| (0.9968666) | (Bil 16:24) |
(ende: Datan dan Abiram) merupakan tambahan penjadur jang mempersatukan dua tjerita. |
| (0.7974933) | (Bil 16:24) | (jerusalem: Datan dan Abiram) Kedua nama ini tidak ada dalam terjemahan Yunani. |
| (0.4984333) | (Bil 17:12) |
(ende) Bagian ini kiranja meneruskan kisah tentang Korah (dan Datan serta Abiram) (#TB Bil 16:35). Maksud kisah ini sama sadja: meneguhkan kedudukan imamat sebagai satu- satunja pengantara. Berkat imamat itu rakjat tidak perlu takut. |
| (0.42293465) | (Bil 15:1) |
(ende) Bagian ini memuat sederetan peraturan (Bil 15:1-41) jang melengkapi Lv 1-3 (Ima 1:1-3:17) dan tidak bersangkutan dengan apa jang sudah dikisahkan atau dengan jang menjusul. Lalu ditjeritakan dengan pandjang lebar pemberontakan Datan dan Abiram serta Korah (Bil 16:1-18:7). Kisah jang terachir ini terpenting, oleh karena meneguhkan kewibawaan keimanan (Harun) dan politik Musa dalam umat jang terantjam oleh Korah serta Datan dan Abiram. Menjusullah peraturan mengenai hak para imam dan kaum Levita (Bil 18:8- 19:10) dan lagi ditambahkan beberapa aturan dan upatjara lain lagi (Bil 19:11-21). |
| (0.39874664) | (Bil 15:1) | (jerusalem: TUHAN berfirman) Mulailah kembali tradisi Para Imam. Bagian inti bagian ini, Bil 15:1-19:22, ialah ceritera mengenai pemberontakan Korah, Datan dan Abiram. Ceritera itu menekankan bahwa kewibawaan dalam jemaat berasal dari Allah, dan iapun membela keutamaan Harun. Pada bagian inti itu ditambahkan berbagai hukum dan kejadian. |
| (0.39874664) | (Bil 16:32) | (jerusalem: dengan seisi rumahnya) Ceritera mengenai pemberontakan Datan dan Abiram (yang lebih tua dari pada ceritera tentang pemberontakan Korah, bdk Bil 16:1+) belum tahu tentang tanggung jawab pribadi. Bagian terakhir, Bil 16:32 (dan dengan ...) ditambahkan waktu kedua ceritera tsb dipersatukan. |
| (0.3489033) | (Bil 16:1) | (jerusalem) Kebanyakan ahli berpendapat bahwa dalam kisah ini terjalin dua ceritera yang sejalan. Ceritera yang satu (yang berasal dari tradisi Yahwista atau tradisi Elohista), Bil 16:1-2,12-15,25-34, mengenai pemberontakan politik dari pihak Datan dan Abiram, orang suku Ruben. Ceritera yang lain (yang berasal dari tradisi Para Imam), Bil 16:1,2-11,16-24,27,35, mengenai orang Kehat yang menginginkan kedudukan keturunan Harun sebagai imam. |
| (0.24921665) | (Bil 16:3) |
(full: MENGERUMUNI MUSA
) Nas : Bil 16:3 (versi Inggris NIV -- menentang Musa). Kisah Korah, Datan, dan Abiram adalah mengenai tiga orang Lewi ambisius yang mendesak untuk memperoleh lebih banyak kuasa dan kedudukan yang lebih tinggi bagi diri mereka selaku imam (ayat Bil 16:10). Mereka menantang kekuasaan Musa dan perintah bahwa Harun sajalah harus menjadi imam besar (ayat Bil 16:3-11). Dengan tindakan ini mereka menolak Allah dan penyataan firman-Nya mengenai siapa yang akan memimpin umat Allah (lihat cat. --> Bil 12:10); [atau ref. Bil 12:10] oleh karena itu, mereka menerima hukuman Allah yang adil (ayat Bil 16:31-35), sebagaimana juga semua orang dalam Kerajaan Allah yang "suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan dalam rumah ibadat" (Mat 23:6). |
| (0.19937332) | (Bil 16:1) |
(sh: Ancaman terhadap kesatuan (Kamis, 28 Oktober 1999)) Ancaman terhadap kesatuanAncaman terhadap kesatuan. Hari ini bangsa Indonesia diingatkan akan komitmen persatuan yang diikrarkan tujuh puluh satu tahun yang lalu dalam "Sumpah Pemuda" yaitu: bertanah air, berbangsa, dan berbahasa satu, yaitu Indonesia. Namun terasa semakin jauh dari terwujudnya ikrar ini bila melihat berbagai peristiwa yang terjadi. Dalam bacaan ini kita pun melihat bagaimana Korah, Datan, dan Abiram, ketiganya orang Ruben, beserta 250 orang pengikutnya memberontak terhadap Musa dan Harun. Mereka telah menentang otoritas Ilahi: (ayat 1) merendahkan pemimpin pilihan Allah dan meninggikan diri sendiri; (ayat 2) memprovokasi rakyat dengan pertemuan-pertemuan rahasia; (ayat 3) memberikan korban persembahan ukupan yang bukan haknya. Pemimpin pilihan Allah. Musa dan Harun adalah pemimpin pilihan Allah. Segala sesuatu yang difirmankan Allah untuk disampaikan kepada umat melalui mereka memiliki otoritas Ilahi. Tidak menaati mereka berarti memberontak untuk tidak menaati Allah. Hal ini akan mendatangkan hukuman. Kecenderungan manusia adalah menjadi pemimpin dan tidak mau dipimpin, sekalipun oleh Allah. Renungkan: Bagaimanakah sikap kita selama ini kepada para pemimpin rohani kita, yakni para hamba Tuhan yang telah dipilih-Nya sebagai gembala bagi domba-domba-Nya? |
