Topik : Kesedihan/Dukacita

3 April 2003

Kegagalan yang Sukses

Nats : Jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil (1Yohanes 2:1)
Bacaan : 1Yohanes 1:5-2:2

Seorang penemu bernama Charles Kettering menyarankan agar kita belajar untuk gagal secara arif. Ia berkata, “Saat Anda gagal, analisalah permasalahannya, dan temukan jawabannya, karena setiap kegagalan adalah satu langkah maju menuju puncak kesuksesan. Jika Anda takut gagal, Anda tidak akan pernah mencoba.”

Kettering memberikan tiga nasihat untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan: (1) Jujurlah dalam menghadapi kekalahan; jangan berpura- pura sukses. (2) Manfaatkan kegagalan kita; jangan membuangnya begitu saja. Ambillah semua pelajaran dari kegagalan itu. (3) Jangan jadikan kegagalan sebagai alasan untuk tidak mencoba lagi.

Nasihat bijak Kittering yang praktis itu mengandung makna yang dalam bagi orang kristiani. Roh Kudus terus-menerus bekerja di dalam kita untuk menyelesaikan pekerjaan “menurut kerelaan-Nya” (Filipi 2:13), jadi kita pun tahu bahwa kegagalan bukan akhir dari segalanya. Kita memang tidak dapat meminta kembali waktu yang hilang. Kita pun tidak dapat selalu berbuat benar, meski kita harus selalu mengusahakannya. Sebagian akibat dosa kita tidak dapat ditarik kembali. Namun, kita masih dapat memulai lagi dari awal karena Yesus telah mati untuk menanggung segala dosa kita dan Dia adalah “pengantara pada Bapa” (1 Yohanes 2:1).

Tahu bagaimana harus mengambil hikmah dari kegagalan adalah kunci untuk terus bertumbuh dalam kasih karunia. Dan 1 Yohanes 1:9 mengingatkan bahwa kita perlu mengaku dosa. Itulah langkah pertama untuk mengubah kegagalan menjadi kesuksesan --Dennis De Haan

27 Mei 2003

Di Balik Kesedihan

Nats : Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega (Pengkhotbah 7:3)
Bacaan : Pengkhotbah 7:1-14

Kesedihan bisa berguna bagi jiwa kita. Kesedihan dapat menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri kita dan Allah.

Kesedihan membuat kita jujur menilai diri sendiri, juga membuat kita merenungkan motivasi, maksud, dan keinginan kita. Kita jadi mengenal diri sendiri, yang dulu belum benar-benar kita kenal.

Kesedihan juga menolong kita melihat Allah karena kita belum benar- benar melihat-Nya. Di tengah dukacita yang dalam, Ayub berkata, "Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau, tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau" (Ayub 42:5).

Yesus, manusia sempurna, digambarkan sebagai "manusia kesedihan" yang biasa mengalami penderitaan (Yesaya 53:5). Hal ini sulit untuk dimengerti, bahkan Anak Allah yang menjelma menjadi manusia pun belajar dan bertumbuh melalui dukacita yang diderita-Nya (Ibrani 5:8). Saat kita berpikir tentang penderitaan-Nya, juga perhatian-Nya terhadap penderitaan kita, kita akan mendapat pemahaman lebih baik tentang apa yang ingin Allah kerjakan dalam diri kita melalui dukacita yang kita alami.

Pengarang kitab Pengkhotbah menulis, "Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega" (7:3). Mereka yang tak ingin menderita, yang menyangkalnya, mengang-gap remeh, atau mencoba untuk menghilangkannya dengan berbagai alasan, maka perasaannya takkan tajam dan sikapnya acuh tak acuh. Mereka takkan bisa memahami diri sendiri atau orang lain dengan baik. Jadi, saya pikir sebelum kita dipakai Allah, pertama-tama kita harus belajar berdukacita --David Roper

16 Juni 2003

Kehilangan Ayah

Nats : Lalu Yusuf merebahkan dirinya mendekap muka ayahnya serta menangisi dan mencium dia (Kejadian 50:1)
Bacaan : Kejadian 49:28 -- 50:3

Neil Chethik menulis sebuah buku me-ngenai bagaimana anak laki-laki menghadapi kematian ayah mereka. Ia melakukan penelitian terhadap 300 orang dan menemukan bahwa 65 persen dari mereka mengatakan bahwa kematian ayah sangat mempengaruhi kehidupan mereka, melebihi kehilangan hal-hal lain. Chethik berkata, "Masing-masing responden mengalami penataan kembali hidup batiniah secara signifikan."

Seorang pendeta yang berusia 48 tahun berkata, "Ketika ayah saya meninggal, seolah-olah saya mendiami ... sebuah rumah dengan sebuah jendela kaca besar yang memperlihatkan deretan pegunungan. Suatu hari saya melihat ke luar jendela, dan mendapati bahwa salah satu dari gunung tersebut tiba-tiba hilang."

Ketika Yakub meninggal, Yusuf merasakan suatu kehilangan yang besar. Di Alkitab kita membaca "lalu Yusuf merebahkan dirinya mendekap muka ayahnya serta menangisi dan mencium dia" (Kejadian 50:1). Seluruh masa upacara, perkabungan, dan penguburan berlangsung lebih dari dua bulan.

Bagi sebagian besar dari kita, ayah akan meninggal mendahului kita. Sudah sewajarnya apabila kita berdukacita atas kehilangan itu, entah kenangan yang kita miliki membahagiakan ataupun menyakitkan.

Allah berjanji bahwa suatu saat kelak "tidak akan ada lagi perkabungan, atau ratap tangis, atau dukacita" (Wahyu 21:4). Sebelum saat itu tiba, air mata adalah karunia yang diberikan Allah untuk melipur lara, apabila kita harus kehilangan seorang ayah --David McCasland

5 Agustus 2003

Dukacita Tak Terduga

Nats : Terpujilah Allah, Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, Bapa yang penuh belas kasihan dan Allah sumber segala penghiburan (2Korintus 1:3)
Bacaan : 2Korintus 1:3-11

Sejak tahun 1988 saya senang bisa menulis beberapa artikel Renungan Harian setiap bulan. Saya mendapat banyak berkat ketika menyelami Kitab Suci, mengulas kehidupan, dan memberi pertolongan rohani melalui penerbitan ini.

Namun, pada tangal 6 Juni 2002 saya merasa tak bisa lagi memberi pertolongan rohani. Pada hari terakhirnya di sekolah menengah, Melissa, anak perempuan kami yang berusia 17 tahun, meninggal dalam kecelakaan mobil.

Sekejap, peristiwa itu menjadi ujian atas segala yang kami ketahui mengenai Allah, Alkitab, dan surga. Kami membutuhkan komunitas kristiani untuk menumbuhkan kembali harapan kami, saat kami harus menyaksikan pemakaman anak perempuan kami yang telah menyentuh sedemikian banyak orang dengan senyum, kesalehan, cinta terhadap kehidupan, dan perhatiannya kepada orang lain.

Saya tak bisa menulis selama berminggu-minggu. Apa yang dapat saya sampaikan? Bagaimana saya bisa menemukan kata-kata untuk membantu orang lain saat keluarga saya--saat saya sendiri--sangat membutuhkan dukungan?

Kini, berbulan-bulan sesudahnya, saya mulai menulis lagi. Dan saya bisa mengatakan bahwa Allah tidak berubah. Dia tetaplah Bapa surgawi yang penuh kasih, "Allah sumber segala penghiburan" (2 Korintus 1:3). Dia tetap Allah yang menjadi sumber harapan saat menghadapi dukacita yang tak terduga. Saya menulis tentang Dia dengan kesadaran baru bahwa saya membutuhkan jamahan-Nya, kasih-Nya, kekuatan-Nya. Saat hati saya hancur, saya menulis tentang Dia, satu-satunya Pribadi yang bisa membuat kita utuh kembali--Dave Branon

19 Agustus 2003

Secercah Harapan

Nats : Kami tidak mau, saudara-saudara, bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1Tesalonika 4:13)
Bacaan : 1Tesalonika 4:13-18

Saat itu seharusnya menjadi musim panas yang menyenangkan bagi keluarga kami. Kami telah menyusun banyak rencana, termasuk pergi ke Florida untuk membantu putri kami, Julie, memulai karier mengajarnya.

Namun, musim panas tahun 2002 itu diawali dengan tragedi. Putri kami, yang masih remaja, Melissa, tewas dalam sebuah kecelakaan mobil pada hari terakhir sekolahnya. Kejadian ini mengubah musim panas kami yang penuh harapan menjadi mimpi buruk.

Saat itu juga saya berdoa agar kematian putri kami yang cerdas, atletis, dan ramah, dapat berpengaruh positif terhadap para remaja-- pertama-tama di antara teman-temannya dan kemudian di antara orang- orang lain.

Menjelang akhir musim panas itu, kami tetap berangkat ke Florida untuk mengantar Julie, meski dengan perasaan sedih. Saat mulai mengajar, Julie tidak pernah melupakan kerinduannya untuk melihat hidup Melissa mengubah hidup orang lain. Sebab itu ia bercerita kepada murid-muridnya tentang sang adik dan imannya.

Suatu hari seorang murid berbicara kepada Julie seusai pelajaran. "Saya takut," katanya, "karena saya bukan seorang kristiani seperti Melissa." Kemudian Julie membimbingnya untuk mempercayai Yesus Kristus. Saya membayangkan betapa Melissa bersukacita di surga.

Musim panas kami di tahun 2002 itu memang tidak berlangsung sesuai rencana, tetapi kami bersyukur dapat melihat buah dari hidup yang telah dijalani dengan baik. Bahkan dalam dukacita kami, Allah memberi secercah harapan --Dave Branon

27 September 2004

Pemeliharaan Lembut Allah

Nats : Engkau telah menilik sengsaraku, telah memerhatikan kesesakan jiwaku (Mazmur 31:8)
Bacaan : Mazmur 31:1-15

Ketika sedang berduka, C.S. Lewis mengamati para tetangganya berjalan menyeberang jalan untuk menghindarinya tatkala mereka melihatnya mendekat.

Daud pun mengalami dukacita ketika ia berkata, "Di hadapan semua lawanku aku tercela, menakutkan bagi tetangga-tetanggaku .... Aku telah hilang dari ingatan seperti orang mati" (Mazmur 31:12,13).

Mungkin Anda pun pernah dilupakan para sahabat ketika Anda sedang berduka. Mereka tidak menelepon, menulis surat, atau berjanji untuk mendoakan.

Namun, di saat-saat seperti itu kita dapat merasakan kelembutan Allah yang paling dalam. Ketika hari-hari terasa panjang dan sepi, serta tak seorang pun tampaknya peduli, Dia mencari kita dan menyelimuti kita dengan kasih setia-Nya. Kesedihan kita sama sekali tidak membebani-Nya, tetapi justru membuat-Nya menunjukkan belas kasih yang lembut. Dia mengetahui kesengsaraan jiwa kita (ayat 8). Dan Dia peduli. Karena itulah kita dapat menyerahkan nyawa kita ke dalam tangan-Nya (ayat 6), seperti yang dilakukan Tuhan Yesus ketika semua murid-Nya lari meninggalkan Dia.

Penyair Frank Graeff bertanya, "Apakah Yesus peduli ketika hati saya terluka begitu dalam sampai tidak bisa bergembira dan bernyanyi; ketika beban mengimpit, kesusahan melanda, dan perjalanan hidup terasa panjang dan meletihkan?"

Jawabnya? Ya! Dia mengundang kita untuk menyerahkan segala beban dan kesusahan kita kepada-Nya, karena Dia peduli kepada kita (1 Petrus 5:7).

Percayailah Allah untuk memelihara Anda hari ini --David Roper

22 November 2005

Hari-hari Sulit

Nats : Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku … (Mazmur 23:6)
Bacaan : Mazmur 23:1-6

Kami memakamkan ayah istri saya dua hari sebelum hari Pengucapan Syukur. Karena itu, setiap tahun hari raya tersebut diwarnai kesedihan karena kehilangan kami akan dia. Pasti kalender Anda pun berisi beberapa hari penuh kesulitan yang terulang setahun sekali, mengingatkan kembali akan kehilangan yang masih melukai hati dan orang-orang yang masih Anda rindukan. Sebuah artikel dalam Wall Street Journal menyebut tanggal-tanggal ini “ladang ranjau emosi” dan mengatakan bahwa hari-hari itu bahkan mungkin lebih sulit dihadapi jika bertepatan dengan hari raya nasional atau peringatan peristiwa-peristiwa penting.

Para konselor yang menangani dukacita mengungkapkan bahwa mengambil langkah positif dapat membantu kita untuk menghadapi dukacita. Kami menanam sebuah pohon untuk memperingati satu tahun meninggalnya Ayah dan kelahiran cucunya pada hari yang sama. Dana beasiswa atau sebuah hadiah peringatan dapat memberikan manfaat kepada orang-orang lain sambil mengenang orang yang dikasihi. Akan tetapi, kesembuhan batin merupakan suatu anugerah Allah.

Anda mungkin hafal Mazmur 23, tetapi cobalah membacanya dengan cara pandang baru hari ini. Pasal penghiburan yang sudah umum ini menyatakan: “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku …” (ayat 6). Tidak hanya pada hari-hari tertentu, tetapi seumur hidup.

Apabila kita melintasi “ladang ranjau emosional” yang berisi kenangan yang menyakitkan, Gembala Yang Baik selalu beserta kita pada setiap hari-hari sulit -DCM

28 Oktober 2006

Kebaikan dari Kejahatan

Nats : Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah (Roma 8:28)
Bacaan : Roma 8:18-28

Peristiwa hidup dapat menantang kepercayaan kita pada Kitab Suci. Roma 8:28 mengajarkan bahwa Allah dapat mendatangkan kebaikan dari "segala sesuatu". Namun, di bulan Agustus 2004 "segala sesuatu" tersebut agaknya sulit untuk diterima. Beberapa waktu lalu, teman saya menghubungi saya dan orang lain untuk memohon doa bagi anak laki-laki serta tunangannya yang hilang. Itu sama sekali bukan watak Jason dan Lindsay. Kami takut terjadi hal yang paling buruk. Beberapa hari kemudian, mayat-mayat mereka ditemukan, hanya kurang dari dua minggu sebelum pernikahan mereka.

Dalam hari-hari yang penuh kesulitan, "segala sesuatu" tersebut seakan-akan tak tertanggungkan, termasuk aksi berdarah dingin tersebut. Namun, yang amat mengherankan adalah keluarga korban tetap percaya bahwa Yesus Kristus akan memecahkan masalah ini. Mereka sangat yakin Allah akan berbaik hati mendatangkan kebaikan dari kejahatan besar yang mereka alami.

Beberapa bulan berikutnya, terjadilah kisah yang sulit dipercaya. Melalui surat-surat, e-mail, dan telepon, kami mendengar bahwa orang-orang yang menyaksikan teladan ketabahan keluarga tersebut melalui liputan media massa, telah datang kepada Kristus. Nasib kekal orang-orang diubahkan dan hidup mereka dimenangkan melalui kesaksian Jason, Lindsay, dan keluarga mereka.

Tidak ada yang dapat membenarkan pembunuhan itu atau menggantikan kehidupan berharga yang telah dipangkas. Akan tetapi, sekali lagi kita diajak untuk berharap, karena kita selalu akan melihat bahwa Allah mampu mendatangkan kebaikan dari kejahatan -WEC

29 November 2006

Musim Dingin Abadi

Nats : Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai (Mazmur 30:6)
Bacaan : Mazmur 30:5-13

Tidak seperti sebagian anggota keluarga saya yang lain -- yang tidak sabar ingin bermain ski menuruni bukit -- saya justru sama sekali tidak merindukan datangnya musim dingin. Ketika salju pertama mulai turun, saya akan segera menghitung hari, kapan musim dingin di Michigan berakhir.

Bayangkan dunia fiktif Narnia yang diciptakan oleh C.S. Lewis. Di situ musim dingin berlangsung selama beratus-ratus tahun. Dingin, salju basah -- tidak ada harapan musim panas akan tiba menghalau suhu yang beku dan tumpukan salju. Musim dingin abadi dan tidak pernah ada Natal! Bagi saya, hal yang paling menyenangkan dari musim dingin adalah pengharapan, kegembiraan, dan perayaan keajaiban Natal. Hidup menjadi suram bila Anda tidak memiliki harapan.

Ada sebagian orang yang jiwanya telah menjadi beku. Kekerasan hidup telah membeku dalam jiwa-jiwa mereka. Karena mengalami kekecewaan hidup, maka setiap hari mereka dirundung oleh keputusasaan. "Sepanjang malam ada tangisan," kata sang pemazmur, "menjelang pagi terdengar sorak-sorai" (Mazmur 30:6). Dalam setiap kegelapan hidup yang kita alami, Allah rindu untuk mengubah ratapan kita menjadi tarian yang penuh sukacita (ayat 12).

Daud menulis, "Apabila bertambah banyak pikiran dalam batinku, penghiburan-Mu menyenangkan jiwaku" (Mazmur 94:19). Jika Anda berseru kepada Allah di tengah "musim dingin" Anda, maka hari ini Anda akan dapat mengalami sukacita Kristus yang lahir pada Natal --CHK

16 Agustus 2007

Mampu Melupakan?

Nats : Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu (Filipi 1:3)
Bacaan : Filipi 1:1-11

Saya menghadiri pemakaman seorang teman pada suatu hari yang dingin dan suram di bulan November. Selama pidato untuk mengenang teman saya itu, sang istri yang ditinggalkan mulai menangis tersedu-sedu. Saat itu, gembalanya mengucapkan kata-kata yang ganjil untuk menghibur: "Tidak apa-apa. Kelak Anda akan mampu melupakannya."

Mampu melupakan? Ekspresi janda itu menjelaskan bahwa ia tidak ingin melupakannya. Kenangan berharga akan suaminya memberikan ketenteraman dan sukacita yang akan ia jadikan pegangan, dengan berharap kelak mereka akan bertemu lagi di surga.

Salah satu hadiah paling berharga yang diberikan Allah kepada kita adalah kemampuan untuk mengingat. Ada banyak luka dan kekecewaan dalam hidup yang seharusnya kita lupakan. Namun, ingatan yang baik akan menjadi peti harta karun berisi kenangan berharga atas hubungan yang membahagiakan dan sukacita yang dirasakan.

Berkaitan dengan waktu yang dihabiskannya bersama jemaat di Filipi, Paulus merasakan hal yang sama: "Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu" (Filipi 1:3). Kemampuannya untuk mengingat para sahabatnya di Filipi memberikan penghiburan yang luar biasa saat menunggu pengadilan di Roma, dan juga mendorongnya untuk mendoakan mereka dengan sukacita. Anda tak akan pernah dapat meyakinkannya bahwa penghiburan ditemukan jika kita mampu melupakan, karena ia bergembira justru ketika mampu mengingat.

Allah memberikan banyak kenangan yang berharga. Ingatlah kenangan itu ketika dukacita datang --WEC

18 Oktober 2007

Harus Berkata Apa

Nats : Siapa menahan kasih sayang terhadap sesamanya, melalaikan takut akan Yang Mahakuasa (Ayub 6:14)
Bacaan : Ayub 6:1-14

Roy Clark dan ayahnya duduk di dalam mobil di halaman parkir rumah duka selama beberapa menit. Sebagai seorang remaja, ia tidak tahu harus memberi jawaban seperti apa ketika ayahnya menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil mengeluh, "Aku tak tahu harus berkata apa!"

Seorang teman gereja mereka mengalami kecelakaan mobil. Ia selamat, tetapi ketiga anak perempuannya meninggal saat sebuah truk menabrak mobil mereka. Apa yang dapat mereka katakan kepada teman mereka pada saat seperti ini?

Di Alkitab, kita membaca bahwa saat Ayub berduka, ketiga temannya datang untuk meratap bersamanya dan menghiburnya. Selama tujuh hari pertama mereka duduk dan menangis bersamanya karena Ayub sangat berdukacita (Ayub 2:11-13). "Seorang pun tidak mengucapkan sepatah kata kepadanya, karena mereka melihat, bahwa sangat berat penderitaannya" (ayat 13). Kehadiran mereka saja sudah cukup menjadi penghiburan baginya.

Akan tetapi, mereka kemudian mulai menguliahi. Mereka berkata bahwa Ayub pasti telah berbuat dosa dan Allah sedang menghukumnya (4:7-9).

Saat Ayub akhirnya dapat menjawab, ia memberi tahu teman-temannya tentang apa yang dibutuhkannya dari mereka. Ia meminta mereka memberinya alasan untuk dapat terus berharap (6:11), agar mereka berbuat kebaikan (ayat 14), dan memberikan kata-kata yang tidak berprasangka (ayat 29,30).

Dengan mengingat kisah Ayub dan teman-temannya, kita akan merasa terbantu saat kita tidak tahu harus berkata apa --AMC

9 Desember 2007

Natal Kelabu

Nats : Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya (Yesaya 53:4)
Bacaan : Yesaya 53:1-6

Saat ini, semakin banyak gereja yang setiap tahun menyelenggarakan kebaktian-kebaktian Natal Kelabu bagi orang-orang yang menghadapi kedukaan dan kehilangan. Musim liburan yang menekankan kebahagiaan dan kegembiraan acap kali membuat orang-orang yang sedang mengalami kekecewaan merasa lebih sedih.

Artikel di Associated Press mengutip seorang pendeta yang melukiskan kebaktian Natal Kelabu sebagai "kesempatan bagi orang-orang untuk datang dan berada di dalam hadirat Allah serta mengakui dukacita, keputusasaan, dan kesepian mereka, lalu menyerahkannya kepada Allah." Seorang peserta menambahkan, "Itu adalah tempat yang baik untuk menangis dan tidak seorang pun akan merasa keberatan."

Selama masa Natal, kita sering membaca nubuatan-nubuatan Yesaya tentang Mesias yang akan datang, yang akan lahir dari seorang perawan (Yesaya 7:14) dan disebut "Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (9:6). Namun, mungkin kita juga perlu memasukkan kata-kata di dalam Yesaya 53: "Ia ... seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan.... Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya ... dan oleh bilur-bilur-Nya kita menjadi sembuh" (ayat 3-5). Pemazmur mengingatkan kita bahwa "[Tuhan] menyembuhkan orang-orang yang patah hati dan membalut luka-luka mereka" (Mazmur 147:3).

Jika Anda merasa sedih pada hari Natal ini, ingatlah: Yesus datang untuk menyelamatkan kita, menolong kita, dan menyembuhkan kita --DCM

12 Desember 2007

Kesedihan

Nats : Selanjutnya kami tidak mau, Saudara-saudara bahwa kamu tidak mengetahui tentang mereka yang meninggal, supaya kamu jangan berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan (1Tesalonika 4:13)
Bacaan : 1Tesalonika 4:13-18

Pada 14 November 1970, jatuhnya pesawat terbang telah merenggut nyawa sebagian besar anggota tim sepak bola Marshall University, staf pelatih, dan banyak pemimpin masyarakat di Huntington, Virginia Barat. Tujuh puluh lima orang tewas dalam kecelakaan itu, sehingga universitas dan masyarakat sangat terguncang. Dua dari orang-orang yang kehilangan orang terkasih ialah Paul Griffen dan Annie Cantrell. Kisah mereka berkaitan sebab putra Griffen, Chris, adalah tunangan Annie. Ketika Chris tewas, mereka tenggelam dalam tahun penuh derita yang rasanya tak tertanggungkan lagi. Mengapa? Sebab, seperti kata Paul kepada Annie di film yang menggambarkan tragedi ini, "Kesedihan itu memorak-porandakan."

Ia benar, kesedihan memang memorak-porandakan. Kita semua, pada waktu tertentu, merasakan kesedihan -- termasuk kita yang menjadi pengikut Kristus. Meskipun demikian, bagi orang percaya ada suatu hal yang lebih dari air mata, rasa sakit, dan kehilangan. Yaitu pengharapan.

Dengan menulis kepada jemaat yang telah melihat orang-orang terkasih mereka direnggut kematian, Paulus mengakui realitas kesedihan. Tetapi, ia menantang mereka untuk tidak "berdukacita seperti orang-orang lain yang tidak mempunyai pengharapan" (1Tesalonika 4:13). Kehilangan dan kematian adalah bagian dari hidup, tetapi orang-orang percaya dapat menghadapinya, karena mengetahui bahwa orang-orang kristiani tidak pernah mengatakan selamat tinggal untuk terakhir kali. Kita dapat saling menghibur (ayat 18) dengan harapan akan kebangkitan dan pertemuan kembali di masa mendatang --WEC

15 Februari 2008

Aku Mengingatmu!

Nats : Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus (Galatia 6:2)
Bacaan : Galatia 6:1-5

Roger sadar dirinya menderita penyakit Alzheimer dan ingatannya bakal hilang. Ia takut kelak tak bisa mengenali istri dan anaknya lagi sehingga ia menulis di catatan hariannya demikian: "Sayang, akan tiba harinya aku lupa segalanya. Tidak mengenalimu dan anak-anak, meski kalian di dekatku. Saat itu terjadi, maafkan aku! Ingatlah, aku sangat mengasihimu." Esoknya, sang istri membaca tulisan suaminya sambil menangis. Ia menulis di bawahnya: "Sayang, jika semua itu terjadi, aku akan tetap merawatmu. Engkau telah melamarku dan setia di sampingku puluhan tahun. Aku mengasihimu bukan karena engkau mengingatku, tetapi karena aku mengingatmu."

Betapa indahnya pasangan yang saling memberi dorongan semangat. Dengan kata-kata penuh kasih, mereka "bertolong-tolongan menanggung beban" (Galatia 6:2). Sayangnya, banyak orang lebih suka meluncurkan kritik yang melumpuhkan. Padahal menurut Paulus, sekalipun kekasih kita melakukan pelanggaran, kita tak perlu melukainya dengan kata-kata kasar. Ia perlu dipimpin kembali "dalam roh lemah lembut" (ayat 1). Mengapa? Karena dengan bertindak kasar, kita menempatkan diri seolah-olah lebih baik, lebih berarti. Kita jatuh dalam kesombongan. Kritik pedas itu pun menghancurkan! Hanya kata-kata penuh kasih yang bisa memulihkan.

Orang-orang di sekitar kita sangat memerlukan kata-kata pendorong semangat. Sudahkah kita memberikannya? Apakah yang memenuhi mulut kita; pujian atau makian? Kata-kata penuh kasih atau kritik? Mari kita gunakan lidah kita untuk menguatkan seseorang hari ini --JTI

28 April 2008

Indahnya Memberi

Nats : Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami (2Korintus 8:5)
Bacaan : 1Raja-raja 17:7-16

Janda di Sarfat dihadapkan pada dilema yang cukup sulit atas permintaan Elia. Jika ia memberikan persediaan terakhir bahan makanan yang ada padanya, ia akan mati kelaparan. Namun akhirnya, ia mengambil keputusan itu, walau berisiko (1 Raja-raja 17:15). Ia memberikan makanan penyambung hidupnya kepada Elia -- yang berarti juga memberi --kan hidupnya. Demikian pula jemaat Makedonia (2 Korintus 8:5). Mereka menderita dan kekurangan, tetapi mereka bermurah hati. Bahkan, mereka memberi diri untuk melayani. Pertamatama mereka melayani Allah, tetapi kemudian juga melayani sesama. Sungguh indah!

Kita juga akan mengalami hal yang indah jika kita belajar dari ibu janda dari Sarfat, serta jemaat Makedonia. Mereka memberi teladan dalam hal memberi. Bagi mereka, tak ada alasan untuk tidak memberi. Apa pun keadaannya. Dalam keadaan baik atau tidak baik, dalam kelebihan ataupun kekurangan. Mereka menunjukkan bahwa kita semua bisa memberi, asal kita mau. Sebab kita pasti mempunyai sesuatu untuk diberikan dalam melayani sesama -- paling tidak waktu, tenaga, dan perhatian. Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa apa pun yang kita punya adalah anugerah-Nya, yang diberikan bukan saja untuk diri sendiri, melainkan juga untuk melayani sesama demi kemuliaan-Nya.

Kesempatan untuk memberi, terlebih memberi diri, adalah anugerah yang tidak boleh kita sia-siakan. Memberi hidup kita untuk melayani dengan sungguh-sungguh di mana kita ditempatkan; di rumah, di tempat kerja, dan di mana pun, adalah ibadah yang sejati -ENO

20 Juli 2008

Jangan Halangi Mereka

Nats : Biarkanlah anak-anak itu datang kepada-Ku, dan jangan kamu menghalang-halangi mereka (Lukas 18:16)
Bacaan : Lukas 18:15-17

Di banyak gereja, kerap kali ada kelas untuk anak balita. Hal paling unik di kelas balita adalah tak hanya anak-anak yang hadir di dalam kelas, tetapi orang-orang dewasa juga turut duduk di situ. Bisa ayah atau ibunya, bisa juga nenek, kakek, atau pengasuhnya. Memang kelas menjadi padat karenanya, tetapi tak mungkin para pengantar ini dilarang hadir, karena anak-anak yang masih sangat muda itu tak mungkin berangkat sendiri!

Ketika para murid melarang anak-anak kecil dibawa kepada Yesus (ayat 15), Dia berkata, "... jangan menghalang-halangi mereka" (ayat 16). Kerap kali kita "menyalahkan dan menyayangkan" sikap para murid ini. Namun tanpa sadar, ada juga orangtua kristiani yang "menghalang-halangi" anaknya datang kepada Tuhan. Salah satunya dengan keengganan untuk mengantar dan menunggui anaknya beribadah di gereja. Padahal sebagai anak, keputusan mereka untuk datang ke gereja sangat dipengaruhi keputusan orangtuanya. Jika orangtua sedang merasa sibuk, lelah, atau repot, sehingga lalai mengantar anaknya ke gereja, maka anak-anak pun bisa absen beribadah.

Tak hanya itu, sebagai orangtua kita juga dapat menghalangi anak-anak bertemu Yesus, jika kita tak mendampingi mereka secara pribadi untuk mengenal dan mencintai Yesus; lewat doa bersama di rumah, membacakan Alkitab bagi mereka, berbagi kesaksian tentang pengalaman bersama Tuhan. Terakhir, kita juga menghalangi anak mengenal Yesus bila tutur kata dan laku kita tak mencerminkan pribadi yang mengikut teladan Kristus!

Anak-anak kita membutuhkan Yesus. Jangan menghalang-halangi mereka! -AW

13 September 2008

Dibongkar!

Nats : Hati yang patah dan remuk, tak akan Kaupandang hina, ya Allah (Mazmur 51:19)
Bacaan : 2Samuel 12:1-14

Daud adalah seorang yang berkenan di hati Tuhan, tetapi sekalipun demikian Daud tetap manusia biasa yang tak lepas dari kesalahan. Salah satu kesalahan Daud yang paling fatal adalah pada saat ia merebut Batsyeba yang notabene istri dari Uria, salah seorang prajuritnya. Untuk mewujudkan keinginannya, Daud menggunakan cara yang jahat, yaitu dengan sengaja menempatkan Uria di garis depan medan pertempuran sehingga ia mati terbunuh.

Skandal yang sangat memalukan ini kemudian dibongkar oleh Nabi Natan. Pada saat dosanya dibongkar, sebetulnya Daud bisa saja menjadi tersinggung dan marah atas kelancangan Nabi Natan. Bahkan dengan mudah ia juga bisa memerintah prajuritnya untuk menghabisi Nabi Natan, sehingga ia tidak akan kehilangan muka. Tetapi Daud tidak melakukannya. Ia juga tidak mencoba berdalih dan mencari kambing hitam atas hal yang telah diperbuatnya. Sebaliknya, dengan hati hancur Daud mengakui dosa besar yang telah diperbuatnya.

Terkadang Tuhan memakai orang lain untuk menegur dan membongkar dosa yang telah kita buat. Yang penting, bagaimana kita meresponi teguran yang demikian. Biarlah kita mau belajar rendah hati dan dengan hati hancur bersedia mengakui kesalahan-kesalahan kita. Sebab hanya dengan begitu kita akan mendapat pemulihan dan pengampunan Allah. Ingatlah bahwa sebuah kedewasaan rohani bukan berarti sempurna tanpa cacat. Kedewasaan rohani adalah sikap seseorang yang dengan hati besar berani jujur dan terbuka untuk mengakui setiap kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat -PK



TIP #27: Arahkan mouse pada tautan ayat untuk menampilkan teks ayat dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA