KRITIK BENTUK
KRITIK BENTUK [browning]
Terjemahan dari kata Jerman, Formgeschichte. Teknik ini dikembangkan oleh sekelompok sarjana Alkitab Jerman, tidak lama setelah Perang Dunia I. Dianggap bahwa kesimpulan kritik sumber yang disepakati secara luas mengenai prioritas Markus dan pandangan bahwa Injil Yohanes ditulis lebih kemudian daripada ketiga Injil yang lain bermaksud merasuk ke dalam periode kehidupan jemaat, bahkan sebelum sumber-sumber yang paling awal ditulis.'Kritik bentuk' digunakan di Jerman sejak kira-kira tahun 1900 untuk meneliti beberapa cerita PL serta literatur Yahudi dan Helenistik. Klasifikasi sastra prosa dan puisi dibagi-bagi lagi menjadi prosa sejarah, legenda, dan mitos serta puisi kidung pujian, mazmur, dan nubuat-nubuat profetis. Diakui bahwa selama era penurunalihan lisan tipe-tipe tersebut telah berkembang menurut proses yang wajar. Namun, di Inggris dan Amerika kritik bentuk dikenal sebagai alat PB, sejak diperkenalkan oleh sarjana PB, R.H. Lightfoot dan Vincent Taylor, pada 1930-an.
Pada umumnya kritik bentuk menerima teori W *Wrede bahwa Injil Markus bukanlah reproduksi langsung, meskipun tidak secara harfiah, dari apa yang diingat *Petrus, tetapi diserap dengan maksud apologetis yang kuat: mengapa kemesiasan Yesus tidak dikenal oleh orang-orang sezaman-Nya? Hal itu karena Yesus berupaya merahasiakannya. Jadi, menurut Wrede, Injil-injil, dimulai dari Injil Markus, disusun sebagai dukungan terhadap jemaat mula-mula. Namun, apa yang terjadi dengan kenangan mengenai diri Yesus selama 30 tahun, atau sebelum segala hal itu ditulis? Ada *khotbah, *pengajaran, dan pertentangan dengan orang-orang Yahudi. Para pemimpin Kristen memiliki simpanan cerita-cerita sebagai persediaan ketika timbal keperluan, dan tak terelakkan, cerita-cerita mereka itu berkembang menjadi bentuk-bentuk yang khas. Para pendengar membutuhkan nasihat dan penenteraman hati, informasi dan jawaban atas masalah-masalah seperti yang dihadapi oleh para Pembaca Injil Markus, yang untuknya Markus dalam waktu singkat menuliskan Injilnya. Memang, menurut kritik bentuk, Injil Markus terdiri dari fragmen-fragmen dan satuan-satuan lepas yang digunakan oleh para penginjil Kristen untuk menjelaskan pesannya dalam bentuk yang persuasif. Injil Markus sama sekali bukan cerita bersambung dan kronologis (bayangkan geografi perjalanan Yesus yang secara cepat berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, dari perbukitan di Galilea ke tasik, dari suatu tempat ke *Kapernaum, dari *Galilea ke pantai *Tirus dan *Sidon, dan akhirnya ke Yerusalem). Serangkaian peristiwa, *mukjizat-mukjizat, *perumpamaan-perumpamaan, dan perintah-perintah dijalin bersama dengan hubungan yang sangat minim.
Selama periode 'lisan' satuan-satuan berita tersebut beredar lepas-lepas; kritik bentuk menyebutnya *perikop, dan menelitinya dengan cermat secara independen dan mengklasifikasikannya ke dalam 'bentuk-bentuk'. Situasi orisinal historis pelayanan Yesus telah hilang selamanya; yang dapat dilihat adalah cara perikop-perikop tersebut mengungkapkan pengaruh kebutuhan-kebutuhan serta harapan jemaat. Contoh yang jelas adalah penafsiran dan penjelasan atas perumpamaan seorang penabur (Mrk. 4:10-20) yang lebih berhubungan dengan kehidupan jemaat daripada pelayanan Yesus.
Setelah menentukan suatu perikop ke dalam kategori atau tipe yang tepat (mis. *apoftegma, *khreia, *paradigma), berikutnya kritik bentuk menghubungkannya dengan jalinan atau lingkungan sosialnya (dalam bahasa Jerman *Sitz im Leben, situasi kehidupan), yang menjelaskan cara cerita tersebut disadur untuk disesuaikan dengan perubahan-perubahan yang terjadi dalam perkembangan jemaat, seperti perluasan misi kepada orang-orang *bukan Yahudi. Atau, barangkali terdapat tambahan-tambahan pada perumpamaan itu (mis. Luk. 19:27), yang mencerminkan meningkatnya permusuhan dengan orang-orang Yahudi. Beberapa kritik bentuk telah menyingkirkan sama sekali cerita asli dari beberapa perikop, terutama perikop yang merupakan kelompok peristiwa, seperti peristiwa *transfigurasi, yang memiliki unsur supranatural yang kuat, dan menganggapnya sebagai kreasi jemaat dalam terang keyakinan mereka atas *kebangkitan Yesus. Rudolf *Bultmann, kritikus bentuk yang terkemuka, diikuti oleh sarjana-sarjana lainnya, sangat skeptis dan tidak menghargai faktor-faktor yang menentukan pertumbuhan tenunan yang luar biasa itu. Misalnya, dapat dilihat bahwa beberapa perkataan Yesus, yang terpelihara secara cermat, tidak dimengerti dengan jelas oleh jemaat (seperti Mat. 11:12), namun sementara orang mengingatnya!
Pada waktunya, perhatian rinci dari kritik bentuk disusul *kritik redaksinya, yang mengakui adanya maksud teologis para penginjil, namun menghargai mereka lebih tinggi, sebagai pengarang. Apa yang mereka lakukan adalah lebih dari sekadar menjalin satuan-satuan tradisi lepas. Para kritikus bentuk dalam arti tertentu telah mengantisipasi kritik redaksi dengan mengakui bahwa ada satu bagian, yaitu cerita *penderitaan, yang merupakan kesatuan, dengan rincian topografis dan kronologis yang dapat dipercaya. Namun, ada variasi-variasi (misalnya mengenai perkataan Yesus dari atas *salib) yang memberi penjelasan mengenai maksud teologis tertentu dari masing-masing penulisnya.


untuk mendengarkan pasal yang sedang Anda tampilkan. [