Lihat definisi kata "Keluaran" dalam Studi Kata
Daftar Isi
HAAG: Keluaran Keluaran, Kitab
BROWNING: KELUARAN KELUARAN, KITAB
ENSIKLOPEDIA: KELUARAN, KITAB

Keluaran

(pergi keluar). Buku Musa kedua dalam Alkitab dan Pentateuch. Ditulis oleh Musa. Berisikan sejarah dan penetapan undang-undang. Dinamakan demikian, karena menceritakan tentang keluarnya bangsa Israel dari tanah perhambaan, yaitu Mesir, meliputi masa persiapan, peristiwa-peristiwa di saat mau keluar, masa pengembaraan sampai pada pendirian Tabernakel, peristiwa-peristiwa mana berlaku antara tahun 1633 sebelum Kristus (kematian Yusuf) dan tahun 1491 sebelum Kristus, yaitu 142 tahun lamanya.

Keluaran [haag]

Keluaran.

  1. (I). TEKS ALKITAB. Penulis Kel 1:6-7 mengandaikan bahwa keturunan Yakub masih tinggal lama di Mesir setelah Yusuf meninggal. Ada seorang raja baru yang memegang tampuk pimpinan pemerintahan. Ia tidak lagi mengenal Yusuf. Ia mengambil tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah perkembangan suku-suku Yakub. Dalam waktu kesesakan ini --> Musa memperoleh tugas dari Yahwe untuk memimpin umatnya pergi dari Mesir menuju tanah Kanaan. Kitab Keluaran 1:1-12:51 merupakan sebuah komposisi warna-warni, hasil dari berbagai-macam bentuk sastera. Di dalamnya ditemukan tradisi-tradisi Yahwis, Elohis dan Imamat. Unsur-unsur adat-kebiasaan, bentuk-bentuk cerita epik, dan struktur liturgis (Kel 12:1-13:16); kemudian kecondongan atas peristiwa-peristiwa yang mengagumkan tidak dapat meniadakan kejadian bersejarah atas keluarnya bangsa Yahudi dari Mesir. Ingatan Isr., bahwa mereka pernah tinggal di Mesir dan ingatan akan peristiwa pembebasannya dari "rumah perbudakan", merupakan salah satu bagian dari tradisi yang selalu diucapkan kembali pada bibirnya. Kejadian itu selalu diwariskan secara langsung. Di tengah kelompok yang bermacam-macam itu, iman kepercayaan pada Yahwe semakin jelas mengambil bentuk monotheisme yang murni. Kritik sejarah tidak lagi mempersoalkan mukjijat di laut. Meskipun demikian mukjijat itu tetap menyatakan, bahwa Yahwe seorang Allah yang kuasa. Juga, bahwa ada pengukuhan pemilihan oleh Yahwe. Pula, bahwa otoritas Musa sebagai seorang nabi yang benar selalu dapat dipercaya.
  2. (II). PERJALANAN. Dari Pi-Ramses para pengungsi Isr. pertama-tama pergi ke --> Sukot (Kel 12:37; 13:20). Kemudian mereka bergerak menuju Etam di daerah tepian padang gurun. Petunjuk dari PL mengenai tempat-tempat perjalanan mereka mengacaukan. Dari kritik sastra bisa disimpulkan, bahwa masalah perjalanan ~K itu ditopang oleh dua buah tradisi di Isr. Kedua tradisi itu sama-sama berkembang dan rupa-rupanya berdasar pada peristiwa sejarah yang berbeda. Yang satu menempatkan perjalanan itu lewat sebelah selatan tanjung Sinai Kel 13:17-18. Tradisi yang pertama ini menempatkan Horeb pada sebelah selatan tanjung Sinai (Bdk.: Bil 33:1-56; Ul 1:2; 1Raj 19:3-4,8). Adapun tradisi ini juga mencampuradukkan Yam-Suf (Laut Teberau) dengan --> Laut Merah. Dari tradisi yang kedua dapat disimpulkan, bahwa perjalanan ke luar dari Mesir itu dibuat lewat sebelah utara. Bagian kata Suf dalam kata Yam-Suf (bahasa Mesir: p-twf) menunjuk pada daerah tanah Teberau di Mesir sebelah timur-laut dari ddaerah delta. Daerah itu merupakan sebuah pengandaian dari Kel 14:2,9. Juga nama Baal-Zefom menempatkan seluruh pemberitaan perjalanan ~K itu pada pantai Laut-Tengah. Lihat Gamb. 13.
  3. (III). ARTI KELUARAN. Di dalam sejarah Isr., ~K mengandung arti kelahiran bangsa Yahwe. Kepergian bersama itu menggabungkan berbagai-macam kelompok pengembaraan menjadi satu kesatuan. Dari kesatuan itulah timbul ikatan 12 suku setelah Kanaan mereka rebut. Walaupun tidak besar kemungkinannya, bahwa seluruh suku ikut-serta dalam K, namun Isr. tetap tanpa ragu-ragu mengakui, bahwa sifat religius dan sosialnya yang istimewa itu diakibatkan oleh kelompok-kelompok yang datang ke Kanaan di bawah pimpinan Musa. Identitas dari Firaun yang, menghimpit mereka dan Firaun pada saat kepergian mereka tetap anonim di PL. Pandangan para sarjana juga tidak sama dalam hal itu. Penentuan data pada dinasti ke-19 adalah yang paling cocok bagi bahan-bahan sastera, bahan sejarah maupun bahan arkeologis (--> Mesir III.3).

Keluaran, Kitab [haag]

Keluaran (Kitab Keluaran). Kitab kedua dari --> Pentateukh.

  1. (I). ISI KITAB. (1). Pembebasan dari Mesir (Kel 1:1-15:21). (2). Awal perjalanan di daerah gurun (Kel 15:22-18:27). (3). Bangsa Isr. di Sinai: Perjanjian dan Hukum (Kel 19:1-40:38).
  2. (II). TIMBULNYA KITAB. Seperti seluruh Kitab Pentateukh, ~K juga memuat empat buah sumber tulisan: Y., E., D. (sedikit sekali nukilannya) dan KI (Kodeks Imamat. Juga disebut sumber P). Pengaruh KI kelihatan pada pemberian hukum ibadat di Sinai (Kel 25:1-31:18; 35:1-40:38). Dapat pula dilihat pada bagian sejarahnya: Gambaran tentang keadaan bangsa Isr. di Mesir (Kel 1:1-7; 13:1-14:31), perwahyuan Allah kepada Musa (Kel 6:1-13), daftar silsilah (Kel 6:14-26), sebagian cerita tentang --> Tulah dan Hukum (Bab 11:13). Sumber KI lebih keras lagi menekankan peranan --> Harun (Kel 7:1-13), membuat sebuah versi sendiri tentang Mujijat di laut, memanfaatkan mukjijat ---> Manna, agar bisa mendahului perintah Sabat (bab 16). Sumber E mulai dengan cerita tentang para bidan Yahudi. Kemudian dilanjutkan dengan sejarah kelahiran dan pendidikan Musa. Lalu dilanjutkan dengan kembalinya Musa kepada para saudaranya dan pengungsiannya ke Midian. Kemudian disusul tentang panggilan dan perutusannya untuk pergi menghadap Firaun. Motif khusus keluaran adalah mau membawa pergi tulang-tulang Yusuf. Kemudian keadaan bangsa Yahudi yang suka bersungut-sungut. Sumber E mengungkapkan peristiwa mukjijat air di Mara. Barangkali sumber ini yang juga mengetahui perang melawan Amalek dan pertemuan Musa dengan Yitro. Boleh jadi sumber E ini juga yang ikut menceritakan penampakan Tuhan, pemberian Hukum, pengukuhan Perjanjian, pendurhakaan bangsa dan perdamaian kembali dengan Yahwe. Sumber E dalam Kel. berakhir dengan menyebut "kemah suci". Sumber Y pada garis besarnya berjalan paralel dengan sumber E. Kedua sumber ini sering sukar dibedakan. Sumber Y melukiskan penindasan bangsa Isr. di Mesir. Kemudian diceritakan waktu Musa tinggal di Midian, tentang perkawinannya dengan Zipora, tentang perwahyuan Yahwe, tentang perutusan Musa dan sebagian besar tentang cerita tulah. Bahan pribadi dari sumber Y adalah pertemuan Yahwe dengan Musa di waktu malam (Kel 4:24-26) dan sebuah ---> upacara Paska yang tua. Seperti sumber KI, sumber Y juga memberikan cerita yang cukup bulat tentang perjalanan melintasi laut. Barangkali sumber Y juga tahu tentang penampakan Tuhan, tentang pemberian hukum dan tentang pengukuhan perjanjian. Persoalan yang masih dipertentangkan menyangkut tradisi keluaran dan tradisi Sinai, apakah sejak semula kedua tradisi itu berdiri sendiri-sendiri dan mempunyai maksud theologis masing-masing yang berbeda. Satu masalah kini sudah jelas. Dari sejak awal-mula Musa memegang peranan utama di dalam kedua buah tradisi itu. Kecuali itu ada kemungkinan besar sekali, bahwa pengukuhan perjanjian di Isr. selalu dihadirkan di dalam upacara agama. Di dalam upacara agama semacam itu: Yahwe menampakan diri di dalam ibadat. Hukum dibacakan. Dan umat menyatakan kesetiaannya. Upacara-upacara semacam itu secara hakiki ikut-serta membentuk cerita Sinai, sehingga dapat diterima adanya semacam kaitan timbal-balik antara kebaktian dan berita.
  3. (III). THEOLOGI. Pengertian akan Allah merupakan sebuah pengalaman sejarah yang konkrit bagi bangsa Isr. Satu bagian hakiki dari pengalaman itu mengendap di dalam Kitab Keluaran, dan nampak bagi kita adanya sebuah theologi dalam bentuk kisah. Bagi bangsa Isr. keluaran itu merupakan suatu peristiwa keselamatan yang pokok dan suatu contoh dasar penebusan. Masalah yang sekali pernah terjadi, dipandang sebagai garansi dan pendekatan Allah yang tetap dan sekaligus dilihat sebagai panggilan Tuhan agar mereka tetap setia pada jalan YAHWE.

KELUARAN [browning]

Keberangkatan Israel dari *Mesir. Menurut tradisi, keduabelas anak *Yakub dengan keluarganya, yang seluruhnya berjumlah 70 orang (Kej. 46:27) pergi ke Mesir untuk menyelamatkan diri dari bahaya *kelaparan di *Kanaan. Mereka berkembang menjadi sangat besar, dan menggelisahkan orang Mesir yang memperbudak mereka serta memaksa mereka membangun kota-kota. Namun, di bawah ilham kepemimpinan Musa, umat Israel melarikan diri dari penindasnya, berjalan melalui padang gurun, dan menyerbu Palestina. Dikatakan bahwa pada saat itu ada 600.000 prajurit dewasa -- yang menyiratkan suatu arak-arakan besar lebih dari 2 juta pelarian. Sungguh sulit dipercaya. Fakta historisnya lebih rumit dan lid dapat ditentukan secara pasti, sekali dengan pertolongan bukti-bukti arkheologis. Kemungkinan orang-orang Ibrani ini pada mulanya masuk ke Mesir dalam beberapa tahap, sebagaimana dapat dilihat dari apa yang tersirat dalam cerita Kitab Kejadian itu sendiri, bahwa saudara-saudara *Yusuf tiba di sana lebih kemudian dari pada Yusuf. Sebagian lagi mungkin sama sekali tidak pernah pergi ke Mesir. Kemungkinan keberangkatan atau keluar mereka dari Mesir pun terjadi bertahap, lebih dari satu periode, meskipun dal beberapa hal peristiwanya tidak dapat diragukan. Kenangan tersebut terpahat secara mendalam dalam kesadaran bangsa Israel (Mzm. 114).

Rekonstruksi historis yang mungkin adalah bahwa rombongan pertama orang Ibrani pergi ke Mesir pada akhir abad ke-18 sM, dan rombongan yang lain tiba di sana dalam berbagai zaman. Kemungkinan rombongan utama meninggalkan Mesir setelah 430 tahun tinggal di sana Kel. 12:40). Tradisi menekankan keengganan *Firaun melepaskan budak-budak Israelnya pergi. Izin baru diberikan setelah adanya *tulah-tulah mengerikan dan menakjubkan. Agaknya yang paling mendekati, keluaran Israel terakhir dari Mesir terjadi pada awal abad ke-13 sM, namun harus pula diingat bahwa *Pentateukh, yang merupakan satu-satunya sumber informasi kita, belum disusun hingga abad ke-10 sampai ke-6 sM, dan rincian geografisnya tidak jelas. *Mukjizat-mukjizat itu diceritakan untuk mengungkapkan iman pada pemeliharaan *Yahweh, Allah Israel; dan *perjanjian di *Sinai dianggap sebagai saat ketika Israel menerima *Taurat. Mengenai pengembaraan di padang belantara sulit untuk dilacak arahnya secara pasti. Beberapa tempat yang disebut dalam cerita Alkitab dapat ditentukan secara pasti. Pertama, tidak mungkin umat Israel menyeberangi ujung *Laut Merah (Teluk Suez) -- tempat itu terlalu jauh ke selatan. (Bagaimanapun, orang Ibrani menyebutnya 'Laut Alang-alang', Sea of Reeds. Sedangkan 'Laut Merah', Red Sea berasal dari terjemahan *LXX.) Diperkirakan penyeberangan itu terjadi di perairan dangkal sebelah timur Avarus di dekat El-Qantara modern di Terusan Suez. Umat Israel terjebak di antara air dan orang-orang Mesir yang mengejarnya, namun angin kencang bertiup dan menyibakkan air tersebut (Kel. 14:21, 27), Sedangkan tentara-tentara Firaun mati tenggelam ketika air itu kembali. Peristiwa ini dirayakan dalam kidung pujian Kel. 15. Kekalahan ini tidak dianggap peristiwa penting oleh orang Mesir -- keberhasilan budak-budak itu melarikan diri bukanlah hal yang penting, dan di Mesir tidak ada catatan-catatan mengenai hal ini. (Namun demikian, ada inskripsi Mesir dari masa pemerintahan Firaun Merneptah pada akhir abad ke-13 sM, yang mengindikasikan bahwa umat Israel menetap di Kanaan dan tidak lagi tinggal di Mesir.) Rombongan utama umat Israel melarikan diri ke Gunung *Sinai, tempat Yahweh, Allah mereka, yang telah menyelamatkan mereka dari Mesir, menyatakan diri dan disembah. Setelah pembaruan pengharapan Israel dan dimulainya pemilihan Israel sebagai umat Yahweh ini, mereka melarikan diri ke `Kadesy, suatu oase, 80 km di sebelah selatan *Bersyeba. Tradisi mempertahankan bahwa mereka kemudian mengambil jalan memutar mengelilingi *Transyordan, yang termasuk menaklukkan orang-orang *Amori dari *Hesybon. Para penyerbu ini menyusur perbatasan wilayah *Edom dan 'Moab, merebut *Yerikho (Yos. 6), dan akhirnya menaklukkan seluruh Palestina (Yos. 11:16-23), dan membagi-baginya di antara keduabelas suku (Yos. 13-21).

Maksud cerita Alkitab ini adalah untuk memperlihatkan kuasa Allah untuk menghukum dan mengganjar umat-Nya dengan kekalahan atau kemenangan dalam peperangan. Cerita-cerita ideal pada masa lalu ini merupakan upaya generasi kemudian menjadikan masa kini mereka berarti. Karena itu, rekonstruksi historis sulit dilakukan. Kemungkinan sebagian orang Ibrani tidak pernah pergi ke Mesir. Orang-orang ini kemudian bergabung dengan mereka yang melarikan diri dari Firaun, dan menimbulkan pemberontakan kelas bawah terhadap tuan-tuan tanah Kanaan.

KELUARAN, KITAB [browning]

Kitab kedua *Pentateukh. judulnya diambil dari *LXX Yunani, yang berarti 'keberangkatan'. Seperti bagian kitab-kitab Pentateukh yang lain, oleh para sarjana kitab ini dibagi ke dalam sumber-sumber *Y, *E, dan *p dengan sebagian besar diambil dari sumber Y dan P Kitab ini merupakan cerita mengenai kelahiran dan panggilan Musa (Kel. 2-6); pertentangan antara Musa dengan *Firaun, dan *tulah-tulah yang berpuncak pada kematian anak-anak sulung (Kel. 7-12); perjalanan keluar dari *Mesir (Kel. 13-15); pengembaraan di *padang gurun (Kel 15:22--18:27); dan pertemuan di Gunung Sinai (Kel. 19-40).

Dalam sumber Y Allah adalah pelaku keluaran dan Musa hanyalah sekadar juru bicara-Nya. Namun, banyak pemberontakan dan gerutu di antara umat Israel, yang berpuncak pada pembuatan *anak lembu emas (Kel. 32). Kisah ini agaknya mencerminkan kemurtadan kerajaan Utara di bawah pemerintahan *Yerobeam (kira-kira 920 sM), yang menempatkan anak lembu emas untuk disembah di *Dan dan *Betel. Kemungkinan sumber yang ditulis dalam Keluaran ini merupakan jaminan bagi orang-orang beriman yang setia, yang hidup di Utara di bawah pemerintahan Yerobeam -- janji-janji Allah senantiasa dipertahankan, bahkan setelah Israel melakukan perbuatan-perbuatan tercela.

Berita P berisi beberapa cerita mengenai tulah-tulah dan kekalahan para tukang sihir serta penetapan *perjanjian *Sinai. Ini merupakan momen yang menentukan dalam kesadaran bangsa Israel sebagai umat Yahweh. Demikian halnya, semua penderitaan dalam pengembaraan, sejak mereka meninggalkan kuali Mesir yang berisi daging (Kel. 16:3), menemukan maknanya. Sumber P terpusat pada perintah-perintah tentang *korban dan *peribadahan, yang merupakan perhatian utama umat Yahudi setelah kembali dari *pembuangan, ketika Bait Allah dibangun kembali. Sejak 520 sM, Bait Allah menjadi pusat kehidupan umat Israel, menggantikan peranan dinasti *Daud. Perayaan pertanian pada musim semi, yang sebelumnya merupakan perayaan bangsa Kanaan, diambil alih dan diubah menjadi perayaan tahunan untuk memperingati keluaran dari Mesir, sehingga hal itu tidak pernah dilupakan. Perayaan itu disebut hari raya *Paskah dan Roti Tak Beragi.

Pembaca Kitab Keluaran mungkin melihat dengan jelas pengharapan dalam sumber Y, bahwa meskipun Israel memberontak dan tidak setia, Allah tidak meninggalkan umat-Nya. Dalam sumber P pembaca mungkin dapat menyimpulkan bahwa antara Sinai dan Bait Allah yang kedua terdapat kontinuitas. Pembaca modern dapat mengungkapkan keheranannya bahwa keturunan sekelompok budak, yang melarikan diri dari Mesir lebih dari 3000 tahun silam, masih bertahan hidup dalam segala perubahan sejarah, di tanah yang kemudian mereka (bangsa Ibrani) serbu itu.

KELUARAN, KITAB [ensiklopedia]

I. Garis besar isi

Kitab Kel ialah kitab kedua dalam Pentateukh. Menyajikan sejarah Israel yg menyusuli masa keberuntungan, yaitu waktu Yusuf memegang tampuk pemerintahan Mesir. Kitab Kel mencatat kedua puncak masa jaya dalam sejarah Israel, yaitu: pembebasan dari Mesir dan pemberian Taurat. Sesudah itu peristiwa-peristiwa yg dicatat dalam Kel menduduki tempat sentral dalam penyataan diri Allah kepada umat-Nya, tidak hanya di bawah perjanjian lama tapi juga di bawah perjanjian baru: karena domba Paskah menjadi lambang dari korban Tuhan Yesus, dan pesta Hari Raya Paskah menjadi dasar dari Perjamuan Kudus, peringatan penebusan umat kristiani.

Tema utama Kel adalah peristiwa-peristiwa yg mendahului dan menyusuli keberangkatan Israel dari Mesir. Kerangka kronologisnya hanya diberikan secara umum, selaras dengan cara Ibrani melihat sejarah, yaitu sebagai deretan peristiwa, jadi bukan sebagai deretan tanggal.

Kitab Kel mulai dengan catatan ringkas tentang keturunan Israel, sebagai jembatan peralihan dari Kej, lalu mencatat keresahan yg timbul pada pihak Mesir melihat laju pertambahan jumlah orang Israel yg begitu besar. Ini mereka anggap ancaman. Untuk menghadapinya dikeluarkan dua bahkan mungkin tiga ketetapan. Pertama, membebankan kepada orang Israel kerja paksa, diawasi oleh mandur-mandur orang Mesir. Barangkali tujuannya untuk memperoleh sejumlah besar tenaga kerja yg dibutuhkan pada saat itu, sambil mengawasi mereka dengan ketat. Kedua, kelihatannya bertujuan untuk memperberat perbudakan yg telah begitu tajam, sekaligus memeras tenaga dan waktu memikirkan dan melakukan yg lain. Ketiga, bertujuan mencegah pertambahan jumlah orang Israel selanjutnya, dengan jalan membunuh semua bayi laki-laki yg baru lahir. Bayi-bayi laki-laki dijadikan sasaran, karena dianggap kelak akan bangkit jadi pemberontak. Ketetapan ketiga melatarbelakangi kelahiran Musa dan dibesarkannya dia di istana Firaun, dan menjadi tokoh besar kedua dalam sejarah bangsa Israel.

II. Penulis

Aliran 'kritik sastra' menganggap Kitab Kel terdiri dari berbagai unsur, berasal dari beberapa sumber atau tangan yg meliputi masa dari abad 8-2 sM (lih A. H McNeile, Exodus hlm ii). Sumber-sumber yg diduga ada itu disebut Y (yg dalamnya dipakai nama Tuhan 'Yahweh'), E (Elohim), U (Ulangan), I (Imamat) dan R (beberapa penyusun lain) OEissfeldt dalam bukunya Einleitung in das Alte Testament, hlm 230, 253 menambahkan sumber A (awam) dan P (kitab perjanjian, yaitu Kel 20:22-23:33). Menurut Eissfeldt (hlm 289) urutan perkembangan Keluaran agaknya ialah A Y E P I R: R berarti beberapa redaksi (penyusun) yg secara teratur menambahkan YEPI pada 'kitab' ini.

Jika pandangan ini dapat dibuktikan maka cerita-cerita dalam Kitab Kel jelas tidak bisa dipercayai. Tapi pandangan ini hanyalah bersifat teori yg tidak dapat dibuktikan. Seperti dikatakan Eissfeldt sendiri 'Seluruh kritik Pentateukh adalah suatu hipotesis (pradalil) belaka, walaupun dasarnya kuat' (Einleitung, hlm 288). Orang lain berpendapat bahwa dasar-dasarnya bukan kuat melainkan sama sekali lemah. Secara umum, kritik sastra mengakui bahwa setiap karangan memakai sumber, tapi hal ini tidaklah membuktikan adanya beberapa penulis. Juga diterima, bahwa gaya bahasa suatu tulisan sebagian besar tergantung pada pokok yg dibicarakan di dalamnya, bukan pada kosa kata atau gaya penulisnya, sehingga tidak dapat dipakai sebagai bukti adanya beberapa penulis. Kriteria yg dipakai kritik sastra untuk memotong-motong Kitab Kel menjadi sekian potongan, sekarang sudah diakui tidak bernilai.

Lagipula, jika teori ini diterima maka akan timbul beberapa keganjilan. Ganjil sekali bahwa sumber I, yg menurut dugaan para kritikus sastra ditulis dari titik pandang imamat, tidak meningkatkan golongan imamat: Musa, pemimpin politik, tetap digambarkan sebagai lebih unggul dari Harun imam besar itu, yg dua tiga kali ditunjukkan melakukan kesalahan. Sekali lagi, seandainya keseluruhan Kitab Kel disusun di hari kemudian untuk memberi gambaran ideal tentang teokrasi yg dibayangkan sudah ada pada zaman Musa (pandangan S. R Driver, Exodus, hlm 12), maka mengingat isi kitab yg menerangkan ketegaran hati dan sifat bangsa Israel yg tak dapat diajar itu, kita hanya dapat berkata bahwa para penulis di hari kemudian itu, gagal total dalam usaha mereka.

Pandangan Yahudi sejak zaman Yosua (Yos 8:34 dab) yg diindahkan oleh Tuhan Yesus dan diterima oleh gereja, ialah bahwa Kel merupakan kerja Musa. Itulah juga kesan yg diberikan oleh Kitab Kel sendiri. Tidak ada bukti nyata filologi yg tidak cocok dengan pandangan ini. Mungkin sudah terjadi pemodernisasian nama-nama geografis, tapi ini lain sekali dari hal memasukkan sisipan yg luas yg berasal dari zaman sesudah Musa. Penulisan Musa ini agaknya mungkin berasal dari abad 13 sM.

III Naskah

Dalam naskah Kitab Kel terdapat beberapa kesalahan salin, tapi hanya sedikit: misalnya huruf-huruf yg hilang, ditografi (ditulis dua kali), haplografi (seharusnya ditulis dua kali ditulis hanya satu kali saja), dll. Bilangan-bilangan yg jumlahnya besar dianggap mustahil oleh berapa orang; tapi pada satu pihak harus diingat bahwa penerusan bilangan-bilangan dalam cara tulisan Ibrani agak sulit, dan pada pihak lain jika jumlah orang-orang Israel sudah betul (artinya, salinannya tidak salah) toh tidaklah mustahil bagi bangsa sebesar itu untuk hidup dalam perjalanan karena kebutuhannya sederhana.

KEPUSTAKAAN. A. H McNeile, The Book of Exodus, WC, 1917; E. J Young, Introduction to the Old Testament, 1954; M Noth, Exodus, 1962; BY Napier, Exodus, 1963; D. W Gooding, The Account of the Tabernacle, 1959; U Cassuto, Commentary on the Book of Exodus, 1967; B. S Childs, Exodus, 1974; R. A Cole, Exodus, TOTC 1973; J Finegan, Let My People Go, 1963; E. W Nicholson, Exodus and Sinai in History and Tradition, 1973. WJM/ARM/MHS


Lihat definisi kata "Keluaran" dalam Studi Kata



TIP #33: Situs ini membutuhkan masukan, ide, dan partisipasi Anda! Klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.12 detik
dipersembahkan oleh YLSA