Resource > Ensiklopedi Fakta Alkitab - Bible Almanac >  1. Sejarah Alkitab >  I. Sejarah Perjanjian Lama. > 
D. Kerajaan yang Bersatu. 
sembunyikan teks

Pada tahun-tahun awal pemerintahannya, Saul tampil sebagai seorang yang rendah hati dan dapat mengendalikan diri. Akan tetapi, ketika tahun berganti tahun, sifatnya berubah. Ia menjadi seorang yang keras kepala, tidak taat kepada Allah, penuh iri hati, benci, dan takhayul. Kemarahannya berbalik melawan Daud, seorang pejuang muda yang telah membunuh Goliat, si raksasa, dan yang menjadi pemain musik di istananya. Sering kali ia mencoba membunuh Daud, karena iri hati terhadap kepopuleran Daud (I Sam. 18:5-9; 19:8-10).

Akan tetapi, dengan diam-diam Allah telah memilih Daud untuk menjadi raja berikutnya dan Ia menjanjikan jabatan raja itu kepada keluarga Daud untuk selama-lamanya (I Sam. 16:1-13; II Sam. 7:12-16). Namun Saul masih terus menjadi raja selama bertahun-tahun.

Setelah kematian Saul, Raja Daud membawa tabut perjanjian ke Yerusalem (bdg. Ul. 12:1-14; II Sam. 6:1-11). Tabut itu berupa sebuah peti kayu yang berisi loh-loh batu tempat Tuhan menulis Sepuluh Hukum bagi Musa; orang Israel telah membawanya bersama mereka selama tahun-tahun pengembaraan mereka di padang belantara, dan mereka menghargainya sebagai benda yang kudus. Daud membawanya ke ibukotanya agar Yerusalem akan menjadi baik pusat rohani untuk bangsa itu maupun pusat politiknya.

Daud memiliki sifat-sifat yang mereka cari - keahlian militer, kecerdasan politik, dan rasa tanggung jawab rohani yang tajam. Ia telah membuat bangsa itu lebih kuat dan lebih aman daripada sebelumnya.

Akan tetapi, Daud hanya seorang manusia dengan kelemahan-kelemahan sama seperti orang lain. Ia menimbang-nimbang untuk mengadakan sebuah harem seperti yang dimiliki raja-raja lain, dan mengatur pembunuhan seorang perwira dalam pasukannya agar ia dapat menikahi istri orang itu yang sudah diperkosanya. Ia mengadakan sensus dari semua pria Israel karena ia tidak lagi mempercayai Allah untuk memberikan kemenangan militer; ia hanya mempercayai kekuatan bala tentaranya. Allah menghukum Daud dan Israel juga karena dosanya. Daud adalah kepala bangsa itu; jadi ketika ia berbuat dosa terhadap Tuhan, seluruh rakyatnya menanggung hukuman itu.

Salomo, putra Daud, menjadi raja berikutnya di Israel. Walaupun kebijaksanaan Salomo diakui, ia sendiri tidak selalu hidup dengan bijaksana. Ia memang melaksanakan rencana politik Daud, dan memperkuat kekuasaannya atas daerah-daerah yang telah ditaklukkan ayahnya. Ia seorang usahawan yang lihay dan ia mengadakan beberapa persetujuan perdagangan yang menghasilkan banyak kekayaan bagi Israel (I Raj. 10:14-15). Tuhan juga memakai Salomo untuk membangun bait suci yang megah di Yerusalem (bdg. Ul. 12:1-14). Akan tetapi, gaya hidup Salomo yang mewah meningkatkan beban pajak atas rakyatnya. Ia mewarisi berahi ayahnya terhadap wanita dan ia mengadakan berbagai persetujuan dagang dengan raja-raja asing yang meliputi "perkawinan politik" dan dengan demikian mengumpulkan harem dengan pengantin perempuan dari banyak negeri asing (I Raj. 11:1-8). Istri-istri yang menyembah berhala ini membujuk Salomo untuk memuja dewa-dewa kafir dan tidak lama kemudian ia mulai mengadakan tata cara dan upacara agama mereka di Yerusalem.



TIP #20: Untuk penyelidikan lebih dalam, silakan baca artikel-artikel terkait melalui Tab Artikel. [SEMUA]
dibuat dalam 0.03 detik
dipersembahkan oleh YLSA