Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  3. Teks dan Terjemahan > 
II. Teks Perjanjian Baru. 
sembunyikan teks

Para penulis Perjanjian Baru menyelesaikan pekerjaan mereka dalam waktu sekitar enam puluh tahun sesudah penyaliban Yesus. Karena ditulis pada suatu zaman ketika kesusastraan tumbuh dengan subur, dan dari mulanya terus-menerus disalin, maka teks Perjanjian Baru telah bertahan dengan baik selama berabad-abad. J.H. Greenlee menaksir bahwa pada keseluruhannya kita memiliki 15.000 manuskrip lengkap dan kutipan Perjanjian Baru dewasa ini.a href="#" class="resource_fn" id="tf_15">15

 A. Pengilhaman Perjanjian Baru.
sembunyikan teks

Allah mendorong para penulis Perjanjian Baru agar dengan setia mencatat Firman-Nya sebagaimana yang dilakukan-Nya dengan para penulis Perjanjian Lama. Sering kali Rasul Paulus dan penulis kitab-kitab Injil menunjukkan bahwa mereka menyadari apa yang sedang dilakukan Roh Kudus melalui mereka. Kita akan mempelajari kembali beberapa dari teks-teks ini dengan singkat sebab daripadanya kita memperoleh pengertian yang berharga tentang cara Allah mengilhami Firman-Nya yang tertulis.

Lukas memulai Injilnya dengan mengatakan bahwa "banyak orang" telah berusaha untuk menulis sebuah kisah tentang kehidupan dan pelayanan Yesus, tetapi ia sendiri memutuskan untuk membukukannya setelah "menyelidiki segala peristiwa itu dengan saksama dari asal mulanya" (Luk. 1:3). Demikian pula, kita diyakinkan bahwa kita dapat mempercayai Injil Yohanes karena ia seorang saksi mata dari kejadian-kejadian yang dicatatnya (Yoh. 21:24). Allah memberikan kesempatan kepada para penulis Injil untuk menyaksikan dari dekat peristiwa-peristiwa dari pelayanan Yesus dan pengertian sempurna tentang peristiwa-peristiwa itu; hal ini secara khusus membuat mereka mampu untuk melakukan tugas penulisan mereka.

Sama halnya, ketika menulis kepada jemaat-jemaat mengenai soal-soal praktis yang berkaitan dengan moral dan etika (I Kor. 4:14; 5:9; II Kor. 9:1), Paulus mengetahui bahwa ia sedang mengungkapkan apa yang harus ditulisnya menurut pimpinan Roh Kudus. Ia berkata tentang pengarahannya yang terperinci mengenai pelaksanaan ibadah dalam gereja Korintus, "Jika seorang menganggap dirinya nabi atau orang yang mendapat karunia rohani, ia harus sadar bahwa apa yang kukatakan kepadamu adalah perintah Tuhan" (I Kor. 14:37). Ia seorang rasul yaitu orang yang diberi kemampuan oleh Tuhan untuk mengumumkan hikmat-Nya yang telah dinyatakan "dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh" (I Kor. 2:13). Oleh karena itu, apa yang ditetapkan oleh Paulus harus diterima sebagai perintah ilahi. Seperti yang dikatakan oleh Petrus, Paulus telah menulis "menurut hikmat yang dikaruniakan kepadanya" (II Ptr. 3:15).

Juga, Rasul Yohanes menerangkan bahwa ia tidak menulis kepada jemaat-jemaat untuk menyatakan perintah-perintah baru dari Allah (I Yoh. 2:7-8). Ia pun tidak menulis oleh sebab pembacanya tidak mengetahui kebenaran yang telah dinyatakan oleh Kristus (I Yoh. 2:21). Sebaliknya, ia menulis karena para pembacanya telah mengetahui kebenaran dan surat-suratnya akan mendorong mereka untuk mematuhi kebenaran itu (I Yoh. 1:4; 2:21b). Hal ini menunjukkan bahwa Roh Kudus mengilhami para penulis Perjanjian Baru untuk bekerja dalam keselarasan yang sempurna dengan kebenaran yang telah dinyatakan. Mereka tahu bahwa kebenaran yang sedang mereka ungkapkan dan jalankan itu berasal dari Kristus sendiri.

 B. Bagaimana Kita Menerima Perjanjian Baru. 
sembunyikan teks

Kita memiliki banyak penggalan naskah Perjanjian Baru yang ditulis pada abad ke-2 M. Beberapa di antaranya ditulis pada ostrakon (pecahan-pecahan tembikar yang dipakai oleh para penulis zaman dahulu sebagai sejenis kertas surat yang murah) dan talisman (anting-anting, gelang, dan benda-benda lain yang dipakai oleh orang Kristen yang mula-mula untuk menangkal roh-roh jahat). Akan tetapi, benda-benda ini hanya berisi cuplikan yang sangat singkat dari Perjanjian Baru, sehingga hanya memberikan informasi sedikit tentang naskah yang asli.

Yang lebih penting adalah manuskrip-manuskrip Perjanjian Baru yang ditulis atas papirus. Kebanyakan manuskrip ini yang ditulis pada sejenis kertas yang dibuat dari batang-batang papirus, yang diberi cat penutup yang pudar, bertarikh dari abad ke-3 dan ke-4 sesudah Kristus.

Penggalan paling tua yang diketahui dari sebuah manuskrip Perjanjian Baru atas papirus bertarikh sekitar tahun 125 atau 140 M. Umumnya penggalan ini disebut Fragmen Rylands karena disimpan di Perpustakaan John Rylands di Manchester, Inggris. Ukuran fragmen ini hanya 6 cm x 9 cm dan berisi sebagian dari Yoh. 18:32-33, 37-38. Para arkeolog memperoleh Fragmen Rylands ini dari reruntuhan sebuah kota Yunani di Mesir purba. Meskipun tarikhnya dari zaman dahulu, fragmen itu terlalu kecil untuk memberikan banyak informasi tentang teks Injil Yohanes pada abad ke-2.

Manuskrip papirus tertua berikutnya adalah salah satu manuskrip yang termasuk kelompok Papirus Chester Beatty karena sebagian besar kelompok ini dimiliki oleh Chester Beatty Museum di Dublin. Manuskrip ini terdiri atas 76 lembar papirus (46 di Dublin, 30 di Universitas Michigan). Tiap lembar berukuran kira-kira 16 1/2 cm x 28 cm dan berisi sekitar 25 baris tulisan. Para ahli tulisan tangan berpendapat bahwa manuskrip ini ditulis pada abad ke-2, dan berisi bagian terbesar dari surat-surat Paulus.

Satu manuskrip lain yang penting disebut Papirus Bodmer (atau Bodmer 11). Manuskrip ini yang juga ditulis sekitar 150-175 M berisi pasal 1-14 dari Injil Yohanes dan cuplikan-cuplikan dari tujuh pasal yang terakhir. Manuskrip ini disimpan dalam perpustakaan pribadi Martin Bodmer di Cologny, Swis.

Jose O'Callaghan dari Barcelona, seorang profesor di Lembaga Kepausan di Roma, berpendapat bahwa beberapa penggalan dari Goa 7 di Qumran berisi sebagian dari Injil Markus; kalau hal itu benar, maka penggalan-penggalan itu adalah temuan Perjanjian Baru yang tertua hingga kini. Itu berarti bahwa Injil Markus telah ditulis jauh lebih awal daripada yang menurut tradisi diduga oleh para ahli. Penggalan-penggalan itu bertarikh dari tahun 50 M., dan mungkin sekali merupakan salinan dari sebuah manuskrip yang ditulis bertahun-tahun sebelumnya. Oleh karena itu, kebanyakan ahli Alkitab meragukan identifikasi O'Callaghan akan penggalan-penggalan itu.16

Salinan-salinan tertua dari Perjanjian Baru ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara kata-kata dan ditulis atas vellum (perkamen) atau papirus. Para ahli menyebut manuskrip-manuskrip ini yang ditulis atas perkamen uncial, dan hampir 275 buah telah ditemukan. Para katib menggunakan gaya tulisan uncial atas perkamen dan papirus sampai sekitar abad ke-9, ketika mereka mulai menyalin manuskrip-manuskrip dalam tulisan Yunani yang kursif dan kecil. Manuskrip-manuskrip yang kemudian ini disebut minuscule (L. agak kecil). Kita mempunyai lebih dari 2.700 manuskrip Perjanjian Baru yang ditulis dalam gaya minuscule.

Para sarjana menganggap Kodeks Vatikanus (atau "Vatikanus B") sebagai salah satu manuskrip uncial yang terpenting. Manuskrip ini yang ditulis tidak lama sesudah tahun 300 M., mula-mula memuat segenap teks Septuaginta dan seluruh Perjanjian Baru. Sebagian dari Surat Ibrani, Surat-surat Penggembalaan, dan Kitab Wahyu telah hilang. Beberapa bagian Perjanjian Lama dari manuskrip ini juga sudah hilang, tetapi apa yang masih ada merupakan sumber informasi yang berguna mengenai teks Perjanjian Lama. Manuskrip ini disimpan di Perpustakaan Vatikan.

Sebuah manuskrip uncial lain yang berharga disebut Kodeks Sinaitikus sebab Constantinus von Tischendorf (1815-1874) menemukannya di sebuah biara di kaki Gunung Sinai yang tradisional pada tahun 1859. Manuskrip ini yang ditulis tidak lama setelah Kodeks Vatikanus adalah manuskrip lengkap yang tertua dari Perjanjian Baru.

almanacalmanacalmanac


TIP #25: Tekan Tombol pada halaman Studi Kamus untuk melihat bahan lain berbahasa inggris. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA