Daftar Isi
HAAG: Dekalog
BROWNING: DEKALOG

Dekalog

Dekalog [haag]

DEKALOG. (Bhs. Yun.: Deka = 10, logos = sabda). Di kalangan penulis kristen (muncul pertama kali pada Klemens dari Aleksandria) ~D menjadi sebutan yang lazim dipakai untuk apa yang diungkapkan dalam sepuluh perintah seperti yang termaktub dalam Kel 20:2-17; Ul 5:7-21 (bdk.: ungkapan "kesepuluh sabda" Kel 34:28; Ul 4:13; 10:4).

  1. (I) BENTUK. Kedua redaksi Kel 20:2-17 dan Ul 5:7-21 pada dasarnya sesuai satu sama lain. Perbedaannya terutama ditemukan pada tambahan-tambahan di dalam perintah 2,3,4,5 dan 10, sedangkan perintah 1,6,7,8 dan 9 merupakan perintah singkat. Bukan hanya ungkapan kata-katanya tidak sama, melainkan pula gaya bahasa (dalam bentuk --> deuteronomis) maupun latar-belakang kebudayaannya (Mis.: Dalam hukum sabat: "orang asing di dalam pintumu") membuktikan bahwa penjelasan itu merupakan sebuah tambahan dari waktu kemudian. Tambahan itu berasal dari pewartaan yang dibuat secara teratur, demikian pula dari keterangan ~D di masyarakat, terutama dalam upacara kebaktian. Meskipun demikian pandangan bahwa dengan memisahkan penjelasan tambahan lalu dapat dibentuk kembali "~D-aseli" dari Musa harus disisihkan. Bagaimana bentuk ~D yang asli itu? Hanya sedikit saja yang dapat dikatakan pasti. Kita tidak mempunyai kepastian, apakah di situ sudah ada persoalan tentang ~D; artinya, sebuah susunan dari sepuluh hukum itu? Tempat-tempat yang menyinggung soal "sepuluh sabda" (bdk di atas) termasuk naskah muda. Meskipun demikian sejak zaman kuno sudah ada kebiasaan mengungkapkan sebuah kesatuan menyeluruh dalam jumlah sepuluh. Kebiasaan tersebut dipakai untuk menghadapi daya-tangkap rakyat sederhana (10 jari). Pada pokoknya dapat diterima, bahwa semua hukum adalah singkat pada permulaannya dan merupakan perintah yang mudah dihafalkan. Apakah semua peraturan itu semula diungkapkan secara negatip? Beberapa eksegit berpendapat, bahwa dulunya memang begitu.
  2. (II) PERNILAIAN. Menurut tradisi biblis, Musa mengumumkan ~D kepada rakyat dalam upacara pengukuhan perjanjian di Sinai (Kel 24:3-8). Pandangan itu menunjukkan kenyataan, bahwa bangsa Isr. selalu melihat ~D sebagai tak terpisahkan dengan --> Perjanjian. Kita tahu (terutama dari kerajaan Het dengan bangsa-bangsa vasal), bahwa perjanjian di daerah Timur-tengah waktu itu dikukuhkan dengan penyerahan dan penerimaan sebuah dokumen perjanjian, ~D berlaku bagi bangsa Isr. sebagai pernyataan perjanjian Sinai. Perjanjian dikukuhkan "dengan berdasarkan pada semua kata-kata itu" (Kel 24:8). ~D juga disebut "kitab perjanjian" (Kel 24:7) atau "kata-kata perjanjian" (Kel 34:28; Yer 11:6) dan loh-loh batu yang ditulisi ~D disebut "loh-loh perjanjian" (Ul 31:9,25-26; Yos 3:3 dan seterusnya; Yer 3:16 dbtl.). Oleh sebab itu para Nabi selalu memandang pelanggaran ~D sebagai pelanggaran perjanjian (Yer 11:6-8 dbtl). Dari pengertian ~D sebagai naskah perjanjian, jelaslah sudah, mengapa bentuk ungkapan hukum itu dibuat secara negatip. ~D hanya bermaksud membuat pagar. Orang yang melampaui pagar itu berarti meninggalkan batas-batas perjanjian. Setiap pelanggaran ~D di Isr. purba dikenakan hukuman mati. ~D adalah sebuah kerangka hukum dan bukannya singkatan dari kesusilaan PL. ~D tidak menentukan soal tuntutan maksimal, melainkan masalah tuntutan minimal yang dapat dipenuhi setiap orang. Ajaran kesusilaan PL tidak bersandar pada tuntutan tersebut, melainkan pada tuntutan kewajiban-kewajiban positip dari kesusilaan seperti yang ditentukan dalam karya hukum yang kuno maupun yang muda serta yang ditentukan oleh para Nabi (bdk. mis.: Kel 23:4-5; Ul 24:19-21; Im 19:18; Yes 58:6-7). Sebenarnya ~D berdiri sebagai pusat kesalehan. Hal ini dibuktikan dari peristiwa, bahwa bangsa Yahudi pada zaman biblis mengikut-sertakan ~D dalam doa Syema Israel dan mengenakannya di dalam --> sabuk-sabuk doa.
  3. (III) ~D DI DALAM PB. Dari satu pihak Yesus berdiri tanpa sarat di belakang ~D (Mark 10:17-19 dsj). Di dalam PB selalu ditulis bagian kedua dari ~D. Pembatasan ini menunjukkan adanya tekanan nilai yang lebih tajam atas kewajiban-kewajiban terhadap sesama. Di dalam kotbahnya boleh dinyatakan, bahwa Yesus membongkar sama sekali di depan para pendengar Yahudi akan menyelinapnya sebuah arti yang lebih mendalam pada perintah-perintah ~D (Mat 5:21-22,27-28). Meskipun sudah dipertajam begitu, tetapi PB menerangkan dengan jelas sekali, bahwa ~D hanya merupakan sebuah kerangka hukum. Hal itu bukan hanya berlaku pada waktu lampau bagi bangsa Yahudi, melainkan lebih berlaku lagi bagi seorang pengikut Kristus. Yesus juga memberitahukan, bahwa pedoman kesusilaan kristen yang menentukan adalah kasih (Rom 13:8-10; Yoh 13:34).

DEKALOG [browning]

Kata *Yunani untuk *Dasa Titah atau Sepuluh Perintah Allah (Kel. 34:28). Dekalog, yang diberikan dalam dua bentuk itu (Kel. 20 dan Ul. 5), merupakan hukum Ibrani yang paling awal dan tradisi menganggapnya berasal dari Musa, meskipun pada kenyataannya berkembang dan diperhalus selama berabad-abad. Hukum itu diberikan Allah kepada Musa pada dua loh batu (Kel. 31:18), setiap loh berisi seluruh sepuluh perintah, sesuai dengan kebiasaan yang lazim, bahwa setiap perjanjian memiliki dua salinan. Namun, dalam kemarahan Musa telah membantingnya, ketika ia melihat umat Israel menyerahkan diri pada penyembahan *berhala selama ia tidak ada (Kel. 32:28). Hukum-hukum itu ditulis ulang (Kel. 34:28) dan disimpan di dalam *Tabut Allah (1Raj. 8:9). Hukum-hukum dasar ini ditambah dengan banyak sekali rincian selama bertahun-tahun, namun Dekalog tetap merupakan ringkasan yang memudahkan untuk mengingat dan untuk resitasi umum serta sangat fundamental bagi kesatuan bangsa Israel. Hukum-hukum ini menuntut Israel untuk hanya *beribadah kepada Allah, dan bukan kepada yang lain, menuntut penghormatan atas kehidupan manusia, pernikahan dan hak milik; harus beristirahat satu hari setiap minggu; harus jujur dalam pengadilan. Ada dua cara pembagian Dekalog: Kel. 20:3, dalam urutan umat *Kristen adalah hukum pertama, namun dalam tradisi Yahudi (yang diikuti oleh Katolik Roma) disatukan dengan hukum berikutnya -- larangan untuk menyembah patung -- dan kemudian, hukum yang terakhir mengenai keirihatian, dibagi menjadi dua, sehingga semuanya tetap sepuluh.



TIP #23: Gunakan Studi Kamus dengan menggunakan indeks kata atau kotak pencarian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA