Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  4. Arkeologi >  IV. Kurun-Kurun Sejarah Purbakala. >  C. Zaman Perunggu. > 
4. Zaman Perunggu Akhir. 
sembunyikan teks

Periode Perunggu Akhir mulai sekitar 550 sM. Orang Mesir merebut takhta mereka kembali dan mengusir orang Hiksos dari negeri mereka sekitar masa ini. Musa dilahirkan Pada masa ini yang penuh kesukaran. Pada tahun 1500 sM kebanyakan kota Hiksos di Palestina telah dihancurkan pada tahun 1468 sM, Thutmose III mengalahkan orang Hiksos dalam sebuah pertempuran yang tersohor di Jurang Megido. Firaun ini meninggalkan banyak cerita tentang pertempuran ini di dalam prasasti-prasastinya. Pasukan-pasukan Mesir maju ke utara dan akhirnya mencapai Sungai Efrat. Namun, penguasaan politik penuh dari Mesir tidak diperluas sejauh itu.

 a. Palestina: Zaman Amarna.
sembunyikan teks

Kanaan tidak makmur selama masa ini, di ambang penaklukan oleh Israel. Rupanya kepemimpinan para firaun Mesir lemah terhadap pemerintahan boneka mereka di Palestina; waktu mereka dihabiskan oleh petualangan militer ke daerah utara. Maka negeri Kanaan secara berangsur-angsur menjadi sekelompok negara kota kecil yang tidak berhubungan dan sering bertengkar. Kecenderungan-kecenderungan suka bertengkar ini memuncak pada abad ke-14, yang dinamakan Zaman Amarna. Nama ini datang dari nama modern yang diberikan kepada reruntuhan ibu kota raja Mesir yang tak suka menuruti kebiasaan yang berlaku, yaitu Amenhotep IV atau Akhnaton. Ia menolak ibu kota dan keimaman Mesir yang tradisional dan mendirikan ibu kotanya sendiri di daerah Nil tengah. Lagi pula, Akhnaton tidak menyukai politik dan urusan pemerintahan imperium Mesir di Palestina.

Dari situasi ini terbitlah apa yang dinamakan surat-surat Amarna, yang dikirim oleh raja-raja kecil di Palestina kepada firaun. Rupanya ia hanya membuang surat-surat itu di tempat di mana para arkeolog modern menemukannya. Walaupun surat-surat Amarna itu ditulis dalam cuneiform Akkad (bahasa diplomasi internasional pada masa itu), surat-surat itu sangat dipengaruhi oleh logat Kanaan setempat. Surat-surat Amarna memberikan banyak informasi tentang bahasa setempat menjelang penyerbuan oleh orang Israel. Para penguasa dari berbagai negara kota itu mengaku setia kepada firaun, tetapi jelaslah bahwa banyak di antara mereka hanya berusaha untuk memajukan karier mereka sendiri dengan mengorbankan sesama mereka.

Yang secara khusus menarik perhatian adalah banyaknya surat-surat yang memohon bantuan dari firaun terhadap serangan-serangan orang Habiru. Seorang penguasa menulis, "Orang Habiru sedang menjarah semua tanah raja. Apabila tidak ada masukan yang datang tahun ini juga, maka semua tanah raja akan hilang."25 Dari segi ilmu bahasa, kata Habiru mirip sekali dengan "Hebrew" (Ibrani), tetapi keduanya tidak ada pertalian satu dengan yang lain. Istilah Habiru dapat, ditemukan di seluruh Asia barat dari akhir sasrawarsa ke-3 sampai dengan akhir sasrawarsa ke-2. Istilah ini pada dasarnya tidak bersifat etnis atau politis, tetapi sosiologis. Yang dimaksudkan dengan istilah ini adalah orang dari hampir jenis apa saja yang tidak mempunyai tanah, biasanya setengah pengembara yang menjual jasa mereka kepada penduduk kota pada masa damai, tetapi yang mengancam kestabilan mereka ketika kota-kota itu menjadi lemah. Penguasa dari berbagai negara kota di Kanaan mungkin sekali menganggap orang Israel termasuk orang Habiru, tetapi istilah ini mengacu kepada banyak kaum yang lain juga. Perhatikan bahwa orang Israel tidak menyebutkan diri mereka sendiri sebagai "orang Ibrani" sampai jauh kemudian; sebaliknya, mereka menyebut diri mereka "bani (keturunan) Israel."

Beberapa ahli berpendapat bahwa "penyerbuan Israel" sebenarnya adalah pemberontakan dalam negeri dari budak-budak pengolah tanah yang ditindas terhadap tuan-tuan tanah di kota-kota. Budak-budak ini bersekongkol dengan para pendatang baru dari seberang Yordan. Sekalipun kaum petani Kanaan mungkin benar-benar telah memberontak melawan para pemilik tanah, Alkitab menunjukkan dengan jelas bahwa para budak pengolah tanah ini hanya memainkan peranan yang kurang penting dalam penyerbuan itu, apabila mereka terlibat juga.

 b. Mesir: Dinasti ke-19: 
sembunyikan teks

Setelah kelalaian Akhnaton membawa Mesir ke ambang keruntuhan, dinasti ke-19 atau dinasti Rameside membawa kebangkitan singkat dari kuasa Mesir pada abad ke-13, atau zaman Perunggu Akhir II. Tetapi ternyata itulah hembusan nafas terakhir dari Mesir. Patung-patung dan kuil-kuil raksasa dari para Ramses, terutama Ramses II, tidak dapat menyembunyikan kenyataan tersebut. Walaupun Mesir terus mencampuri urusan-urusan Kanaan sepanjang sejarah Alkitab, ia tidak pernah lagi dapat menjadi lebih berkuasa daripada "tongkat bambu yang patah terkulai . . . yang akan menembus dan menusuk tangan orang yang bertopang kepadanya" (Yes. 36:6) Bangsa-bangsa yang berkuasa sedang berjuang untuk merebut Timur Dekat, dan Mesir hampir tak mampu untuk bertahan hidup.

Serombongan besar orang-orang belum beradab bergerak turun dari daerah Balkan dan Laut Hitam, sambil menelan dan melenyapkan tiap peradaban yang menghalangi jalannya: bangsa Misena di Yunani selatan, bangsa Het di Asia Kecil, dan para penghuni tetap Kanaan Sepanjang pantai Laut Tengah sampai ke perbatasan Mesir. Dalam pertahanan yang terakhir di Medinet Habu, Ramses III menghentikan gerombolan orang-orang belum beradab itu, tetapi usaha ini menghabiskan sumber-sumber terakhir Mesir. Prasasti-prasasti Mesir menyebut gerombolan bakal penyerbu ini sebagai "Orang Laut", tetapi hampir pasti bahwa mereka adalah orang-orang yang disebut "orang Filistin" di Alkitab. Ironis memang bahwa akhirnya daerah ini dinamakan menurut mereka - Palestina. Setelah kekalahan mereka, "Orang Laut" ini setuju untuk menjadi negara penyangga terhadap penyerbuan selanjutnya terhadap Mesir. Mungkin itulah status mereka ketika mereka bentrokan dengan orang Israel yang mengalir masuk dari tenggara.

Bukti arkeologis menganjurkan bahwa orang Israel tiba lebih dulu, dari orang Filistin, didorong mundur oleh para penyerbu Filistin, dan kemudian menaklukkan orang Filistin di bawah pimpinan Yosua. Kisah-kisah Alkitab yang mengatakan bahwa Yosua menyapu bersih daerah itu sampai ke pantai Laut Tengah (Yos. 10:40-41) bukan perkataan membual saja. Kisah-kisah itu didukung oleh pertama kalinya Israel disebut dalam sejarah di luar Alkitab oleh Firaun Merneptah (sekitar 1224-1211), yang memimpin serangan ke dalam wilayah Kanaan sebelum konfrontasi Ramses III dengan orang Filistin. Setelah ia kembali, Merneptah menyombongkan diri bahwa "Israel diporak-porandakan, sedangkan benihnya tidak." Laporannya menyebut Israel sebagai suatu kaum, bukan sebagai suatu bangsa. Sudah pasti itulah status mereka tidak lama sesudah mereka memasuki Kanaan di bawah pimpinan Yosua.

Bukti arkeologis tidak mendukung kisah Alkitab tentang penaklukan itu sekokoh yang kita inginkan. Tentu saja, arkeologi paling-paling hanya dapat "membuktikan" pembinasaan kota-kota tertentu pada masa tertentu; arkeologi tidak dapat memberitahukan kepada kita mengapa kota-kota itu dibinasakan, atau oleh siapa. Bagaimanapun juga, kekurangan bukti itu tidak memberi hak kepada kita untuk menentang Alkitab; itu akan merupakan argumentasi dari keheningan.

Ada banyak penjelasan yang baik untuk jarangnya bukti dari kota-kota dalam kurun waktu ini. Misalnya, erosi yang hebat dari situs Yerikho selama berabad-abad tempat itu tidak didiami menerangkan kurangnya bukti Zaman Perunggu Akhir di tempat ini. Penjelasan yang serupa dapat dikenakan pada Gibeon; tetapi mungkin juga kota itu terletak di tempat yang lain pada zaman Yosua. (Bukanlah suatu hal yang luar biasa bagi bangsa-bangsa Timur Dekat untuk memindahkan tempat kota-kota mereka ketika kota itu dibinasakan oleh orang atau bencana alam.) Kurangnya bukti kehancuran di Sikhem sesuai dengan kisah Alkitab bahwa kota itu tidak perlu dihancurkan - barangkali sebab sebuah "pasukan pengawal terdepan" dari orang Israel telah menguasai tempat itu (bdg. Kej. 34). Laporan Alkitab tentang pembinasaan telah diperkuat dengan baik oleh temuan-temuan di Hazor, Lakhis, dan Debir (bdg. Yos. 10:11, 30-31, 38-39).



TIP #35: Beritahu teman untuk menjadi rekan pelayanan dengan gunakan Alkitab SABDA™ di situs Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA