INTERPRETASI KULTIK
INTERPRETASI KULTIK [browning]
Sejarah keagamaan Israel tidak ada artinya tanpa tata-cara pemujaan: *ibadah, *korban dan upacara-upacara keagamaan. Sebelum raja pertama diurapi oleh *Samuel, telah ada pemujaan di sekitar *Tabut Perjanjian yang memberi dasar persatuan bagi perserikatan atau perkumpulan keduabelas *suku yang longgar.
Namun, banyak bagian PL dapat dipahami dalam hubungannya dengan bait pemujaan di Yerusalem dan perayaan-perayaan yang diselenggarakan di sana, seperti berkat dan kutuk dalam Ul. 28. Diperkirakan Kitab Ayub merupakan sebuah drama yang didasarkan pada *mitos dan upacara perayaan tahun baru, yang lazim dilakukan di Timur Dekat kuno, ketika di sana telah ada penetapan upacara keagamaan mengenai *kematian dan *kebangkitan dewa. Maksud upacara tersebut adalah untuk membantu kesejahteraan bangsa. Setelah upacara peperangan, yang di dalamnya sang dewa memenangkan pertempuran atas musuh-musuhnya, ia dielu-elukan raja. Raja bangsa-bangsa tersebut memainkan peran utama dalam keseluruhan perayaan dengan menampilkan dirinya sebagai dewa. Di Israel, sebelum *pembuangan, telah ada perasaan bahwa raja diidentikkan dengan bangsa, atau pada derajat tertentu, kesejahteraan bangsa bersandar padanya. Gagasan tentang kerajaan keluarga *Daud adalah akar dari pengharapan mesianik.
Di atas semua itu, berbagai *Mazmur menyatakan betapa sentralnya perayaan-perayaan di Bait Allah bagi kehidupan bangsa Israel. Ada perayaan awal tahun baru, meskipun beberapa sarjana menganggapnya sebagai perayaan pemahkotaan raja, yang merupakan penetapan ulang secara liturgis mitos *penciptaan. Di antara bangsa-bangsa tetangga Israel, dewa penyelamat yang menang itu dianggap mampu mengatasi dewa kekacauan. Setiap tahun. bumi menjadi hampa ketika dewa kekacauan bangkit, namun akan menjadi subur ketika dewa penyelamat memerintah kembali. Mitos ini diambil alih ke dalam peribadahan bagi *Yahweh di Yerusalem, dan kemenangan seperti itulah yang dirayakan dalam Mzm. 24:7-10 dan 47:1.
Dalam Mazmur ada pula upacara penobatan raja (Mzm. 110), perayaan pembaruan *perjanjian (Mzm. 114), dan liturgi *doa, seperti Mzm. 44, ketika raja memohon demi bangsanya.
Dengan demikian, Mazmur-mazmur tersebut dihimpun untuk ibadah persekutuan dan penggunaannya diteruskan secara reguler dalam Gereja Kristen, untuk mengaitkan *Kerajaan Allah dengan kehidupan umat sehari-hari.

