Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  6. Orang Mesir >  III. Agama dan Sejarah. > 
H. Periode Ptolemeus. 
sembunyikan teks

Aleksander Agung menaklukkan Mesir pada tahun 332 sM. Ia wafat sembilan tahun kemudian dan keluarga Ptolemeus mengambil pimpinan atas Mesir dan Palestina. Wangsa Ptolemeus menempatkan anggota-anggota dari keluarga mereka sendiri atas takhta di Thebes, dan mereka berupaya untuk mengembalikan kemuliaan zaman emas Mesir. Misalnya, Ptolemeus Euergetes II mendewakan Amenhotep I pada tahun 140 sM.; dengan menghormati firaun ini yang mendirikan Kerajaan Baru di Mesir, Euergetes berharap dapat berlagak sebagai seorang Mesir tulen. Akan tetapi, orang pribumi Mesir hanya memberikan kesetiaan yang tidak sungguh-sungguh. Ia harus mengandalkan pasukan Romawi untuk melindungi dirinya dari serangan kerajaan Seleukeia di bagian utara Palestina.

Pompeius, jenderal Romawi, merebut Yerusalem pada tahun 63 sM. dan mengatasi ancaman wangsa Seleukus; tetapi Mesir berada di ambang keruntuhan. Pada akhirnya muncullah Kleopatra dari wangsa Ptolemeus dan berusaha untuk menyelamatkan bangsa itu oleh tipu daya politik dan uang suap. Kleopatra mencari persahabatan dari Augustus Caesar dan Markus Antonius; tetapi ketika armada Caesar mengalahkan armadanya di Aktium pada tahun 30 sM, Kleopatra bunuh diri karena kehilangan harapan. Sejak waktu itu, Mesir dilindungi oleh kekaisaran Romawi.

Selama masa pemerintahan mereka yang singkat di atas takhta Mesir, para penguasa Helenis membangun kota-kota Yunani di daerah pantai Mesir dan membawa orang Yunani yang menetap di negeri itu. Dengan demikian mereka menambahkan unsur-unsur asing kepada cara hidup Mesir, terutama pada agama Mesir.

Orang Mesir lebih terbuka pada proses Helenisasi daripada orang Yahudi. (Lihat "Orang Yunani dan Helenisme.") Para imam menamai dewa-dewa Mesir menurut nama dewa Yunani yang seimbang dengannya: Horus menjadi Apollo; Thoth menjadi Hermes; Amun menjadi Zeus; Ptah menjadi Hefaistos; Hathor menjadi Afrodite; dan demikian seterusnya. Orang Mesir memuja para penguasa Ptolemeus dan istri mereka, sama seperti mereka telah memuja firaun mereka.

Orang Yahudi yang menetap di Mesir selama pembuangan di Babel telah membangun berbagai komunitas Yahudi yang berkembang dengan baik di sana. Gulungan-gulungan papirus dalam bahasa Aram menunjukkan bahwa sebuah koloni penting orang-orang Yahudi terdapat di Aswan, di pulau Elefantin. Kelompok ini kurang mematuhi Taurat Musa dan akhirnya mereka meniadakan korban binatang. Tidak lama sesudah tahun 404 sM komunitas itu dibinasakan.

Keadaan komunitas Yahudi lainnya lebih baik dan di bawah pemerintahan wangsa Ptolemeus mereka memperoleh kedudukan hukum. Surat Aristeas menyatakan bahwa Ptolemeus I membawa lebih dari 100.000 orang Yahudi dari Palestina dan memakai mereka sebagai tentara upahan dalam angkatan bersenjata Mesir. Orang-orang Yahudi ini meneruskan ibadah mereka kepada Allah, tetapi mereka sanggup menyesuaikan diri dengan cara hidup Yunani-Roma.

Tanda-tanda penerimaan pajak yang kuno menunjukkan bahwa di Mesir ada orang-orang Yahudi yang bekerja sebagai pemungut pajak. Orang Yahudi juga mengisi jabatan-jabatan lain dalam pemerintahan. Dalam sepucuk surat yang ditulis Klaudius kepada warga kota Aleksandria, ia meminta agar orang-orang Yahudi tidak diizinkan untuk mencalonkan diri untuk jabatan gymisiarch, yang mengurus pertandingan-pertandingan atletik yang dibenci oleh orang-orang Yahudi yang keras (bdg. I Mak. 1:14-15).

Filo, sejarawan yang kuno, mengatakan bahwa sejuta orang Yahudi tinggal di Mesir. Mereka sedikit sekali mengetahui bahasa Ibrani atau Aram. Karena itu, Alkitab Ibrani diterjemahkan ke bahasa Yunani, versi Septuaginta. Orang Yahudi di Aleksandria yang mula-mula menggunakan Septuaginta; kemudian Alkitab ini dibaca di sinagoge di seluruh Imperium Romawi.

Filo dari Aleksandria adalah filsuf Yahudi yang mengambil gagasan-gagasan Yunani dari filsafah aliran Stoa dan Plato. Ia membalut kepercayaan Yahudi dalam berbagai kategori pemikiran filsafah Yunani. Dari Aleksandrialah datang penafsiran alegoris dari Alkitab. Kota Mesir ini menjadi pusat penting dari kesarjanaan Yahudi pada periode intertestamental. (Lihat Orang Yahudi pada Masa Perjanjian Baru.")

Ketika Maria dan Yusuf menyembunyikan bayi Yesus di sana pada sekitar tahun 4 sM (Mat. 2:13-15), beberapa komunitas Yahudi masih ada di daerah Delta Nil di mana mereka telah menetap pada zaman Yeremia. Kami menganggap bahwa Maria dan Yusuf telah mendapat perlindungan di salah satu desa ini.

PERIODE-PERIODE DALAM SEJARAH MESIR

PERIODE-PERIODE DALAM SEJARAH MESIR
Periode
Tanggal
Peristiwa Alkitab
I. Awal Periode Wangsa (Wangsa 1-2) 3100-2800 sM
II. Kerajaan Lama (Wangsa 3-6) 2800-2250 sM
III. Periode Peralihan Pertama (Wangsa 7-9) 2250-2000 sMAbraham datang ke Mesir
IV. Kerajaan Pertengahan (Wangsa 9-12) 2000-1786 sMYusuf dan Yakub datang ke Mesir
V. Periode Peralihan Kedua (Wangsa 13-17) 1786-1575 sMPeriode Hiksos (± 1667-1559 sM)
VI. Kerajaan Baru (Wangsa 18-20) 1575-1085 sMPeristiwa Keluaran (1446 sM)
VII. Periode Peralihan Ketiga (Wangsa 21-25)1085-663 sM Sheshonk I ("Sisak') merusak Bait Allah (927 sM)
VIII. Akhir Periode Wangsa (Wangsa 26-31) 663-332 sM Pembuangan (586 sM); para pengungsi melarikan diri ke Mesir
IX. Periode Ptolemeus 332-30 sM
X. Zaman Romawi 30 sM-395 TMMaria dan Yusuf melarikan diri ke Mesir (4 sM)


TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA