Daftar Isi
BROWNING: ARSITEKTUR
ENSIKLOPEDIA: ARSITEKTUR

ARSITEKTUR

ARSITEKTUR [browning]

Sumber daya Israel dipusatkan pada kelangsungan hidup dan hanya sedikit energi yang tersedia untuk memelihara bangunan-bangunan warisan peradaban *Yunani. Hanya dalam periode pendek antara kerajaan *Daud dengan invasi *Asyur dimungkinkan adanya arsitektur penting, dan hal itu dicapai oleh *Salomo, yang menggunakan keahlian tukang-tukang Fenisia. Bangunan perkotaan (1Raj. 9:17) dan istana (1Raj. 7:1) dikenang sebagai tambahan bagi bangunan raksasa *Bait Yahweh di Yerusalem. Bait yang dibangun oleh *Herodes Agung mencerminkan antusiasmenya terhadap gaya Helenistis dan benteng yang amat besar di *Masada memiliki kolom-kolom serta tiang-tiang berhias khas cara tukang-tukang bangunan Romawi menyesuaikan motif-motif Helenistis.

Bangunan-bangunan tempat tinggal di *Palestina selalu berukuran kecil dan bergaya sederhana. Mungkin terdapat hingga empat kamar di sekeliling halaman yang dijadikan tempat memasak. Atap memiliki konstruksi sederhana dan perlu sering diperbaiki dan diganti. Di atas kerangka kayu terbentang anyaman ranting dan lumpur terbakar. Karena itu, ketika para pengusung orang lumpuh berupaya mati-matian untuk mencapai Yesus, mereka melubangi atap untuk menurunkan orang itu ke depan Yesus di dalam rumah (Mrk. 2:4). Namun, ketika Lukas menuliskan ulang cerita itu dikatakan bahwa mereka membongkar atap (Luk. 5:19), karena Lukas telah menyesuaikan arsitekturnya dengan arsitektur yang lebih akrab dengan para pembacanya.

Di *Yerikho, sebagian Bait Herodes tidak tertutup, dan di Yerusalem, ekskavasi telah menyingkapkan bahwa kolam *Siloam (Yoh. 9:7) adalah *kolam dengan sisi-sisi berukuran 4,5 m dan dikelilingi serambi bertiang.

Istilah yang digunakan oleh para arsitek, seperti'*batu penjuru' dan 'dasar' atau '*fondasi', merupakan kiasan yang tepat dalam PB bagi Kristus (1Kor. 3:11; Ef. 2:20) dan jemaat disebut sebagai *tiang penopang (1Tim. 3:15) kebenaran.

ARSITEKTUR [ensiklopedia]

I. Dalam PL

a. Kota kubu pertahanan

Suatu kota pada dasarnya merupakan kubu pertahanan. Di balik tembok-temboknya penduduk desa sekelilingnya dapat berlindung bila dalam bahaya. Karena itu kota biasanya terletak dekat air dan di tempat-tempat yg strategis, misalnya di atas bukit atau 'di atas bukit-bukit puing' (Yos 11:13). Tidak ada perencanaan kota yg sistematis di Palestina sebelum zaman Yunani (di Marisa). Bangunan-bangunan disesuaikan dengan ruang terbatas yg tersedia pada jalan-jalan yg sempit dan dalam dinding-dinding pertahanan.

Pertapakan yg lebih tinggi dalam kota biasanya dikhususkan untuk bangunan benteng, suatu kubu pertahanan yg lebih kuat lagi. Di situlah dibangun gedung-gedung utama pemerintah dan, di Yerusalem, Bait Suci. Daerah yg dibentengi ini (bira) di Yerusalem (1 Taw 29:1,19; TBI 'bait') dan di Susan dalam Elam (Neh 1:1; TBI 'puri', Est 1:1; TBI 'benteng') seperti di kota-kota purba lainnya, menjadi daerah khusus di setiap ibukota itu. Metsuda Sion (TBI 'kubu pertahanan') yg direbut oleh Daud (1 Taw 11:5-7) adalah daerah seperti ini.

Sejak zaman purba kota-kota dipertahankan dengan tembok rangkap dua atau tiga (Yerikho, Ai). Di Beit Mirsim tembok setebal 4 m dibangun dari batu-batu yg disusun secara kasar dan diperkuat dengan menara-menara. Pada Zaman Perunggu Pertengahan II bagian luar tembok-tembok itu dibuat landai, sering dilengkapi dengan batu gletser. Bagian dalam tembok berdiri tegak lurus, seluruhnya didirikan di atas pondasi batu-batu raksasa bersegi banyak (Yerikho dan Sikhem). Pola benteng ini, kadang-kadang dilengkapi dengan pintu gerbang rangkap dua atau tiga, dengan empat hingga enam menara yg sejajar dengan jumlah seimbang pada tiap sisi, seperti di Sikhem dan Megido, telah mengikuti pola Siria yg lebih dini.

Pada zaman makmur Kerajaan Israel bersatu, dikembangkan suatu benteng pertahanan yg khas Israel, terdiri dari susunan batu-batu raksasa yg tidak dipahat. Tembok-tembok di Bet-Semes dan Debir terdiri dari tembok luar (tebalnya 1,8 m) dan tembok dalam (tebalnya 1 m) yg dihubungkan oleh dinding-dinding yg bersilang. Saul menggunakan teknik yg sama membangun benteng yg besar di Gibea (Tell el-Ful). Salomo menggunakan batu-batu yg telah dipahat menurut rencana, membangun tembok-tembok Megido dan Gezer. Dan dalam pembangunan tembok kedua kota gudang ini, juga Hazor (1 Raj 9:15) arsitek maupun ahli batu kerajaan yg sama dikerahkan membangun rumah-rumah jaga yg terletak di tembok yg melengkung, dengan tiga kamar pada masing-masing sisi dan menara-menara bersegi empat pada tembok luar yg panjangnya 22 m.

Di Tell en-Nasbeh di mana tembok-tembok kota tebalnya 7-9 m dan diplester, ditemukan pintu gerbang dari abad 9 (lebarnya 4 m) menjorok keluar ke suatu halaman yg tembok-temboknya dikelilingi deretan bangku dari batu. Inilah tempat pengadilan (Ul 21:19; Am 5:15) dan pasar (2 Raj 7:1). Pada abad 7 sM gerbang kota dibangun sedemikian rupa sehingga hanya ada satu jalan masuk tapi tidak langsung lempang, sebagai strategi pertahanan tambahan. Di Tell Beit Mirsim bagian utara dari menara pintu gerbang dibangun satu halaman yg dikelilingi 6 kamar, di mana terdapat lemari, tempat mencuci, dan alat-alat lain yg membantu para pejabat yg bepergian. Di kota ini seperti di kota-kota lainnya, terdapat pintu gerbang kedua yg lebih kecil untuk para pejalan kaki dan keledai.

b. Bangunan-bangunan umum

Pajak yg dikutip untuk membiayai pembangunan gedung-gedung raksasa yg diresmikan oleh Daud berkembang kepada pembangunan 'kota-kota perbekalan'. Di Bet-Semes dan Lakhis, tempat perumahan para pejabat setempat berdampingan dengan satu bangunan yg dinding-dindingnya luar biasa tebalnya, dengan kamar-kamar yg panjang tapi tidak lebar, mungkin dipakai untuk menyimpan gandum. Seluruh gedung itu dibangun di atas sebidang pelataran dengan bagian dalamnya diisi dengan tanah (panjangnya 35 m, kemudian diperpanjang menjadi 85 m), mungkin mengikuti teknik 'Milo' atau teknik 'pengurukan' yg dipraktikkan oleh Daud di Yerusalem (2 Sam 5:9). Di Megido dan Hazor bangunan-bangunan besar yg bertiang-tiang raksasa dengan halaman yg diratakan dan dikelilingi tembok, yg pernah dianggap sebagai kandang kuda kereta Salomo, sekarang dianggap sebagai tempat-tempat kedutaan dan kantor-kantor pemerintah, bukan tangsi militer. Bangunan-bangunan yg sama telah digali di Taanakh, Eglon dan Gezer.

Di Palestina diterapkan suatu teknik membangun yg sudah umum diterapkan di Siria (Alalah); batu kasar untuk bagian bawah, diluruskan dan diikat dengan hati-hati oleh batu-batu penjuru, menopang bagian-bagian kayu yg diselang-selingi dengan bata tanah liat (PEQ 92, 1960, hlm 57 dst). Pada bangunan-bangunan yg lain di Megido, Samaria dan Bet-Sean, batu-batu besar yg dirancang di pinggir dan dengan titik-titik pusat yg timbul atau yg dipatuk, diletakkan tegak lurus atau mendatar dengan teratur tanpa adukan semen. Pekerjaan itu dilaksanakan dengan sangat tepat dan menunjukkan perkembangan yg besar di bidang arsitektur.

Halaman-halaman dalam yg luas dan terbuka dari gedung-gedung itu, dilengkapi dengan sarana air yg dialirkan ke dalam waduk yg dipahat dari batu (seperti di Bet-Semes pada abad 14-13). Waduk-waduk itu digunakan untuk mencuci (lih 1 Raj 22:38) dan sebagai tempat menahan orang (lih Yer 38:6). Di bawah halaman-halaman lain terowongan-terowongan yg dalam digali sampai ke sumber air terdekat. Terowongan yg digali di Lakhis (38 m), Gibeon, Gezer, Megido dan Yerusalem adalah prestasi teknik yg luar biasa.

Sebuah kuburan batu yg dipahat di Kidron, Yerusalem, pada zaman Kerajaan, menunjukkan adanya pengaruh Mesir, dinding-dinding (tingginya 4 m) miring agak ke dalam, bagian atasnya yg menganjur dihiasi dengan cavetto (berbentuk seperempat bulatan).

c. Bait Suci Salomo

Bait Suci pertama dibangun oleh Hiram dari Tirus pada thn lk 960 sM, berdasarkan pola Siro-Fenisia, dengan memakai batu kapur putih yg disusun rapi di lahan dasar yg digali (1 Raj 5:6). Perincian mengenai arsitek tercantum dalam 1 Raj ps 6. Seluruh bangunan berukuran lk 33 x 10 m, dibangun di atas lahan urukan tanah yg tingginya 3 m; dan luas pertapakan itu kr 2 1/2 m lebih luas dari bangunan itu sendiri. Jalan masuk utama adalah tangga dengan 10 anak tangga. Di atasnya, yakni sesudah anak tangga ke-10, terdapat sepasang tiang perunggu (lk 12 m x 6 m keliling). Di antara kedua tiang ini ada pintu-pintu yg tinggi, menuju ruang depan atau serambi ('ulam, ay 3) yg berukuran lk 11 m x 5 m, dari sini melalui pintu-pintu rangkap (lebarnya 5 m) menuju ruang utama (hekhal, 15 m x 20 m x 10 m). Ruang ini diterangi oleh jendela-jendela yg dipasang di bawah langit-langit, yg di sebelah dalam lebih lebar daripada yg di sebelah luar (ay 9). Tiang-tiang kayu mungkin dimahkotai dengan hiasan berbentuk patung kepala gaya Yunani. Dinding-dinding, lantai-lantai, dan pintu-pintu tempat kudus dilapisi dengan kayu berselaput emas tua, dihiasi dengan gambar pohon-pohonan, malaikat dan untaian rantai (2 Taw 3:5; Yeh 41:18). Lewat beberapa tangga berikutnya ada sebuah pintu menuju ke ruang Maha Kudus (devir, firman), sebuah ruang tanpa jendela, dirancang berbentuk kubus yg luasnya lk 10 m persegi, merupakan tempat kediaman khusus bagi Tuhan (ay 13). Ruang Maha Kudus ini didominasi oleh sayap-sayap (masing-masing Ik 2,5 m) dari kerub yg terhampar di atas tutup pendamaian dari emas.

Pada bagian luar Bait Suci dibangun ruangan-ruangan tingkat tiga, masing-masing dengan pintu tersendiri (ay 5-9). Seluruhnya dikelilingi oleh dinding dari batu yg terdiri dari tiga bagian, yg di atasnya terdapat satu jajar balok kayu aras (1Raj 6:36).

Bagan Bait Suci Salomo hampir sama dengan bagan bangunan-bangunan bait yg ditemukan di Tainat (Siria, abad 9) dan Hazor.

d. Rumah-rumah pribadi

Rumah bertarikh abad 17 sM dekat Sikhem mengikuti bagan biasa, yaitu satu pintu masuk menuju ke suatu halaman dalam yg terbuka, dari halaman ini menuju ke ruangan-ruangan yg dipakai oleh para pelayan dan sebagai tempat menyimpan barang-barang. Bagan yg sama digunakan di seluruh Timur Tengah Purba (lih D. J Wiseman, IBA hlm 22-23). Di Razor tangga yg terdiri dari batu-batu persegi empat menuju ke tingkat atas, tempat pemilik rumah tinggal, dan keatas lagi menuju ke atap yg datar; atap itu ideal untuk istirahat pada waktu musim panas dan untuk menjemur perbekalan (Yos 2:6). Sebagian besar rumah tempat tinggal memakai jerami dan lumpur sebagai atap, ditopang oleh balok-balok kayu yg besar 4-5 m, dan dibuat kedap air dengan secara berkala menggelindingkan batu yg berat di atasnya. Lengkungan-lengkungan dan cara menopang atap demikian itu sudah dikenal sejak thn 3000 sM, maka mungkin cara ini dipakai untuk menyangga atap-atap yg datar dari gedung-gedung besar karena dapat menahan beban yg berat (Hak 16:27). Pagar yg mengelilingi sotoh dianggap perlu demi pengamanan (Ul 22:8). Sesudah abad 12 kebanyakan rumah mempunyai waduk sendiri di halaman sebelah dalam untuk menampung air hujan dari atap.

\\==> Image 00020\\

Sesudah abad 10 kebiasaan mendirikan satu atau dua baris tiang utama sepanjang poros ruang-ruang utama menjadi populer. Tiang-tiang ini dibuat dan batu atau kayu yg dipasang di atas pondasi batu, dan Simson mungkin membongkar dua tiang utama macam ini untuk merubuhkan tingkat-tingkat atas rumah di Gaza itu (Hak 16:25-30). Tiang-tiang itu selain menyangga tingkat bagian atas, juga bermanfaat untuk menahan dinding batu yg membagi-bagi lantai dasar menjadi kamar-kamar.

Satu rumah besar di Lakhis (lk 400 sM) memakai bagan yg sama dengan bagan bangunan Partia di Nippor, dengan halaman-halaman, pintu-pintu masuk yg dihiasi tiang, dan langit-langit yg melengkung, juga ada hiasan dan sarana-sarana lain yg menunjukkan pengaruh Mesopotamia.

e. Zaman antar perjanjian

Arsitektur zaman Seleukus nampak jelas di kuburan yg besar dan amat indah dari keluarga Tobias di 'Araq el-Emir, Yordan. Batu-batu besar, puncak tiang-tiang yg dihiasai menurut gaya Korintus, dan beberapa patung singa pada dinding atas di bagian bawahnya, menunjukkan pengaruh kuat gaya Yunani purba. Pada lanjutan kurun zaman Makabe pengaruh Fenisia nampak pada hiasan-hiasan baru dari Yunani, dalam banyak bangunan yg digali di Bet-Zur dan Marisa. di Samaria menara-menara bundar dibangun di atas tembok kota purba Israel. Di luar Yerusalem banyak kuburan Makabe masih dapat ditemukan. 'Kuburan Zakharia' mempunyai atap piramida gaya Mesir, puncak tiangnya bergaya Yunani dan tiang-tiang sudutnya berbentuk persegi empat terbuat dari batu pahatan. Pengalaman arsitektur demikian membuka jalan untuk membangun gedung-gedung Yunani yg lebih halus di bawah pemerintahan Herodes.

II. Dalam PB

a. Bait Allah bangunan Herodes

Bangunan yg indah ini, yg nampak dari segala sudut Yerusalem, dibangun untuk memperlihatkan kebesaran lanjutan politik Herodes yg ingin menunjukkan dirinya sebagai pelindung agama Yahudi. Bait itu mulai dibangun pada thn 20 atau 19 sM dan sebagian besar diselesaikan dalam 46 thn (Yoh 2:20). Bangunan itu baru selesai seluruhnya pada thn 64 M. Mrk 13:1-2 menghunjuk pada kesan yg teracu pada batu-batu pondasi yg kokoh dan kemegahannya secara menyeluruh.

Bangunan itu hancur sama sekali dalam serangan pada thn 70 M dan gambar denahnya yg lengkap tak dapat diberikan. Namun, kita ketahui ada satu taman yg lahannya lebih rendah yg merupakan teras yg indah. Di tengah-tengah taman ini terdapat suatu panggung yg berdiri di atas lahan yg lebih tinggi dari taman tadi. Dan di tengah-tengah panggung itu terdapat lagi satu halaman -- disebut halaman dalam -- dan di tengah-tengah halaman dalam ini berdiri mencolok gedung tempat suci sebagai puncak keseluruhan bangunan Bait Suci itu. Serambi-serambi yg bertiang-tiang nampaknya mengelilingi halaman luar, suatu ciri arsitektur yg lebih bersifat Yunani ketimbang Yahudi, dan di sinilah Kristus mengajar dan orang-orang Kristen purba berkumpul (Yoh 10:23; Kis 3:11; 5:12). Tempat yg terbuka dipakai sebagai tempat menjual binatang-binatang korban dan pasar valuta yg sebenarnya dimaksudkan guna menolong para musafir. Perdagangan yg korup ini pasti mendatangkan keuntungan pribadi bagi imam-imam besar (Yoh 2:13-17 dab).

b. Rumah-rumah ibadat Yahudi

Di Kapernaum telah digali sebuah lantai kuno di bawah satu rumah ibadat Yahudi dari abad 4, yg mungkin sisa-sisa bangunan (yg diberikan oleh seorang kepala pasukan Romawi) di mana Kristus pernah berkhotbah (Luk 7:5). Di Ain Duk, 3 km dari Yerikho, sebuah lantai mosaik yg tarikhnya tidak pasti, tapi mungkin dari abad 3 M, pastilah peninggalan rumah ibadat Yahudi. Sebuah prasasti mencatat ucapan terima kasih jemaat kepada penyumbang gedung itu, yakni 'Benyamin, anak Yusuf'. Satu balok tiang pintu dari rumah ibadat Yahudi di Korintus (Kis 18:4) yg memuat tulisan yg tidak lengkap (...GOGEEBR...) menandai perkampungan dan rumah ibadat Yahudi di Korintus. Tidak diketahui suatu apa pun tentang arsitektur bangunan-bangunan tersebut.

c. Gereja peninggalan orang Kristen purba

Ada 2 gereja peninggalan abad 4 M, yakni di Dura-Europos dan di Lullingstone di Inggris, tapi kita tidak mengetahui sesuatu apa pun tentang bangunan orang Kristen yg lebih dini (jika pernah ada).

d. Rumah-rumah di Palestina

Tempat-tempat tinggal orang miskin di Palestina mungkin tidak berbeda dengan rumah-rumah yg dapat dilihat di kampung-kampung terpencil di Turki atau Siria dewasa ini. Rumah petani miskin hanya mempunyai satu atau dua kamar (Luk,11:7). Keteduhan pribadi sulit diperoleh, dan petani yg mencari ketenangan untuk berdoa, harus masuk 'kamarnya' (Mat 6:6), yaitu suatu pondok tambahan yg kecil di mana sayur-sayuran, buah-buahan dan gandum disimpan. Bangunannya sangat sederhana, terdiri terutama dari mistar dan plesteran, yg dapat ditembus masuk oleh pencuri (Mat 6:19). Rumah-rumah yg lebih besar dibangun sekeliling halaman pusat, tapi tidak senantiasa demikian halnya dengan setiap rumah yg mempunyai atap datar. Tenda-tenda kadang-kadang menjamur di tempat yg kaya angin ini, dan tamu-tamu atau penghuni rumah dapat beristirahat dengan senang di situ (Kis 10:9). Sebagian dari atap datar macam inilah (genteng atau mistar dan plesteran) yg dibuka oleh orang-orang yg menurunkan penderita lumpuh ke hadapan Yesus (Mrk 2:4). 'Ruang atas' yg disebut dalam Kis 1:13; 9:37, 39; 20:8 mungkin adalah satu ruang tingkat dua dari satu rumah berhalaman tengah, atau ruangan datar di atap datar yg diberi naungan, mungkin dengan satu tangga luar. Tidak ada bukti yg pasti yg menghubungkan ruang atas ini dengan ruang tamu di mana diadakan Perjamuan Terakhir.

e. Kiasan yg bertalian dengan arsitektur

PB kaya kiasan demikian. Terdapat banyak hunjukan kepada dasar yg benar (lih Mat 7:24-27; Luk 6:48; 14:29; Rm 15:20; 1 Kor 3:10-12; Ef 2:20; 1 Tim 3:15; Ibr 9:10). Yg disebut arkhitekton ('ahli bangunan') dalam 1 Kor 3:10 bukanlah seorang perancang denah bangunan sesuai pengertian kita, melainkan 'pemimpin tukang batu' yg mengembangkan rancangannya pada waktu gedung sedang dibangun, dan kadang-kadang mengubahnya sesuai dengan alatnya. 'Batu penjuru' (1 Ptr 2:7; bnd Mzm 118:22; Yes 8:14) adalah batu di sudut pondasi yg bentuknya yg benar dan letaknya yg saksama menentukan susunan dari seluruh bangunan. Kiasan mengenai pembangunan tingkat atas di atas pondasi dipakai oleh Paulus dalam 1 Kor 3:9-16; Ef 2:20,21. Bagian yg terlebih dahulu bersifat puitis dengan penyebutan 'emas, perak, dan batu-batu berharga' sebagai bahan bangunan (bnd Why 21:18-21), tapi bersifat harfiah dalam penunjukkannya pada 'kayu, rumput kering, jerami'. Kayu adalah jelas dan umum. Rumput kering dijadikan alas untuk plesteran lumpur. Jerami adalah bahan baku utama untuk ramuan bata lumpur, balok-balok murah yg dijemur di terik matahari untuk bangunan sederhana, masih dapat dilihat di Yunani dan Asia Barat.

KEPUSTAKAAN. W. F Albright, The Archaeology of Palestine, 1960; Y Yadin, New Light on Solomon's Megiddo, BA 23, 1960, hlm 62-68; H. H Frankfort, The Art and Architecture of the Ancient Orient, 1954; A. G Barrois, Manuel d'Archaeologie biblique 1, 1953, hlm 89-301. EMB/NY WBS




TIP #23: Gunakan Studi Kamus dengan menggunakan indeks kata atau kotak pencarian. [SEMUA]
dibuat dalam 0.09 detik
dipersembahkan oleh YLSA