Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac > 
10. Orang Yunani dan Helenisme 
sembunyikan teks

Orang Yunani purba menyebut negeri mereka Hellas dan mereka menamakan diri mereka orang Hellen. Negara kota Yunani yang paling berpengaruh adalah Atena, yang memberi dorongan utama untuk segala prestasi Imperium Yunani. Selama waktu yang singkat imperium ini membentang meliputi daerah yang hampir seluas Amerika Serikat.

Bila kita berbicara tentang "kebudayaan Helenis," maka yang kita maksudkan adalah prestasi kebudayaan Yunani yang mencapai puncak tertingginya di Atena pada abad ke-5 sM. "Kebudayaan Helenis" berarti semua kesenian, perdagangan, dan pemikiran daratan Yunani yang telah dipengaruhi oleh Atena. "Kebudayaan Helenistis" adalah perkembangan berikutnya dari kebudayaan Yunani di antara bangsa-bangsa di kawasan Laut Tengah bagian timur yang mencerminkan kebudayaan yang dimulai di Atena. Cara hidup Yunani ini dibawa sampai sejauh India oleh pasukan-pasukan Aleksander Agung. Kebudayaan ini tinggal cukup lama di Mesir, Palestina, Asia Kecil, dan Persia sehingga mempengaruhi agama, pemerintahan, bahasa, dan kesenian mereka.

 I. Sejarah Yunani Purbakala.
sembunyikan teks

Perang dan persekongkolan politik secara berganti-ganti terjadi dalam sejarah Yunani pada masa purbakala. Kemampuan orang Yunani untuk mengatasi masalah-masalah ini menunjukkan kuatnya watak mereka dan visi yang penuh harapan akan masa depan.

 II. Bangkitnya Orang Makedonia. 
sembunyikan teks

Pada tahun 359 sM seorang pemuda bernama Filipus II menjadi raja yang baru di Makedonia. Sebelum ia naik takhta, Filipus pernah ditawan dalam sebuah pertempuran melawan Thebes. Selagi ia tertawan, ia belajar taktik perang dari Epaminondas dan merancang variasinya sendiri dari susunan miring pertempuran - suatu variasi yang sekarang dikenal sebagai falanks.

Filipus membangun angkatan perang baru yang kuat di Makedonia. Kavalerinya terdiri atas 2.000 penunggang kuda dalam 8 skuadron. Ia mendirikan pengawal raja dari kavaleri dan prajurit dan 6 batalyon infanteri yang masing-masing terdiri atas 1.536 orang. Filipus juga menciptakan suatu kesatuan yang mengesankan dari mesin-mesin pengepungan untuk menggempur tembok-tembok kota.

almanac
 III. Helenisme di Palestina. 
sembunyikan teks

Ketika Antiokhus IV mewarisi bagian Kerajaan Yunani yang dikuasai wangsa Seleukus pada tahun 175 sM, ia berhasrat sekali untuk mempersatukan seluruh daerahnya. Hal ini dilakukannya dengan menyebarkan Helenisme ke segala pelosoknya. Ia terkenal sebagai seorang tiran yang paling kejam sepanjang waktu, dan ia menggunakan cara-cara kasar yang menimbulkan perlawanan, terutama sekali di Yerusalem. Para penduduk kota itu terjebak di antara imam-imam durhaka yang bersaingan untuk memperebutkan pimpinan di kota Yerusalem. Antiokhus memadamkan pertentangan itu, membantai beribu-ribu orang, dan merampas segala kekayaan bait suci. Gubernur yang diangkat oleh Antiokhus untuk memerintah Yerusalem juga orang yang kejam. Rakyat merasa dongkol di bawah kekuasaannya.

 IV. Pengaruh pada Sejarah Alkitab. 
sembunyikan teks

Tidak banyak sejarah dari kurun waktu sesudah abad ke-6 sM yang terdapat dalam kitab-kitab yang termasuk kanon Alkitab Protestan. Sebagian besar sastra Yahudi dari kurun waktu ini telah digolongkan sebagai tulisan apokrif ("tersembunyi," kitab-kitab yang ditolak oleh para Pembaharu, tetapi dipandang sebagai memiliki otoritas kanonik oleh gereja Katolik) dan pseudepigrafa ("nama palsu," artinya, ditulis oleh orang lain dan bukan oleh orang yang namanya tercantum). Namun, beberapa tulisan ini memberikan pandangan dari sejarah pada kurun waktu ini dari segi pandangan orang-orang Yahudi yang telah dipengaruhi oleh kebudayaan Helenistis.

Orang Yahudi tidak mudah menerima cara-cara penakluk mereka, seperti orang Persia dan orang Yunani. Walaupun beberapa bangsa menerima adat istiadat penakluk mereka, orang Yahudi berusaha untuk melawan godaan ini.

Tidak semua orang Yahudi kembali ke Yudea. Banyak yang terserak di seluruh Kerajaan Persia, serta mencari kedudukan resmi dan mendirikan komunitas-komunitas baru. Perserakan bangsa dan budaya Yahudi ini telah disebutkan dengan kata Yunani Diaspora.

Sebuah komunitas Yahudi yang agak besar telah menetap di Aleksandria, Mesir, di bawah kerajaan Ptolemeus. Keluarga Ptolemeus memastikan bahwa kota Aleksandria mereka merupakan pusat kebudayaan Helenistis yang setara dengan Atena. Karya seni dan sastra berlimpah-limpah dalam kota metropolitan ini. Arsitektur Aleksandria termasyhur - dari mercusuar Faros yang menjulang tinggi di jalan masuk pelabuhan di sebelah timur sampai ke museum dan perpustakaan besar kota itu. Keluarga Ptolemeus menghimpun banyak sekali kepustakaan yang ada pada masa itu. Udara gurun yang kering di Mesir membantu untuk melestarikan kumpulan besar kepustakaan kuno ini.

Suatu prestasi penting di bidang sastra yang dikerjakan di bawah pemerintahan keluarga Ptolemeus adalah penerjemahan kitab suci Ibrani ke dalam logat Yunani koine. Terjemahan ini dinamakan Septuaginta. (Lihat "Teks dan Terjemahan.") Konon proyek penerjemahan ini telah dibiayai oleh Ptolemeus II Filadelfus sekitar abad ke-3 sM. Menurut tradisi, 72 pakar Yahudi (6 dari tiap suku) dikumpulkan untuk proyek ini dan pekerjaannya diselesaikan dalam 72 hari; kemudian para pakar Yahudi itu disuruh pulang dengan membawa banyak hadiah. Cerita ini mungkin hanya sebuah legenda; tetapi sesungguhnya terjemahan ini adalah hasil, kebulatan tekad orang Aleksandria untuk melestarikan karya-karya tulis yang terkenal pada waktu itu dalam bahasa Yunani.

Septuaginta menjadi sebuah jembatan di antara pemikiran dan kosakata Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Bahasa Perjanjian Baru bukanlah logat koine sehari-hari dari orang Yunani, tetapi logat koine dari orang Yahudi yang tinggal di lingkungan Yunani. Para cendekiawan di seluruh kawasan Laut Tengah mempelajari Septuaginta. Pada zaman Perjanjian Bata, Septuaginta menjadi edisi Perjanjian Lama yang digunakan secara luas.

Orang Yahudi di Aleksandria memakai bahasa Yunani koine sebagai bahasa mereka. Dalam usaha mereka untuk meyakinkan tetangga bukan Yahudi mereka bahwa Allah orang Yahudi adalah Satu-satunya Allah yang benar, mereka menggunakan artikulasi koine, pola sastra Helenistis, dan cara berpikir orang bukan Yahudi. Semua ini tercermin dalam Septuaginta dan banyak karya tulisan Yahudi lainnya, seperti Against Flaccus dan Embassy to Caligula karangan Filo. Helenisme juga mempengaruhi penulisan kitab II dan III Makabe dan Perjanjian Baru. Filo Yudaeus, seorang pengarang Yahudi, adalah Pemikir filsafat yang terkemuka pada zaman itu. Ia mengatakan bahwa Allah Israel adalah Allah para filsuf, dan ia menyamakan ajaran Kitab Suci orang Ibrani dengan ideologi dan etika filsafat Yunani, terutama Platonisme.

Aleksandria juga memainkan peranan penting dalam dunia Kristen yang mula-mula. Sebuah sekolah Kristen di kota tersebut dikepalai oleh beberapa bapak gereja yang terkenal, seperti Klemens dan Origenes; sekolah tersebut berjalan baik dari abad ke-2 sampai akhir abad ke-4 Masehi. Sekolah ini mengajar bahwa Kitab Suci mempunyai tiga anti: yang harfiah, yang moral, dan yang rohani. Yang paling penting dari ketiganya adalah arti yang rohani, dan penggunaan alegori oleh sekolah ini untuk menafsirkan Alkitab melampaui kerumitan metode-metode serupa yang digunakan oleh orang-orang Yahudi Helenistis sebelumnya.

Antiokhus IV kembali ke Yerusalem pada tahun 168 sM dan menghancurkan kota itu, serta membunuh sebagian terbesar kaum pria dan menjual para wanita dan anak-anak sebagai budak. Hanya beberapa pria dapat melarikan diri ke daerah perbukitan di bawah pimpinan seorang imam yang bernama Matatias Hasmoneus.

Dari pangkalan ini putranya, Yudas Makabeus, mengadakan pemberontakan. Kitab. I dan II Makabe memberi uraian yang terperinci tentang perjuangan ini, yang menyebabkan penduduk daerah Yudea membentuk perserikatan dengan Roma. Pergolakan ini akhirnya mengakibatkan keruntuhan beberapa kerajaan Helenistis di bawah kekuasaan Roma yang bertambah besar.

Pada tahun 165 sM para penguasa Yunani telah dihalaukan dari Palestina. Daerah Yudea yang sebenarnya diperintah oleh imam besar, tokoh terpenting dalam agama dan masyarakat Yahudi. Negara Yudea yang baru dikuasai oleh pejabat-pejabat dari sebuah golongan agama.

Sekitar tahun 143 sM Simon, seorang keturunan keluarga Makabe, diangkat menjadi imam besar dan ethnarch. (Ethnarch adalah suatu kedudukan yang mirip sekali dengan seorang raja bawahan pada abad pertengahan. Ia adalah raja dari suatu wilayah tertentu; akan tetapi, ia diberi hak memerintah oleh seorang penguasa yang memerintah daerah yang lebih besar, di mana wilayahnya tercakup.) Simon dan keluarga Makabe melawan usaha-usaha untuk menjadikan Yudea sebuah negara Helenistis. Tetapi usaha-usaha mereka hanya sebagiannya berhasil. Segera Yudea berada di bawah kekuasaan golongan Saduki yang kaya, sebuah golongan yang berhubungan dengan imam besar dan yang cenderung kepada pengaruh Helenisasi. (Untuk bahasan yang lebih luas tentang golongan Farisi dan Saduki, lihat "Orang Yahudi pada Zaman Perjanjian Baru.")

Pengaruh Helenisasi yang halus itu memasuki banyak bidang kehidupan di Palestina. Arsitektur adalah salah satu bidang. Bait suci Yerusalem yang dibangun oleh Herodes Agung adalah salah satu contoh yang terbaik dari Helenisme dalam arsitektur lokal. Bait suci itu dibangun seperti kuil-kuil Helenistis lainnya di bagian timur; gedung bait suci berdiri di tengah-tengah jaringan pelataran yang dikelilingi oleh serambi-serambi bertiang dengan barisan-barisan tiang gaya Korintus yang berdiri bebas.

Kota Kaisarea, yang menjadi ibu kota resmi Palestina di bawah para prokurator, mempunyai bangunan-bangunan yang khas dari sebuah kota Helenistis: sebuah teater, sebuah amfiteater, sebuah hipodrom (arena untuk pacuan), dan sebuah kuil.

Sukar sekali untuk mengenali kesenian Yahudi yang asli karena ah begitu dipengaruhi oleh Helenisme. Juga, kita harus mengingat bahwa Taurat Musa melarang pembuatan patung-patung ukiran. (Kel. 20:4). Larangan ini menghalangi orang Yahudi untuk mengembangkan karya-karya seni rupa yang terkenal.

 V. Pengaruh pada Perjanjian Baru. 
sembunyikan teks

Perjanjian Baru menyebutkan beberapa orang Kristen sebagai "Helenis" (Kis. 6:1; 9:29, RSV). Kita tidak tabu dengan tepat apa yang dimaksudkan. (Beberapa ahli berpendapat bahwa orang-orang ini adalah orang Yahudi dari Diaspora yang telah mengambil gaya hidup Helenistis.) Bagaimanapun juga, orang Kristen lainnya menghina para Helenis ini ketika membagikan bantuan kepada para janda (Kis. 6:1 dst.); dan ketegangan antara para Helenis dan orang Kristen lainnya mengancam akan memecah-belahkan gereja yang mula-mula. Para rasul mengatasi masalah ini dengan mengangkat tujuh orang diaken, termasuk Stefanus, pemimpin orang Helenis, untuk mengawasi pembagian bantuan.

Beberapa penafsir berpendapat bahwa orang-orang Kristen Helenis melakukan sebagian besar pekerjaan pekabaran Injil yang mula-mula di negara-negara bukan Yahudi (bdg. Kis. 8:1-3; 11:19-30). Ini merupakan suatu perkembangan yang logis, tetapi Alkitab tidak memberikan bukti yang konkret tentang hal ini.

Kita menemukan sejumlah pengaruh Helenistis dalam surat-surat Rasul Paulus. Agaknya Paulus telah meresap banyak hikmat Yunani selama bertahun-tahun tinggal di Tarsus karena ia sanggup mengungkapkan Injil dalam kata-kata yang dapat dipahami dengan mudah oleh pikiran orang Yunani.

Sepanjang surat-suratnya, Paulus berusaha untuk menyampaikan "hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah" (I Kor. 2:10). Sering kali ia menggunakan konsep-konsep filsafat Yunani untuk melakukan hal tersebut. Misalnya, ia menguraikan bagaimana Kristus mempersatukan orang bukan Yahudi dan orang Yahudi di dalam "satu manusia baru" yang dapat bersekutu dengan Allah (Ef. 2:15). Ia berbicara tentang Kristus yang ada "dalam rupa Allah", namun mengambil "rupa seorang hamba" (Fil. 2:6-7) atau yang adalah "gambar (manifestasi yang kelihatan) Allah yang tidak kelihatan" (Kol. 1:15). Pernyataan-pernyataan ini berkobar dalam pikiran orang Yunani yang sangat memahami ajaran Plato tentang rupa yang kelihatan dan ideal yang tidak kelihatan.

Adakalanya, Paulus menafsirkan berbagai kejadian di Perjanjian Lama secara alegoris, seperti yang biasanya dilakukan oleh para penulis Yahudi Yang Helenistis. Contoh yang terbaik adalah tafsirannya tentang kisah Sara dan Hagar. Ia menjelaskan bahwa pengalaman mereka adalah suatu alegori dari orang-orang yang masih hidup di bawah Perjanjian lama sedangkan orang lain hidup di bawah perjanjian baru Kristus (Gal. 4:21-31). Seperti yang kita lihat, para pemikir Helenistis di Aleksandria kemudian mengembangkan metode penafsiran ini sampai ke puncaknya.

Namun, filsafat Yunani tidak memberikan isi pokok dari ajaran-ajaran Paulus. Pikiran Paulus berbeda sekali dengan para pemikir Yunani; sebenarnya, kadang-kadang ia berseteru terhadap mereka. Ia memberi tahu orang Kolose, "Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus" (Kol. 2:8).

William M. Ramsay, seorang ahli sastra dan bahasa klasik, menyatakan bahwa "pengaruh pemikiran Yunani pada Paulus, meskipun nyata, semata-mata terdapat di luar saja. Helenisme tidak pernah menyentuh hidup dan hakikat Paulinisme ... tetapi memang sangat mempengaruhi pengungkapan ajaran Paulus ... "51

 VI. Dunia Romawi: Kebudayaan Yunani.
sembunyikan teks

Setelah Yudea jatuh ke tangan orang Romawi pada tahun 63 sM, hanya Mesirlah yang tersisa dari kerajaan-kerajaan Helenistis. Mesir bertahan sebagai sebuah negara berdaulat sampai tahun 31 sM, ketika para jenderal Romawi Octavianus (Augustus) dan Markus Antonius berperang .dalam Pertempuran Aktium. Markus Antonius telah menikah dengan Ratu Cleopatra dari kerajaan Ptolemeus; demikianlah kekalahannya membuat Mesir takluk kepada kekuasaan Roma.

Angkatan perang Romawi mendatangkan kesatuan militer dan Pemerintahan kepada kerajaan Helenistis yang telah retak. Roma menjadi pusat pemerintahan. Pelantikan Augustus sebagai kaisar Romawi pada tahun 27 sM menandakan berakhirnya periode Helenistis dan Permulaan periode kekaisaran Romawi.

Yunani tidak lagi menjadi suatu kekuatan politik: tetapi budaya dan jiwa Yunani telah merupakan dasar budaya kekaisaran Romawi. Seperti yang dikatakan oleh Horatius, seorang penulis Romawi, "Yunani yang tertawan telah menawan penakluknya." Kesenian, sastra, dan gaya pemerintahan Helenistis berkembang dengan subur hampir sepanjang periode Romawi ini. Bahkan bahasa Yunani koine tetap menjadi bahasa resmi dunia usaha di Timur Dekat, dan Perjanjian Baru ditulis dalam bahasa tersebut.

Dua aliran filsafat Yunani berkembang selama periode Romawi. Keduanya menawarkan jalan menuju kebahagiaan pribadi, tetapi jalan-jalan itu bertentangan arah. Aliran Stoa berpendapat bahwa untuk memerdekakan pikiran kita, kita harus mengendalikan, menyangkal, dan bahkan mengabaikan keadaan jasmani kita. Di pihak lain, aliran Epikurus mengajar bahwa keadaan jasmani harus dipuaskan agar pikiran kita mengenal kebahagiaan. Demikianlah, para filsuf Aleksandria mengabadikan jiwa dan budaya Atena abad ke-5. Dengan berbuat demikian, mereka telah mengabadikan jiwa Yunani kuno.



TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA