Resource > Jurnal Pelita Zaman >  Volume 1 No. 1 Tahun 1986 >  SINKRETISME DALAM PANDANGAN ALKITAB > 
II. PENGERTIAN DAN PENGGUNAAN ISTILAH SINKRETISME 
sembunyikan teks

Kata sinkretisme yang telah menjadi kata kita sehari-hari ini adalah kata asing, yang bisa dilacak dari kata Yunani."Sunistanto, Sunkretamos" artinya "kesatuan"; dan kata "synkerannumi" yang berarti "mencampur aduk".

Istilah tersebut mula-mula adalah istilah Politik, yang digunakan oleh Plutarch untuk menggambarkan kesatuan orang-orang dari pulau Kreta yang melawan musuh bersamanya. Kesatuan tersebut adalah sebagai sinkretismos.

Kemudian Istilah ini juga dipakai di dalam bidang filsafat dan agama guna menggambarkan suatu keharmonisan dan perdamaian.

Misalnya di dalam bidang filsafat, pada abad 15 Kardinal Bessarion menggunakan istilah tersebut dalam ungkapannya untuk mendamaikan dan mengharmoniskan filsafat Plato dan Aristoteles. Di dalam bidang keagamaan, pada abad 17 Calextus seorang pengikut Luther disebut sebagai seorang sinkretist, sebab dia berusaha mendamaikan dan menyatukan teologia-teologia Protestan yang ada. Dengan demikian, di sini terkandung arti pula unsur-unsur mencampur-adukkan antara satu dengan lainnya sehingga semuanya menjadi satu.

Gunkel, Harnadc dan Bultmann menggunakan istilah sinkretisme secara luas untuk menggambarkan Kekristenan sebagai suatu agama Synkretistic, karena mengasimilasi konsep Judaistis, Hellenistis dan Gnostik. Sedangkan Russell Chandran berargumentasi bahwa segala formulasi dari theologia Kristen adalah dipaksa dan diharuskan bersifat synkretistic.

Pandangan beberapa theolog tersebut di atas bisa mengaburkan pengertian tentang sinkretisme yang sesungguhnya. Jikalau yang dimaksud sinkretisme adalah sebagaimana yang dinyatakan seperti tersebut di atas, maka semua agama, tidak terkecuali agama Kristen adalah bersifat sinkretistis. Sebab manakala suatu agama, tidak terkecuali agama Kristen berusaha keluar dari lingkungannya untuk mencapai lingkungan di luarnya, maka mau tidak mau mesti bersifat sinkretistik. Hal ini jelas, sebab lingkungan yang dihadapi dan di mana agama Kristen tersebut ada adalah bukan lingkungan yang steril dan vakum. Di dalam pertemuan tersebut tidak mungkin untuk dapat berkomunikasi dengan orang yang hidup dalam lingkungan berbeda tersebut tanpa menggunakan pengungkapan (ekspresi) dan konsep-konsep yang dalam beberapa hal dihubungkan dengan apa yang menyatu dengan dunia adat istiadat dan agama di mana orang-orang tersebut hidup. Namun pertanyaannya, apakah fase-fase seperti penerjemahan (translation), peralihan (transition), pengubahan (transformation) dan penyerapan (absorption) semacam itu boleh disebut sinkretisme dalam arti yang sesungguhnya?

"Translation", "transition" dan "transformation" adalah bukan sinkretisme yang sesungguhnya, selama semuanya itu dilakukan dengan maksud untuk melaluinya dan mengisinya dengan berita yang asli dengan sejelas mungkin, tanpa modifikasi yang lebih besar daripada isi yang asli. Demikian pula Absorption adalah juga bukan sinkretisme yang sesungguhnya, selama hal itu diambil dengan pengertian dan pembedaan yang jelas. Ketika Upacara dan konsep-konsep dari lingkungan asal yang berbeda dan dari kadar yang berbeda telah disesuaikan ke dalam jiwa baru yang menguasai sebegitu rupa sehingga mereka menjadi asli dan merupakan bagian yang diterima dalam agama ini.

Berdasarkan pengertian tersebut di atas, Prof. Dr. Hendrik Kraemer membedakan antara sinkretisme sebagai "phenomenological", maksudnya dipandang dari apa yang nampak, apa yang kita lihat sebagai mana fungsi-fungsi nyata di dalam agama-agama dan budaya, dengan sinkretisme sebagai "theological problem" dipandang dari sudut kemutlakan "Kristus sebagai jalan satu-satunya keselamatan manusia". "Theological problem" ini misalnya pandangan orang Jawa bahwa semua agama itu sama saja (sadaya agami sami mawon). Agama di sini digambarkan seperti jalan-jalan yang menuju ke satu tujuan puncak gunung atau seperti aliran sungai yang sama-sama menuju ke Samudra luas. Semuanya mempunyai tujuan yang sama yakni Tuhan Yang Esa. Oleh karena itu pada hakekatnya antara satu dengan lainnya tidak berbeda. Atau suatu pandangan bahwa Kristus saja belum cukup sebagai jalan untuk keselamatan seseorang oleh karena itu perlu ditambah hal-hal lain seperti sesajen, percaya kepada kuasa-kuasa lain, dllnya.

Pandangan sinkretistik modern misalnya, seperti yang dinyatakan oleh John Hick (lahir 1923), seorang profesor filsafat agama dari Universitas Bermingham. Melalui tulisannya "God and the Universe of Faiths", dan artikel-artikel lainnya dia terkenal dengan teori "Copernicon revolution"nya. Bahwa dahulu orang berpandangan bumi adalah pusat alam semesta. Tetapi sejak ditemukan oleh Copernicus maka bukan bumi, tetapi mataharilah pusat alam semesta. Demikian pula sekarang ini bukan Kekristenan atau agama-agama lain lagi yang menjadi pusat keagamaan, melainkan Tuhan sendirilah sebagai matahari satu-satunya yang dikelilingi oleh planet-planet atau agama-agama.

Semua agama pada hakekatnya sama saja dan dalam posisi yang sama pula serta agama seseorang hanya ditentukan oleh tempat dan budaya di mana dia dilahirkan.



TIP #09: Klik ikon untuk merubah tampilan teks alkitab dan catatan hanya seukuran layar atau memanjang. [SEMUA]
dibuat dalam 0.01 detik
dipersembahkan oleh YLSA