Pengantar Ende

KITAB -KITAB TOBIT JUDIT ESTER

PENDAHULUAN

Didalam Kitab Sutji Junani dan Latin terdapatlah sesudah kitab2 Tawarich, djadi kitab2 sedjarah, ketiga kitab ketjil: Tobit, Judit, Ester, menurut urut2an terdjemahan Latin Vulgata, atau Ester, Judit dan Tobit, menurut susunan Septuaginta. Namun dalam beberapa naskah terdjemahan Junani tertera ditempat ain sekali, sedangkan didalam Kitab Sutji Hibrani itu Ester termasuk dalam "Ketubim" dan merupakan bagian dari apa jang disebut"Kelima Megillot", jaitu salah satu dari kelima kitab ketjilm jang dibatjakan didalam synagoga pada pesta2 tertentu. Kedalam "Megillot" itu termasuk pula Pengchotbah, Lagu Ratap, Rut dan Madah Agung. Karena kaum Protestan mengenai Perdjandjian Lama mengambil-alih daftar kitab2 sutji jang diakui orang2 Jahudi di Palestina, maka merekapun hanja menerima Ester sadjalah jang termasuk Kitab Sutji, sedangkan Tobit dan Judit disebut mereka "apokrip". Dengan mengikuti terdjemahan2 Junani dan Latin dalam urutan2 biasa Vulgata, maka dalam terdjemahan inipun kami masukkan Tobit, Judit, dan Ester dalam satu kelompok. Itupun bukan hanja karena pendek isinja, tetapi djuga karena ketiga kitab itu mempunjai beberapa tjorak jang sama.

Kesamaan pertama jang lahiriah belaka sebetulnja bersandarkan tjorak kesusasteraan jang sama terletak dalam sangat populernja kisah2 itu dikalangan umat Kristen, dahulu dan sekarang. Setiap orang mengenal kisah2 itu dan senipun tidak sedikit mengambil bahannja daripada Tobit, Judit dan Ester. Kisah2 itu seringlah lebih terkenal daripada bagian2 lain Perdjandjian Lama, jang dari segi keigamaan dan sedjarah keselamatan djauh lebih penting adanja. Kepopuleran kitab2 ketjilini lebih2 diakibatkan oleh kenjataan, bahwa didalamnja seni tjerita Hibrani mentjapai pentjak jang djrang ada tara-bandingnja. Pada umumnja kisah2, jang dipusatkan kepada satu tokoh itu, dipaparkan sebagai suatu keseluruhan utuh jang besar dan harmonos, dan segala dajdupaja digunakan dengan sangat mahirnja untuk tetap menarik perhatian dan memelihara ketegangan samapi achir. Unsur dramatik digunakan habis2an dan fantasipun mendapatkan umpan jang ber-limpah2 dalam kisah2 tersebut.

Tetapi kesamaannja lebih mendalam, karena latarbelakan tema dari kisah2 itu dalam banjak hal sama djua adanja. Tiap2 kali mengenai manusia-seluruh rakjat- jang berada didalam darurat besar, kepapaan dan penindasan. Tetapi demi kesalehan besar serta kebaktian dalam dari tokoh2 tertentu, maka Penjelenggaraan ilahi bertjampurtangan setjara sedikit banjak adjaib akan penjelamatan dan penebusan. Perhatian dipusatkan pada tokoh2 itu, sehingga rakjat sebagai keseluruhan agak dan sedikit banjak tinggal dilatarbelakang. Namun demikian, dalam ketiga kitab itu rakjat Jahudi muntjul dalam keadaan2 jang kira2 sama. Mereka ditindas dan malahan diantjam akan dibinasakan oleh penguasa2 kafir, jang maunja menghantjurkan bangsa maupun agama. Bangsa Jahudi adalah bangsa asing, jang terpentjil dari bangsa2 lain dari lingkungan kafir. Mereka dibentji dan dinistakann, dan sering membangkitkan kembali taufan antisemitisme. Dalam kitab2 Judit dan Ester itu amat djelasnja, tetapi ada pula didalam kitab Tobit, meskipun tidak begitu tadjam gambarannja. Didalamnjapun bangsa Jahudi itu adalah masa kompak jang mengembara di-tengah2 lingkungan kafir, dibentji, dinistakan dan di-buru2.

Ketiga kitab ketjil itu mempunjai kesamaan ini djuga, bahwa kitab2 tersebut baru agak belakangan dan bukan tanpa kesulitan diakui sebagai Kitab Sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji sesudah abad pertama Masehi, dan itupun hanja naskah jang singkat bentuknja. Itu antara lain diakibatkan oleh tjoraknja jang agak profan, bila dipandang sepintas lalu. Tetapi Judit, meskipun orang2 Jahudi mengenal dan menggunakannja djua, ditolak mereka setjara definitif sebagai Kitab Sutji. Nasib jang sama dialami Tobit pula, kitab mana dikenal dan digunakan se-tidak2nja oleh beberapa golongan Jahudi. Mengenai djaman Kristen: ketiga kitab ketjil itu digunakan dan pada umumnja diakui sebagai Kitab Sutji oleh para bapak Geredja, tetapi tjorak inspirasinja disana sini toh disangsikan djuga, lebih2 setelah daftar Jahudi kitab2 sutji itu dikenal dan terutama di-daerah2, tempat kontak dengan orang2 Jahudi agak rapat. Namun achirnja kitab2 itu diakui umum dan diterima oleh Geredja2 Kristen di timur dan barat serta dimasukkan dalam daftar2 resmi Kitab Sutji. Baru oleh reformasilah pendirian ini ditinggalkan oleh beberapa golongan. Terhadapnjalah Konsili Trente menetapkan tjorak inspirasinja setjara definitif.

Selandjutnja teks Tobit, Judit dan Ester sampai kepada kita dalam wudjud jang berlainan. Akan Ester, Kitab SutjiHibrani mempunjai teks jang djauh lebih singkat daripada terdjemahan Junani serta terdjemahan2 kuno lainnja. Tetapi djuga dimana teks Junani sedjadjar djalannja dengan teks Hibrani, perbedaan2 itu toh amat besarnja. Dalam naskah2 Junani itu sendiripun masih ada perbedaan2 djuga. Naskah jang terpenting dan paling termasjhur (BAS) menjadjikan teks jang amat sama bunjinja. Tetapi disamping itu ada naskah2 lainnja, jang agak besar perbedaan2nja dan jang sukar dikembalikan kepada satu jang aseli. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani. Hieroenimus telah membuat terdjemahan baru menurut teks Junani, tetapi menurut keterangannja sendiri ditemukan didalam terdjemahan Junani tapi tidak terdapat dalam naskah Hibrani, oleh Hieronimus ditempatkan pada achir terdjemahannja. Terdjemahan kami mengikuti urut2an Junani, tetapi menterdjemahkan teks Hibrani, bila itu ada. Dalam lampiran diberikan urut2an teks Vulgata. Imbuhan2 tekas Junani itu ialah: sebuah impian Mordekai (1,a-r) sebuah doa Mordekai dan Ester (3,17,a-z), teks jang lebih pandjang dari 5,1-2 dikrit radja Parsi, jang memberikan hak bela diri kepada orang2 Jahudi (8,12a-v), keterangan tentang mimpi Mordekai serta tjatatan mengenai terdjemahan Junani (10,3a-1). Bagaimana selandjutnja hubungannja antara teks Hibrani dengan teks Junani Ester itu, adalah djauh dari djelas. Dapat dipikirkan, bahwa teks Hibrani itu jang aseli, jang kemudian diperpandjangkan dalam teks Hibrani, jang lalu mendjadi dasar terdjemahan Junani. Atau mungkin djuga perpanjdjangan itu hanja ada dalam teks Junani sadja dan dikerdjakan oleh penjadur Junani. Hal sematjam itu terdjadi djuga, menurut pendapat umum, dengan Indjil Mateus. Achirnja dapat dikemukakan pula penggunaan liturgis. Teks jang aseli jang lama kirannja terpelihara dalam terdjemahan Junani, sedang teks singkatnja terpelihara dalam bahasa Hibrani. Semua hipotese ini ada pro dan kontranja, dan rupa2nja agak mustahillah untuk mengetahui denan pasti duduk perkaranja. Teks aseli Hibrani atau Aram kitab Judit tiada naskah atau sisanja lagi. Teks Hibrani jang sekarang ada, adalah terdjemahan dari bahasa Latin. Jang ada hanja terdjemahan2 kuno. Jang penting ialah terdjemahan Junani dan terdjemahan Latin Vulgata. Terdjemahan Junani sampai kepada kita dalam tiga wudjud jang berlainan. Teks jang lawim dipakai terdapat dalam naskah2 besar (BAS). Kami taruh teks ts. sebagai dasar terdjemahan kami. Terdjemahan Latin Vulgata dikerdjakan Hieronimus menurut teks Aram, dengan kebebasan dan ketjepatan jang besar. Tetapi teks tersebut agak besar perbedaannja dengan terdjemahan Junani, sehingga teks Aram aseli jang dipakai Hieronimus itu adalah sematjam parafrase. Tambahan lagi Hieronimus menggunakan dengan leluasa terdjemahan Latin kuno. Jang paling rumit ialah teks kitab Tobit. Aselinja betul Hibrani atau Aram, dan belum lama ini diketemukan kembali beberapa fragmen dalam bahasa Hibrani dan Aram. Tetapi selebihnja sudah hilanglah aselinja. Terdjemahan Junani mengenal tiga bentuk jang sangat berlainan satu sama lain. Teks jang lazim dipakai, didalam naskah A dan B, adalah jang tersingkat. Disamping itu naskah S menjadjikan teks jang lebih pandjang. Teks jang lebih pandjang itulah jang umumnja kami ikuti. Hanja beberapa bagian dan perbaikan diambil dari A dan B, dan, sebagaimana biasa, dinjatakan dengan tjetakan chusus. Bentuk ketiga teks Junani tidaklah begitu penting. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani A dan B, tetapi teks Vulgata resmi, jang dikerdjakan oleh Hieronimus dengan banjak kebebasan, kembali pada jang aseli Aram. Tetapi teks tersebut, meskipun mengenai isinja sama garis besarnjam berbeda sungguh djauh dari terdjemahan2 Junani jang dikenal. Akan imbuhan dan lagi karna teks Latin itu dipakai dalam liturgi Katolik, maka kami muat terdjemahan teks Vulgata itu sebagai lampiran dibelakan, dimanapun teks Vulgata itu agak djauh menjimpang dari teks Junani, jang kami ikuti dalam terdjemahan kami.

Kesamaan terachir antara kitab2 Tobit, Judit, Ester jang sungguh amat penting bagi tafsiran jang tepat, ialah gaja sasteranja. Tidak dapat diungkirilah, kisah2 tersebut memberikan kesan, bahwa hendak memberitahukan peristiwa2 tertentu, Tetapi setelah dipeladjari lebih dalam dan lebih2 dibandingkan dengan apa jang dapat diketahui dengan tjukup pasti dari sumber2 lain, kesan pertama itu sangat diperlemah. Pada tempatnja akan kami tundjukkan beberapa kesuliran, jang dihadapkan kitab2 itu kepada orang ahli sedjarah kuno, kesulitan2 mana seringlah tak teratasi. Teranglah, bahwa keterangan2 sedjarah dan ilmu bumi dipergunakan dengan kebebasan jang mentjengangkan, se-akan2 kesemuanja itu sama sekali tidak menarik perhatian si pengarang. Sering tidak bersesuaian satu sama lain maupun dengan keterangan2 sumber lainnja. Daripadanja mesti ditarik kesimpulan bahwa si pengarang sendiri kisahjang semu sedjarah itu njatanja tidak begitu dimaksudkan sebagai sedjarah dalam arti sebenarnja. Kita berhadapan dengan matjam gaja, jang tidak dapat dimasukkan lagi dalam djenis sedjarah, bahkan bukan pula dalam artinja jang lluas. Namun demikian, tidak dapat dikemukakan begitu sadja, bahwa sama sekali tiada peristiwa jang mendjadi dasar kisah itu, sehingga kita berpapasan dengan chajalan belaka atau mungkin dengan mytos se-mata2. Bagi tiap2 kitab tersendiri dapatlah orang lalu menetapkan lebih landjut peristiwa demikian, tetapi kesemuanja mempunjai kesamaan dan menghiasi setjara puitis peristiwa2 itu dengan kebebasan se-besar2nja. Dan itupun begitu rupa, sehingga inti sedjarahnja tidak lagi dapat dikenali menurut kenjataannja sendiri. Kisah itu njatanja tidak bermaksud untuk melapor peristiwa2 untuk mengadjarkan sesuatu dengannja, tetapi kisah itu per-tama2 lebih suka mengadjarkan sesuatu, dan dalam pada itu, djika perlu, dengan kebebasan fantasi menggunakan peristiwa2 jang sedikit banjak dikenal dari masa lampau jang sudah djauh atau masih dekat. Dengan kisah2 tersebut kita lebih berdekatan dengan sastera kebidjaksanaan daripada dengan kitab2 jang bertjorak sedjarah. Baik kenjataan, bahwa Ester dalam Kitab Sudji Hibrani termasuk dalam golongan "hagiografa", maupun kebebasan besar jang pada hemat para penterdjemah kuno dapat digunakan mereka dalam hal kisah2 tersebut, kiranja memberikan petundjuk sedikit tentang pendapat kuno mengenai tjorak chas kitab2 Tobit, Judit dan Ester. Dalam hal kitab2 sematjam itu baiknja djangan menerima kisah2 itu sebagaimana adanja, menanjakan apa jang hendak diadjarkan para pengisah. Gaja sastera itu se-kali tidak bertentangan dengan tjorak inspirasi Kitab Sutji, karena inspirasi dapat menggunakan setiap djenis sastera manusia, jang pada dirinja tidak djahat adanja. Roman, novel dan parabel, pun kalau itu diberi berpakaian historis dapat diterima sepenuhnja. Soalnja hanjalah, bahwasanja si pembatja memperhatikan gaja sastera jang disadjikan. Nah, kitab2 Tobit, Judit dan Ester, bila ditindjau lebih landjut, memberi dasar jang tjukup untuk mengenali tjoraknja. Ke-tiga2nja tidak hendak mentjeritakan peristiwa jang dibeberkan sertjara teliti, tetapi per-tama2 maunja membina, meskipun mungkin berpangkal dari suatu peristiwa.

KITAB TOBIT menjadjikan kisah suatu keluarga, jang berlangsung dikalangan orang Jahudi buangan di Asyria. Tobit adalah seorang Jahudi jang landjut umurnja dan sangat mursjid, jang memperoleh kekajaan besar dan djabatan jang tinggi dalam pemerintahan. Tetapi ia kena murka radja, karena ia menjokong kaum sebangsanja jang di-buru2 dan menguburkan orang jang dibunuh. Ia dirampasi segala harta- bendanja dan dibuang. Kemudian ia dapat kembali lagi, tetetapi bangsa ditimpa malapetaka baru, tengah ia memberikan bantuan kepada kaum sebangsa dengan amat murah dan berani. Didalam kemalangannja ia malahan di-olok2 oleh isterinja sendiri karena ketabahannja dalam kemursjidan. Kendati kesusahan dan kepapaannja jang besar itu, ia tetap pertjaja pada tuhan dan mentjurahkan isi hatinja didalam doa jang pandjang. Pada waktu jang bersamaan kemanakannja di Media, jang bernama Sara, mendjadi kkorban malapetaka dan setan. Iapun mengeluhkan deritanja jang tak tertanggung itu didalam doa jang hangat kepada Tuhan. Tuhan datang membantu dengan mengutus malaekat Rafael, untuk menjembuhkan Tobit maupun Sara. Tobit menjuruh anaknja, jang mursid djuga, ke Media untuk menagih hutang disana, Rafael mengantar Tobia kesana. Ditengah djalan dimaklumkan kepada Tobia chasiat djantung serta empedu ikan, jang hendak mentjaplok Tobia, jakni kekuatan untuk membuang setan dan menjembuhkan penjakit mata. Di Media Rafael bertindak sebagai perantara dalam perkawinan bahagia antara Tobia dan kerabatnja Sara. Chasiat djantung ikan jang dibakar disertai kemursjidan Tobia dan Sara berhasil membuang setan, sehingga Tobia tidak dibunuh oleh setan itu. Mereka kembali dengan bahagia kepada Tobit, jang disembuhkan dari kebutaannja dengan empedu ikan itu. Tobit masih hidup lama dan berbahagia, dan sebelum adjalnja memberikan banjak nasehat baik kepada Tobia dan meramalkan kehantjuran Asyria dan Ninive.

Adapun maksud umum kisah itu tjukup djelas dan dismaping itu djuga merumuskan sedjumlah gagasan keigamaan dan kesusilaan jang luhur. Penjelenggaraan Allah jang ajaib, jang datang membantu orang2 mursjidNja, selalu ditandaskan dengan amat kentara. Dalam Penjelenggaraan itu deritapun memainkan peranannja jang positif. Derita bukanlah selalu hukuman bagi dosa, tetapi mungkin djuga suatu udjian kebadjikan demi keselamatan manusia. Dengan djalan itu kitab tersebut menentang pendapat lama jang lebih laku, tetntang sensara dan dengan problematikanja mendekatai kitab Ijob. Kitab itu me-njadung2 seluruh kitab itu. Dalam hal ini kitab Tobit sampai ketingkat adjaran Kristus tentang nilai pekerdjaan2 belas-kasihan badani. Dirumuskannja pula pendapat tentang perkawinan, jang boleh dikatakan pendapat Kristen sebelum djaman kekristenan. Kesemuanja ini adalah tema2 kitab2 kebidjaksanaan dan kitab Tobit menundjukkan kemiripan dengannja dalam lebih dari satu segi sadja. Achirnja kitab Tobit berarti madju selangkah lagi mengenai adjaran tentang roh2 djahat dan baik. Penutup kitab itu melahirkan suatu pengharapan jang hangat akan masa Al-Masih, tanpa mengkonkretisirnja dalam oknum tertentu. Isinja lebih mengenai pemulihan jang megah-mulia dari umat Allah pada achir djaman dan pembalasan hukuman atas lawan2 umatNja. Dan dalam hal ini kitab itu mirip sastera apokalyptik.

Kesulitan2 sedjarah jang amat menjolok, jang dapat ditimbulkan kitab2 itu, andaikata itu hendak merupakan sedjarah jang sungguh2, adalah hal2 jang berikut ini: Tobit mendjadi saksi mata perpisahan di Israil dimasa Jerobe'am (th.931) (Tb 1,4), ia dibuang dua abad kemudian (th.734) bersama dengan suku Naftali (Tb 1,5.10) dan anaknja Tobia menjaksikan kehantjuran Ninive (Tb 14,15) dalam tahun 642 sebelum Masehi. Djadi, Tobit mentjapai umur jang legendaris, pada hal ia hanja sampai umur 112 tahun sadja (Tb 14,12). Dalam ajat 1,15 Sanherib dikemukakan sebagai pengganti Sjalmaneser, pada hal ia sesungguhnja pengganti Sargon. Perdjalanan dari Ragai ke Ekbatana dalam kitab itu hanja makan tempo dua hari sadja (5,6), hal mana sangat pendek bagi djarak 300 km. itu. Dalam kitab itu (1,22;2,10;11,18;14,10) seseorang jang bernama Ahikar memainkan peranan pula. Nah, tokoh jang istimewa itu menundjukkan kesamaan dengan Ahikar, jang tampil dalam dongengan jang terkenal didjaman dulu dan jang teranglah lebih tua daripada kitab Tobit. Tjara Tobit disembuhkan dengan empedu ikan dari kebutaannja (6,9;11,8-12) tidak dikenal para tabib (2,10). Rafael memaklumkan obat itu kepada Tobia. Tetapi pastilah dimasa kitab tersebut berlangsung, para tabib sudah menggunakan obat itu pada penjakit mata, sehingga pemakluman tadi tidak banjak artinja lagi. Adakalanja djuga ditundjuk pula kesamaan antara adjaran perihal malaekat kitab ini dan pendapat2 Parsi tertentu dalam hal itu. Dapat diterima, bahwa orang2 Jahudi agak dipengaruhi karenanja, tetapi tidak dapat dibuktikan-dan djuga tidak perlulah-bahwasanja Tobit setjara langsung tergantung dari pendapat2 Parsi.

Kesulitan2 tadi dapat dipetjahkan dengan amat mudahnja dengan memandang kitab Tobit bukannja sebagai sedjarah jang sungguh2, melainkan lebih dalam artinja seperti jang diuraikan diatas. Mungkin ada sesuatu peristiwa jang mendjadi dasarnja, tetapi tidak mungkinlah merekonstruir peristiwa tersebut.

Walaupun teks Junani menaruh bagian pertama kitab itu dimulut Tobit sendiri, namun ia bukanlah pengarang kisah itu. Kita bersua disini dengan suatu pseudepigrafi, seperti sering terdapat dalam Kitab Sutji. Pengarang Jahudi kitab itu sama sekali tidak dikenal. Betul, ia telah menjusun kisahnja dengan bersandarkan tradisi lisan atau mungkin malahan tertulis, tetapi apa bagian peribadinja dan apa jang sudah tersedia baginja tidak dapat ditentukan lagi. Karena soalnja sungguh mengenai suatau komposisi dan si pengarang sendiri njatanja tidak tahu lagi hubungan2 sedjarah jang tepat, dan lagi karena gagasan2 keigamaan kitab itu menjaksikan pula tentang masa belakangan didalam sedjarah bangsa Jahudi, maka dapatlah dikirakan, bahwa kitab itu ditulis antara th.300 dan 200 seb.Mas. Karena mengenai orang2 Jahudi didiaspora se-mata2, maka si pengarang kiranja berasal pula dari lingkungan mereka. Tetapi apa ia hidup di Mesir atau dinegeri lain, tidak lagi dapat disimpulkan dari kitab itu dan keterangan2 lainpun tidak tersedia.

KITAB JUDIT mengisahkan kemenangan bangsa Jahudi atas bala2 radja Nebukadnezar jang djauh lebih kuat dibawah pimpinan Holofernes, berkat tjampurtangan djanda mursjid jang bernama Judit. Holofernes jang mendapat tugas jang pongah dan keberani2an dari radjanja untuk menaklukkan seluruh bumi kepada Nebukadnezar dan untuk memaksakannja memudja sebagai dewa, dengan djajanja melintasi Asia depan, Mesopotamia dan Arabia. Bangsa2 lainnja takluk djuga penuh kedahsjatan. Tetapi di Palestina terbenturlah Holofernes pada kota Betulua, jang enggan takluk kepadanja dan oleh karenanja harus dikepung. Darurat memuntjak dikota itu dan orang sudah bermaksud utnuk menjerah, malahan imam-agung sudah kehilangan akal. Tetapi Judit tahu mempertetapkan hati mereka dan membengkitkan kepertjajaan pada Tuhan tanpa sjarat didalam hati mereka. Setelah persiapan dengan doa dan puasa Judit lalu pergi keperkemahan Holofernes. Ia berhasil memperdajakan sang panglima dan membudjuknja dengan ketjantikannja. Ia tidak sampai mengadakan hubungan badaniah dengannja, tetapi tiga hari kemudian menurut rentjananja jang tjerdik itu ia berhasil memenggal kepala panglima jang tengah mabuk. Kepala itu dibawa pulang ke Betulua. Bala Holofernes lari tunggang-langgang. Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan sebagai suri teladan kepertjajaan jang tak terhingga pada Tuhan. Ia sendiri melambungkan madah pudji serta sjukur jang hangat kepada Penjelamat jang sesungguhnja, jakni Allah Israil.

Tjara kisah Judit mempermainkan ilmu bumi dan sedjarah, menundjukkan kebebasan mutlak si pengarang terhadap keterangan2 tersebut. Perlawatan Holofernes, seperti jang dilukiskan dalam pasal2 permulaan, mempermudahkan segala geografi. Djuga perlawatannja terhadap Betulua itu sendiri sukarlah disesuaikan dengan keterangan2 tertentu dari topologi. Kota Betulua sendiripun adalah suatu teka- teki dan sama sekali tidak dapat ditjotjokkan dengan tempat manapun djua. Nebukadnezar tidak pernah mendjadi radja Asyria dan tidak pernah berkedudukan di Ninive (1,1), karena kota tersebut dihantjurkan dalam th 612, djadi sebelum djaman Nebukadnezar. Arfaksad, radja Media (1,5) tidak terdapat dalam sedjarah. Disebutkan (4,3), bahwa orang2 Jahudi baru sadja kembali dari pembuangan dan bahwa baitullah sudah dibangun kembali, hal mana aneh bunjinja didjaman Nebukadnezar, jang mengangkut Juda kepembuangan. Boleh sadja mentjoba tjari dibawah nama Nebukadnezar itu seorang radja lain didalam sedjarah, tetapi segala usaha pada gilirannja terbentur pula pada kesulitan2 jang tak terpetjahkan. Semua alasan itu membenarkan pendapat, bahwa seluruh kitab itu hendaknja dipandang sebagai suatu komposisi jang puitis-didaktak bukan hanjalah nama2 symbolik sadja. Dari satu sudut lawan2 Israillah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan dalam diri Judit. Mereka berperang mati2an, tetapi berkat penjelenggaraan Allah jang melindungi, maka umat Allah dibebaskan dari musuhnja.

Perang dan kemenangan luar-sedjarah itu merupakan tema pokok kitab tersebut. Soalnja bukalah mengenai kedjadian tertentu, melainkan mengenai sesuatu jang senantiasa berlangsung terus. Dalam kitab ini diperbintjangkan dalam bentuk kisah historis tema sama, jang kemudian setjara fantastis dan dengan djalan symbolik jang gandjil diperluas oleh sastera apokalyptik, mulai kitab Daniel sampai dengan kitab Wahyu Johanes dalam Perdjandjian Baru. Dan seperti kitab2 wahyu itu menurut tjoraknja tersendiri adalah komposisi bebas pula dalam bentuk kisah historis. Mungkinlah si pengarang berpangkal pada suatu kejadian, jang kini tidak diketahui lagi, tetapi itupun tak lain dan tak bukan hanjalah titik pangkalnja sadja.

Kitab Judit sangat berhaluan keigamaan sebagaimana sudah njata dari tema pokok tersebut diatas. Allah dari kitab Judit adalah Allah dari Perdjandjian Lama, Allah perdjandjian, jang membimbing sedjarah akan keselamatan bangsa pilihanNja. Ia menuntut kesetiaan umatNja kepada hukumNja dan terangnja hukum rituil jang dalam kitab Judit mendapat tempat jang penting. Allah jang kudus itu membentji dosa, lebih2 kesombongan, jang diperorangkan dalam diri Nebukadnezar dan Holofernes. Apabila umatNja bebas dari dosa dan pelanggaran rituil, maka terdjaminlah keselamatan dan kedjajaannja, sebagaimana dirumuskan Ahior (5,17- 25). Gagasan2 keigamaan kitab itu agak kuat tjorak rituilnja, dengan mana kitab Judit mendekati faraseisme dari masa kemudian, dengan pandangan2nja jang amat nasionalistis dan eksklusivistis. Namun kita lihat djuga, bahwa seorang kafir seperti Ahior, malahan seorang 'Amon, diperbolehkan masuk kedalam umat Jahwe, sehingga rigorisme sangat diperlunak karenanja. Maka itu kitab tersebut tidak dapat kita pandang begitu sadja sebagai pelopor faraseisme.

Melihat tema pokok maupun gagasan2 keigamaan lainnja, mestilah Judit itu dari masa agak belakangan. Walaupun dikatakan, bahwa orang2 Jahudi baru kembali dari pembuangan, namun kitab itu sendiri adalah dari masa jang djauh lebih belakangan. Dengan kepastian agak besar dapatlah dikatakan, bahwa kitab itu ditulis didalam djaman Junani, kira2 th.150 seb.Mas. Sebab ada hal jang meng- ilat2kan adat-istiadat, jang baru terdapat dimasa Junani (3,8;15,12-13). Soal lainlah, apa perlu mundur kewaktu lebih belakangan lagi. Beberapa ahli mau menanggalkan kitab itu dalam abad pertama seb.Mas. Sebab, demikian kata mereka, gagasan2 farisi kitab itu adalah dari abad tersebut. Didalam seluruh kitab tidaklah pernah tampil pembesar sipil satupun dan Israil rupanja diperintah imam-agung. Pada hemat mereka hal itu adalah bukti, bahwa faraseisme berbentrok dengan keturunan para Makabe. Nah, perpetjahan itu terdjadi dimasa Johanes Janeos (th 103-76 seb.Mas), sehingga kitab itu mestilah bertanggalkan masa itu. Akan tetapi faraseisme dari kitab itu djanganlah di-lebih2kan dan lukiskan Israil lebih bertjorak idiil daripada historis. Adapun si pengarang adalah anonim sama sekali dan tidak dapat diadakan terkaan2 mengenai identitasnja.

Adakalanja dikemukakan keberatan2 kesusilaan terhadap kitab Judit. Kelakuan Judit terhadap Holofernes, tipudaja serta budjukannja memang dipudji. Namun kelakuan itu tidak dapat dibenarkan. Dari segi Kristen memang benarlah itu. Tetapi djangan dilupakan, bahwa Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan pembebas bangsanja. Dan lagi sebagian besar toh mengenai suatu chajalan dan bukan kedjadian njata, jang lalu dibenarkan. Achirnja tidak seadilnjalah mengenakan pada masa 2 dahulu jang bukan Kristen itu ukuran2 kesusilaan, jang baru diadakan oleh Kristus. Djuga dalam bidang kesusilaanpun wahju mengenal perkembangan pula.

Kisah KITAB ESTER menundjukkan banjak kesamaan dengan kitab Judit. Bangsa Jahudi terantjam dengan kebinasaan oleh kekuatan raksasa kafir, tetapi diselamatkan oleh seorang wanita Jahudi jang mursid. Kesamaannja dengan kitab Tobit terletak dalam hal ini, bahwasanja kisah itu tidak terdjadi ditanahair orang2 Jahudi, seperti kisah Judit, melainkan dalam pembuangan. Tetapi bukan dianrara orang2 buangan keradjaan utara, melainkan diantara kaum buangan Juda. Kisah itu terdjadi dikeradjaan Parsi, dalam keradjaan mana Babel telah tergabung. Makar terhadap bangsa Jahudi direntjanakan oleh perdana menteri jang amat kuasa dari radja Xerxes, Aman, jang didorong oleh antisemistisme jang tak se-mena2 Ratu Ester, asal Jahudi, jang menggantikan Vasti jang ditjeraikan, dan jang dididik dan masih dibimbing oleh Mordekai, orang Jahudi jang mursjid, berhasil dengan mempertaruhkan njawanja sendiri, mendesak radja untuk memberi orang2 Jahudi hak untuk mempertahankan diri. Aman dan keluarganja dihukum mati dan orang2 Jahudi mengadakan pembantaian besar2an dikalangan musuh2nja, pada hari mereka sendiri tadinja hendak dimusnahkan. Kedjadian tersebut mendjadi pangkal-mula bagi perajaan tahunan pesta Purim. bagian terachir kitab itu (9,20.32) muat sedjumlah dokumen, jang mewadjibkan perajaan pesta, jang diadakan Ester dan Mordekai.

Kitab Ester nampak lebih bertjorak historis daripada kitab2 Tobit dan Judit. Adat-istiadat diistana Parsi dikenal baik2 oleh si pengarang. Watak Xerxes dilukiskan dengan tjermatnja, dan si pengarang tahu sungguh tentang tata-negara keradjaan Parsi dan susunan ibukota Susa. Selandjutnja dari sumber lain diketahui negeri jang tinggi2. Unsur historis dalam kitab Ester tidak dapat diungkiri dan kiranja berguna bagi ahli sedjarah. Maka itu orang mungkin tjondong untuk menerima begitu sadja kedjadian jang dikisahkan. Tetapi djustru dalam hal inilah timbul kesulitan2. Teranglah, bahwa didjaman Xerxes tidak pernah ada ratu jang bernama Vasti dan dimasa jang dilukiskan kitab Ester itu jang mendjadi ratu ialah Amerstris. Seorang wanita Jahudi sebagai ratu pertama tidak mungkin pula. Sebab ratu haruslah Parsi aseli. Dari sedjarah keradjaan Parsi se-kali2 tidak dikenallah sebuah dikrit pemusnahan orang2 Jahudi, hal mana tidak begitu sesuai pula dengan sikap toleran radja2 Parsi terhadap bangsa2 taklukan serta agama mereka. Tidak begitu mungkin djuga, bahwa radja Parsi mengidjinkan minorita2 ketjil untuk mengadakan penggorokan besar2an di-tengah2 rakjatnja. Atas dasar2 tersebut tjorak historis dalam arti jang se-benar2nja dari kitab itu sangat sukar dipertahankan. Sebaliknja terlalu djauh pula untuk mentjap kitab itu suatu chajalan belaka, atau saduran Jahudi dari suatu mytos dewa2 Babel (Ester=Isjtar; Mordekai=Marduk), untuk mendapat dasar bagi pesta Purim. Lebih baik dikatakan, bahwa itu pengolahan bebas dari seni dari peristiwa sedjarah tertentu. Pesta Purim, jang dibenarkan kitab tersebut, adalah sungguh perajaan, jang memperingati kedjadian tertentu. Soalnja hanjalah: kedjadian jang manakah. Adapun pesta Purim jang bertjorak profan itu, sangat boleh djadi Parsi aseli, jang diambil-alih orang2 Jahudi didalam pembuangan. Pangkal-mula pesta Parsi adalah suatu kedjadian, jang dalam tema pokoknja tjotjok dengan kisah Ester, meskipun bukan orang2 Jahudi, jang memainkan peranan didalam kisah Parsi itu. Seperti kisah tersebut maka kitab Ester mempunjai titik pangkal historis pula.

Tetapi djelas pulalah, bahwa kedjadian itu bukanlah jang terpenting dari kitab Ester, melainkan gagasan2 keigamaan, jang tertjantum didalamnja. Tetapi betullah, bahwa teks Hibrani, bila dipandang sepintas lalu, sangat sedikit tjorak keigamaannja. Nama Allah sama sekali tidak terdapat tidak terdapat didalamnja dan njatanja dihindari setjara sistematis. Boleh djadi itu diakibatkan oleh tjorak profan belaka dari pesta Purim. Namun kekurangan akan tjorak keigamaan itu hanjalah kelihatannja daripada kenjataannja. Tanpa perumusan2 jang tegas kitab itu sungguh didukung oleh gagasan keigamaan. Allah dan pekerdjaanNja di-man2 terbajang dibelakang. Dialah, jang membimbing kedjadian2 dan menjelamatkan umatNja. Makanja teks Junani, jang lebih kentara tjorak keigamaannja dan djauh lebih tegas dalam bidang tersebut, tidak menjalahi maksud dan tudjuan kitab itu. Maunja merupakan paparan jang tjemerlang dari tema kebidjaksanaan: Kedjahatan djatuh kembali kepada jang merentjanakan dan melakukannja. Dalam kitab Ester dalil itu dikenakan pada Aman serta rentjana2nja, pada orang2 kafir dan permusuhannja kepada umat Allah. Dengan djalan itu kitab Ester mentjapai pula tema apokalyptik kitab Judit: orang2 kafir akan dibinasakan oleh pembalasan Allah karena permusuhannja terhadap Jang Kuasa serta umatNja. Dalam rangka teks tersebut haus akan darah dan kekedjaman dalam kitab itu tidak begitu mentjengangkan lagi. Inipun termasuk djenis sastera pula. Tambahan pula kitab itu tidak mengemukakannja sebagai sesuatu jang diperbuat orang2 Jahudi setjara spontan, melainkan karena terpaksa dan untuk membela diri. Si pengarang tidak begitu bergembira atas penumpahan darah jang dilukiskannja, melainkan lebih atas keadilan Allah dan PenjelenggaraanNja jang adjaib, jang dinjatakan setjara demikian.

Karena seluruh pesta Purim itu dari masa agak belakangan dan kitab itu disusun untuk keperluan itu, maka mesti djuga ditanggalkan agak belakangan pula. Terdjemahan atau saduran Junani bertanggal kira2 114 seb. Mas (30,31), meskipun teksnja sendiri tidak memberikan pegangan jang mutlak. Teks Hibrani haruslah lebih tua. Dalam th. 160 seb. Mas. pesta Purim, mungkin dengan nama lain, dirajakan di Palestina (II Mak. 15,36), dan kisah Ester dan mungkin djuga kitab Ester sudah dikenal. Karena kisah itu berlangsung di Parsi dan temanja: "kedjahatan menghukum dirinja sendiri", termasuk dalam sastera kebidjaksanaan belakangan, jang kitab itu pada umumnja ada kemiripannja, maka kitab dari pengarang Jahudi jang tidak ketahuan namanja itu dapat diberi bertanggal kira2 th. 200 seb-Mas. Tema peperangan antara kekafiran dan agama Jahudi sungguh tjotjok dengan suasana djaman Makabe, waktu peperangan itu meledak dan berachir dengan kemenangan agama Jahudi.




Artikel yang terkait dengan Matius:


TIP #30: Klik ikon pada popup untuk memperkecil ukuran huruf, ikon pada popup untuk memperbesar ukuran huruf. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA