Markus, Injil
Markus, Injil [haag]
Markus (Injil Markus).
- (I). PEMBAGIAN DAN PENYUSUNAN. Pembagiannya ditentukan oleh titik-titik utama theologis. yang ditekankan karena kepentingannya di dalam hidup Yesus, atau menekankan pandangan penulis injil. Pandangan pertama berlaku pada Mark 11:1-16:20: Yesus di Yerusalem. Pandangan kedua berlaku bagi "perjalanan Yesus" ke Yerusalem 1-10, di mana peristiwa-peristiwa tertentu mengenai para murid (Mark 1:16-20; Mark 3:13-19; 6:7-13; 8:27-33) memperoleh kepentingan khusus. Dengan peristiwa itu dimulailah tiap kali sebuah bagian baru. Bagian-bagian itu dan perikope mengenai para murid yang mendahului saling menjelaskan. Dengan demikian ~IM menunjukkan pembagian berikut ini: Mark 1:1-15 = pandangan umum. Di dalam perjalanan Yesus tercapailah detik masuknya dunia Allah ke dalam dunia orang-orang. Naskah Mark 1:16 sampai Mark 3:12: Situasi orang-orang yang baru itu didasari kekuasaan Sabda Yesus Yang memanggil dan menebus mereka. Naskah Mark 3:13-6:6: Rahasia kekuasaan Allah dan salah pengertian orang-orang. Naskah Mark 6:6 sampai Mark 8:26: Tujuan karya Yesus adalah manusia yang sempurna dan tetap. Naskah Mark 8:27 sampai Mark 10:52: Bentuk mengikuti Yesus dalam iman adalah jalan salib. Naskah Mark 11:1 sampai Mark 12:44: Di dalam mengutus putraNya itu Allah (Mark 12:1-6) datang mencari (bdk.: Mark 11:12-13), namun yang dicari bukan harta manusia (Mark 12:13-17) atau penghormatan manusia (Mark 12:38 dst.), melainkan cintakasih manusia (Mark 12:28-34,41-44). Bab 13: Sejarah manusia yang berhadapan dengan hari panen terakhir, menuntut orang beriman berjaga secara besar-besaran. Bab Mark 14:1-15:47: Yesus membuktikan kebenaran injilNya dengan menerima putusan kematian yang dibuat oleh para lawanNya. Jawabannya ditemukan pada pengakuan kepala pasukan. Naskah Mark 16:1-8: Pandangan penutup. Dengan kebangkitan Yesus, semua orang beriman dipanggil untuk mengikuti jejak Yesus dengan semangat.
- (II). CORAK THEOLOGIS. Bagi kita ~IM merupakan usaha pertama yang bukan hanya mewariskan kumpulan sabda Yesus bagaikan dari seorang guru yang terpelajar. Kitab itu juga tidak bermaksud mengumpulkan karya-karya mujizat satu demi satu sebagai perbuatan seorang "manusia ilahi", yang mengalahkan semua para pengkhotbah pengembara dan para pembuat mujizat. ~IM tidak hanya mewartakan arti keselamatan dari Dia yang dibangkitkan dan dimuliakan. Secara jelas kelihatan, bahwa ~IM mau menghubungkan kenyataan yang penuh kekuasaan dari arus yang bangkit dengan hidup Yesus di dunia. Dengan itu, maka hidup para beriman memperoleh pengertian yang menentukan. Hidup dan nasib Yesus di dunia menjadi tuntutan Dia yang telah dimuliakan kepada jemaat yang mengikutiNya. Pada pewartaan yang penuh nilai itu mereka alami kehadiran yang penuh dengan kemesraan dari yang bangkit. Dengan mengkaji sejarah, Markus menggunakan dasar itu tadi. Ia bukan hanya memberitakan karya Yesus yang telah lalu, melainkan menafsirkan pada masa kini jalan Yesus dalam sinar terang orang-orang beriman. Di situ didapati dua persoalan yang perlu diperhatikan: Yang sebuah adalah situasi orang-orang beriman. Mereka ditentukan oleh situasi di mana mereka berada karena karya Yesus yang mengandung wibawa khusus karena kehendak Allah (Mark 1:22,27; 2:12), sehingga memperoleh keselamatan terakhir, artinya: Mereka telah mencapai persatuan tanpa dosa dengan Allah (Mark 2:1-12,14-17) dan dengan demikian memiliki kemampuan untuk hidup dari kekuatan Allah (Mark 4:26-32). Manusia tidak bisa bertemu dengan kekuasaan Allah tanpa dikuasai ketakutan (Mark 4:41; 5:14-17,33,42), maka hidup Allah di dalam diri manusia sebetulnya tidak begitu nampak pada mulanya. Barang siapa meragukan kesetiaan karya keselamatan illahi (Mark 6:53-56), yang dikarenakan pandangan seolah-olah ia ditinggalkan Allah, maka ia telah membuktikan sendiri, bahwa hatinya belum tiba pada kesadarannya (Mark 6:45-52). Sebab ia belum menangkap, bahwa Allah mengandaikan suatu hal (Mark 7:1-23): supaya kita menyapa Yesus dengan kepercayaan besar (Mark 7:24-30) dengan menyadari, bahwa kita sendiri tidak layak. Dari segi yang lain Markus juga membuat agar jemaat tidak menaruh keraguan lagi, bahwa orang beriman kini berada di bawah tuntutan-tuntutan yang baru dan radikal (Mark 9:32,35,43-50; 10:9,21,43-44), yang hanya ditangkap dari jalan salib Yesus sebagai Mesias. Yesus sebagai Mesias menjelaskan pandangan Allah dengan perjalananNya kepada salib (Mark 8:31 dst.; Mark 9:30 dst.; Mark 10:32 dst.). Oleh karena itu hendaknya orang beriman tahu, bahwa baginya tidak ada jalan lain menuju Yesus Kristus dalam kemuliaan Allah (Mark 8:34 sampai Mark 9:1; 10:39). Bahwasanya Allah mendekati kita di dalam PutraNya (Mark 9:2-13), bukan berarti perpendekan jalan lewat dunia (Mark 9:5-6), dalam mana kekuasaan kejahatan mesti harus dipatahkan oleh kekuatan orang beriman (Mark 9:14-29). Perlucutan kejahatan ini terjadi secara konkrit di dalam pengabdian para beriman secara tulus-ikhlas (Mark 9:33-42; 10:1-12,14-45), yang juga sering mengandung perpisahan menyedihkan dari semua kejahatan di dalam hidup masing-masing demi kepentingan orang lain (Mark 9:42-50). Konsekwensi itu tidak dapat diketahui oleh siapa saja yang tidak menangkap, bahwa orang tidak dapat berbuat lain kecuali bersatu sebagai anak di dalam persekutuan dengan Yesus. Karena hanya dengan cara menyeluruh itulah orang dapat menjadi milik Allah (Mark 10:13-31; bdk.: Mark 35-40). Allah sebagai yang hidup (Mark 12:18-27) tidak mengharapkan hal-hal lain kecuali cintakasih manusia dan penyerahannya secara mutlak (Mark 12:13-17,32-33,38-44). Hanya soal-soal itulah yang membimbing menuju kerajaanNya (Mark 12:28-34).
- (III). ASAL DAN TERJADINYA TULISAN. Sesuai dengan tradisi yang dapat dikembalikan sampai pada Klemens dari Aleksandria, maka kebanyakan para-eksegit (ahli KS) memandang Roma sebagai tempat penulisannya. Meskipun demikian dapat dipikirkan juga adanya sebuah jemaat kristen asal kafir di daerah Timur-tengah. Barangkali ditulis sebelum tahun 70, sebab tidak menyinggung kehancuran kenisah Yerusalem. Markus 13 menunjukkan pikiran yang menyeluruh perihal dekatnya perang Yahudi. Menurut kesaksian uskup Papias dari Hierapolis (sekitar tahun 130) ~IM itu ditulis oleh --> Markus, "penterjemah Petrus", setelah Petrus meninggal. Meskipun ada keraguan tertentu yang melawan catatan itu (nampaknya Markus tidak mengetahui geografi Palestina secara jelas; ada kecenderungan-kecenderungan anti Yahudi) masih banyak penyelidik ahli yang berpendapat, bahwa ~IM benar-benar ditulis oleh Yohanes Markus. Bila tidak demikian, maka hampir tidak dapat diterangkan, bagaimana injil itu diterima, bila dianggap ditulis oleh seorang yang bukan murid dan bukan rasul.
MARKUS, INJIL [ensiklopedia]
I. Isi ringkas
a. Pendahuluan (Mrk 1:1-13)
Yohanes Pembaptis tampil (Mrk 1:1-8); baptisan dan Yesus dicobai (Mrk 1:9-13).
b. Pelayanan pertama di Galilea (Mrk 1:14; 6:44)
Kerajaan Allah di Galilea (Mrk 1:14-45); awal pertentangan (Mrk 2:1; 3:6); pertentangan meningkat (Mrk 3:7-35); perpecahan menjadi kenyataan (perumpamaan-perumpamaan ttg Kerajaan, Mrk 4:1-34); Yesus melewatkan sinagoge (rumah ibadat), dan memberitakan diriNya kepada Israel (Mrk 4:35; 6:44).
c. Pelayanan selanjutnya di Galilea (Mrk 6:45; 9:50)
Tuhan Yesus menyingkirkan kendala untuk memberitakan diriNya kepada bangsa non-Israel (Mrk 6:45; 8:10); kepada orang Farisi tidak diberikan tanda dan murid-murid tidak dapat melihatnya tatkala Yesus memberikan tanda (Mrk 8:11-26); Yesus dipermuliakan, dan pengakuan murid-murid (Mrk 8:27; 9:10); Yesus memberitakan dahulu kematian-Nya (Mrk 9:11-50).
d. Menuju Yerusalem (Mrk 10:1-52)
Soal jawab di Perea (Mrk 10:1-34); syarat menjadi yg pertama (Mrk 10:35-45); Bartimeus disembuhkan (Mrk 10:46-52).
e. Pelayanan di Yerusalem (Mrk 11:1; 13:37)
Yesus memasuki Yerusalem (Mrk 11:1-14); Yesus menyucikan Bait Suci (Mrk 11:15-19); nasihat dan perdebatan (Mrk 11:20; 12:44); pembicaraan di Bukit Zaitun (13:1-37).
f Kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus (Mrk 14:1; 16:8)
Perjamuan malam (Mrk 14:1-25); pergumulan batin di Getsemani (Mrk 14:26-42); Yesus ditangkap (Mrk 14:43-52); Yesus di hadapan Sanhedrin (Mrk 14:53-72); Yesus di hadapan Pilatus (Mrk 15:1-15); Yesus disalibkan (Mrk 15:16-41); Yesus dikuburkan dan bangkit pada hari yg ketiga (Mrk 15:42; 16:8). (Mrk 16:9-20 merupakan tambahan yg kemudian kepada Injil Mrk).
Bidang bahasan Injil Mrk senada dengan penginjilan perdana para rasul, mulai dari Yohanes Pembaptis dan berakhir pada kebangkitan (bnd Kis 10:36-43; 13:24-37). Para ahli yg membela pandangan bahwa asli Mrk berakhir pada 13:37 (paling tidak edisi pertama) (mis E Trocme), setuju bahwa ay-ay seperti 9:9 adalah berdasarkan kesaksian kebangkitan, jadi bagi mereka cakupan Mrk tetap sama.
II. Penulis
Berita mengenai karya pelayanan Yesus ini, yg terpendek dan paling sederhana dari berita semua Injil, menurut tradisi dikumpulkan oleh Yohanes Markus dari Yerusalem, yg sebagai orang muda beberapa kali menyertai Paulus, Barnabas dan Petrus (*MARKUS, YOHANES). Dugaan modern mengatakan juga Filipus sang penginjil.
a. Kesaksian Papias
Pernyataan paling dini tentang asal mula Injil ini, ialah yg diberikan oleh Papias (terdapat dlm Eusebius, EH 3.39): 'Markus, penterjemah Petrus, dengan teliti menuliskan semua yg diingatnya, baik ucapan maupun perbuatan Yesus, tapi tidak berurutan, sebab dia bukan pendengar langsung dan tidak ikut menyertai Yesus. Tapi di kemudian hari, seperti sudah dikatakan, Markus menemani Petrus, dan rasul ini berusaha menyadur ajarannya sejauh diperlukan, tapi tidak seolah-olah hendak mengumpulkan ucapan-ucapan Tuhan Yesus. Maka Markus tidak membuat kesalahan waktu ia menuliskan hal-hal yg dia ingat; lagipula dia memusatkan perhatiannya kepada ihwal -- jangan sampai dia meninggalkan satu pun dari yg sudah dia dengar, atau memasukkan suatu kesaksian palsu ke dalam beritanya'.
Kira-kira satu generasi kemudian, keterangan Papias ini (yg hidup kr thn 140 M) diperkuat dalam pengantar Injil Mrk yg dimaksudkan untuk melawan Marcion dalam Irenaeus. Pengantar Mrk melawan Marcion -- sayang hanya sebagian yg masih tinggal -- menyebut Markus 'Si jari buntung' (kolobodaktulos), sebab jari-jarinya kelihatan pendek dibandingkan anggota tubuhnya yg lain; ia penterjemah Petrus, dan sesudah Petrus pergi ia terus di Italia untuk menuliskan Injil-nya sampai selesai. Irenaeus (Against Heresies, 3.1.1) mengingatkan akan Mrk sebagai sudah tertulis, 'tatkala Petrus dan Paulus memberitakan Injil di Roma dan mendirikan gereja di sana'. Lalu ditambahkan, 'Sesudah mereka pergi (exodos), Markus murid Petrus, sendiri menyerahkan kepada kami dalam bentuk tulisan sari pati pemberitaan Petrus'. Jadi kedua penulis itu menganggap Injil Mrk ditulis tidak lama sesudah Petrus mati, sekalipun di antara Bapak gereja di kemudian hari ada yg berkata bahwa Injil Mrk ditulis waktu Petrus masih hidup.
b. Pengaruh Petrus
Injil Mrk kadang-kadang disebut 'Injil Petrus' (harus dibedakan dari tulisan-tulisan bidat dgn judul ini atau yg mirip dgn ini di kemudian hari), pertama karena kesaksian penulis-penulis dari abad tadi; kedua, walaupun tangan Markus yg menulisnya, nada suara itu adalah nada Petrus, terbukti dari sifat kejadian-kejadian, pemilihan bahan dan cara menanganinya. Harus diakui bahwa semua hal ini dapat diterangkan satu demi satu dengan cara lain, namun bobot masing-masing adalah tinggi. Jadi tak mungkin sebutan itu hanyalah tradisi hampa, jika dianggap Injil ini sebagai catatan tertulis dari pemberitaan Petrus, yg aslinya diberikan kepada pelajar-pelajar katekisasi Kristen, baik di Roma atau di Timur Tengah, dan dipadatkan dalam bentuk tulisan, apakah pada saat sumber lisan telah meninggal, atau pada saat kematiannya sudah mengancam. Hal ini menempatkan tarikh penulisan Injil ini kr pada paroan kedua abad pertama, mungkin antara kematian Petrus (65 M) dan jatuhnya Yerusalem (70 M), khususnya jika ps 13 ditulis sebelum kejatuhan itu. Bagaimanapun juga, tarikhnya tak boleh lebih kemudian dari 75 M, sebab Matius dan Lukas memakai Injil Mrk sebagai sumbernya.
Ada ahli yg menyimpulkan bahwa Injil ini ditujukan kepada orang Roma (jika gereja Roma yg berpengaruh itu mendukung Mrk, maka dapat dimengerti mengapa Mrk segera diterima di mana-mana), atau ditujukan kepada bangsa-bangsa non-Israel. Tapi kesimpulan pertama mungkin dipengaruhi oleh nama Latin yg dipakai Markus, sebagai tambahan kepada nama Ibraninya Yohanes, dan pengaruh dari tempat asal Injil ini menurut tradisi. Jadi bukan berdasarkan penelitian empiris yg teliti tentang isi kitab itu. Dari tiap segi lebih berhak Injil Luk dianggap sebagai Injil untuk bangsa-bangsa non-Yahudi; dan kendati Petrus-lah yg ditugasi Allah untuk menobatkan Kornelius, non-Yahudi itu (Kis 15:7), tapi secara umum Petrus diakui dalam gereja kuno sebagai rasul orang-orang bersunat (Gal 2:8), bukan rasul untuk non-Yahudi, seperti Paulus. Jadi tidak tepat mengatakan bahwa bentuk-bentuk ajaran Petrus secara khusus ditujukan kepada dan dicocokkan dengan pendengar non-Yahudi. Lagipula para pakar modern makin menunjukkan, bahwa semua Injil mempunyai ciri khas Yahudi, sekalipun Markus dengan saksama menerangkan kata-kata dan kebiasaan Yahudi, seolah-olah kepada pembaca non-Yahudi.
III. Hubungan Injil Markus dengan Injil Matius dan Injil Lukas
Sudah lebih dari satu abad, sejak zaman Lachmann, hubungan sastra antara Mrk dan semua Injil lainnya menarik perhatian ahli-ahli Barat. Kecuali Yoh, yg dalam banyak segi adalah berdiri sendiri, jelas bahwa ketiga Injil lainnya erat hubungannya, dan biasanya disebut Injil Sinoptik. Alasannya ialah, jika ketiga Injil itu dibanding-bandingkan, ketiganya menunjukkan gambaran yg amat serupa tentang pekerjaan dan ajaran Kristus. Hasil penelitian 'kritik sastra' menemukan ketergantungan langsung antara Injil yg satu dengan kedua Injil lainnya, atau dua Injil sama dengan dokumen ketiga, baik perihal yg nyata maupun yg hanya merupakan hipotesa.
a. Markus sebagai Injil pertama
Kebanyakan ahli Protestan memegang teguh, mengikuti Lachmann, bahwa Mrk adalah Injil pertama. Mereka menganggap Mrk sebagai yg paling dini dari ketiga Injil Sinoptik, setidak-tidaknya dalam bentuknya yg sekarang, kendati mungkin hanya memuat ps 1-13 saja. Dan kebanyakan pakar modern menganggap bahwa Markus adalah penemu bentuk wujud penulisan Injil (suatu bentuk yg di kemudian hari sangat populer, Luk 1:1-3) dengan menghubungkan beberapa ucapan dan mujizat Yesus yg terpisah-pisah, menyusunnya dalam bingkai buatannya sendiri.
Sampai seberapa jauh bingkai itu taat asas pada kronologis atau teologis sering dipersoalkan. Baru-baru ini beberapa ahli bahkan berpendapat bahwa bingkai itu bersifat tradisional dalam gereja. Kalau memang benar demikian, maka Mrk menjadi sumber utama bagi Matius dan Lukas. Sumber kedua, ialah sejumlah naskah yg tidak berasal dari Markus, yg dianggap sudah dalam bentuk tertulis sejak dini, yg sama-sama dimiliki oleh Matius dan Lukas. Naskah-naskah itu sesudah disendirikan, ditandai dengan lambang 'Q', dari bh Jerman Queue, artinya 'sumber'. Jadi Injil Mrk dan Q adalah dua di antara bentangan benang paling dini dalam tradisi Injil, walaupun harus diakui bahwa Matius dan Lukas masing-masing mempunyai bahan tersendiri dan khas, dan bahan itu ditandai dengan lambang abjad yg cocok. Dalam sistem ini, Mrk dianggap ditulis pada tahun-tahun menjelang runtuhnya Yerusalem thn 70 M, dan menjadi Injil tertulis yg pertama; jadi beberapa ciri khasnya diterangkan sebagai akibat dari kodratnya yg 'primitif'.
Bahayanya ialah, jika Mat dan Luk agak menyimpang dari Mrk, maka kedua Injil itu dipandang kurang dapat dipercaya, seolah-olah memutarbalikkan sumbernya untuk tujuan masing-masing. Tapi makin jelas bahkan Injil Mrk pun menghimpun bahannya dari perbendaharaan yg jauh lebih luas (bnd Yoh 21:25), dan mengaturnya untuk tujuan teologis (sekalipun tujuan itu adalah tujuan seluruh gereja). Dengan demikian kecaman-kecaman tersebut tidak dapat diterima. Keempat Injil berdiri, senada dan sepakat atau rontok bersama-sama, sejauh bertalian dengan historisitas bahan-bahannya.
b. Injil Matius sebagai Injil pertama
Para pakar teolog Katolik lama sekali menolak pendapat di atas. Tapi kini keadaan sudah berubah. Bagi mereka pendapat itu adalah dasar iman untuk mempercayai bahwa Mat adalah Injil pertama. Mereka membela keyakinan itu dengan cara yg rumit sekali, tapi tidak menimbulkan keyakinan lain di luar lingkungan mereka. Alasan yg paling diandalkan ialah bahwa gereja kuno percaya bahwa Mat adalah Injil pertama. Kalau tidak, mengapa Mrk ditempatkan sebagai Injil kedua?
Tapi terlalu sedikit yg kita ketahui tentang prinsip penyusunan Kitab-kitab dalam beberapa bagian PB, untuk membenarkan dalih psikologis seperti itu. Jika pendapat mereka benar, pendapat itu membuat Mrk hanya sebagai otoritas kelas dua, sehingga sajian Mat akan dinilai lebih berbobot daripada sajian Mrk. Hal itu tidaklah benar: kits dapat melihat alasan mengapa Mat 'memperlancar' Mrk, atau mengapa Mat tidak 'menjegal' Mrk, tapi tidak ada alasan bagi keduanya untuk Baling menggeser. Silang pendapat terus berlangsung; lambang-lambang matematika bertambah-tambah, dan bertambahnya data sastra yg diusulkan menuntut penyaringan yg cermat. Daripada menyimak kepada Kitab-kitab Injil, para ahli sibuk meneliti berkas-berkas dokumen sehingga mereka terjebak dalam jerat agnostisisme sastra. Adakah jalan keluar? Seperti orang berkata mengenai keahlian pakar PL., hipotesa sastra itu runtuh karma tak mampu menahan beratnya sendiri.
c. Kritik bentuk
Sementara itu muncul pendapat baru yg menggilas seluruh silang pendapat itu dan membuatnya menjadi tak berarti. Pendapat baru ini disebut 'kritik bentuk' yg muncul kr thn 1920 dimotori oleh M Dibelius dan diikuti ketat oleh R Bultmann. Kritik bentuk ini dapat dilukiskan sebagai melepaskan penelitian menyeluruh secara terpadu demi penelitian atas bagian-bagian, dan pada mulanya murni berupa ilmu yg deskriptif dan mengklasifikasikan. Bermacam-macam kejadian dan ucapan yg dicatat dalam Mrk (lazim disebut 'perikop' dari kata Yunani yg berarti 'alinea') sekarang diperiksa, dan digolong-golongkan menurut kodratnya dan isinya. Sejauh tahap itu masih dapat dikatakan baik. Penggolongan ini diciptakan dari sudut yg baru, segar, dan membuahkan beberapa hasil yg positif dan berharga.
Tapi tahapan yg berikutnya, adalah memeriksa keadaan yg hipotetis -- tidak berdasarkan pengetahuan -- dan praktik keagamaan yg menjurus kepada penyimpangan setup ucapan, hal itu membuat tafsiran tergantung pada rekonstruksi yg bersifat dugaan, yg justru sangat berbahaya. Beberapa ahli yg radikal mengemukakan pandangan, bahwa cerita yg ada, kalau bukan karangan adalah yg di rekayasa ulang demi kebutuhan gereja muda itu, jadi bukanlah catatan yg benar tentang ucapan-ucapan atau perbuatan-perbuatan Kristus. Ahli-ahli yg kurang radikal mengatakan cerita itu di seleksi dahulu baru diceritakan dengan memperhatikan kebutuhan gereja itu. Jadi, upaya yg mulai sebagai gerakan netral yg murni, berakhir dengan menghakimi benar tidaknya historisitas teks Kitab Suci. Dapat dikatakan bahwa dalil seperti yg baru dikemukakan sebenarnya tidak berarti bagi penganut ajaran ini, sebab dokumen-dokumen yg hanya berdasarkan dugaan telah disingkirkan karena kecenderungan meyakini tradisi lisan, tepat seperti keyakinan para ahli PL masa kini. Namun dapat diragukan, apakah ada perbedaan hakiki antara: (a) memandang setumpuk bahan khusus sebagai dokumen tertulis, atau (b) memandangnya sebagai kumpulan tradisi lisan, apalagi kalau kita mengingat betapa teguhnya tradisi lisan di Timur Tengah Kuno.
Kendati demikian, penekanan pada 'kritik bentuk' dan tradisi lisan itu tidak menyelesaikan persoalan yg sudah lama itu, melainkan membuatnya menjadi kedaluwarsa. Selanjutnya, hal itu membuat masalah tarikh Injil Mrk tidak terjawab, kalau tidak hendak dikatakan tak berarti. Ahli-ahli bisa saja menentukan tarikh pengumpulan tradisi lisan menjadi karya sastra dalam bentuknya yg sekarang, tapi asal mula Mrk jauh lebih dini, yaitu dalam tradisi lisan dari angkatan yg menjadi saksi mata peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus. Pandangan ini tentu mempunyai segi positif, yakni pembaca langsung diperhadapkan dengan ingatan para saksi mata yg menyaksikan sendiri peristiwa-peristiwa itu (Luk 1:2). Banyak usaha telah ditempuh mengikuti jalan ini dengan sangat berhati-hati untuk tujuan membangun, dan banyak hasil yg telah dicapai. Khususnya, banyak tradisi yg dipakai oleh Markus adalah 'tradisi gerejawi', bukan 'tradisi-tradisi perseorangan': usia cerita-cerita itu telah tua sewaktu Markus menggunakannya, dan merupakan kesaksian gereja (Gereja Roma?) bagi Kristus.
d. Sejarah tradisi
Penelitian mutakhir ialah usaha menemukan bagaimana tradisi lisan itu hingga mencapai bentuknya yg sekarang, dengan menggali lebih dalam sejarah bahan-bahan Injil sebelum berbentuk tulisan. Ajaran ini bahkan lebih bersifat dugaan saja. Kita tahu suatu ucapan atau peristiwa tertentu dalam Mrk muncul dalam Mat atau Luk, dan kita dapat mengemukakan alasan-alasan apabila dalam laporan peristiwa itu muncul semacam dugaan. Tapi kita tidak tahu apa saja yg melatarbelakangi teks Mrk kecuali menduga saja. Akhirnya kita harus mempelajari naskah yg ada: Satu-satunya Kristus yg kita kenal ialah Kristus dalam Injil. Memang Kristus ini adalah Kristus orang beriman: tak boleh disangkal bahwa Ia juga Kristus dari sejarah.
e. Kritik redaksi
Gerakan paling mutakhir memusatkan perhatiannya pada sumbangan para penulis Injil. Dalam rangka Injil Mrk, gerakan ini menuntun kita mengenali Markus sebagai teolog. Tak dapat diragukan bahwa Markus memang memilih bahan-bahannya dengan seksama, tapi janganlah sekali-kali berpikir bahwa ia memasukkan teologi ciptaannya sendiri atas Injil Mrk.
f. Pendekatan liturgis
Zaman ini meningkat kecenderungan (lebih berdasarkan jiwa zaman ketimbang penemuan baru) untuk menerangkan Mrk dan Mat sebagai Injil gerejawi. Misalnya, cerita tentang penderitaan Yesus dalam Mrk dianggap ditulis dengan mencocokkannya pada liturgi 'Minggu Suci' dalam gereja purba. Juga urutan dalam Mrk kadang-kadang dikatakan berkaitan dengan kalender liturgi gereja. Sementara pandangan ini tidak objektif, jelas nampak melebih-lebihkan kepiawaian orang-orang Kristen perdana itu, khususnya mereka yg tinggal di luar Yerusalem: kadang-kadang seiring dengan pandangan bahwa Mrk ditulis oleh 'pemuda marah' pada abad pertama, untuk menyerang kecenderungan dalam perkembangan gereja dan kealpaan misi pada waktu itu. Pandangan ini lagi-lagi terlalu modern, sebab pemuda zaman Markus tidak bereaksi dengan berbuat demikian. Bagaimanapun juga, kesan yg kita dapati tentang pribadi Markus ialah dia bukan seorang brilyan, tapi anggota jemaat biasa dan yg setia menerapkan ulang tradisi umum -- apakah dalam konteks liturgi atau tidak.
g. Penemuan penemuan terakhir
Menentang aliran yg kembali ke arah tradisi lisan ini, timbullah reaksi membela dokumen-dokumen tertulis terdahulu sebagai sumber data. Reaksi ini didukung oleh penemuan-penemuan di Mesir pada masa akhir-akhir ini, berupa beberapa papirus Yunani yg memuat baik bagian-bagian Injil-injil Kanon maupun yg bukan kanon. Dengan tarikhnya yg begitu kuno, papirus-papirus temuan itu mengacu kepada tarikh timbulnya Injil tertulis mundur lebih dini lagi, paling tidak pada akhir abad (Kristen) pertama. Temuan-temuan ini, walaupun memang sangat penting artinya, terhisab dalam temuan thn 1947 dan berikutnya dalam gua-gua dekat Qumran di daerah S Yordan, tempat penyembunyian naskah-naskah tulisan tangan dalam bh Ibrani, Aram dan Yunani. Gulungan-gulungan Laut Mati ini kebanyakannya bertarikh sebelum zaman Kristen, agaknya milik dari sekte Yahudi yg berupa persekutuan semi biara. Kehadiran naskah-naskah tulisan tangan ini secara nyata membuktikan, bahwa kita tak dapat mengingkari adanya dokumen-dokumen Kristen pada abad pertama dalam bh Yunani atau Aram, sebagai sumber-sumber Injil, khususnya kumpulan nubuat Mesianis atau 'kesaksian'.
h. Pengaruh pengaruh Aram
Selanjutnya, penemuan dokumen-dokumen Semitik seperti itu membangkitkan kembali persoalan, dan sudah berlangsung setengah abad, tentang apakah bh Yunani ataukah bh Aram yg sebenarnya bahasa asli dari sumber-sumber Injil, khususnya Mrk. Dalam terang 'kritik bentuk', masalah bahasa asli itu tidaklah terlalu pelik: seluruhnya tergantung pada tahapan mana dari tradisi yg diputuskan sebagai sumber data Injil, sebab makin dini tahapan sumber data itu, makin besar kemungkinannya dalam bh Aram, khususnya di Galilea. Selanjutnya hal ini menimbulkan pertanyaan: sampai di mana bh Yunani Injil Mrk bukan hanya bh Yunani koine, yakni bahasa umum pada abad pertama di sekitar Laut Tengah Romawi (*BAHASA PB), tapi 'bahasa Yunani terjemahan'? Jadi ungkapan-ungkapan Semitik yg begitu banyak dalam Mrk harus dipertanggungkan, bukan kepada ingatan-ingatan akan PL, ataupun kepada pengaruh dari 'bahasa Yunani terjemahan' Septuaginta, yaitu PL dalam bh Yunani, bahkan juga tidak kepada pengaruh bahasa ibu dari seorang Yahudi Palestina (Markus memang dari keluarga demikian) yg pada usia tua lazimnya memakai bh Yunani, tapi harus dipertanggungjawabkan langsung kepada sumber asli bh Aram, yg terletak di hadapan penulis Injil.
Bagi ahli-ahli yg mengikuti jalan ini, banyak ay yg sukar dalam Mrk dilihat sebagai disalahmengerti atau salah diterjemahkan dari naskah asli bh Aram, baik tulisan atau lisan yg sudah hilang. Kelihatannya sudah pasti, bahwa bh Aram adalah bahasa ibu Tuhan Yesus dan rasul-rasul-Nya, terbukti dari kata-kata dan ungkapan-ungkapan Aram yg tertera dalam pakaian Yunani (bnd Mrk 5:41; 7:34; 15:34). Teori C. C Torrey bahwa seluruh Injil adalah hasil terjemahan, pada umumnya tidak disenangi oleh pare ahli karena terlalu ekstrim, dan mengandung terlalu banyak alasan yg dipaksakan. Kendati demikian hanya sedikit ahli yg tidak mengakui pentingnya peranan bh Aram mendasari trap Injil, atau yg tidak mengakui nilai kosakata atau ungkapan Aram, jika naskah Yunani menimbulkan berbagai kesulitan. Pendekatan yg terakhir dan yg sangat berhati-hati dalam bh Inggris sudah diusahakan, terutama oleh Matthew Black. Tradisi mendukung adanya suatu proses terjemahan seperti disaksikan oleh Papias dari Hierapolis, yg terdapat dalam tulisan Eusebius. Tapi bila ia berkata bahwa Markus adalah 'penterjemah' dari Petrus, maksudnya yg sebenarnya tidak boleh melulu Markus mengalihkan khotbah Petrus dari bh Aram ke bh Yunani. Gaya Latin yg terkandung dalam Mrk boleh jadi mendukung penulisan asli Injil ini di Roma: pada sisi lain hanyalah menunjukkan kasarnya bh Yunani di wilayah timur kerajaan itu. Tapi hal itu tidak sepenting kesemitikannya.
IV. Ciri-ciri khas
Pada dasarnya, Mrk adalah Injil yg paling gamblang dan ringkas dari semua Injil; Mat memuat banyak hal bersifat khas Yahudi yg tidak muncul di mana pun dalam Mrk; dan dalam Luk terdapat beberapa ihwal 'medis' atau 'peri kemanusiaan' tapi alpa dalam Mrk, ump ketiga perumpamaan yg terkenal dalam Luk 15. Bagian akhir Mrk yg tiba-tiba terhenti merupakan masalah tersendiri. Tapi hal itu lebih baik di nalar sebagai masalah naskah daripada masalah teologis. Berbagai alternatif yg dikemukakan dalam naskah-naskah tulis tangan, menyarankan bahwa aslinya berakhir pada tempat yg sama, apa karena suatu bencana atau hancur karena disengaja: hal yg terakhir ini sukar dipercaya. Bisa dimaklumi apabila dipersoalkan bahwa sajian di atas adalah melulu definisi negatif tentang sifat dan isi Mrk. Memang dan justru itulah sebabnya mengapa Mrk pernah dipandang oleh Kritik Sumber sebagai Injil paling tua dan paling primitif dari semua Injil, sumber bagi kedua Sinoptik lainnya. Tapi jika semua sumber dokumen lenyap dalam kebalauan tradisi lisan, lalu apa lagi hendak di kata?
Pengamatan mendasar mengenai watak dan gaga bahasa menemukan bahwa sifat dan gaga Markus tetap ada. Hal itu bukanlah melulu pengertian subyektif sekitar abad 20; Papias dari Hierapolis menunjukkan bahwa masalah itu dirasakan sama tajamnya pada abad kedua. Jika Markus mengetahui lebih banyak lagi fakta tentang Tuhan Yesus, mengapa ia tidak menceritakannya? Mengapa ia membuang begitu banyak hal yg dicatat oleh penulis Injil lainnya? Mengapa -- pada pihak lain -- cerita-ceritanya umumnya lebih rinci dan bersemangat dibandingkan cerita-cerita sejajar pada Injil lainnya? Lagipula dilihat sepintas lalu Mrk nampaknya disusun mengikuti pola kronologis masa hidup Yesus, justru menurut nalar Helenistik dan dunia modern lebih bersifat biografi (sekalipun Markus sendiri mengingatkan pembaca bahwa tulisannya itu adalah 'Injil' bukan biografi, Mrk 1:1). tapi betulkah Markus mengikuti pola itu? Jika tidak, adakah asas atau aturan tertentu yg kelihatan? Pada waktu Mrk diterima sebagai sumber data utama bagi Mat dan Luk, para ahli berusaha untuk membuat Injil-injil lainnya harus menerima pola kronologis Mrk. Tapi terbukti hal ini tak mungkin, sebab Mat dan Luk harus lebih dahulu dirombak atau dibuat carat supaya bisa cocok, biarpun hanya secara kasar.
Barangkali jawabnya terdapat dalam kecermatan dan kehati-hatian memakai pengertian baru akan sifat dan pentingnya tradisi lisan sebagai dasar Injil Mrk seperti keadaannya sekarang. Sebab sudah jelas, bahwa pengulangan lisan yg terus-menerus tidak menjurus kepada keanekaan yg berbeda-beda, tapi kepada keseragaman yg utuh, terutama jika pengulangan-pengulangan itu dilakukan oleh pare pengajar yg miskin fantasi lagi tua, yg tujuannya bukan untuk sekedar membuat orang puas, melainkan untuk membuat para pendengar memahami jelas ajaran gereja. Cerita-cerita tidak melantur bercabang-cabang melainkan disederhanakan, jika diceritakan melulu untuk mengajar; peristiwa-peristiwa diringkaskan mengenai intinya saja. Aneka cerita tidak tumbuh dari satu induk cerita dalam tradisi seperti ini; sebaliknya, kecenderungan ialah membaurkan aneka cerita yg asli itu tanpa sadar. Ahli-ahli tidak selalu mengakui hal ini, karena mereka terlalu sering menganggap para pelestari yg terdahulu dari tradisi Kristen itu dalam terang profesi tukang cerita bangsa Arab, Kelt atau Skandinavia, sesuai pola budaya yg sudah diketahui oleh ahli-ahli itu.
Guru Sekolah Minggu yg sudah lanjut usianya di suatu gereja di desa, tepat dijadikan gambar ibarat dari peristiwa itu. Oleh kebiasaannya yg terus-menerus 'berdoa tanpa persiapan', dia nampaknya seperti berpura-pura liturgis dalam suasana demikian. Dan bentuk doanya pun seperti sudah klise. Dalam terang gambar ibarat ini, Injil Mrk bukanlah yg paling primitif dan paling lamban dari semua Injil. Injil kedua ini bukanlah melulu pembeberan peristiwa-peristiwa, yg dibumbui dengan bermacam-macam rincian yg elok-elok oleh penulis lain, seturut khayal mereka. Sebaliknya, Mrk adalah Injil yg paling maju dari semua Injil sejauh bertalian dengan kegamblangan, penyajian langsung tentang pokok-pokok bahasan, dengan sejumlah bentuk ajaran yg terus mantap berjaya menghadapi ujian dan cobaan zaman. Itulah justru yg dikatakan oleh Papias.
Hal ini belum mengatakan apa-apa tentang tarikh yg sebenarnya dari Injil Mrk dalam bentuknya yg sekarang. Bahasan ini baru berupa penelitian empiris yg menunjukkan lebih jelas, bahwa Mrk melebihi semua Injil lainnya, yakni khas berciri Buku Panduan Guru pada abad pertama, ringkasan dari kejadian-kejadian, semua hal yang tidak penting tidak dicatat. Sebaliknya Luk khusus disusun sebagai dokumen tertulis, di antara dokumen-dokumen tertulis lain yg sudah ada (Luk 1:1-4), dan dengan perbedaan yg lumayan tajamnya dari ajaran lisan, seperti dicatat dalam Mrk. Memang Injil Luk menuntut supaya dipandang sebagai karya sastra, demikian juga Kis (Kis 1:1); Mrk tidak demikian. Markus -- dalam segala segi -- bukanlah orang yg berpendidikan seperti Lukas atau Paulus. Hal ini jelas dari dalam kejujuran Injilnya yg begitu polos. Tapi sidang pendengar atau pembaca Mrk juga bukan orang berpendidikan. Dan maksud Markus bukanlah untuk meraih karya sastra yang luar biasa hebatnya, melainkan untuk mengkomunikasikan kebenaran. Injil Mat dan Yoh juga mempunyai tanda-tanda perencanaan yg cermat, sekalipun prinsip-prinsipnya berbeda. Tapi bagi bahan-bahan seperti yang terdapat dalam Mrk, prinsip penyusunan agaknya hanya untuk membantu ingatan. Cerita-cerita dan ungkapan-ungkapan digabungkan dengan kata-kata kunci atau kesamaan inti bahasan ketimbang dengan kronologis yg ketat. Jika urutan peristiwa berbeda dari yg tertera dalam Mat dan Luk, hal itu kadang-kadang terjadi karena perbedaan kata kunci atau mata rantai penghubung yg digunakan.
Uraian di atas sangat cocok dengan bagan seperti telah disinggung tentang bentuk asli dan sifat Mrk. Bila kecocokan itu sudah dirasakan selaras benar dengan tradisi-tradisi terdahulu tentang Injil Mrk, maka pandangan itu menjadi lebih mantap lagi. Papias, saksi utama dan paling terdahulu, dalam ringkasan seperti dikemukakan di atas, membela Markus justru terhadap tuduhan-tuduhan yg diajukan oleh ahli-ahli modern terhadap dia, yakni menuduh dia menghilangkan hal-hal rinci yg penting dan lemah dalam hal kronologis. Pembelaan Papias nampak terletak pada sifat khas Injil itu, yg menurut Papias, hanya merupakan catatan permanen dari ajaran Petrus, justru dilestarikan untuk masa-masa yg akan datang, bila suatu waktu kelak sumber aslinya tidak ada lagi. Urutan kronologis yg cermat dan susunan fakta-fakta yg lengkap, kata Papias, janganlah diharapkan dari Petrus karena bukan itu tujuannya, melainkan melulu yg praktis dan bersifat mengajar. Tidaklah adil mencap seseorang gagal mencapai sesuatu yg memang ia tidak berusaha untuk itu karena menganggapnya asing dari tujuannya. Karena demikianlah adanya, maka Markus bebas dari tuduhan, bersama Petrus, dan alasan-alasan bagi banyak unsur lain dari Injilnya dengan sendirinya menjadi jernih. *INJIL, KITAB-KITAB.
KEPUSTAKAAN. Buku tafsiran oleh A Menzies, The Earliest Gospel, 1901; H. B Swete, 1913; C. H Turner, 1928; A. E. J Rawlinson, 1936; V Taylor, 1952; C. E. B Cranfield, CGT, 1960; R. A Cole, TNTC, 1961; D. E Nineham, 1963; W. L Lane, 1974; M Black, An Aramaic Approach to the Gospels and Acts, 1946; G. R Beasley-Murray, A Commentary on Mark 13, 1957; N. B Stonehouse, The Witness of Matthew and Mark to Christ, 1958; A. M Farrer, A Study in St Mark, 1951; E Trocme, The Formation of the Gospel according to Mark, ET, 1975; R. P Martin, Mark -- Evangelist and Theologian, 1972. AC/MHS/HAO

