Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala > 
V. Berbagai Pandangan mengenai Akhirat. 
 sembunyikan teks

Dua paham yang sama sekali berbeda mengenai akhirat muncul dalam penyembahan berhala di Timur Tengah. Di Mesopotamia, sedikit sekali orang yang percaya bahwa ada kehidupan sesudah kematian. Epik Gilgames berkata begini, "Gilgames, ke manakah engkau berlari? Hidup, yang kaucari, tidak akan kau temukan. Ketika para dewa menjadikan umat manusia, mereka memberikan Kematian kepada manusia, tetapi Hidup mereka pegang dalam tangan mereka sendiri."35

Di ujung lain dari spektrum itu terdapat orang Mesir. Agama mereka penuh dengan kepercayaan akan kehidupan di akhirat. Orang Mesir percaya bahwa orang mati akan pergi ke suatu daerah yang diperintah oleh Osiris. Di sana orang harus mempertanggungjawabkan perbuatan baiknya dan perbuatan jahatnya. Di balik kepercayaan ini terdapat legenda Osiris, yang menceritakan bagaimana Osiris, penguasa yang baik, dibunuh oleh Seth, saudara laki-lakinya yang jahat, yang memotong tubuhnya berpenggal-penggal. Isis, istrinya, mencari tubuhnya yang berpenggal-penggal itu dan menghidupkannya kembali. Akhirnya, Osiris turun ke dunia orang mati sebagai hakim orang mati. Putranya, Horus, membalas kematian ayahnya dengan membunuh Seth. Sesudah itu mitos kematian dan kebangkitan Osiris merangsang harapan orang Mesir akan keabadian. Bagi Osiris, hidup mengalahkan maut; kebaikan mengalahkan kejahatan. Jadi, orang Mesir menyimpulkan bahwa hal yang sama dapat terjadi pada dirinya.

Akan tetapi, di sini kita menemukan perbedaan lain yang mendasar antara agama Mesir dan iman alkitabiah. Perjanjian Lama menegaskan bahwa hidup akan berlangsung terus sesudah kematian jasmani, setidak-tidaknya untuk orang yang benar (bdg. Mzm. 49:16; Ams. 14:32; Yes. 57:2). Jadi, dalam iman alkitabiah ada kehidupan di akhirat bagi setiap orang yang setia kepada Allah, entahkah orang itu raja atau budak. Agama Mesir penuh dengan kehidupan di akhirat; tetapi kehidupan itu hanya untuk firaun dan para pejabat tinggi. Alkitab mengajarkan bahwa tak seorang pun mempunyai hak istimewa atas kehadiran Allah dan tak seorang pun dibebaskan dari hukum moral Allah. Pada hakikatnya, perbedaannya menjadi suatu agama untuk raja (kafir) lawan iman untuk semua orang percaya (alkitabiah).



TIP #23: Gunakan Studi Kamus dengan menggunakan indeks kata atau kotak pencarian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA