Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  25. Puisi di Alkitab > 
IV. Kitab-Kitab Syair. 
sembunyikan teks

Enam kitab di Alkitab berisi puisi liris dan puisi yang singkat dan tegas. Kitab-kitab yang liris (syair nyanyian) adalah kitab Mazmur, Ratapan, dan Kidung Agung. Kitab-kitab yang berisi puisi yang singkat dan tegas (syair hikmat) adalah kitab Amsal, Ayub, dan Pengkhotbah.

 A. Kitab Mazmur.
sembunyikan teks

Kitab terbesar yang berisi puisi Perjanjian Lama adalah Kitab Mazmur. Para ahli Yahudi menempatkan kitab ini di bagian Alkitab yang mereka sebut "Tulisan-Tulisan."

Kitab Mazmur terpisah dari semua sastra puisi lain di Timur Dekat purba karena menaikkan puji-pujian kepada Allah dan menyatakan kehendak Allah kepada umat-Nya. Syair-syair dari bangsa-bangsa lain di Timur Dekat tidak berbuat demikian dan memang tidak dapat berbuat demikian.

Perjanjian Baru lebih sering mengutip Kitab Mazmur daripada bagian lain dari Perjanjian Lama kecuali Kitab Yesaya. Kitab Mazmur membangun atas gagasan-gagasan teologis yang terdapat dalam kitab-kitab Pentateukh, serta menerangkan dan menerapkan hukum-hukum Musa. Kitab Mazmur juga membentuk hubungan yang kuat dengan kitab-kitab nubuat, karena sering kali memperingatkan umat Israel tentang ketidaktaatan mereka kepada Taurat Allah. Beberapa Mazmur juga berisi nubuat (mis., Mzm. 2).

 B. Kitab Ratapan.
sembunyikan teks

Para ahli Yahudi menempatkan Kitab Ratapan juga dalam bagian Perjanjian Lama yang disebut "Tulisan-Tulisan." Orang Yahudi membaca Kitab Ratapan pada pertengahan bulan Juli pada peringatan hari penghancuran bait suci pada tahun 586 sM. Dalam versi Perjanjian Lama dalam bahasa Indonesia, Kitab Ratapan terdapat sesudah Kitab Yeremia oleh sebab para penerjemah percaya bahwa Yeremia juga telah menulis Kitab Ratapan. Beberapa ahli masa kini menyangsikan bahwa Yeremia telah menulis kitab tersebut, namun penyelidikan yang diadakan belakangan ini tentang teks Perjanjian Lama menganjurkan bahwa ia benar-benar telah menulisnya.

Pasal 1, 2, dan 4 adalah ratapan pribadi penulis atas kejatuhan Yerusalem; pasal 3 dan 5 mengungkapkan kesedihan seluruh bangsa itu karena pembinasaan kota suci mereka. Tiap pasal kitab ini mempunyai tema kesedihan yang berbeda: (1) penghancuran dan kesengsaraan Yerusalem, (2) murka Tuhan terhadap umat-Nya, (3) alasan-alasan mengapa bangsa-bangsa harus merasa terhibur, (4) perbedaan antara masa lalu dan masa kini Israel, dan (5) bangsa itu memohon belas kasihan dari Tuhan.

Beberapa tema yang kurang penting terdapat juga dalam kitab ini. Ratapan 2:2-22 menggambarkan kengerian pengepungan terhadap Yerusalem. Ratapan 2:19 dan 4:12-16 mengutuk dosa-dosa para imam dan nabi. Ratapan 4:17 mencerca Mesir karena tidak membantu Israel mempertahankan dirinya terhadap pasukan-pasukan Babel. Ratapan 3:40-42 mengakui dosa bangsa itu, sedangkan Ratapan 3:22-26 menyatakan harapan Israel di dalam Tuhan.

Kitab Ratapan telah ditulis dalam gaya puisi yang sangat indah. Setiap pasal (kecuali pasal 5) menggunakan irama qina yang khas dan berbentuk akrostik, Pasal kelima mengandung 22 baris dan tidak akrostik, melainkan menurut alfabet, jumlah barisnya sama dengan jumlah huruf dalam alfabet Ibrani. Dalam tiga pasal yang pertama terdapat tiga baris puisi untuk setiap huruf dari akrostik, sedangkan pasal keempat mempunyai dua baris untuk tiap huruf. Setiap syair dari kelima syair itu mempunyai corak puitis tersendiri dan suatu tema tersendiri. Tidak ada struktur yang menyatukan kitab itu secara keseluruhan. Tiap syair itu sendiri sudah lengkap. Gaya syair-syair tersebut sangat mirip dengan syair-syair di Kitab Yeremia. Ini terutama benar berkenaan dengan tamsil-tamsil tertentu - mis., anak dara Israel, naik banding kepada hakim yang benar, dan lain sebagainya.77

Kitab Ratapan mencerminkan suatu tradisi lama dari puisi ratapan Timur Dekat di zaman purba. Bahkan sebelum tahun 2000 sM, bangsa Sumer telah meratapi penghancuran kota Ur. Ratapan-ratapan yang serupa juga terdapat dalam sastra Babilonia. Hal ini terutama penting karena sastra puitis Israel terutama ditulis menurut tradisi Mesopotamia.

 C. Kidung Agung.
sembunyikan teks

Orang Yahudi membaca Kitab ini pada Hari Raya Paskah pada bulan April sebab mereka merasa kitab ini secara simbolis menggambarkan kasih Allah kepada Israel.

Tradisi menyatakan bahwa Salomo menulis kitab ini, tetapi judul bahasa Ibrani dapat juga berarti "Kidung Agung yang mengacu kepada Salomo." Oleh karena itu beberapa ahli Alkitab berpendapat bahwa kitab ini ditulis kemudian daripada Salomo dan dipersembahkan kepadanya.

Berbeda dengan semua kitab lain di Perjanjian Lama kecuali kitab Ester, Kidung Agung tidak mengacu kepada Allah (kecuali kita membaca Kid. 8:6 demikian). Kitab ini juga tidak menyebutkan upacara kurban, bait suci, para imam, nabi, atau agama pada umumnya. Perjanjian Baru tidak mengutip Kidung Agung. Kitab ini menyebutkan banyak tanaman dan herba asing yang terdapat di Palestina utara pada zaman Perjanjian Lama, dan menggunakan banyak frase bahasa Aram kuno yang sudah lenyap dari bahasa itu pada masa Yesus.

Pada permukaannya, Kidung Agung menggambarkan kasih yang asyik berahi. Hal ini menyebabkan banyak ahli Alkitab berselisih pendapat mengenai makna kitab tersebut. Kebanyakan orang Kristen mengikuti kepercayaan tradisional bahwa kitab ini bercerita tentang kasih Allah melalui alegori atau perumpamaan (sebuah cerita simbolis), tetapi orang lain berpendapat bahwa ini hanya sekumpulan syair cinta orang Ibrani yang memperingati kasih sayang antara mempelai wanita dan mempelai pria. Ketidakpastian ini menjadikan Kidung Agung kitab yang paling kontroversial di Perjanjian Lama. Gaya sastra kitab ini banyak diperdebatkan. Ada yang mengatakan bahwa kitab ini sebuah drama. Akan tetapi, berbeda dengan gaya drama kitab ini tidak memperlihatkan kronologi atau rangkaian peristiwa yang jelas. Apabila dilakonkan maka hanya akan terlihat adegan lepas adegan percintaan yang asyik berahi. Hal ini sudah pasti bukan struktur drama kuno. Oleh karena itu, tampaknya kitab ini suatu kumpulan syair-syair yang berkenaan dengan penghidupan penggembala yang semula mungkin diiringi musik (dan, karena itu, adalah syair-syair liris).

Struktur kitab ini terpotong-potong. Karena subyek dan pembicaranya sering kali berubah secara mendadak, para ahli tidak dapat memastikan strukturnya. (Bagaimana orang dapat menganalisis struktur dan/atau perkembangan pemikiran apabila ia tidak dapat menetapkan siapa pembicaranya?)

Metode sastra kitab ini sama dengan aliran teknik kesadaran. Metode ini menyingkapkan berbagai pikiran dalam hati pembicara, serta memusatkan perhatian pada apa yang dipikirkannya dan bukan kepada apa yang benar-benar terjadi padanya. Khususnya, sang penyair menggunakan baik bentuk syair (mengungkapkan perasaan pribadinya) maupun bentuk dialog.

Syair-syair dalam kitab ini menyajikan tema-tema penghidupan penggembala yang tradisional. Ada ajakan tradisional untuk bercinta (Kid. 2:10-15; 7:10-13), pujian terhadap kecantikan dan sifat-sifat baik sang kekasih (bdg. 2:1-3; 4:1-15), suatu gambaran tentang kenikmatan percintaan (1:14, 16-17), dan suatu keluhan tentang cinta yang tidak terwujud (8:1-4). Syair penggembalaan sering kali dipakai untuk berbicara mengenai kasih manusia.



TIP #11: Klik ikon untuk membuka halaman ramah cetak. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA