Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  5. Agama dan Kebudayaan Penyembah Berhala > 
I. Ciri-Ciri Umum Agama Penyembah Berhala: 
 sembunyikan teks

Ciri-ciri tertentu biasa terdapat pada kebanyakan agama penyembah berhala. Mereka semua mempunyai pandangan hidup yang sama, yang dipusatkan pada tempat dan martabatnya. Perbedaan-perbedaan di antara agama bangsa Sumer dan Asyur-Babel atau di antara agama Yunani dan Romawi sangat kecil.

 A. Banyak Ilah. 
sembunyikan teks

Bagian terbesar dari agama-agama ini adalah politeistis; yang berarti bahwa agama-agama tersebut mengakui banyak dewa dan setan. Setelah diterima di pantheon (kumpulan dewa-dewa di suatu kebudayaan), maka dewa itu tidak dapat dikucilkan dari situ. Dewa atau dewi itu telah memperoleh "kedudukan tetap sebagai ilah."

Setiap kebudayaan piliteistis mewarisi pikiran-pikiran keagamaannya dari para pendahulunya atau memperolehnya dalam perang. Misalnya, Nanna adalah dewa bulan bagi bangsa Sumer dan Sin menjadi dewa bulan bagi bangsa Babel. Inanna adalah dewi kesuburan dan ratu langit bagi bangsa Sumer, demikian juga Isytar bagi bangsa Babel. Bangsa Romawi hanya mengambil alih para dewa Yunani dan memberikan nama-nama Romawi kepadanya. Demikianlah, dewa Romawi, Yupiter, adalah setara dengan Zeus sebagai dewa langit; Minerva setara dengan Atena sebagai dewi hikmat; Neptunus setara dengan Poseidon sebagai dewa laut; dan lain sebagainya. Dengan kata lain, gagasan dewa itu sama; hanya selubung budayanya yang berbeda. Demikianlah satu kebudayaan purba dapat menerima agama dari kebudayaan yang lain tanpa mengubah atau menghentikan langkahnya. Setiap kebudayaan tidak hanya mengklaim dewa-dewa dari peradaban yang sebelumnya; tetapi juga mengklaim berbagai mitos mereka dan menjadikannya miliknya dengan hanya beberapa perubahan kecil.

Dewa-dewa utama sering kali dikaitkan dengan suatu fenomena alam. Jadi, Utu/Shamasy adalah matahari dan juga dewa matahari; Enki/Ea adalah laut dan juga dewa laut; Nanna/Sin adalah bulan dan juga dewa bulan. Kebudayaan-kebudayaan penyembah berhala tidak membedakan di antara unsur alam dan kekuatan apa pun di balik unsur tersebut. Manusia pada zaman purba berjuang melawan kekuatan-kekuatan alam yang tak dapat dikendalikannya, kekuatan-kekuatan yang dapat bersifat dermawan tetapi juga bersikap tidak ramah. Hujan yang cukup dapat menjamin hasil panen yang luar biasa banyaknya, tetapi terlalu banyak hujan akan merusakkan hasil panen itu. Hidup betul-betul tak dapat diramalkan, terutama karena dewa-dewa dianggap berubah-ubah dan bertingkah, sanggup berbuat yang baik atau pun yang jahat. Manusia dan para dewa menjalani jenis kehidupan yang sama; para dewa mengalami masalah dan frustrasi yang sama dengan yang dialami manusia. Paham ini disebut monisme. Jadi, ketika Mazmur 19:2 menyatakan, "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya," pemazmur mencemoohkan kepercayaan orang Mesir dan orang Babel. Bangsa-bangsa yang menyembah berhala ini tidak dapat membayangkan bahwa alam semesta memenuhi suatu rencana ilahi yang meliputi segala sesuatu.

almanac
 B. Pemujaan Berhala.
sembunyikan teks

Suatu sifat lain yang umum terdapat pada pemujaan berhala adalah ikonografi keagamaan (pembuatan patung atau totem untuk dipuja). Semua agama ini memuja berhala. Hanya Israel yang secara resmi bersifat aniconic (yaitu, tidak mempunyai patung, tidak ada gambar-gambar yang mewakili Allah). Patung-patung Yahweh, seperti anak lembu jantan yang dibuat oleh Harun dan Yerobeam (Kel. 32; I Raj. 12:26 dst.) dilarang dalam hukum yang kedua.

Akan tetapi sejarah agama mereka tidak selalu bersifat aniconis. Bangsa Israel menyembah berhala sementara mereka hidup dalam perhambaan di Mesir (Yos. 24:14); dan meskipun Tuhan telah membuang berhala mereka (Kel. 20:1-5), orang Moab menarik mereka ke penyembahan berhala lagi (Bil. 25:1-2). Penyembahan berhala mengakibatkan kejatuhan para pemimpin Israel pada periode yang berbeda-beda dalam sejarahnya dan akhirnya Allah mengizinkan bangsa ini dikalahkan "karena kurban-kurban mereka" kepada berhala (Hos. 4:19).

Kebanyakan agama penyembahan berhala menggambarkan ilah mereka secara antropomorfis (yaitu sebagai berwujud manusia). Sebenarnya, hanya seorang pakar yang dapat memandang sebuah gambar dewa-dewa dan orang-orang Babel lalu mengatakan yang mana dewa dan yang mana manusia. Para seniman Mesir biasanya menggambarkan dewa mereka sebagai pria dan wanita yang berkepala binatang. Horus adalah seorang laki-laki yang berkepala rajawali. Sekhmet adalah seorang perempuan yang berkepala singa betina. Anubis seorang laki-laki berkepala serigala, Hathor seorang perempuan berkepala sapi, dan lain sebagainya. Dewa-dewa orang Het dapat dikenal dari gambar senjata yang diletakkan di bahu mereka, atau dari sebuah benda lain yang khusus seperti sebuah topi baja dengan sepasang tanduk. Dewa-dewa Yunani juga digambarkan sebagai manusia, tetapi tanpa ciri-ciri yang kasar dari dewa-dewa bangsa Semit.

 C. Keselamatan Diperoleh dengan Usaha Sendiri. 
sembunyikan teks

Apa maknanya menggambar dewa-dewa sebagai manusia? Pasal-pasal pertama kitab Kejadian mengatakan bahwa Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya (Kej. 1:27), tetapi para penyembah berhala berusaha menjadikan dewa-dewa itu menurut gambar mereka sendiri. Artinya, dewa-dewa para penyembah berhala itu hanyalah makhluk manusia yang diperluas. Berbagai mitos dunia purba mengasumsikan bahwa para dewa mempunyai keperluan yang sama dengan keperluan manusia, kelemahan yang sama dan ketidaksempurnaan yang sama. Jikalau ada perbedaan antara dewa-dewa penyembah berhala dan manusia, maka itu hanya merupakan perbedaan tingkat. Para dewa itu adalah manusia yang dijadikan "lebih besar dari kehidupan ini." Sering kali dewa-dewa itu hanya merupakan proyeksi dari kota atau kota praja.

 D. Kurban. 
sembunyikan teks

Kebanyakan agama penyembahan berhala mempersembahkan binatang untuk menenangkan dewa mereka yang banyak tingkahnya; beberapa agama bahkan mempersembahkan manusia. Oleh karena para penyembah kafir ini percaya bahwa dewa mereka mempunyai keinginan-keinginan manusiawi, mereka juga mempersembahkan kurban sajian dan curahan kepada mereka (bdg. Yes. 57:5-6: Yer. 7:18).

Orang Kanaan percaya bahwa kurban-kurban mempunyai kekuatan aib yang membuat para penyembah mendapat simpati dan menjadi seirama dengan dunia fisik. Akan tetapi, para dewa itu berubah-ubah, maka kadang-kadang para penyembah itu mempersembahkan kurban untuk memastikan kemenangan atas musuh mereka (bdg. II Raj. 3:26-27). Barangkali, inilah sebabnya raja-raja yang telah merosot akhlaknya di Israel dan Yehuda ikut mempersembahkan kurban-kurban secara kafir (bdg. I Raj. 21:25-26). Mereka menginginkan bantuan gaib dalam memerangi musuh mereka, orang Babel dan orang Asyur - lebih disukai bantuan dari dewa-dewa yang sama yang telah membuat musuh mereka menang.



TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA