Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  4. Arkeologi > 
I. Arkrologi Alkitabiah. 
 sembunyikan teks

Para sarjana berselisih tentang apakah naskah kita dapat berbicara tentang "arkeologi alkitabiah." Ada yang mengatakan bahwa arkeologi adalah arkeologi - maksudnya, semua metode dan tujuannya pada dasarnya sama di mana-mana, apakah menyangkut Alkitab atau tidak. Mereka juga menaruh keprihatinan yang sah tentang pernyataan-pernyataan yang tidak ilmiah (bahkan kadang-kadang curang) yang telah dilakukan atas nama arkeologi "alkitabiah." Mereka menganggap bahwa sebaiknya kita menggunakan istilah lain, seperti "arkeologi Palestina," atau berbicara tentang arkeologi dan Alkitab."

Mungkin istilah arkeologi alkitabiah tidak disukai lagi oleh karena para ilmuwan dewasa ini sama sekali tidak tertarik pada hal-hal yang menyangkut Alkitab. Para sarjana dengan minat profesional dalam Alkitab tidak lagi aktif dalam pekerjaan arkeologi seperti dahulu. Dewasa ini, para arkeolog profesional menyelidiki spektrum yang luas dengan berbagai kepentingan budaya dan antropologi yang mungkin tidak langsung ada sangkut paut dengan seorang penelaah Alkitab. Hubungan yang sudah lama antara penyelidikan Alkitab dan arkeologi tidak lagi sekuat dahulu.

Penyediaan dana dan personel yang utama dari proyek-proyek arkeologi di negeri-negeri yang berhubungan dengan Alkitab tidak pernah datang dari organisasi atau lembaga gereja. Semua itu telah datang dari berbagai universitas, museum, atau sumber-sumber pribadi lainnya. Kecenderungan ini barangkali akan menjadi lebih kuat di masa depan oleh karena inflasi, spesialisasi yang meningkat di bidang arkeologi, dan kesangsian arkeologi yang bertumbuh besar terhadap kekristenan tradisional. Meskipun demikian, gereja-gereja dan berbagai lembaganya hendaknya berusaha untuk melibatkan diri sampai ke tingkat maksimum yang dapat dilaksanakan.

Apakah arkeologi "membuktikan bahwa Alkitab benar"? Sebenarnya tidak. Memang arkeologi telah meningkatkan keyakinan kita pada garis besar yang luas dari narasi Alkitab. Temuan-temuan arkeologis telah mendukung banyak sekali pernyataan yang rinci dalam naskah Alkitab. Sering kali arkeologi berguna dalam membuktikan salahnya serangan-serangan orang yang tidak percaya. Akan tetapi, sebagian besar isi Alkitab adalah mengenai perkara-perkara perorangan yang relatif pribadi dan yang tidak dapat dibuktikan oleh arkeologi. Dan semakin jauh kita ke zaman purba, semakin sedikit bukti yang kita miliki.

 A. Batas-Batasnya.
sembunyikan teks

"Kebenaran" di Alkitab bukan menyangkut fakta-fakta saja, tetapi juga penafsirannya. Meskipun kita dapat memperlihatkan bahwa seluruh Alkitab itu faktual, hal itu tidak akan membuktikan artinya dalam penebusan. Oleh karena iman Kristen didasarkan pada fakta-fakta sejarah, orang Kristen menyambut bukti apa pun yang dapat diberikan oleh arkeologi - tetapi iman mereka tidak tertambat pada bukti-bukti tersebut. Ketiadaan bukti atau pun skeptisisme yang kritis tidak dapat menyanggah Firman Allah. Adalah lebih baik untuk menekankan bahwa arkeologi membantu kita untuk mengerti Alkitab daripada bersikeras bahwa arkeologi membuktikan Alkitab itu benar. Sebenarnya, arkeologi tidak dapat melakukan hal itu, bahkan tidak perlu melakukan hal itu.

 B. Nilainya.
sembunyikan teks

Arkeologi dapat memberikan informasi latar belakang beribu-ribu tahun setelah Alkitab ditulis. Walaupun arkeologi terutama berurusan dengan benda-benda materiel yang konkret, arkeologi dapat menolong kita untuk memahami pesan rohani dari penulis-penulis Alkitab - terutama ilustrasi dan kiasan mereka. Di antara teks Alkitab dan temuan-temuan arkeologis harus terdapat "dialog", karena masing-masing dapat membantu kita untuk mengerti dan menafsirkan yang lain. Alkitab membantu kita untuk mengerti temuan-temuan baru para arkeolog, sedangkan arkeologi membantu kita untuk "membaca hal-hal yang tersirat" dalam teks Alkitab.

Misalnya, catatan-catatan sejarah Babilonia purba tidak menyebut Belsyazar, meskipun Alkitab mengatakan bahwa ia mengganti Nebukadnezar sebagai raja (Dan. 4-5). Selama beberapa waktu, beberapa sarjana Alkitab meragukan Alkitab dalam hal ini. Tetapi pada tahun 1853 para arkeolog menemukan sebuah inskripsi di Ur, yang menunjukkan bahwa Belsyazar memerintah bersama ayahnya, Nabonidus.

 C. Hal Dapat Dipercaya.
sembunyikan teks

Sampai tingkat manakah metode arkeologi itu bersifat obyektif atau benar-benar ilmiah, dan sampai sejauh manakah hasil-hasilnya dapat dipercayai? Untunglah, kita sudah melewati masa itu ketika kita menganggap bahwa ilmu-ilmu yang "keras" atau ilmu-ilmu eksakta (fisika, kimia, dan lain-lain) adalah benar-benar obyektif. Kita tahu bahwa sikap dan pikiran para ilmuwan tentang kebenaran dapat mempengaruhi cara mereka menafsirkan fakta-fakta. Di pihak lain, tingkat pendapat pribadi dalam ilmu-ilmu yang "lunak" atau ilmu-ilmu sosial (sejarah, sosiologi, psikologi) tidaklah begitu tinggi sehingga kita harus menolak untuk menyebutnya sebagai "ilmiah". Arkeologi berada di antara ilmu-ilmu yang "keras" dan yang "lunak". Para arkeologi lebih obyektif ketika menggali fakta-fakta daripada ketika menafsirkannya. Akan tetapi, keasyikan manusiawi mereka juga akan mempengaruhi cara-cara yang mereka gunakan dalam "penggalian" itu. Mau tak mau mereka membinasakan bukti-bukti waktu mereka menggali tembus lapisan-lapisan tanah sehingga mereka tak pernah dapat menguji "eksperimen" mereka dengan cara mengulangnya. Hal ini membuat arkeologi unik di antara ilmu-ilmu pengetahuan. Tambahan pula, hal ini menjadikan pelaporan arkeologis suatu, tugas yang paling sulit dan penuh dengan berbagai kesukaran tersembunyi.

Sekalipun begitu, arkeologi bertumpang tindih dengan disiplin-disiplin ilmiah lainnya, seperti sejarah, geografi, dan antropologi budaya (ilmu yang mempelajari cara-cara berpikir dan cara-cara hidup manusia). Para spesialis di bidang biologi, antropologi, dan geologi sering bergabung dengan regu-regu penggalian agar menganalisis bermacam-macam benih, tulang, tepung sari, tanah, dan lain-lain. Bidang studi perbandingan agama atau "sejarah agama-agama" sering memainkan peranan penting dalam menafsirkan temuan-temuan itu karena begitu banyak temuan ada hubungan menguraikan lapisan-lapisan bumi yang alami, yang berbeda dengan lapisan-lapisan yang dibuat oleh manusia yang meminta perhatian para arkeolog; namun para arkeolog sering kali berunding dengan para geolog untuk mengetahui lebih banyak tentang sifat tempat-tempat yang sedang mereka gali.

 D. Geografinya. 
sembunyikan teks

Daerah-daerah geografis manakah yang menarik perhatian dalam arkeologi alkitabiah? Untuk kurun waktu Perjanjian Baru, sebagian besar daerah itu sama dengan daerah Imperium Romawi. Untuk kurun waktu Perjanjian Lama, daerahnya lebih kecil, dan pusatnya bergeser ke timur untuk meliputi lembah Mesopotamia dan Persia (Iran masa kini).

Akan tetapi, paling mudah ialah mulai di pusatnya - Palestina atau Israel (Kanaan) - dan menyebar dari situ. Imperium-imperium yang besar di lembah Nil dan Mesopotamia hampir sama menariknya dengan Palestina. Kebudayaan Fenisia (Libanon masa kini) mempunyai banyak persamaan dengan kebudayaan Kanaan di selatan. Siria di bagian timur juga menjadi perhatian utama - sejarahnya sering kali kait mengait dengan sejarah Israel dan kawasannya selalu menjadi koridor utama bagi pasukan-pasukan yang menyerbu Palestina. Lebih jauh ke utara, Asia Kecil adalah tanah air bangsa Het dan bangsa-bangsa penting lainnya.



TIP #15: Gunakan tautan Nomor Strong untuk mempelajari teks asli Ibrani dan Yunani. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA