Tumpangan
Tumpang, Tumpangan [pedoman]
- 1. Diperintahkan. Rom 12:13; 1Pet 4:9
- 2. Hamba-hamba Tuhan harus suka memberi - . 1Tim 3:2; Tit 1:8
- 3. Suatu ujian bagi sifat orang Kristen. 1Tim 5:10
- 4. Terutama harus diberikan kepada:
- 4.1 Orang asing. Ibr 13:2
- 4.2 Orang miskin. Yes 58:7; Luk 14:13
- 4.3 Musuh-musuh. 2Raj 6:22,23; Rom 12:20
- 5. Dorongan untuk memberi - . Luk 14:14; Ibr 13:2
- 6. Contoh-contoh:
- 6.1 Abraham. Kej 18:3-8
- 6.2 Ayub. Ayub 31:17,32
- 6.3 Barzilai. 2Sam 19:32
- 6.4 Daud. 2Sam 6:19
- 6.5 Gayus. 3Yoh 1:5,6
- 6.6 Laban. Kej 24:31
- 6.7 Lidia. Kis 16:15
- 6.8 Lot. Kej 19:2,3
- 6.9 Manason. Kis 21:16
- 6.10 Manoah. Hak 13:15
- 6.11 Melkisedek. Kej 14:18
- 6.12 Nehemia. Neh 5:17
- 6.13 Orang-orang Samaria. Yoh 4:40
- 6.14 Penduduk pulau Malta. Kis 28:2
- 6.15 Perempuan Sunem. 2Raj 4:8
- 6.16 Publius. Kis 28:7
- 6.17 Samuel. 1Sam 9:22
- 6.18 Yason. Kis 17:7
- 6.19 Yitro. Kel 2:20
- 6.20 Zakheus. Luk 19:6
TUMPANGAN [ensiklopedia]
Sepanjang Alkitab, tanggung jawab melayani orang-orang yg sedang dalam perjalanan dan mereka yg memerlukan bantuan dianggap otomatis. Jadi dalam PL tidak ada perintah tegas untuk harus memberi tumpangan, demikian juga dalam PB. Perintah-perintah khusus dalam PB secara lebih utama menekankan tanggung jawab orang Kristen terhadap saudara seiman.
I. Dalam PL
Sikap siap menerima orang asing nampak dalam jamuan makan yg dibuat Abraham bagi orang-orang asing (Kej 18:1, 2; bnd 19:1). Dalam perilaku Abraham rasa hormat menonjol. Orang-orang asing itu ia perlakukan sebagai tamu terhormat dan dilayani sebaik mungkin.
Sikap demikian nampak dalam rasa heran Rehuel, karena para putrinya yg beroleh pertolongan dari seorang asing tidak mengundang orang asing itu untuk makan (Kel 2:20). Ia menyuruh mereka dengan nada memerintah, 'Panggillah dia makan'. Kata yg dipakai di sini untuk memanggil (qara) dipakai di tempat lain untuk seorang undangan, yg diundang untuk turut dalam suatu jamuan makan (lih 1 Raj 1:41, 49; Ams 9:18; Zef 1:7).
Kecaman keras menimpa bangsa Amon dan bangsa Moab karena tidak menyongsong anak-anak Israel dengan roti dan air (Ul 23:4). Pada masa biadab sepanjang zaman Hakim-hakim, semangat kepedulian dan sikap melayani itu tetap berlangsung. Manoah menunjukkan kesediaan dan kepeduliannya dengan menyiapkan hidangan bagi tamunya. Ini mengingatkan kembali pada keramahan Abraham (Hak 13:15).
Dan sangat berarti peristiwa di Gibea, yakni tidak adanya kesadaran spiritual dan moral penduduk kota itu, termasuk tidak adanya keramahan menerima tamu (Hak 19:15). Namun seorang laki-laki tua masih setia memegang teguh jiwa kepedulian masa dahulu. Ia tidak hanya menerima orang asing itu, ia juga menolak untuk menerima pembayaran apa pun yg disodorkan oleh tamunya itu. Dan dalam peristiwa Gibea nampak unsur lain dalam praktik tumpangan, yakni tuan rumah benar-benar bertanggung jawab atas kesejahteraan tamunya. Bila keselamatan tamu terancam, maka tuan rumah harus melindunginya. Ini nampak dahulu dalam sikap Lot di Sodom, ketika tanggung jawabnya sebagai tuan rumah adalah lebih mengikat dia daripada kewajibannya sebagai ayah. Sang tamu tentu wajib jujur terhadap tuan rumah yg menampung dan melayani dia. Bandingkan pahitnya ratapan dalam Mzm 41:10, bahwa orang 'yg makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku'.
Rupanya ada kesadaran akan kewajiban khusus terhadap bentara Tuhan, ump penyediaan makanan bagi Elia oleh pengorbanan luhur seorang janda di Sarfat (1 Raj 17:17 dab) atau penyediaan makanan secara tetap bagi Elisa oleh perempuan Sunem (2 Raj 4:8 dab). Dalam tuduhannya atas agama formal pada zamannya karena kegersangan spiritual, Yesaya memberikan tanda agama yg benar, yakni kesediaan untuk memperhatikan orang-orang yg lapar dan yg telanjang (Yes 58:7).
II. Dalam PB
Dalam PB terdapat pola umum yg sama mengenai kesediaan menerima orang asing singgah di rumah sendiri. Bahkan, pada perumpamaan tentang penghakiman terakhir dalam Mat 25, tindakan menyuguhkan atau tidak menyuguhkan pelayanan bagi orang lain ketika orang lain itu dalam kesusahan, dilihat sebagai petunjuk yg menentukan ada tidaknya kehidupan rohani seseorang, dan ia dihakimi sesuai dengan itu. Sekali lagi terdapat rasa tanggung jawab istimewa terhadap bentara Tuhan. Demikianlah Yesus mendapat sambutan akrab dan baik di Betania. Di Filipi, Lidia setelah mendengar dan menerima Injil, meminta dengan sangat supaya Paulus dan rekannya menginap di rumahnya. Demikian juga halnya ketika Yesus mengutus 12 dan 70 murid-Nya, Ia mengharapkan bahwa mereka akan dijamu oleh orang yg kepadanya mereka berkhotbah (Mat 10:9; Luk 10:4). Dan menolak mereka menumpang adalah sama dengan menolak kabar baik yg mereka layankan.
Bila tamu sudah diterima, maka tuan rumah harus menunjukkan perilaku hormat tertentu (Luk 7:44 dab). Ciuman selamat datang terhadap tamu itu. Air disiapkan untuk membersihkan kakinya dari debu, dan minyak untuk mengurapi kepalanya. Para tamu duduk untuk bersantap, dan gerakan lincah seperti gerakan wanita yg mengurapi Yesus dengan minyak akan mengakrabkan pelayanan, karena berarti bahwa orang yg lewat boleh masuk.
Dalam Surat-surat rasul ada perintah-perintah secara definitif. Mengingat pola-pola umum, perintah-perintah itu nampaknya tidak perlu. Tapi ada beberapa alasan untuk menjamin bahwa kewajiban menerima tamu -- terutama sesama Kristen -- tidak diabaikan. Penganiayaan yg merupakan pengalaman umum pada awal zaman PB, dapat mengakibatkan orang Kristen lari meninggalkan tanah airnya, dan pasti menimbulkan kebutuhan materi (Kis 8:1). Karena itu bagi banyak orang, makanan dan penginapan merupakan kebutuhan mendesak yg sangat penting. Lagipula para penginjil yg bergerak dari satu tempat ke tempat lain untuk melayankan Injil, tidak beroleh apa-apa dari orang-orang yg mereka layani. Karena memang, kebutuhan mereka sebaiknyalah menjadi tanggungan orang-orang Kristen setempat. Sebagian orang Kristen setempat itu, tentu bertobat berkat pemberitaan mereka (3 Yoh 5, 6, 7). Kewajiban menyokong pemberita Injil yg bergerak dari satu tempat ke tempat lain, ditekankan sebagai bertentangan dengan sikap terhadap guru-guru palsu. Adalah tanda penolakan final atas kesesatan guru penyesat itu bila ia ditolak masuk ke dalam rumah (2 Yoh 10). Bila diingat bahwa banyak rumah penginapan mempunyai nama buruk -- Rahab, perempuan jalang, tanpa ragu adalah kekecualiaan -- dapatlah dimengerti mengapa orang Kristen yg nama baiknya sering diserbu, menghindari mereka.
Dalam Rm 12:13 kewajiban untuk memberi tumpangan berhubungan erat dengan tanggung jawab khusus untuk melayani saudara seiman. Itu adalah tugas yg harus dilaksanakan dengan ikhlas. Orang Kristen berlomba-lomba (harfiah) memberi tumpangan, dan tidak boleh sifat mementingkan diri sendiri mengendorkan atau menghalangi semangat itu. Perhatian khusus akan kebutuhan saudara-saudara seiman dinyatakan dalam Gal 6:10, ketika Paulus menyatakannya dalam hubungan kewajiban berbuat baik terhadap semua orang. Dalam suratnya ke jemaat Kolose, Paulus minta dengan sangat agar mereka menerima Markus bila datang kepada mereka (Kol 4:10); dan dalam suratnya kepada Filemon, saat ia menyinggung harapannya akan dibebaskan, Paulus yakin tumpangan pasti ada dan ia minta disiapkan baginya sebuah bilik (Flm 22). Dan pengarahannya dalam Surat-surat pastoralnya mengenai kualifikasi penilik jemaat, menekankan bahwa kewajiban memberikan tumpangan termasuk yg utama (1 Tim 3:2; Tit 1:8).
Petrus menekankan untuk mempraktikkan semangat memberi tumpangan (1 Ptr 4:9). Semangat itu memancar dari kasih, dan karena itu haruslah dilakukan tanpa pamrih. Nada yg sama menggema dalam Ibr 13:1, di mana asas seruan untuk melayani orang lain ialah nasihat 'peliharalah kasih persaudaraan'. Kasih (agape) yg dibicarakan Petrus di sini ialah kasih yg penuh keprihatinan memandang ke luar, dan yg menuntun orang untuk senantiasa peduli kepada sesamanya yg dalam kesusahan. Jadi tumpangan Kristen bukanlah kewajiban bersyarat apalagi yg dilakukan tanpa keramahan, melainkan tindakan sukacita penuh keramahan melayani dan memberi. Lebih lanjut, Petrus menunjuk bahwa memberi adalah mungkin hanya karena kita telah menerima anugerah Allah. Orang percaya harus selalu sadar bahwa ia berhutang kepada Allah untuk segala sesuatu yg ia miliki; dengan demikian melayani orang lain berarti menebus hutang rasa terima kasih.
III. Penginapan dalam Alkitab
Pada tahap permulaan bentuk penginapan sangat sederhana (malon), mungkin hanyalah suatu tempat berlindung bagi orang yg sedang dalam perjalanan (Kej 42:27; 43:21; Kel 4:24). LXX menerjemahkan malon dengan katalyo atau serumpunnya katalyma, yg mengandung ide 'orang membuka ikatan binatang'. Karena itu, penginapan demikian mungkin menyerupai penginapan bagi kafilah. Kata katalio mengandung pengertian umum 'menginap', karena LXX menggunakannya (Yos 2:1) untuk menggambarkan para pengintai yg menginap di rumah Rahab, dan agaknya mereka datang dengan berjalan kaki. Tempat penginapan di Betlehem (katalyma) mungkin juga sama sederhananya. Kamar penginapan tak dapat disebut kamar perseorangan, karena kamar-kamar itu tidak diberi nama; tapi nampaknya penyediaan kamar itu adalah tanggung jawab bersama dari suatu desa. Di tempat lain kata katalyma atau serumpunnya dipakai, merujuk kepada ruang tamu di rumah orang tertentu (Luk 19:7; 22:11; bnd Mrk 14:14). Dalam Luk 10:34 disebut bentuk penginapan yg lebih berkembang (pandocheion). Penginapan jenis ini terbuka bagi semua orang dan dari mana saja, dan disamping menyiapkan perlindungan di malam hari, juga menyediakan makanan dan pelayanan, dan untuk itu ada harga tertentu.
KEPUSTAKAAN. J Pederson, Israel 1-2, 1926, hlm 356-358; D. W Riddle, JBL, 57, 1938, hlm 141-154; G Stahlin, TDNT 5, hlm 17-25; A. D Kilmer, Ugarit Forschungen 3, 1971, hlm 299-309; W Gunther dan C Brown, NIDNTT 2, hlm 547-550. HMC/MJS/JMP/HAO


untuk membuka halaman teks alkitab dalam format PDF. [