Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: TULIS-MENULIS

TULIS-MENULIS

TULIS-MENULIS [ensiklopedia]

Di seluruh Asia Barat Kuno, sejak paling sedikit thn 3100 sM dan selanjutnya, tulisan merupakan tanda peradaban dan kemajuan.- Pada milenium 2 sM ada beberapa percobaan yg menjurus kepada pengembangan abjad, dan dampaknya ialah meningkatnya jumlah orang yg melek huruf. Kendati sampai sekarang baru sedikit dokumen yg ditemukan di Palestina sebelum periode pembuangan dibandingkan ribuan dokumen yg ditemukan di daerah Mesir, Siria dan Mesopotamia, toh masuk akal untuk menganggap bahwa dekatnya Palestina dengan pusat kebudayaan lain membuatnya dapat mengambil bagian dalam seni karya tulis sepanjang kurun waktu itu. Kata-kata yg paling lazim untuk tulisan (Ibrani katav; Aram katav; Yunani grafo) muncul lebih dari 450 kali dalam PL dan PB.

I. Acuan-acuan alkitabiah

Musa dikatakan menulis (Kel 17:14) Dasa Titah (Kel 24:12; 34:27), firman TUHAN (Kel 24:4), hukum Taurat (Yos 8:31), dan bicara tentang salinannya (Ul 27). Ia juga menulis semua undang-undang (Ul 30:10) dan ketetapan-ketetapan (Kel 34:27; bnd 2 Raj 17:37), maupun pengundangan hukum (Ul 24:1; Mrk 10:4), seluk-beluk perjalanan-perjalanan yg dilakukan oleh orang Israel (Bil 33:2), dan kata-kata mengenai nyanyian kemenangan (Ul 31:19, 22). Untuk semua hal itu ia ditolong oleh pejabat-pejabat terpelajar (syot`rim, Bil 11:16; bnd Akad sataru, 'menulis'), yg -- berdasarkan kemampuan mereka untuk mencatat keputusan-keputusan -- erat dihubungkan dengan kehakiman (Ul 16:18; 1 Taw 23:4; Yos 8:33). Dalam pengembaraan di padang gurun para imam pun menuliskan pula kutukan-kutukan (Bil 5:23) dan nama benda-benda (Bil 17:3). Yosua menulis suatu salinan dari Dasa Titah (Yos 8:32) dan perjanjian yg diperbarui (Yos 24:26).

Samuel menulis piagam tentang hak-hak kerajaan pada pemerintahan raja Saul yg baru didirikan (1 Sam 10:25). Daud menulis beberapa surat kepada panglimanya, Yoab (2 Sam 11:14) dan seluk-beluk pengaturan Bait Suci. yg juga dilakukan oleh anaknya, Salomo (2 Taw 35:4). Salomo melalui surat berkomunikasi dengan Hiram dari Tirus (2 Taw 2:11). Raja Siria menulis surat kepada raja Israel tentang Naaman (2 Raj 5:5). Seperti yg terjadi di semua periode, para juru tulis istana sering ditugasi untuk menulis daftar nama orang-orang (1 Taw 4:41; 24:6; lih pula Bil 11:26; Yes 10:19; Yer 22:30; Neh 12:22).

\\==> Image 00303\\

Nabi Yesaya menulis (2 Taw 26:22; Yes 8:1) dan mendiktekan kepada seorang penulis (Yes 30:8). Pada zamannya, Hizkia menulis surat-surat ('iggeret) kepada Efraim dan Manasyc (2 Taw 30:1; bnd Yes 38:9 yg berjudul 'karangan [mikhtav] Hizkia') dan juga menerima surat-surat dari raja Asyur, Sanherib (Yes 37:14; 39:1; 2 Taw 32:17). Yeremia mendiktekan kepada sekretarisnya, Barukh (Yes 30:2; 37:27; 45:1), yg mungkin juga dilakukan oleh Hosea (Hos 8:12) dan Maleakhi (Mal 3:16), sebab firman yg tertulis merupakan bagian penting dari nubuat (2 Taw 21:12), yg nilainya ditekankan juga oleh Ayub (Ayb 19:23).

Daniel dan orang-orang bijak Babel dapat membaca. dan karena itu barangkali mereka sendiri dapat menulis dalam bh Aram (Dan 5:24 dab). Surat-menyurat antar kerajaan adalah biasa seperti periode-periode yg lebih awal (*SURUH, PESURUH KILAT; *ASYUR; *BABEL, BABILONIA).

Nehemia menulis perjanjian (Neh 9:38), sedangkan lawannya di Samaria menulis surat kepada raja Persia (Ezr 4:6, 7), demikian juga bupati-bupati distrik yg lain (Ezr 5:7; 6:2). Ezra sendiri adalah ahli tulis-menulis yg menulis dekrit-dekrit atau dokumen-dokumen negara dalam logat-logat setempat (Ezr 8:34), dengan gaya pejabat-pejabat istana, termasuk Mordekhai, atas nama raja (Est 9:28 dab), yg kemudian membubuhkan meterainya (Dan 6:25).

Yesus Kristus dan rasul-rasul-Nya tetap mengacu kepada tulisan dalam kitab-kitab (ump 'itu tertulis' -- gegraptai -- terdapat 106 kali). Tuhan Yesus melek huruf (Yoh 7:14, 15) dan menulis di muka umum paling sedikit pada satu peristiwa (Yoh 8:6). Imam Zakharia menulis di papan tulis yg berlapiskan lilin (Luk 1:63), dan gubernur Romawi Pilatus menyuruh dituliskan suatu prasasti dalam tiga bahasa untuk ditempatkan di atas salib (Yoh 19:19, 22).

Yohanes (Yoh 21:24), Lukas (Luk 1:3; Kis 1:1), dan Paulus (Gal 6:11: Flm 19; Rm 15:15) kendati sering mengandalkan sekretaris seperti Tertius (Rm 16:22), menuliskan peristiwa-peristiwa historis dan surat-surat yg telah sampai pada kita. Dalam Kitab-kitab termasuk Why ada banyak acuan pada tulisan perihal pemakaian tulisan itu untuk surat-surat, bukti-bukti hukum, dan catatan (Why 1:11; 21:5). Karena tulisan pada hakikatnya adalah alat komunikasi, pernyataan dan kesaksian maka tulisan dipakai untuk menggambarkan kesan, yg tertulis dalam (engrafo, 2 Kor 3:2 dab) atau di atas (epigrafo, Ibr 8:10; 10:16) pikiran dan hati (bnd Yer 31:33; Ams 3:3) oleh Roh Kudus (kadang-kadang disebut 'tulisan batiniah').

II. Bahan-bahan

Hampir sembarang permukaan yg halus dapat digunakan untuk menulis.

a. Batu

Dengan menggunakan pahat prasasti-prasasti diukir di permukaan-permukaan batu atau batu karang (Ayb 19:24), sedangkan ay monumental diterakan di atas 'stili' yg telah disiapkan, obelisk, atau permukaan jurang (ump prasasti pada makam Ibrani, *SEBNA, IBA, gbr 53, bnd 43, 48). Permukaan-permukaan yg lunak atau tidak datar dapat dilapisi dengan plester, barulah kemudian prasasti diukir, seperti di Mesir dan seperti di atas batu-batu mezbah (Yos 8:32; Ul 27:2 dab). Lempeng-lempeng batu lumrah dipakai untuk naskah-naskah yg berhubungan dengan raja, yg bersifat peringatan, atau yg berhubungan dengan agama, atau untuk salinan-salinan maklumat-maklumat yg berhubungan dengan hukum (*HAMMURABI). Lempeng-lempeng batu segi empat macam itu, yg rupanya tidak lebih besar dari 45 x 30 cm, dipakai untuk menuliskan Dasa Titah (Kel 32: 16). Lempeng-lempeng (lukhot) itu 'ditulis dengan jari jari Allah' atau 'tulisan Allah' (mikhtav 'elohim), biasanya ditafsirkan sebagai tulisan jelas yg tertulis dengan baik, yg dibedakan dari coretan-coretan biasa. Kata 'lempeng' (luakh) barangkali lebih melukiskan bentuk (segi empat) ketimbang bahannya, dan tidak ada kepastian bahwa dalam PL kata itu menyatakan lempeng tanah liat, walaupun dari penemuan-penemuan diketahui penggunaan lempeng-lempeng tanah fiat di Palestina dalam milenium 2 sM (lih III di bawah).

b. Papan tulis

Lempeng-lempeng yg digunakan oleh Yesaya (Yes 30:8) dan Habakuk (Hab 2:2), boleh jadi adalah papan tulis yg dibuat dari kayu atau gading dengan sebuah ceruk untuk menahan permukaan yg dilapisi lilin (Akad le'u). Papan tulis macam itu, yg biasanya berengsel untuk membuat dua lipatan atau banyak lipatan, dapat dipakai untuk tulisan dengan bentuk tulisan apa pun. Setiap lembar secara tersendiri disebut 'pintu', suatu istilah yg juga dipakai untuk sekolom tulisan (Yer 36:23). Yg paling awal dari yg ditemukan, di Nimrud, Asyur, memuat tulisan berupa karangan panjang sebanyak 6.000 baris, bertarikh kr 705 sM (Iraq 17, 1955, hlm 3-13) dan sejenis dengan yg terlihat pada patung-patung yg dipakai oleh para pencatat bila bertugas di lapangan (IBA, gbr 60). Papan tulis jenis yg sama, cikal bakal batu tulis anak sekolah, sering digunakan pada zaman Romawi (Luk 1:63; pinakidion, lempeng kecil untuk menulis).

c. Lempeng tanah liat (lih juga IV di bawah)

'Batu bata' (levena) yg dipakai oleh Yehezkiel (Yeh 4:1) mungkin terbuat dari tanah liat, sama dengan lempeng-lempeng yg digunakan untuk perencanaan dan penelitian di Babel, walaupun kata itu dapat dipakai untuk menyatakan sembarang ubin datar. 'Lempeng' besar yg di atasnya Yesaya harus menulis dengan 'tulis biasa' (yg dipertentangkan dgn tulisan seorang ahli tulis) adalah suatu lembaran atau 'permukaan yg kosong' yg terbuat dari bahan yg jenisnya tidak tentu (Yes 8:1, gillayon).

d. Papirus

Papirus tidak secara langsung disebut dalam PL sebagai alat tulis-menulis (Ibrani neyar; Akad ni'aru). Tapi papirus dapat diperoleh dari Fenisia, Danau Huleh, dan S Yordan (*PAPIRUS) pada abad 11 dan selanjutnya. Penggunaannya dibuktikan oleh tanda-tanda pada bagian belakang teraan-teraan meterai yg semula dibubuhkan pada bahan yg tidak awet itu (ump sisi balik meterai Gedalya). Papirus (yg menjadi muasal kata Inggris 'paper') dikenal juga di antara orang Asyur dan Babel pada abad 17 (R. P Dougherty, 'Writing on Parchment and Papyrus among the Babylonians and the Assyrians', JAOS 48, 1928, hlm 109-135). Papirus digunakan secara luas di Mesir dalam semua periode, dan papirus yg terdapat di antara Gulungan Laut Mati meliputi periode abad 2 sM sampai abad 2 M (*GULUNGAN LAUT MATI). 'Kertas' yg digunakan oleh Yohanes (2 Yoh 12) barangkali adalah papirus (Yunani khartes).

e. Kulit dan perkamen

Di Mesir dan Babel sejak masa-masa awal, bahan kulit dan perkamen agak jarang digunakan untuk tulisan dibandingkan papirus. Demikian juga gulungan-gulungan dari abad 17 sM dan abad-abad berikutnya jarang yg menggunakan kulit atau perkamen. Kulit kambing dan kulit domba tersedia bagi orang Israel. Penggunaan kulit untuk menyalin naskah-naskah Alkitab pada kurun waktu yg lebih kemudian, yg juga terbukti di antara Gulungan Laut Mati, mungkin penggunaan itu menyiratkan bahwa kulit sudah digunakan pada masa yg lebih awal.

Telah terbukti bahwa perkamen sudah digunakan sejak kr thn 1288 sM di Mesir, dan bersama gulungan-gulungan kulit lainnya banyak digunakan pada periode Persia dan selanjutnya. Perkamen (Latin, Yunani membrana), yg terdiri dari kulit binatang yg secara khusus dipersiapkan, lebih tahan lama dibandingkan papirus. Paulus juga menggunakan perkamen (2 Tim 4:13).

f. Ostraka

Hasil kerajinan tangan dengan bahan baku tanah yg disebut ostraka, merupakan alat tulis lainnya yg juga lazim dipakai, sebab harganya murah dan mudah diperoleh. Karena itu ostraka terutama digunakan untuk menulis catatan-catatan pendek dengan pena atau kuas dan tinta. Ostraka yg memuat catatan perdagangan pada masa Yerobeam II, telah ditemukan di Samaria, juga surat-surat yg ditulis menurut abjad (lih Vb(ii) di bawah) dari zaman Yeremia ditemukan di pintu gerbang Lakhis Ik 590 sM (*LAKHIS). Ostraka bertulis lainnya bertarikh abad 7 mencakup suatu surat yg melaporkan penyitaan sebuah jubah (bnd Kel 22:26), ditemukan di Mezad Hasavyahu di Israel (IEJ9, 1960, hlm 129).

Kadang-kadang tembikar berhiaskan huruf-huruf dan hiasan itu dituliskan atau diterakan di atasnya sebelum dibakar. Yg dituliskan biasanya adalah nama pemilik atau isi maupun kapasitas tembikar itu.

III. Alat tulis-menulis

1. Pahat dan alat ukir dari logam mudah didapat, digunakan untuk menulis pada batu, logam, gading, atau tanah liat. 'Jarum tulis' (kheret) atau 'pena' (`et) yg dipakai oleh Yeremia (17:1), yg mata penanya 'besi' telah ditafsirkan sebagai sesuatu yg lunak yg digunakan untuk menulis, atau suatu ujung yg keras (batu smiris?) yg digunakan untuk menulis pada besi, timah, atau permukaan yg keras lainnya (Yes 8:1, Vulg stylus; lih juga Ayb 19:24). Tidak satu pun dari sekian alat yg disebut itu, yg ditemukan dalam penggalian, yg perlu diragukan penggunaannya sebagai alat tulis untuk menuliskan tulisan linear.

'Pena para penyurat' (Yer 8:8) yg dipakai untuk menulis dengan tinta di atas ostraka, papirus atau permukaan-permukaan yg halus lainnya adalah sebatang gelagah yg dibelah atau dipotong untuk berfungsi sebagai kuas. Di Mesir kuno pena-pena macam itu dibuat dari pandan-pandan (Juncus maritimus), panjangnya 15-40 cm, ujungnya dipotong menyerupai bentuk tatah dan dengan itu dapat dibuat guratan-guratan yg tebal atau tipis dengan tepi-tepi yg lebar atau sempit. Pada zaman Yunani Romawi gelagah-gelagah (Phragmites communis) dipotong tajam dan dibelah seperti pena bulu ayam (A Lucas, Ancient Egyptian Materials and Industries, 1948, hlm 417). Pena macam itu adalah kalamos yg digunakan pada masa PB (3 Yoh 13). Stilus yg digunakan untuk tulisan berbentuk baji adalah sebatang gelagah yg ujungnya persegi. Mengenai bentuk, cara penggunaan, dan gambar-gambar ahli-ahli tulis-menulis dengan pena, tatah, dan stilus, lih G. R Driver, Semitic Writing3, 1976, hlm 17 dst.

2. Tinta biasanya adalah karbon (arang) hitam yg dicampur dengan getah atau minyak yg digunakan untuk menulis di atas perkamen, atau dicampur dengan zat seperti logam yg digunakan untuk menulis di atas papirus. Tinta disimpan seperti sepotong kue yg dikeringkan; ke dalamnya si ahli tulis harus mencucukkan penanya yg sudah dibasahi. Tinta pada ostraka dari Lakhis merupakan campuran karbon dan besi (dim bentuk cacar daun pada pohon ek atau asam belerang pada tembaga). Orang Romawi menggunakan juga cairan ikan sotong (Persius, Satires 3. 13), yg, seperti kebanyakan tinta, mudah dihapus dengan mencucinya (Bil 5:23), atau dengan menggaruknya dengan 'pisau raut' (Yer 36:23, Ibrani ta`ar sofer, 'pisaunya ahli tulis-menulis') yg biasanya dipakai untuk meraut atau memotong pena atau gulungan. Diusulkan bahwa kata Ibrani deyo, 'tinta' (Yer 36:18), harus diperbaiki menjadi reyo (= Mesir ryt, 'tinta'; T Lambdin, JAOS 73, 1953, hlm 154), tapi usul itu tidak pasti. Tinta yg digunakan oleh Paulus (2 Kor 3:3) dan Yohanes (2 Yoh 12) hanya dinyatakan dengan 'hitam' (melan).

Mungkin 'alat tulis' dalam Yeh 9:2-3 (Ibrani qeset) adalah palet (Mesir gsti'), yakni papan kayu segi empat dengan sebuah alur panjang untuk menyimpan pena yg terbuat dari pandan, berlubang-lubang bulat untuk tempat tinta hitam dan merah berbentuk kue. Untuk gambar palet-palet dll, lih W. C Hayes, The Sceptre of Egypt, 1, 1953, hlm 292-296; J. B Pritchard, The Ancient Near East, 1958, gbr 52, 55; IBA, hlm 32, gbr 27. Palet-palet yg sama digunakan di Siria, yg oleh ahli tulis dibawa 'di sisi' (Yeh 9:2-3, 11), seperti terlihat pada stela (= tugu batu prasasti) berbahasa Aram dari Bar-Rekub (ANEP, hlm 460).

IV. Bentuk-bentuk dokumen

a. Lempeng

Dokumen-dokumen dari tanah liat, yg permukaannya bertuliskan huruf baji, berbeda-beda ukurannya (lk 6 mm sampai 45 x 30 cm) sesuai banyaknya tempat yg diperlukan untuk teksnya. Penulisan bergerak dari kiri ke kanan dan tertib segaris (jarang yg digarisi) dan diteruskan ke bawah pada permukaan yg sama (yg datar) sampai tepi bagian bawah, kemudian dilanjutkan ke permukaan baliknya (yg cembung) sekitar tepi bagian atas dan kiri. Bila dibutuhkan lebih dari satu lempeng untuk menyelesaikan suatu karya, maka tiap 'naskah' dalam seri itu dihubungkan oleh (semacam) garis penghubung dan kolofon (tanda pengenal) (lih VI di bawah) untuk menunjukkan tempatnya yg benar.

Perjanjian-perjanjian sering dilampirkan di dalam amplop tanah liat, yg di atasnya teks isi diulangi lagi dan meterai kesaksian diterakan. Prasasti-prasasti yg lebih besar yg berkaitan dengan sejarah atau yg bersifat peringatan, ditulis di atas prisma-prisma atau silinder-silinder berbentuk tong dari tanah fiat, dan biasanya dimasukkan ke dalam fondasi-fondasi bangunan. Lempeng-lempeng kayu atau papan tulis berbeda-beda ukurannya maupun jumlah lembarannya sesuai kebutuhan.

b. Gulungan

Bentuk 'kitab' yg lazim masa PL dan PB ialah gulungan (megilla) papirus, kulit, atau perkamen yg padanya teks ditulis 'di bagian dalam' (recto). Bila perlu, dilanjutkan 'di bagian luar' pada sisi baliknya (verso) seperti dilukiskan Yehezkiel (2:10). Kadang-kadang peranti itu disebut 'gulungan kitab' (megillat sefer; Mzm 40:8; Yeh 2:9); LXX (B) mengenai Yer 36:2, 4 (khartion biblion) menyiratkan pemakaian papirus. Istilah untuk gulungan (bnd Babilonia magallatu) tidak perlu dianggap istilah dari masa kemudian. Lagipula nampaknya tradisi Yahudi yg membutuhkan Taurat disalin dan dituliskan di atas gulungan kulit (Soferim 1.1-3) adalah praktik dari waktu yg lebih dini.

Kata Ibrani sefer mengacu pada sembarang perkamen atau dokumen papirus (R. P Dougherty, hlm 114) dan berarti 'tulisan, dokumen, surat, atau kitab' (bnd Akad sipru). Kata itu berpadan arti dengan istilah untuk 'surat' ('iggeret, Est 9:25), karena juga dipakai untuk surat atau perintah dari raja (2 Sam 11:14; 2 Raj 5:10; 10:1; Yes 37:14) atau dekrit yg diumumkan (Est 1:22).

sefer, sebagai istilah umum untuk tulisan, digunakan untuk komunikasi dari seorang nabi (Yer 25:13; 29:1; Dan 12:4); surat (keterangan) cerai secara hukum (Ul 24:1; Yer 3:8; Yes 50:1); perjanjian pembelian barang tidak bergerak (Yer 32:11); atau surat tuduhan (Ayb 31:35). Kata itu juga menyatakan daftar umum (Neh 7:5; Kej 5:1), perjanjian (Kel 24:7) atau kitab Taurat (Ul 28:61; Yos 8:31), kitab syair (Bit 21:14; Yos 10:13), dan juga himpunan data sejarah (1 Raj 11:41; 14:19; 1 Taw 27:24; 2 Taw 16:11; 25:26). Satu kali 'kitab-kitab' (jamak sefarim) mengacu kepada Kitab-kitab Kanonik pada zamannya (Dan 9:2). Itu menunjuk pada catatan ilahi (Mzm 69:29; 139:16; Mal 3:16; Kel 32:32; Dan 12:1) dan satu kali menunjuk pada pengetahuan dari kitab pada umumnya (Yes 29:11; bnd Dan 1:4). Istilah ini beserta kata-kata seakar dan hampir searti terdapat dalam naskah-naskah Ugarit, dan sefer, penulis, terdapat sebagai kata pinjaman dalam bh Mesir pada abad 13 sM.

Gulungan, seperti halnya papan tulis dan lempeng tanah liat, ditulisi dalam kolom-kolom (delatot) sebanyak yg dibutuhkan dan, karena itu panjangnya sesuai dengan yg dibutuhkan (Yer 36:23).

Pada masa PB 'kitab' (biblion) merupakan suatu gulungan seperti yg digunakan untuk Taurat (Mrk 12:26; Luk 4:17-20). Peranti itu berbentuk gulungan (Why 6:14) berupa bagian-bagian dari papirus yg kulit bagian dalamnya (byblos) digunakan. Seperti halnya kata Ibrani sefer, kata Yunani biblion dapat dipakai untuk sembarang bentuk (atau bentuk yg tak tertentu) dokumen tertulis, termasuk daftar nama (Flp 4:3; Why 13:8). 'Kitab-kitab' (jamak to biblia; Yoh 21:25; 2 Tim 4:13), menjadi istilah untuk Kitab-kitab Suci yg telah terhimpun, dan dari sinilah kata bible, Biblia, dsb, dalam bh-bh Barat. Apabila yg dimaksudkan ialah gulungan kecil dipakailah kata biblaridion (Why 10:2-10).

c. Kodeks

Kr abad 2 M gulungan mulai digantikan oleh kodeks, yaitu sekumpulan lembaran bahan tulis-menulis yg dilipat dan diikat bersama pada satu tepinya, dan biasanya dilindungi dengan sampul. Ini merupakan langkah penting dalam perkembangan 'kitab' modern, dan didasarkan pada bentuk fisik lempeng tulis. Pada mulanya buku catatan dari papirus atau perkamen itu hanya sedikit dipakai untuk kepustakaan kafir. Tapi di Palestina (Misyna, Kelim 24.7), dan terutama di Mesir, papirus dan perkamen dipakai untuk tulisan-tulisan Kitab Suci, di mana penyesuaian dengan 'bentuk kodeks untuk memperoleh semua teks baik dari PL maupun PB yg digunakan di jemaat-jemaat Kristen ... telah lengkap, sejauh ditunjang oleh data-data yg kita miliki sekarang, sebelum akhir abad 2, bahkan mungkin lebih awal lagi'. Di luar lingkungan Kristen bentuk kodeks secara umum diterima pada abad 4 M. Bahkan ada yg mengatakan, tapi tidak terbukti, bahwa bentuk ini dikembangkan oleh gereja Kristen perdana karena mudahnya pengangkutan dan pengiriman. Memang, membranai yg diminta oleh Paulus (2 Tim 4:13) boleh jadi buku catatan dari papirus berisi tuturan-tuturannya atau tulisan-tulisannya sendiri, atau -- lebih mungkin -- suatu tulisan Kristen purba, barangkali Injil kedua atau Kitab Kesaksian-kesaksian, yaitu suatu bunga rampai bagian-bagian PL yg digunakan untuk menunjang tuntutan agama Kristen. Tulisan-tulisan ini merupakan kontras terhadap 'kitab-kitab' (ta biblia), yg secara umum mungkin adalah gulungan-gulungan (dari LXX?). Mengenai pentingnya kodeks-kodeks purba dalam sejarah Kanon Alkitab, *KANON. (Lih CA Roberts, dlm P. R Ackroyd, (red.) Cambridge History of the Bible, 1, 1970, hlm 57.)

V. Tulisan

a. Hieroglif

(i) Hieroglif Mesir. Tulisan asli Mesir zaman Firaun mempunyai tiga macam bentuk: hieroglifik (Yunani hieros, 'suci', dan glife, 'ukiran'), hieratik (Yunani hieratikos, 'imamat'), dan demotik (Yunani demotikos, 'populer').

1. Sistem hieroglifik. Huruf-huruf hieroglif Mesir adalah lambang-lambang bergambar, yg asalnya adalah gambar-gambar untuk menyatakan hal-hal yg dilambangkannya; banyak di antaranya yg segera digunakan untuk menyatakan bunyi -- khususnya konsonan-konsonan pada kata Mesir untuk hal yg dilambangkan oleh hieroglif gambar itu. Jadi suatu lambang macam itu dapat digunakan untuk menyatakan konsonan-konsonan yg sama dalam mengeja kata-kata yg lain. Beberapa dari lambang fonetik itu menjadi hanya melambangkan satu konsonan macam itu; dengan demikian itulah lambang-lambang alfabetis pertama di dunia.

Tapi orang Mesir tidak pernah memisahkan lambang-lambang itu sebagai abjad tersendiri, sebagaimana dilakukan oleh tetangga-tetangga mereka orang-orang Semit Barat. Kebanyakan kata-kata Mesir yg dieja dengan lambang-lambang fonetik atau lambang-lambang bunyi, disusuli oleh lambang gambar atau 'pedoman' yg menandakan kelas umum ke mana kata itu termasuk. Namun, dalam sekian banyak hal, nampaknya lebih tepat mengatakan bahwa sebenarnya lambang-lambang fonetik ditambahkan di depan lambang gambar (apa yg disebut 'pedoman') sebagai pelengkap untuk menentukan pembacaan atau nada yg tepat, dan dengan demikian artinya yg benar, bukan bahwa lambang gambar itu berlaku sebagai penentu kelas atau kata yg dituliskan secara fonetik (bnd H. F Fairman, Annales du Service des Antiquites de l'Egypte 43, 1943, hlm 297, 298; bnd P Lacau, Sur le Systeme hieroglyphique, 1954, hlm 108). Bila suatu lambang fonetik mempunyai nilai bunyi lebih dari satu, maka dapat ditambahkan lambang-lambang alfabetis tambahan untuk menunjukkan bagaimana itu harus dibaca, walaupun kadang-kadang lambang tambahan itu ditambahkan padahal tidak ada yg perlu diragukan.

2. Hieratik dan demotik. Dua tulisan Mesir yg lain, -- hieratik dan demotik -- merupakan perubahan-perubahan tulisan hieroglifik yg mempertahankan bentuk gambarnya yg bagus sepanjang sejarah Mesir. Tulisan hieratik adalah bentuk kursif dari tulisan hieroglifik, yg ditulis dengan pena dan tinta di atas papirus, yg menjadi lambang bentuk, bukan lagi lambang gambar, untuk mempercepat penulisannya. Membandingkan huruf hieratik dengan huruf hieroglif sama dengan membandingkan tulisan tangan Latin dengan huruf cetak Latin. Tulisan hieroglif pertama kali muncul menjelang didirikannya monarki Firaun (Dinasti pertama) lk 3000 sM dan tulisan hieratik dipakai segera sesudahnya. Bentuk tulisan ketiga Mesir -- demotik, adalah bentuk hieratik yg lebih sederhana dan ringkas, pertama kali muncul kr abad 7 sM dan, seperti kedua tulisan lainnya, bertahan sampai abad 5 M.

3. Penyingkapan. Pada akhirnya huruf-huruf Mesir kuno tidak lagi digunakan pada abad 4 M (hieroglifik) dan abad 5 M (demotik), dan tetap merupakan kitab tertutup untuk waktu 13 abad sampai penemuan batu Rosetta pada thn 1799, dalam ekspedisi Napoleon ke Mesir yg memungkinkan penyingkapan tulisan-tulisan dan bh Mesir kuno. Batu Rosetta memuat dekrit Ptolemeus V dalam dua bahasa, bertarikh 196 sM, dalam bh Yunani dan bh Mesir; yg terakhir dengan tulisan hieroglifik dan juga dengan tulisan demotik. Akhirnya batu Rosetta dan obelisk Bankes membuat orang Perancis, J. P Champoilion, pada thn 1822 dapat memperoleh cara penyingkapan yg dasariah atas huruf-huruf hieroglif Mesir, dengan menunjukkan bahwa huruf-huruf itu sebagian besar penggunaannya adalah fonetik dan bahwa bh Mesir sebenarnya adalah induk bh Kept, bh gereja penduduk asli Mesir.

4. Luas pemakaiannya. Sejak awal huruf-huruf hieroglif dipakai untuk segala tujuan: catatan-catatan sejarah, naskah-naskah agamawi, dan tujuan-tujuan administrasi biasa. Huruf-huruf itu dituliskan di atas papirus atau ostraka, atau diukirkan pada monumen-monumen batu, atau dipahatkan pada kayu atau logam di mana saja prasasti dibutuhkan. Tapi, sejak dini pada milenium 3, tulisan kursif yg lebih sederhana dan ringkas, yakni hieratik, menjadi lazim untuk penulisan di atas papirus, dan dengan demikian untuk penulisan segala catatan tentang kehidupan sehari-hari dan administrasi. Sementara itu huruf-huruf hieroglif masih terus digunakan untuk naskah-naskah formal, prasasti-prasasti di atas batu, dan tujuan-tujuan yg berhubungan dengan tugu-tugu. Akhirnya, sejak abad 7 sM, tulisan demotik banyak menggantikan tulisan hieratik sebagai tulisan untuk urusan dagang dan administrasi; dan tulisan hieratik sejak abad 10 dan selanjutnya banyak menjadi tulisan untuk papirus-papirus agamawi.

KEPUSTAKAAN. Mengenai tulisan-tulisan Mesir, lih A. H Gardiner, Egyptian Grammar, 1957, hlm 5-8. Mengenai tulisan-tulisan hieroglif itu sendiri sebagai gambar-gambar, lih N. M Davies, Picture Writing in Ancient Egypt, 1958, yg diberi ilustrasi berwarna. Mengenai asal usul dan perkembangan awal sistem hieroglif, lih S Schott, Hieroglyphen: Untersuchungen zum Ursprung der Sehrift, 1950; dan Lacau.

Untuk batu Rosetta, lih risalah BM, The Rosetta Stone, dan untuk penemunya, lih W. R Dawson, JEA 43, 1957, hlm 117, 44, 1958, hlm 123. Mengenai penyingkapan huruf-huruf hieroglif, lih F. LI Griffith, JEA 37, 1951, hlm 38-46, atau Gardiner, hlm 9-11; Egypt of the Pharaohs, 1961, hlm 11-14, 19-26.

(ii) Hieroglif Het. Sistem huruf-huruf hieroglif yg dipakai oleh orang-orang Het di Anatolia dan Siria, terutama dalam paroan terakhir milenium 2 sM, disingkapkan thn 1946 oleh Bossert (lih AS 3, 1953, hlm 53-95), dan tulisan itu sementara dipelajari secara rinci dan digunakan untuk perbandingan dengan logat-logat Het yg ditulis dalam tulisan huruf baji. Sistem tersebut terdiri dari suku kata suku kata sederhana (ba, da, dll) dengan kata tanda bagi benda-benda biasa mis tanah, raja (E Laroche, Les Hieroglyphes Hittites, 1, 1960).

b. Tulisan linear

(i) Tulisan piktografk. Dokumen-dokumen tertulis dari Babel purba (Sumeria) lk 3000 sM, dan dari Mesir segera sesudah masa itu, menggunakan piktogram sederhana dan piktogram majemuk. Lambang-lambang awal, juga piktografik, dari Biblos menunjukkan bahwa sejak lk thn 2500 sM tulisan-tulisan yg sama telah digunakan di Siria, walaupun sampai sekarang belum terbaca seluruhnya. Tapak-tapak cap purba dari Biblos (Gebal) bertarikh lk 3100 sM, menyiratkan juga bahwa telah dilakukan langkah-langkah pertama menuju ke tulis-menulis, walaupun tidak ada kesepakatan yg penuh dengan E Dhorme bahwa lambang-lambang purba itu adalah suatu bentuk tulisan Fenisia. Benda-benda dari Kerajaan Mesir Tengah yg telah ada sejak Biblos, menunjukkan bahwa lk thn 2100-1700 sM telah digunakan huruf-huruf pseudo-hieroglif.

(ii) Tulisan proto-Fenisia. Lambang-lambang alfabetis dari Biblos, seperti tanda-tanda tembikar dari Lebeah dekat Sidon, mungkin menunjukkan bentuk-bentuk awal dari huruf-huruf alfabetis Fenisia yg lebih kemudian. Prasasti-prasasti dari Serabit el-Khadim dan dari lembah-lembah di dekat Sinai, secara umum sekarang diterima sebagai menunjukkan huruf-huruf yg diambil dari huruf-huruf hieroglif Mesir (lih Va) yg harus dipandang bertarikh lk 1800 sM (JEA 48, 1962, hlm 45-48). Tapi, jumlah lambang-lambang yg berbeda-beda (20-33) menunjukkan suatu tulisan alfabetis non-Mesir, yg secara bermacam-macam disebut huruf Kanaan purba, huruf Sinai purba, atau huruf proto-Fenisia. Pecahan barang-barang tanah fiat yg dibubuhi lambang-lambang 'Kanaan purba' yg ditemukan di Gezer, Tell el-Hesi, Lakhis (juga di atas suatu belati), Bet-Semes, dan Hazor nampaknya memberi kesaksian tentang penggunaan secara luas tulisan itu di Palestina pada periode itu.

Jadi sejak thn 1500 sM abjad secara umum sudah digunakan di Siria-Palestina. Mungkin penyebabnya ialah kebutuhan akan suatu bentuk penulisan yg lebih sederhana daripada hieroglif Mesir dan tulisan Babel yg berhuruf baji yg tidak praktis, untuk tujuan-tujuan perdagangan. Pada pokoknya, lambang-lambang hieroglifik Mesir (atau Biblos?) tertentu digunakan dengan cara yg tidak biasa untuk melambangkan bunyi-bunyi asing dengan memisahkan bunyi-bunyi konsonantalnya (ump Mesir r', 'mulut', dipakai untuk melambangkan nilai-nilai r). Lambang-lambang itu yg diberi nama-nama Semitis untuk piktogram yg berpadanan (yaitu Ibrani pe, 'mulut'), kemudian digunakan hanya untuk melambangkan huruf-huruf alfabetis Semitis (yaitu P). Lih pula Tabel dan Kepustakaan.

Susunan abjad Fenisia diperlihatkan oleh teks-teks Ibrani yg akrostik (Nah 1:2-14; Mzm 9, 10, 25, 34, 37, 111, 112, 119, 145; Rat 1-4; Ams 31:10-31; Yes 61:3, 9), dan oleh daftar-daftar huruf-huruf Ugarit. Abjad Yunani purba mempertahankan skema yg sama, tapi dasar untuk penyusunan huruf-hurufnya banyak diperdebatkan. Itu mungkin supaya mudah diingat, dan disusun sebagian menurut kesamaan-kesamaan (dalam) anti kata-kata, yg digunakan untuk huruf-huruf satu demi satu, atau menurut sifat bunyi-bunyi yg diungkapkannya (Driver, hlm 180-185).

(iii) Tulisan Fenisia-Ibrani purba. Ada kekosongan dalam pengetahuan sekarang tentang perkembangan tulisan bergaris -- yg disebut 'tulisan Fenisia'. Kemudian ditemukan prasasti-prasasti Biblos (lk 1300 sM), Syafatbaal (lk 1200 sM), dan prasasti-prasasti di atas makam dan peti mayat (dari batu) Ahiram dari Biblos, yg sekarang umumnya dianggap bertarikh lk 1000 sM (BASOR, 134, 1954, hlm 9). Secara kronologis dan geografis data tentang itu terlalu terpencar-pencar untuk memungkinkan penyelidikan rinci tentang epigrafi dan paleografi. Memang data-data itu cukup untuk menunjukkan bahwa tulisan itu hanya sedikit sekali mengalami perubahan dalam waktu lebih dari 1.000 thn, sehingga boleh jadi setiap orang terpelajar dapat membaca tulisan itu pada setiap tahapan perkembangannya. Lagi pula jumlahnya, nilai fonetiknya, dan bentuk dasar huruf-hurufnya tetap saja; dan tulisan itu selalu dituliskan horizontal dari kanan ke kiri (BA 13, 1950, hlm 84).

1. Prasasti-prasasti (tanda) monumental utama untuk penyelidikan tentang epigrafi Ibrani ialah: (a) Kalender pertanian dari Gezer, yg dianggap berasal dari tulisan purba atau tulisan bukan ahli, dan dianggap bertarikh abad 10 sM (DOTT 201-203). (b) Stela Mesa, raja Moab (*MOAB, BATU). Prasasti sepanjang 34 baris ini dari sudut sejarah adalah penting, dan merupakan contoh tentang perkembangan tulisan (tanda) monumental Ibrani yg digunakan di pedalaman lk 850 sM. Huruf-huruf yg bentuknya cantik ini menunjukkan kecenderungan untuk menjadi kursif. Itu terlihat lebih lanjut dalam (c) Prasasti Siloam (*SILOAM; IBA, gbr 56), yg bertarikhkan pemerintahan Hizkia, lk 710 sM, dan (d) prasasti Makam Pengurus Istana dari Siloam dari masa yg kr sama (lih IBA, gbr 53).

2. Tulisan kursif yg agaknya dipakai oleh penulis-penulis PL yg asli terlihat pada mata-mata panah bertulis dan pada tulisan-tulisan yg lebih kecil lainnya bertarikh lk 1000 sM. Himpunan naskah paling dini ialah 75 ostraka asal Samaria dari kurun waktu pemerintahan Yerobeam II (lk 760 sM; Y Yadin, Studies in the Bible, 1960, hlm 9-17; DOTT, hlm 204-208). Naskah-naskah itu memperlihatkan tulisan praktis dan jelas, tulisan ahli-ahli tulis yg sudah berpengalaman. Kata-kata yg tidak diberi vokalisasi dipisahkan oleh titik-titik. Beberapa pecahan bejana tanah liat yg bertaburan di Yerusalem, Bet-Semes, Tel el-Hesi, Megido, dan Ezion-Geber menunjukkan bahwa tulisan yg tertera pada pecahan-pecahan itu dekat dengan tulisan pada prasasti terowongan Siloam. Hanya mengalami sedikit perubahan dalam bentuk luarnya yg terjadi pada zamannya surat-surat Lakhis yg bertarikh 590-587 sM, dan kebanyakan ostraka dari Arad pada akhir sejarah Yehuda, memperlihatkan suatu taraf tulisan tangan yg lebih maju (A Lemaire, Inscriptions Hebraiques, 1977; ANET, hlm 568-569, DOTT, hlm 212-215).

(iv) Tulisan Aram. Tulisan 'Fenisia' mulai dikembangkan menjadi tulisan Aram pada lk 1000 sM. Pada lk 850 naskah-naskah dari Tell Halaf dan Arslan Tas masih memperlihatkan kemiripan yg dekat dengan tulisan Fenisia yg linear itu. Dari daerah yg sama (Buraij, dekat Alepo) dan periode yg sama ditemukan batu Melgart, yaitu monumen bertulis paling dini yg memuat nama seorang raja Damsyik (Ben-Hadad, 1 Raj 15:18; DOT]', hlm 239-241).

Hampir seabad kemudian prasasti Zakir, raja Hamat, sepanjang 46 baris, dengan ukiran dewa cuaca (DOTT, hlm 242-250) dan perjanjian Matiel dari Arpad dengan BarGa'aya lk 754 sM, memperlihatkan luasnya pemakaian tulisan untuk naskah-naskah Aram (A Dupont-Sommer, Les inscriptions arameennes de Sfire, 1958). Gaya kursif yg makin meningkat, yg sudah berkembang di Yehuda, dibuktikan oleh Stela Bar-Rekub (ANEP, 460) dan oleh suatu daftar nama di atas pecahan bejana tanah dari Nimrud (Kalah) di Asyur bertarikh abad 7 sM (Iraq 19, 1957, hlm 139-145). Tulisan Aram yg sama bisa didapati di atas lempeng tanah liat yg ditemukan abad itu dan abad berikutnya (J Stevenson, Assyrian and Babylonian Contracts with Aramaic Reference Notes, 1902), dan dalam suatu surat yg dikirim dari Filistia ke Mesir lk 604 (D. J Wiseman, Chronicles of Chaldaean Kings, 1956, ps 28; DOTT, hlm 251-255). Yg disebut terakhir memperlihatkan tulisan tangan yg lebih kuno dibandingkan banyak papirus dari (pulau) Elefantina di Mesir bertarikh abad 5 sM (*PAPIRUS; DOTT, hlm 256-269) dan dari tempat-tempat lain (G. R Driver, Documents of the Fifth Century BC, 1952). Salah satu ciri khas naskah-naskah itu ialah, bahwa di situ bentuk Aram kuno dan Aram kemudian berdampingan (seperti dlm Yer 10:11). Sejak waktu itu tulisan kursif 'gaya kedutaan' Persia yg molek terdapat di seluruh Asia Barat Kuno.

(v) Tulisan-tulisan Yahudi Purba. Naskah-naskah temuan di Wadi Qumran (*GULUNGAN LAUT MATI), gua-gua di Yudea (terutama naskah-naskah yg telah ditentukan tarikhnya dari Wadi Muraba'at), dan penemuan osuaria (tempat penyimpanan tulang-tulang sebagai tanda peringatan) yg berprasasti di kawasan Yerusalem, menghasilkan bahan penyelidikan yg kaya mengenai tulisan-tulisan Paleo-Ibrani yg formal maupun yg kursif, dan tulisan-tulisan Yahudi awal dari abad 3 sM sampai abad 2 M. Runtuhnya kerajaan Persia dan tidak dipakainya lagi bh Aram istana raja, menyebabkan adanya banyak variasi setempat.

1. Tulisan Yahudi Arkhais atau proto-Yahudi dari Yehuda, lk 250-150 sM, seperti tercermin dalam naskah-naskah Qumran, memperlihatkan tulisan tangan formal yg berasal dari tulisan Aram Persia yg sejak menjelang akhir abad 3 sM, merupakan campuran antara tulisan formal dan tulisan kursif yg dekat dengan tulisan-tulisan Aram yg lazim dari Palmira dan Nabatea yg juga timbul pada waktu itu. Kendati tulisan-tulisan nasional itu belum dapat ditentukan tarikhnya secara tepat, tulisan-tulisan tangan yg formal, semi formal dan yg benar-benar kursif kadang-kadang dapat dikenali dengan jelas. Tulisan itu dapat juga dilihat pada mata uang dari periode itu.

2. Periode wangsa Hasmone (lk 150-30 sM) menunjukkan perkembangan tulisan tangan formal yg lebih persegi dan lebih bersiku-siku pada tingkat-tingkat awalnya, dalam Papirus Nas, yg sekarang ditentukan tarikhnya sebagai lk 150 sM.

3. Periode Herodes (30 sM-70 M) merupakan suatu masa perkembangan yg cepat, dan naskah-naskah periode ini dapat dengan teliti ditentukan tarikhnya.

4. Periode pasca-Herodes (sesudah 70 M) sekarang dapat diketahui dengan baik dari dokumen perdagangan dan dokumen hukum yg lengkap dengan tahun penerbitannya. Tulisan kursif yg bukan berhubungan dengan sastra adalah tulisan tangan yg sangat jelimet. Perkembangan semua tulisan tangan Yahudi dilukiskan dan dibicarakan secara rinci oleh FM Cross (The Bible and the Ancient Near East, [red.] G. E Wright, 1961, hlm 133-202). Pelajaran ini, termasuk mengenal kebiasaan dan bentuk huruf yg dipakai penulis-penulis, sangat berguna teristimewa dalam hal meneliti bagaimana kesalahan tulisan terjadi dalam naskah-naskah PL.

(vi) Tulisan Yunani. Abjad Yunani oleh tradisi dianggap berasal dari seorang pedagang Fenisia, Kadmus (Herodotus, Hist. 5, 58, 59), dan anggapan itu dibenarkan oleh pembandingan abjad-abjad Yunani kuno di Atena, Kreta, Tera, Korintus dan Naksos dan juga naskah-naskah Fenisia yg lengkap dengan thn terbitnya (lih di atas). Dari bentuk huruf-hurufnya mungkin orang Yunani sudah sejak pertengahan abad 9 sM menyesuaikan tulisannya dengan kebutuhan bahasa mereka yg Indo-Eropa itu. Mereka menggunakan lambang-lambang Fenisia untuk bunyi-bunyi yg tidak mereka miliki ('h h `u [w] y), untuk bunyi-bunyi vokal yg mereka butuhkan (a e e o y i berturut-turut), dan dengan demikian menciptakan abjad yg sebenarnya adalah yg pertama, yg di dalamnya huruf-huruf mati dan huruf-huruf hidup dinyatakan dengan lambang-lambang yg jelas.

Banyaknya data monumen dan data tulisan membuat penyelidikan tentang epigrafi dan paleografi Yunani menjadi suatu ilmu pengetahuan yg penting dan tepat bagi latar belakang naskah-naskah Alkitab dari bh Yunani. Dari Yunani Barat abjad itu sampai pada orang-orang Etruska, dan dengan demikian melalui tulisan-tulisan Romawi memasuki Eropa.

(vii) Tulisan-tulisan lain. Seperti halnya perkembangan tulisan Fenisia untuk penggunaannya dalam tulisan Yunani, dan kemudian dalam tulisan Romawi, dan sesudah itu dalam tulisan Eropa, tulisan tipe Kanaan purba dikembangkan untuk penggunaannya dalam tulisan-tulisan Semit Selatan. Contoh-contoh tentang itu ditemukan di Palestina Selatan dan Babel Selatan mulai pada thn 600 sM, dan di Arabia Selatan sedikit lebih kemudian.

c. Tulisan-tulisan dengan huruf baji

(i) Tulisan Akad. Di Babel piktograf digunakan untuk menulis di atas tanah fiat dan batu sejak lk 3100 sM dan selanjutnya. Tapi segera ternyata bahwa sulit menggambar garis lengkung di atas tanah fiat, dan lambat laun piktograf digeser oleh penggantinya berupa rangkaian torehan-torehan berbentuk baji. Suatu perubahan yg lebih jauh demi kemudahan, ialah dari cara menulis yg menuruni kolom-kolom dari kanan ke kiri menjadi cara menulis klasik, yakni menulis secara horizontal berkolom-kolom, dengan baris-baris tulisan berjalan dari kiri ke kanan. Lambang (suatu gabungan baji-baji) adalah yg mula-mula digunakan untuk bunyi-bunyi atau suku kata-suku kata (fonogram); karena juga digunakan sebagai penentu maka lambang-lambang tertentu ditempatkan di depan atau di belakang kata-kata dari kelas yg berbeda-beda (ump kelas dewa-dewa, nama orang, dan nama tempat, binatang, benda-benda dari kayu, dsb). Pada thn 2800 sM tulisan dengan huruf baji telah sepenuhnya berkembang, walaupun bentuk-bentuk lambangnya diubah pada periode-periode yg berbeda (untuk suatu Tabel yg menjelaskan hal ini, lih /BA, gbr 22).

Dari milenium 2 sM huruf baji Akad, yg menggunakan paling sedikit 500 lambang yg berbeda-beda, telah digunakan di luar Mesopotamia (di mana huruf baji dipakai untuk bh-bh Sumeria, Babel, Asyur) untuk tulis-menulis di Palestina (bh Semit Barat, Huri, Hiti). Kota-kota utama menggunakannya untuk surat-menyurat diplomatik dengan Mesir, dan di Palestina ditemukan lempengan dengan tulisan itu -- di Taanakh (12), Tell el-Hesi, Gezer, Sekhem (2), Afek (3), Hazor dan Yerikho yg bertarikh abad 15 -- abad 14 sM. Penemuan suatu salinan bagian dari Epos Gilgames di Megido thn 1955 ('Atigot, 2, 1959, hlm 121-128) menunjukkan bahwa pada periode itu beberapa ahli tulis-menulis yg terlatih perihal tulisan itu, memiliki naskah-naskah sastra utama dan buku-buku pedoman dari Babel yg dengan mudah dapat diperoleh.

(ii) Tulisan Ugarit. Di Ras Syamra para ahli tulis-menulis menggunakan huruf baji Akad untuk surat-menyurat antar bangsa dan untuk beberapa naskah yg menyangkut ekonomi pada abad 15-14 sM. Tapi bersamaan dengan itu dikembangkan pula suatu sistem penulisan yg unik. Sistem itu menggabungkan kesederhanaan abjad Kanaan (Fenisia) yg ada dengan sistem penulisan Mesopotamia yg menggunakan jarum untuk menulis di atas tanah fiat, jadi dengan menuliskan abjad konsonantal dengan penulisan yg memakai huruf baji. Sejak itu digunakan baik untuk bh Semit maupun untuk bh non-Semit (Hurru), dikembangkan 29 lambang (dgn menambahkan beberapa baji dlm pola sederhana yg mengandung sedikit atau tanpa hubungan dgn tulisan Akad) untuk menyatakan huruf mati dan 3 lambang 'alef dengan huruf-huruf hidup yg berbeda ('a 'i 'u). Sejumlah lempeng karya ahli-ahli tulis menyajikan susunan abjad itu, yg membayangkan huruf-huruf Ibrani yg lebih kemudian (C Virolleaud, Palais royal d'Ugarit, 2, 1957).

\\==> Image 00304\\

Bentuk tulisan itu digunakan baik untuk naskah agamawi, naskah sastrawi (mitologis), dan naskah administratif maupun untuk beberapa surat. Kendati lebih mudah mempelajarinya ketimbang huruf Akad, namun sampai sekarang sangat sedikit data mengenai penggunaannya secara luas, walaupun beberapa contoh bentuk lain telah ditemukan di Taanakh, Tabor dan Bet-Semes di Palestina, dan di Siria Selatan. Bentuk tulisan itu nampaknya datang terlambat untuk meniadakan penulisan linear dari Fenisia yg telah mapan dan disederhanakan itu. Untuk penyelidikan umum, lih C. H Gordon, Ugaritic Handbook, 1947.

(iii) Tulisan Persia Lama. Menjelang akhir abad 7 sM tulisan alfabetis Aram telah menggantikan secara luas tulisan huruf baji, kecuali dalam beberapa pusat dan jenis kuil tradisional di mana huruf baji Babel terus digunakan untuk dokumen-dokumennya, seperti di Babel sampai thn 75 sM.

Di bawah orang Persia dari wangsa Akhemenes digunakanlah suatu sistem yg khas, yg diambil dari huruf baji Babel, berdampingan dengan tulisan Aram untuk bahasa mereka yg Indo-Iranian (Aria). Huruf baji yg disederhanakan itu terutama diketahui dari naskah-naskah sejarah tentang pemerintahan Darius I dan Xerxes. Suatu prasasti dari Darius yg dituliskan di atas batu karang di Behistun dalam bh Persia Lama, bh Babel, dan bh Elam memberikan kunci untuk menyingkapkan tulisan-tulisan dengan huruf baji, sehingga versi Persia Lama segera disingkapkan setelah salinan Rawlinson pada thn 1845 dipublikasikan. Tulisan berhuruf baji itu mencakup 3 lambang huruf hidup, 33 lambang huruf mati dengan huruf hidup yg menyifatkannya (yg inheren), serta 8 ideogram dan 2 pemisah kata. Suatu bentuk lain tulisan dengan huruf baji digunakan untuk bh Elam (Persia Barat daya) dalam bentuk pertamanya, dan untuk lebih dari 2.000 naskah mengenai ekonomi dari Persepolis lk 492-460 sM (G. G Cameron, Persepolis Treasury Tablets, 1948; R. T Hallock, Persepolis Fortification Tablets, 1969).

VI. Melek huruf dan metode-metode sastrawi

Data mengenai tingkat melek huruf, yg bermacam-macam sesuai dengan waktu dan tempat, adalah sedikit. Gideon menangkap seorang muda dari Sukot di Yordan yg dapat menuliskan daftar para tua-tua kota (Hak 8:14). Kemampuan generasi muda untuk menulis (Yes 10:19) meningkat dengan datangnya abjad dan didirikannya sekolah-sekolah bagi ahli tulis-menulis yg dikaitkan dengan kuil-kuil dan tempat-tempat suci (*SEKOLAH). Setiap orang Israel yg berumah tangga harus menuliskan kata-kata dari Taurat (Ul 6:9; 11:20). Tulis-menulis, meskipun di Asia Barat tidak terbukti berkembang baik seperti di Babel, pasti tersebar luas di Siria dan Palestina sejak milenium 2 sM, ketika paling sedikit lazim digunakan lima tulisan, yaitu huruf-huruf hieroglif Mesir, abjad Kanaan, abjad Biblos, huruf-huruf baji Akad, dan huruf-huruf baji alfabetis Ugarit.

Tulis-menulis pada umumnya dikerjakan oleh para ahli tulis-menulis yg terlatih yg dapat diambil dari penduduk kelas mana pun (melawan E Nielsen, Oral Tradition, 1954, hlm 25, 28), walaupun kebanyakan pejabat yg lebih tinggi dalam administrasi adalah melek huruf. Lempeng-lempeng bertuliskan huruf baji, ostraka, dan papirus yg sangat banyak yg sejauh ini ditemukan, memperlihatkan kedudukan penting yg ditempati oleh perkataan tertulis di seluruh Asia Barat Kuno. Adalah sukar untuk menaksir suatu persentase karena tidak lengkapnya rekaman, tapi 6 ahli tulis-menulis berbanding 2.000 penduduk Alalah di Siria pada lk 18001500 sM, barangkali dapat menunjukkan tingkat melek huruf di kota-kota penting (D. J Wiseman, The Alalakh Tablets, hlm 13). Penyelidikan-penyelidikan mutakhir menunjukkan bahwa para ahli tulis-menulis belajar bh Akad mereka di pusat-pusat 'universitas' utama seperti Alepo di Siria atau Babel sendiri.

Dokumen-dokumen disimpan di dalam keranjang-keranjang, peti-peti, atau guci-guci (Yer 32:14) dan ditempatkan di rumah sembahyang setempat (1 Sam 10:25; Kel 16:34, bnd 2 Raj 23:8) atau di gudang arsip khusus (Ezr 6:1). Buku-buku pedoman yg istimewa dipegang oleh para ahli tulis-menulis (seperti ump di Nipur lk 1950 sM). Tiglat-Pileser I (lk 1100 sM) di Asyur dan Asyurbanipal (lk 650 sM) di Niniwe mengumpulkan salinan-salinan naskah-naskah, atau menyuruh dituliskan untuk perpustakaan-perpustakaan mereka. Manakala menyalin naskah-naskah, seorang ahli tulis-menulis sering mengutip sumbernya, dengan menerangkan kondisi dokumen yg daripadanya ia menyalin, dan menyatakan apakah naskahnya telah diperiksa dengan dokumen aslinya, atau hanya menyalin saja dari tradisi lisan, dianggap sebagai metode yg kurang dapat dipercaya (J LwssOe, 'Literacy and Oral Tradition in Ancient Mesopotamia', Studia Orientalia loanni Pedersen, 1953, hlm 205-218). Tradisi lisan dipandang ada, berdampingan dengan perkataan tertulis, tapi tidak menduduki tempat seperti kewibawaan utama. Kolofon (baik Akad maupun Mesir) memberikan juga judul atau garis tanda pengenal yg menandakan karya itu; tapi mengenai penulisnya, sering tanpa nama, tapi tidak selalu begitu. Mungkin sekali bahwa penulis-penulis Ibrani memakai metode-metode yg sama.

KEPUSTAKAAN. Lih acuan-acuan yg diberikan dalam teks di atas; juga untuk penjelasan lengkap, G. R Driver, Semitic Writing3, 1976; I. J Gelb, A Study of Writing, 1963; D Diringer, The Alphabet, 1948; J Cerny, Paper and Books in Ancient Egypt, 1952. Mengenai buku-buku dalam dunia kuno, lih Cambridge History of the Bible, 1, 1970, hlm 3066; J. C. L Gibson, Syrian Semitic Inscriptions, 1, Hebrew, 1971; 2, Aramaic, 1975. DJW/KAK/ARM/BS/HAD

\\==> Image 00305\\

\\==> Image 00306\\




TIP #17: Gunakan Pencarian Universal untuk mencari pasal, ayat, referensi, kata atau nomor strong. [SEMUA]
dibuat dalam 0.08 detik
dipersembahkan oleh YLSA