Pengantar Ende

SURAT KEDUA RASUL PAULUS KEPADA UMAT KORINTUS

KATA PENGANTAR

Surat kedua kepada umat Korintus ditulis Paulus kira-kira dua tahun kemudian dari jang pertama.

Adapun surat pertama itu nampaknja tjukup berhasil. Apa jang dihardik dan diputuskan didalamnja oleh Paulus, njata telah diindahkan dan tak usah disinggung lagi. Tetapi sepandjang dua tahun itu telah timbul kesulitan- kesulitan lain, jang tak kurang membahajakan.

Ada saudara-saudara tertentu, rupanja saudara-saudara Jahudi dari Jerusalem, jang datang di Korintus dan tidak sedikit mengatjaukan dan merisaukan umat disitu dengan adjarannja dan sikapnja terhadap Paulus. Mereka mengandjurkan diri sebagai pengadjar-pengadjar resmi jang dapat menundjukkan surat-surat kepertjajaan, dan sebab itu dengan rela diterima. Mereka dengan tegas menjanggah dan menentang adjaran-adjaran Paulus. Tentu sadja chususnja sebab Paulus mengadjar dan menegaskan dimana-mana, bahwa segala orang beriman dalam Kristus bebas dari hukum taurat dan adat-istiadat agama Jahudi, lagi bahwa sunat tidak dapat diwadjibkan, malah sama sekali tak ada gunanja lagi. Mereka menandaskan, bahwa Paulus bukan rasul sedjati, sebab ia tak pernah mendjadi murid Jesus jang tetap mengikutinja, malah tak pernah melihat dan mendengarnja. Dengan tak henti- hentinja mereka memfitnah Paulus dan berkata babwa ia tidak djudjur, gila hormat dan samar-samar mentjari keuntunganja sendiri. Akibat segalanja itu: orang mulai mentjurigai Paulus, sikap mereka terhadap Paulus mendingin, kewibawaan Paulus disangsikan dan dilanggari.

Hal-hal itu diberitakan kepada Paulus. Berdasarkan II Kor. 1:25-2:1 lagi 13:1-2 dapat diduga, bahwa Paulus sendiri pergi mengundjungi Korintus, tetapi tidak tinggal lama, lalu pulang dengan sedih dan ketjewa. Kemudian ditulisnja seputjuk surat. Hal itu tjukup terang dari utjapan-utjapannja dalam II Kor. 2:3- 9 dan 7:8-12, tetapi surat itupun tidak diturunkan kepada kita. Menurut katanja sendiri surat itu ditulisnja dalam dukatjita dan kesesakan hati, sambil bertjutjuran air matanja. Demikian kita batja dalam 11 Kor. 2:4.

Kedjadian-kedjadian atau keadaan manakah mendjadi alasan kemasjgulan itu memang terang bagi oraug Korintus, tetapi tidak bagi kita, sebab dalam 11 Kor. ini hanja disinggung. Rupanja seorang terkemuka dan amat berpengaruh, barangkali seorang wakil Paulus atau pernimpin resmi, telah bersikap durhaka atau memberontak terhadap Paulus atau terhadap peraturan-peraturannja.

Kemudian setelah menulis surat itu Paulus mengutus Titus kepada mereka untuk memulihkan keadaan dan suasana disitu, lalu mendapathan Paulus pada perdjalanannja ke Masedonia dan memberi laporan.

Sementara itu Paulus meninggalkan Efesus dan pergi mengundjungi Troas dan Masedonia. Di Masedonia Titus menemuinja. Kabar jang dibawanja sangat melegakan hati Paulus. Orang jang bersalah itu telah dihukum oleh umat. Sikap umat terhadap Paulus telah terpulih sampai memuaskan. Hanja penentang-penentang Paulus masih ada dan pengaruh mereka belum lenjap. Segera Paulus menulis seputjuk surat lagi, ialah jang dengan resmi dinamakan surat kedua Rasul Paulus kepada umat Korintus, jang sedang kita bahas. Isi, susunan dan suasana surat ini lain sekali dari jang pertama. Disini bukan uraian-uraian pandjang lebar, djelas dan agak terang melainkan ketjuali bab 7-9 pembelaan diri sangat berapi-api. Bukan untuk kepentingan dirinja, melainkan semata-mata karena tjinta akan kenebaran Indjil dan keselamatan umat. Disini djuga tak lain dari tjinta Kristus jang mendorongnja. Tudjuannja melulu mau menginsjafkan umat akan bahaja-babaja jang mengantjam mereka. Hal itu harus tetap kita perhatikan dalam membatja surat ini. Mungkin kadang-h-adang terasa berbau pudji diri, tetapi sebenarnja diauh dari itu; ia banja mau mejakinkan umatnja tentang kewibawaannja jang datang dari Kristus dan alian kedjudjurannja dalam melakukan tugasnia. Diangan sampai umat didjauhkan dari padanja sebab lial itu berarti mereka didjauhkan dari kebenaran Indjil dan dari Kristus.

Djika ada satu surat jang harus ditindjau dari sudut paham eksistensialis maka tentu surat ini. Dan hanja demikian dapat dinikmati benar-benar. Diangan kita mau mentjari didalamnja suatu garis logika. Selurubnja ketjuali bab 7-9 merupakan satu arus tjetusan-tjetusan hati jang tjemas dan gelisah karena bahaja-bahaja jang sedang mengantjam keselamatan umat. Djangan Pula kita mau menjelidiki dan menimbang-nimbang tiap-tiap kata dan ungkapan-ungkapan, tetapi tjoba merasa didalamnja kebesaran djiwa Paulus, jang mahaluhur itu, meluap dengan tjinta kepada Allah dan Kristus, Indjil dan umat. Hendaknja kita dalam membatja surat ini didjiwai olehnja.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #22: Untuk membuka tautan pada Boks Temuan di jendela baru, gunakan klik kanan. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA