Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  6. Orang Mesir >  III. Agama dan Sejarah. > 
E. Kerajaan Baru. 
 sembunyikan teks

Secara resmi Kerajaan Baru mulai ketika putra Ahmose, Amenhotep I, mengganti dia pada tahun 1546 sM. Perhatikanlah bahwa Amenhotep menamakan dirinya menurut dewa ayahnya, Amun-Re; ia juga menyebut dirinya "Putra Re".

Secara berangsur-angsur orang Mesir mulai berpikir tentang firaun mereka sebagai dewa dalam keadaan manusia, dan mereka menyembah firaun sebagai dewa. Misalnya, sejarah resmi Mesir menunjukkan bahwa ketika Thutmose II wafat (kr. thn. 1504 sM) ia "pergi ke surga dan bersahabat dengan dewa-dewa.40

Firaun-firaun lain dari Kerajaan Baru mengikuti kebiasaan untuk menamai diri mereka menurut Amun-Re (misalnya, Amenophis, Tutarikharren). Ketika Hatshepsut mengambil kekuasaan firaun setelah wafatnya Thutmose II (dialah satu-satunya wanita yang berbuat demikian), ia menamai dirinya "Putri Re". Ia menggambarkan dirinya sebagai "semata-mata ilahi", dan mengatakan bahwa semua dewa Mesir telah berjanji akan melindungi dirinya.

Putranya Thutmose III, juga menganut gagasan perlindungan para dewa ini untuk sang firaun. Ketika panglimanya, Djehuti, meraih kemenangan besar di Yope, ia mengirim berita kepada Thutmose III yang berbunyi, "Bersukacitalah! Dewa tuan, Amun, telah menyerahkan musuh Yope kepada tuan, seluruh rakyatnya, dan seluruh kotanya. Utuslah orang-orang untuk membawa mereka sebagai tawanan agar tuan dapat memenuhi rumah ayah tuan, Amun-Re, dengan budak-budak laki-laki dan perempuan ....41

Firaun-firaun berikutnya dari Kerajaan Baru, terutama Amenhotep III (1412-1375 sM) membangun makam-makam besar untuk diri mereka. Makam-makam itu memuji kekuatan Amun-Re yang merupakan klaim mereka atas keabadian.

Amenhotep IV menghindari pemujaan Amun-Re karena dewa matahari, Aton. Ia mengubah namanya menjadi Akhenaton dan membangun sebuah ibu kota baru di Amarna, di mana ia berusaha menegakkan Aton sebagai dewa baru yang universal di Mesir. Akan tetapi, ketika ia wafat pada th. 1366 sM, penggantinya, Tutankhamen memindahkan ibu kota kembali ke Thebes dan mengembalikan Amun-Re sebagai dewa yang utama di kerajaan itu. Di makam Tutankhamen terdapat banyak simbol Osiris, dewa orang mati; dan bukti lain menunjukkan bahwa pemujaan Osiris menjadi lebih menonjol pada Waktu ini.

Raja Ramses I yang sudah tua memulai wangsa ke-19 dengan pemerintahannya selama setengah tahun yang singkat (1319-1318 sM)

Wangsa ini menghidupkan kembali kemuliaan Mesir kuno selama masa yang singkat, sesudah kekacauan politik yang disebabkan oleh Akhenaton. Putra Ramses, Seti I, mengadakan perang penaklukan yang baru sampai memasuki Palestina serta menghalau bangsa Het.

Para firaun dari wangsa yang baru ini mendirikan ibu kota mereka di Karnak di kawasan Delta Nil. Walaupun mereka masih menyembah Amun-Re, pemujaan kepada Osiris diangkat ke tingkat baru perkenanan raja. Mereka meresmikan kota Abydos untuk menghormati Osiris dan memuliakan dewa orang mati ini dalam makam-makam megah mereka di Abu Simbel dan kuil-kuil di Medinet Habu. Para firaun Ramses juga memajukan penyembahan kepada Re-Harakhti. Dalam diri dewa ini mereka menggabungkan sifat-sifat Horus (dewa langit) dan Re (dewa matahari). Namun, mereka masih menganggap Amun-Re sebagai kepala dewa dari sistem agama mereka.

Ramses II memilih putranya, Merneptah, untuk mengganti pada tahun 1232 sM. Merneptah dan raja-raja berikutnya secara berangsur-angsur kehilangan kekuasaan yang telah diperoleh raja-raja Ramses, tetapi Merneptah melancarkan serangan-serangan yang tak kenal ampun terhadap Palestina. Para arkeolog telah menerjemahkan sebuah inskripsi dari sebuah tiang batu yang dinamakan Batu Peringatan Israel. Pada batu peringatan ini Merneptah telah menggambarkan berbagai kemenangannya di daerah itu, "Askelon dibawa pergi: Gezer direbut; Yanoam dijadikan seperti kota yang tak pernah ada: Israel telah dirusakbinasakan, keturunannya sudah tiada ....42

Hal ini sudah pasti terjadi selama masa para hakim; jadi gambaran Merneptah menguatkan situasi yang kacau di Israel, di mana "bangkitlah . . . angkatan yang lain, yang tidak mengenal Tuhan atau pun perbuatan yang dilakukannya bagi orang Israel" (Hak. 2:10). Namun, berbagai kesukaran yang dialami Merneptah di tanah air tidak mengizinkan dia tinggal di Palestina, dan karena itu ia membiarkan suku-suku Israel yang tercerai-berai itu di dalam kekuasaan orang Filistin.

Firaun Sethnakht mempersatukan kembali berbagai negara kota Mesir pada sekitar th. 1200 sM. Putranya, Ramses III (1198 - 1167 sM), menghindari serbuan oleh "Orang Laut" - orang Filistin yang mendarat di pantai Laut Tengah negeri Mesir. Para senimannya memahat ukiran-ukiran timbul yang besar di Kuil Medinet Habu yang menggambarkan kemenangan-kemenangan ini. Tetapi Ramses III mangkat karena terbunuh, dan para penggantinya lambat laun kehilangan penguasaan mereka atas pemerintahan. Sungguh ironis, para imam Amun memperoleh lebih banyak wibawa selama periode-periode yang sama.



TIP #26: Perkuat kehidupan spiritual harian Anda dengan Bacaan Alkitab Harian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA