Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  24. Sastra Alkitab >  III. Sejarah Perjanjian Lama. > 
B. Sebagai Sastra. 
sembunyikan teks

Ada bermacam-macam cara untuk mempelajari sejarah Perjanjian Lama sebagai sastra. Kajian dari segi sastra memandang kitab-kitab itu terlepas dari lingkungan sejarah dan budayanya. Sastra dipandang sebagai suatu bentuk seni bukan sebagai suatu bentuk budaya.

Penelitian kritis terhadap sastra memusatkan perhatian pada apapun yang dapat diasingkan. Tidak ada kriteria untuk memilih unit-unit ini, selain dari pertimbangan si peneliti. Lalu unit ini diidentifikasi sebagai suatu jenis sastra yang khusus - seperti narasi kepahlawanan (legenda), tawarikh, epik, puisi liris, atau hikmat.

Tiap-tiap jenis sastra mempunyai cara-caranya sendiri untuk berbicara. Misalnya, bila orang mengatakan bahwa narasi sejarah bukanlah cerita yang baik, ia sedang menilainya menurut cara berpikirnya tentang susunan cerita - strukturnya, alurnya, tokoh-tokoh, gambaran, dan lain sebagainya.

Dalam proses menganalisis suatu unit tertentu, sang peneliti mungkin memfokus pada cara pemakaian bahasa. Ini disebut penelitian kritis yang retorik. Penelitian kritis yang retorik ini telah mengembangkan berbagai kriteria khusus untuk menganalisis persoalan-persoalan seperti itu.

Namun, banyak pakar lebih suka memandang Alkitab dari perspektif sastra murni. Satu contoh dari pendekatan ini diuraikan oleh Leland Ryken dalam bukunya, The Literature of the Bible. Sebagian besar dari uraian berikut ini didasarkan pada karyanya.

Gaya sastra narasi mencapai puncak keunggulannya dalam sastra sejarah Perjanjian Lama. Ryken mengemukakan Kejadian 1-3 sebagai sebuah contoh klasik narasi; pasal-pasal ini merupakan sebuah unit sastra yang lengkap dengan bagian permulaan, tengah, dan akhir. Kejadian ps. 1 memperlihatkan pengulangan - yakni, pengulangan dalam bentuk, urutan, dan rancangan. Narasi ini juga memiliki gerak maju yang menyatu, keseimbangan artistik, dan penggambaran yang gamblang yang hampir puitis. Semua unsur ini adalah khas bagi narasi yang baik mutunya, di manapun ia terdapat. Kisah alkitabiah ini menguraikan asal mula bumi; akan tetapi, berbeda dengan kisah bandingannya dalam sastra kafir, kisah ini bukan suatu theogony (cerita tentang asal mula para dewa) atau suatu cosmogony (cerita tentang asal mula alam semesta).

Bagian tengah dari narasi Penciptaan (Kej. 2:4-24) mempunyai banyak dialog dan menekankan hubungan di antara Allah dan manusia. Sastra lain dari zaman purba menggambarkan tempat-tempat firdaus; dalam cerita-cerita seperti itu, biasanya firdaus terletak di luar pengalaman manusia. Narasi Alkitab ini menyatakan bahwa Allah adalah pemrakarsa dan penguasa Taman Eden, tempat ujian umat manusia.

Kejadian ps. 3 menggambarkan bagaimana manusia terjerumus ke dalam malapetaka. Ryken menyimpulkan, "Dalam satu pengertian kisah yang diceritakan dalam Kejadian 1-3 memenuhi harapan-harapan kisah yang hebat dengan lebih baik daripada cerita lain manapun dalam kesusastraan."69

Perjanjian Lama memuat beberapa jenis narasi yang khusus, seperti narasi kepahlawanan (mis., kisah Abraham) dan epik (mis., peristiwa Keluaran). Kita menemukan bermacam-macam jenis alur cerita - tragedi, komedi, dan lain sebagainya. Berbeda dengan sejarah Yunani, maka Perjanjian Lama jarang menonjolkan perbuatan-perbuatan gagah berani para pahlawannya di bidang militer. Perjanjian Lama juga tidak memberitahukan semua rincian kejadian-kejadiannya. Namun, pembaca memperoleh cukup informasi untuk mengerti apa yang telah terjadi.

Narasi Perjanjian Lama selalu memusatkan perhatian pada Allah, yang bertindak dalam sejarah, dan pada hubungannya dengan para pemeran manusiawi. Selalu terdapat alur cerita rangkap - yang duniawi dan yang rohani - keduanya menuju ke suatu sasaran akhir, Kedua alur cerita ini melibatkan suatu konflik di antara kebaikan dan kejahatan, dan pada akhirnya kebaikanlah yang meraih kemenangan. Akan tetapi, dalam beberapa kejadian kejahatan yang menang, sehingga terdapat tragedi secara berkala (mis., kisah Simson, Saul, dan Salomo).

Sejarah Perjanjian Lama memperlihatkan kualitas artistik yang tinggi; namun ketrampilan seni narasi itu tidak mencegah penyajian temanya dengan jelas.

Pentateukh (Kejadian sampai dengan Ulangan) merupakan suatu fenomena sastra yang unik. Selain dari Pentateukh, tidak ada tulisan sejarah yang diketahui dari periode sebelum 1000 sM. Memang ada mitos-mitos kafir, materi yang menyombongkan diri yang disesuaikan dengan mode zaman itu dalam prasasti-prasasti raja, catatan transaksi perdagangan dan surat-surat, tetapi tidak ada sejarah yang berurutan tentang dunia. Perjanjian Lama adalah satu-satunya dokumen kuno yang memberikan kisah faktual mengenai sejarah dari permulaan peradaban.



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA