Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  39. Yesus Kristus >  I. Kisah Kehidupan Yesus. > 
C. Pelayanan di Galilea. 
 sembunyikan teks

Perhentian Yesus yang pertama ketika Ia kembali ke Galilea adalah di Kana. Di sana Ia menyembuhkan anak seorang bangsawan. Semangat orang bangsawan itu mendorong Yesus untuk memenuhi permintaannya (Yoh. 4:45-54). Di Nazaret, Yesus beribadah di sinagoge pada hari Sabat. Di sana Yesus diminta untuk membaca (dalam bahasa Ibrani) sebuah cuplikan dari Kitab Suci dan menjelaskannya (kemungkinan dalam bahasa Aram). Pada mulanya sanak saudara-Nya merasa senang, tetapi mereka menjadi marah ketika mereka mengetahui bahwa Yesus menyatakan diri-Nya sendiri sebagai Mesias. Mereka membawa-Nya ke luar kota hendak melemparkan-Nya dari tebing yang curam, tetapi Yesus berjalan "lewat dari tengah-tengah mereka" (Luk. 4:30) lalu menghilang.

Kemudian Yesus pergi ke Kapernaum, yang rupa-rupanya menjadi "basis"-Nya (bdg. Mat. 9:1). Di sini secara resmi Dia memanggil para murid yang akan mengadakan perjalanan bersama dengan Dia, yaitu Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, yang rupanya sudah kembali ke rumah dan pekerjaannya. Yesus mengajar di rumah sembahyang setiap hari Sabat dan menyembuhkan orang yang dirasuk setan di sana. Ia juga menyembuhkan seorang yang kerasukan setan. Ia juga menyembuhkan ibu mertua Petrus (Mat. 8:14-15; Mrk. 1:29-31; Luk. 4:38; bdg. I Kor. 9:5). Kemudian banyak orang sakit berkumpul, "dan Ia meletakkan tangan-Nya atas masing-masing dan menyembuhkan mereka" (Luk. 4:40).

Pada tahap berikutnya dari pelayanan Yesus, Ia menjadi sangat dikenal di antara rakyat biasa. Sekarang misi utama Yesus adalah mengajar, jadi Ia meninggalkan orang-orang yang hendak memaksanya untuk tinggal di satu tempat saja untuk melakukan pelayanan penyembuhan saja (Luk. 4:42-44; bdg. Mrk. 1:35, 37). Masyarakat menyambut dengan gembira mukjizat dan ajaran-Nya. Sifat khas pelayanan keliling-Nya kali ini adalah penyembuhan seorang penderita kusta (Luk. 5:12-15; bdg. Mrk. 1:40-45). Kejadian ini menegaskan kepatuhan Yesus kepada hukum Taurat, belas kasihan-Nya pada manusia, dan perhatian-Nya untuk membawa manusia kepada keselamatan. (Ia memerintahkan orang kusta tersebut untuk mengadakan perjalanan jauh ke Yerusalem dan memperlihatkan dirinya di Bait Allah untuk pentahiran yang telah ditetapkan, menyerahkan dirinya kepada Allah).

Di Kapernaum, Yesus menunjukkan kuasa-Nya untuk mengampuni dosa dengan menyembuhkan seorang lumpuh dan memanggil Matius, seorang pemungut cukai yang sangat dibenci, untuk menjadi pengikut-Nya (Luk. 5:16-29). Matius langsung menanggapi-Nya. Pada waktu perjamuan makan di rumah Matius, para ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengritik Yesus dan para murid-Nya karena mereka menuruti keinginan dan perasaan sendiri. Yesus menjawab bahwa mereka sedang bergembira bersama-sama dengan Sang Mesias, bukan menyerah kepada keinginan sendiri. Ia menyinggung tentang kematian-Nya dan perkabungan yang akan menemani-Nya. Tetapi Ia berjanji bahwa perkabungan itu tidak akan lama, karena semangat "Injil tidak dapat dikurung di dalam kantong kulit yang tua" dari legalisme Yahudi (hal menaati peraturan secara berlebihan) (Luk. 5:30-39).

Selama periode ini, Yesus mulai menghadapi permusuhan yang lebih meningkat dari para pejabat tinggi Yahudi. Ketika di Yerusalem untuk suatu hari raya tahunan Yahudi, Ia diserang karena telah menyembuhkan seorang lumpuh pada hari Sabat (Yoh. 5:1-16). Dengan demikian Ia menyatakan kuasa-Nya atas hari Sabat dan orang-orang Yahudi seketika itu juga mengerti bahwa ini adalah pernyataan kuasa Ilahi. Yesus mengatakan bahwa Ia tahu pikiran Allah, bahwa Ia akan menghakimi dosa, dan bahwa Ia akan membangkitkan orang dari kematian. Para pengritik-Nya menjelaskan bahwa hanya Allah yang dapat melakukan semua itu.

Kembali ke Galilea, perdebatan mengenai hari Sabat terus berlanjut ketika Yesus membela murid-murid-Nya karena mereka memetik gandum pada hari Sabat. Akhirnya Ia menyatakan ketuhanan-Nya atas hari Sabat. Pada hari Sabat Ia menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya. Para penguasa agama Yahudi mulai membuat rencana untuk menghancurkan-Nya (Mat. 12:1-14; Mrk. 2:23-3:6; Luk. 6:1-11).

Sekarang Yesus memilih 12 orang dari antara para pengikut-Nya. Secara resmi mereka akan melanjutkan pelayanan-Nya. Pengangkatan Kedua belas Murid itu membuka periode baru dalam pelayanan Kristus, dimulai dengan Khotbah di Bukit dalam Alkitab kita. Yesus menyampaikan amanat ini (juga disebut Khotbah di Padang) ketika Ia turun dari bukit dengan para rasul-Nya yang baru diangkat (Luk. 6:20-49; bdg. Mat. 5:1-6:29).

Sekarang kita membaca beberapa kejadian yang saling berhubungan. Kemungkinan pada hari yang sama ketika Ia menyampaikan Khotbah di Bukit, Yesus menyembuhkan hamba seorang perwira. Perwira ini, seorang tentara Romawi, menunjukkan simpatinya terhadap agama Yahudi (Luk. 7:5) dan jelas-jelas menerima Yesus sebagai Mesias yang sejati. Hamba itu disembuhkan "pada saat itu juga" ketika perwira tersebut menyatakan permohonannya (Mat. 8:5-13, bdg. Luk. 7:1-10).

Di Kapernaum, mungkin sekitar 11 km. dari tempat Khotbah di Bukit, orang banyak terus menekan Yesus. Untuk melepaskan diri dari tekanan ini, Ia berangkat ke Kota Nain (bersama dengan banyak orang yang menemani Dia). Di pintu masuk kota Ia menghidupkan kembali anak lelaki seorang janda. Kejadian tersebut membangkitkan kegembiraan banyak orang (Luk 7:11-15).

Sekitar waktu itu utusan Yohanes Pembaptis datang untuk bertanya kepada Yesus apakah Dia benar-benar Mesias. Yohanes yang masih dalam penjara, telah menjadi bingung dengan Cara pelayanan Yesus; pelayanan itu penuh damai dan penuh belas kasihan, bukan pelayanan yang dramatis, menaklukkan dan menghakimi. Yesus memuji Yohanes dan mencela para penguasa Yahudi yang telah menentang dia - memang, Ia menunjukkan bahwa kota-kota di Galilea yang telah mendengar Yohanes "tidak bertobat." Mereka tidak benar-benar datang kepada-Nya (Mat. 11:20-24; Luk. 7:18-35; bdg. 10:12-21).

Di salah satu kota yang dikunjungi Yesus (kemungkinan Kota Nain), Ia diminyaki oleh seorang wanita berdosa. Ia mengampuni dosa wanita itu di hadapan orang yang mengundang-Nya, Simon orang Farisi. Simon sendiri merasa malu, tetapi Yesus senang menerima kasih wanita itu (Mat. 26:6-13; Mrk. 14:3-9; Luk. 7:36-50).

Peristiwa ini membawa kita kepada perjalanan kedua Yesus keliling kota-kota di Galilea (Luk. 8:1-4). Kedua belas murid dan beberapa wanita yang setia (Maria Magdalena; Yohana, istri bendahara Herodes; Susana dan masih banyak perempuan lain) menemani Dia. Pada perjalanan inilah Dia menyembuhkan orang yang dirasuk setan dan orang Farisi menuduh Dia bersekutu dengan Iblis. Karena hal ini, Yesus menegur mereka dengan keras (Mat. 8:28-34; Mrk. 5:1-20; Luk. 8:26-39). Ia menekankan kebahagiaan orang-orang yang "mendengar firman Allah dan melakukannya" (Luk. 8:21). Pada hari yang sama Ia menyampaikan banyak perumpamaan dari atas perahu. Perumpamaan menjadi alat mengajar yang utama bagi Yesus, yang sekaligus menyatakan dan menyembunyikan kebenaran yang ingin Ia sampaikan (Mrk. 4:10-12; Luk. 8:9-10). Tak pelak lagi, Ia mengulang berbagai perumpamaan dan peribahasa yang lain dalam konteks yang berbeda-beda, sama seperti pemberita Injil zaman sekarang mengulangi khotbah-khotbah dan ilustrasi-ilustrasi mereka.

Setelah berkhotbah dari atas perahu, Yesus menyeberangi Danau Galilea ke tepi bagian barat. Sebelum Ia berangkat, ada dua orang yang datang kepada-Nya dan minta untuk dijadikan murid-Nya (Mat. 8:18-22). Tetapi mereka menyampaikan permohonan mereka dalam cara yang tidak realistis dan tidak pantas, sehingga Yesus menegur mereka.

Ketika sedang menyeberangi danau tersebut, nyawa Yesus terancam oleh badai yang ganas. Ia sedang tidur pada sebuah bantal di buritan kapal, dan oleh karena itu para murid membangunkan Dia. Dia langsung menenangkan badai itu dan para murid berseru, "Siapa gerangan orang ini, sehingga Ia memberi perintah kepada angin dan air dan mereka taat kepada-Nya" (Luk 8:25; bdg. Mrk 4:35-44).

Di seberang Danau Galilea, Yesus bertemu dengan seorang yang dirasuk setan dan memerintahkan setan-setan itu untuk masuk dalam sekumpulan babi, yang kemudian mati tenggelam di dalam danau. Ketika orang-orang kota itu datang untuk bertemu dengan Kristus, mereka, melihat orang yang biasanya kerasukan setan itu telah berpakaian lengkap dan pikirannya sudah waras. Dengan tiba-tiba, mereka meminta Yesus pergi. Ia pergi setelah menyuruh orang yang dirasuk setan tadi untuk pulang dan menceritakan kepada teman-temannya tentang Mesias (Mat. 8:28; Mrk. 5:1-20).

Kita diberi tahu tentang dua mukjizat yang dilakukan Yesus ketika Ia kembali ke Kapernaum: Ia membangkitkan anak perempuan Yairus dari kematian dan seorang wanita yang menderita pendarahan disembuhkan ketika ia menyentuh ujung jubah-Nya (Mat. 9:18-26; Mrk.5:21-43; Luk. 8:40-56).

Yesus mengadakan perjalanan ketiga ke Galilea yang mencakup sejumlah mukjizat dan penolakan kedua di Nasaret. Yesus ingin ada lebih banyak pekerja untuk memungut tuaian rohani. Ia mengutus murid-murid-Nya berdua-duaan kepada kota-kota bangsa Israel agar mereka bertobat. Yesus memberi mereka kuasa untuk menyembuhkan dan mengusir roh jahat. Dengan demikian pelayanan mereka memperluas pelayanan-Nya (Mat. 10:5-15; Mrk. 6:7-13; Luk. 9:1-6).

Pada bagian ini, kita membaca tentang kematian Yohanes Pembaptis. Herodes Antipas sudah lama ragu-ragu sebelum ia membunuh Yohanes karena takut akan orang banyak; tetapi istrinya, Herodias, merencanakan kematian Yohanes dengan menggunakan anak perempuannya, Salome, untuk mencapai tujuannya. Perasaan bersalah Herodes mendorong dia untuk bertanya apakah Yesus adalah Yohanes yang sudah bangkit.

Sedih atas meninggalnya Yohanes, terkepung dalam keramaian orang banyak, dan kelelahan karena pekerjaan-Nya, Yesus mengumpulkan Kedua Belas Murid dan menyeberangi Danau Galilea. Tetapi orang banyak itu tiba di seberang mendahului mereka, dan Yesus mengajar mereka sepanjang hari. Bagian ini mencapai klimaksnya ketika Yesus memberi makan orang banyak itu (5000 orang laki-laki) dengan memecah dan melipatgandakan lima roti dan dua ikan. Ketika sisanya dikumpulkan ada 12 keranjang penuh (Mat. 14:13-21).

Tidak lama setelah mukjizat tersebut, Yesus menyuruh kedua belas murid-Nya naik ke dalam perahu dan menyeberangi Danau Galilea kembali, walaupun ada badai mengancam. Ia menyendiri ke atas gunung untuk meloloskan diri dari orang banyak yang begitu bersemangat, yang ingin memaksa-Nya untuk menjadi raja. Sekitar tiga jam setelah tengah malam, para murid menghadapi badai yang hebat di tengah danau. Mereka ketakutan. Ketika malapetaka sudah hampir terjadi, Yesus berjalan di atas air menuju mereka (Mat. 14:22-36; Mrk. 6:45-56). Setelah Ia menenangkan ketakutan mereka, Petrus meminta agar Yesus mengizinkan dia datang dan mendapatkan Dia. Sementara ia berjalan ke arah Yesus, Petrus kehilangan keberanian dan mulai tenggelam. Yesus memegang tangannya dan memimpin dia kembali ke dalam perahu. Seketika itu air menjadi tenang.

Di Kapernaum Yesus mulai menyembuhkan orang sakit yang datang berduyun-duyun kepada-Nya dari segala jurusan. Tidak lama kemudian tibalah orang-orang yang pernah diberi makan oleh-Nya. Mereka menemukan Yesus di sebuah sinagoge, dan mereka mendengarkan Dia menjelaskan bahwa Dialah roti hidup yang turun dari surga.

Sekarang mereka diperhadapkan dengan menerima otoritas ajaran ini, yang dijelaskan secara terinci sebagai memakan daging Yesus dan meminum darah-Nya. Banyak di antara mereka merasa tersinggung dan mereka pergi meninggalkan Dia (Yoh. 6:22-66). Yesus bertanya kepada kedua belas murid-Nya apakah mereka juga ingin pergi meninggalkan Dia. Ini mendatangkan pengakuan Petrus yang terkenal, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? ... Kami telah percaya dan tahu bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah" (Yoh. 6:69).

Setelah ceramah-Nya tentang roti hidup, Yesus mengundurkan diri dari orang banyak itu dan memberikan waktu untuk mengajar para murid-Nya (Mat. 15:1-20; Mrk. 7:1-23). Para penguasa Yahudi merasa kesal karena Yesus menolak upacara-upacara keagamaan mereka dan dengan berani menghardik tuntutan mereka atas kekuasaan. Yesus berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain, berusaha untuk menghindari pertemuan dengan orang banyak, tetapi Ia tidak selalu berhasil melakukan hal ini. Di daerah Tirus dan Sidon Ia menyembuhkan anak perempuan seorang bukan Yahudi (Mat. 15:21-28), dan di Dekapolis Ia menyembuhkan banyak orang yang dibawa kepada-Nya oleh orang banyak (Mat. 15:29-31). Ia memberi makan 4000 orang dengan melipatgandakan roti dan beberapa ekor ikan (Mat. 15:32-39; Mrk. 8:1-10).

Kembali ke daerah Kapernaum, Ia dikepung lagi oleh para kepala agama Yahudi. Untuk melepaskan diri-Nya, sekali lagi Ia menyeberangi Danau Galilea dengan perahu. Dalam perjalanan Ia memperingatkan kedua belas murid terhadap orang Farisi, Saduki, dan Herodes (Mat. 16:1-12; Mrk. 8:11-21). Di Betsaida, Yesus menyembuhkan seorang yang buta (Mrk. 8:22-26). Kemudian Ia dan murid-murid-Nya mengadakan perjalanan ke arah utara ke daerah Kaisarea Filipi. Di sana Petrus mengakui-Nya sebagai Mesias, "Kristus, Anak Allah yang hidup." Yesus menjawab bahwa iman Petrus menjadikan dia setegar sebuah batu karang, dan Ia akan membangun gereja-Nya di atas batu karang ini - yaitu, iman seperti yang dimiliki Petrus (Mat. 16:13-20; bdg. Mrk. 8:27-9:1). Pada kesempatan ini, Yesus menjelaskan penderitaan, kematian dan kebangkitan-Nya yang mendatang.

Sekitar satu minggu kemudian, Yesus mengajak Petrus, Yakobus, dan Yohanes naik ke atas gunung dan menyatakan kemuliaan surgawi kepada mereka (pemuliaan Yesus di atas gunung). Ia berbicara dengan Musa dan Elia di depan mata mereka (Mat. 17:1-13; Mrk. 9:2-13; bdg. Luk. 9:28-36). Di kaki gunung Yesus menyembuhkan seorang anak yang dirasuk setan yang tidak bisa ditolong oleh para murid (Mat. 17:14-23; Mrk. 9:14-32; Luk. 9:37-44).

Sekali lagi Yesus mengadakan perjalanan ke Galilea, tetapi kali ini perjalanan-Nya dirahasiakan. Sekali lagi Ia memberi tahu kepada Kedua Belas Murid tentang kematian dan kebangkitan-Nya yang mendatang, dan sekali lagi mereka tidak mengerti apa yang Dia katakan. Yesus membayar pajak Bait Allah dengan uang yang didapat melalui mukjizat. Dalam perjalanan ke Kapernaum, Ia mengajar para murid mengenai sifat sejati dari kebesaran dan pengampunan (Mat. 17:22-18:35).

Setelah berbulan-bulan, Yesus pergi ke Yerusalem untuk merayakan hari raya Pondok Daun. (Baca "Upacara-Upacara Penyembahan.") Ia telah menolak untuk pergi bersama keluarga-Nya, tetapi kemudian Ia membuat perjalanan itu seorang diri. Di Yerusalem pendapat-pendapat tentang diri-Nya berbeda-beda. Yesus menegaskan kepada khalayak ramai bahwa, Ia dikirim oleh Sang Bapa; Ia adalah Mesias, Juruselamat dunia. Para penguasa tertinggi agama memerintahkan para petugasnya untuk menangkap Yesus, tetapi mereka begitu terkesan oleh-Nya sehingga mereka tidak dapat menunaikan tugas mereka. Kemudian para pemimpin agama berusaha untuk mendiskreditkan Dia dengan cara membuatnya melanggar hukum. Tetapi mereka tidak berhasil. Mereka membawa seorang wanita yang kedapatan berzina, tetapi Yesus benar-benar membalik kejadian itu untuk menentang mereka (Yoh. 8:1-11).

Dalam periode tersebut, Nikodemus berusaha untuk meredakan kebencian Sanhedrin (dewan tertinggi para pemimpin agama Yahudi). Tetapi ketika Yesus berada di Yerusalem, Ia menyembuhkan seorang buta pada hari Sabat. Hal ini memancing sebuah kontroversi besar dan orang tersebut dikucilkan dari sinagoge (hal yang sangat memalukan). Yesus menemui orang itu, yang mengakui-Nya sebagai Mesias (Yoh. 9). Pada saat itu Yesus menyampaikan khotbah-Nya yang terkenal tentang Gembala yang Baik (Yoh. 10:1-21)

 


TIP #14: Gunakan Boks Temuan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh terhadap kata dan ayat yang Anda cari. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA