Daftar Isi
PEDOMAN: Kemah Suci
LAMBANG: Kemah Suci
BROWNING: KEMAH SUCI
ENSIKLOPEDIA: KEMAH SUCI

Kemah Suci

Kemah Suci [pedoman]

  1. 1. Musa disuruh membuat - sesuai dengan rancangan ilahi.
  2. Kel 25:9; 26:30; Ibr 8:5
  3. 2. Dibuat dari persembahan rakyat yang diberikan dengan suka rela.
  4. Kel 25:1-8; 35:4-5; 21:29
  5. 3. Keahlian ilahi dikaruniakan kepada Bezaleel untuk membuat - .
  6. Kel 31:2-7; 35:30-35; 36:1
  7. 4. Dinamai:
    1. 4.1 Kemah yang di Silo.
    2. Mazm 78:60
    3. 4.2 Kemah Yusuf.
    4. Mazm 78:67
    5. 4.3 Kemah pertemuan.
    6. Kel 27:21; 33:7; 40:26; 2Taw 24:6
    7. 4.4 Kemah Suci atau Kemah Kesaksian.
    8. Kel 38:21; Bil 1:50; 17:7,8; 2Taw 24:6; Kis 7:44
    9. 4.5 Kemah Tuhan.
    10. Yos 22:19; 1Raj 2:28; 1Taw 16:39
    11. 4.6 Rumah Tuhan (Bait).
    12. Yos 6:24; 1Sam 1:7,9,24; 3:3
    13. 4.7 - dapat dipindah-pindah sesuai dengan keadaan orang Israel
    14. yang tidak menetap pada suatu tempat. 2Sam 7:6,7
  8. 5. Diadakan untuk menyatakan kehadiran Allah dan untuk beribadah kepada-Nya.
  9. Kel 25:8; 29:42,43
  10. 6. Papan-papan - :
    1. 6.1 Mempunyai dua pasak yang dimasukkan ke dalam lubangnya yang
    2. dibuat dari perak. Kel 26:17,19; 36:22-24
    3. 6.2 Dari kayu penaga.
    4. Kel 26:15; 36:20
    5. 6.3 Ditopang dengan kayu lintang dari kayu penaga yang melintang
    6. terus dari ujung ke ujung di tengah-tengah papan-papan itu dalam gelang-gelang yang dibuat dari emas. Kel 26:26-29; 36:31-33
    7. 6.4 Dua puluh papan pada sebelah selatan.
    8. Kel 26:18; 36:23
    9. 6.5 Dua puluh papan pada sebelah utara.
    10. Kel 26:20; 36:25
    11. 6.6 Enam papan untuk sisi belakang pada sebelah barat.
    12. Kel 26:22-25; 36:27-30
    13. 6.7 Sepuluh hasta panjangnya dan satu setengah hasta lebarnya.
    14. Kel 26:16; 36:21
    15. 6.8 Papan dan kayu lintangnya dilapisi emas.
    16. Kel 26:29; 36:34
  11. 7. Pintu terbuat dari tirai yang berwarna ungu tua, ungu muda dan
  12. kirmizi yang digantungkan pada kaitan dari emas pada lima tiang
    dan kayu penaga.
    Kel 26:36,37; 36:37,38
  13. 8. Tenda-tenda - :
    1. 8.1 Yang di sebelah dalam, sepuluh tenda dari lenan halus
    2. berwarna ungu tua, ungu muda dan kirmizi, di hubungkan dengan sosok-sosok dan kaitan-kaitan dari emas. Kel 26:1-6; 36:8-13
    3. 8.2 Yang kedua, sebelas tenda dari bulu kambing.
    4. Kel 26:7-13; 36:14-18
    5. 8.3 Yang ketiga, terbuat dari kulit domba jantan yang diwarnai merah.
    6. Kel 26:14; 36:19
    7. 8.4 Yang keempat, yang di luar terbuat dari kulit lumba-lumba.
    8. Kel 26:14; 36:19
  14. 9. Dibatasi dengan tabir yang berwarna ungu tua, ungu muda dan kirmizi,
  15. yang tergantung pada empat tiang dari kayu penaga dengan kaitan-kaitan
    emas.
    Kel 26:31-33; 36:35,36; 40:21
  16. 10. Dibagi menjadi:
    1. 10.1 Tempat kudus.
    2. Kel 26:33; Ibr 9:2-6
    3. 10.2 Tempat maha kudus.
    4. Kel 26:34; Ibr 9:3,7
  17. 11. Mempunyai pelataran di sekelilingnya.
  18. Kel 40:8
  19. 12. Meja roti sajian, kandil emas, mezbah pembakaran ukupan dari emas,
  20. diletakkan di tempat kudus.
    Kel 26:35; 40:22,24,26; Ibr 9:2
  21. 13. Tabut perjanjian dan tutup pendamaian diletakkan di tempat maha kudus.
  22. Kel 26:33,34; 40:20,21; Ibr 9:4
  23. 14. Pelataran - :
    1. 14.1 Dikelilingi dengan layar yang terbuat dari lenan halus yang
    2. dipintal, tergantung pada tiang tembaga. Kel 27:9-15; 38:9-16
    3. 14.2 Mempunyai mezbah korban bakaran dan bejana pembasuhan tembaga.
    4. Kel 40:29,30
    5. 14.3 Panjangnya seratus hasta dan lebarnya lima puluh hasta.
    6. Kel 27:18
    7. 14.4 Segala perabotannya dibuat dari tembaga.
    8. Kel 27:19
    9. 14.5 Segala tiangnya dihubungkan dengan penyambung dan memakai
    10. kaitan-kaitan perak. Kel 27:17; 38:17
    11. 14.6 Tirai pintu gerbang - warnanya ungu tua, ungu muda dan kirmizi,
    12. panjangnya dua puluh hasta, tergantung pada empat tiang. Kel 27:16; 38:18
    13. 14.7 Pertama kali didirikan pada bulan yang pertama tahun yang
    14. kedua sesudah bangsa Israel keluar dari negeri Mesir. Kel 40:2,17
  24. 15. Didirikan:
    1. 15.1 Akhirnya di Gibeon.
    2. 1Taw 16:39; 21:29
    3. 15.2 Di Gilgal.
    4. Yos 5:10,11
    5. 15.3 Di Nob.
    6. 1Sam 21:1-6
    7. 15.4 Di Silo.
    8. Yos 18:1; 19:51
    9. 15.5 Oleh Musa di gunung Sinai.
    10. Kel 40:18,19; Bil 10:11,12
  25. 16. Diurapi dan disucikan dengan minyak.
  26. Kel 40:9; Im 8:10; Bil 7:1
  27. 17. Diperciki dan disucikan dengan darah.
  28. Ibr 9:21
  29. 18. Dikuduskan oleh kemuliaan Tuhan.
  30. Kel 29:43; 40:34; Bil 9:15
  31. 19. Tuhan kelihatan di dalam - , di atas tutup pendamaian.
  32. Kel 25:22; Im 16:2; Bil 7:89
  33. 20. Awan Tuhan ada di atas - pada siang hari dan malam hari selama
  34. perjalanan bangsa Israel di padang gurun.
    Kel 40:38; Bil 9:15,16
  35. 21. Perjalanan bani Israel diatur oleh awan yang di atas - .
  36. Kel 40:36,37
  37. 22. Imam-imam:
    1. 22.1 Adalah pelayan-pelayan - .
    2. Ibr 8:2
    3. 22.2 Hanya mereka yang boleh masuk ke dalam - .
    4. Bil 18:3,5
    5. 22.3 Mengerjakan jabatan sebagai imam di dalam - .
    6. Bil 3:10; 18:1,2; Ibr 9:6
  38. 23. Orang-orang Lewi:
    1. 23.1 Ditugaskan untuk mengawasi - .
    2. Bil 1:50; 8:24; 18:2-4
    3. 23.2 Melayani imam-imam.
    4. Bil 3:6-8
    5. 23.3 Mendirikan kemahnya di sekeliling - .
    6. Bil 1:53; 3:23,29,35
    7. 23.4 Mengangkat - .
    8. Bil 4:15,25,31
    9. 23.5 Membongkar dan memasang kemah.
    10. Bil 1:51
    11. 23.6 Persembahan-persembahan suka rela dibawa oleh bani Israel
    12. ketika pertama kali - didirikan. Bil 7:1-9
    13. 23.7 Persembahan-persembahan suka rela dibawa pada waktu
    14. pentahbisan mezbah - . Bil 7:10-87
    15. 23.8 Segala persembahan harus dilakukan di dalam - .
    16. Im 17:4; Ul 12:5,6,11,13,14
    17. 23.9 Hukuman karena menajiskan kemah.
    18. Im 15:31; Bil 19:13
    19. 23.10 Bait Suci menggantikan - setelah kerajaan Israel terbentuk.
    20. 2Sam 7:5-13
  39. 24. Melukiskan:
    1. 24.1 Kristus.
    2. Yes 4:6; Ibr 9:8,9,11
    3. 24.2 Jemaat.
    4. Mazm 15:1; Yes 16:5; 54:2; Ibr 8:2; Wahy 21:2,3
    5. 24.3 (Tempat maha kudus) sorga.
    6. Ibr 6:19,20; 9:12,24; 10:19
    7. 24.4 (Tabir) tubuh Kristus.
    8. Ibr 10:20
    9. 24.5 (Tabir) kegelapan masa Taurat.
    10. Ibr 9:8,10; Rom 16:25,26; Wahy 11:19
    11. 24.6 Tubuh.
    12. 2Kor 5:1; 2Pet 1:13

Kemah Suci [lambang]

Bagian-bagian tertentu dari Kemah Suci adalah TIPE Kristus, sedangkan bagian-bagian lainnya meLAMBANGkan umat Allah. Maka, Kemah Suci, secara utuh, adalah TIPE perpaduan antara Allah dan umat-Nya, dan tempat kediaman Allah di antara umat-Nya, yang telah dimulai sejak kehidupan di dunia ini dan akan disempurnakan kelak. Kel 25:9; Im 8:10; Bil 1:50; 2 Taw 1:5; Why 15:5. Lihat juga KEMAH (6).

KEMAH SUCI [browning]

Lihat *Tabernakel.

KEMAH SUCI [ensiklopedia]

Sebelum Kemah Suci didirikan, kita membaca tentang Kemah Pertemuan, yakni suatu tempat perjumpaan sementara dari Allah dengan umat-Nya (Kel 33:7-11). Sarana 'Kemah Suci' yg berarti tempat kudus, dapat dibawa-bawa, dan itulah tempat tinggal Allah di tengah-tengah bangsa Israel di padang gurun. Sarana itu masih dipakai lama sesudah bangsa Israel masuk di tanah Kanaan. Pada zaman Hakim-hakim tempat kudus itu ada di Silo (Yos 18:1), pada pemerintahan Saul di Nob (1 Sam 21; Mrk 2:25, 26), dan kemudian hari di Gibeon (1 Taw 16:39). Akhirnya ditempatkan oleh Salomo di dalam Bait Suci (1 Raj 8:4). Kemah itu disebut misykan = 'tempat tinggal' (mis Kel 26:1), 'ohel = 'tenda' atau 'kemah' (mis Kel 33:7), kemah kesaksian `edut= ('istilah-istilah perjanjian') karena di situlah disimpan loh-loh tempat perjanjian dituliskan; Kemah Pertemuan (mo`ed = umat) sebagai tempat perjumpaan yg ditentukan bagi Allah dan umat-Nya; serta rumah Yahweh (mis Kel 34:26; Yos 6:24).

Bahan-bahan yg dipakai untuk membuat Kemah Suci dicatat dalam Kel 25:3-7; 35:5-9. Tembaga dipakai untuk melapisi mezbah, sebab api mezbah dapat melebur kuningan. Yg dimaksud dengan 'ungu tua, ungu muda dan kirmizi' ialah benang atau kain lenan, yg diwarnai dengan warna-warna ini.

I. Tenda-tenda dan atap (tudung)

Istilah kemah, dalam arti yg lebih tepat, mengacu kepada 10 helai tenda lenan bergambar-gambar kerub yg ditenunkan dalam tenunan ungu tua, ungu muda dan kirmizi (Kel 26:16; 36:8-13). Ukuran masing-masing ialah 28 x 4 hasta, dan dirangkap pada panjangnya menjadi dua rangkapan yg masing-masing terdiri dari 5 tenda. Pada suatu sisi dari tiap rangkapan dibuat 50 sosok kain ungu tua dan 50 kaitan emas yang mengait sosok-sosok ini dan merapatkan kedua rangkapan itu menjadi satu (lih Kel 26:6). Kemah Suci ditutup atau ditudungi dengan 11 tenda dari bulu kambing, yg disebut dengan istilah yg tepat tenda (Kel 26:7-13; 36:14-18). Ukuran tenda ini masing-masing ialah 30 x 4 hasta Dan dirangkap pada panjangnya menjadi dua rangkapan, yg satu terdiri dari 5 tenda dan yg satu lagi terdiri dari 6 tenda, dan keduanya disatukan dengan cara yg sama seperti pada Kemah Suci; hanya, kait-kaitnya di sini dari tembaga dan pelipit-pelipitnya diduga dari kulit kambing. Tenda itu ditutupi dengan 2 tudung yg tahan cuaca, yg satu dari kulit domba jantan yg diwarnai merah, dan yg satu lagi dari kulit suatu binatang, mungkin 'lumba-lumba' (Kel 26:14; 36:19).

Lalu tenda-tenda dan tudung-tudung ini digantungkan menutupi sekeliling suatu kerangka untuk membentuk puncak, bagian belakang, dan kedua samping dari tempat tinggal itu. Kerangka itu (Kel 26:15-30; 36:20-34) terdiri dari papan-papan penopang, yg berdiri tegak lurus, 10 hasta tingginya dan 1,5 hasta lebarnya, masing-masing berdiri pada dua alas perak, masing-masing beratnya satu talenta. Tapi dikemukakan oleh A. R. S Kennedy (HDB, 4, hlm 659-662) secara meyakinkan, bahwa alas-alas itu bukanlah papan-papan yg dipaku mati (tidak dapat bergerak), tapi suatu kerangka yg dibuat dari 2 potong kayu yg tegak lurus, yg disatukan dengan sambungan silang yg agak menyerupai tangga. Kerangka mempunyai tiga kelebihan dibandingkan papan-papan yg terpaku mati: yakni kerangka lebih ringan, tidak cepat keluar dari tempatnya, dan tidak melindungi permadani dinding itu. Sebaliknya, kerangka juga merupakan bingkai, yg melaluinya tenda-tenda dapat dilihat dari dalam. Dua puluh kerangka yg berdiri berdampingan, membentuk sisi selatan, 20 membentuk sisi utara, dan 6 membentuk ujung barat.

Kedua sudut barat ditopang dengan suatu cara oleh 2 kerangka tambahan. Untuk memegang kerangka-kerangka itu supaya tetap lurus, 5 beroti (TBI kayu lintang) dipasang sepanjang kedua sisi dan di belakang, dan yg dihubungkan kepada sambungan silang yg ada pada tiap kerangka itu melalui gelang-gelang emas. Beroti yg di tengah menahan seluruh panjangnya, ke-4 yg lain hanya menahan sebagian. Kerangka dan beroti-beroti itu dibuat dari kayu penaga yg dilapisi dengan emas. Perak yg dibutuhkan untuk alas-alas itu diperoleh dari bea pendaftaran (Kel 30:11-16; 38:25-27).

Ada dua pandangan utama mengenai bagaimana tenda-tenda itu digantungkan sekeliling kerangka Kemah Suci. Pertama, pandangan yg lebih tua dan lebih umum diterima, ialah: tenda-tenda itu biasa saja dihamparkan menutupi seluruh kerangka, seperti kain menutupi peti jenazah. Kedua, dibela oleh J Fergusson (Smith's Dictionary of the Bible, 3, hlm 1452-1454) dan sejak itu dipertahankan lagi oleh ahli-ahli lain, yaitu: bahwa tenda-tenda itu dihamparkan melewati sebuah balok bubungan. Dasar pikiran Fergusson ialah, jika tenda-tenda itu hanya dihamparkan saja di atas kerangka-kerangka itu, maka berat tenda-tenda itu, khususnya pada hari hujan, akan membuatnya kendur, kalau tidak, sobek di tengah-tengahnya dan kerangka itu akan runtuh ke dalam. Tapi ada beberapa kesukaran dalam teori balok bubungan ini. Di mana pun tak ada disebut tentang balok bubungan dalam petunjuk-petunjuknya itu.

Fergusson mempertahankan 'kayu lintang yg di tengah' dalam Kel 26:28 sebagai balok bubungan, tapi tafsiran yg lazim ialah bahwa 'kayu lintang yg di tengah' itu adalah salah satu dari ke-5 kayu lintang yg disebut dalam ay terdahulu. Sekali lagi, balok bubungan akan menuntut bahwa satu dari tiang-tiang pintu dan satu dari tiang-tiang tudung harus lebih tinggi dari tiang-tiang lain untuk menopang balok bubungan itu, dan harus ada sebuah tiang di belakang, yg sama tingginya. Satu pun dari hal-hal ini tidak disebut dalam petunjuk-petunjuknya. Dan kata yg dipakai untuk memasang tenda-tenda itu bukanlah kata yg biasa untuk memasang tenda, yaitu nata, tapi parasy, yg berarti 'menghamparkan' (kata ini dipakai untuk kain pembungkus perabot). Tapi di atas segalanya itu, karena bagian belakang dan sisi samping disusun dari kerangka-kerangka terbuka, maka pemakaian balok bubungan ini akan membiarkan bagian yg kudus dan yg mahakudus terbuka untuk dilihat. Justru pandangan lama harus dipertahankan.

Karena panjang tenda-tenda lenan (Kemah Suci) adalah 28 hasta, dan tenda-tenda kulit kambing (tenda yg menutup Kemah Suci) 30 hasta, maka tenda-tenda kulit kambing itu akan lebih satu hasta pada tiap sisi Kemah Suci itu, dan, karena jumlahnya ada 11 maka kelebihannya dari Kemah Suci mulai dari muka sampai ke belakang adalah 4 hasta. Peraturan untuk memakai kelebihan panjang ini berkata '...dan tenda yg keenam haruslah kau lipat dua, di sebelah depan kemah itu', dan sekali lagi tertulis, 'Mengenai bagian yg berjuntai itu, yg berlebih pada tenda kemah itu, haruslah setengah dari tenda yg berlebih itu berjuntai di sebelah belakang Kemah Suci' (Kel 26:12). Dengan jelas tenda itu dimaksudkan untuk menutup Kemah Suci di bagian muka dan belakang, begitu juga di kedua samping. Di bagian belakang kedua hasta yg lebih itu dibiarkan saja runduk, tapi di bagian muka kulit kambing itu dilipat dua, dan diduga, dimasukkan ke bawah tenda-tenda Kemah Suci itu di atas dan di samping. Dengan demikian dijaga tidak ada sisi tenda Kemah Suci yg terbuka.

II. Bagian dalam

Bagian dalam tempat tinggal itu dibagi menjadi dua kamar oleh sebuah tabir yg digantungkan pada kaitan-kaitan yg menggabungkan Kemah Suci itu (Kel 26:31-34). Dari situ kita tahu panjang kamar pertama 20 hasta dan kedua 10 hasta. Bahwa tinggi kerangka itu 10 hasta, memberi kita ukuran kedua, dan sangat boleh jadi lebar kedua kamar itu adalah sama-sama 10 hasta: sebab walaupun ke-6 penyangga yg di belakang menjadikan jumlah lebarnya 9 hasta, tapi harus disediakan kelonggaran bagi tebalnya penyangga-penyangga dan kayu lintang di tiap sisi. Kamar pertama disebut 'tempat kudus', yg kedua 'tempat yg mahakudus' (Kel 26:33; atau 'tempat kudus' saja, Im 16:2-3; Ibr 9:12; 10:19 dab).

Sekali lagi, kamar pertama kadang-kadang disebut 'kemah yg pertama' atau 'kemah yg paling depan' dan kedua 'kemah yg kedua' (Ibr 9:6-7). Tabir pemisah itu (parokhet: istilah yg tak pernah dipakai untuk tabir lain mana pun), yg dibuat dari bahan, warna dan ukuran yg sama dengan tenda-tenda Kemah Suci, digantungkan dengan kait-kait emas pada 4 tiang kayu penaga yg disalut dengan emas dan yg berdiri di atas alas perak. Tiang-tiang ini tidak mempunyai kepala. Di pintu masuk ada tirai kain ungu tua, kain ungu muda dan kain kirmizi. Ini tergantung dengan kait-kait emas dan yg berdiri di atas alas tembaga. Tiang-tiang ini ada kepalanya (TBI 'ujungnya', Kel 36:38) yg disalut dengan emas, dan penyambung-penyambungnya (Kel 26:36-37; 36:37-38). Untuk membedakan parokhet dari tirai ini, parokhet kadang-kadang disebut tabir kedua.

Dalam tempat mahakudus terdapat tabut (Kel 25:10-22; 37:1-8). Selempeng emas murni merupakan tutupnya, dan di atas lempeng emas ini terdapat sebuah kerub di tiap ujung. Nama lempeng atau tutup ini, kapporet, menjadi sedikit pokok pertikaian. Beberapa ahli, yg menerima akar katanya kpr= menutup, menerjemahkan kapporet dengan 'tutup'. Tapi apa pun aslinya arti kata kpr, dalam upacara keimaman artinya ialah 'mendamaikan' atau 'menenangkan murka' dan pada Hari Raya Pendamaian (Im 16:14) memercikkan darah ke atas kapporet. Sangat lebih mungkin anti kapporet ialah '(bersifat) pendamaian' (demikianlah pengertian LXX dan PB yg memakai kata hilas terion. Menurut MT gelang-gelang (Kel 25:12 dab) untuk kayu pengusung (ay 14) tabut, dipasang pada 'kaki' tabut itu, tapi hal ini tak pernah dibicarakan di mana pun, dan beberapa ahli berpendapat bahwa 'kaki (pa'am) merupakan suatu kesilafan untuk 'sudut' (pe'a). TBI menerjemahkannya demikian ('sudut'). Mengenai kayu-kayu pengusungnya, jika kita bandingkan Kel 25:15 dengan Bil 4:6, agaknya kayu-kayu itu biasanya tetap dalam gelang-gelangnya, tapi sementara waktu ditarik (atau: dilepaskan), supaya tutup tabut itu dapat diangkat.

Di dalam tempat kudus, di depan tabir pemisah, terdapat mezbah pembakaran ukupan (Kel 30:1-10; 37:25-28). Mezbah ukupan ini dibuat dari kayu penaga dan disalut dengan emas murni -- dan dari situlah berasal namanya yg satu lagi, yaitu 'mezbah emas'; panjang dan lebarnya satu hasta -- jadi bentuknya empat persegi dan tingginya 2 hasta, dengan tanduk yg menjulur ke luar dan dihiasi oleh bingkai emas sekelilingnya di atas. Untuk mengangkutnya dipasanglah 2 gelang emas tepat di bawah bingkainya dan ke situlah dimasukkan kayu pengusungnya. Mezbah ukupan terletak tepat berhadapan dengan tabut hukum (perhatikan tekanan yg diberikan 30:6), sehingga dianggap 'termasuk ke' tempat yg mahakudus (bnd 1 Raj 6:22 dan Ibr 9:4).

Sedikit ke sebelah utara terdapat meja untuk roti sajian (Kel 25:23-30; 37:10-16). Dalam pelayanan di meja roti sajian ini dipakai 4 macam bejana yg dibuat dari emas murni, yaitu: (1) pinggan yg datar, barangkali dipakai untuk membawa roti dari meja yg satu ke meja yg satu lagi, dan barangkali untuk tempat roti waktu disajikan di atas meja; (2) cawan, mungkin untuk kemenyan (Im 24:7); (3) kendi dan (4) piala, barangkali untuk anggur. Tapi PL tak menghubungkan anggur dengan roti sajian.

Di sisi selatan terdapat kandil (Kel 25:31-40; 37:17-24; 40:24). Meja roti sajian dan kandil dari Bait Suci zaman Herodes, keduanya terdapat pada Kubah Titus di Roma Tapi ada timbul keragu-raguan tentang ketepatan kedua benda purbakala ini, karena terdapat beberapa gambar non-Yahudi pada kaki kandil ini.

III. Kemah Suci dan sekitarnya

Kemah Suci dipasang di bagian barat dari suatu pelataran, ukurannya 100 x 50 hasta, sisi panjangnya mengarah ke utara dan selatan (Kel 27:9-19; 38:9-20). Pintu Kemah Suci menghadap ke timur. Halamannya dikelilingi tirai lenan, lima hasta tingginya, tergantung pada tiang-tiang. Lebar pintu gerbangnya 20 hasta, ditempatkan di tengah-tengah di ujung timur. Tirai gerbangnya dibuat dari lenan, disulam dengan benang ungu tua, ungu muda dan kirmizi. Tiang-tiang agaknya dibuat dari kayu penaga (tiang-tiang ini tidak disebut dlm daftar barang-barang tembaga, Kel 38:29-31), dan berdiri pada alas-alas tembaga. Tiang-tiang itu dikokohkan dengan tali dan pasak, ujung-ujung dan penyambung-penyambungnya disalut dengan emas (Kel 36:37-38). Dua metode utama dianjurkan untuk menentukan jarak dari tiang-tiang ini, yaitu: (1) Dengan pradalil bahwa pada tiap 5 hasta tenda ada satu tiang, dan bahwa tak satu pun tiang dihitung dua kali. Dibutuhkan 60 tiang semuanya untuk mengadakan 20 jarak pada kedua panjangnya dan 10 jarak pada kedua ujungnya (atau: lebarnya). Lalu tirai gerbang itu tergantung pada 4 dari tiangnya sendiri dan pada satu tiang dan yg lain, sehingga seperti berikut: Hanya menjadi pertanyaan, apakah ini cocok dengan peraturan yg menentukan 20 hasta dan tirai gerbang '...empat tiang...' (Kel 26:32; 36:36). (2) Dengan melepaskan pradalil bahwa jarak tiang-tiang itu harus 5 hasta, dapat kita gambarkan bahwa tiang-tiang penjuru dihitung dua kali, karena dianggap, dari titik pandang si pengamat, termasuk baik lebarnya dan panjangnya (ujung dan samping). Semuanya ini hanya berjumlah 56 tiang, tapi tak ada dinyatakan oleh naskah bahwa jumlahnya 60. Maka pintu gerbang itu dapat digeser supaya ada jalan masuk dari kedua sisi dan supaya tabir dapat tetap tergantung di tempatnya, seperti dalam gambar:

Tapi sistem ini menjadikan ukuran jarak tiang-tiang itu sangat aneh.

Di bagian timur halaman itu terdapat pertama-tama sebuah mezbah, yg disebut mezbah tembaga, menurut bahan penyulutnya, dan mezbah korban bakaran, disebut menurut korban utama yg dikorbankan di atasnya (Kel 27:1-8; 38:17). Mezbah korban bakaran ini adalah suatu kerangka kosong, yg dibuat dari kayu penaga, empat persegi yg sisinya 5 hasta dan tingginya 3 hasta, dengan tanduk-tanduk yg menjulur ke luar di sudut atas. Seluruh mezbah disalut dengan tembaga. Setengah tingginya mezbah itu, di bagian luar, ada jalur (Kel 27:5; 38:4) datar, sekeliling mezbah itu. Sekeliling mezbah ada juga kisi-kisi tembaga, tegak lurus, mulai dari tanah sampai ke jalur itu; pada keempat ujungnya ditaruh 4 gelang, tempat kayu pengusung dari kayu penaga, yg disalut dengan tembaga, yg digunakan untuk mengangkutnya. Guna jalur itu tidak dijelaskan, begitu juga kisi-kisinya. Yg terakhir ini mungkin dimaksudkan untuk mencegah para imam jangan menginjak darah yg dicurahkan ke bagian bawah mezbah korban bakaran (Im 4:7). Agaknya mezbah itu tidak punya penutup sebab tidak disebut, sedang pada mezbah emas penutup itu khusus disebut. Justru ada ahli menganggap bahwa kerangka yg kosong itu diisi dengan tanah. Pikiran lain ialah, bahwa korban dibakar di atas tanah yg ada di dalam kerangka itu, yg berguna sebagai semacam tempat pembakaran. Dalam pelayanan di mezbah ini dipakailah perkakas-perkakas berikut: (1) kuali dan sodok untuk membuang abu api; (2) bokor-bokor, diduga untuk darah; (3) garpu; (4) perbaraan, yg mungkin dipakai untuk membawa api.

Di antara mezbah dan pintu Kemah Suci terdapat bejana pembasuhan (Kel 30:17-21; 38:8; 40:29-32). Bejana ini dari tembaga, diletakkan pada suatu alas tembaga, dan dibuat dari cermin-cermin para pelayan perempuan. Di dalamnya terdapat air untuk membasuh para imam. Tak ada keterangan mengenai ukurannya, bentuknya, hiasannya ataupun pengangkutannya. Bejana pembasuhan ini tidak terdapat dalam perintah-perintah yg diberikan dalam MT Bil 4, tapi disebut dalam naskah LXX, dan alpanya hal itu dalam MT mungkin sekali tidak disengaja. Mengenai semua bagian lain dari Kemah Suci memang diberikan perintah-perintah terperinci tentang pengangkutannya.

Di perkemahan, Kemah Suci itu dikelilingi oleh dua baris tenda. Pada baris pertama terdapat orang-orang Lewi, pada baris kedua terdapat ke-12 suku Israel, tiga perkemahan pada tiap sisi (Bil 2; 3:1-39).

IV. Masalah yg timbul

Masalah-masalah sastra dan sejarah sekitar Kemah Suci begitu kait mengkait dengan masalah yg lebih luas tentang PL, sehingga kurang tepat membicarakan masalah-masalah itu di sini. Namun beberapa pandangan dapat diberikan tentang ciri-cirinya yg paling menonjol.

1. Ada yg tegas mengatakan bahwa petunjuk-petunjuk yg diberikan sebagian tak dapat dikerjakan, dan jelas merupakan karangan seorang idealis. Di sini banyak bergantung pada sudut pandang mana yg dipedomani menalar tujuan Allah dalam memasukkan catatan-catatan ini ke dalam Kitab Suci. Pasti petunjuk-petunjuk ini tidaklah merupakan blue-print yg lengkap dengan perinciannya, yg dipakai para pekerja Musa, tapi lebih merupakan catatan-catatan umum untuk menjadi peringatan bagi kita' (1 Kor 10:11). Karena itu banyak petunjuk tanpa rantingnya yg praktis. Harus dipertimbangkan adanya kuil-kuil yg dapat dibawa-bawa, yg secara praktis menerapkan teknik bangunan yg sama, yg digunakan di Mesir sebelum zaman Musa; lih K. A Kitchen, Tyndale House Bulletin, 5, 6, 1960, hlm 7-13.

2. Melihat besarnya perbedaan LXX dan MT, pernah orang berpikir bahwa ps-ps terakhir Kitab Kel dalam bh Ibrani belum mencapai bentuknya yg final, tatkala LXX diterjemahkan; dan bahwa LXX sebagian mengikuti tradisi Ibrani yg tidak mengenal mezbah pembakaran ukupan. Telah terbukti bahwa kesimpulan ini tidak benar: lih D. W Gooding, The Account of the Tabernacle, 1959.

3. Ada ahli mengatakan bahwa dalam Pentateukh seperti yg kita miliki sekarang, ada pertentangan dan ketidakcocokan antara 'Kemah Pertemuan' yg semula terdapat dalam sumber E, dengan Keinah Suci yg tidak historis, tapi yg lebih terperinci, yg terdapat dalam sumber-sumber P di kemudian hari. Tapi pertentangan itu bukanlah soal kenyataan, melainkan soal penafsiran: lih J Orr, The Problem of the Old Testament, 1906, hlm 165-173, dan A. H Finn, The Unity of the Pentateuch, 1917, hlm 255-285.

V. Kesimpulan

Bahwa Kemah Suci dibangun demi tujuan Allah, berarti Kemah Suci mempunyai nilai perlambangan bagi zamannya. Seberapa jauh lambang-lambangnya itu merupakan juga lambang-lambang rohani yg diungkapkan kepada kita, itu masih dipersoalkan. Tafsiran-tafsiran berlebih-lebihan, yg sejak abad-abad perdana diberikan mengenai pokok ini, memberikannya citra yg buruk. Tapi PB secara khas mengatakan bahwa Kemah Suci adalah 'gambaran dan bayangan dari apa yg ada di sorga', 'kiasan', 'merupakan gambaran dari yg sebenarnya' (Ibr 8:5; 9:9, 24). Perabot-perabot khusus dan peralatannya dikutip dalam PB, dan jelas mempunyai arti rohani, ump tabir dan tempat yg mahakudus (Ibr 6:19; 10:19, 20), mezbah pembakaran ukupan dan tabut perjanjian (Why 8:3; 11:19), dan barangkali hilasterion (Rm 3:25); dan sindiran dalam Ibr 9:5 ialah, bahwa penulis dapat memberikan tafsiran yg demikian tentang semua peralatan Kemah Suci.

KEPUSTAKAAN. A. H Finn, JTS 16, 1915, hlm 449-482; A. R. S Kennedy, HDB, 4, hlm 653-668; M Haran, HUCA 36, 1965, hlm 191-226; U Cassuto, A Commentary on the Book of Exodus, 1967, hlm 319 dst; R. K Harrison, IOT, 1970, hlm 403-410; R. P Gordon, A Bible Commentary for Today, 1979, hlm 173 dst. DWG/MHS




TIP #31: Tutup popup dengan arahkan mouse keluar dari popup. Tutup sticky dengan menekan ikon . [SEMUA]
dibuat dalam 0.07 detik
dipersembahkan oleh YLSA