Resource > Jurnal Pelita Zaman > 
Volume 13 No. 2 Tahun 1998 
 EDITORIAL
sembunyikan teks

Memang penerbitan edisi kali ini mengalami keterlambatan satu bulan karena faktor-faktor teknis pada bagian redaksi. Maka kami mohon maaf sebesar-besarnya.

Edisi Jurnal Pelita Zaman yang ada pada tangan Saudara memang masih mengangkat masalah-masalah etika. Kita semua memang tidak boleh melepaskan pergumulan dan upaya penegakan etika di tengah-tengah zaman ini, meskipun tampaknya seperti menegakkan benang basah. Namun sebagai umat Kristen, kita tidak bisa lepas dari usaha kreatif untuk merelevansikan apa yang Alkitab katakan dengan situasi sekarang.

Untuk edisi ini redaksi menerima dua orasi. Pertama, orasi ilmiah mengenai Penafsiran ekologi dari sudut pandang Alkitab Ibrani yang disampaikan oleh Prof. Dr. Martin Harun, OFM pada saat pengukuhan jabatan Guru Besar Biasa Ilmu Teologi pada Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Orasi ini diletakkan sebagai artikel pertama kita. Kedua, orasi mengenai etika global yang disampaikan oleh Pdt. Joas Adiprasetya, M.Th. pada saat peluncuran buku "Membangun Bangsa" dalam rangka memperingati Ulang Tahun ke-70 Radius Prawiro di Sekolah Tinggi Teologia Jakarta, ditempatkan pada urutan keempat. Sedangkan sebagai artikel kedua adalah etika Amsal Salomo yang menyatakan bahwa hikmat dalam kitab Amsal tetap relevan pada zaman sekarang dan kita perlu lebih dalam untuk menggalinya. Pergolakan politik yang tidak menentu mendorong kita untuk mencari paradigma baru dan kontekstual, sehingga redaksi menempatkan artikel politik dari sudut pandang Perjanjian Baru sebagai artikel ketiga. Redaksi juga telah menerima artikel-artikel yang menarik untuk dibaca yaitu mengenai etika iklan yang akhir-akhir ini memang harus disorot dan etika olahraga yang mengaitkannya dengan kepribadian dan kerohanian.

Redaksi berharap bahwa enam artikel ini dapat memberikan manfaat bagi kehidupan dan pelayanan Saudara, sehingga Yesus Kristus semakin diberitakan dan Allah dipermuliakan pada zaman ini.

 "TAKLUKKANLAH BUMI DAN BERKUASALAH..."
sembunyikan teks
Penulis: Martin Harun, OFM

Masalah lingkungan hidup - mau tidak mau - merupakan milik kita bersama, baik lokal maupun global. Juga keprihatinan kita bersama? Ada sepuluh juta manusia dan lebih banyak makhluk lain lagi yang hidup di kota Jakarta, yang baru-baru ini diberi kehormatan oleh PBB sebagai kota tercemar nomor tiga di dunia, setelah Mexico City dan Bangkok.1332 Kesejahteraan lingkungan hidup kita begitu mudah dikorbankan kepada kebutuhan lain, yang ada kalanya sangat mendesak, tetapi tak jarang juga hanya keserakahan, kenikmatan dan kemudahan yang berlebihan.

Negeri kita tengah mengalami bencana alam yang katastrofal bagi masa depan seluruh Asia Tenggara, yakni kebakaran dan penggundulan masal hutan tropis di Kalimantan, Sumatera, dan lain pulau. Ini bukan permainan alam, tetapi ulah manusia yang haus akan lahan, entah untuk mencari nafkah hidup yang sangat perlu atau untuk mengeruk kekayaan maksimal. Asapnya akan segera terbawa angin tetapi akibatnya akan menjadi beban masa depan.

Sejak tahun 70-an beberapa Earth Summits tentang lingkungan hidup, pembangunan berdaya lanjut, perubahan iklim, dan lain-lain berusaha untuk membangkitkan keprihatinan mondial dan menjadikannya politik global. Usaha-usaha itu - betapapun menggembirakan - sampai sekarang belum menghasilkan banyak tindakan nyata. Keprihatinan sesaat untuk lingkungan hidup lekas kendor karena keprihatinan sosio ekonomis yang terasa lebih mendesak. Kurang diinsyafi bahwa seruan bumi jugalah seruan orang miskin.

Apa sebabnya pelestarian lingkungan hidup begitu mudah diabaikan manusia modern? Dalam sebuah diskusi Paramadina tahun lalu, seorang penganut aliran kepercayaan melontarkan pertanyaan kepada para penganut agama-agama monoteis universal yang hadir: bagaimana mereka mau mempertanggungjawabkan kerusakan besar yang telah diakibatkan oleh agama-agama monoteis kepada lingkungan hidup? Pertanyaan ini yang sudah sering dilontarkan selama beberapa puluh tahun terakhir, ingin kami tanggapi dari sudut ilmu tafsir Alkitab Yahudi Kristen, khususnya Perjanjian Lama, selanjutnya disebut Alkitab Ibrani.1333

Seorang yang tidak akrab dengan diskusi ekologi, mungkin heran bahwa agama-agama monoteis universal dapat dipandang bertanggung jawab atas kerusakan lingkungan hidup. Karena itu kami akan mulai tulisan ini dengan menjelaskan kedudukan masalah tersebut. Sesudah itu akan dibahas sebuah ayat Alkitab yang lazimnya dipandang sebagai biang keladi masalah ekologi, yakni "taklukkanlah bumi dan berkuasalah..." (Kej. 1:28). Selanjutnya akan dilihat secara lebih luas apakah Alkitab Ibrani mampu memberi sumbangan yang, positif dalam menghadapi masalah lingkungan hidup sekarang ini.

 ETIKA AMSAL SALOMO
sembunyikan teks
Penulis: A. A. Sitompul
 POLITIK DITINJAU DARI SUDUT PERJANJIAN BARU DAN PENERAPANNYA DI INDONESIA
sembunyikan teks
Penulis: Eddy Paimoen
 MERAYAKAN HIDUP BERSAMA
sembunyikan teks
Penulis: Joas Adiprasetya

Masih sahkah membicarakan idealisme bersama untuk membangun bangsa dengan ingatan yang tertancap pada reruntuhan bangunan gedung dan perumahan penduduk setelah medio Mei 1998? Masih sahkah membicarakan peran teologi dan agama (Kristen) dalam pembangunan bangsa, dengan ingatan pada gagapnya gereja terlibat dalam kehidupan perempuan etnis Tionghoa yang telah terenggut kemanusiaannya?

Pertanyaan yang ingin saya jawab melalui tulisan ini kurang lebih begini: Apakah artinya kehadiran komunitas kristiani dalam sebuah kebersamaan yang majemuk dari bangsa ini? Bagaimana kebersamaan ini dapat dirayakan dan apa pula yang menjadi dasar bersama (common ground) bagi kelangsungan hidup bersama ini? Apakah sesungguhnya arti sesama bagi saya?

 MENGKAJI IKLAN DARI SUDUT ETIKA
sembunyikan teks
Penulis: Triyono
 ETIKA OLAHRAGA: SUATU TINJAUAN SEKILAS
sembunyikan teks
Penulis: Djeffry Hidajat

"Seorang olahragawan hanya dapat memperoleh mahkota sebagai juara apabila ia bertanding menurut peraturan olahraga."

2 Timotius 2:5

 KETERANGAN PENULIS EDISI INI
sembunyikan teks

A.A. Sitompul. Lulus Fakultas Teologi di Pematangsiantar (1959), kemudian studi ilmu Teologi di STT Barmen (1960-1961). Gelar Doktor dalam bidang Perjanjian Lama di Universitas Negeri Gutenberg Mainz (1966),sedangkan Etnologi dan Antropologi di Leiden (1966). Dosen di STT Bandung dan program Pasca Sarjana di STT Jakarta.

Djeffry Hidajat. Alumnus FISIP Universitas Padjajaran (1993). Mahasiswa STT Bandung program M.Div (kandidat).

Eddy Paimoen. Menyelesaikan program B.Th. di Institut Injili Indonesia; M.Th. di Trinity Theological College, Singapura; D.Th. di SEAGST. Anggota BPL PGIW Jabotabek. Dosen di STT Cipanas, STTRII, STT Jakarta dan STT Bandung.

Joas Adiprasetya. Gelar M.Th. diperoleh dari STT Jakarta. Sekarang pendeta di GKI Pondok Indah, Jakarta.

Martin Harun, OFM. Belajar Filsafat dan Teologi pada Philosophicum dan Theologicum Fransiskan, Belanda (1959-65). Melanjutkan studi doktoral Teologi di Universitas Katolik Nijmegen, Belanda (1966-69). Kemudian studi Doktor Teologi pada Studium Biblicum Fransiscanum di Yerusalem (1969-71). Sejak 1991 anggota Komisi Penerjemahan LAI. Koordinator Ikatan Sarjana Biblika se-Jakarta dan Jawa Barat.

Triyono. Alumnus Fakultas Ekonomi jurusan Studi Pembangunan Universitas Palangkaraya (1989). Mahasiswa STT Bandung program M.Div (kandidat).



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA