Daftar Isi
BROWNING: TEOLOGI TEOLOGI

TEOLOGI

TEOLOGI [browning]

Alkitab Teologi sistematika, yang berasal atau didasarkan pada Alkitab. Banyak teologi seperti ini telah diterbitkan, terutama oleh para sarjana Protestan, sejak perumusan awal tugas ini pada 1787, oleh seorang Jerman, Johann Gabler. Ia berpendapat bahwa menjelaskan secara rinci teologi atau teologi-teologi yang terdapat dalam Alkitab, kemudian menghubungkan teologi tersebut dengan doktrin-doktrin modem tentang Allah, *inkarnasi, *Roh Kudus, *penebusan, Gereja, *sakramen, dan *kebangkitan daging, merupakan hal yang perlu. Bagian kedua tugas ini dilakukan selama abad ke-19 oleh para teolog, yang menggunakan terminologi alkitabiah dengan makna modern selaras dengan filsafat dan budaya mutakhir. Pemeriksaan historis Alkitab secara teliti menuntun pada pandangan bahwa Allah telah menyatakan diriNya secara bertahap dari abad ke abad, sesuai dengan pemahaman manusia. Kekejaman-kekejaman dalam PL dianggap primitif, dan kemudian, diperkirakan bahwa standar etis yang lebih tinggi makin diakui. Kategori-kategori alkitabiah, seperti 'dosa' dan 'penebusan' didefinisikan ulang oleh para teoritikus ini. Konsep tentang *mukjizat ditolak. Pengajaran Yesus mengenai kedatangan Kerajaan Allah diuraikan secara rinci dalam bahasa yang cocok dengan demokrasi liberal masyarakat Barat yang optimistik. Setelah optimisme dihancurkan oleh Perang Dunia I, 1914-1918, kategori-kategori alkitabiah mengenai kebejatan moral menjadi lebih dapat dipercaya dan teologi Calvinis dalam penafsiran Karl *Barth atas surat Paulus kepada jemaat Roma (1919, terjemahan Inggris 1933) menyuarakan gerakan baru 'teologi Alkitab' dalam pengertian khusus. Gerakan baru ini dominan di Amerika dan Inggris sejak sekitar 1935 hingga 1965. Sesuai dengan pesimisme mengenai hakikat manusia, gerakan ini menentang gagasan tentang 'pewahyuan progresif', dan slogannya adalah 'Allah yang bertindak'. *Eskhatologi PB dinyatakan sebagai penafsiran yang relevan mengenai sejarah manusia. Gerakan ini tidak menolak metode-metode *kritik historis Alkitab. Keterbukaannya merupakan salah satu faktor yang membuatnya dapat diterima di universitas-universitas dan kekuatan profetisnya dipopulerkan di atas mimbar-mimbar. Tema-tema alkitabiah mengenai penebusan, kebangkitan, dan kebebasan dianggap memiliki validitas pada dirinya sendiri, yang memiliki arti bagi kehidupan dan pengalaman manusia. Konsep-konsep PB seperti *Kerajaan Allah, *keselamatan, *korban, dan *anugerah, dipahami berdasarkan latar belakang PL. Dalam pengertian seperti ini, manfaat PL tampaknya menjangkau langsung pada kepenuhan yang dicapai dalam PB. Dengan demikian, teologi Alkitab lebih merupakan teologi keesaan ketimbang keanekaragaman, dan dengan demikian dapat ditampilkan sebagai masalah intelektual, yang masuk akal dan menarik. Ia juga memiliki konsekuensi-konsekuensi etis. Pernyataan-pernyataan PB mengenai keluarga dan kehidupan sosial, seperti keutamaan suami atas istri (Ef. 5:22) atau wewenang negara (1Ptr. 2:13) disebut sebagai norma ketaatan Kristen: hierarkhi seperti itu dianggap definitif. Dengan demikian, teologi Alkitab cenderung memahami kategori-kategori, seperti 'waktu' lebih secara Ibrani ketimbang secara Yunani. *Kehidupan kekal dalam PB dipahami sesuai dengan terminologi kebangkitan, bukan *immortalitas -- dan hal ini dapat disajikan sebagai hal yang menarik bagi orang-orang Kristen modern. Karena, 'kebangkitan tubuh' menyiratkan bahwa kekayaan dan keragaman kehidupan manusia serta kehidupan sosial akan digenapi dalam kekekalan. Hal ini merupakan penegasan yang meyakinkan mengenai makna keberadaan secara historis. Sebagai gerakan ilmu pengetahuan, teologi Alkitab, sebagaimana diuraikan secara rinci pada masa jayanya, menghadapi banyak keberatan. Tekanannya pada *wahyu (*penyataan) dan sejarah, *keluaran dan *perjanjian, tidak membicarakan isu-isu yang sedang hangat dewasa ini, seperti rasisme, nilai agama-agama lain dan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Teologi-teologi *feminis telah menyingkapkan praanggapan patriarkhat dalam banyak literatur alkitabiah; dan bagi banyak pembaca modern sulit merasa nyaman ketika perempuan dianggap lebih rendah dan kadang-kadang dengan menunjukkan kebencian. Alkitab tidak dapat dipaksa ke arah kesatuan teologis sekitar satu atau dua tema yang dipilih; sebaliknya perbedaan tajam bahan-bahannya, bahkan dalam PB sendiri, sangat mencolok. Penekanan pada latar belakang Ibrani (dan kebenaran permanen) dari konsep-konsep PB tidak layak dilakukan terhadap kenyataan perembesan pemikiran dan kebudayaan Yunani pada abad pertama yang sudah terbukti, bahkan di Palestina dari abad pertama sendiri.Di atas semuanya, *kritik historis telah menjadikan kategori-kategori yang bergantung pada sejarah, yang ternyata non-sejarah tidak dapat dipakai. Namun, gerakan teologi Alkitab telah mempengaruhi kerja sama oikumenis dan juga ibadah Gereja-gereja. 'Garis Besar Kebaktian Alkitabiah' untuk para mahasiswa diterbitkan, dan sejak 1970 banyak perkembangan liturgis resmi menunjukkan pengaruh teologi Alkitab. Hal ini diterima melalui *bacaan-bacaan Alkitab dalam khotbah bahwa peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus didahului oleh peristiwa-peristiwa lain yang sama dalam PL, dan bahwa kesejajaran itu bagaimanapun merupakan rencana atau pola ilahi yang dapat dirayakan dalam ibadah. Karena itu, liturgi-liturgi modern berisi banyak kutipan dan gema kata-kata alkitabiah, kadang-kadang disusun dengan cara yang seakan-akan tanpa kesadaran akan pengetahuan PB modern, namun dengan menghendaki revisi-revisi kemudian mungkin akan bertambah baik.

TEOLOGI [browning]

Alkitab Teologi sistematika, yang berasal atau didasarkan pada Alkitab. Banyak teologi seperti ini telah diterbitkan, terutama oleh para sarjana Protestan, sejak perumusan awal tugas ini pada 1787, oleh seorang Jerman, Johann Gabler. Ia berpendapat bahwa menjelaskan secara rinci teologi atau teologi-teologi yang terdapat dalam Alkitab, kemudian menghubungkan teologi tersebut dengan doktrin-doktrin modem tentang Allah, *inkarnasi, *Roh Kudus, *penebusan, Gereja, *sakramen, dan *kebangkitan daging, merupakan hal yang perlu. Bagian kedua tugas ini dilakukan selama abad ke-19 oleh para teolog, yang menggunakan terminologi alkitabiah dengan makna modern selaras dengan filsafat dan budaya mutakhir. Pemeriksaan historis Alkitab secara teliti menuntun pada pandangan bahwa Allah telah menyatakan diriNya secara bertahap dari abad ke abad, sesuai dengan pemahaman manusia. Kekejaman-kekejaman dalam PL dianggap primitif, dan kemudian, diperkirakan bahwa standar etis yang lebih tinggi makin diakui. Kategori-kategori alkitabiah, seperti 'dosa' dan 'penebusan' didefinisikan ulang oleh para teoritikus ini. Konsep tentang *mukjizat ditolak. Pengajaran Yesus mengenai kedatangan Kerajaan Allah diuraikan secara rinci dalam bahasa yang cocok dengan demokrasi liberal masyarakat Barat yang optimistik. Setelah optimisme dihancurkan oleh Perang Dunia I, 1914-1918, kategori-kategori alkitabiah mengenai kebejatan moral menjadi lebih dapat dipercaya dan teologi Calvinis dalam penafsiran Karl *Barth atas surat Paulus kepada jemaat Roma (1919, terjemahan Inggris 1933) menyuarakan gerakan baru 'teologi Alkitab' dalam pengertian khusus. Gerakan baru ini dominan di Amerika dan Inggris sejak sekitar 1935 hingga 1965. Sesuai dengan pesimisme mengenai hakikat manusia, gerakan ini menentang gagasan tentang 'pewahyuan progresif', dan slogannya adalah 'Allah yang bertindak'. *Eskhatologi PB dinyatakan sebagai penafsiran yang relevan mengenai sejarah manusia. Gerakan ini tidak menolak metode-metode *kritik historis Alkitab. Keterbukaannya merupakan salah satu faktor yang membuatnya dapat diterima di universitas-universitas dan kekuatan profetisnya dipopulerkan di atas mimbar-mimbar. Tema-tema alkitabiah mengenai penebusan, kebangkitan, dan kebebasan dianggap memiliki validitas pada dirinya sendiri, yang memiliki arti bagi kehidupan dan pengalaman manusia. Konsep-konsep PB seperti *Kerajaan Allah, *keselamatan, *korban, dan *anugerah, dipahami berdasarkan latar belakang PL. Dalam pengertian seperti ini, manfaat PL tampaknya menjangkau langsung pada kepenuhan yang dicapai dalam PB. Dengan demikian, teologi Alkitab lebih merupakan teologi keesaan ketimbang keanekaragaman, dan dengan demikian dapat ditampilkan sebagai masalah intelektual, yang masuk akal dan menarik. Ia juga memiliki konsekuensi-konsekuensi etis. Pernyataan-pernyataan PB mengenai keluarga dan kehidupan sosial, seperti keutamaan suami atas istri (Ef. 5:22) atau wewenang negara (1Ptr. 2:13) disebut sebagai norma ketaatan Kristen: hierarkhi seperti itu dianggap definitif. Dengan demikian, teologi Alkitab cenderung memahami kategori-kategori, seperti 'waktu' lebih secara Ibrani ketimbang secara Yunani. *Kehidupan kekal dalam PB dipahami sesuai dengan terminologi kebangkitan, bukan *immortalitas -- dan hal ini dapat disajikan sebagai hal yang menarik bagi orang-orang Kristen modern. Karena, 'kebangkitan tubuh' menyiratkan bahwa kekayaan dan keragaman kehidupan manusia serta kehidupan sosial akan digenapi dalam kekekalan. Hal ini merupakan penegasan yang meyakinkan mengenai makna keberadaan secara historis. Sebagai gerakan ilmu pengetahuan, teologi Alkitab, sebagaimana diuraikan secara rinci pada masa jayanya, menghadapi banyak keberatan. Tekanannya pada *wahyu (*penyataan) dan sejarah, *keluaran dan *perjanjian, tidak membicarakan isu-isu yang sedang hangat dewasa ini, seperti rasisme, nilai agama-agama lain dan eksploitasi terhadap sumber daya alam. Teologi-teologi *feminis telah menyingkapkan praanggapan patriarkhat dalam banyak literatur alkitabiah; dan bagi banyak pembaca modern sulit merasa nyaman ketika perempuan dianggap lebih rendah dan kadang-kadang dengan menunjukkan kebencian. Alkitab tidak dapat dipaksa ke arah kesatuan teologis sekitar satu atau dua tema yang dipilih; sebaliknya perbedaan tajam bahan-bahannya, bahkan dalam PB sendiri, sangat mencolok. Penekanan pada latar belakang Ibrani (dan kebenaran permanen) dari konsep-konsep PB tidak layak dilakukan terhadap kenyataan perembesan pemikiran dan kebudayaan Yunani pada abad pertama yang sudah terbukti, bahkan di Palestina dari abad pertama sendiri.Di atas semuanya, *kritik historis telah menjadikan kategori-kategori yang bergantung pada sejarah, yang ternyata non-sejarah tidak dapat dipakai. Namun, gerakan teologi Alkitab telah mempengaruhi kerja sama oikumenis dan juga ibadah Gereja-gereja. 'Garis Besar Kebaktian Alkitabiah' untuk para mahasiswa diterbitkan, dan sejak 1970 banyak perkembangan liturgis resmi menunjukkan pengaruh teologi Alkitab. Hal ini diterima melalui *bacaan-bacaan Alkitab dalam khotbah bahwa peristiwa-peristiwa dalam kehidupan Yesus didahului oleh peristiwa-peristiwa lain yang sama dalam PL, dan bahwa kesejajaran itu bagaimanapun merupakan rencana atau pola ilahi yang dapat dirayakan dalam ibadah. Karena itu, liturgi-liturgi modern berisi banyak kutipan dan gema kata-kata alkitabiah, kadang-kadang disusun dengan cara yang seakan-akan tanpa kesadaran akan pengetahuan PB modern, namun dengan menghendaki revisi-revisi kemudian mungkin akan bertambah baik.



TIP #08: Klik ikon untuk memisahkan teks alkitab dan catatan secara horisontal atau vertikal. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA