Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  3. Teks dan Terjemahan >  I. Teks Perjanjian Lama. > 
B. Bagaimana Kita Menerima Perjanjian Lama. 
 sembunyikan teks

Ketika para penulis Perjanjian Lama menyelesaikan gulungan-gulungan kitab mereka, belum ada alat-alat untuk mengopi atau mesin cetak untuk memperbanyak tulisan mereka bagi orang banyak. Mereka bergantung pada juru tulis atau katib - orang-orang yang dengan sabar menyalin nas Kitab Suci dengan tangan bila salinan-salinan tambahan diperlukan dan bila gulungan kitab yang asli menjadi terlalu usang untuk dipakai lagi. Para katib itu berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari gulungan kitab yang asli dan katib sesudah mereka berusaha untuk membuat salinan yang akurat dari salinan itu. Meskipun demikian, mereka tidak selalu dapat menghindari kesalahan-kesalahan yang tak disengaja dalam beberapa hal ketika menyalin. Siapa pun yang pernah melakukan pekerjaan menyalin akan menaruh simpati!

Pada waktu Yesus lahir, kitab Perjanjian Lana yang terakhir (Maleakhi) telah disalin dan disalin kembali selama jangka waktu 400 tahun lebih: kitab-kitab yang ditulis Musa telah disalin dengan cara ini selama seribu empat ratus tahun. Namun selama waktu itu para katib telah menjaga teks Perjanjian Lama dengan baik sekali. Telah dihitung bahwa rata-rata mereka membuat kekeliruan satu dari setiap 1.580 huruf ketika menyalin; dan biasanya mereka membetulkan kesalahan-kesalahan ini ketika mereka membuat salinan baru.11

Sebagaimana yang terjadi dengan bahasa-bahasa, maka lambat laun bahasa Ibrani mulai berubah selama berabad-abad sesudah para penulis Perjanjian Baru. Bahasa yang dipakai Musa akan kelihatan aneh sekali bagi orang Israel masa kini, sama seperti bahasa Chaucer atau bahkan Shakespeare sudah berbeda sekali dari bahasa kita sekarang ini. (Lihat. "Bahasa dan Tulisan.") Sepanjang perjalanan waktu, arti dari beberapa kata Ibrani dan beberapa aturan tata bahasa telah hilang. Oleh karena itu para penerjemah Alkitab merasa sangat sulit ketika mereka berusaha untuk membaca dan mengartikan beberapa bagian dari manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama. Namun, luar biasa sekali betapa banyak yang dapat mereka mengerti secara keseluruhan. Charles Hodge, yang seabad lalu menjadi profesor teologi di Princeton Seminary, pernah berkata bahwa masalah-masalah terjemahan dan tafsiran yang masih ada tidak banyak mempengaruhi Alkitab sama seperti suatu lapisan tipis batu kapur tidak akan mengurangi keindahan Parthenon yang dibangun dari pualam.12 Dan pernyataan itu semakin benar dewasa ini.

Lama sebelum zaman nabi-nabi besar yang menulis kitab (abad ke-7 dan ke-8 sM), para katib telah berulang-ulang menyalin nas Kitab Suci. Akan tetapi, Yeremialah yang pertama kalinya menyebut para katib itu sebagai satu kelompok yang profesional, "Bagaimanakah kamu berani berkata, Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat Tuhan? Sesungguhnya, pena palsu penyurat (sopherim) sudah membuatnya menjadi bohong" (Yer. 8:8). Kata sopherim secara harfiah berarti "para penghitung"; para katib yang mula-mula patut mendapat gelar ini karena mereka menghitung tiap huruf dari tiap kitab di Alkitab untuk memastikan bahwa mereka tidak menghilangkan apa pun. Agar mereka lebih pasti lagi, mereka mencocokkan huruf yang terdapat di tengah tiap kitab dan di tengah tiap bagian utama dari kitab itu. Mereka hati-hati sekali agar memelihara susunan kata yang asli dari teks itu, meskipun bahasa Ibrani yang sudah berubah membuatnya kedengaran kuno sekali.

Suatu perubahan penting dalam bahasa Ibrani terjadi sekitar tahun 500 sM, ketika para sopherim mulai memakai tulisan Aram yang bentuknya persegi, yang telah mereka pelajari selama masa Pembuangan di Babel. (Bahasa Aram telah diperkenalkan di Babel melalui surat-surat raja Persia.) Sejak masa Raja Daud para sopherim telah memakai tulisan Paleo-Ibrani (Ibrani awal) yang bentuknya bulat untuk menyalin manuskrip-manuskrip Perjanjian Lama, sebab mereka dapat menuliskannya atas perkamen, tidak seperti tulisan berbentuk baji dari orang Kanaan. Akan tetapi, pada tahun 500 sM, bahasa Alam telah menjadi bahasa yang umum di bidang perniagaan dan pendidikan di Timur Tengah, maka orang Ibrani memakai sistem tulisannya. Berbagai manuskrip papirus dari sebuah koloni Yahudi di Pulau Elefantin di Delta Sungai Nil) membuktikan bahwa tulisan miring yang lama tidak lagi dipakai pada tahun 250 sM. Naskah-naskah Laut Mati meliput periode peralihan ini; beberapa di antara naskah-naskah ini ditulis dalam tulisan Paleo-Ibrani yang bulat, tetapi kebanyakannya dalam tulisan Aram yang persegi.

Perhatikanlah bahwa para katib Ibrani tidak mulai memakai bahasa Aram; mereka hanya meminjam tulisannya dan memakainya untuk mengungkap kata-kata Ibrani mereka sendiri. Mereka dapat melakukan hal ini karena baik Ibrani maupun Aram adalah bahasa Semit, 13 dan tulisan mereka melambangkan alfabet yang sama, yang menandakan banyak dari bunyi-bunyi yang sama dalam kedua bahasa ini.

almanacalmanac 


TIP #04: Coba gunakan range (OT dan NT) pada Pencarian Khusus agar pencarian Anda lebih terfokus. [SEMUA]
dibuat dalam 0.02 detik
dipersembahkan oleh YLSA