Jika Adam sebagai manusia lahiriah memakan buah terlarang, mengapa jiwanya harus menderita?

Walaupun benar bahwa dalam diri manusia ada jiwa yang merupakan wujud yang berbeda, Anda tidak dapat memisahkan tanggung jawab perbuatan dosa, membaginya secara adil sebagian dosa untuk jiwa dan sebagian untuk tubuh. Tidak perlu memperdebatkan tentang Adam, jika pengalaman kita sendiri adalah lebih relevan, dan di dalam hal ini Adam adalah satu lambang dari diri kita sendiri. Luther biasa menceritakan kisah tentang seorang uskup yang juga seorang bangsawan. Suatu hari bangsawan ini mengucapkan sumpah, dan ketika seseorang kelihatan heran, maka bangsawan ini bertanya mengapa dia terbelalak. Maka jawabnya: "karena mendengar seorang uskup bersumpah." Lalu sang uskup menjawab, "Bukan sebagai seorang uskup aku bersumpah, melainkan sebagai seorang pangeran." Sementara orang lain itu menanggapi: "Jika pangeran tersebut masuk neraka, apa yang akan terjadi dengan si uskup?" Jiwa adalah pihak yang menyetujui dosa-dosa yang dilakukan oleh tubuh. Jiwa dicemarkan dan direndahkan oleh dosa badani, dan secara adil dihukum, sebab tidak menjaga ketertiban. Jiwa seharusnya menjadi yang tertinggi, dan jika tubuh, yang bersekutu dengan dunia binatang, menuruti hawa nafsu akan hal-hal terlarang, maka jiwa harus menahannya. Jika tidak, maka tubuh telah merendahkan fungsi-fungsinya dan pantas menerima hukuman. Allah memberi jiwa kepada manusia agar dia bisa bangkit dari asal-usulnya yang kasar, dan Dia memberikan kepada jiwa kuasa atas tubuh dan Dia siap memberinya kuasa yang lebih besar jika diperlukan.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #28: Arahkan mouse pada tautan catatan yang terdapat pada teks alkitab untuk melihat catatan ayat tersebut dalam popup. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA