Daftar Isi
ENSIKLOPEDIA: BERITA, PEMBERITAAN

BERITA, PEMBERITAAN

BERITA, PEMBERITAAN [ensiklopedia]

Dalam PB pemberitaan adalah 'pengumuman Kristiani secara terbuka kepada dunia non Kristen' (C. H Dodd, The Apostolic Preaching and its Developments, 1944, hlm 7). Pemberitaan bukanlah khotbah keagamaan yg ditujukan kepada sekelompok tertutup orang yg telah percaya. Tapi adalah pengumuman secara terbuka untuk umum tentang karya penyelamatan Allah dalam dan dengan perantaraan Kristus. Makna pemberitaan khotbah sebagai penjelasan dan peringatan alkitabiah, sekalipun itu berupa perluasan istilah yg berlaku, telah cenderung mengaburkan maknanya yg asali.

I. Istilah-istilah alkitabiah

Pemilihan kata-kata kerja dalam PB Yunani bagi aktivitas pemberitaan, menunjukkan kembali kepada artinya yg asali. Kata kerja yg paling khas (muncul lebih 60 kali) ialah kerysso, 'mengumumkan sebagai seorang bentara'. Di dunia kuno bentara adalah orang penting (bnd G Friedricht dlm TDNT 3, hlm 697-714). Sebagai orang berwatak ia ditugasi raja atau Negara untuk mengumumkan segala pengumuman bagi umum. Memberitakan adalah berperilaku sebagai bentara. Berita yg diumumkan adalah kabar baik tentang keselamatan. Jika kerysso menyatakan sesuatu tentang aktivitas pemberitaan, maka euangelizomai, 'membawa kabar baik' (berasal dari kata eus, 'baik', dan kata kerja angello, 'memberitahukan') adalah menekankan kualitas berita itu sendiri -- satu kata kerja yg umum dipakai dalam PB, lebih 50 kali.

Bukannya tidak lazim menarik batas perbedaan yg tajam antara pemberitaan dan pengajaran -- antara kerygma (pengumuman secara umum) dan didakhe (pengajaran etis). Dimintakan perhatian khusus pada rangkuman Matius tentang pelayanan Yesus di Galilea, 'Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea ... mengajar ... memberitakan... dan melenyapkan segala penyakit' (Mat 4:23), dan terhadap kata-kata Paulus dalam Rm 12:6-8 dan 1 Kor 12:28 mengenai karunia Roh. Kedua aktivitas itu sebagai konsepsi memang dapat dibedakan, tapi keduanya berdasarkan fakta-fakta asasi yg sama. Kerygma mengumumkan apa yg telah dilakukan Allah, sedangkan didakhe mengajarkan penerapan karya Allah itu kepada tingkah laku Kristiani.

Di atas dikemukakan pembatasan sempit atas pemberitaan, guna menekankan artinya yg hakiki dalam PB. Tapi itu tidaklah berarti bahwa tidak ada sesuatu pun dalam PL yg dapat dijadikan teladan. Adalah jelas bahwa para nabi Ibrani, yg mengumumkan amanat Allah di bawah dorongan Ilahi, menjadi pelopor-pelopor bagi tugas para rasul sebagai bentara. Tentang Yunus diberitakan supaya ia 'berseru' (LXX kerysso; Ibrani gara, 'berseru'), bahkan Nuh disebut 'pemberita (keryx) kebenaran' (2 Ptr 2:5). LXX memakai kerysso lebih 30 kali, baik dalam arti sekular tentang pengumuman resmi raja-raja, maupun dalam arti yg lebih agamawi tentang pengucapan kenabian (bnd Yes 61:1; Yl 1:14; Za 9:9).

II. Ciri-ciri pemberitaan PB

Barangkali ciri pemberitaan yg paling penting dalam PB ialah adanya rasa 'wajib' dan 'dorongan' ilahi. Mrk 1:38 melaporkan bahwa Yesus tidak kembali kepada mereka yg mencari kuasa penyembuhan-Nya, tapi terdorong wajib untuk pergi ke kota-kota yg lain, supaya di situ (Ia) juga memberitakan Injil -- 'karena untuk itu Aku telah datang'. Petrus dan Yohanes menjawab larangan-larangan Mahkamah Agama dengan pernyataan, 'Tidak mungkin bagi kami untuk tidak berkata-kata tentang apa yg telah kami lihat dan yg telah kami dengar' (Kis 4:20). 'Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil', seru rasul Paulus (1 Kor 9:16).

Rasa terdorong dan wajib ini menjadi syarat mutlak bagi pemberita yg benar. Pemberitaan bukanlah melayankan dengan santai kebenaran-kebenaran yg memang penting, tapi yg secara moral bersifat netral: Allah sendirilah yg menerobos urusan-urusan manusia dan memperhadapkan manusia dengan suatu tuntutan untuk mengambil keputusan. Pemberitaan macam ini menghadapi penentangan. Dalam 2 Kor 11:23-28 Paulus mendaftarkan penderitaannya demi kepentingan Injil.

Ciri lainnya dari pemberitaan rasuli ialah, pemberitaan itu pada dirinya mumi dalam amanat dan motivasi. Karena pemberitaan itu menuntut tanggapan iman, maka adalah penting sekali bahwa apa yg diberitakan tidak dikaburkan oleh hikmat yg jitu dan kata-kata atau istilah-istilah yg berat (1 Kor 1:17; 2:1-4). Paulus menolak untuk mempraktikkan kelicikan atau untuk merusakkan Firman Allah, tapi ia menyerahkan dirinya untuk dipertimbangkan oleh setiap orang dengan penyataan yg terbuka terhadap kebenaran (2 Kor 4:2). Kehebohan yg radikal di dalam hati dan kesadaran orang, yaitu kelahiran baru, tidaklah muncul karena pengaruh pidato yg menarik, tapi karena penyajian Injil yg terus terang dalam segala kesederhanaan dan kuasanya.

III. Sifat hakiki pemberitaan

Dalam semua Injil, Yesus dengan cara paling khas digambarkan sebagai Seorang yg datang 'untuk memproklamirkan Kerajaan Allah'. Dalam Luk 4:16-21 Yesus menafsirkan pelayanan-Nya sebagai pemenuhan nubuat Yesaya tentang Hamba Allah yg akan datang, yg oleh-Nya Kerajaan Allah akan direalisasikan. Kerajaan ini paling baik diartikan sebagai pemerintahan rajawi Allah, atau perbuatan-Nya yg berdaulat. Hanya kemudianlah kerajaan itu menunjuk ke suatu daerah atau umat di dalam daerah itu. Bahwa kedaulatan Allah yg kekal kini menyerbu daerah kekuasaan jahat dan memenangkan kemenangan yg menentukan, itulah isi kerygma Yesus.

Dalam sisa PB ada perubahan penting peri peristilahan. Isi amanat yg diberitakan diubah dari 'Kerajaan Allah' menjadi 'Kristus'. Dengan cara yg bermacam-macam Ia diungkapkan sebagai 'Kristus yg tersalib' (1 Kor 15:12), 'Anak Allah, Yesus Kristus' (2 Kor 1:19), atau 'Kristus Yesus Tuhan' (2 Kor 4:5). Apakah yg menyebabkan perubahan tekanan ini? Hanya bahwa Kristus itulah Kerajaan Allah. Orang Yahudi mengharapkan peneguhan am dari pemerintahan Allah yg berdaulat, yakni kerajaan-Nya, namun kematian dan kebangkitan Yesus Kristus-lah yg mewujudkan perbuatan Allah yg menentukan, di mana kedaulatanNya yg kekal direalisasikan dalam sejarah manusia. Dengan kemajuan sejarah, gereja rasuli dapat memasyhurkan Kerajaan itu dalam istilah-istilah yg menentukan bertalian dengan Raja-nya. Memberitakan Kristus berarti memberitakan Kerajaan Allah.

Salah satu dari kemajuan-kemajuan para ahli PB yg paling meyakinkan ialah penalaran C. H Dodd tentang kerygma yg asali. Dengan mengikuti cara pendekatannya (dgn membandingkan wejangan-wejangan yg lebih dini diberikan dlm Kis dgn fragmen-fragmen pengakuan iman sebelum Paulus yg terdapat dlm Surat-surat Paulus), tapi dengan menafsirkan bahan-bahannya dengan penekanan yg sedikit berbeda, kita menemukan bahwa berita rasul Paulus ialah 'suatu pemasyhuran tentang kematian, kebangkitan dan peninggian Yesus yg membawa kepada penilaian pribadiNya sebagai Tuhan maupun sebagai Kristus, sambil memperhadapkan manusia dengan keharusan untuk bertobat, serta menyajikan pengampunan dosa' (R. H Mounce, The Essential Nature of New Testament Preaching, 1960, hlm 84).

Apa sebenarnya pemberitaan yg benar, dapat dengan cara yg terbaik diterangkan jika pemberitaan itu dilihat dalam tema yg lebih luas, yakni penyataan Allah. Penyataan pada hakikatnya adalah pengungkapan diri Allah, dilihat oleh iman yg menjawabnya. Karena peristiwa Golgota adalah penyataan diri Allah yg termulia, maka persoalannya ialah: bagaimana Allah dapat menyatakan diriNya pada masa kini melalui suatu perbuatan pada zaman yg telah lalu? Jawabannya ialah, melalui pemberitaan -- sebab pemberitaan itu menjadi penghubung yg tak terikat pada waktu antara karya agung penyelamatan Allah dan pemahaman manusia atasnya. Pemberitaan itulah sarana yg dengannya Allah menghadirkan pada masa kini pengungkapan diriNya yg historis, yg terjadi dalam Kristus dan menawarkan kepada manusia kesempatan untuk menjawabnya dalam iman.

KEPUSTAKAAN. Sebagai tambahan kepada buku-buku yg telah disebutkan di atas, bnd H. H Farmer, The Servant of the Word, 1950; P. T Forsyth, Positive Preaching and the Modern Mind, 1949; J Knox, The Integrity of Preaching, 1957; J. M Robinson, 'Preaching'HBD, edisi yg direvisi 1963; J. S Stewart, Heralds of God, 1949; J. R. W Stott, The Preacher's Portrait, 1961; L. J Tizard, Preaching: the Art of Communication, 1958; C. K Barrett, Biblical Problems and Biblical Preaching, 1964; E. P Clowney, Preaching Biblical Theology, 1961. RHM/HH




TIP #10: Klik ikon untuk merubah tampilan teks alkitab menjadi per baris atau paragraf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.07 detik
dipersembahkan oleh YLSA