Daftar Isi
GAMBAR: Laodikia
BROWNING: LAODIKIA
ENSIKLOPEDIA: LAODIKIA

Laodiceans

Dalam versi-versi Alkitab:

Ladokija: LDKDR
Laodikea: KL1863 KL1870
Laodikia: BIS FAYH SBDR TB TL WBTCDR
Laodisea: ENDE
orang Laodikiah: BABA

Gambar

Laodikia: selebihnya..
Topik: To the Church in Laodicea

LAODIKIA [browning]

Kota di provinsi *Asia dari kerajaan Romawi, yang sangat makmur sampai terpuruk oleh suatu gempa bumi di tahun 60. Penyaluran air yang tidak tentu ke kota itu dilakukan melalui talang air besar (aqua duct) yang menjadikannya air hangat atau suam, dan begitulah penulis Kitab Wahyu menyatakan keadaan Gereja di sana: suam-suam kuku (Why. 3:16). Sekalipun tidak ada catatan mengenai kunjungan Paulus ke Laodikia, tetapi rupanya ia menuliskan surat kepada Gereja di situ, karena mereka harus menukarkan surat itu dengan surat kepada jemaat di *Kolose (Kol. 4:16). Surat tersebut tidak ada lagi, tetapi beberapa orang berpendapat bahwa itulah Surat Efesus. Namun, bahwa Paulus adalah penulis dari kedua surat itu luas dipersoalkan. Ada surat kepada orang-orang Laodikia dari abad kedua, atau ketiga. Apa maksud penulis samaran itu tidak diketahui. Naskah-naskah yang ada dari surat itu ditulis dalam bahasa Latin.

LAODIKIA [ensiklopedia]

Satu kota di propinsi Romawi wilayah Asia. Letaknya di bagian barat negara Turki yg sekarang. Kota itu didirikan oleh Antiokhus II dari wangsa Seleukid pada abad 3 sM, dan dinamai menurut nama permaisurinya, Laodike. Laodikia berada di persimpangan jalan raya utama, yaitu jalan raya lintas Asia Kecil yg membentang ke barat menuju ke pelabuhan-pelabuhan Miletus dan Efesus, kr 160 km jauhnya; ke arah timur lewat lereng yg landai menuju dataran tinggi di bagian tengah dan dari situ terus menuju Siria. Ada jalan lain ke arah utara menuju ibukota propinsi yaitu Pergamum, dan ke selatan menuju pantai ke Atalia.

Karena letaknya begitu strategis, maka kota ini menjadi pusat perdagangan yg sangat makmur, terutama pada zaman pemerintahan Romawi. Ketika kota itu hancur karena gempa bumi yg hebat thn 60 M, kota itu sanggup menolak tawaran bantuan biaya pembangunan kembali dari kaisar. Laodikia menjadi pusat yg penting untuk perbankan dan pertukaran (Cicero, ad Fam 3.5.4). Dan karena terletak di lembah S Likus yg lebar, kota ini dikelilingi oleh tanah yg subur (S Likus adalah anak S Meander). Produksinya yg terkenal antara lain adalah jubah dari wol hitam yg berkilau (Strabo, Geog. 12.8.16 [578]), dan Laodikia juga terkenal sebagai pusat ilmu kesehatan mata.

Letaknya sangat ditentukan oleh sistem jaringan jalan raya, sehingga tidak mempunyai sumber air bersih yg tetap dan dekat. Air harus disalurkan lewat pipa-pipa ke kota dari sumber-sumber air panas di tempat yg agak jauh, dan bila tiba di kota air itu mungkin sudah menjadi hangat-hangat kuku. Pada akhirnya kota itu ditinggalkan dan kota baru tumbuh di lahan kota zaman modem (Denizli) di sekitar sumber-sumber air itu.

Karena letaknya di jalur lintas yg ramai, maka Injil sampai di Laodikia pada waktu yg sangat dini, mungkin sewaktu Paulus tinggal di Efesus (Kis 19:1), mungkin pula oleh Epafras (Kol 4:12, 13). Walaupun Paulus menyebut jemaat di sana (Kol 2:1; 4:13-16), tak ada berita bahwa Paulus telah mengunjunginya. Jelas jemaat itu memelihara hubungan erat dengan jemaat-jemaat di kota-kota tetangga, yaitu Hierapolis dan Kolose. Tentang 'surat dari Laodikia' (Kol 4:16) banyak orang menduganya adalah salinan dari 'Surat Efesus' yg telah diterima oleh jemaat Laodikia.

Surat terakhir dari surat-surat kepada 'tujuh jemaat di Asia' dialamatkan kepada 'malaikat dari jemaat Laodikia' (Why 3:14-22). Surat ini berisi banyak singgungan terhadap sifat dan suasana kota itu. Walaupun kaya, kota itu tidak mampu menghasilkan penyembuhan dari khasiat air panas, seperti tetangganya Hierapolis, atau kuasa menyegarkan dari air sejuk seperti di Kolose. Hasilnya hanyalah air hangat-hangat kuku yg hanya bermanfaat sebagai obat muntah. Jemaat Laodikia yg dituduh hangat-hangat kuku hingga tak bermanfaat (artinya, perasaan cukup diri, bukan setengah hati). Sama seperti kota itu, jemaat berpikir bahwa ia 'tidak membutuhkan apa-apa lagi' padahal ia membutuhkan 'emas', 'pakaian putih' dan 'pelumas mata' yg lebih hebat dari yg dapat disediakan oleh bankir-bankir, ahli-ahli pakaian dan dokter-dokter mereka. Seperti halnya penduduk bersikap tidak menyenangi musafir yg menawarkan kepadanya barang-barang, warga jemaat itu telah menutup pintu rumah mereka dan membiarkan Sang Pemberi tetap di luar rumah mereka.

Kristus dalam kasih-Nya berpaling menghimbau orang perseorangan (ay 20).

KEPUSTAKAAN. W. M Ramsay, The Letters to the Seven Churches of Asia, 1904; M. J. S Rudwick dan E. M. B Green, ExpT 69, 1957-1958, hlm 176-178; C. J Hemer, NIDNTT 1, hlm 317-319; Buried History 11, 1975, hlm 175-190. MJSR/CJH/SS




TIP #07: Klik ikon untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.08 detik
dipersembahkan oleh YLSA