Teks Tafsiran/Catatan Daftar Ayat
 
Hasil pencarian 1 - 19 dari 19 ayat untuk (63-6) Seperti AND book:17 (0.002 detik)
Urutkan berdasar: Relevansi | Kitab
  Boks Temuan
(1.00) (Est 8:15) (ende: kain kapas)

Terdjemahan ini tidak pasti, seperti djuga "utas kapas putih" dalam Est 1:6.

(0.97) (Est 6:4) (jerusalem: bencana yang menimpa raja) Sama seperti yang dibuat Haman untuk membasmi orang Yahudi, demikianpun Ester mengemukakan kepentingan negara (raja) untuk menyelamatkan mereka.
(0.95) (Est 2:20) (full: SEPERTI DIPERINTAHKAN KEPADANYA OLEH MORDEKHAI. )

Nas : Est 2:20

Walaupun Ester sudah dipilih dan dimahkotai sebagai ratu kerajaan Persia yang besar (Est 2:17), ia tidak menjadi sombong atau mementingkan diri karena kedudukan dan kuasanya yang baru. Ia tidak meremehkan nasihat saudara sepupunya yang kedudukannya lebih rendah, ia juga tidak melupakan bangsanya atau warisan rohaninya; malahan setelah menjadi ratu, ia menunjukkan sikap lembut, rendah hati, dan kesediaan untuk tunduk, seperti dahulu.

(0.95) (Est 8:5) (jerusalem: membunuh dan membinasakannya) Penggorokan massal itu tentu saja tidak benar-benar terjadi, bdk Pengantar. Tetapi ceritera tentang pembunuhan itupun tidak bermaksud membakar dan membenarkan nafsu balas dendam. Hal ihwal yang tidak masuk akal, jumlah yang seenak-enaknya dibesar-besarkan dan tekanan ceritera sendiri menyingkapkan maksud penulis: ia ingin memperlihatkan (seperti kerap kali terjadi dalam Alkitab) bagaimana nasib orang terbalik menguntungkan bagi mereka yang tertindas. Maksud itu terungkap dalam sebuah ceritera yang sesuai dengan alam pikiran orang dahulu, seperti juga terungkap dalam ceritera-ceritera tentang peperangan. Selebihnya penulis mengetrapkan hukum pembalasan.
(0.95) (Est 3:1) (jerusalem: orang Agag) Sebuah negeri yang bernama Agag tidak dikenal. Agag juga nama seorang raja orang Amalek yang dikalahkan raja Saul, 1Sa 15:7-9. Barangkali nama Agag dipilih dengan maksud memperlawankan Haman dengan Mordekhai, seorang dari suku Benyamin dan keturunan Kisy, sama seperti raja Saul.
(0.94) (Est 3:2) (full: MORDEKHAI TIDAK BERLUTUT. )

Nas : Est 3:2

Mordekhai menolak untuk berlutut di hadapan Haman karena kesetiaannya kepada Allah (ayat Est 3:4). Rupanya kehormatan yang diberikan kepada Haman oleh para pegawai raja dan lainnya tidak pantas diterimanya atau seperti sikap yang oleh orang Yahudi diperuntukkan bagi menyembah Allah saja. Jadi, Mordekhai tidak bersedia berlutut di hadapan Haman. Ketiga sahabat Daniel menunjukkan keyakinan yang sama (Dan 3:1-12).

(0.94) (Est 2:7) (jerusalem: Ester) Nama itu agaknya berasal dari bahasa Babel dan mengingatkan nama (dewi) Isytar, sama seperti nama Mordekhai mengingatkan nama (dewa) Marduk. Tetapi nama Ester barangkali juga berhubungan dengan kata Persia stareh (artinya: bintang). Nama Hasada adalah nama Ibrani dan berarti: pohon murad
(0.94) (Est 1:1) (ende)

KITAB -KITAB TOBIT JUDIT ESTER

PENDAHULUAN

Didalam Kitab Sutji Junani dan Latin terdapatlah sesudah kitab2 Tawarich, djadi kitab2 sedjarah, ketiga kitab ketjil: Tobit, Judit, Ester, menurut urut2an terdjemahan Latin Vulgata, atau Ester, Judit dan Tobit, menurut susunan Septuaginta. Namun dalam beberapa naskah terdjemahan Junani tertera ditempat ain sekali, sedangkan didalam Kitab Sutji Hibrani itu Ester termasuk dalam "Ketubim" dan merupakan bagian dari apa jang disebut"Kelima Megillot", jaitu salah satu dari kelima kitab ketjilm jang dibatjakan didalam synagoga pada pesta2 tertentu. Kedalam "Megillot" itu termasuk pula Pengchotbah, Lagu Ratap, Rut dan Madah Agung. Karena kaum Protestan mengenai Perdjandjian Lama mengambil-alih daftar kitab2 sutji jang diakui orang2 Jahudi di Palestina, maka merekapun hanja menerima Ester sadjalah jang termasuk Kitab Sutji, sedangkan Tobit dan Judit disebut mereka "apokrip". Dengan mengikuti terdjemahan2 Junani dan Latin dalam urutan2 biasa Vulgata, maka dalam terdjemahan inipun kami masukkan Tobit, Judit, dan Ester dalam satu kelompok. Itupun bukan hanja karena pendek isinja, tetapi djuga karena ketiga kitab itu mempunjai beberapa tjorak jang sama.

Kesamaan pertama jang lahiriah belaka sebetulnja bersandarkan tjorak kesusasteraan jang sama terletak dalam sangat populernja kisah2 itu dikalangan umat Kristen, dahulu dan sekarang. Setiap orang mengenal kisah2 itu dan senipun tidak sedikit mengambil bahannja daripada Tobit, Judit dan Ester. Kisah2 itu seringlah lebih terkenal daripada bagian2 lain Perdjandjian Lama, jang dari segi keigamaan dan sedjarah keselamatan djauh lebih penting adanja. Kepopuleran kitab2 ketjilini lebih2 diakibatkan oleh kenjataan, bahwa didalamnja seni tjerita Hibrani mentjapai pentjak jang djrang ada tara-bandingnja. Pada umumnja kisah2, jang dipusatkan kepada satu tokoh itu, dipaparkan sebagai suatu keseluruhan utuh jang besar dan harmonos, dan segala dajdupaja digunakan dengan sangat mahirnja untuk tetap menarik perhatian dan memelihara ketegangan samapi achir. Unsur dramatik digunakan habis2an dan fantasipun mendapatkan umpan jang ber-limpah2 dalam kisah2 tersebut.

Tetapi kesamaannja lebih mendalam, karena latarbelakan tema dari kisah2 itu dalam banjak hal sama djua adanja. Tiap2 kali mengenai manusia-seluruh rakjat- jang berada didalam darurat besar, kepapaan dan penindasan. Tetapi demi kesalehan besar serta kebaktian dalam dari tokoh2 tertentu, maka Penjelenggaraan ilahi bertjampurtangan setjara sedikit banjak adjaib akan penjelamatan dan penebusan. Perhatian dipusatkan pada tokoh2 itu, sehingga rakjat sebagai keseluruhan agak dan sedikit banjak tinggal dilatarbelakang. Namun demikian, dalam ketiga kitab itu rakjat Jahudi muntjul dalam keadaan2 jang kira2 sama. Mereka ditindas dan malahan diantjam akan dibinasakan oleh penguasa2 kafir, jang maunja menghantjurkan bangsa maupun agama. Bangsa Jahudi adalah bangsa asing, jang terpentjil dari bangsa2 lain dari lingkungan kafir. Mereka dibentji dan dinistakann, dan sering membangkitkan kembali taufan antisemitisme. Dalam kitab2 Judit dan Ester itu amat djelasnja, tetapi ada pula didalam kitab Tobit, meskipun tidak begitu tadjam gambarannja. Didalamnjapun bangsa Jahudi itu adalah masa kompak jang mengembara di-tengah2 lingkungan kafir, dibentji, dinistakan dan di-buru2.

Ketiga kitab ketjil itu mempunjai kesamaan ini djuga, bahwa kitab2 tersebut baru agak belakangan dan bukan tanpa kesulitan diakui sebagai Kitab Sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji. Kitab Ester oleh orang2 Jahudi baru dimasukkan dalam daftar kitab2 sutji sesudah abad pertama Masehi, dan itupun hanja naskah jang singkat bentuknja. Itu antara lain diakibatkan oleh tjoraknja jang agak profan, bila dipandang sepintas lalu. Tetapi Judit, meskipun orang2 Jahudi mengenal dan menggunakannja djua, ditolak mereka setjara definitif sebagai Kitab Sutji. Nasib jang sama dialami Tobit pula, kitab mana dikenal dan digunakan se-tidak2nja oleh beberapa golongan Jahudi. Mengenai djaman Kristen: ketiga kitab ketjil itu digunakan dan pada umumnja diakui sebagai Kitab Sutji oleh para bapak Geredja, tetapi tjorak inspirasinja disana sini toh disangsikan djuga, lebih2 setelah daftar Jahudi kitab2 sutji itu dikenal dan terutama di-daerah2, tempat kontak dengan orang2 Jahudi agak rapat. Namun achirnja kitab2 itu diakui umum dan diterima oleh Geredja2 Kristen di timur dan barat serta dimasukkan dalam daftar2 resmi Kitab Sutji. Baru oleh reformasilah pendirian ini ditinggalkan oleh beberapa golongan. Terhadapnjalah Konsili Trente menetapkan tjorak inspirasinja setjara definitif.

Selandjutnja teks Tobit, Judit dan Ester sampai kepada kita dalam wudjud jang berlainan. Akan Ester, Kitab SutjiHibrani mempunjai teks jang djauh lebih singkat daripada terdjemahan Junani serta terdjemahan2 kuno lainnja. Tetapi djuga dimana teks Junani sedjadjar djalannja dengan teks Hibrani, perbedaan2 itu toh amat besarnja. Dalam naskah2 Junani itu sendiripun masih ada perbedaan2 djuga. Naskah jang terpenting dan paling termasjhur (BAS) menjadjikan teks jang amat sama bunjinja. Tetapi disamping itu ada naskah2 lainnja, jang agak besar perbedaan2nja dan jang sukar dikembalikan kepada satu jang aseli. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani. Hieroenimus telah membuat terdjemahan baru menurut teks Junani, tetapi menurut keterangannja sendiri ditemukan didalam terdjemahan Junani tapi tidak terdapat dalam naskah Hibrani, oleh Hieronimus ditempatkan pada achir terdjemahannja. Terdjemahan kami mengikuti urut2an Junani, tetapi menterdjemahkan teks Hibrani, bila itu ada. Dalam lampiran diberikan urut2an teks Vulgata. Imbuhan2 tekas Junani itu ialah: sebuah impian Mordekai (1,a-r) sebuah doa Mordekai dan Ester (3,17,a-z), teks jang lebih pandjang dari 5,1-2 dikrit radja Parsi, jang memberikan hak bela diri kepada orang2 Jahudi (8,12a-v), keterangan tentang mimpi Mordekai serta tjatatan mengenai terdjemahan Junani (10,3a-1). Bagaimana selandjutnja hubungannja antara teks Hibrani dengan teks Junani Ester itu, adalah djauh dari djelas. Dapat dipikirkan, bahwa teks Hibrani itu jang aseli, jang kemudian diperpandjangkan dalam teks Hibrani, jang lalu mendjadi dasar terdjemahan Junani. Atau mungkin djuga perpanjdjangan itu hanja ada dalam teks Junani sadja dan dikerdjakan oleh penjadur Junani. Hal sematjam itu terdjadi djuga, menurut pendapat umum, dengan Indjil Mateus. Achirnja dapat dikemukakan pula penggunaan liturgis. Teks jang aseli jang lama kirannja terpelihara dalam terdjemahan Junani, sedang teks singkatnja terpelihara dalam bahasa Hibrani. Semua hipotese ini ada pro dan kontranja, dan rupa2nja agak mustahillah untuk mengetahui denan pasti duduk perkaranja. Teks aseli Hibrani atau Aram kitab Judit tiada naskah atau sisanja lagi. Teks Hibrani jang sekarang ada, adalah terdjemahan dari bahasa Latin. Jang ada hanja terdjemahan2 kuno. Jang penting ialah terdjemahan Junani dan terdjemahan Latin Vulgata. Terdjemahan Junani sampai kepada kita dalam tiga wudjud jang berlainan. Teks jang lawim dipakai terdapat dalam naskah2 besar (BAS). Kami taruh teks ts. sebagai dasar terdjemahan kami. Terdjemahan Latin Vulgata dikerdjakan Hieronimus menurut teks Aram, dengan kebebasan dan ketjepatan jang besar. Tetapi teks tersebut agak besar perbedaannja dengan terdjemahan Junani, sehingga teks Aram aseli jang dipakai Hieronimus itu adalah sematjam parafrase. Tambahan lagi Hieronimus menggunakan dengan leluasa terdjemahan Latin kuno. Jang paling rumit ialah teks kitab Tobit. Aselinja betul Hibrani atau Aram, dan belum lama ini diketemukan kembali beberapa fragmen dalam bahasa Hibrani dan Aram. Tetapi selebihnja sudah hilanglah aselinja. Terdjemahan Junani mengenal tiga bentuk jang sangat berlainan satu sama lain. Teks jang lazim dipakai, didalam naskah A dan B, adalah jang tersingkat. Disamping itu naskah S menjadjikan teks jang lebih pandjang. Teks jang lebih pandjang itulah jang umumnja kami ikuti. Hanja beberapa bagian dan perbaikan diambil dari A dan B, dan, sebagaimana biasa, dinjatakan dengan tjetakan chusus. Bentuk ketiga teks Junani tidaklah begitu penting. Terdjemahan Latin kuno dibuat menurut teks Junani A dan B, tetapi teks Vulgata resmi, jang dikerdjakan oleh Hieronimus dengan banjak kebebasan, kembali pada jang aseli Aram. Tetapi teks tersebut, meskipun mengenai isinja sama garis besarnjam berbeda sungguh djauh dari terdjemahan2 Junani jang dikenal. Akan imbuhan dan lagi karna teks Latin itu dipakai dalam liturgi Katolik, maka kami muat terdjemahan teks Vulgata itu sebagai lampiran dibelakan, dimanapun teks Vulgata itu agak djauh menjimpang dari teks Junani, jang kami ikuti dalam terdjemahan kami.

Kesamaan terachir antara kitab2 Tobit, Judit, Ester jang sungguh amat penting bagi tafsiran jang tepat, ialah gaja sasteranja. Tidak dapat diungkirilah, kisah2 tersebut memberikan kesan, bahwa hendak memberitahukan peristiwa2 tertentu, Tetapi setelah dipeladjari lebih dalam dan lebih2 dibandingkan dengan apa jang dapat diketahui dengan tjukup pasti dari sumber2 lain, kesan pertama itu sangat diperlemah. Pada tempatnja akan kami tundjukkan beberapa kesuliran, jang dihadapkan kitab2 itu kepada orang ahli sedjarah kuno, kesulitan2 mana seringlah tak teratasi. Teranglah, bahwa keterangan2 sedjarah dan ilmu bumi dipergunakan dengan kebebasan jang mentjengangkan, se-akan2 kesemuanja itu sama sekali tidak menarik perhatian si pengarang. Sering tidak bersesuaian satu sama lain maupun dengan keterangan2 sumber lainnja. Daripadanja mesti ditarik kesimpulan bahwa si pengarang sendiri kisahjang semu sedjarah itu njatanja tidak begitu dimaksudkan sebagai sedjarah dalam arti sebenarnja. Kita berhadapan dengan matjam gaja, jang tidak dapat dimasukkan lagi dalam djenis sedjarah, bahkan bukan pula dalam artinja jang lluas. Namun demikian, tidak dapat dikemukakan begitu sadja, bahwa sama sekali tiada peristiwa jang mendjadi dasar kisah itu, sehingga kita berpapasan dengan chajalan belaka atau mungkin dengan mytos se-mata2. Bagi tiap2 kitab tersendiri dapatlah orang lalu menetapkan lebih landjut peristiwa demikian, tetapi kesemuanja mempunjai kesamaan dan menghiasi setjara puitis peristiwa2 itu dengan kebebasan se-besar2nja. Dan itupun begitu rupa, sehingga inti sedjarahnja tidak lagi dapat dikenali menurut kenjataannja sendiri. Kisah itu njatanja tidak bermaksud untuk melapor peristiwa2 untuk mengadjarkan sesuatu dengannja, tetapi kisah itu per-tama2 lebih suka mengadjarkan sesuatu, dan dalam pada itu, djika perlu, dengan kebebasan fantasi menggunakan peristiwa2 jang sedikit banjak dikenal dari masa lampau jang sudah djauh atau masih dekat. Dengan kisah2 tersebut kita lebih berdekatan dengan sastera kebidjaksanaan daripada dengan kitab2 jang bertjorak sedjarah. Baik kenjataan, bahwa Ester dalam Kitab Sudji Hibrani termasuk dalam golongan "hagiografa", maupun kebebasan besar jang pada hemat para penterdjemah kuno dapat digunakan mereka dalam hal kisah2 tersebut, kiranja memberikan petundjuk sedikit tentang pendapat kuno mengenai tjorak chas kitab2 Tobit, Judit dan Ester. Dalam hal kitab2 sematjam itu baiknja djangan menerima kisah2 itu sebagaimana adanja, menanjakan apa jang hendak diadjarkan para pengisah. Gaja sastera itu se-kali tidak bertentangan dengan tjorak inspirasi Kitab Sutji, karena inspirasi dapat menggunakan setiap djenis sastera manusia, jang pada dirinja tidak djahat adanja. Roman, novel dan parabel, pun kalau itu diberi berpakaian historis dapat diterima sepenuhnja. Soalnja hanjalah, bahwasanja si pembatja memperhatikan gaja sastera jang disadjikan. Nah, kitab2 Tobit, Judit dan Ester, bila ditindjau lebih landjut, memberi dasar jang tjukup untuk mengenali tjoraknja. Ke-tiga2nja tidak hendak mentjeritakan peristiwa jang dibeberkan sertjara teliti, tetapi per-tama2 maunja membina, meskipun mungkin berpangkal dari suatu peristiwa.

KITAB TOBIT menjadjikan kisah suatu keluarga, jang berlangsung dikalangan orang Jahudi buangan di Asyria. Tobit adalah seorang Jahudi jang landjut umurnja dan sangat mursjid, jang memperoleh kekajaan besar dan djabatan jang tinggi dalam pemerintahan. Tetapi ia kena murka radja, karena ia menjokong kaum sebangsanja jang di-buru2 dan menguburkan orang jang dibunuh. Ia dirampasi segala harta- bendanja dan dibuang. Kemudian ia dapat kembali lagi, tetetapi bangsa ditimpa malapetaka baru, tengah ia memberikan bantuan kepada kaum sebangsa dengan amat murah dan berani. Didalam kemalangannja ia malahan di-olok2 oleh isterinja sendiri karena ketabahannja dalam kemursjidan. Kendati kesusahan dan kepapaannja jang besar itu, ia tetap pertjaja pada tuhan dan mentjurahkan isi hatinja didalam doa jang pandjang. Pada waktu jang bersamaan kemanakannja di Media, jang bernama Sara, mendjadi kkorban malapetaka dan setan. Iapun mengeluhkan deritanja jang tak tertanggung itu didalam doa jang hangat kepada Tuhan. Tuhan datang membantu dengan mengutus malaekat Rafael, untuk menjembuhkan Tobit maupun Sara. Tobit menjuruh anaknja, jang mursid djuga, ke Media untuk menagih hutang disana, Rafael mengantar Tobia kesana. Ditengah djalan dimaklumkan kepada Tobia chasiat djantung serta empedu ikan, jang hendak mentjaplok Tobia, jakni kekuatan untuk membuang setan dan menjembuhkan penjakit mata. Di Media Rafael bertindak sebagai perantara dalam perkawinan bahagia antara Tobia dan kerabatnja Sara. Chasiat djantung ikan jang dibakar disertai kemursjidan Tobia dan Sara berhasil membuang setan, sehingga Tobia tidak dibunuh oleh setan itu. Mereka kembali dengan bahagia kepada Tobit, jang disembuhkan dari kebutaannja dengan empedu ikan itu. Tobit masih hidup lama dan berbahagia, dan sebelum adjalnja memberikan banjak nasehat baik kepada Tobia dan meramalkan kehantjuran Asyria dan Ninive.

Adapun maksud umum kisah itu tjukup djelas dan dismaping itu djuga merumuskan sedjumlah gagasan keigamaan dan kesusilaan jang luhur. Penjelenggaraan Allah jang ajaib, jang datang membantu orang2 mursjidNja, selalu ditandaskan dengan amat kentara. Dalam Penjelenggaraan itu deritapun memainkan peranannja jang positif. Derita bukanlah selalu hukuman bagi dosa, tetapi mungkin djuga suatu udjian kebadjikan demi keselamatan manusia. Dengan djalan itu kitab tersebut menentang pendapat lama jang lebih laku, tetntang sensara dan dengan problematikanja mendekatai kitab Ijob. Kitab itu me-njadung2 seluruh kitab itu. Dalam hal ini kitab Tobit sampai ketingkat adjaran Kristus tentang nilai pekerdjaan2 belas-kasihan badani. Dirumuskannja pula pendapat tentang perkawinan, jang boleh dikatakan pendapat Kristen sebelum djaman kekristenan. Kesemuanja ini adalah tema2 kitab2 kebidjaksanaan dan kitab Tobit menundjukkan kemiripan dengannja dalam lebih dari satu segi sadja. Achirnja kitab Tobit berarti madju selangkah lagi mengenai adjaran tentang roh2 djahat dan baik. Penutup kitab itu melahirkan suatu pengharapan jang hangat akan masa Al-Masih, tanpa mengkonkretisirnja dalam oknum tertentu. Isinja lebih mengenai pemulihan jang megah-mulia dari umat Allah pada achir djaman dan pembalasan hukuman atas lawan2 umatNja. Dan dalam hal ini kitab itu mirip sastera apokalyptik.

Kesulitan2 sedjarah jang amat menjolok, jang dapat ditimbulkan kitab2 itu, andaikata itu hendak merupakan sedjarah jang sungguh2, adalah hal2 jang berikut ini: Tobit mendjadi saksi mata perpisahan di Israil dimasa Jerobe'am (th.931) (Tb 1,4), ia dibuang dua abad kemudian (th.734) bersama dengan suku Naftali (Tb 1,5.10) dan anaknja Tobia menjaksikan kehantjuran Ninive (Tb 14,15) dalam tahun 642 sebelum Masehi. Djadi, Tobit mentjapai umur jang legendaris, pada hal ia hanja sampai umur 112 tahun sadja (Tb 14,12). Dalam ajat Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="ende">1,15 Sanherib dikemukakan sebagai pengganti Sjalmaneser, pada hal ia sesungguhnja pengganti Sargon. Perdjalanan dari Ragai ke Ekbatana dalam kitab itu hanja makan tempo dua hari sadja (5,6), hal mana sangat pendek bagi djarak 300 km. itu. Dalam kitab itu (1,22;2,10;11,18;14,10) seseorang jang bernama Ahikar memainkan peranan pula. Nah, tokoh jang istimewa itu menundjukkan kesamaan dengan Ahikar, jang tampil dalam dongengan jang terkenal didjaman dulu dan jang teranglah lebih tua daripada kitab Tobit. Tjara Tobit disembuhkan dengan empedu ikan dari kebutaannja (6,9;11,8-12) tidak dikenal para tabib (2,10). Rafael memaklumkan obat itu kepada Tobia. Tetapi pastilah dimasa kitab tersebut berlangsung, para tabib sudah menggunakan obat itu pada penjakit mata, sehingga pemakluman tadi tidak banjak artinja lagi. Adakalanja djuga ditundjuk pula kesamaan antara adjaran perihal malaekat kitab ini dan pendapat2 Parsi tertentu dalam hal itu. Dapat diterima, bahwa orang2 Jahudi agak dipengaruhi karenanja, tetapi tidak dapat dibuktikan-dan djuga tidak perlulah-bahwasanja Tobit setjara langsung tergantung dari pendapat2 Parsi.

Kesulitan2 tadi dapat dipetjahkan dengan amat mudahnja dengan memandang kitab Tobit bukannja sebagai sedjarah jang sungguh2, melainkan lebih dalam artinja seperti jang diuraikan diatas. Mungkin ada sesuatu peristiwa jang mendjadi dasarnja, tetapi tidak mungkinlah merekonstruir peristiwa tersebut.

Walaupun teks Junani menaruh bagian pertama kitab itu dimulut Tobit sendiri, namun ia bukanlah pengarang kisah itu. Kita bersua disini dengan suatu pseudepigrafi, seperti sering terdapat dalam Kitab Sutji. Pengarang Jahudi kitab itu sama sekali tidak dikenal. Betul, ia telah menjusun kisahnja dengan bersandarkan tradisi lisan atau mungkin malahan tertulis, tetapi apa bagian peribadinja dan apa jang sudah tersedia baginja tidak dapat ditentukan lagi. Karena soalnja sungguh mengenai suatau komposisi dan si pengarang sendiri njatanja tidak tahu lagi hubungan2 sedjarah jang tepat, dan lagi karena gagasan2 keigamaan kitab itu menjaksikan pula tentang masa belakangan didalam sedjarah bangsa Jahudi, maka dapatlah dikirakan, bahwa kitab itu ditulis antara th.300 dan 200 seb.Mas. Karena mengenai orang2 Jahudi didiaspora se-mata2, maka si pengarang kiranja berasal pula dari lingkungan mereka. Tetapi apa ia hidup di Mesir atau dinegeri lain, tidak lagi dapat disimpulkan dari kitab itu dan keterangan2 lainpun tidak tersedia.

KITAB JUDIT mengisahkan kemenangan bangsa Jahudi atas bala2 radja Nebukadnezar jang djauh lebih kuat dibawah pimpinan Holofernes, berkat tjampurtangan djanda mursjid jang bernama Judit. Holofernes jang mendapat tugas jang pongah dan keberani2an dari radjanja untuk menaklukkan seluruh bumi kepada Nebukadnezar dan untuk memaksakannja memudja sebagai dewa, dengan djajanja melintasi Asia depan, Mesopotamia dan Arabia. Bangsa2 lainnja takluk djuga penuh kedahsjatan. Tetapi di Palestina terbenturlah Holofernes pada kota Betulua, jang enggan takluk kepadanja dan oleh karenanja harus dikepung. Darurat memuntjak dikota itu dan orang sudah bermaksud utnuk menjerah, malahan imam-agung sudah kehilangan akal. Tetapi Judit tahu mempertetapkan hati mereka dan membengkitkan kepertjajaan pada Tuhan tanpa sjarat didalam hati mereka. Setelah persiapan dengan doa dan puasa Judit lalu pergi keperkemahan Holofernes. Ia berhasil memperdajakan sang panglima dan membudjuknja dengan ketjantikannja. Ia tidak sampai mengadakan hubungan badaniah dengannja, tetapi tiga hari kemudian menurut rentjananja jang tjerdik itu ia berhasil memenggal kepala panglima jang tengah mabuk. Kepala itu dibawa pulang ke Betulua. Bala Holofernes lari tunggang-langgang. Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan sebagai suri teladan kepertjajaan jang tak terhingga pada Tuhan. Ia sendiri melambungkan madah pudji serta sjukur jang hangat kepada Penjelamat jang sesungguhnja, jakni Allah Israil.

Tjara kisah Judit mempermainkan ilmu bumi dan sedjarah, menundjukkan kebebasan mutlak si pengarang terhadap keterangan2 tersebut. Perlawatan Holofernes, seperti jang dilukiskan dalam pasal2 permulaan, mempermudahkan segala geografi. Djuga perlawatannja terhadap Betulua itu sendiri sukarlah disesuaikan dengan keterangan2 tertentu dari topologi. Kota Betulua sendiripun adalah suatu teka- teki dan sama sekali tidak dapat ditjotjokkan dengan tempat manapun djua. Nebukadnezar tidak pernah mendjadi radja Asyria dan tidak pernah berkedudukan di Ninive (1,1), karena kota tersebut dihantjurkan dalam th 612, djadi sebelum djaman Nebukadnezar. Arfaksad, radja Media (1,5) tidak terdapat dalam sedjarah. Disebutkan (4,3), bahwa orang2 Jahudi baru sadja kembali dari pembuangan dan bahwa baitullah sudah dibangun kembali, hal mana aneh bunjinja didjaman Nebukadnezar, jang mengangkut Juda kepembuangan. Boleh sadja mentjoba tjari dibawah nama Nebukadnezar itu seorang radja lain didalam sedjarah, tetapi segala usaha pada gilirannja terbentur pula pada kesulitan2 jang tak terpetjahkan. Semua alasan itu membenarkan pendapat, bahwa seluruh kitab itu hendaknja dipandang sebagai suatu komposisi jang puitis-didaktak bukan hanjalah nama2 symbolik sadja. Dari satu sudut lawan2 Israillah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan, dan dari lain sudut umat Allah jang diperorangkan dalam diri Judit. Mereka berperang mati2an, tetapi berkat penjelenggaraan Allah jang melindungi, maka umat Allah dibebaskan dari musuhnja.

Perang dan kemenangan luar-sedjarah itu merupakan tema pokok kitab tersebut. Soalnja bukalah mengenai kedjadian tertentu, melainkan mengenai sesuatu jang senantiasa berlangsung terus. Dalam kitab ini diperbintjangkan dalam bentuk kisah historis tema sama, jang kemudian setjara fantastis dan dengan djalan symbolik jang gandjil diperluas oleh sastera apokalyptik, mulai kitab Daniel sampai dengan kitab Wahyu Johanes dalam Perdjandjian Baru. Dan seperti kitab2 wahyu itu menurut tjoraknja tersendiri adalah komposisi bebas pula dalam bentuk kisah historis. Mungkinlah si pengarang berpangkal pada suatu kejadian, jang kini tidak diketahui lagi, tetapi itupun tak lain dan tak bukan hanjalah titik pangkalnja sadja.

Kitab Judit sangat berhaluan keigamaan sebagaimana sudah njata dari tema pokok tersebut diatas. Allah dari kitab Judit adalah Allah dari Perdjandjian Lama, Allah perdjandjian, jang membimbing sedjarah akan keselamatan bangsa pilihanNja. Ia menuntut kesetiaan umatNja kepada hukumNja dan terangnja hukum rituil jang dalam kitab Judit mendapat tempat jang penting. Allah jang kudus itu membentji dosa, lebih2 kesombongan, jang diperorangkan dalam diri Nebukadnezar dan Holofernes. Apabila umatNja bebas dari dosa dan pelanggaran rituil, maka terdjaminlah keselamatan dan kedjajaannja, sebagaimana dirumuskan Ahior (5,17- 25). Gagasan2 keigamaan kitab itu agak kuat tjorak rituilnja, dengan mana kitab Judit mendekati faraseisme dari masa kemudian, dengan pandangan2nja jang amat nasionalistis dan eksklusivistis. Namun kita lihat djuga, bahwa seorang kafir seperti Ahior, malahan seorang 'Amon, diperbolehkan masuk kedalam umat Jahwe, sehingga rigorisme sangat diperlunak karenanja. Maka itu kitab tersebut tidak dapat kita pandang begitu sadja sebagai pelopor faraseisme.

Melihat tema pokok maupun gagasan2 keigamaan lainnja, mestilah Judit itu dari masa agak belakangan. Walaupun dikatakan, bahwa orang2 Jahudi baru kembali dari pembuangan, namun kitab itu sendiri adalah dari masa jang djauh lebih belakangan. Dengan kepastian agak besar dapatlah dikatakan, bahwa kitab itu ditulis didalam djaman Junani, kira2 th.150 seb.Mas. Sebab ada hal jang meng- ilat2kan adat-istiadat, jang baru terdapat dimasa Junani (3,8;15,12-13). Soal lainlah, apa perlu mundur kewaktu lebih belakangan lagi. Beberapa ahli mau menanggalkan kitab itu dalam abad pertama seb.Mas. Sebab, demikian kata mereka, gagasan2 farisi kitab itu adalah dari abad tersebut. Didalam seluruh kitab tidaklah pernah tampil pembesar sipil satupun dan Israil rupanja diperintah imam-agung. Pada hemat mereka hal itu adalah bukti, bahwa faraseisme berbentrok dengan keturunan para Makabe. Nah, perpetjahan itu terdjadi dimasa Johanes Janeos (th 103-76 seb.Mas), sehingga kitab itu mestilah bertanggalkan masa itu. Akan tetapi faraseisme dari kitab itu djanganlah di-lebih2kan dan lukiskan Israil lebih bertjorak idiil daripada historis. Adapun si pengarang adalah anonim sama sekali dan tidak dapat diadakan terkaan2 mengenai identitasnja.

Adakalanja dikemukakan keberatan2 kesusilaan terhadap kitab Judit. Kelakuan Judit terhadap Holofernes, tipudaja serta budjukannja memang dipudji. Namun kelakuan itu tidak dapat dibenarkan. Dari segi Kristen memang benarlah itu. Tetapi djangan dilupakan, bahwa Judit dipudji sebagai pahlawan nasional dan pembebas bangsanja. Dan lagi sebagian besar toh mengenai suatu chajalan dan bukan kedjadian njata, jang lalu dibenarkan. Achirnja tidak seadilnjalah mengenakan pada masa 2 dahulu jang bukan Kristen itu ukuran2 kesusilaan, jang baru diadakan oleh Kristus. Djuga dalam bidang kesusilaanpun wahju mengenal perkembangan pula.

Kisah KITAB ESTER menundjukkan banjak kesamaan dengan kitab Judit. Bangsa Jahudi terantjam dengan kebinasaan oleh kekuatan raksasa kafir, tetapi diselamatkan oleh seorang wanita Jahudi jang mursid. Kesamaannja dengan kitab Tobit terletak dalam hal ini, bahwasanja kisah itu tidak terdjadi ditanahair orang2 Jahudi, seperti kisah Judit, melainkan dalam pembuangan. Tetapi bukan dianrara orang2 buangan keradjaan utara, melainkan diantara kaum buangan Juda. Kisah itu terdjadi dikeradjaan Parsi, dalam keradjaan mana Babel telah tergabung. Makar terhadap bangsa Jahudi direntjanakan oleh perdana menteri jang amat kuasa dari radja Xerxes, Aman, jang didorong oleh antisemistisme jang tak se-mena2 Ratu Ester, asal Jahudi, jang menggantikan Vasti jang ditjeraikan, dan jang dididik dan masih dibimbing oleh Mordekai, orang Jahudi jang mursjid, berhasil dengan mempertaruhkan njawanja sendiri, mendesak radja untuk memberi orang2 Jahudi hak untuk mempertahankan diri. Aman dan keluarganja dihukum mati dan orang2 Jahudi mengadakan pembantaian besar2an dikalangan musuh2nja, pada hari mereka sendiri tadinja hendak dimusnahkan. Kedjadian tersebut mendjadi pangkal-mula bagi perajaan tahunan pesta Purim. bagian terachir kitab itu (9,20.32) muat sedjumlah dokumen, jang mewadjibkan perajaan pesta, jang diadakan Ester dan Mordekai.

Kitab Ester nampak lebih bertjorak historis daripada kitab2 Tobit dan Judit. Adat-istiadat diistana Parsi dikenal baik2 oleh si pengarang. Watak Xerxes dilukiskan dengan tjermatnja, dan si pengarang tahu sungguh tentang tata-negara keradjaan Parsi dan susunan ibukota Susa. Selandjutnja dari sumber lain diketahui negeri jang tinggi2. Unsur historis dalam kitab Ester tidak dapat diungkiri dan kiranja berguna bagi ahli sedjarah. Maka itu orang mungkin tjondong untuk menerima begitu sadja kedjadian jang dikisahkan. Tetapi djustru dalam hal inilah timbul kesulitan2. Teranglah, bahwa didjaman Xerxes tidak pernah ada ratu jang bernama Vasti dan dimasa jang dilukiskan kitab Ester itu jang mendjadi ratu ialah Amerstris. Seorang wanita Jahudi sebagai ratu pertama tidak mungkin pula. Sebab ratu haruslah Parsi aseli. Dari sedjarah keradjaan Parsi se-kali2 tidak dikenallah sebuah dikrit pemusnahan orang2 Jahudi, hal mana tidak begitu sesuai pula dengan sikap toleran radja2 Parsi terhadap bangsa2 taklukan serta agama mereka. Tidak begitu mungkin djuga, bahwa radja Parsi mengidjinkan minorita2 ketjil untuk mengadakan penggorokan besar2an di-tengah2 rakjatnja. Atas dasar2 tersebut tjorak historis dalam arti jang se-benar2nja dari kitab itu sangat sukar dipertahankan. Sebaliknja terlalu djauh pula untuk mentjap kitab itu suatu chajalan belaka, atau saduran Jahudi dari suatu mytos dewa2 Babel (Ester=Isjtar; Mordekai=Marduk), untuk mendapat dasar bagi pesta Purim. Lebih baik dikatakan, bahwa itu pengolahan bebas dari seni dari peristiwa sedjarah tertentu. Pesta Purim, jang dibenarkan kitab tersebut, adalah sungguh perajaan, jang memperingati kedjadian tertentu. Soalnja hanjalah: kedjadian jang manakah. Adapun pesta Purim jang bertjorak profan itu, sangat boleh djadi Parsi aseli, jang diambil-alih orang2 Jahudi didalam pembuangan. Pangkal-mula pesta Parsi adalah suatu kedjadian, jang dalam tema pokoknja tjotjok dengan kisah Ester, meskipun bukan orang2 Jahudi, jang memainkan peranan didalam kisah Parsi itu. Seperti kisah tersebut maka kitab Ester mempunjai titik pangkal historis pula.

Tetapi djelas pulalah, bahwa kedjadian itu bukanlah jang terpenting dari kitab Ester, melainkan gagasan2 keigamaan, jang tertjantum didalamnja. Tetapi betullah, bahwa teks Hibrani, bila dipandang sepintas lalu, sangat sedikit tjorak keigamaannja. Nama Allah sama sekali tidak terdapat tidak terdapat didalamnja dan njatanja dihindari setjara sistematis. Boleh djadi itu diakibatkan oleh tjorak profan belaka dari pesta Purim. Namun kekurangan akan tjorak keigamaan itu hanjalah kelihatannja daripada kenjataannja. Tanpa perumusan2 jang tegas kitab itu sungguh didukung oleh gagasan keigamaan. Allah dan pekerdjaanNja di-man2 terbajang dibelakang. Dialah, jang membimbing kedjadian2 dan menjelamatkan umatNja. Makanja teks Junani, jang lebih kentara tjorak keigamaannja dan djauh lebih tegas dalam bidang tersebut, tidak menjalahi maksud dan tudjuan kitab itu. Maunja merupakan paparan jang tjemerlang dari tema kebidjaksanaan: Kedjahatan djatuh kembali kepada jang merentjanakan dan melakukannja. Dalam kitab Ester dalil itu dikenakan pada Aman serta rentjana2nja, pada orang2 kafir dan permusuhannja kepada umat Allah. Dengan djalan itu kitab Ester mentjapai pula tema apokalyptik kitab Judit: orang2 kafir akan dibinasakan oleh pembalasan Allah karena permusuhannja terhadap Jang Kuasa serta umatNja. Dalam rangka teks tersebut haus akan darah dan kekedjaman dalam kitab itu tidak begitu mentjengangkan lagi. Inipun termasuk djenis sastera pula. Tambahan pula kitab itu tidak mengemukakannja sebagai sesuatu jang diperbuat orang2 Jahudi setjara spontan, melainkan karena terpaksa dan untuk membela diri. Si pengarang tidak begitu bergembira atas penumpahan darah jang dilukiskannja, melainkan lebih atas keadilan Allah dan PenjelenggaraanNja jang adjaib, jang dinjatakan setjara demikian.

Karena seluruh pesta Purim itu dari masa agak belakangan dan kitab itu disusun untuk keperluan itu, maka mesti djuga ditanggalkan agak belakangan pula. Terdjemahan atau saduran Junani bertanggal kira2 114 seb. Mas (30,31), meskipun teksnja sendiri tidak memberikan pegangan jang mutlak. Teks Hibrani haruslah lebih tua. Dalam th. 160 seb. Mas. pesta Purim, mungkin dengan nama lain, dirajakan di Palestina (II Mak. 15,36), dan kisah Ester dan mungkin djuga kitab Ester sudah dikenal. Karena kisah itu berlangsung di Parsi dan temanja: "kedjahatan menghukum dirinja sendiri", termasuk dalam sastera kebidjaksanaan belakangan, jang kitab itu pada umumnja ada kemiripannja, maka kitab dari pengarang Jahudi jang tidak ketahuan namanja itu dapat diberi bertanggal kira2 th. 200 seb-Mas. Tema peperangan antara kekafiran dan agama Jahudi sungguh tjotjok dengan suasana djaman Makabe, waktu peperangan itu meledak dan berachir dengan kemenangan agama Jahudi.

(0.93) (Est 9:1) (sh: Tuhan di balik penghukuman (Jumat, 29 Juni 2001))
Tuhan di balik penghukuman

Kisah ini merupakan suatu kisah yang mengerikan, penuh dengan darah dan pembunuhan. Jumlah musuh orang Yahudi yang terbunuh dalam benteng Susan pada hari pertama 500 jiwa (6) dan pada hari kedua bertambah sebanyak 300 jiwa (15). Sedangkan di daerah kerajaan yang lain tercatat 75.000 jiwa (16).

Mengapa Tuhan mengizinkan pembantaian seperti ini? Apa yang sesungguhnya terjadi? Untuk dapat menjawab hal ini marilah kita memperhatikan pengulangan kata berikut: "memukulnya dengan pedang", "membunuh", "dibunuh", "terbunuh" (5, 6, 10, 11, 12, 15, 16) yang juga memiliki konotasi penghukuman Tuhan atas musuh- musuh-Nya seperti terdapat dalam Kel. 13:15 "Tuhan membunuh semua anak-anak sulung di Mesir". Bagian ini menegaskan kepada kita bahwa sebagaimana Tuhan dulu membunuh anak-anak sulung Mesir (Kel. 13:15), demikian pula pada masa pemerintahan Ahasyweros Ia membunuh orang-orang Amalek -- musuh-Nya melalui tangan orang Yahudi dalam pertempuran yang tak terelakkan lagi. Kisah Ester ini mencatat kisah pengadilan Tuhan, dimana Tuhan Raja segala raja membangkitkan orang-orang Yahudi untuk menjatuhkan hukuman atas orang-orang Amalek.

Bagian ini tidaklah berbicara tentang kejahatan perang dan pelanggaran hak azasi manusia yang diprakarsai Ester dan Mordekhai, tetapi suatu tekad dan kebulatan hati untuk menyelesaikan tanggung jawab yang telah mereka terima. Ester dan Mordekhai mengerti untuk apa mereka ditempatkan pada posisi seperti sekarang ini. Mereka bertanggungjawab untuk menyelesaikan perintah Allah yang diabaikan oleh raja Saul (bdk. 1Sam 15:1-3, 7-9, 17-19). Karena alasan inilah maka orang Yahudi tidak mengulurkan tangan terhadap barang-barang rampasan (10, 15, 16) walaupun hal itu adalah hak mereka yang sah secara hukum Persia (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">8:11). Orang Yahudi tidak mengulang ketidaksetiaan raja Saul yang mengambil dan tidak membinasakan segala harta milik bangsa Amalek (bdk. 1Sam 15:9, 19).

Renungkan: Apakah Anda memiliki sikap hidup yang takut akan Tuhan dan hidup dalam kebenaran? Jangan anggap enteng pengadilan Tuhan! Kiranya kesadaran akan keadilan dan penghakiman Allah mendorong kita untuk senantiasa mengintrospeksi diri, hidup dalam kebenaran, dan terus- menerus bertekad memperjuangkan keadilan.

(0.93) (Est 3:4) (full: IA ORANG YAHUDI. )

Nas : Est 3:4

Orang-orang di sekeliling Mordekhai ingin tahu mengapa ia tidak berlutut. Ia hanya memberi satu jawaban: ia orang Yahudi.

  1. 1) Allah mengirim orang Yahudi ke dalam pembuangan untuk menyucikan mereka dari penyembahan berhala. Kita belajar dari kitab Ezra dan Nehemia bahwa orang Yahudi yang kembali ke Yerusalem telah memahami hal ini dan mendambakan ibadah yang bebas dari penyembahan berhala; kitab Ester menunjukkan bahwa orang Yahudi yang tidak kembali juga sudah paham. Ketika itu menjadi orang Yahudi mempunyai makna tersendiri, karena itu orang Yahudi menolak untuk berlutut kepada siapapun dan berhala mana pun.
  2. 2) Menjadi orang Kristen seharusnya membawa makna tersendiri bagi kita. Seperti Mordekhai, kita juga harus bersikap tegas secara terus terang memihak pada Kristus dan standar-standar yang benar dari Firman-Nya di tengah-tengah tekanan masyarakat duniawi.
(0.93) (Est 9:26) (full: PURIM. )

Nas : Est 9:26

Mordekhai menetapkan Hari Raya Purim (bd. ayat Est 9:20-23), perayaan selama dua hari yang merayakan perbuatan Allah membebaskan umat-Nya dari komplotan jahat Haman.

  1. 1) Pesta itu disebut "Purim" untuk mengingat bahwa Haman memakai "pur" atau undi untuk menentukan hari pembantaian orang Yahudi

    (lihat cat. --> Est 3:7).

    [atau ref. Est 3:7]

  2. 2) Purim mengingatkan kita bahwa Allah dapat mengesampingkan hukum peruntungan. Umat Allah tidak boleh memandang diri sebagai korban nasib atau peruntungan. Allah memiliki rencana indah bagi kehidupan kita, suatu rencana yang cocok dengan rencana penebusan-Nya yang besar. Tetapi kita harus mempunyai pendirian yang tetap, seperti Mordekhai dan Ester.
(0.93) (Est 1:1) (sh: Tuhan di tengah dunia sekular (Kamis, 21 Juni 2001))
Tuhan di tengah dunia sekular

Pasal pertama Kitab Ester merupakan jendela bagi kita untuk memahami latar belakang sebuah kisah umat Tuhan di tengah dunia sekular pada masa pemerintahan Ahasyweros (485-465 s.M.). Pada saat itu orang-orang Yahudi terbuang, tertawan, dan hidup di bawah hukum dan kekuasaan Media-Persia. Di dalam pembuangan, kehidupan mereka tidak lagi diatur berdasarkan Hukum Taurat Musa yang diterima dari Allah, tetapi dengan segala konsekuensinya mereka harus tunduk kepada hukum Media- Persia yang dibuat dengan sekehendak hati raja, bersifat mutlak, tidak dapat diganggu-gugat ataupun digagalkan.

Dengan latar belakang tersebut, maka ada beberapa pertanyaan yang perlu kita pikirkan seperti: dimanakah dan apakah yang dilakukan Tuhan di tengah dunia sekular seperti ini? Apa yang dilakukan Tuhan di balik kekuasaan, kekayaan, wilayah, dan keagungan Ahasyweros yang sedemikian besar (1-8)? Bagaimana Tuhan memelihara umat- Nya di tengah keputusan yang sewenang-wenang dan tidak dapat diganggu-gugat ataupun dibatalkan (9-19).

Keseluruhan Kitab Ester memberikan penjelasan kepada kita bahwa di balik kekuasaan Ahasyweros, Tuhan yang tidak nampak, tinggal bersama-sama umat-Nya. Dia tidak berdiam diri, namun Dia mengendalikan situasi. Walaupun Ahasyweros tidak memiliki integritas yang bercirikan hikmat dan prinsip hidup yang mulia (8, 10-12), Tuhan tetap melaksanakan maksud dan rencana-Nya dengan sempurna. Ia mempersiapkan pengangkatan Ester di balik mahkota, kecantikan, pamor, pesta pora, peninggian diri, pemecatan, dan pengucilan Wasti (9-12, 19-22). Tuhan Raja di atas segala raja mengatasi kekuasaan dan kebesaran Ahasyweros, Ia mempersiapkan rencana-Nya dengan sempurna melalui Ahasyweros yang memiliki banyak kelemahan.

Keyakinan bahwa Tuhan yang mengatasi kekuasaan pemerintahan ini memberikan penghiburan bagi kita kaum minoritas di Indonesia, yang walaupun tertindas namun dibela oleh Allah.

Renungkan: Di tengah dunia yang semakin sekular, jauh dari Allah dan membuat hukum-hukumnya sendiri, seberapa jauhkah Anda menyadari kehadiran dan karya Tuhan dalam hari- hari yang Anda lewati? Temukan Tuhan dalam kehidupan Anda dan berjalanlah bersama-Nya!

(0.93) (Est 3:1) (sh: Tuhan di balik dampak-dampak negatif kesalahan manusia (Sabtu, 23 Juni 2001))
Tuhan di balik dampak-dampak negatif kesalahan manusia

Sebagai manusia, kita menginginkan adanya rasa aman dan tentram untuk hidup dan masa depan kita, tetapi kita perlu menyadari bahwa tidak ada satu pun yang dapat memberi jaminan kepada kita bahwa kita tidak akan pernah menghadapi kesulitan, krisis, ataupun bahaya. Tidak terkecuali bagi kita, umat Tuhan!

Marilah kita bermain imajinasi. Seandainya hari ini terdengar kabar: "Orang-orang Kristen dalam bahaya pembantaian masal yang diresmikan dan diatur dengan undang-undang negara yang bunyinya: 'Hendaklah semua orang Kristen dipunahkan, dibunuh, dan dibinasakan, mulai dari yang muda sampai kepada yang tua, bahkan anak-anak dan perempuan! Juga harta benda mereka haruslah dirampas!' Undang-undang ini berlaku untuk seluruh negri, tidak dapat dibatalkan ataupun diganggu gugat oleh siapa pun!" Bagaimana perasaan Anda? Hal seperti inilah yang dialami orang-orang Yahudi (12-14). Realita kehidupan memang seringkali tidak adil! Mordekhai yang berjasa menyelamatkan raja dilupakan begitu saja sedangkan Haman, orang Agag (Amalek) musuh bebuyutan orang Yahudi (10, bdk. Ul. 25:17-19) yang jasa-jasanya tidak pernah dicatat, telah ditinggikan raja lebih dari yang lain dan beroleh kuasa atas seluruh wilayah kerajaan Ahasyweros (1-2). Ia menyalahgunakan kedudukannya, menghasut serta menyuap raja (5-6; 8-9), bahkan ia merayakan kemenangannya dengan duduk dan minum-minum bersama raja, sementara orang-orang Yahudi di kota Susan diliputi kegemparan (15). Pada masa krisis seperti ini Tuhan seakan-akan berdiam diri, namun sesungguhnya Tuhan tidak "lepas tangan", Ia mengendalikan dampak-dampak negatif yang dihasilkan oleh kesalahan manusia. Keadaan buruk sebagai akibat keangkuhan Haman dan ketidakpedulian raja tetap ada di dalam pengendalian-Nya. Raja segala raja mempersiapkan penghukuman bagi bangsa Amalek musuh- musuh-Nya melalui pengangkatan Haman dan penindasan orang Yahudi. Di balik kemenangan orang fasik atas orang benar, Dia sedang menjalankan keadilan-Nya.

Renungkan: Tuhan tidak berjanji bahwa kita tidak akan pernah mengalami kesulitan, tetapi Ia berjanji tidak akan "lepas tangan" terhadap penderitaan kita. Walaupun tak terlihat oleh mata, Dia sedang menjalankan keadilan- Nya. Lihatlah ke depan dan temukan pengharapan-Nya.

(0.93) (Est 6:1) (sh: Tangan Tuhan yang tidak kelihatan (Selasa, 26 Juni 2001))
Tangan Tuhan yang tidak kelihatan

Hidup kita mungkin dapat diibaratkan sebagai tenunan yang terjalin dari benang-benang suram dan cerah, saling merajut membentuk suatu gambaran kehidupan. Seringkali kita tidak dapat melihat keindahan rajutan ini secara utuh, dan seringkali kita juga tidak dapat menyadari bahwa di tangan Sang Perancang, benang-benang suram adalah sama pentingnya dengan benang-benang yang cerah untuk menghasilkan tenunan yang indah. Kisah Ester yang kita baca hari ini akan membantu kita memahami karya dan rencana Tuhan yang indah di balik peristiwa-peristiwa yang kita alami.

Rentetan peristiwa kisah Ester ini tidaklah terjadi secara kebetulan, ada tangan Sang Perancang yang merajut dengan satu tujuan yang pasti di balik semuanya. Dalam pasal Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">6 ini Sang Perancang mulai merajutkan benang- benang cerah dan membuat suatu titik balik dari kekalahan (pasal Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1-5) menuju kemenangan (pasal Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">7-10) yang ditandai dengan ketiga hal berikut: (1) Tuhan menggelisahkan hati raja (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">6:1-3); [2] Tuhan merendahkan Haman orang Amalek dan meninggikan Mordekhai (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">6:4-11); dan [3] Tuhan membuat hati Haman beserta keluarga dan sahabatnya diliputi kegentaran (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">6:12-14). Titik balik kemenangan ini semata-mata bukanlah disebabkan oleh jasa dan upaya Mordekhai, tetapi karena alasan yang sama seperti saat Musa mengangkat tangannya dan mengalahkan bangsa Amalek (bdk. Kel. 17 : 8-16). Kemenangan ini disebabkan karena ada "Tangan di atas panji-panji Tuhan!", "Tuhan berperang melawan Amalek turun-temurun". Tuhan Raja di atas segala raja dengan cara yang tidak terlihat memelihara dan memberikan kemenangan bagi umat-Nya yang menderita, dalam kesetiaan-Nya.

Mungkin kita tidak dapat mengerti ataupun melihat adanya jalan keluar bagi kemelut bangsa kita, namun kita perlu meyakini bahwa Tuhan tidak mengabaikan langkah iman yang kita ambil. Ia dengan tangan-Nya yang tak kelihatan dapat melakukan serangan terselubung dan menghancurkan sendi-sendi kekuatan mereka yang mengancam kita.

Renungkan: Pernahkah Anda mengalami peristiwa demi peristiwa yang mengarahkan Anda pada suatu titik balik yang mengubah situasi dan kehidupan Anda? Kemanakah arah pergerakan itu, seperti Haman atau Mordekhai? Bagaimana Anda meresponinya? Bercerminlah di hadapan Allah dan mohonkanlah tuntunan-Nya!

(0.93) (Est 7:1) (sh: Tuhan di balik tragedi orang fasik (Rabu, 27 Juni 2001))
Tuhan di balik tragedi orang fasik

Inilah suatu kisah tragis berawal dari "datanglah raja dan Haman untuk dijamu oleh Ester" (1) dan diakhiri dengan "Haman disulakan pada tiang yang didirikannya bagi Mordekhai. Maka surutlah panas hati raja" (8). Kisah ini berangkat dari permohonan dan pengaduan Ester kepada raja (2-6a) menuju percakapan raja dan Harbona tentang penyulaan Haman (8c-9b), memanas pada saat raja keluar ke taman istana dan menjadi semakin panas pada saat raja kembali ke dalam ruangan minum anggur (7a, 8a). Puncak kisah ini adalah: Haman yang sangat ketakutan berlutut pada katil tempat Ester berbaring untuk mengemis nyawanya (6b, 8b, 7b).

Inilah suatu ironi yang tak mudah dipahami oleh Haman orang Amalek musuh orang Yahudi. Sama seperti rencana terselubungnya berbalik menimpa dirinya, demikian pula permohonan nyawa Ester berbalik menjadi permohonan nyawanya (3-4; 7-8). Berbeda dengan Ester yang mendapat kasih dan pembelaan Raja, dia mendapat tuduhan melecehkan ratu di hadapan raja (5, 8). Sama seperti kegeraman murka raja yang bernyala-nyala terhadap Wasti (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:12; 2:1), demikian pula panas hati Raja terhadap diri Haman. Ia yang ingin membinasakan semua orang Yahudi karena satu diantaranya tidak mau berlutut di hadapannya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:5-7), kini harus berlutut di hadapan seorang wanita Yahudi (8). Semula ia mendongakkan kepalanya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:1-2), tak lama kemudian ia harus menyelubungi mukanya karena malu (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">6:12), dan kini terpaksa diselubungi mukanya karena menanti hukuman mati (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">7:8). Ia ingin menyulakan Mordekhai (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">5:14) tapi raja menyulakan dirinya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">7:8). Tuhan, Raja segala raja dengan cara yang tak terlihat membuka selubung rencana jahat Haman dan menjatuhkan kejahatan ke atas kepalanya sendiri. Inilah penggenapan nubuat Bileam bin Beor "Yang pertama di antara bangsa-bangsa ialah Amalek, tetapi akhirnya ia akan sampai kepada kebinasaan" (Bil. 24:20). Inilah suatu kisah tentang "siapa menggali lobang akan jatuh kedalamnya, dan siapa menggelindingkan batu, batu itu akan kembali menimpa dia" (Ams. 26:27). Inilah suatu pengharapan bagi kita orang percaya untuk menantikan saat dimana Tuhan menyatakan pembelaan-Nya melalui kemenangan orang benar atas orang fasik.

Renungkan: Bagaimana kesadaran tentang keadilan Allah menolong Anda melewati hari-hari ini?

(0.92) (Est 4:14) (full: SEKALIPUN ENGKAU PADA SAAT INI BERDIAM DIRI. )

Nas : Est 4:14

Mordekhai yakin bahwa Allah bermaksud memakai Ester untuk membebaskan Israel dan bahwa ia diangkat menjadi ratu untuk hal ini. Akan tetapi, Mordekhai mengetahui bahwa Ester bisa saja gagal jikalau dia tidak melaksanakan bagiannya dalam rencana penebusan Allah. Apabila ia menolak untuk menolong orang Yahudi, ia juga akan binasa (ayat Est 4:14). Maksud-maksud Allah yang berdaulat biasanya mencakup tanggung jawab manusia (bd. Mat 26:24;

lihat cat. --> Kel 33:3;

lihat cat. --> Fili 2:12).

[atau ref. Kel 33:3; Fili 2:12]

(0.92) (Est 1:1) (jerusalem)

KITAB-KITAB TOBIT, YUDIT DAN ESTER

PENGANTAR

Dalam terjemahan Latin, Vulgata, tiga kitab, yakni Tobit (Latin:Tobit), Yudit dan Ester ditentukan sesudah kitab-kitab sejarah. Beberapa naskah penting yang memuat terjemahan Yunani (Septuaginta) mengikuti urutan yang sama. Tetapi naskah-naskah Yunani lain menempatkan kitab-kitab itu sesudah kitab-kitab Kebijaksanaan (Hikmat). Ketiga kitab tersebut merupakan sebuah kelompok kecil yang ada banyak ciri khas padanya.

1. TEKS ketiga kitab itu adalah kurang pasti dan kurang terjamin. Kitab Tobit aslinya ditulis dalam bahasa Semit (Ibrani atau Aram). Tetapi teks asli itu sudah hilang Hieronimus menterjemahkan sebuah teks yang memakai bahasa "Khaldea" (Aram) dan terjemahan ini tercantum dalam Vulgata. Tetapi teks yang dipakai Hieronimus untuk menterjemahkannya itu juga tidak kita miliki lagi. Tetapi dalam sebuah gua didekat Qumran ditemukan kembali beberapa kepingan dari empat naskah kitab Tobit yang memakai bahasa Aram dan dari satu naskah yang memakai bahasa Ibrani. Terjemahan Yunani, Siria dan Latin masing-masing mewakili satu dari empat resensi yang tersedia (resensi = teks kitab yang pada umumnya sama, tetapi dengan perbedaan lebih kurang besar). Dua dari keempat resensi adalah paling penting. Yang satu terdapat dalam naskah (kodeks) Vaticanus (B) serta naskah Alexandrianus (A) dan yang lain tersimpan dalam naskah (kodeks) Sinaiticus (S) serta dalam terjemahan Latin kuno. Resensi yang kedua inilah yang sesuai dengan teks yang terdapat dalam kepingan-kepingan dari naskah-naskah yang diketemukan di Qumran. Maka resensi inilah yang nampaknya paling tua usianya. Terjemahan kami uji (pada umumnya) menuruti resensi yang terdapat dalam naskah S.

Teks Ibrani asli dari kitab Yudit juga hilang. Memang dalam abad-abad pertengahan beredarlah beberapa teks dalam bahasa Ibrani. Tetapi boleh disangsikan apakah teks itu betul-betul teks Ibrani yang asli. Ada tiga teks Yudit dalam bahasa Yunani yang cukup berbeda satu sama lain. Selebihnya terjemahan Latin (Vulgata) juga menyajikan sebuah teks yang berbeda dengan semua teks Yunani. Rupa-rupanya Hieronimus hanya memperbaiki suatu terjemahan Latin kuno berdasarkan sebuah parafrase Yudit yang memakai bahasa Aram.

Kitab Ester ada dua bentuknya, yaitu bentuk pendek dalam bahasa Ibrani (termasuk Alkitab Ibrani) dan bentuk lebih panjang yang disajikan terjemahan Yunani itu sendiri ada dua resensi. Resensi yang satu umumnya dipakai dan terdapat dalam naskah-naskah Septuaginta. Tetapi beberapa naskah Yunani memuat suatu resensi lain yang agak menyimpang dan dikerjakan oleh Lusianus dari Antiokhia. Terjemahan Yunani menambah beberapa bagian pada kitan Ester Ibrani, yakni mimpi Mordekhai yang ditempatkan paling dahulu dan tafsiran mimpi itu yang terdapat sesudah Tob Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">10:3; dua maklumat raja Ahasyweros yang ditempatkan sesudah Tob 3:13 dan Tob 8:12; doa Mordekhai dan doa Ester yang ditaruh sesudah Tob 4:17; suatu ceritera lebih panjang mengenai Ester yang menghadap raja Ahasyweros ditempatkan sesudah Tob 5:1(2) dan mengganti teks Ibrani: suatu kata penutup mengenai dikerjakan terjemahan Yunani ditaruh pada akhir seluruh kitab. Hieronimus menterjemahkan tambahan-tambahan itu, tetapi semua ditempatkan pada akhir terjemahannya yang menurut naskah Ibrani (Vulg 10:4-16:26). Dalam terjemahan ini teladan Hieronimus dituruti, sehingga semua tambahan Yunani itu terdapat pada akhir terjemahan menurut naskah Ibrani.

2. Ketiga kitab itu baru di zaman belakangan masuk ke dalam DAFTAR KITAB SUCI. Kitab Yudit dan kitab Tobit tidak tercantum dalam Alkitab Ibrani dan tidak diterima sebagai Kitab Suci oleh gereja-gereja Reformasi. Maka kitab-kitab itu disebut "Deuterokanonik" atau, dalam peristilah gereja-gereja reformasi: Apokrip. Baru di zaman para Bapa Gereja kitab-kitab itu umum diterima sebagai kitab-kitab suci dan itupun dengan agak banyak keberatan dari pihak beberapa orang. Namun demikian sejak dahulu kala kitab-kitab itu dibaca dipakai. Karenanya dicantumkan juga dalam daftar resmi kitab-kitab suci, di sebelah barat sejak sinode di Roma (th 382 Mas.) dan di sebelah timur sejak konsili Konstantinopolis "in Trullo" (th 692). Bagian-bagian tambahan pada kitab Ester juga disebut "Deuterokanonik"(Apokrip) dan menempuh sejarah sama dengan sejarah kitab Tobit dan Yudit. Dalam abad pertama tarikh Mas. para rabi Yahudi berselisih pendapat apakah kitab Ester (Ibrani) termasuk Kitab Suci atau tidak. Tetapi kemudian dari itu kitab itu sangat dihargai oleh orang-orang Yahudi.

3. GAYA SASTERA ketiga kitab itu pada umumnya sama juga. Baik sejarah maupun ilmu bumi diperlakukan dengan bebas sekali. Menurut kitab Tobit, maka Tobit ayah Tobia, di masa mudanya masih mengalami terpecahnya kerajaan Israel setelah Salomo mangkat (th 931, Tob Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:4); ia diangkat ke pembuangan bersama suku Naftali (th 734, Tob 1:5, 10) dan anaknya. Tobia, baru meninggal setelah kota Ninive hancur (th 612, Tob 14:15); seluruhnya 300 tahun lebih. Kitab Tobit menyebut Sanherib sebagai pengganti langsung raja Salmaneser, Tob 1:15, dengan tidak berkata apa-apa tentang raja Sargon yang mengganti Salmaneser. Jarak antara kota Ragai yang terletak dipegunungan dan kota Ekbatana yang letaknya di tengah dataran, menurut Tob 5:6 adalah dua hari perjalanan jauhnya, padahal kedua kota itu terpisah dengan jarak 300 km dan selebihnya kota Ekbatana, yang terletak di ketinggian 2000 m lebih tinggi dari Ragai. Unsur-unsur historis Kitab Ester memang lebih tepat. Keterangan-keterangan mengenai kota susan cukup kena. Demikianpun halnya dengan apa yang diceriterakan mengenai beberapa adat Persia. Raja Ahasyweros dengan nama Yunaninya Kserkses cukup dikenal.

Wataknya seperti digambarkan kitab Ester cocok dengan apa yang dikatakan Herodotor tentang raja itu. Akan tetapi penetapan yang bermaksud membinasakan orang-orang Yahudi dan ditandatangani raja Ahasyweros kurang sesuai dengan politik toleran wangsa Akhemedes. Dan apa yang sama sekali tidak masuk akan ialah: Raja mengizinkan bawahan-bawahannya sendiri dimusnahkan; dan 75.000 orang Persia membiarkan dirinya dibunuh tanpa perlawanan. Di waktu peristiwa yang diceriterakan Ester terjadi permaisuri raja Persia sesungguhnya bernama Amestris dan ilmu sejarah tidak tahu-menahu tentang seorang permaisuri yang bernama Wasti atau Ester. Seandainya Mordekhai benar-benar diangkat ke pembuangan di zaman raja Nebukadnezar, Est 2:6, maka di masa pemerintahan Ahasyweros ia berumur lebih kurang 150 tahun.

Khususnya kitab Yudit ternyata tidak menghiraukan sejarah atau ilmu bumi. Peristiwa yang diceriterakan terjadi di zaman pemerintahan "Nebukadnezar" yang merajai orang-orang Asyur di Ninive, Ydt Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:1, padahal Nebukadnezar sesungguhnya raja Babel waktu Ninive sudah dimusnahkan oleh ayah Nebukadnezar, yaitu Nabopolasar, Selebihnya kembalinya Israel dari pembuangan di zaman pemerintahan Koresy, raja Persia, dikisahkan sebagai suatu kejadian di masa yang lampau, Ydt Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">4:3; 5:19. Nama Holofernes dan Bagoas memang nama-nama Persia, tetapi ada juga beberapa ayat dalam kitab Yudit yang dengan jelas menyinggung adat-istiadat Yunani, Ydt Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:7-8; 15:13. Jalan yang ditempuh tentara Holofernes, Ydt 2:21-28, menjadi suatu teka-teki bagi para ahli ilmu bumi. Setelah Holofernes tiba di daerah Samaria, diharapkan ceritera menjadi lebih tepat. Dan memanglah nama-nama tempat menjadi banyak. Akan tetapi kebanyakan nama tidak dikenal dan bunyinya agak aneh sedikit. Bahkan letaknya kota Betulia yang menjadi pusat ceritera tidak dapat ditentukan tempatnya di peta negeri Palestina, walaupun keterangan-keterangan yang diberi Yudit tentang tempat letaknya kota itu nampak sangat terperinci.

Sikap yang tidak ambil pusing mengenai sejarah dan ilmu bumi itu hanya dapat dipahami kalau para pengarang Kitab Tobit, Ester dan Yudit memang tidak bermaksud menulis buku sejarah, tetapi sesuatu yang lain. Mungkin titik-tolak ceritera-ceritera mereka adalah peristiwa-peristiwa yang sungguh pernah terjadi. Tetapi mustahillah menentukan peristiwa-peristiwa manakah yang menjadi landasan ceritera-ceritera itu. Ceritera-ceritera sendiri memang diciptakan oleh pengarang-pengarang dengan maksud menyampaikan suatu pengajaran kepada para pembaca. Maka pentinglah menentukan maksud masing-masing kitab dan menyimpulkan ajarannya.

Adapun KITAB TOBIT adalah sebuah kisah keluarga. Tobit yang bertempat tinggal di kota Ninive adalah seorang suku Naftali yang masuk pembuangan. Ia seorang saleh yang taat hukum Taurat dan suka beramal, tetapi telah menjadi buta. Di kota Ekbatana ada seseorang sanak-saudara Tobit yang bernama Raguel dan mempunyai seorang anak perempuan. Sara namanya. Sara mengalami bahwa tujuh suaminya berturut-turut mati terbunuh oleh setan Asmodeus pada malam hari mereka menikah dengan Sara. Baik Tobit maupun Sara memanjatkan doa kepada Allah, supaya Ia sudi mencabut nyawa mereka. Tetapi Allah membuat kemalangan mereka menjadi sukacita besar. Allah mengutus malaikat Rafael yang mengantar Tobia , anak Tobit, kepada Raguel. Tobia diberiNya Sara sebagai isteri dan obat yang dapat menyembuhkan mata Tobit, ayahnya. Kisah yang mengharukan itu mau membina. Perhatian khusus diberikan kepada kewajiban mengubur mayat dan memberi sedekah; dengan cara menarik peranan keluarga yang baik terungkap dan keluhuran perkawinan ditonjolkan perkawinan sebagai yang diidam-idamkan kitab Tobit sesungguhnya perkawinan Kristen sebelum agama Kristen di bumi. Malaikat Rafael sebagai alat Allah baik menyingkapkan maupun menyembunyikan karya Allah. Kitab Tobit mengajak para pembaca, supaya melihat penyelenggaraan ilahi yang berkarya dalam hidup sehari-hari dan betapa dekatnya Allah yang penuh belas kasihan. Kitab Tobit berlatar belakang beberapa kisah dan ceritera yang terdapat dalam Kitab Suci. Ceritera-ceritera mengenai para bapa bangsa yang terdapat dalam Kejadian cukup besar pengaruhnya. Ditinjau dari segi seni sastra menduduki tempat antara kitab Ayub dan Ester, antara Zakharia dan Daniel. Kecuali itu ada persamaan antara Tobit dan suatu karangan yang di zaman dahulu sangat laris dan yang berjudul: Hikmat Akhikar, bdk Tob Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:22; 2:10; 11:18; 14:10. Karangan itu sekurang-kurangnya dalam abad ke lima seb. Mas. sudah dikenal. Kitab Tobit sendiri agaknya ditulis di sekitar th 200 seb. Mas. dan barangkali di Palestina dengan memakai bahasa Aram.

KITAB YUDIT menceritakan bagaimana umat terpilih mengalahkan seorang musuh berkat tindakan seorang perempuan. Bangsa yahudi yang kerdil berhadapan dengan tentara raksasa yang dikepalai Holofernes. Panglima raja Nebukadnezar itu telah diberi tugas menaklukan seluruh bumi kepada raja Nubukadnezar dan memusnahkan setiap ibadah kecuali ibadah kepada raja. Orang-orang Yahudi terkepung di kota Betulia. Mereka menderita kekurangan air dan hampir mau menyerah saja. Pada saat yang gawat itu muncullah Yudit. Ia seorang janda yang cantik, bijak, saleh dan teguh hati. Berturut-turut Yudit dapat mengalahkan ketawanan hati saudara- saudara sebangsa dan bala tentara Asyur. Para pemimpin kota Betulia ditegurnya karena kurang percaya kepada Allah. Lalu ia berdoa, bersoleh, meninggalkan kota Betulia dan membiarkan dirinya dibawa menghadap panglima musuh, Holofernes. Dengan cerdiknya Yudit berhasil membujuk dan menipu panglima itu. Ketika seorang diri dengan pejuang yang berpengalaman tetapi kini mabuk itu Yudit memenggal kepada Holofernes. Tentara Asyur mendapat tahu tentang kejadian itu, lalu terkejut dan gugup melarikan diri. Orang-orang Yahudi habis-habis merampasi perkemahan tentara musuh. Mereka memuji-muji Yudit dan pergi ke Yerusalem untuk mengadakan ibadah syukur atas kemenangan yang gemilang itu.

Agaknya pengarang Yudit dengan sengaja mengacaukan peristiwa-peristiwa sejarah, agar supaya pembaca kisahnya jangan terpikat pada konteks historis, tetapi memusatkan perhatiannya kepada drama keagamaan yang dipentaskah dan pada akhir drama itu. Susunan kisah sangat halus dan lancar. Contoh-contoh seni sastera yang serupa ditemukan dalam sastera Apokaliptik. Holofernes, hamba Nebukadnezar, melambangkan kejahatan: Yudit, yang namanya berarti "Wanita Yahudi", mengibaratkan pihak Allah yang disamakan dengan pihak umat-Nya. Umat Allah dimusnahkan, tetapi Allah mengurniakan kemenangan dengan perantaraan seorang perempuan yang lemah. Maka umat kudus kembali ke Yerusalem. Ada kesamaan antara kitab Yudit dan Daniel, Yeheskiel dan Yoel. Peristiwa terjadi di dataran Yizree, dekat megindo atau Harmagedon, tempat menurut kitab Wahyu akan berlangsung pertempuran eskatologis, Why 16:16. Kemenangan yang diperoleh Yudit merupakan balasan atas doanya serta ketelitiannya dlam melakukan hukum-hukum tentang ketahiran seperti yang ditentukan hukum Taurat. Namun demikian kisah Yudit mempunyai ciri universil. Sebab keselamatan Yerusalem terjamin oleh apa yang terjadi di Betulia yang terletak di daerah orang-orang Samaria yang dimusuhi oleh kalangan para saleh dalam agama Yahudi yang picik. Makna keagamaan bentrokan yang dikisahkan Yudit dengan tepat diungkapkan oleh Ahior, orang Amon, Ydt 5:5-21, yang akhirnya bertobat kepada Allah sejati, Ydt Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">14:5-10. Kitab Yudit dikarang di Palestina, kira-kira di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. waktu semangat kebangsaan dan keagamaan hangat-hangat sebagai hasil pemberontakan para Makabe.

Sama seperti kitab Yudit, demikian KITAB ESTER menceriterakan bagaimana umat terpilih dibebaskan dari musuhnya dengan perantaraan seorang perempuan. Orang- orang Yahudi yang tinggal di negeri Persia terancam kebinasaan karena dibenci oleh perdana menteri. Haman, yang sangat berkuasa. Mereka diselamatkan oleh tindakan Ester, seorang pemudi sebangsa yang telah menjadi permaisuri di istana raja dan yang dibimbing oleh pamannya, Mordekhai. Tindakan Ester berhasil baik, lalu keadaan terbalik: Haman disulakan. Moedekhai menjadi perdana menteri dan orang-orang Yahudi menumpas musuh-musuh mereka. Sebagai kenangan akan kemenangan itu ditetapkan hari raya Purim yang setiap tahun wajib dirayakan orang-orang Yahudi.

Kisah kitab Ester menggambarkan kebenciannya yang dialami orang-orang Yahudi di zaman dahulu oleh karena ciri khas cara hidup mereka yang bertentangan dengan hukum raja (bandingkan penganiayaan yang dialami bangsa Yahudi di zaman Antiokhus IV Epifanes). Rasa kebangsaan yang tebal dibangkitkan pada bangsa yahudi justru sebagai suatu cara untuk membela diri. Rasa kebangsaan tebal yang tampil dalam kitab Ester belum tahu akan sikap hati yang dibawa oleh wahyu Kristus, Kecuali itu, gaya sastera kitab itu perlu diperhatikan juga. Persekongkolan dan tipu muslihat dalam mahligai raja serta pembunuhan masal yang diceriterakan Ester hanya bermaksud secara dramatis mengungkapkan suatu ajaran yang tidak lain kecuali ajaran keagamaan. Tindakan Mordekhai dan Ester yang membawa keselamatan itu mengingatkan kepada kisah mengenai Daniel dan lebih- lebih lagi kepada kisah tentang Yusuf, yang dianiaya lalu dimuliakan demi keselamatan bangsanya. Dalam kisah mengenai Yusuf sebagaimana tercantum dalam Kejadian itu Allah tidak memperlihatkan kekuasaanNya. Namun Dialah yang memimpin jalannya peristiwa. Dan demikianpun halnya dalam kitab Ester yang berbahasa Ibrani. Kitab itu bahkan tidak sampai menyebut nama Allah. namun penyelenggaraan ilahi membimbing babak demi babak drama umat Israel. Para pelaku drama itu insaf akan bimbingan itu. Mereka dengan sebulat hati percaya pada Allah yang melaksanakan rencana penyelamatanNya, kalaupun manusia yang menjadi pelaksana rencana itu kerap kali mengecewakan. Sehubungan dengan itu perlu dibaca Est 4:13-17, yang menjadi kunci seluruh kitab. Bagian-bagian tambahan yang ditulis dalam bahasa Yunani mempunyai ciri keagamaan yang lebih nyata. Tetapi tambahan- tambahan ini hanya dengan jelas mengungkapkan apa yang disarankan oleh pengarang Ibrani. Terjemahan Yunani kitab Ester sudah ada dalam thun 144 (atau 78) seb. Mas. Terjemahan itu dikirim kepada orang-orang Yahudi di negeri Mesir dengan maksud memperkenalkan hari raya Purim (Ester tambahan Yunani pada akhir kitab). Kitab Ester Ibrani dikarang lebih dahulu. Menurut 2Mak 15:36 orang-orang Yahudi di Palestina sudah merayakan "Hari(raya) Mordekhai" dalam tahun 160 seb. Mas. Ini membuktikan bahwa kisah Ester dan barangkali kitabnya sudah dikenal pada waktu itu. Maka kitab Ester mungkin dikarang di pertengahan abad ke-2 seb. Mas. bagaimana hubungan sebenarnya antara kitab Ester dan Hari raya Purim tidak jelas. Sebab Est 9:20-32 barangkali suatu tambahan, oleh karena gaya bahasa bagian ini berbeda dengan gaya bahasa seluruh kitab. Asal asul hari raya Purim juga tidak jelas. Mungkin kitab Ester baru di kemudian hari dihubungkan dengan hari raya itu (2Mak 15:36 tidak menyebut hari raya Purim, tetapi Hari Mordekhai) dengan maksud memberi dasar historis kepada perayaan itu.

KITAB-KITAB MAKABE

PENGANTAR

Kedua kitab Makabe tidak termasuk ke dalam daftar kitab-kitab suci Ibrani. tetapi oleh Gereja katolik diterima sebagai Kitab Suci (Deuterokanonik), sedangkan gereja-gereja Reformasi tidak menerimanya. isi kedua kitab Makabe ialah: Perjuangan bangsa Yahudi melawan pemerintah wangsa Seleukos di Siria guna merbut kemerdekaan di bidang agama dan politik. Jahudi kedua kitab itu (Makabe) berasal dari gelar "Makabe" yang diberikan kepada pahlawan utama dalam sejarah perjuangan tsb, yaitu Yudas, 1Mak 2:4, lalu kepada saudara-saudaranya.

Pendahuluan KITAB MAKABE YANG PERTAMA, 1-2, memperkenalkan lawan-lawan yang berhadapan maka dalam sejarah yang mau diceritakan, yaitu, di satu pihak kebudayaan Yunani yang bersemarak dan jaya, yang didukung oleh sekelompok orang Yahudi; di lain pihak perlawanan dari pihak kesadaran kebangsaan Yahudi yang taat kepada hukum Taurat dan menjunjung tinggi Bait Allah. Dengan perkataan lain: yang berhadapan maka ialah: di satu pihak Antiokhus, Epifanes, raja Siria, yang mencerminkan Bait Allah dan dengan mengamuk menganiaya agama Yahudi: di lain pihak Matatias yang mengumumkan perang suci.

Bagian inti IMakabe terdiri atas tiga bagian. Masing-masing bagian mengisahkan usaha seorang dari ketiga anak laki-laki Matatias yang berturut-turut memimpin perjuangan bangsa Yahudi. Yudas Makabe (yhn 166-160 seb. Mas), Mak Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:1-9:22, berkali-kali berhasil mengalahkan panglima-panglima yang diutus raja Antiokhus. Yudas dapat mentahirkan Bait Allah dan memperoleh bagi bangsanya kebebasan untuk hidup sesuai dengan adat-istiadat nenek moyang. Di mana pemerintahan raja Demetrius I kegiatan Yudas terlambat oleh persekongkolan Imam Besar, Alkimus. Tetapi Yudas tetap jaya dalam perang. Panglima Nikanor yang bermaksud menghancurkan Bait Allah dapat dikalahkan dan ditewaskan oleh Yudas. Dengan maksud memperkuat kedudukannya terhadap Siria. Yudas berusaha bersekutu dengan orang-orang Roma. Akhirnya Yudas sendiri gugur di medan perang ia diganti adiknya. Yonatan (thn 160-142 seb. Mas.). Mak 9:23-12:53. Sekarang catur politik diutamakan dari perang. Dengan cerdik Yonatan memanfaatkan perebutan takhta yang pada waktu itu timbul di negara Siria. Oleh raja saingan, yaitu Aleksander Balas, Yonatan diangkat menjadi Imam Besar. Pengantar itu kemudian disahkan oleh raja Demetrius II, lalu diteguhkan juga oleh raja Antiokhus VI. Yonatan berusaha perjanjian persahabatan dengan bangsa Sparta dan Roma. wilayah kekuasaannya semakin meluas. Waktu perdamaian di dalam negeri nampaknya terjamin, Yonatan secara kotor dibunuh oleh Trifon yang juga membunuh Antiokhus VI yang masih muda. Kakak Yonatan, yaitu Simon (thn 142-134 seb. Mas.), mak 13:1-16:24 berpihak kepada raja Demetrius II yang baru saja berhasil merebut kekuasaan sebagai raja Siria. Maka oleh Demetrius II dankemudian oleh Antiokhus VII diakui sebagai Imam Besar, panglima dan penguasa orang-orang Yahudi. Dengan demikian otonomi politik sudah terwujud. Gelar-gelar tsb. semua disahkan oleh sebuah penetapan rakyat Yahudi. Perjanjian persahabatan dengan orang-orang Roma dibaharui lagi. Sudah tibalah masa perdamaian dan kesejahteraan. Tetapi raja Antiokhus VII berubah haluan dan mulai memerangi orang-orang Yahudi. Simon beserta dua anaknya dibunuh oleh menantunya sendiri yang menyangka tindakannya itu berkenan di hati raja.

Kisah kitab I Makabe meliputi 40 tahun lamanya, mulai dengan awal pemerintahan raja Antiokhus Epifanes, thn 175 seb. Mas., sampai dengan kematian Simon serta permulaan masa pemerintahan Yohanes Hirkanus, thn 134 seb. Mas. Kitab I Makabe ditulis dalam bahasa Ibrani, tetapi sampai kepada kita dalam terjemahan Yunaninya. Penulis adalah seorang Yahudi tinggal di Palestina. Ia mengarang karyanya sesudah thn 134 seb. Mas., tetapi sebelum Yerusalem direbut oleh Pompeius, panglima Roma, dalam thn 64 seb. Mas. bagaimana penutup kitab, 1Mak 16:23-24, menyarankan, bahwa 1 Makabe selesai dikarang pada akhir masa pemerintahan Yohanes hirkanus, bahkan mungkin sekali segera setelah Yohanes Hirkus meninggal, di sekitar thn 100 seb. Mas. Sebagai dokumen sejarah kitab 1 Makabe sangat berharga untuk mengenal zaman itu. Hanya perlu diperhatikan jenis sasteranya yang meniru gaya sastera tawarikh Israel dahulu. Pun pula maksud pengarang perlu diperhatikan.

Sebab, walaupun penulis 1 Makabe dengan panjang lebar menceritakan peperangan dan catur politik, maupun tujuan utamanya ialah mengisahkan sejarah keagamaan. Kemalangan yang menimpa bangsanya diartikan oleh penulis sebagai hukuman atas dosa; kemenangan-kemenangan para pejuang Yahudi selalu dihubungkan dengan Allah yang kemenangan-kemenangan mereka.

Kitab 1 Makabe dikarang oleh seorang Yahudi yang sungguh-sungguh dijiwai Imannya dan yakin, bahwa justru Iman itulah yang menjadi taruhan dalam bentrok antara pengaruh peradaban kafir dan adat-istiadat nenek moyang Yahudi. Penulis sangat memusuhi kebudayaan Yunani dan mengagumi pahlwan-pahlawan yang berjuang demi untuk hukum Taurat dan Bait Allah, lalu berhasil memperoleh kebebasan agama bagi bangsa mereka dan juga kemerdekaan politiknya. Pengarang 1 Makabe mencatat peristiwa-peristiwa perang yang menyelamatkan agama dan bangsa Yahudi sebagai penerus Wahyu Ilahi.

KITAB MAKABE YANG KEDUA bukanlah lanjutan 1 Makabe. Isi 2 Makabe memang sebagiannya sejalan dengan isi 1 Makabe. Tetapi ia mulai sejarahnya lebih dahulu dengan mengisahkan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir pemerintahan raja. Seleukus IV, pendahulu Antiokhus Epifanes. Dan hanya melanjutkan kisahnya sampai kekalahan panglima Nikanor sebelum Yudas Makabe tewas di medan perang. Dengan demikian kisah 2Makabe hanya meliputi lima belas tahun dari kisah yang disajikan 1 Makabe, yaitu tahun-tahun yang diuraikan dalam 1 Makabe 1-7.

Jenis sastera 2 Makabe sangat berbeda dengan jenis sastera 1 Makabe, 2 Makabe langsung ditulis dalam bahasa Yunani dan memperkenalkan diri sebagai ringkasan sebuah karya besar yang dikarang oleh seseorang yang bernama Yason dari Kirene, 2Makabe 2:19-32. Di muka kisahnya pengarang 2 Makabe menempatkan dua pucuk surat yang dikirim orang-orang Yahudi di Yerusalem kepada orang-orang Yahudi di perantauan, 2Makabe 1:1-2:18. Gaya bahasa 2 Makabe meniru-niru sastrawan Yunani di zaman itu, tetapi peniruannya kurang berhasil. Bahasa 2 Makabe kadang- kadang berlebih-lebihan. Gaya bahasa semacam itu lebih sesuai dengan ahli pidato dari pada dengan seorang penulis sejarah. Namun demikian ternyata, bahwa penulis 2 Makabe melebihi pengarang 1 Makabe dalam hal pengetahuan tentang lembaga- lembaga yunani dan tokoh-tokoh yang berperan di zaman yang diceritakannya.

Tujuan pengarang 2 Makabe ialah menyenangkan dan membina, 2Mak 2:25; 15:39, melalui ceritera-ceritera mengenai perang kemerdekaan yang dipimpin oleh Yudas Makabe, didukung oleh penampakan-penampakan sorgawi dan dimenangkan berkat Allah yang turun tangan dalam jalannya peristiwa-peristiwa, 2Mak 2:19-22. Bahkan penganiayaan diartikan oleh penulis sebagai bukti belas-kasihan Tuhan yang memperbaiki umat Israel sebelum dosanya memuncak tak tersembuhkan, 2Mak 6;12- 17. Pengarang 2 Makabe menulis kitabnya bagi orang-orang yahudi di Aleksandria. Maksudnya membangkitkan semangat persatuan mereka dengan saudara-saudara di Palestina. Ia ingin menarik perhatian mereka kepada hal-ihwal Bait Allah yang merupakan pusat hidup keagamaan menurut hukum Taurat, tetapi menjadi rasa benci bangsa-bangsa lain.

Maksud-tujuan penulis 2 Makabe itu nampak dalam susunan kitabnya. Setelah disajikan kisah mengenai Heliodorus,2Mak 3:1-40, dengan maksud menekankan kesucian Bait Allah yang tidak terganggu-gugat, maka bagian pertama kitab, 2 Mak 4:1-10:8, Berakhir dengan kematian ngeri pengejaran yang mencerminkan Bait Allah, yaitu raja Antiokhus Epifanes, dan ditetapkannya hari raya Pentahiran Bait Allah. bagian kedua, 2Mak 10:9-15:36juga berakhir dengan kematian seorang musuh Bait Allah yang lain, yakni Nikanor yang mengancam Bait Allah, dan ditetapkannya hari peringatan yang lain. Sesuai dengan maksud-tujuan itupun kedua puncuk surat yang ditempatkan pada bagian permulaan kitab 2Mak 1:1- 2:18. Kedua surat itu merupajan suatu undangan yang dialamatkan kepada orang- orang Yahudi di Mesir, supaya mereka turut merayakan hari raya Pentahiran Bait Allah (atau: Pentahbisan Bait Allah).

Oleh karena peristiwa terakhir yang dilaporkan ialah kematian Nikanor, maka karya Yason dari Kirene yang diikhtisarkan 2 Makabe, agaknya dikarang tidak lama sesudah thn 160 seb. Mas. Andaikan peringkas sendiri - hal ini memang diperdebatkan para ahli - menempatkan kedua surat pembukaan di muka ringkasan karya Yason sebagai surat pengantar, maka tahun penyusunan ikhtisar itu (ialah 2 Makabe) dapat ditanggalkan pada thn 124 seb. Mas,. sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam 2Mak 1:10a.

Nilai historis 2 Makabe jangan terlalu diremehkan. Sudah barang tentu pembuat ikhtisar (atau seorang redaktur) tidak segan menampung juga cerita-cerita apokrip, seperti yang terdapat dalam 2Mak 1:10b-Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">2:18, dan tidak segan pula penyalin cerita-cerita ajaib seperti cerita tentang Heliodorus, 3, dan cerita- cerita hebat-hebat seperti kisah mengenai kemartiran Eleazar, 2Mak 6:18-31, dan ketujuh orang bersaudara serta ibu mereka, 9, yang semua dipetik dari karya Yason. Cerita-cerita itu memang mendukung (dan dimaksudkan demikian juga) pikiran-pikiran keagamaan yang mau dipaparkan penulis 2 Makabe. Namun demikian, menurut garis-garis besarnya, kisah 2 Makabe sesuai dengan 1 Makabe. Kesesuaian itu menjamin nilai historis kejadian-kejadian yang diceritakan oleh kedua sumber yang tidak bergantung satu sama lain itu. Ada satu peristiwa penting dimana 2 Makabe tidak sesuai dengan 1 Makabe, 1Mak 6:1-13 menempatkan pentahiran Bait Allah sebelum kematian Antiokhus Epifanes, sedangkan 2Mak 9:1-29 menempatkan peristiwa itu sesudah kematian raja itu. Tetapi dalam hal ini 2 Makabe ternyata benar dan 1 Makabe keliru. Baru-baru ini ditemukan sebuah papan yang ditulisi khronologi kerajaan "Babel" dan papan itu membenarkan 2 Makabe. Menurut papan itu Antiokhus Epifanes meninggal dalam bulan Oktober-Nopember thn 164 seb. Mas., jadi sebelum pentahiran Bait Allah yang diadakan dalam bulan Desember. Mengenai peristiwa-peristiwa yang hanya dikisahkan dalam 2 Makabe, tidak perlu diragukan keterangan-keterangan yang tercantum dalam bab 4 tentang tahun-tahun yang mendahului perampasan Bait Allah oleh Antiokhus Epifanes. Lebih-lebih peringkas (2 Makabe) dari pada Yason dari Kirene yang bertanggung jawab atas dicampur- adukkannya beberapa hal, yaitu: Penulis memiliki sepucuk surat dari Antiokhus V, 2Mak 11:22-26, lalu dalam 2Mak 11:1-12:9 dideretkannya beberapa surat lain dan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada akhir zaman pemerintahan Antiokhus Epifanes, yang seharusnya ditempatkan dalam bab 8-9.

Sehubungan dengan ajarannya, 2 Makabe penting oleh karena membenarkan kepercayaan bahwa orang-orang mati akan dibangkitkan, 2Mak 7:9; 14:46; bahwa orang mendapat balasan di alam baka, 2Mak 6:26, dan bahwa arwah orang yang meninggal dapat didoakan, 2Mak 12:41-46. Iapun membicarakan jasa para martir, 2Mak 6:18-7:41, dan pengantaraan orang kudus, 2Mak 15:12-16. Semua hal itu tidak diuraikan dengan jelas dalam kitab-kitab Perjanjian Lama yang lain. Dan justru itulah yang membenarkan Gereja Katolik dalam memasukkan 2 Makabe ke dalam daftar kitab-kitab Suci.

Sistem urutan dalam waktu (khronologi) yang dituruti masing-masing kitab Makabe dapat kita kenal dengan lebih baik berkat papan tsb. yang baru-baru ini ditemukan. Papan (kepingan-kepingan) itu ditulis dengan huruf-huruf yang berupa paku. Ia memuat sebagai dari daftar raja-raja wangsa Seleukus. Atas dasar itu dapat ditetapkan tahun mangkatnya Antiokhus Epifanes. Menjadi jelas pula, bahwa 1 Makabe menuruti tarikh Makedonia (Yunani) yang mulai dengan bulan Oktober thn 312 seb. Mas. Sebaliknya 2 Makabe menuruti tarikh Yahudi yang sangat berdekatan dengan tarikh Babel. Tarikh ini mulai dengan bulan Nisan (3 April) thn 311 seb. Mas. Tetapi ada dua kekecualian: dalam 1 Makabe peristiwa-peristiwa yang menyangkut Bait Allah dan sejarah bangsa Yahudi ditanggalkan menurut tarikh Babel-Yahudi (1Mak 1:54; 2:70; 4:52; 9:3, 54; 10:21; 13:41, 51; 14:27; 16:14); sebaliknya, surat-surat yangdikutip 2Mak 11 ditanggalkan menurut tarikh Makedonia dan hal ini memang masuk akan juga.

Adapun TEKS kedua kitab Makabe tersimpan dalam tiga buah naskah yang bertuliskan huruf-huruf besar (unciales), yaitu kodeks Sinaiticus, kodeks Alexandrinus dan kodeks Venetus. Ada pula l.k. tiga puluh naskah yang bertuliskan huruf-huruf kecil/miring (minusculae). hanya sayanglah, dalam kodeks Sinaiticus (yang paling baik) bagian yang memuat 2 Makabe sudah hilang lenyap. Naskah-naskah minusculae yang memuat teks-saduran Lukianus (thn 300 Mas) kadang-kadang menyajikan sebuah teks yang lebih tua dari pada yang terdapat dalam naskah-naskah besar tsb. Teks itu sama dengan yang terdapat dalam Antiquitates Judaicae, ialah sebuah karya sejarahnya Yahudi, Flanius Yosefus. Flavius Yosefus biasanya mengikuti sejarah sebagaimana disajikan 1 Makabe dan sama sekali tidak memperhatikan cerita-cerita yang tercantum dalam 2 Makabe. Adapun terjemahan Latin kuno (Vetus Latina) berlatar-belakang sebuah teks Yunani yang hilang juga. Kerap kali teks terjemahan Latin itu lebih baik dari pada teks Yunani yang terdapat dalam naskah-naskah Yunani yang kita kenal. Terjemahan Latin (Vulgata) bukan karya Hieronimus, tetapi karya seorang lain, sebab Hieronimus tidak menganggap kitab- kitab Makabe sebagai Kitab Suci.

KITAB-KITAB KEBIJAKSANAAN

PENGANTAR

Lima kitab dalam Perjanjian Lama, yaitu kitab Ayub, Amsal, Pengkhotbah, Bin Sirakh dan Kebijaksanaan Salomo, diberi judul bersama: "Kitab-kitab Kebijaksanaan" atrau "Kitab-kitab Hikmat". Kitab Mazmur dan Kidung Agung secara kurang tepat dicantumkan dalam kelompok kitab-kitab ini. Kitab-kitab Kebijaksanaan itu mencerminkan suatu alam pikiran yang juga dijumpai dalam bagian-bagian tertentu Kitab Tobit dan kitab Barukh.

Kesusasteraan "Hikmat" semacam itu berkembang di seluruh dunia Timur dahulu. Bangsa Mesir sepanjang sejarahnya menghasilkan karya-karya kebijaksanaan. Sejak zaman bangsa Sumer di negeri Mesopotamia ada pengarang yang menciptakan pepatah- pepatah, dongeng-dongeng dan juga syair-syair yang bertemakan penderitaan dan yang boleh dibandingkan dengan kitab Ayub. Aliran kebijaksanaan yang berkembang di Mesopotamia itu juga menyusup ke negeri Kanaan. Di Ras Syamra ditemukan kembali tulisan-tulisan kebijaksanaan yang memakai bahasa Akkad. Dari kalangan- kalangan yang berbahasa Aram berasallah "Hikmat Ahikar", yang dikarang di negeri Asyur, lalu diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa kuno. Maka kebijaksanaan itu mempunyai sifat internasional. Ini kurang memperhatikan masalah keagamaan, lebih bertemakan hal keduniawian. Diterangkan olehnya nasib perorangan, tetapi bukan melalui pemikiran ilmu filsafat sesuai dengan kebiasaan orang-oran Yunani, melainkan berdasarkan pelbagai pengalaman. Hikmat itu tidak lain kecuali peri kehidupan yang baik, sebagaimana layak bagi orang yang berpendidikan. Hikmat itu mengajar manusia, bagaimana menyesuaikan diri dengan tata tertib alam semesta dan memberi petunjuk tentang cara orang mencapai kebahagiaan dan mendapat sukses. Tetapi oleh karena tidak senantiasa demikian halnya, maka pengalaman sedih itu membenarkan sikap pesimis dan muram yang diuraikan beberapa karya kebijaksanaan, baik yang digubah di negeri Mesir maupun di negeri Mesopotamia.

Hikmat-kebijaksanaan semacam itu juga dikenal orang-orang Israel. Untuk memuji- muji hikmat raja Salomo, alkitab menegaskan bahwa kebijaksanaan raja itu melebihi kebijaksanaan Bani Timur dan orang-orang Mesir, 1Raj 4:30. Dalam Yer 49:7; Bar 3:22-23; Ob 8, disebelah orang bijak dari negeri Arab dan bangsa Edom. Memang Ayub serta ketiga sahabatnya yang berhikmat, berkediaman di negeri Edom. Pengarang kitab Tobit mengenal "Hikmat Ahikar", sedangkan Ams 22:17-23:11 jelas dan kuat-kuat terpengaruh oleh petuah-petuah Amenemope dari negeri Mesir. Sejumlah mazmur dipertalikan dengan Heman dan Etan, yaitu dua orang bijak dari negeri Kanaan menurut 1Raj 4:31. Kitab Amsal memuat perkataan Agur, Ams 30:1-14, dan perkataan Lemuel, Ams 31:1-9, yang berasal dari Masa, yaitu sebuah suku yang hidup di bagian utara negeri Arab, Kej 25:14.

Tidak mengherankan bahwa karya-karya hikmat pertama yang dikarang di Israel tidak lain kecuali kumpulan-kumpulan sejumlah besar pepatah yang serupa dengan yang lazim di luar Israel. Sebab karya-karya itu berasal dari daerah yang sama. Bagian-bagian tertua dalam kitab Amsam seluruhnya berisikan patokan-patokan kebijaksanaan manusia. Kecuali kitab Bin Sirakh dan kitab Kebijaksanaan Salomo, yang dua-duanya dikarang di kemudian hari, kitab-kitab Kebijaksanaan tidak menyinggung tema-tema yang biasa muncul dalam Perjanjian Lama, yakni: Hukum Taurat, perjanjian pemilihan, keselamatan. Para bijak di Israel tidak menyibukkan diri dengan sejarah atau masa dengan bangsanya. Sama seperti rekan- rekan mereka di daerah Timur mereka memperhatikan nasib manusia perorangan. Hanya mereka merenungkannya dalam terang sorgawi, yaitu dalam cahaya agama Yahwe. Walaupun sama asalnya dan banyak persamaannya dengan karya bangsa-bangsa lain, namun karya para bijak di Israel berbeda secara hakiki. Dan perbedaan yang mengutamakan bijak di Israel dari rekan-rekannya diluar negeri itu semakin jelas dalam perkembangan Wahyu. Hikmat yang diperlawankan dengan kebodohan di Israel menjadi kebenaran, yang lawannya ialah ketidak-benaran atau takwa yang berlawanan dengan kefasikan. Memang hikmat sejati ialah takwa dan takwa tidak lain adalah kesalehan. Kalau hikmat bangsa-bangsa Timur lain boleh dikatakan kemanusiaan, maka hikmat Israelboleh disebut peri kemanusiaan yang bertakwa.

Tetapi mutu keagamaan hikmat itu mekar sedikit demi sedikit. Istilah Ibrani "hokmah" mempunyai banyak arti. Dapat berarti ketangkasan atau keahlian dalam salah satu kejuruan, kebijaksanaan dalam utusan politik, kecerdikan dan malahan kelicikan, "know how" dan ilmu sihir. Hikmat manusiawi dapat dipakai untuk hal- hal yang baik dan yang jahat. Justru karena sifat hikmat yang tidak menentu itu, maka para nabi suka mengecam para bijaksana, seperti misalnya Yes 5:21; 29:14; Yer 8:9. Sifat yang mendua itupun menjadi sebab mengapa begitu lama orang tidak berkata tentang hikmat Allah, walaupun Dialah yang menganugerahkannya kepada manusia dan walaupun di kota Ugarit hikmat sudah dipandang sebagai sifat yang dimiliki ilah utama, yakni El Baru dalam tulisan-tulisan sehabis masa pembuangan dikatakan bahwa hanya Allahlah yang berhikmat, bahwa kebijaksanaan bersifat transenden. Dalam karya penciptaan Allah menusia dapat menatap hikmat itu, tetapi tidak sanggup menyelaminya, Ayb 28:38-39; Sir 1:1-10; 16:24 dst; Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">42:15- 43:33, dll. Dalam bagian pembukaan kitab Amsal yang panjang, Ams 1-9. Hikmat Allah bertitah sebagai pribadi; Ia berada dalam Allah sejak awal-mulanya dan bergiat bersama denganNya dalam penciptaan, lih terutama Ams 8:22-31. Dalam Ayb 28 ditanyakan bahwa Hikmat itu berbeda dengan Allah, satu-satunya yang tahu di mana Hikmat itu menyembunyikan diri. Tetapi dalam Sir 24 Hikmat itu sendiri menyebut dirinya sebagai yang berasal dari mulut Yang Mahatinggi; Ia bertempat tinggal di sorga, lalu diutus oleh Allah kepada umat Israel. Menurut Keb 7:22-8:1 hikmat itu ialah"pancaran murni dari kemuliaan Yang Mahakuasa" dan "gambar kebaikanNya". Dengan demikian maka hikmat sebagai sifat Allah menjadi terpisah dari padaNya dan mempribadi. Dalam terang kepercayaan. Perjanjian Lama ungkapan-ungkapan yang begitu tajam itu bukan hanya sarana sastera yang memperorangkan sifat ilahi, tetapi dengan tetap mengurung rahasia keterangan-keterangan itu menyiapkan pernyataan tentang adanya diri-diri ilahi. Sama seperti Hikmat itu, demikian Logos yang disebut oleh Yohanes, sekaligus berada di dalam Allah dan di luar. Semua keterangan yang penting itu membenarkan Paulus dalam memberi Kristus gelar "Hikmat Allah", 1Kor 1:24.

Oleh karena para bijaksana terutama sibuk dengan nasib masing-masing manusia, maka masalah pembalasan menjadi persoalan yang mahapenting bagi mereka. Justru di kalangan mereka dan berkat pemikirannya ajaran mengenai pembalasan itu berkembang maju. Dalam bagian-bagian kitab Amsal yang tertua, hikmat, artinya: kelakuan benar, dengan sendirinya menghasilkan kebahagiaan; sedangkan kebodohan, ialah kefasikan, memang membawa kehancuran. Begitulah Allah mengganjar orang yang baik dan menghukum yang jahat. Pendirian yang sama masih terdapat dalam bagian pembukaan kitab Amsal, Keb 3:33-35; 9:6 dan 18. Ajaran itu menjadi dasar pengajaran kebijaksanaan dan berupa kesimpulan yang diambil dari dunia yang dibimbing oleh Allah yang berhikmat dan adil. Ajaran itu dianggap berdasarkan pengalaman. Tetapi justru pengalaman itulah yang sering kali menyangkal benarnya ajaran tersebut. Hal ini secara dramatis diuraikan dalam kitab Ayub, di mana ketiga sabahat Ayub membela pendirian tradisionil itu. Tetapi atas persoalan yang diajukan oleh orang bertakwa yang menderita tidak ada jawaban yang memuaskan hati selama dipertahankannya ajaran tentang pembahasan di dunia. Dalam persoalan itu tidak ada jalan ke luar, kecuali dengan kepercayaan menyerah kepada Allah. Meskipun nadanya berbeda, kitab Pengkhotbah tidak memberi pemecahan persoalan itu secara lain. Juga Pengkhotbah menegaskan bahwa jawaban yang lazim tidak memuaskan. Ia menolak kemungkinan meminta pertanggungan jawab dari Allah atau menuntut kebahagiaan sebagai hak pribadi. Kitab Bin Sirakhpun mempertahankan pendirian yang sama. Yesus bin Sirakh memang memuji kebahagiaan orang yang berhikmat, Keb Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">14:20-15:10, tetapi ia juga dihantui oleh pemikiran akan kematian: ia tahu bahwa segala-galanya bergantung pada saat terakhir itu. Maka ia menegaskan "Mudah bagi Tuhan pada hari terakhir membalas manusia tingkah-lakunya", Keb 11;26, bdk Keb Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:13; 7:36; 28:6; 41:9.

Dalam kitab Bin Sirakh ini sudahmulai terasa ajaran tentang "nasib terakhir". Hanya ajaran itu belum juga sampai diungkapkan dengan jelas. Tidak lama sesudahnya. Dan 12:2 akan menguraikan kepercayaan akan suatu pembalasan sesudah kematian: Dalam kitab Daniel kepercayaan itu terkait pada kepercayaan akan kebangkitan orang mati. Ini sesuai dengan alam pikiran Ibrani, yang tidak tahu-menahu tentang jiwa yang dapat hidup terus, setelah terpisah dari badan. Dalam pemikiran Yahudi dikota Aleksandria perkembangannya lebih kurang sejalan, hanya lebih maju selangkah. Berkat filsafah Plato dan teorinya tentang jiwa yang tidak dapat mati maka pemikiran Ibrani dibebaskan dari belenggu-belenggunya. Kitab Kebijaksanaan Salomo dapat berkata bahwa "Allah telah menciptakan manusia untuk kebakaan". Sesudah kematiannya jiwa orang beriman dekat pada Allah, menikmati kebahagiaannya yang tidak ada kesudahannya, sedangkan orang jahat akan menerima hukumannya, Keb Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:1-12. Demikian akhirnya terpecahkan persoalan besar yang merepotkan para bijak bangsa Israel.

Bentuk sastera kebijaksanaan yang paling sederhana dan paling kuno ialah "masyal". Inilah (dalam bentuk jamak) judul kitab yang kita sebut kitab Amsal. Kata Indonesia-Arab ini (mufradnya: misal) pada pokoknya sama dengan kata Ibrani itu. Sebuah "masyal" ialah suatu ungkapan jitu yang mencari perhatian, suatu peribahasa rakyat, pepatah atau petuah. Dalam bagian-bagian kitab Amsal yang tentu hanya terdapat peribahasa-peribahasa pendek saja. tetapi kemudian "masyal" itu berkembang menjadi perumpamaan atau kiasan, uraian dan risalat. Perkembangan yang sudah terasa dalam bagian-bagian pendek yang ditambahkan pada kitab Amsal dan terlebih dalam bagian pembukaannya, Ams 1-9, ini, dengan cepat berkembang dalam kitab-kitab Kebijaksanaan yang berikut. Memang kitab Ayub dan kitab Kebijaksanaan Salomo merupakan karya sastera yang besar.

Dengan menembus segala bentuk sastera, bahkan yang paling sederhana sekalipun, orang harus mencari asal-usul hikmat itu dalam hidup kekeluargaan dan kesukaan. Pengalaman-pengalaman mengenai dunia dan manusia yang turun-temurun terkumpul akhirnya terungkap dalam bentuk petuah dan peribahasa yang lazim di kalangan kaum tani, dalam wejangan-wejangan pendek yang bertujuan membina akhlak dan menjadi patokan bagi kelakuan yang baik. Demikian asal-usul perumusan hukum adat yang pertama, yang kadang-kadang isi dan bukan saja bentuknya mengingatkan pepatah-pepatah kebijaksanaan itu. Hikmat kerakyatan itu berkembang terus sejalan dengan terbentuknya kumpulan petuah kebijaksanaan. Hikmat kerakyatan itu berkembang terus sejalan dengan terbentuknya kumpulan petuah kebijaksanaan. Hikmat kerakyatan misalnya mencetuskan pepatah-pepatah yang terdapat dalam 1 Sam 24:14; 1 Raj 20:11, dan dongeng-dongeng dalam Hak 9:8-15 dan 2Raj 14:9. Malahan para nabipun tidak segan memanfaatkan kebijaksanaan rakyat itu, Yes 28:24-28; Yer 17:5-11.

Pendeknya pepatah-pepatah yang mudah dapat dihafal itu menjadi pengajaran lisan. Ayah atau ibu mengajarkan kepada anak, Ams 1:8; 4:1; 31:1; Sir 3:1. Para guru kebijaksanaan akan menyapa anak didiknya sebagai "anakku", sebab para bijaksana memang memimpin sekolah, Sir 51:23; bdk Ams 7:1 dst; Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">9:1 dst. Hikmat manjadi urusan khusus golongan terdidik, dan golongan itu oleh karenanya juga pandai menulis. Para bijaksana dan para penulis dalam Yer 8;8-9 tampil berdampingan. Sir 38:24-39:11 memuji para penulis yang mendapat kesempatan untuk memperoleh hikmat, sampai memperlawankan para penulis denganpara tukang dan pekerja. Dari kalangan para penulis yang berhikmat berasallah pegawai-pegawai raja dan justru terutama di istana raja berkembanglah kebijaksanaan itu. Semuanya itu juga dijumpai di negeri-negeri Timur yang lain, seperti di negeri Mesir atau Mesopotamia, di mana hikmat dibina dan berkembang. Satu dari kumpulan-kumpulan amsal salomo yang terdapat dalam kitab Amsal memang disusun oleh "pegawai- pegawai Hizkia, raja Yehuda", Ams 25:1. Tetapi para bijaksana bukan hanya pengumpul pepatah-pepatah yang sudah tersedia;mereka juga menciptakan dan menuliskannya. Dua karya sastera yang barangkali dikerjakan di istana Salomo, yaitu riwayat Yusuf dan kisah mengenai penggantian takhta Daud, boleh dianggap sebagai karya kebijaksanaan.

Kalangan para berhikmat cukup berbeda dengan kalangan-kalangan yang menghasilkan karanga-karangan para imam dan kitab para nabi. Yer 18:18 memang menyebut tiga macam golongan, yaitu: para imam, para bijaksana dan para nabi. Berbeda-beda pula apa yang menyibukkan ketiga golongan itu. Para bijaksana itu tidak begitu memperhatikan ibadat dan tidak begitu tergerak hatinya oleh kemalangan- kemalangan yang melanda bangsa mereka dan mereka juga tidak tertarik kepada pengharapan yang menyemangati bangsa Israel. Tetapi mulai dari masa pembuangan ketiga golongan tersebut saling bertemu dan bercampur. Bagian pembukaan kitab Amsal bernada kenabian; Bin Sirakh, Sir 44-49, dan kitab Kebijaksanaan Salomo, Sal 10-19, dengan panjang lebar merenungkan sejarah kudus; Bin Sirakh menjunjung tinggi imamat, menaruh minat besar kepada ibadat dan akhirnya ia menyamakan Hikmat dengan hukum Taurat, Sir 24:23-34. Inilah persekutuan antara penulis (yang berhikmat) dengan ahli Kitab, seperti yang kita jumpai di masa pewartaan Injil.

Penggabungan hikmat dengan hukum Taurat itu dalam Perjanjian Lama merupakan akhir suatu perkembangan yang menempuh perjalanan yang makan banyak waktu. Pada awal perkembangan itu ditemukan raja Salomo. Dalam hal inipun ada kesamaan antara bangsa Israel dan dunia Timur pada umumnya. Ada dua tulisan hikmat Mesir yang dikatakan berupa pengajaran yang pernah diberikan oleh seorang Firaun kepada puteranya. Mulai dengan 1Raj 4:29-34, bdk 1Raj 3:9-12, 28; 10:1-9, sampai dengan Sir 47:12-17, raja Salomo dipuji sebagai orang berhikmat yang paling besar di Israel. Dengan dialah dihubungkan kedua kumpulan pepatah-pepatah yang paling penting dan tertua dalam kitab Amsal, 10-22 dan 25-29. Inipun sebabnya mengapa seluruh kitab Amsal diberi judul: Amsal-amsal Salomo bin Daud, Ams 1:1 Nama Salomo itu juga dicantumkan pada kitab Pengkhotbah, kitab Kebijaksanaan Salomo dan kitab Kidung Agung. Seluruh pengajaran hikmat- kebijaksanaan yang tahap demi tahap disampaikan kepada umat terpilih mempersiapkan penyataan Hikmat yang telah menjadi daging Hanya "yang ada di sini lebih dari pada Salomo", Mat 12:42.

(0.92) (Est 8:1) (sh: Tuhan di balik sukacita dan sorak-sorai umat-Nya (Kamis, 28 Juni 2001))
Tuhan di balik sukacita dan sorak-sorai umat-Nya

Tuhan yang mencintai dan turut merasakan penderitaan umat-Nya membangkitkan pemimpin yang memiliki kepekaan dan kepedulian yang mendalam untuk menyelamatkan umat- Nya, Mordekhai, dan Ester. Mereka adalah pemimpin yang menyadari bahwa sukacita dan kemenangan yang Tuhan berikan, bukan hanya ditujukan bagi kepuasan diri mereka, tetapi sekaligus merupakan suatu panggilan untuk menjadi berkat yang mendatangkan keselamatan bagi bangsanya dan penghukuman bagi Amalek.

Tuhan meninggikan Ester gadis malang yang menjadi ratu, mendapat kasih yang berlimpah-limpah dan dicintai banyak orang (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">2:15, 17), hidup tentram dalam istana dan tidak kekurangan suatu apa pun, namun berkali-kali ia mempertaruhkan nyawanya untuk menyelamatkan orang-orang sebangsanya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">5:2; 8:3-6). Tuhan mengangkat Mordekhai yang melolong-lolong dengan nyaring dan pedih, mengoyakkan pakaiannya dan mengenakan kain kabung serta abu di atas kepalanya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">4:1) menjadi seseorang yang keluar dari hadapan raja memakai pakaian kerajaan dengan tajuk emas yang mengagumkan (15). Ia dulu ditindas melalui cincin meterai raja, kini menyelamatkan rakyatnya dengan cincin meterai raja (9- 14). Melalui pemimpin seperti inilah Tuhan mengubahkan kegentaran dan ratap tangis di bawah kekuasaan Haman menjadi tempik sorak-sorai di bawah kekuasaan Mordekhai (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">3:15; 8:15), sehingga mereka yang dulu tertekan, menderita, tersingkir, dan terhina, kini mendapatkan kelapangan hati, sukacita, kegirangan, dan kehormatan (16). Dulu mereka menyembunyikan identitas dirinya, kini banyak orang dari bangsa-bangsa lain mengaku dirinya Yahudi (17). Tuhan Raja segala raja mengubah ratap tangis umat-Nya menjadi sukacita. Inilah sukacita kita di tengah ratap tangis bangsa "melalui kemenangan orang benar, Tuhan akan membangkitkan semangat umat- Nya"

Renungkan: Apakah Anda memiliki iman dan pengharapan kepada Allah yang mengubah ratap tangis menjadi sukacita? Bagaimana Anda berespons terhadap kemenangan dan sukacita yang sudah Tuhan berikan, bukan berdasarkan kemenangan secara fisik namun memandang kepada Dia yang memungkinkan kemenangan itu terjadi? Sadari dan akuilah bahwa Dia ada di balik sorak-sorai dan sukacita umat- Nya.

(0.92) (Est 9:20) (sh: Tuhan di balik apa yang terlihat (Sabtu, 30 Juni 2001))
Tuhan di balik apa yang terlihat

Seberapa jauhkah kita menyadari kehadiran Tuhan di dalam hidup kita? Di tengah dunia yang semakin sekular seperti sekarang ini, seringkali kita tanpa sadar telah menggeser Tuhan serta melupakan karya-Nya bagi kita. Untuk mencari jawab dan memperdalam akar rohani kita marilah kita belajar dari kisah Ester -- suatu catatan tentang karya dan kepedulian Tuhan yang melampaui batas pengamatan manusia.

Nama Tuhan sama sekali tidak tercantum dalam kitab ini, namun demikian umat-Nya dapat melihat dan mengalami karya-Nya (26). Ia memegang kendali atas kekuasaan Ahasyweros yang menanggungkan beban berat bagi rakyat dengan menempatkan Mordekhai yang disukai, mengikhtiarkan yang baik, dan berbicara untuk keselamatan bangsanya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:1-3). Ia mengubah kesedihan umat-Nya menjadi sukacita, dan secara rahasia memelihara serta memakai mereka sebagai alat pelaksana keadilan-Nya (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">9:22,24-25). Hal ini menegaskan bahwa Tuhan yang ada di balik yang terlihat adalah Raja di atas segala raja yang mengatasi kekuasaan dan kebesaran Ahasyweros, Ia menggenapi rencana penyelamatan umat Allah dan melaksanakan penghukuman bagi bangsa Amalek. Umat-Nya menemukan persekutuan melalui karya-Nya. Pengalaman pembebasan orang Yahudi oleh "Tuhan yang ada di balik hal-hal yang dapat dilihat", ini merupakan bagian penting dalam sejarah orang Yahudi. Hal ini haruslah diingat serta diteruskan dari generasi ke generasi (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">9:27, 31) oleh semua orang Yahudi di mana pun mereka berada (Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">9:21, 27, 28) sebagai sumber pengharapan dan juga unsur pemersatu orang Yahudi dari seluruh generasi dan daerah. Karena nilai penting pengalaman ini, maka pelaksanaannya diatur dan ditetapkan (9:22, 26-31) sehingga tidak kehilangan maknanya.

Jikalau kita sebagai umat Tuhan di Indonesia mengalami beban yang berat pada saat ini, itu merupakan suatu kesempatan bagi kita untuk memiliki pengalaman penyertaan Tuhan yang nyata dan mahal, yang dapat kita wariskan kepada generasi sesudah kita.

Renungkan: Dia yang ada di balik realita kehidupan kita mempedulikan dan memiliki rencana bagi kita. Ingatlah apa yang sudah Tuhan perbuat dalam hidup Anda dan temukan persekutuan dengan Dia di sana! Ingatlah dan rayakanlah!

Pesan Redaksi

Dalam pandangannya tentang kebajikan dan etika, Aristoteles mengemukakan bahwa: kebajikan-kebajikan utama yang membentuk suatu masyarakat yang beradab adalah keberanian, tahan diri, hikmat, dan keadilan. Berbeda dari Plato yang menekankan perenungan rasio,

Aristoteles melihat keberadaan kebajikan-kebajikan tersebut pada seseorang adalah akibat dari tindakan mempraktikkannya secara nyata.

Apabila gerak pada Plato adalah manusia melalui rasionya bergerak balik kepada Forma yang menjadi sumber jiwa manusia beroleh harkatnya, pada Aristoteles Sebab Pertama mewujud di dalam tindakan-tindakan nyata yang kita lakukan. Tingkah laku rasional adalah ungkapan dari gerak Sang Sebab Pertama di dalam keberadaan nyata dunia ini, yang kemudian mengkristal di dalam bentuk aksi- aksi tindak nyata kita sehari-hari.

Bila kedua pendapat ini kita sederhanakan, akan tampil secara indah di dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang 2 bersaudara dalam sikapnya terhadap perintah ayah mereka. Memang perumpamaan ini tidak sepenuhnya memasalahkan kontradiksi yang mungkin terjadi antara penekanan pada aspek perenungan dan pengertian di satu pihak dan aspek menekankan praktek nyata di pihak lain. Namun jelas bahwa kedua hal tersebut bisa jadi bertentangan dan tidak serasi dalam hidup kita. Tuhan menginginkan kita tidak hanya merenungkan dan memahami firman-Nya, tetapi konsekuen melakukannya secara konkrit dalam kehidupan kita sehari-hari.

Paul Hidayat, Direktur

Pengantar Kitab Kolose ======================

Kitab Kolose yang berbentuk surat berisi nilai-nilai kebenaran yang luar biasa bagi kehidupan Kristen masa kini sebab ketika Paulus memperingatkan jemaat Kolose yang mulai terpengaruh oleh ajaran sesat, ia memaparkan secara mendalam dan jelas Pribadi Yesus Kristus dan peran pusat-Nya dalam rencana Allah dan juga dalam kehidupan Kristen sehari-hari. Inilah yang membuat kitab Kolose merupakan salah satu surat dalam Perjanjian Baru yang sangat penting.

Penulis, waktu, dan tujuan penulisan ------------------------------------

Paulus menulis surat Kolose (ayat Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">1:1; 4:18), ketika ia berada dalam penjara di Roma antara tahun 59-61. Ia bukanlah pendiri jemaat Kolose bahkan ia tidak pernah mengunjungi kota Kolose (ayat Seperti+AND+book%3A17&tab=notes" ver="">2:1). Pendiri jemaat Kolose adalah Epafras yang adalah seorang penduduk Kolose.

Tujuan Paulus menulis surat ini adalah untuk memerangi pengajaran sesat yang merasuki kehidupan jemaat di sana. Walaupun tidak diketahui secara pasti bentuk ajaran sesat itu, namun ajaran ini mengandung unsur-unsur agama asing dan Yudaisme yang diselubungi dengan unsur- unsur kekristenan. Ajaran sesat ini menolak keutamaan Kristus dan menganjurkan gaya hidup yang bertentangan dengan iman kristen.

Berdasarkan hal-hal yang dinyatakan oleh Paulus, banyak ahli berpendapat bahwa ajaran sesat yang melanda jemaat di Kolose adalah bentuk awal dari Gnosticism.

Ringkasan ajaran sesat yang ada di Kolose dan respons Paulus: ------------------------------------------------------------- o Dunia materi adalah jahat; Allah adalah roh. Allah tidak mempunyai hubungan dengan materi —> Kolose 1:16 o Karena Yesus menciptakan dunia, Dia bukanlah Allah —> Kolose 1:19 o Apa yang terjadi dalam dunia materi tidak akan membuat perbedaan secara rohani —> Kolose 1:21-22 o Manusia tidak perlu diperdamaikan dengan Allah. Tubuh kita adalah jahat karena terdiri dari materi. Pikiran kita bukanlah materi karena itu baik —> Kolose 2:13 o Kehidupan rohani yang benar adalah persoalan kehidupan batin seseorang. Manusia mendatangi Allah dengan pikiran dan batin dan apa yang manusia lakukan tidak berhubungan dengan-Nya —> Kolose 2:12,17



TIP #19: Centang "Pencarian Tepat" pada Pencarian Universal untuk pencarian teks alkitab tanpa keluarga katanya. [SEMUA]
dibuat dalam 0.06 detik
dipersembahkan oleh YLSA