Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 4 No. 1 Tahun 1989 >  RUANG: HT KE HT > 
SHARING 
sembunyikan teks

Sharing Pdt. Petrus ini disampaikan dalam bentuk wawancara oleh Pelita Zaman, yang diadakan di rumah beliau pada tanggal 19 Januari 1989.

PZ: Apakah di Gereja Bapak ada Departemen Pembinaan secara khusus? Kalau ada apa-apa saja yang menjadi tugas dan fungsi utama dari departemen tersebut?

PP: Ada tetapi istilahnya bukan Departemen Pembinaan melainkan KPAPI, yaitu Komisi Pembinaan Awam/Pekabaran Injil. Setelah tahun 1974 otonomisasi gereja-gereja GKI di Surabaya terjadi, maka khususnya untuk Sulung KPAPI dijadikan KPPAG & KPI (tahun 1975) yaitu singkatan dari Komisi Pembinaan & Partisipasi Anggota Gereja dan KPI singkatan Komisi Pekabaran Injil. KPPAG maupun KPI ini paralel dengan KPIKPPAG Sinode, tugasnya sama tetapi Sulung yang merintis pemisahan ini.

Tugas pokok KPPAG adalah pembinaan jemaat yang terdiri dari:

1. Pembinaan Kader; kader pimpinan gereja terutama yang bukan majelis.

2. Mengatur peralihan dari Komisi Anak ke Remaja; Remaja ke Pemuda. Pada tahun 1975 - 1978 peralihan diatur sehingga KA, KR, KP untuk sementara. dijadikan satu kemudian dipisahkan lagi. Maksudnya supaya kalau KA itu umurnya sudah 12 tahun dipindah ke Remaja dan Remaja ke Pemuda lalu ada semacam upacara khusus. Antara Anak Remaja; Remaja - Pemuda ada semacam penampung namanya Badan persiapan Remaja, Pemuda. Jadi pembinaan kader itu juga termasuk membina kader untuk wadah-wadah ini.

3. Mempersiapkan kursus bertahap, ini dimulai sejak tahun 1971. Kursus ini diberikan kepada sejumlah orang, waktu itu 60 orang supaya mereka bisa melayani di sektor-sektor, biston pagi, membantu dalam PA. Yang diberikan adalah hal-hal praktis yaitu cara mengajar, cara membuat renungan, dan sebagainya.

Pengikutnya ada yang remaja, pemuda, dan orang tua. Dalam prakteknya dari 60 orang yang di bina selama 6 bulan penuh ini yang 50% sungguh-sungguh mau melayani, dan sebagian menjadi majelis yang sekarang ini. Rencana program ini bertahap tetapi karena saya 'single Fighter' akhirnya tertunda. Kemudian diadakan selingan misalnya seperti Sel Grup, Persekutuan antar keluarga, Sekolah Alkitab Malam, kamp-kamp, dan sebagainya. Saya sendiri pada tahun 1976 berada di Inggris, sehingga kursus bertahap ini baru berjalan baik mulai akhir tahun 1981.

PZ: Kami tertarik dengan istilah "partisipasi" yang dipakai dalam KPPAG, tolong dijelaskan lebih jauh, karena tadi Bapak lebih menekankan faktor pembinaannya.

PP: Istilah sekarang adalah peran serta, orang yang di bina tetapi tidak ikut partisipasi tidak ada gunanya. Dan memang setengah dari yang 60 orang mereka mau di bina, mau diisi tapi disuruh langsung ke lapangan tidak mau. Jadi tidak ada partisipasinya, hanya menggali ilmu tetapi tidak dipakai. Ternyata bahwa pembinaan kalau tidak diikuti dengan partisipasi hanya buang uang banyak. Untung hal ini segera kami sadari.

PZ: Bagaimana cara Bapak mengusahakan pembinaan (menyeluruh) kepada jemaat? Bagaimana realita keberhasilannya? Misalnya apakah ada survei khusus berapa persen jemaat Bapak yang terlibat dalam pelayanan, berapa persen yang bersaat teduh, berapa persen yang suka membaca buku-buku rohani, dan sebagainya?

PP: Ada 2 atau 3 kali kami mengadakan semacam angket jemaat dan itu justru diadakan setelah saya pulang dari Inggris (tahun 1977).

Angket pertama, ada 30% yang kembali dan yang 70% tanpa kabar, pertanyaannya terlalu luas, kira-kira ada 40 pertanyaan disamping nama, umur, pendidikan, saat teduh, dan macam-macam.

Angket kedua, lebih banyak yang kembali hampir 60%. Ternyata ada catatan-catatan di bawah, orang tidak senang ditanya tentang latar belakang pendidikan. Tidak senang karena malu, mungkin kalau nanti di Komisi diketahui bahwa pendidikannya hanya SD, tetapi ada juga yang menulis dengan jujur.

Angket ketiga, rupanya orang-orang gandrung untuk pembinaan sistim yang disebut kursus Alkitab malam, Kursus Alkitab malam Sulung ini pertama kali dibuka bersamaan dengan Sekolah Alkitab Malam (SAM) YPPII Batu. Mereka membuka pada bulan September 1982. Sulung membuka pada bulan Oktober, jadi hanya terpaut 1 bulan dengan ide yang sama. Di luar dugaan kalau PA kadang-kadang hanya. 20 - 30 orang tetapi sekolah Alkitab malam ini ratusan yang datang. Jadi kami lebih sadar bahwa ternyata jemaat itu tidak malas. Akhirnya sampai gedung yang di atas dirombak, ruang pertemuan di bawah. Semuanya tertarik pada pembinaan itu sampai diikuti oleh mereka yang membantu dalam hal keuangan, sehingga bisa membeli kursi, kipas angin. Jadi mereka itu sebetulnya bukan tidak mau tetapi mau malahan rela berkorban untuk itu. Kemudian diikuti juga oleh Embong Malang, dan ternyata hasilnya sama, kalau begitu orang-orang yang disebut Protestan itu bukan orang yang tidak mau di bina.

PZ: Jadi bagaimana kesimpulan Bapak tentang persentasi jemaat yang mau di bina?

PP: Persentasi jemaat di Sulung yang mau ikut Sekolah Alkitab malam ini yang tua ada 40%, yang muda 10%, dan sisanya campuran termasuk orang luar, ada orang Pantekosta, dari Embong Malang, dan sebagainya. Jadi dengan kata lain minat kebanyakan orang yang sudah setengah baya artinya usia 30 - 40 tahun lebih besar, sedangkan peserta yang muda itu kebanyakan mereka yang menganggapnya sebagai perlengkapan untuk melayani. Jadi belum menjangkau sampai kepada unsur muda yang lebih banyak, belum sampai target yang diharapkan.

PZ: Bagaimana cara Bapak menyusun program, mungkin tahunan, atau bahkan 3 tahun, ada gereja-gereja yang sekaligus membuat rencana jangka panjang selama 15 - 20 tahun. Bagaimana pendapat Bapak tentang hal ini?

PP: Sejak tahun 1975 kami merencanakan program untuk 5 tahun yaitu 1975 - 1980, 1980 - 1985, dan 1985 - 1990 (tiap 5 tahun) dan tema seluruhnya sejak tahun 1975 sampai tidak tahu kapan yaitu 'Jemaat Misioner'. Tiap 5 tahun kami mempunyai tema sendiri, misalnya tahun 1985 - 1990 yaitu 'Jemaat Yang Dewasa' itupun kami bertahap artinya tiap-tiap tahun ternyata harus ada yang terpaksa digabung 2 tahun karena tidak mencapai target. 5 tahun itu paling top lebih dari itu rasanya tidak mungkin:

1. Karena umur majelis 3 tahun, paling lama majelis GKI itu 6 tahun. Setahun dia berhenti, sehingga apabila lebih dari itu kontinuitas akan terganggu.

2. Tidak pasti orang itu tetap di GKI Sulung, soalnya yang full timer 'kan hanya pendeta dan pendeta pun tidak bisa dibayangkan bahwa dia selamanya melayani di satu tempat. Saya saja sudah 19 tahun sebetulnya sudah agak luar biasa. Mestinya pendeta itu menurut saya paling tidak di satu jemaat bisa 6 tahun itu sudah bagus tapi kalau baru 3 tahun belum bisa apa-apa.

Mengenai prosesnya ada 3 yaitu:

1. Majelis gereja mengadakan rapat terlebih dulu.

2. Rapat komisi sendiri.

3. Rapat konsultasi majelis dan komisi tiap bulan.

Nah tentu saja di dalam ke semua proses ini peranan saya sebagai gembala sidang penting sekali, apalagi pada waktu itu saya juga Ketua Majelis. Saya percaya dalam satu gereja, Pendeta adalah motor namun perlu disadari agar jangan sampai semuanya tergantung kepada Pendeta, kesadaran hal ini datang kepada saya kemudian.

Di GKI Sulung ada 2 x (kali) rapat konsultasi penyusunan program kerja yang cukup besar, yaitu pada tahun 1.975 di Petra Kalianyar, dan pada tahun 1980 di Gelael, jadi setiap akhir periode 5 tahun.

Perlu diketahui sejak kedatangan Pdt. Natanael sistemnya sedikit berubah, karena waktu itu saya single fighter (akhir tahun 1980). Setelah itu ada pikiran-pikiran baru untuk membenahi sistemnya. Pada tahun 1985 diadakan pembidangan, yaitu:

- Bidang 1, meliputi komisi yang bermasa; KA, KR, KP, dan KW.

- Bidang 2, KPPAG, KPI, Beasiswa, Cabang Demak untuk menjadi dewasa.

- Bidang 3, Administrasi, keuangan, dan penatalayanan.

Ada catatan kecil dari langkah pembinaan, ternyata struktur organisasi perlu dipikirkan. Pembinaan tidak hanya manusia yang diisi dan tidak hanya supaya manusia berpartisipasi tetapi struktur organisasi perlu dibenahi. Pembinaan tidak mungkin kalau struktur organisasi gereja tidak dibenahi, apalagi kalau single fighter. Untung saya pendeta jadi masih bisa diajak bicara tapi kalau misalnya ketua itu adalah orang yang punya duit atau apa, dia menentukan dan dia sudah tidak mau ada pembaharuan, maka bahaya bagi gereja tersebut dan saya sadar.

PZ: Ada yang mengatakan bahwa jemaat sekarang lebih kritis, apakah Bapak ada persiapan-persiapan khusus untuk memperlengkapi jemaat dalam menghadapi tantangan zaman di mana ilmu pengetahuan semakin bertambah-tambah ini?

PP: Lebih dulu perlu dijelaskan istilah kritis, kalau kritis dalam pengertian bahwa kita harus menyesuaikan dengan kecanggihan, alat modern dan teknologi dan sebagainya, barangkali perlu kita pergumulkan. Karena Alkitab, Firman Allah itu sendiri selalu relevan sepanjang masa itu sudah jelas. Hanya sekarang bagaimana mendaratkan kepada jemaat supaya itu menjadi konsumsi yang segala zaman, termasuk zaman sekarang itu yang barangkali penting. Kalau Firman Allah kita akui bahwa dia kekal, tetap canggih.

Mengenai kritisnya menurut saya ada 2 yaitu:

1. Apakah bisa menjawab pertanyaan, misalnya janganlah kamu kuatir akan hari esok. Sebab tiap hari ada kuatirnya, tapi orang toh paling tidak harus menyimpan kebutuhan untuk makan 1 bulan, beda dengan zaman Tuhan Yesus.

2. Kritis menurut perkiraan saya yaitu Pendeta dan majelis harus diperlengkapi. Dulu setiap 3 tahun saya selalu belajar kalau tidak di luar negeri ya belajar di tempat lain.

Dalam lingkungan GKI Surabaya ada tradisi yaitu; setiap Jumat pertama semua pendeta berkumpul, dalam pertemuan tersebut para pendeta diminta untuk membicarakan 1 topik, kedua diminta misalnya mengambil tokoh Islam, mereka diminta untuk memberikan penjelasan tentang bidangnya. Ketiga, bisa juga seorang businessman/woman diminta untuk ceramah supaya para pendeta bisa mengikuti. Seperti yang sering dikatakan misalnya; Pergumulan saya yang paling berat adalah bahwa kadang-kadang pimpinan kita di Pusat, tolong ya disediakan..... kamu tahu kan, (wanita dan sebagainya). Bagaimana saya sebagai Kristen, sedangkan Pendeta mengatakan itu kotor, porno, berzinah, tapi bagaimana pergumulan jemaat kita. Bagaimana supaya bisa mendapat ijin tanpa suap. Pendeta mengatakan itu suap, jelek, melanggar perintah Tuhan. Bagaimana jemaat yang menghadapi langsung. Oleh karena itu kami bertemu dengan seorang businessman, dengan kelompok orang Yahudi, dengan orang Islam, dengan orang Katolik. Sehingga tahun 1974 - 1977 kami sangat dekat dengan Katolik, sampai ada pernikahan campuran dan sebagainya di Surabaya, yaitu karena meeting-meeting ini.

Dulu kami ingin mencapai seluruh pendeta di Surabaya (GKI & Katolik), dengan yang lain belum bisa sebab kalau dilembagakan/diorganisasikan akan mati. Seperti Bamag itu hanya rutin, formalitas, paskah, natal. Di dalam menghadapi kritis ini ada 3 hal yang bisa saya simpulkan:

1. Pendeta itu sendiri harus mau diperlengkapi melalui tambahan entah aplikasi, kursus, entah ambil titel kalau mungkin.

2. Belajar bersama dengan Pendeta lain.

3. Bersedia untuk mengadakan pertemuan-pertemuan dengan tokoh-tokoh.

PZ: Apakah ada tantangan-tantangan di dalam menyusun program, atau pembinaan baik kepada jemaat atau aktivis gereja? Bagaimana cara mengatasinya?

PP: Yang sudah pasti itu "Man behind the gun" itu menentukan. Man-nya itu bisa pendetanya sendiri, bisa majelis dan gun. ini macam-macam. Dalam pengertian bahwa unsur manusia itu menentukan. Penghalang yang selama ini saya lihat itu:

1. Bisa dari pendeta sendiri, apakah dia siap sebetulnya untuk bisa meraih dan bekerja sama dengan orang lain. Dengan tidak menganggap dirinya lebih tahu dari orang lain.

2. Jemaat yang berlatar belakang keturunan atau asli Tionghoa lebih cenderung pada bisnis dengan pengertian mereka no time untuk hal-hal yang sifatnya rohani di gereja secara penuh. Kecuali mereka yang mau kursus atau sekolah Alkitab. Mereka ingin menjadi anggota yang baik dalam pengertian mereka, bukan menjadi serupa dengan Yesus. Baik itu rajin, kalau perlu ya bantu-bantu jadi majelis dan sebagainya, tidak lebih dari itu. Masih ada pemikiran atau konsep-konsep seperti itu. Sehingga tadi saya katakan bahwa pernah ada penghalang bahwa orang mau diutus tetapi disuruh kerja tidak mau, jadi hanya konsumtif, terima saja.

3. Rupanya konsep bergereja masih harus di bina terus bahwa gereja itu adalah tubuh Kristus, Bait Allah. Masih ada orang yang berpikir bahwa gereja itu seperti kumpulan dan pendeta dibayar untuk kerja dan dinilai oleh jemaat/majelisnya. Jadi pemikiran-pemikiran ini menurut saya sangat keliru. Sebetulnya gereja, tubuh Kristus itu harus bertanggung jawab kepada Kristus sebagai kepala, termasuk jemaat, pendeta, anggota majelis, dan komisi. Jadi misalnya laporan tahunan, itu bukan majelis dan pendeta mempertanggungjawabkan kepada jemaat, konsepsi seperti itu adalah keliru. Jemaat dan majelis gereja bersama-sama bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Gereja hakekatnya adalah 3 yaitu: Persekutuan; Kesaksian; dan Pelayanan. Tugas pimpinan adalah melengkapi (Efesus 4:11-16) supaya mereka melayani, tapi karena konsep yang salah mereka minta dilayani dan untuk itu pendeta dibayar. Itu merupakan konsepsi yang sudah bertahun-tahun keliru. Kalau pendeta tidak tahan maka akan frustrasi untuk itu konsep bergerejanya harus dirombak. Kemudian konsep yang keliru lagi ialah pendeta jangan berpikir/berbicara soal uang, justru pendeta harus bicara soal uang, berani berkata soal persembahan. Nah untuk itu pendeta jangan mata duitan memang betul. Berarti punya wibawa kalau bicara. Katanya kalau pendeta di gereja sendiri sulit bicara soal persembahan, nanti asosiasi orang wah pendeta ini kurang honorariumnya. Karena bergereja itu uang termasuk di dalamnya untuk dipakai sebagai alat membangun gereja. Sekarang dengan adanya sistim bidang dan sistim kerjasama penghalang tersebut sudah berkurang.

Konflik yang nomor satu adalah konflik dalam diri sendiri, karena merasa bahwa semua tidak mau bekerja dan hanya bergantung saya, konflik kedua mengganggu ketenangan keluarga, tidak ada waktu dengan keluarga. Hubungan saya dengan istri dan anak kurang baik. Oleh karena yang dipikirkan adalah bagaimana gereja ini baik, dan sering kali saya beberapa saat semacam frustrasi. Sehingga saya sering kali bertukar pikiran dengan misalnya Romo Yohanes, mengadakan retret pribadi, dengan kakak rohani Pdt. Hanna Sebaja, dan teman lainnya. Konflik dengan pimpinan gereja tentunya ada, tetapi yang paling klimaks adalah antara tahun 1983 - 1985. Pada waktu itu saga merasa bahwa pendukung saya cukup banyak, tetapi justru melalui peristiwa itu Tuhan sungguh-sungguh membentuk saya, saya belajar mendapatkan kemenangan dari mengalah. Saya kira ada kalanya Tuhan mengijinkan sesuatu yang sangat pahit terjadi dalam pelayanan kita, untuk menghancurkan kesombongan kita. Dan saya memilih memelihara keutuhan jemaat GKI Sulung yang telah saya bina sendiri selama lebih 15 tahun daripada meneruskan proyek yang saya rencanakan itu.

PZ: Sebagai pendeta yang lebih 15 tahun melayani dalam 1 jemaat, apakah menurut Bapak ada keuntungannya, bagaimana dengan kecenderungan para hamba Tuhan sekarang yang cepat pindah ladang.

PP: Saya mungkin keluaran setengah kuno, sekolah teologia itu menyekolahkan orang untuk jadi pendeta ini konsep lama dan saga masih tetap berpendirian itu. Oleh karena itu saga berpikir bahwa sekolah teologia dan gereja itu harus bekerja sama dengan baik. Tidak sekedar hanya suplayer dalam pengertian ini ada tenaga baik tapi dalam arti menyelidiki kebutuhan gereja-gereja.

Kedua, soal waktu, saya kira seorang pendeta itu sebaiknya di satu jemaat antara 5 sampai paling tinggi 10 tahun. Kenapa sekarang ini saya sudah 19 tahun ada 2 sebab:

1. Orang ngeri masuk Sulung karena ini gereja yang paling tua di antara GKI lain.

2. Orang mungkin ngeri pada saya, saya baru tahu kemudian, ngeri karena saya selalu berpikir tentang pembinaan-pembinaan, mereka khawatir tidak mengikuti saya. Artinya tidak bisa berkawan, sedangkan saya orangnya bukan seperti yang dibayangkan, saya bisa bekerja sama dengan anak yang paling muda sekalipun. Dan saya berpikir kalau ada pendeta ke-3 masuk di Sulung. ini saatnya saya mempertimbangkan untuk mengundurkan diri. Saya setuju bahwa alih generasi/pimpinan itu sangat penting bukan hanya di masyarakat, sekolah Kristen, tapi di gereja. Saya tidak setuju bahwa pendeta itu walaupun di tata gereja GKI disebut setelah 3 tahun pendeta mendapat kesempatan mutasi atau beralih gereja. Saya tidak setuju dalam arti prakteknya bahwa pendeta itu setiap 3 tahun pindah, bukan saja bahwa jemaat itu kurang akrab atau belum bisa apa-apa. Nanti pada tahap yang berikutnya anaknya akan terbentur sekolahnya.

PZ: Apakah ada pesan-pesan khusus untuk para hamba Tuhan muda usia seperti kami-kami ini.

PP: Menurut saya secara Alkitabiah gereja itu adalah merupakan bagian awal dalam kerajaan Allah. Dalam pengertian bahwa gereja itu adalah semacam training center di mana kita ini sebagai pewarisnya dipersiapkan. Karena itu seorang hamba Tuhan termasuk saya adalah orang yang memang dipercaya oleh Kristus untuk mempersiapkan pewaris-pewaris kerajaan Allah dengan baik:

Pertama: Jadilah calon pewaris kerajaan Allah yang baik, tidak karena wah di gereja itu saya dibayar cukup. Ketika saya datang di Sulung, dapat dikatakan adalah jemaat yang paling prihatin keuangannya di antara 4 GKI yang lain dan tunjangan hidup saya waktu itu sampai ditambahi oleh 3 orang. Tapi sekarang Sulung kalau tidak sebanding ya di atas itu. Saya berkata bahwa berkat Tuhan itu akan diberikan kepada orang yang bekerja dengan baik, berkat tidak akan diberikan kepada orang yang malas. Saya tidak pernah merasa apa yang disebut kekurangan itu. Jadi tolong bahwa hamba-hamba Tuhan tidak hanya tertarik masuk di gereja itu karena jaminannya (masa depan cerah).

Kedua: Jangan diukur dengan mampunya gereja. Kalau kita merasa terpanggil di situ maka berkat Tuhan luar biasa.

Ketiga: Saya bersyukur bahwa dari keluarga yang kebatinan dan Islam justru saya dibentuk. Bagi saya kalau ada sesuatu yang negatif atau yang membuat frustrasi dalam gereja, terimalah itu sebagai alat pembentukan pribadi.



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA