AMOS, KITAB
AMOS, KITAB [browning]
Setelah pendahuluan (Am. 1 dan 2), kitab ini dapat dibagi menjadi: khotbah-khotbah (pasal 3-6), lima penglihatan (7:1-9:7), diikuti dengan janji (Am 9:8-15). Kitab ini terutama sekali penting untuk menolak pandangan bahwa setiap bangsa memiliki Allahnya sendiri -- Yahweh adalah Allah Israel, yang perintah-Nya melampaui perbatasan dua kerajaan. Sebaliknya, tema Amos adalah bahwa Yahweh adalah Allah universal dengan tuntutan-tuntutan moral-Nya untuk setiap bangsa (mis. Am. 1:5). Tidak diragukan bahwa ada hubungan istimewa antara Yahweh dengan Israel, namun umat ini diperingatkan bahwa hubungan tersebut tidak dapat dipertahankan hanya dengan upacara-upacara keagamaan saja. Di *Betel, Imam Amazia sekuat tenaga berupaya membungkam pesan yang tidak menyenangkan ini (7:12), namun Amos tetap bertahan. Pada suatu waktu perjanjian mungkin dibatalkan (5:18); namun masih ada harapan untuk pembenahan yang terakhir (9:11-15), sekalipun bagian kesimpulan ini ditambahkan oleh seorang editor kemudian hari. Itulah sebabnya kitab ini harus dibaca dalam konteks Alkitab secara keseluruhan, baik bagi umat Yahudi, maupun umat Kristen. Dengan demikian, bagian tersebut tidak perlu dihilangkan lantaran dianggap tidak konsisten dengan pesan Amos pada 750 sM, atau dianggap sebagai lampiran autentik. Kitab Amos dikutip oleh *Stefanus (Kis. 7:42) dan *Yakobus (Kis. 15:16-18). Pada zaman modern ini sangat berharga karena himbauan keadilan sosialnya yang blak-blakan.
AMOS, KITAB [ensiklopedia]
I. Garis besar isi
Umumnya naskah nubuat-nubuat Amos dalam bh Ibrani dipelihara dengan baik. Lagipula, pengaturan karya-karya tulisnya secara progresif memungkinkan kitabnya dapat dibagi dalam bagian-bagian yg bukan dibuat-buat. Kitab itu dibagi 4 bagian.
a. Am 1:1; 2:16.
Sesudah kata pendahuluan yg sederhana (Am 1: 1-2) di mana Amos mengatakan siapa dia sebenarnya, ketika ia bernubuat, dan di mana letak kekuasaannya untuk berkhotbah, ia mengumumkan hukuman atas bangsa-bangsa di sekitarnya (Am 1:3; 2:3), atas Yehuda tempat kelahirannya, dan atas Samaria (Am 2:4-16). Dosa-dosa atas mana hukuman Tuhan akan dijatuhkan, sifatnya mengenai akhlak, dosa-dosa itu berlawanan dengan hukum moral yg mengikat masyarakat.
b. Am 3:1; 6:14.
Rangkaian amanat dalam bagian ini masing-masing dimulai dengan rumusan yg tegas (Am 3:1; 4:1; 5:1; 6:1). Di sini tekanan diberikan pada hak-hak istimewa Samaria, tapi dosa bangsa itu telah membalikkan hak-hak istimewa itu menjadi asas atas mana Amos mendasarkan kaidah hukumnya. Hak istimewa melibatkan umat Allah dalam hukuman, justru muncullah pengumuman Amos tentang 'Hari Tuhan' ketika Asyur hendak dijadikan cambuk bagi Tuhan untuk memukul Israel.
c. Am 7:1; 9:10.
Bagian ini terdiri dari lima rangkai penglihatan mengenai hukuman. Dalam setiap penglihatan itu hukuman diutarakan dalam suatu lambang. Kelima lambang ini adalah kawanan belalang (Am 7:1-3), api (Am 7:4-6), tali sipat (Am 7:7-9), buah-buahan musim kemarau (Am 8:1-14), dan sebuah mezbah yg diruntuhkan (Am 9:1-10). Dalam Am 7:10-17 Amos menambahkan catatan yg panjang mengenai riwayat hidupnya sendiri, yg memperlihatkan alasan-alasannya menyapa umat Allah.
d. Am 9:11-15.
Bagian ini terdiri dari kata penutup yg melukiskan pemulihan kerajaan Daud.
II. Penulis dan tarikhnya
Tak ada yg diketahui mengenai nabi Amos di luar tulisannya. Ia penduduk Tekoa (1:1), yg terletak kr 16 km sebelah Selatan Yerusalem. Letaknya yg tinggi membuat kota itu secara alami 'kota pertahanan' (2 Taw 11:6). Pedusunan di sekitarnya menghasilkan rerumputan bagi ternak peliharaan, dan Amos adalah peternak (Am 1:1). Lagipula, ia 'pemelihara pohon-pohon korma' (7:14). Makna keterangan ini ialah bahwa Amos tidak diasuh dalam golongan dari mana biasanya para nabi berasal, juga ia tidak mengecap pendidikan untuk menjadi nabi di sekolah atau perkumpulan (7:14 dab).
Kita tahu dari 1:1 bahwa ia hidup pada zaman pemerintahan Uzia, raja Yehuda (779-740 sM), dan Yerobeam II, raja Samaria (783-743 sM). Uzia dan Yerobeam II bersamaan memerintah selama 36 thn (779-743). Sejak Uzia diserang kusta, terpaksa diadakan pemerintahan perwalian pada tahun-tahun terakhir pemerintahannya (2 Raj 15:1-7), mungkin Amos mengadakan pelayanan pada saat pemerintahan bersama antara Uzia dan Yerobeam II sedang berlangsung. Belum ditemukan sumber data untuk menentukan berapa lama ia berkhotbah di Samaria ketika ia diperintahkan untuk kembali ke tempat asalnya, Yehuda (7:10-13). Tanpa ragu-ragu hal ini membuat pelayanannya sebagai nabi Allah berakhir.
III. Keadaan
Pelayanan dan amanat seorang nabi Yahudi sangat erat hubungannya dengan keadaan kehidupan masyarakat kepada siapa ia menyampaikan khotbahnya, tulisan-tulisannya yg mencerminkan dengan seksama keadaan-keadaan pada zamannya sendiri. Tidak terkecuali Kitab Am ini.
a. Keadaan politik dan sosial.
Umumnya diduga Amos mulai berkhotbah di Samaria kr pada thn 760 sM. Lebih 40 thn sebelumnya Asyur telah menghancurkan Siria, tetangga Samaria di sebelah utara. Hal ini memungkinkan Yerobeam II memperluas tapal batasnya (2 Raj 14:25), dan membangun perdagangan yg menguntungkan, yg menciptakan suatu golongan pedagang yg kuat di Samaria. Sayang kemakmuran yg membanjiri Samaria tidak dibagi rata di kalangan penduduk. Kemakmuran itu tetap dimonopoli raja-raja pedagang, yg menggunakan kekayaan yg baru mereka peroleh untuk meningkatkan taraf kehidupan mereka sendiri (3:10, 12, 15; 6:4), dan sama sekali mengabaikan golongan petani yg hingga waktu itu merupakan tulang punggung perekonomian Samaria. Gejala-gejala yg pasti menandai suatu masyarakat yg bobrok moralnya mulai menampakkan diri di Samaria. Pada zaman Amos penindasan atas kaum miskin oleh orang kaya adalah biasa (2:6-7), juga sikap tak acuh di kalangan hartawan terhadap kesengsaraan orang yg lapar (6:3-6). Keadilan terletak pada orang yg menawar paling tinggi (2:6; 8:6). Dalam musim kering (4:7-9) orang miskin hanya dapat meminta pertolongan kepada lintah darat (5:11-12; 8:4-6), yg kepadanya ia sering terpaksa menggadaikan tanahnya dan dirinya.
b. Kedudukan agama.
Memang keadaan sosial di Samaria mempengaruhi kebiasaan agamawi. Agama tidaklah diabaikan tapi diputarbalikkan. Di tempat-tempat suci agama nasional (5:5) upacara-upacara terus dipelihara (4:4-5), tapi hal itu diadakan bergandengan dengan sifat kefasikan yg tak mengenal Allah dan menyalahi kesusilaan; justru ritus itu harus dibasmi, bukan diperbaharui (3:14; 7:9; 9:1-4). Sesungguhnya ini sama sekali bukanlah penyembahan kepada Allah, tapi pendurhakaan (4:4). Allah tidak akan ditemukan di tempat-tempat suci demikian (5:21-23); sebab Allah tidak boleh menerima ibadah seperti itu; sesungguhnya persembahan itu ditujukan kepada ilah lain (8:14). Lagipula, upacara yg serba mewah ini dan korban-korban yg mahal itu dipersembahkan dengan biaya kaum miskin (2:8; 5:11).
IV. Amos dan Pentateukh (Lima Kitab pertama PL)
Berguna sekali memperhatikan nomor-nomor hunjukan dalam nubuat Amos mengenai fakta-fakta yg terkandung dalam 5 Kitab pertama PL.
a. Hunjukan pada sejarah sebelumnya.
Dalam kerangka amanatnya ia memberitahukan tentang pembinasaan Sodom dan Gomora (4:11). Ia juga menunjuk kepada Keluaran (3:1), kepada pengembaraan di padang gurun (5:25), dan kepada penaklukan Kanaan (2:9-10). Hal-hal ini, bersama dengan penyebutan nama Ishak, Yakub, dan Yusuf (3:13; 5:6; 7:16), dan hunjukan tidak langsung kepada permusuhan antara Yakub dan Esau (1:11), memperlihatkan pengetahuannya tentang peristiwa-peristiwa penting dalam sejarah Yahudi, dan pengetahuan yg sungguh luas mengenai sejarah itu di kalangan orang Yahudi pada zaman Amos.
b. Hunjukan pada hukum Taurat.
Acuan-acuannya terhadap ritus (5:21), terhadap korban dan persepuluhan yg diatur oleh undang-undang (4:4-5; 5:22), terhadap bulan baru dan hari Sabat (8:5), memperlihatkan bahwa ia sudah tahu bagian-bagian dari Pentateukh di mana peraturan agama ini diatur. Hunjukan pada keadaan moral pada zamannya juga merupakan gema yg dikumandangkan oleh etika yg terdapat dalam Pentateukh. Bnd 2:8 dengan Kel 22:26; 8:5 dengan Im 19:35-36; 2:4 dengan Ul 17:19, dst.
V. Amanat Amos
a. Pemikiran Amos tentang Allah penting diketahui guna mengerti amanat yg dia sampaikan di Samaria. Tuhan adalah Pencipta semesta alam (4:13), tapi Ia terus aktif hadir sebagai penopangnya. Dia yg mengubah kekelaman menjadi pagi, dan yg membuat siang menjadi gelap seperti malam, dan mengendalikan gelombang laut (5:8; 9:6). Dia menentukan akan adanya kekurangan (4:6-11) atau serba kecukupan (9:13). Tuhan juga mengendalikan nasib bangsa-bangsa. Dia mengekang bangsa ini (1:5), membangkitkan bangsa itu (6:14), dan memunahkan bangsa lain (2:9). Dia juga mengendalikan penyebaran mereka (9:7). Karena itu Dia adalah Hakim mereka (1:3-2:3) ketika mereka melanggar hukum moral-Nya.
b. Memang amanat Amos memperlihatkan perhatian khusus terhadap Israel. Dalam pengertian yg sangat khusus Yahweh adalah Allah Israel. Kehendak-Nya sendirilah memilih Israel untuk memufakati hubungan dengan Dia sendiri (3:2). Melalui para pelayan-Nya Dia telah menyatakan kehendak-Nya kepada Israel (2:11; 3:7). Tapi hak-hak istimewa yg luar biasa ini telah melibatkan Israel memikul tanggung jawab yg berat; dan bila gagal menjalankan tanggung jawab ini mengakibatkan umat-Nya itu dijatuhi hukuman yg jauh lebih berat daripada yg dijatuhkan atas bangsa-bangsa kafir. Ketika Israel melanggar hukum Allah (2:4) tak ada jalan lain kecuali bersiap-siap akan hukuman yg bakal jatuh (4:12).
c. Amos juga prihatin untuk memberitahukan bahwa hukum yg dilanggar karena berbuat dosa, tidak dapat diatur hanya dengan cara mengadakan ritus, pesta atau korban. Bahkan, Allah sudah berdiri dekat mezbah bersiap-siap untuk memukulnya (9:1-4). Ritus yg paling rinci dikerjakan adalah justru yg merupakan kebencian bagi Dia, selama hal itu dipersembahkan oleh orang yg tidak ada niatnya untuk memenuhi syarat norma-norma etika yg terdapat dalam hukum-Nya yg suci. Agama yg demikian yg terdiri dari upacara-upacara dan ritus dipisahkan dari moralitas (sopan santun) dan Allah membencinya (5:21 dab).
d. Apa yg disebut di atas berarti bahwa yg paling memprihatinkan Amos ialah, bahwa ia menghendaki keadilan dalam nama Tuhan dari umat Tuhan (5:24). Keadilan bagi Amos merupakan ciri moral yg paling penting dari sifat ilahi. Setiap perkosaan terhadap hukum moral, apakah itu dilakukan oleh bangsa kafir (1:3-2:3) atau oleh bangsa Israel (Am 2:4-16), adalah perkosaan terhadap sifat Allah, justru merupakan provokasi terhadap keadilan yg bersifat ilahi. Jika Allah itu adil, maka ketidakadilan, ketidakjujuran, kebejatan moral tak dapat ditolerir oleh Dia, dan harus mendapat pembalasan yg keras dari Dia.
e. Tapi keputusan hukuman bukanlah ucapan terakhir Amos kepada Samaria (5:4). Memang, ia akhiri dengan suatu janji bahwa akan ada hari cerah baginya (9:11-15). Namun demikian, pelayanannya nampaknya berakhir dengan suatu kegagalan. Sementara tak seorang pun menyangkal amanatnya, dan sementara tanpa disangsikan, suara hati rakyat menguatkan kebenaran dan keadilan yg terkandung dalam khotbahnya, pada akhirnya Amazia, imam itu, mendesak agar Amos harus meninggalkan Samaria dalam damai dan kembali ke Yehuda untuk menyampaikan amanatnya di sana (7:10 dab).
KEPUSTAKAAN. W. R Harper, Amos and Hosea, dalam ICC; S. R Driver, Joel and Amos, dalam CBSC; G Adam Smith, The Book of the Twelve Prophets, dalam EB; Adam C Welch, Kings and Prophets of Israel, hlm 107-129; R. S Cripps, Critical and Exegetical Commentary on Amos, 1955; J. D. W Watts, Vision and Prophecy in Amos, 1958; R. M Gwynn, The Book of Amos, 1927; E. A Edghill, The Book of Amos,1914; J Marsh, AmosandMicah,1959; J. LMays, Amos, 1969; J. A Motyer, NBCR, Amos, 1970; The Day of the Lion, 1974; H. W Wolff, Amos the Prophet, 1973; R Gordis, The Composition and Structure of Amos, HTR 33, 1940, hlm 239-251; H. H Rowley, Was Amos A Nabi? Eissfeldt Festschrift, 1947; E Hammershaimb, The Book of Amos, 1970. JGSST/WBS


untuk merubah popup menjadi mode sticky,
untuk merubah mode sticky menjadi mode popup kembali. [