Pengantar Ende

MADAH AGUNG

PENDAHULUAN

Kitab jang terketjil dari Kitab2 kebidjaksanaan dan jang djuga agak berlainan bentuk serta isinja dengan kitab2 lainnja itu, dalam terdjemahan ini dinamakan Madah Agung. Nama ini maunja menjalin ungkapan hibrani, jang superlatif artinja. Kitab ini adalah "madah jang ulung", sjair jang terindah", "Gita terluhur'. dan kata "Madah Agung" sedikit sepadan dengan pengertian tadi.

dalam djudul kitab di-sebut2 nama "Sulaiman", jang sudah barang tentu mengingatkan orang akan radja Sulaiman. Bentuk Kata Hibrani dapat diterdjemahkan dengan "dari Sulaiman", jakni dikaragan olehnja; mungkin pula dengan "untuk sulaiman", jakni ditjiptakan untuknja pada kesempatan tertentu,misalnja perkawinannja. Namun demikian, tradisi Jahudi maupun Kristen memandang Sulaiman sebagai pengarang kitab ini. Dan lagi maksud djudjul, jang agaklah dari masa kemudian dan tidak termaktub dalam aselinja, tak lain dan tak bukan ialah menjatakan radja Sulaiman sebagai pengarangnja. Itulah menerangkan terdjemahan kami. tetapi dengan itu tidak dikatakan, bahwa sulaiman banjak sangkut-pautnja dengan madah ini. sungguhpun adanja sangkut-paut tertentu tidak dapat dipungkiri dengan mutlak, tetapi sebaliknja ada alasan jang tjukup kuat, untuk berpendapat, bahwa kitab ini tidak dikarang oleh Sulaiman. Betul namanja disebut beberapa kali dalam kitab ini (1,5 Hbr.3,7.11;8,11), tetapi agaknja lebih merupakan suatu chalajak kesusasteraan dari pada suatu kenjataan sedjarah. Dalam ajat 8,11-12 kiranja ia lebih tampi sebagai tokoh zaman jang telah lampau daripada oknum jang masih hidup. Dan dalam ajat 3,7.11 nama Sulaiman hanjalah gelar kehormatan bagi tokoh jang utama dalam madah ini. Tambahan pula bahasa kitab ini menundjukkan zaman belakangan daripada zaman Sulaiman. Oleh karena itu tradisi bolehlah ditinggalkan tanpa keberatan sedikit djuapun.

Namun demikian, mustahillah menjebutkan nama orang lain sebagai pengarang Madah Agung ini, dan oleh karenanja sukar pula, untuk menentukan dengan pasti waktu terkarangnja kitab ini. Pendapat para ahlipun ber-lain2an pula. Oleh beberapa ahli dikemukakan waktu belakangan, sedang ahli2 lainnja berpendapat - pendapat ini mungkin lebih mendekati kebenaran,-bahwa kitab ini dikarang kira2 waktu Israil kembali dari pembuangan dibawah pimpinan Zorobabel, djadi kira2 550 sebelum masehi.

Adapun susunan kesusasteraan Madah Agung ini tidak begitu djelas. Sukarlah ditentukan adanja djalan besar jang menerus. Dahulu orang mengira, bahwa keseluruhannja tersusun sebagai suatu drama jang terdiri atas pelbagai babak dengan puntjaknja pada penutup kitab ini dan jang setjara lambat laut mentjapai puntjaknja. Tetapi rupa2nja itu sukar dikukuhi, pun pula karena bentuk kesusasteraan ini agaknja tidak dikenal di Israil. Kitab Sutji tidak memberikan tjontoh satupun. Kiranja lebih baik dikatakan, bahwa Madah Agung ini terdiri atas sedjumlah sjair, jang masing2 merupakan suatu keseluruhan (1,5-2,7;2,8- 3,5;3,6-5,1;5,2-6,3;6,4-8,4) Ajat2 8,5-7b merupakan puntjak serta penuup kitab seluruhnja, sedang ajat-ajat 1,2-4 merupakan pembuka. Bagian terachir (8,7c-14) tidak begitu djelas dan agak menjimpang dari seluruh kitab. Mereka berupa tambah2an dari pelbagai sumber. Oleh beberapa ahli ajat2 tadi dipandang sebagai sisa jang rusak dari penutup aseli kitab ini.

Selain ajat2 terachir itu, maka kitab ini hendak dilihat sebagai suatu keseluruhan besar jang berasal dari penjair jang satu dan sama djua. Djadi bukannja sekumpulan sjair2 asmara jang masing2 berdiri tersendiri dan jang tak ada gandjarannja satu sama lain. Sjair-sjair sematjam itu dahulu terkenal di Mesir dan kemudian, hingga dewasa ini, djuga di Arabia dan pada umumnja mempunjai tjorak erotis. sedangkan erotis. Sedangkan kelima sjair Madah Agung itu dikarang oleh orang jang satu dan sama djua dan mengandung pikiran pokok jang sama serta memperlihatkan gaja bahasa jang sama. Dengan itu tidak dipungkiri, bahwa penjair kena pengaruh puisi erotis dari zamannja serta lingkungannja dan menimba sebagian dari ungkapan2nja serta kiasan2 dari sana. Tetapi pengaruh profan itu kalah besar dengan pengaruh daripenghulu2nja didalam Kitab Sutji itu sendiri. Meskipun menundjuk akan "kutipan" sungguh2 dari Kitab Sutji, namun tidak dapat disangkal bahwa kitab ini hanja dapat dipahami sepenuhnja dengan latar belakang djalan pikiran serta sesusasteraan Kitab Sutji, chususnja kitab2 nabi. Si penjair serta karjanja diresapi karenanja.

Soalnja disini benar2 mengenai kitab dari Kitab Sutji dan buku sungguh2 mempunjai tjorak keigamaan. Adakalanja orang Jahudi mengemukakan keberatan2 terhadap kitab ini, karena tjoraknja jang tampaknja protan dan erotis.Djuga banjak penafsir baru melihat kitab ini tak banjak bedanja dengan batjaan erotis, bahkan tjabul. Sebab kelihatannja mengenai tjita berahi antara seorang pemuda, gembala jangdiberi sebutan "radja", dengan seorang pamudi gembala dari daerah pendalaman, jang diberi nama Sulamit, agaknja bentuk djenis-perempuan dari nama Sulaiman. Nampaknja suatu idylie dari suatu "pastorale". Didalam seluruh kitab nama Allah tidak terdapat, selain mungkin dalam bentuk kependekan dalam ajat 8,6, tetapi artinjapun tak lain dan tak bukan ialah sematjam bentuk superlatif. Tetapi djustru latar belakang Kitab sutji itulah jang mendjamin nilai serta isi keigamaannja, jang hanjalah bersembunji dibelakang tjara penggamraban jang profan dan erotis itu.

Madah Agung hendaknja kita tafsirkan sebagai suatu alegori, kiasan besar untuk suatu kenjataan ilahi, untuk pikiran pokok jang ulung. Pada dirinja tiada keberatan dan djuga tidak bertentangan dengan ilahinja, kalau Kitab Sutji me- mudji2 tjinta sutji antara suami dan isteri segala sesuatunja jang bersangkutan dengannja. Memang ada beberapa Ahli Katolik berpendapat, bahwa djustru itulah jang meupakan bahan pokok kitab Madah Agung, Walau tjinta insani mendjadi suatu pralambang dari sesuatu jang lebih luhur. Akan tetapi tjinta insani jang luhur ini dan dalam Kitab Sutji, lebih2 dalam kitab2 para Nabi, digunakan sebagai gambaran perhubungan Allah dengan umatNja dan sebagai gambaran perhubungan Israil dizaman jang datang dengan Utusan Allah jang agung, jakni Al Masih. Belum lagi disebutkan latar belakang seluruh kitab ini, jakni apa jang dikatakan para Nabi dengan gambaran2 serta kias-kias tentang perhubungan itu dan bagaimana berkembang dalam sedjarah. Karena itu tafsir jang wadjar ialah bahwasanja kitab ini setjara langsung dan se-mata2 membentangkan perhubungan serta tjintakasih Allah dan Utusan Allah terhadap umatNja. Adapun mempelai laki2, gembala dan radja-ke-dua2nja ini gambaran jang lazim bagi Allah dan Al Masih - adalah Allah sendiri,jang mentjintai denganhangatnja Israil, mempelaiNja; dan mempelai perempuan, jakni Israil sekarang dan pada masa jang datang, dalam hati sanubarinja mendambakan tjinta jang menjelesaikan. Tetapi mempelai laki2 menghendaki pengantennja indah sepenuhnja dan nirmala, dan ketawaran hati, kelembikan dan sikap tanggung2, jang menghalangi mempelai perempuan mentjapai tjinta sepenuhnja harus dienjahkan dahulu dengan pertjobaan dan penderitaan tjinta itu. Demikian mempelai laki2 itu sendiri mengusahakan, agar penganten Israil dapat memiliki tjintkasih Allah serta tjinta Al-Masih jang penuh dengan tak direm. Inilah sedjarah batin jang digambarkan dan diramalkan Madah Agung, tanpa selalu me-njindir2 kedjadian2 tertentu dalam sedjarah. Djika pikiran besar ini diingat, maka sedikit arti da faedahnja, mengenakan serta menafsirkan semua bagian dan tiap2 gambaran. Kalau begitu, kias ini lalu mendjadi permainan pikiran jang tiada artinja dan kadang2 tak sedap pula, sehingga dapat merugikan penghargaan terhadap madah tjintakasih ilahi ini dan dapat melalaikan artinja jang utama.

Djustru karena tafsir setjara kiasan menurut tradisi Jahudi da Kristen inilah maka Madah Agung senantiasa didjundjung tinggi. Kitab ini termasuk kitab2 Perdjandjian Lama jang paling banjak ditafsirkan. Mysten, misalnja mystik Bernardus, Dionysius dan Johannes dari Salib Sutji, mendapatkan ilhamnja dalam kitab ini dan tjaranja untuk melahirkan pengalaman2nja. Terutama dalam kalangan mereka itulah mulai menafsirkan Madah Agung - dan inipun tidak kurang tepatnja - perihal hubungan-tjinta antara Allah dengan djiwa manusia, antara Kristus dan orang2 pilihanNja.

Kita umat serani dari abad keduapuluh hendaknja mengikuti tafsiran menurut tradisi kristen dan membatja serta mempeladjari Madah Agung ini, untuk mengenal serta menilaikan rahasia besar tjintakasih Allah dan tjintakasih Kristus.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #34: Tip apa yang ingin Anda lihat di sini? Beritahu kami dengan klik "Laporan Masalah/Saran" di bagian bawah halaman. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA