Teks Tafsiran/Catatan Daftar Ayat
 
Hasil pencarian 1 - 7 dari 7 ayat untuk membedakannya [Pencarian Tepat] (0.001 detik)
Urutkan berdasar: Relevansi | Kitab
  Boks Temuan
(0.99893822580645) (Im 11:20) (jerusalem: berjalan dengan keempat kakinya) Serangga disebut di sini berkaki empat untuk membedakannya dengan burung yang berkaku dua. Ima 11:21 mengecualikan belalang.
(0.49946909677419) (Kis 12:1) (jerusalem) Peristiwa ini, yang menurut Kis 11:30 dan Kis 12:25 rupanya bertepatan dengan kunjungan Barnabas dan Saulus ke Yerusalem, sesungguhnya mendahuluinya. Herodes Agripa I di sini Kis 12:2 disebut "raja" untuk membedakannya dengan pamannya Herodes Antipas, raja wilayah (tetrarkha) (ia tampil dalam kisah mengenai sengsara Yesus); oleh Klaudius diberi gelar raja dalam th. 37. Tetapi baru menjadi raja Yudea dan Samaria yang sesungguhnya dalam th. 41, pada hal meninggal dalam th. 44. Ditinjau dari segi sastra cerita ini berbeda sekali dengan konteksnya dan mendekati gaya bahasa Markus. Peristiwa-peristiwa yang diceritakan di sini terjadi antara th. 41 dan 44.
(0.41622422580645) (Kej 5:24) (jerusalem: telah diangkat oleh Allah) Pada Henokh ada beberapa ciri yang membedakannya dengan bapa-bapa bangsa lain dalam silsilah ini. Umur hidupnya memang lebih pendek dari pada umur bapa-bapa bangsa lain, tetapi jumlahnya adalah sebuah angka kesempurnaan, yaitu genap jumlah hari dalam satu tahun (terhitung menurut peredaran matahari); ia "hidup bergaul dengan Allah", sama seperti Nuh, Kej 6:9; secara ajaib ia diangkat oleh Allah, sama seperti nabi Elia diangkat, 2Ra 2:11 dst. Dalam tradisi Yahudi Henokh menjadi seorang tokoh yang semakin penting dan teladan orang yang taat agama, Sir 44:16; 49:14. Menurut tradisi Yahudi dari Henokh berasallah beberapa buku apokrip, bdk Yud 14-15.
(0.41622422580645) (Luk 9:28) (jerusalem) Oleh karena cerita Lukas ini mempunyai banyak ciri khusus yang membedakannya dengan cerita Markus, jelaslah Lukas menggunakan sumber lain. Maka Lukas menggambarkan peristiwa itu dengan cara lain dari cara Matius dan Markus. Matius memperlihatkan Yesus sebagai Musa baru, bdk Mar 9:2+. Tetapi Lukas (atau sumbernya yang digabung dengan Markus) lebih-lebih menggambarkan suatu pengalaman pribadi Yesus. Ini terjadi waktu Yesus berdoa dengan hangat. Dalam doa itu Yesus mendapat penerangan sorgawi tentang "kepergianNya" (eksodos = Keluaran), artinya: kematianNya kelak, bdk Wis 3:2; 7:6; 2Pe 1:15. Kematian itu akan terjadi di Yerusalem, kota yang membunuh nabi-nabi, bdk Luk 13:33-34.
(0.29135696774194) (Ul 24:1) (sh: Bercerai, siapa berani? (Sabtu, 3 Juli 2004))
Bercerai, siapa berani?

Bercerai, siapa berani? Menikah kembali setelah bercerai, apakah diperbolehkan? Di zaman modern ini perceraian antara suami-istri (suami menceraikan istri dan istri menceraikan suami) semakin sering terdengar dan cenderung menjadi biasa. Peraturan Allah di perikop ini berbicara tentang pernikahan kembali setelah suami-istri bercerai, namun pernikahan ini tidak disetujui oleh Allah. Peraturan ini tidak saja berlaku untuk zaman dulu tetapi terlebih sekarang. Umat Allah harus memiliki ciri yang membedakannya dari orang dunia ini.

Dalam konteks dunia Asia Timur kuno, peraturan ini justru melindungi kaum wanita (istri) dari pelecehan kaum pria (suami). Di luar Israel para suami dengan mudah menceraikan istrinya karena hal yang sepele, misalnya: masakan yang hangus. Sedangkan di Israel melalui Hukum Taurat hak kaum wanita diperhatikan, yakni tidak boleh diceraikan tanpa ada penyebab yang serius. Di ayat 1 "tidak senonoh" bukan berarti tindakan perzinahan, melainkan perangai moral yang tidak pantas untuk dilakukan seorang istri.

Inti peraturan di perikop ini ialah adanya larangan bagi mantan suami pertama untuk menikahi mantan istri, khususnya jika mantan istri ini telah menikah dan telah bercerai dari suami keduanya. Mengapa demikian? Pertama, karena perbuatan mantan suami pertama itu telah menyamakan mantan istri dengan seorang pelacur. Artinya, memperlakukan mantan istri sewenang-wenang (dipergunakan semaunya) dan tidak sopan (menceraikan). Kedua, perceraian tidak berkenan di hadapan Allah. Keputusan untuk bercerai yang dilakukan oleh mantan suami pertama adalah sikap melecehkan. Sebaliknya suami harus mengambil sikap menyenangkan istrinya sebagai pasangan yang diberikan Allah kepadanya. Hal ini tersirat dalam ayat 5, yakni bukan hanya istri yang melayani suami, melainkan suami perlu menyukakan hati istri.

Camkanlah: Bercerai bukanlah alternatif kristiani. Ikatan pernikahan adalah kudus dan serius. Hai para suami, kasihilah istrimu dan lindungi dia! (Kolose 3:19; I Petrus 3:7-8)

(0.29135696774194) (Mat 26:26) (sh: Yesus memaknai Paskah secara baru (Kamis, 17 Maret 2005))
Yesus memaknai Paskah secara baru

Yesus memaknai Paskah secara baru
Untuk orang Yahudi merayakan Paskah berarti merayakan kemerdekaan mereka dari perbudakan Mesir. Keluarga berkumpul, menceritakan ulang kisah itu, dan makan bersama untuk merayakan pembebasan Allah tersebut. Dengan berbuat demikian mereka menemukan ulang jati diri mereka sebagai umat Tuhan pada tindakan kuasa pembebasan Allah.

Dalam kisah ini Yesus dan para murid-Nya pun merayakan Paskah. Akan tetapi, dari pemaparan rinci yang penulis Injil Matius lakukan dalam perikop ini terdapat unsur-unsur yang membedakannya dari Paskah Perjanjian Lama. Tuhan Yesus tidak memfokuskan Paskah pada tindakan pembebasan dari Allah dalam Perjanjian Lama, tetapi pada tindakan pembebasan yang akan dilakukan Tuhan Yesus melalui kematian-Nya. Dalam perjamuan akhir bersama murid-murid-Nya, Ia menyebut roti itu sebagai tubuh-Nya (ayat 26) dan anggur itu sebagai darah-Nya (ayat 27-28). Pembebasan yang akan dikerjakan Tuhan Yesus itu adalah pembebasan yang membuat orang lepas dari kuasa dan konsekuensi dosa (ayat 28). Hanya orang yang sudah menerima arti Paskah baru ini yang akan ambil bagian dalam perjamuan kekal dengan Yesus dan Allah kelak (ayat 29). Tindakan Yesus ini menciptakan makna dan tradisi baru yaitu perayaan Paskah dan Perjamuan Kudus.

Sekarang kita merayakan Paskah sebagai peringatan kemenangan Yesus yang melalui kematian-Nya telah melepaskan kita dari belenggu dosa dan hukuman terhadap dosa. Setiap kali kita berpartisipasi dalam Perjamuan Kudus, kita mensyukuri tindakan penyelamatan dari Yesus, menegaskan jati diri kita sebagai bagian dari umat yang telah ditebus Allah, dan menyiapkan diri kita menyambut kedatangan-Nya kedua kali kelak.

Doaku: Tuhan, terima kasih Engkau telah menebusku dari dosa dengan mengurbankan tubuh dan darah-Mu sendiri. Tolong aku melihat makna hidupku dan menjalaninya dalam terang pengurbanan-Mu. Amin.

(0.29135696774194) (Mrk 2:18) (sh: Hakikat puasa (Selasa, 21 Januari 2003))
Hakikat puasa

Hakikat puasa. Bagi orang Yahudi berpuasa sudah merupakan tradisi. Farisi memiliki kebiasaan berpuasa 2 kali seminggu (Luk. 18:12). Ada beberapa alasan untuk berpuasa. Selain puasa merupakan ungkapan kesedihan (ayat 1Samuel 31:13; 2Samuel 1:12), puasa juga dilakukan untuk menyatakan pertobatan (ayat 1Samuel 7:6). Ketika melihat murid-murid Yesus tidak berpuasa, murid-murid Yohanes dan orang Farisi menjadi heran. Mereka ingin tahu alasannya. Yesus menjawab dengan menjelaskan dua sifat menonjol murid- murid-Nya, yaitu bahwa menjadi murid Yesus berarti bersukacita dan hidup dalam suasana yang sama sekali baru.

Pertama, sukacita. Suasana perkawinan dipakai untuk melukiskan sukacita kedatangan-Nya. Makna yang terkandung di dalamnya adalah bahwa kedatangan Yesus membawa sukacita. Karena dosa telah diampuni; permusuhan dengan Allah telah berakhir. Melalui kedatangan Yesus, manusia dan Allah telah didamaikan. Ini adalah sumber sukacita dalam hidup orang beriman.

Kedua, suasana baru. Kedatangan Yesus juga membawa suasana baru. Suasana yang sama sekali berbeda dengan yang lama. Suasana baru apa yang dibawa Yesus? Pertama, jika orang Farisi membenci dosa dan orang berdosa, Yesus justru bersekutu dengan orang-orang berdosa. Yesus membenci dosa, namun mengasihi orang berdosa. Kedua, bagi orang Farisi puasa adalah status rohani dan kesalehan yang membedakannya dengan orang lain (Luk. 18:12). Tetapi, bagi Yesus puasa adalah untuk Allah, bukan untuk manusia (Mat. 6:18).

Ketiga, bagi Farisi manusia untuk sabat. Bagi Yesus sabat untuk manusia.

Yesus tidak menentang apalagi menghilangkan puasa (ayat 20, bdk. Mat. 4:2). Bahkan tradisi berpuasa dilanjutkan gereja Kristen purba (lih. Kis. 13:2-3; 14:23). Yesus meluruskan penghayatan maknanya.

Renungkan: Tanpa perubahan moral puasa sia-sia. Tanpa transformasi hidup puasa menghina Allah (Yes. 58:3-6).



TIP #13: Klik ikon untuk membuka halaman teks alkitab dalam format PDF. [SEMUA]
dibuat dalam 0.04 detik
dipersembahkan oleh YLSA