KRITIK RESPONS
KRITIK RESPONS [browning]
pembaca Pengakuan bahwa pembaca modern naskah-naskah Alkitab itu membawa berbagai pengalaman dan pengertian yang mempengaruhi pemahaman mereka atas cerita-cerita Alkitab itu. Para ahli Alkitab, khususnya di Amerika, mengemukakan bahwa peran pembaca naskah-naskah Alkitab itu juga penting, di samping penelitian mendalam dari naskah-naskah itu untuk membicarakan gagasan teologisnya dan ketepatan sejarahnya serta identitas para penulisnya. Sama seperti khotbah, ia tidak hidup sampai orang yang membaca atau mendengarnya mulai bertanya: apa sebenarnya pengertian yang tersembunyi di belakang cerita tentang suatu kejadian? Mengapa dalam PB hanya ada sedikit sekali informasi pribadi mengenai Yesus atau *Petrus, misalnya? Banyak yang harus dilakukan oleh si pembaca untuk menumbuhkan suatu respons (Yoh. 20:31). Tetapi, respons pembaca modern itu dapat saja meragukan atau menolak, sangat berbeda dari apa yang diharapkan oleh si penulis dari pembaca yang dibayangkan semula. Misalnya, dalam seluruh PL para penulisnya merayakan kemenangan dalam sejarah peristiwa *keluaran dari *Mesir dan pemunculan tentaranya rang mengejar. Tetapi, seorang pembaca modern (seorang Palestina mungkin) mungkin lebih bersimpati dengan serdadu Firaun yang tak berdaya tenggelam itu, sementara seorang feminis Barat mungkin akan menyesalkan hegemoni maskulin dalam PL dan PB. Ia akan memperkenalkan pandangan baru atas naskah itu, yang ia dekati dengan integritas dan pengertiannya rang khas, yang tidak akan ia tinggalkan. Bahwa seorang *Lewi dapat mengizinkan gundiknya diperkosa secara mengerikan hanya untuk memenuhi kewajiban keramahan menerima tamu (Hak. 19:24) dipandang sebagai biadab dan primitif. Tetapi, lebih dari itu seorang pembaca feminis juga mencatat dan mengajak orang lain ikut mencatat kepuasan diri yang begitu mengejutkan dari lelaki yang menceritakannya.
Keadaan dari para pembaca Injil-injil dan persekutuannya telah mempengaruhi cerita mereka. Tambahan-tambahan dari Matius atas Injil Markus mencerminkan kehidupan dan pengalaman persekutuannya. Perilaku dari kedua belas murid Yesus, seakan-akan mereka terombang-ambing antara beriman dan tidak beriman, antara ketaatan dan kegagalan, seharusnya adalah kenyataan yang dikenal orang Kristen dalam jemaat Matius itu, dan mereka dikuatkan oleh cerita-cerita itu. Seperti orang-orang perempuan pada kubur Yesus (Mat. 28:8-10), mereka mengenal, baik ketakutan maupun kegembiraan. Seperti kesebelas murid di Bukit *Galilea (Mat. 28:17), mereka mengenal, baik iman maupun keragu-raguan.

