Lambang [lambang]
- Benda biasa yang menjadi memiliki arti tertentu. Contoh:
- Pelangi adalah lambang kasih setia Allah (Kej 9:13-16; Yeh 1:28; Why 4:3).
- Tanduk adalah lambang kekuatan atau kuasa (Mzm 75:11; 132:17; 1 Sam 2:1; Dan 7:7-8; Za 1:18-21).
- Semua mimpi dan penglihatan yang tertulis dalam Alkitab memuat banyak lambang. Kitab Why penuh dengan bahasa lambang bermakna rohani.
LAMBANG [ensiklopedia]
Kata ini tidak muncul dalam Alkitab. Tapi memakai lambang merupakan gejala umum pada semua agama. Kata Yunani sumbolon dipakai dalam berbagai pengertian, ump tanda, jaminan, peringatan atau alamat atau pertanda. Lambang ini ialah benda yg mencerminkan dan yg menjamin kenyataan dari apa yg dilambangkan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'lambang' ialah sesuatu seperti tanda ump lukisan, lencana, dsb yg menyatakan suatu hal atau mengandung maksud tertentu. Oxford Dictionary memberi pengertian atau batasan lambang sbb: suatu hal yg disetujui secara umum bahwa menurut kodratnya menggambarkan atau mewakili atau mengingatkan hal lain dengan memiliki sifat-sifat yg serupa, atau dengan menghubungkan hal yg pertama dengan hal yg kedua dalam kenyataan atau dalam pikiran. Membedakan obyek dari lambang dengan jelas demikian, memang dilakukan dalam filsafat analitis, tapi tidak terdapat dalam pemikiran primitif. Malinowski menekankan bahwa perlambangan atau simbolisme terdapat, bukan dalam hubungan obyek dengan tanda, tapi dalam pengaruh yg dimiliki oleh suatu tanda atau tindakan terhadap suatu organisme penerima (A Scientific Theory of Culture, 1944). HaL ini perlu diingat, jika kita hendak memeriksa perlambangan dalam Alkitab.
I. Dalam PL
Lambang-lambang PL akan kita tinjau dalam judul-judul Lambang oknum, Lambang obyektif dan Lambang tindakan.
a. Lambang oknum
Dalam pemikiran Israel kuna suku atau keluarga adalah kesatuan dasar, bukan perseorangan. Hidup (nefesy) beberapa pribadilah yg membentuk hidup kelompok; hidup kelompok mengalir pada semua pribadi. Istilah pengertian psikologi ini ialah kedirian atau kepribadian gabungan (Wheeler Robinson) atau kesadaran kelompok (Radcliffe Brown). Hal ini menolong kita dalam menerangkan, bagaimana satu orang atau satu diri bisa melambangkan sekelompok manusia (2 Sam 18:3) atau kehadiran Allah (Kel 7:1).
Ungkapan 'isy ha'elohim, yg dipakai lebih 70 kali dan diterjemahkan 'abdi Allah', kiranya bisa diterjemahkan dengan 'manusia ilahi.' Ungkapan itu dikenakan 27 kali kepada Elisa, dan sisanya kepada para nabi seperti Elia dan Samuel, atau Musa dan Daud. Elisa diberi kuasa ilahi, seperti mengembalikan hidup (2 Raj 4:35) dan membaca isi hati (2 Raj 5:26). Ia mewakili Allah, melakukan pekerjaan Allah, dan merupakan lambang kehadiran Allah. Sama seperti itu, Musa merupakan Allah bagi Harun (Kel 4:16) dan bagi Firaun (Kel 7:1), dalam perkataan dan perbuatan (Kel 14:16; 17:9). Semua nabi mengucapkan perkataan Allah, dan jika umat Israel mendengar mereka, mereka mendengar Allah sendiri; karena itu diri nabi tegar terhadap bahaya. Hampir tak ada bukti untuk menunjukkan bahwa raja-raja Israel dianggap ilahi, tapi mungkin bahwa Salomo menempatkan dirinya sebagai lambang Allah.
b. Lambang obyektif
Lambang obyektif atau yg di luar manusia dipakai juga untuk melambangkan kehadiran Allah, dengan cara mencerminkan atau cara kebiasaan. Pelangi diterima sebagai tanda jaminan bahwa murka Allah sudah berlalu dan bahwa Dia hendak mengingat perjanjian-Nya (Kej 9:13). Ular tembaga dibuat oleh Musa untuk melambangkan hikmat dan kuasa penyembuhan Allah (Bil 21:9); anak lembu emas dibuat untuk melambangkan kuasa Allah yg besar (Kel 32 dan 1 Raj 12). Kerapkali terjadi, dipakai juga benda-benda tanpa ada suatu sifat yg mencerminkan sifat-sifat Allah; suatu contoh yg terkenal ialah mezbah. Kata Ibrani mizbeakh, dari akar zbkh ('menyembelih'), mengisyaratkan tempat menyembelih dan menyediakan hewan untuk dikorbankan. Tapi perlu diperhatikan, bahwa dalam berita-berita paling dini mezbah didirikan oleh Bapak-bapak leluhur sesudah Allah menampakkan diriNya, untuk menandai tempat itu dan menyatakannya menjadi milik Allah untuk selama-lamanya. Dalam ibadah Israel mezbah melambangkan tempat perjumpaan Allah dengan manusia, dan tabut perjanjian (Bil 10:33) melambangkan kehadiran Allah, karena di dalamnya terdapat Kesepuluh Firman; dan di situ Firman Yahweh, di situlah Yahweh sendiri.
Sesudah Kemah Suci dibangun, kemah itu melambangkan kuasa Allah meliputi alam semesta. Kemah itu sendiri melambangkan bumi, bejana dari tembaga (Kel 30:18; 38:8) melambangkan taut, kandil emas (Kel 25:31 dab) melambangkan matahari. Seorang imam harus memakai pakaian yg sepantasnya, kalau ia masuk ke dalam Kemah Suci (Kel 26:1 dab) atau Bait Suci, dan pakaian-pakaiannya semua bersifat lambang. Pakaian itu dibuat dari lenan halus (Kel 6:8-12). Ada dua alasan yg mungkin. Karena korban-korban adalah hewan, maka rami sebagai tetumbuhan memberikan kekebalan, yg tak mungkin didapati dalam pakaian dengan bahan bulu domba atau kulit. Tapi lebih mungkin seperti dalam banyak cerita rakyat, bahwa rami dipandang sebagai lambang kebakaan atau lambang dari yg tak dapat binasa.
Ahli-ahli Yahudi mengisyaratkan makna lambang untuk warna-warna dari pakaian-pakaian itu, dan untuk setiap hal yg tersendiri. Baju efod dan tutup dada (Kel 25:7) melambangkan ke-12 suku Israel dan penghakiman, dan bila imam memakainya maka kedua makna ini memberi dia kuasa untuk menghakimi demi Nama Yahweh. Jubah imam dihiasi gambar-gambar buah delima (Kel 28:33-34 dst) dan lonceng-lonceng, yg melambangkan kepribadian dan peringatan-peringatan terhadap roh-roh jahat. Di atas kepalanya terdapat suatu patam dan di situ terukir kata-kata: 'Kudus BAGI YAHWEH' (Kel 28:36), dan hal ini membuat imam merupakan penerusan dari kehadiran Allah, yaitu..lambang-Nya.
c. Lambang tindakan
Lambang ialah tindakan-tindakan yg bersifat melukiskan atau mengacu kepada tujuan yg wujudnya melebihi keadaan yg nyata. Lambang memperlihatkan atau memperkenalkan suasana-suasana baru. Lambang harus dibedakan dari ilmu gaib, yg dimaksudkan untuk memaksa Allah melakukan suatu tindakan tertentu. Jika seorang budak berkebangsaan Israel lebih menyukai tunduk menjadi budak menetap daripada menjadi orang bebas, maka tuannya menembus telinga budak itu dan menambatkannya ke tiang pintu untuk menandakan, bahwa sejak itu dan seterusnya budak itu termasuk bagian dari keluarga tuan itu (Kel 21:6). Lambang tindakan lain yg bersifat pribadi, ialah menyerahkan sepatu untuk menyatakan penyerahan seluruh hak pribadi diwarisi (Rut 4:7), dan menggundul kepala untuk melambangkan peratap mempersembahkan hidupnya kepada saudaranya yg meninggal (Yes 22:12).
Di antara lambang tindakan agamawi, sunat selalu merupakan tata cara yg bermakna. Di luar Israel sunat dihubungkan dengan perkawinan, dan dilakukan untuk mencegah maksud-maksud jahat dari roh-roh yg mengintai kamar pelaminan. Tapi di kalangan bangsa Israel dimajukan ke masa kanak-kanak dan kemudian ke masa bayi, dan mencerminkan penyerahan kuasa melahirkan kepada bimbingan Allah, dan memasukkan anak itu ke dalam persekutuan keluarga.
Upacara tentang kambing hitam, yg dengan itu dosa umat Israel dipindahkan kepada seekor kambing pada Hari Pendamaian (Im 16:29-30) ialah suatu tata cara yg dikenal di banyak negeri. Hal ini pernah dikatakan sebagai contoh gamblang dari dasar pikiran tentang kesatuan menanggung derita -- untuk menggantikan -- orang lain, dan di sini antara imam, umat Israel dan kambing itu (C Lattey, VT 1, 1951, hlm 272).
Contoh lain tindakan lambang peri memindahkan sesuatu yg najis ialah mengorbankan lembu betina merah (Bil 19), dan ihwal mengurapi, yg memberi kekuasaan rohani (ump 1 Sam 16:13).
Perhatian perlu diberikan secara khusus kepada makna tindakan-tindakan lambang dari para nabi. Mereka tidak hanya mengumumkan pesan, tapi juga melakukannya dalam tindakan untuk memperlihatkan apa yg hendak Allah lakukan, dan hal itu membantu pencapaian hasilnya terlaksana. Tindakan-tindakan ini mereka laksanakan bukan untuk mempengaruhi kehendak Allah, tapi untuk menyediakan jalan bagi yg sudah ditetapkan-Nya. Jadi, Yesaya tampil hampir-hampir telanjang untuk melambangkan bahwa Allah akan mendatangkan kemelaratan dan pembuangan kepada Israel (Yes 20:2). Yeremia mengubur satu ikat pinggang yg baru di tanah yg lembab, kemudian digalinya, dan sudah rusak. Hal ini untuk menunjukkan bagaimana Israel, yg sekali waktu begitu dekat kepada Allah, sekarang sudah ditolak dan hendak dijarah (Yer 13).
Yehezkiel mengukir satu kota di atas satu batu bata. Ia meletakkan pendobrak mainan mengelilingi kota itu untuk memperlihatkan penghancuran Yerusalem yg sudah diputuskan oleh Allah (Yeh 4:1-3). Contoh-contoh lain terdapat dalam 1 Sam 15:27; Yer 19:11; 28:11.
II. Dalam PB
Di sini keadaannya berbeda sekali. Tak ada lagi oknum lambang; Yesus Kristus bukan lambang Allah karena Dia adalah Allah, seperti pengakuan yg Dia tuntut dalam kata-kata, 'Aku dan Bapak adalah satu' (Yoh 10:30). Begitu juga tak seorang pun dapat menyebut murid Yesus sebagai lambang Allah, sebab mereka adalah hamba yg tunduk kepada tata tertib; mereka bukan wakil.
Tapi Yesus melakukan tindakan-tindakan berupa lambang dan menerapkannya bagi gereja. Mujizat-mujizat penyembuhan-Nya bukanlah melulu perbuatan simpati, tapi merupakan lambang atau tanda untuk mendemonstrasikan datangnya Kerajaan Allah. Begitu juga, waktu Dia mengambil roti dan anggur dan memberikannya kepada murid-murid-Nya sambil berkata, '...perbuatlah ini ... menjadi peringatan akan Aku' (1 Kor 11:25), Dia bukan hanya menasihati mereka supaya tetap dalam persekutuan yg baik, tapi juga memberikan tata cara kepada mereka, dengan mana dapat mereka lambangkan kehadiran-Nya di tengah-tengah gereja-Nya untuk selamanya. Demikianlah gereja menerima lambang sakramen. Di dalam roti dan anggur peserta Perjamuan Kudus menerima dengan imannya tubuh dan darah yg sebenarnya dari Tuhan Yesus. Dengan air baptisan dilambangkan dosa dibasuh dan orang yg dibaptis dijadikan anggota persekutuan masyarakat Kristus. Dalam perbuatan-perbuatan itu iman gereja dilambangkan; sakramen bukan hanya lukisan, tapi juga merupakan sarana yg ditetapkan menjadi saluran kasih karunia Allah. *SAKRAMEN.
Di samping lambang-lambang sakramen, gereja juga menggunakan lambang salib. Inilah lambang sejati yg menggambarkan dengan tajam fakta sejarah, ringkasan visual dari pokok-pokok tertentu iman Kristen, sekaligus sarana yg mendatangkan kasih karunia bagi orang percaya. Dalam kesenian Kristen, umum diterima lambang-lambang mengenai ke-12 rasul, ump anak kunci untuk Petrus, dan lambang-lambang dari ke-4 penginjil. Pada satu waktu ikan menjadi lambang umum dari iman Kristen, karena huruf-huruf kata Yunani untuk ikan, yaitu ikhthus merupakan akronim (huruf-huruf pertama) dari kata-kata yg mengandung arti, 'Yesus Kristus, Anak Allah, (ialah) Juruselamat'. Tak pernah gereja Kristen melarang memakai lambang, karena lambang berakar pada kodrat dan pengalaman manusia. Tapi gereja tidak mendorong perkembangannya, karena takut, jika diberi tekanan yg kuat pada lambang, Tuhan Yesus Kristus sendiri akan hilang dari mata rohani orang Kristen.
KEPUSTAKAAN. F. W Dillistone, Christianity and Symbolism, 1955; G Fohrer, Die symbolischen Handlungen der Propheten, 1953; G Cope, Symbolism in the Bible and the Church, 1958. AAJ/S/MHS

