Teks Tafsiran/Catatan Daftar Ayat
 
Hasil pencarian 1 - 12 dari 12 ayat untuk Betsaida (0.054 detik)
Urutkan berdasar: Relevansi | Kitab
  Boks Temuan
(1.00) (Mrk 6:45) (ende: Betsaida)

Kota ini terletak disebelah utara tasik Genesaret, dimana Jordan bermuara kedalam tasik.

(1.00) (Yoh 1:44) (ende: Betsaida)

adalah sebuah dusun nelajan jang agak besar, terletak dipantai utara tasik Genesaret.

(0.62) (Luk 9:10) (ende: Betsaida)

Satu dusun nelajan, terletak ditepi utara tasik Genesaret, tempat asal dari Petrus, Andreas dan Pilipus (Yoh 1:44).

Oleh Herodes Pilipus, ia diangkat mendjadi kota dan diberi nama Julias.

(0.50) (Mrk 8:25) (full: ORANG ITU ... MELIHAT. )

Nas : Mr 8:25

Penyembuhan di Betsaida adalah kejadian satu-satunya ketika Yesus menyembuhkan secara berangsur-angsur. Peristiwa ini menunjukkan bahwa tidak semua penyembuhan harus terjadi dalam seketika karena dalam kasus tertentu kemenangan kuasa ilahi atas penyakit akan terjadi secara bertahap.

(0.50) (Yoh 5:2) (jerusalem: Betesda) Nama ini dalam naskah-naskah Yunani berbeda-beda: Betzata, Betsaida atau Belseta. Betesda berarti: rumah belaskasihan
(0.44) (Yoh 5:2) (ende: Betseta)

ialah nama sekelompok kampung keliling kolam itu, artinja "retakan gunung atau djurang".

Ada jang membatja edjaan Ibrani sebagai "Betesda", artinja "rumah rahmat" atau "rumah kerahiman". Lain pula "Betsaida" artinja "pohon ara". Reruntuhan kolam dan gedung-gedung kelilingnja telah ditemukan dan sudah pula digali. Kolam itu pandjangnja 120 m, dan lebarnja 60 m, terbagi atas dua bagian jang sama, dan kedua-duanja dikelilingi serambi.

(0.38) (Mat 8:28) (jerusalem: dua orang yang kerasukan setan) Menurut Markus dan Lukas hanya ada seorang saja. Begitupun halnya dengan dua orang buta di Yerikho, Mat 20:30, dan orang buta di Betsaida, Mat 9:27 (mujizat ini hanya jiplakan dari mujizat yang diceritakan dalam Mat 20:30). Barangkali gaya bahasa Matius saja yang membuat satu orang menjadi dua
(0.25) (Mat 11:20) (sh: Yang dihukum dan yang diterima. (Selasa, 30 Januari 2001))

Yang dihukum dan yang diterima.
Respons Yesus terhadap mereka yang tidak percaya kepada-Nya semakin tajam. Jika sebelumnya Ia hanya memperingatkan, kini Yesus mengecam dengan keras bahkan mengutuk. Mengapa? Sebab mukjizat-mukjizat sudah banyak didemonstrasikan di hadapan mereka (ayat 20-24). Namun itu tidak memuaskan dan memimpin mereka kepada iman kepada Yesus karena mereka tidak menilai pengharapan mereka di dalam terang Yesus namun sebaliknya justru menggunakan ukuran pengharapannya untuk menilai dan kemudian menolak Yesus. Karena itu kecaman dan kutukan Yesus adalah wajar sebab mereka menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Allah kepada mereka.

Sebaliknya terhadap mereka yang percaya kepada-Nya, Yesus menaikkan syukur-Nya kepada Allah. Mengapa? Yesus ingin menegaskan kepada setiap orang percaya bahwa jika mereka dapat percaya kepada Yesus bukan karena lebih suci dan berharga di hadapan Allah, namun ada 3 faktor yang memampukan dan memungkinkan mereka percaya.

Faktor pertama, adalah Allah sendiri yang menyatakan makna mukjizat Yesus, Kemesiasan Yesus Kristus, dan makna pengajaran Yesus kepada orang kecil yaitu orang-orang yang dengan rendah hati dan terbuka menerima penyataan Allah (ayat 25-26).

Faktor kedua, adalah peran Yesus dalam pewahyuan Allah. Wahyu khusus Allah tidak dapat secara langsung dinyatakan kepada manusia karena dosa. Manusia membutuhkan perantara yang menjembatani antara dirinya dengan Allah. Allah menyatakannya di dalam Yesus Kristus (ayat 27). Seluruh wahyu khusus Allah yang dinyatakan kepada manusia ada di dalam-Nya. Karena Yesus, manusia dimungkinkan untuk mengenal Allah.

Faktor ketiga, adalah undangan lemah-lembut dari Yesus sendiri (ayat 28-30). Yesus tidak hanya menjadi perantara namun Ia sendiri yang memanggil orang- orang untuk percaya kepada-Nya. Ia tidak menawarkan beban tapi menawarkan ketenangan bagi jiwa.

Renungkan: Inilah anugerah Allah yang luar biasa sebab selain Allah mengaruniakan Anak Tunggal-Nya, Ia juga memberikan wahyu-Nya, memberikan perantara agar wahyu-Nya dipahami manusia dan Ia sendiri juga yang mengadakan pemanggilan. Marilah kita panjatkan syukur atas anugerah-Nya yang tak terkira ini.

(0.22) (Mat 11:16) (sh: Mengenal Allah adalah anugerah. (Kamis, 27 Januari 2005))

Mengenal Allah adalah anugerah.
Apakah inti penyataan Yesus yang sulit diterima orang pada zamannya? Mengapa Khorazim, Betsaida, Kapernaum, dan orang banyak menolak-Nya padahal mereka melihat banyak mukjizat Allah? Orang banyak diumpamakan Yesus seperti anak yang sedang bermain pesta pernikahan dan kematian (ayat 16-17). Tidak ada keseriusan sikap terhadap Yesus. Padahal menurut ayat 25-27 relasi Yesus dan Allah Bapa begitu unik dan tidak terpisahkan.

Pertama, orang bijak dan orang pandai tidak dapat mengenal Allah (ayat 25). Pengenalan Allah bukan soal intelektual atau kesalehan manusia. Pengenalan akan Allah adalah soal kedaulatan Allah. Tidak seorang pun dapat mengendalikan Allah. Menurut kehendak-Nya sendiri Allah menyingkapkan atau menyembunyikan diri-Nya. Meski demikian Yesus mengenal Allah secara sempurna.

Kedua, manusia hanya dapat mengenal Allah melalui Yesus. Jika ingin mengenal Allah datanglah kepada Yesus. Hanya Yesus yang dapat mengenalkan siapa Allah karena Allah melimpahkan otoritas penuh rencana penyelamatan kepada-Nya (ayat 27a). Selain itu, memang hubungan Yesus dan Allah sangat intim. Di dalam hubungan Anak-Bapa itu terdapat pengenalan yang sempurna. Jadi, mengenal Yesus berarti mengenal Allah. Sama seperti mengenal Allah adalah anugerah, demikian juga dengan mengenal Yesus.

Atas klaim itulah Yesus dapat mengundang manusia untuk datang kepada-Nya. Yesus tidak menyuruh manusia datang kepada Allah, tetapi datang kepada-Nya. Yesus tidak berkata `pergilah kepada Allah', melainkan `marilah kepada-Ku'. Dalam pemahaman demikian undangan Yesus tersebut menjadi semakin jelas maknanya. Inilah panggilan anugerah. Setiap orang yang memenuhi panggilan itu akan masuk ke dalam pengenalan yang intim dan mendalam, seintim dan semendalam hubungan Anak dan Bapa.

Doa: Oh Tuhan, tolonglah aku untuk hidup makin dekat dengan Yesus agar aku makin mengenal-Mu.

(0.22) (Mrk 8:22) (sh: Pemahaman ternyata perlu proses (Minggu, 1 Maret 2009))

Pemahaman ternyata perlu proses
Anda percaya bahwa Yesus Mahakuasa? Lalu kenapa Dia harus melalui dua tahap dalam menyembuhkan orang buta di Betsaida? Apakah kuasa-Nya melemah sehingga Dia gagal dalam tahap pertama? Atau Ia ingin mencoba metode penyembuhan yang baru? Atau karena si buta kurang beriman?

Yesus ternyata punya maksud tersendiri dengan penundaan penyembuhan itu. Selain untuk menyatakan diri dan kuasa-Nya kepada si orang buta, ada makna simbolik yang terkandung di dalam proses penyembuhan itu. Makna simbolik itu untuk menggambarkan tingkat pemahaman para murid terhadap Tuhan, Guru mereka. Kemampuan melihat memang sering dipakai untuk menggambarkan kemampuan memahami. Para murid telah menempuh tahap pertama dalam pengenalan mereka akan Allah, yaitu "tidak mengerti" (Mrk. 8:17-21). Setelah itu mereka akan menempuh tahap kedua, yaitu "salah mengerti" (Mrk. 8:29-33). Dan tahap yang terakhir adalah "mengerti sepenuhnya" (Mrk. 15:39, dst). Penyembuhan secara bertahap itu memperlihatkan kondisi kerohanian para murid beserta pertumbuhannya. Semula penglihatan mereka akan Tuhan seolah berkabut. Namun setelah melalui ketiga proses itu, kita akan melihat bagaimana kebutaan kerohanian para murid disembuhkan secara bertahap. Dan kesembuhan dari kebutaan rohani itu dicapai melalui hubungan mereka dengan Yesus. Penyembuhan secara bertahap itu mengindikasikan suatu proses dalam penyataan Tuhan bagi para murid.

Seperti itu jugalah cara Allah bekerja di dalam diri kita. Setelah pertobatan kita, kita tidak bisa secara langsung mengenal dan memahami Tuhan sepenuhnya. Ada proses pembelajaran yang akan Tuhan lakukan dalam diri kita. Proses itu harus kita lalui langkah demi langkah. Untuk itu kita perlu setia dan memiliki semangat pantang menyerah, karena Tuhan pun tidak pernah menyerah mengajar kita. Terbukti Ia melimpahkan kuasa Roh-Nya untuk menguatkan kita.

(0.22) (Luk 9:10) (sh: Memberi perhatian. (Sabtu, 31 Januari 2004))

Memberi perhatian.
Kita perlu memberi perhatian kepada orang-orang yang kita layani. Bentuk perhatian itu beragam. Bisa berupa kesediaan mendengar, keterbukaan untuk menerima kehadirannya atau ketulusan dalam memberi apa yang orang-orang tersebut butuhkan. Yesus memberi contoh yang baik dalam memberi perhatian kepada orang banyak di Betsaida dalam perikop ini.

Pertama, perhatian Yesus kepada murid-murid-Nya (ayat 10). Yesus memberi perhatian khusus kepada murid-murid-Nya, sekembali dari pelayanan dengan memberi waktu dan tempat khusus untuk mendengarkan cerita murid-murid. Dapat dibayangkan betapa bahagianya murid-murid berbagi cerita dengan Sang Guru dan betapa hangatnya Yesus menyimak cerita murid-murid-Nya.

Kedua, perhatian Yesus kepada orang banyak (ayat 11-17). Yesus tidak merasa terganggu ketika orang banyak mengikuti-Nya. Ia bahkan melayani mereka dengan memberitakan Injil Kerajaan Allah dan memberi kesembuhan kepada orang sakit. Meski murid-murid-Nya kuatir akan tempat penginapan dan kebutuhan makanan, namun Yesus menegaskan: “Kamu harus memberi mereka makan!” Dengan lima roti dan dua ikan mereka harus memberi makan lebih dari lima ribu orang. Yesus mengajarkan mereka untuk tetap mengucap syukur dan membagi-bagikan apa yang ada. Hasilnya, ajaib! Mereka tidak berkekurangan, melainkan kenyang bahkan menyisakan dua belas bakul.

Melalui perikop ini kita mendapatkan pelajaran penting yaitu bahwa kita tidak hanya memerlukan kepekaan agar dapat memahami kebutuhan orang-orang yang kita layani, tetapi juga kepekaan agar dapat memberi perhatian secara tepat kepada orang yang kita layani. Allah akan menolong kita menjadi berkat bagi mereka.

Renungkan: Memberi perhatian kepada orang lain yang membutuhkan pertolongan adalah wujud nyata dari kepedulian Allah kepada mereka.

(0.19) (Luk 9:10) (sh: Kerajaan Allah dan Lapar (Rabu, 24 Januari 2007))

Kerajaan Allah dan Lapar
Bukan cuma Herodes yang mencari Yesus. Orang banyak pun mencari Dia. Inilah respons mereka terhadap pemberitaan Kerajaan Allah.

Kelaparan rohani mereka demikian dahsyat, sehingga mereka terus mengikut Yesus. Mereka ingin menikmati penggenapan janji Perjanjian Lama akan kehadiran Kerajaan Allah melalui Yesus (sebagai antisipasi atas pengakuan Petrus pada Luk. 9:20). Namun, Ia tidak hanya peduli dengan kelaparan rohani yang menimpa kaum papa Israel yang menderita di bawah penjajahan Romawi. Ia memberikan kesembuhan fisik bagi mereka yang sakit. Dan ketika para murid memohon agar Yesus menyuruh orang banyak mencari makan sendiri, Ia justru menyuruh para murid memberi mereka makan! Ketika mereka tidak sanggup, barulah Yesus bertindak.

Kita kerap dibutakan oleh kedahsyatan sisi mukjizat dari peristiwa ini (sisa dua belas bakul!) dan lalai memperhatikan aspek sosial dari nas ini. Walau firman Allah adalah yang utama, manusia tetap butuh roti. Orang-orang Galilea yang dilayani Yesus waktu itu hidup dalam kondisi berkekurangan. Hidup sebagai orang yang takut akan Tuhan kerap berimplikasi jadi orang miskin dan lapar (lih. Luk. 6:20-21). Yesus datang bukan hanya untuk \'mengenyangkan\' jiwa dengan \'makanan\' rohani bergizi, tetapi untuk menebus kita secara utuh sebagai bagian dari penggenapan rencana keselamatan-Nya.

Gereja adalah tubuh Kristus, yang dipanggil untuk menyatakan Kabar Baik tentang kehadiran Kerajaan Allah di dunia. Kita bukan cuma hasil dari misi Kristus, tetapi juga mitra-Nya dalam misi ini. Kelaparan yang terjadi di Galilea waktu itu terjadi juga di negeri kita. Karena itu, demi kemuliaan-Nya, jawaban kita atas pertanyaan Tuhan seharusnya lebih dari lima roti dan dua ikan.

Renungkan: Kapan terakhir kali pelayanan dan respons syukur kita dinikmati oleh saudara kita yang lapar?



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.28 detik
dipersembahkan oleh YLSA