami Injil itu sebagai berita sukacita dari Allah yang membebaskan umat manusia dari dosa, yang disampaikan kepada orang-orang miskin, yang memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, yang membebaskan orang-orang tertindas, dan bahwa tahun rahmat Tuhan telah datang (Luk 4:18-19), maka ternyata dimensi "Injil" itu begitu luas dan kompleks. Tampaknya kita harus melihat pengertian Injil di dalam keutuhan dan kelengkapannya. Bukankah Yesus juga tidak hanya berkhotbah dan mengajar, tetapi juga melakukan "pekerjaan Dia yang mengutus Aku" (Yoh 9:4)? Oleh karena itu penekanan dan pembedaan pemahaman tentang Injil dapat dilakukan, tetapi pemisahan antara yang vertikal dan horisontal, yang jasmani dan rohani, yang pribadi dan sosial, bukan saja mempersempit pengertian tentang Injil, melainkan juga menjadikannya tidak utuh, bahkan mengoyak-oyak.

Di dalam pemahaman tentang Injil yang utuh inilah, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia pada Sidang Raya X/1984 di Ambon telah menghasilkan Lima Dokumen Keesaan Gereja (LDKG). LDKG adalah dokumen keesaan yang diharapkan dapat menjadi landasan kerjasama di dalam persekutuan, kesaksian dan pelayanan bagi gereja-gereja di Indonesia.

Di dalam salah satu dokumen itu yang disebut: Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama (PTPB) kita membaca tentang Pemahaman Tugas Panggilan Gereja:

33. ...Gereja-gereja di Indonesia adalah gereja-gereja dalam perjalanan yang ikut serta dalam tugas panggilan gereja di semua tempat dan di segala zaman untuk memberitakan Injil kepada segala makhluk sampai ke sampai ke ujung bumi dan sampai ke akhir zaman.

34. Dengan demikian, gereja-gereja di Indonesia menegaskan bahwa Injil adalah Berita Kesukaan yang utuh dan menyeluruh, untuk segenap makhluk, manusia dan alam lingkungan hidupnya serta keutuhannya; bahwa Injil yang seutuhnya diberitakan kepada manusia yang seutuhnya, sebab Injil itu menyangkut keseluruhan kehidupan manusia, tidak hanya kehidupan nanti di sorga, tetapi juga kehidupan sekarang di dunia ini, bukan mengenai hanya jiwa atau roh manusia, tetapi juga mengenai keseluruhan keberadaannya, baik sebagai makhluk rohani maupun sebagai makhluk politik, makhluk sosial, makhluk ekonomi, makhluk ilmu dan teknologi, makhluk kebudayaan, makhluk keamanan dan sebagainya.

35. Dalam kegiatan Pekabaran Injil, gereja-gereja di Indonesia berpandangan bahwa Injil seutuhnya adalah untuk seluruh dunia. Sejalan dengan itu, gereja juga memahami bahwa kegiatan Pekabaran Injil dilaksanakan oleh Gereja melalui seluruh aspek kehidupannya yang dijiwai oleh kuasa Roh Kudus.

36. Oleh karena Injil yang membebaskan dan memperbaharui serta mempersatukan itu tidak terlepas dari kenyataan penyaliban Kristus, tindakan pengosongan diri, penjelmaanNya dan ketaatanNya (Fil 2:7-8), maka aspek-aspek ini harus mendasari tindakan Pekabaran Injil yang dilaksanakan oleh gereja-gereja. Itu berarti bahwa dalam pelaksanaan Pekabaran Injil, gereja-gereja harus memperhitungkan keadaan lingkungan (ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, agama) dengan melaksanakan pendekatan-pendekatan yang lemah lembut dan hormat, dengan hati nurani yang murni (1Pet 3:15-16), serta mengembangkan dialog yang konstruktif dengan semua pihak.

(Pokok-pokok Tugas Panggilan Bersama dalam LDKG)

 PENUTUP
sembunyikan teks

Pembahasan kita sejak awal ialah mencari relevansi berita tentang kebangkitan Yesus Kristus dengan kehidupan gereja pada masa kini. Penulis berupaya untuk menelusuri berita tentang kebangkitan Yesus serta makna yang terdapat di dalamnya. Ternyata sejak semula, berita tentang kebangkitan Yesus itu selalu dikaitkan dengan tugas pengutusan para murid untuk melakukan suatu perintah. Perintah itulah yang diterima dan dilaksanakan oleh para pengikut Yesus dan disebut sebagai mandat misioner.

Mandat misioner yang telah diberikan oleh Yesus yang bangkit itu tetap sama dan tidak pernah berubah dari dahulu sampai sekarang, bahkan untuk selamanya. Tetapi mandat misioner itu harus dilaksanakan di dalam situasi dan kondisi tertentu. Oleh karena, ketaatan gereja untuk mewujudnyatakan mandat misioner itu juga mencakup kewajibannya untuk memahami situasi dan kondisi ke mana gereja diutus secara tepat dan benar.

Di dalam mewujudnyatakan mandat misioner itu, kita harus memahami "Injil Yesus Kristus secara utuh dan menyeluruh. Penekanan atau pembedaan dapat saja dilakukan, tetapi pemisahan antara yang jasmani dan rohani, yang vertikal dan horisontal, yang evangelikal dan ekumenikal, yang pribadi dan sosial, bukan saja mempersempit pemahaman kita tentang Injil itu sendiri, tetapi juga mengoyakkannya. Injil itu harus kita mengerti secara utuh yaitu berita kesukaan yang membebaskan manusia secara penuh dan memulihkan harkatnya sebagai gambar Allah.

 KEPUSTAKAAN
sembunyikan teks

Jacobs, T., Sumadia, R., Injil Gereja Purba tentang Yesus Kristus Tuhan Kita. Kanisius, 1975.

Marxsen, W., The Resurrection of Jesus of Nazareth. SCM Press, 1970.

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Lima Dokumen Keesaan Gereja. 1989.

World Alliance of Reformed Churches, Mission and Unity. Geneva, 1989.



TIP #24: Gunakan Studi Kamus untuk mempelajari dan menyelidiki segala aspek dari 20,000+ istilah/kata. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA