1. Era globalisasi dan liberalisasi ternyata masih mempunyai beban tanggungan sisa-sisa nasionalisme sempit bahkan etnosentrisme primordial yang bisa mempengaruhi percaturan bisnis global, regional dan nasional domestik.
2. Fundamental ekonomi politik dan bisnis RI tidak akan bergeser dari ideologi pasar bebas, kerjasama dengan modal asing dan interdependensi yang semakin erat dengan pasar modal global dan lalu lintas modal, barang dan jasa internasional secara permanen. Namun paralel dengan kondisi itu. kolusi dan korupsi yang tetap berlangsung pada segala tingkat termasuk pengambil kebijakan telah mengakibatkan negara ini masuk dalam jajaran yang terjangkit The Asian Disease.
3. Peranan negara memang semakin menciut, tapi selama sisa-sisa nasionalisme primordialisme sempit masih merajalela, maka nation state masih akan tetap mempunyai peranan dalam mekanisme hubungan international, walaupun peranan perusahaan TCN yang lebih bervariasi dari pelbagai negara asal juga akan semakin menonjol. Jika kita ingin berperan dalam Iiberalisasi global maka dikotomi State vs Society yang masih terlalu didominasi State harus beralih kepada keseimbangan baru dimana masyarakat. The Civil Society mengimbangi posisi pemerintah secara setara, mutually interdependent.
4. Mengingat The Business Sector sebagai The Second Sector setelah birokrasi (The First Sector) relatif masih lemah, maka paralel dengan itu harus ditumbuhkan peranan The Third Sector dalam koalisi The Civil Society. Aliansi ini meliputi para pakar, cendikiawan, profesional. media massa dan LSM serta non profit organization yang akan berperan sebagai aktor kekuatan ketiga mengimbangi government bureaucracy dan businees establishment ke arah keseimbangan antar pelbagai kekuatan dalam masyarakat.
5. Indonesia akan memasuki abad XXI dengan kerawanan suksesi politik yang tidak mulus, tapi suksesi sedrastis apapun tidak akan merubah fundamental ekonomi politik bisnis. Sektor unggulan ekonomi bisnis Indonesia cukup bervariasi mengingat potensi yang dimiliki dari agrobisnis sampai marine industry, dari petrokimia sampai infrastruktur termasuk telekomunikasi, pariwisata hingga jasa multi media bahkan pendidikan, berkelanjutan sebagai lahan bisnis. Daya saing Indonesia memang masih memprihatinkan bila dibanding dengan negara lain dan perlu ditingkatkan untuk dapat merealisasi ramalan muluk Bank Dunia tentang Indonesia sebagai kekuatan ekonomi kelima di dunia pada tahun 2020.


untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [