Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  24. Sastra Alkitab > 
VI. Sastra Apokaliptik. 
sembunyikan teks

Dalam pengertian yang paling luas, apokaliptik mencakup semua sastra agama yang penuh dengan visiun tentang Allah atau wahyu dari Allah mengenai kesudahan zaman jahat yang sekarang ini. Dalam arti ini, apokaliptik terdiri atas bagian-bagian tertentu dari kitab Yoel, Amos, Zakharia, Daniel 7-12, percakapan Yesus di Bukit Zaitun (Mat. 24-25), I Tesalonika 4:13 dst., kitab Wahyu, dan beberapa karya sastra di luar Alkitab.

 A. Daniel.
sembunyikan teks

Daniel 7-12 adalah prototipe sastra apokaliptik. Para penulis apokaliptis mengambil ciri-ciri dan tema-tema sastra utama mereka dari kitab Daniel.

Pertama, Daniel menyajikan suatu dualisme kosmis - yaitu, ada dua kekuatan yang hebat (Allah dan kejahatan) yang saling memiting dalam pergulatan yang dahsyat. Daniel mengemukakan banyak sekali visiun dan penyataan dalam bahasa yang sangat simbolis, yang sering kali menunjuk kepada tokoh-tokoh mitologi kuno dan simbolisme kenabian Perjanjian Lama. Daniel menggunakan angka, binatang, dan benda mati sebagai simbol.

Ia mengutuk kejahatan zaman sekarang meskipun kelihatannya bahwa kuasa-kuasa kejahatan itu yang menang. Jelaslah bahwa dalam kerajaan yang lebih tinggi kuasa-kuasa kejahatan kalah dalam perang. Tekanan Daniel yang tegas pada kedaulatan ilahi memperlihatkan bahwa hasil peperangan ini sudah pasti. Sebagai tema, maka pandangannya yang pesimistis tentang situasi politik yang sekarang diimbangi oleh pandangan optimistis ini tentang kedaulatan ilahi dan hasil sejarah dunia. la tahu bahwa pada zaman yang akan datang Allah akan menang dan akan memberkati orang yang setia.

Suatu tema apokaliptik lain di kitab Daniel adalah kebangkitan orang benar dan hukuman orang fasik (Dan. 12). Yang juga menonjol dalam kitab Daniel adalah tokoh "Anak Manusia," oknum adikodrati yang sudah ada sebelum penciptaan dunia dan yang tampil dalam rupa manusia.

Karena kitab ini penuh dengan tokoh-tokoh atau simbol-simbol misterius, maka sastra apokaliptik seperti kitab Daniel lebih sulit untuk ditafsirkan daripada sastra lain di Perjanjian Lama.

 B. Apokaliptik Intertestamental. 
sembunyikan teks

Apokaliptik intertestamental berbeda dari apokaliptik Perjanjian Lama dalam beberapa kecenderungan. Apokaliptik intertestamental lebih condong kepada determinisme dan pesimisme. Ia mendorong agar para pembacanya bersikap pasif yang etis - yaitu, agar orang percaya tidak bergumul melawan kuasa-kuasa kejahatan, tetapi membiarkan Allah bertindak terhadap mereka. Apokaliptik ini juga mengembangkan simbolisme dari kitab Daniel. Naskah-naskah Laut Mati memuat banyak sekali materi apokaliptik dari kurun waktu ini.

 C. Wahyu.
sembunyikan teks

Kitab Wahyu (yang mempunyai bentuk sastra yang unik, yaitu gaya surat ditambah visiun-visiun mengenai masa yang akan datang) meminjam dari apokaliptik Perjanjian Lama dan intertestamental, dan juga dari sastra kenabian Perjanjian Lama secara keseluruhan. Misalnya, kitab ini menyoroti Anak Manusia, kedatangan Kristus kali kedua, puncak kemuliaan Kerajaan Allah (Why. 21), dan kebangkitan untuk mengalami hukum yang terakhir (Why. 20:11-15). Dalam apokaliptik intertestamental kita juga menemukan seorang perempuan yang menggambarkan suatu bangsa dan sebuah kota (bdg. Why. 17:18), tanduk-tanduk yang menggambarkan kekuasaan dan mata yang menggambarkan pengertian (bdg. Why. 5:6), sangkakala yang menandakan suara ilahi (bdg. Why. 8:6-11:19), jubah putih yang melambangkan kemuliaan zaman yang akan datang (bdg. Why. 6:11), mahkota yang menggambarkan kekuasaan (bdg. Why. 6:2), angka tujuh yang melambangkan kelimpahan atau kesempurnaan (bdg. Why. 5:1; 8:6), angka 12 yang melambangkan umat Allah yang sempurna (bdg. Why. 7:5-8; 22:2), dan sering munculnya malaikat-malaikat (bdg. Why. 7:1; 10:1).

Tulisan apokaliptik seperti ini adalah semacam kode, suatu cara berkomunikasi yang tidak akan dimengerti oleh pihak musuh yang tidak percaya. Orang yang menulis sastra seperti ini dapat mendorong para pembacanya untuk menentang negara yang kafir dan menubuatkan keruntuhannya di bawah hukuman ilahi, tanpa takut akan mendapat tindakan balasan dari pemerintah. Sering kali pembaca pada zaman sekarang mengabaikan aspek ini dari gaya apokaliptik, seperti yang dilakukan oleh orang kafir pada zaman dahulu. Gaya sastra seperti ini dirancang untuk menyatakan pesannya kepada orang dalam kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh orang luar.

Suatu sifat yang menarik dari gaya bahasa kitab Wahyu adalah kontrasnya yang mencolok. Ini meliputi kontras dalam konflik (mis., Allah berjuang melawan Iblis, orang saleh melawan para pengikut binatang, mempelai wanita Kristus melawan pelacur Babel), dalam kiasan (mis., Anak Domba dan naga, pelacur yang cantik tetapi penuh tipu daya (yang mematikan), Anak Domba yang adalah Singa), dalam tindakan (mis., penegakan Yerusalem baru dan penghancuran Babel, Iblis yang diizinkan menyakiti orang-orang yang menjadi pengikutnya, tetapi tidak dapat menyakiti para pengikut Anak Domba), dalam tempat (mis., surga dan bumi, daratan dan Taut) dan dalam waktu (mis., waktu dan kekekalan). Kontras-kontras ini dengan gamblang menyampaikan bahwa kekuatan-kekuatan yang sangat besar dari kebaikan dan kejahatan sedang bertempur di dalam dunia ini, dan kita tidak dapat berharap akan ada kestabilan sebelum tiba hari kemenangan Kristus.



TIP #06: Pada Tampilan Alkitab, Tampilan Daftar Ayat dan Bacaan Ayat Harian, seret panel kuning untuk menyesuaikan layar Anda. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA